Anda di halaman 1dari 41

ANALISIS LENDUTAN BALOK BETON BERTULANG DENGAN

VARIASI RASIO TULANGAN DENGAN PROGRAM BERBASIS


METODE ELEMEN HINGGA
TUGAS METODE ELEMEN HINGGA

Oleh :

I Gede Agus Krisnhawa Putra


1681511035

MAGISTER TEKNIK SIPIL


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Penggunaan beton sebagai bahan material bangunan lebih banyak digunakan

dibandingkan material struktur lainnya. Ada beberapa hal yang menjadi

umeric

penggunaan beton lebih diminati, diantaranya : beton mudah dicetak dan dibentuk dengan
kondisi penampang apapun, beton harganya lebih murah dibandingkan kompetitornya yaitu
baja, dan beton memiliki kekuatan serta kekauan yang tinggi. Akan tetapi, beton juga
memiliki kekurangan, yaitu : beton hanya mampu menerima gaya tekan sehingga sangat
lemah dalam gaya tarik, oleh karena itu beton dikombinasikan dengan material baja
tulangan. Komponen-komponen struktur gedung yang terbuat dari beton misalnya saja
yaitu pondasi, kolom, pelat lantai, dan balok. Setiap komponen struktur tersebut akan
menahan beban rencana yang diberikan. Jika ada suatu aksi maka akan ada reaksi yang
diberikan. Seperti pada balok beton yang diberikan suatu reaksi akan menimbulkan aksi
yaitu lendutan yang terjadi pada balok tersebut. Besarnya beban yang diberikan akan
berpengaruh terhadap besarnya lendutan yang terjadi, ketika beban sudah melampaui batas
kekuatan balok, dan jika bebannya semakin besar maka akan terjadi retak pada daerah yang
mengalami tarik. Selain karena beban yang diberikan melampaui batas, retakan atau
lendutan yang terjadi pada balok juga dipengaruhi oleh besi tulangan yang ada pada balok
bertulang tersebut. Rasio tulangan yang bervariasi tentu akan mempengaruhi retakan atau
lendutan pada balok beton bertulang. Maka perlu dikaji lebih lanjut mengenai analisis
lendutan pada balok beton bertulang dengan variasi rasio tulangan.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pakpahan dan Sitorus
(2015), yang meneliti analisa lendutan balok dengan diameter tulangan
dan letak tulangan berbeda dengan menggunakan software berbasis
metode elemen hingga, menunjukkan bahwa ukuran diameter tulangan
yang digunakan pada balok beton bertulang, dan posisi letak tulangan
akan mempengaruhi lendutan yang terjadi akibat kemampuan balok
menahan gaya lentur yang ada. Kemampuan balok untuk menahan
beban yang ada dipengaruhi oleh tinggi efektif penampang pada beton
tersebut. Besarnya lendutan juga dipengaruhi oleh perbedaan bentuk
1

penampang balok (dimensi balok), mutu beton, dan bentang yang


bervariasi (Wiyono dan Trisina, 2013). Pada analisis beton bertulang,
besarnya diameter tulangan dipengaruhi oleh rasio tulangan atau luas
penampang tulangan yang memenuhi syarat. Penelitian yang dilakukan
oleh Pakpahan dan Sitorus (2015), hanya menganalisis lendutan jika
diameter tulangan berbeda namun rasio tulangan sama. Tentu jika rasio
tulangan yang bervariasi, perilaku lendutan pada balok beton bertulang
akan berbeda dengan penelitian lendutan dengan variasi dimensi
tulangan.
Perbedaan

rasio

tulangan

akan

mempengaruhi

efesiensi

penggunaan jumlah dan diameter tulangan yang digunakan pada balok


beton

bertulang.

Seperti

diketahui

ada

beberapa

syarat

dalam

menggunakan rasio tulangan, yaitu rasio tulangan desain harus diantara


rasio tulangan minimum dan maksimum. Hal ini juga akan berpengaruh
terhadap perilaku lendutan yang terjadi pada elemen struktur yaitu
balok. Pada balok beton bertulang yang dibebani suatu beban tertentu
dengan dimensi penampang, bentang balok, diameter tulangan, dan
mutu beton tertentu akan menimbulkan suatu lendutan atau retakan.
Berdasarkan teori struktur beton bertulang, besarnya lendutan bisa
dihitung dengan persamaan yang sudah ada. Suatu struktur secara
global diharuskan memiliki lendutan yang tidak terlalu besar, karena
akan berpengaruh terhadap keretakan atau kegagalan struktur tersebut.
Seperti pada balok beton bertulang, jika lendutan yang terjadi sudah
melampaui batas maka balok itu bisa saja mengalami kegagalan
struktur atau keretakan. Tetapi keretakan beton tidaklah secara tibatiba, ada proses tertentu beton itu mencapai keretakan. Karakteristik
atau perilaku beton umumnya diperoleh dari pengujian eksperimen di
laboratorium.

Begitupun

halnya

dengan

perilaku

lendutan

atau

keretakan pada balok tentunya bisa diuji di laboratorium.Tetapi tidak


semua informasi didapat dengan pengujian tersebut dikarenakan
beberapa faktor misalnya keterbatasan alat dan metode pengujian.
Namun, seiring dengan majunya perkembangan teknologi computer,
metode +umeric menjadi salah satu cara untuk mendapatkan sesuatu
2

hal yang belum didapat dari pengujian eksperimental. Salah satu


metode +umeric tersebut ialah metode elemen hingga (finite element
method) yang cukup popular. Beberapa program analisis berbasis
metode elemen hingga diantaranya Abaqus, Lusas, Ansys, dsb.
Dari beberapa ilustrasi diatas, maka penelitian yang berjudul
Analisis Lendutan Balok Beton Bertulang dengan Variasi Rasio Tulangan
dengan Program Berbasis Metode Elemen Hingga akan dilakukan. Pada
penelitian ini akan dimodelkan beberapa balok beton bertulang dengan
perletakan sederhana, pada program berbasis metode elemen hingga
yaitu Abaqus. Sementara untuk desain baloknya sendiri dihitung manual
berdasarkan SNI Beton 03-2847-2013.
1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan

yang dapat dirumuskan adalah bagaimanakah menganalisa perilaku


lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan dengan
menggunakan

program

berbasis

metode

elemen

hingga

dan

menggunakan rumus secara teoritis.


1.3.

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui

perilaku lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan


dengan menggunakan program berbasis metode elemen hingga dan
menggunakan rumus secara teoritis.
1.4.

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat menganalisa perilaku

lendutan balok beton bertulang yang berbeda rasio tulangan, dan


pemahaman pemodelan pada program berbasis metode elemen hingga
yaitu Abaqus dalam menganalisis suatu elemen struktur secara detail,
dan dapat mengidentifikasi sifat mekanik beton, dan perilaku non-linier
suatu material, sehingga bisa menjadi referensi tambahan dalam
perencanaan struktur nantinya.
3

1.5.

Batasan Masalah

Adapun masalah yang dibatasi dalam penelitian ini adalah:


1. Lendutan yang dianalisis adalah akibat beban lentur murni yaitu
beban merata sepanjang balok.
2. Perletakan atau tumpuan balok adalah sendi-roll.
3. Struktur beton bertulang dimodel dalam tiga dimensi.
4. Desain tulangan balok menggunakan SAP2000 dan analisis balok
menggunakan Abaqus.
5. Peraturan yang dipakai dalam pedoman adalah peraturan SNI 032847-2013 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung, dan ACI (American Concrete Institute).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Beton Bertulang
Material konstruksi beton bertulang mempunyai sifat yang unik dibandingkan
dengan material lain seperti kayu, baja, aluminium atau plastik karena beton bertulang
adalah material konstruksi yang menggunakan dua jenis bahan yang berbeda secara
bersamaan. Beton bertulang adalah merupakan gabungan yang logis dari dua jenis bahan:
beton polos, yang memiliki kekuatan tekan yang tinggi akan tetapi mempunyai kekuatan
tarik yang rendah, dan batangan-batangan baja yang ditanamkan di dalam beton dapat
memberikan kekuatan tarik yang diperlukan. Dengan demikian prinsip-prinsip yang
mengatur perencanaan struktur dari beton bertulang dalam beberapa hal berbeda dengan
prinsip-prinsip yang mengatur perencanaan struktur dari bahan yang terdiri dari satu
macam saja. Gambar 2.1 memperlihatkan kekuatan balok yang secara nyata dapat
ditingkatkan dengan menambahkan batangan-batangan baja di daerah tarik. Baja tulangan
yang mampu menerima tekan dan tarik juga dimanfaatkan untuk menyediakan sebagian
dari daya dukung kolom beton dan kadang-kadang di dalam daerah tekan balok.

Gambar 2.1
Kedudukan batang-batang tulangan dalam balok beton bertulang

Baja dan beton dapat bekerja sama atas beberapa alasan yaitu (1) lekatan (bond,
atau interaksi antara batangan baja dengan beton keras disekelilingnya) yang mencegah
slip relatif antara baja dan beton, (2) campuran beton yang memadai memberikan sifat anti
resap yang cukup dari beton untuk mencegah karat baja dan (3) angka kecepatan muai
yang hampir serupa yaitu dari 0,0000055 sampai dengan 0,000075.

2.2. Serviceability dan Pentingnya Penyelidikan Defleksi (Nawy, 2003)


Serviceability (kemampuan layan) suatu struktur ditentukan oleh
lendutan, retak, korosi tulangan, dan rusaknya permukaan betonnya.
Rusaknya permukaan dapat dikurangi dengan kontrol yang baik pada
waktu pengadukan, pengecoran, dan perawatan betonnya. Penggunaan
selimut beton yang cukup, kontrol retak, dan kriteria lendutan dalam
desain, dapat mengurangi atau mungkin dapat menghapuskan masalahmasalah tersebut.
Dalam tegangan kerja (working stress design) dan analisisnya
yang digunakan sebelum tahun 1970-an membatasi tegangan pada
beton sampai sekitar 45% dari kekuatan tekannya, dan tegangan pada
baja sampai 50% dari kekuatan lelehnya. Analisis elastis digunakan
untuk desain rangka structural, juga pada penampang beton bertulang.
Elemen structural dirancang untuk mampu memikul momen kerja di
sepanjang bentang batang dengan seringkali pengabaian redistribusi
momen. Akan tetapi, sebagai akibatnya, penampang akan mempunyai
kekuatan cadangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan yang
diperoleh dengan pendekatan cara kekuatan batas (ultimate strength).
5

Semakin berkembangnya pengetahuan mengenai sifat-sifat material


pembentuk beton, semakin kecil juga faktor bebannya dan semakin
berkurang kekuatan cadangnya. Apalagi dewasa ini banyak digunakan
beton berkekuatan tinggi dan baja berkekuatan tinggi, sehingga batangbatang yang semakin langsing dan efektif juga harus ditentukan oleh
defleksi atau lendutan sebagai kriteria dalam desain. Lendutan yang
berlebihan

pada

balok

dapat

menyebabkan

rusaknya

partisi

di

bawahnya, jika balok tersebut dikombinasikan pada elemen slab lantai.


2.2. Perilaku Defleksi Pada Balok
Hubungan beban-defleksi balok beton bertulang pada dasarnya
dapat diidealisasikan menjadi bentuk trilinier seperti gambar 2.2 di
bawah ini. Hubungan ini terdiri atas tiga daerah, yaitu :

Gambar 2.2 Hubungan Beban Defleksi Pada Balok


Sumber: Nawy, 2003
2.2.1. Taraf Praretak : Daerah I
Segmen praretak dari kurva beban-defleksi pada dasarnya berupa
garis lurus yang memperlihatkan perilaku elastis penuh. Tegangan tarik
maksimum pada balok dalam daerah ini lebih kecil daripada kekuatan
tariknya akibat lentur, atau disebut dengan lebih kecil dari modulus
rupture fr beton. Kekakuan lentur EI balok dapat diestimasi dengan
menggunakan modulus young Ec dari beton, dan momen inersia
penampang beton bertulang tak retak. Perilaku beban defleksi sangat

bergantung pada hubungan tegangan regangan beton. Besarnya Ec


dapat diestimasi menggunakan rumus empiris yaitu:
Ec =4700 f ' c

(1.2)

Estimasi akurat mengenai momen inersia I memerlukan peninjauan


kontribusi tulangan As. Ini dapat dilakukan dengan mengganti luas baja
dengan luas beton ekuivalen (Es/Ec) As

karena besarnya modulus

young Es dari tulangan lebih besar daripada modulus young beton Ec.
Daerah praretak berhenti pada saat mulainya retak lentur
pertama dimana tegangan beton memcapai kekuatan modulus rupturenya fr. Untuk keperluan desain, besarnya modulus tersebut untuk beton
berbobot normal, yaitu sebagai berikut:
f r=7.5 f ' c
Jika jarak serat tarik terluar ke pusat berat penampang adalah
momen retaknya
I f
M cr = g r
yt

(1.2)
yt

dan

M cr , maka:

Untuk penampang segiempat:


h
yt =
2

(1.3)

(1.4)

Dimana h adalah tebal total balok. Perhitungan defleksi untuk daerah ini
tidak begitu penting, karena hanya sedikit balok beton bertulang yang
tidak retak pada beban aktualnya. Akan tetapi, pengetahuan matematis
mengenai variasi besaran kekauan sangat penting sebab segmensegmen balok di sepanjang bentang bisa saja belum retak.
2.2.2. Taraf Beban Pasca Retak : Daerah II
Daerah praretak diakhiri dengan mulainya retak pertama dan
mulai bergerak menuju daerah II pada diagram beban defleksi seperti
yang diperlihatkan pada Gambar 2.1. Hampir semua balok terletak pada
daerah ini pada saat beban kerja. Suatu balok dapat mengalami
berbagai taraf keretakan di sepanjang bentangnya sesuai dengan taraf
tegangan dan defleksi pada masing-masing bagiannya. Untuk suatu
balok di atas tumpuan sederhana, retak akan semakin lebar dan

semakin dalam pada lapangan, sedangkan pada tumpuan hanya terjadi


retak minor yang tidak lebar.
Apabila sudah terjadi retak lentur, kontribusi kekuatan tarik beton
sudah dapat dikatakan tidak ada lagi. Hal ini menunjukkan bahwa
kekuatan penampangnya telah berkurang sehingga kurva beban
defleksi di daerah ini akan semakin landau dibandingkan dengan taraf
praretak.

Semakin

besar

retaknya,

akan

semakin

berkurang

kekakuannya hingga mencapai suatu harga yang berupa lower-bound


(batas bawah) sehubungan dengan momen inersia penampang retak.
Pada saat mencapai keadaan limit beban retak kerja, kontribusi beton
tarik terhadap kekakuan dapat diabaikan. Momen inersia penampang
retak disebut dengan Icr yang dapat dihitung dari prinsip-prinsip dasar
mekanika teknik.
Asumsi-asumsi

yang

diambil

dalam

perhitungan

defleksi

berdasarkan pembuktian eksperimental yang diteliti adalah:


Distribusi regangan pada tingginya dianggap linier
Beton sama sekali tidak menahan tarik
Beton maupun baja masih dalam limit elastis
Distribusi regangan serupa dengan yang telah diasumsikan
untuk desain kekuatan, tetapi besarnya regangan, tegangan,
dan distribusi tegangannya berbeda.
Taraf Retak Postserviceability dan Keadaan

2.2.3.

Limit

Perilaku

Lendutan pada Daerah Keruntuhan III


Diagram

beban-defleksi

pada

daerah

III

jauh

lebih

datar

ketimbang pada daerah-daerah sebelumnya. Ini diakibatkan oleh


hilangnya kekakuan penampang karena retak yang cukup banyak dan
lebar di sepanjang bentang. Jika bebannya terus menerus bertambah,
maka regangan

pada tulangan pada sisi yang teratrik akan terus

bertambah melebihi regangan lehernya

tanpa adanya tegangan

tambahan,. Balok yang tulangan tariknya mulai leleh dikatakan telah


runtuh secara structural. Balok ini terus-menerus mengalami defleksi
tanpa adanya tambahan beban, dan retaknya semakin terbuka sehingga
garis netralnya terus mendekati serta tepi yang tertekan. Pada akhirnya
terjadi

keruntuhan

tekan

sekunder

yang

dapat

mengakibatkan
8

kehancuran total pada beton daerah momen maksimum dan segera


diikuti dengan terjadinya rupture.
Bertambahnya taraf beban mulai dari leleh pertama pada
tulangan tarik pada balok sederhana sampai taraf beban rupture
bervariasi antara 4% dan 10%. Akan tetapi, besarnya defleksi sebelum
rupture dapat beberapa kali dari besar defleksi pada saat beban yang
menyebabkan leleh pertama, bergantung pada perbandingan bentang
tinggi balok, presentase tulangan, jenis beban, dan derajat confinement
penampang beton. Dari percobaan-percobaan yang telah dilakukan
diperoleh bahwa besarnya defleksi batas berkisar antara 8 sampai 12
kali defleksi pertama.
Defleksi setelah leleh dan defleksi limit pada keadaan runtuh
bukan merupakan faktor yang terpenting dalam desain sehingga tidak
dibahas secara mendalam. Akan tetapi, pengenaln terhadap cadangan
kapasitas defleksi sebagai ukuran daktilitas struktur tahan gempa
merupakan suatu hal yang penting, juga untuk kasus-kasus lain yang
kemungkinan terjadinya beban lebih (overload) sangat tinggi.
2.3. Perhitungan Defleksi (Lendutan) Pada Balok
Defleksi batang-batang struktural merupakan fungsi dari panjang
bentang, perletakan, atau kondisi-kondisi ujungnya (seperti tumpuan
sederhana atau ada tahanan karena kesinambungan batang), jenis
pembebanan (beban terpusat ataukah beban terdistribusi merata),
kekakuan lentur EI dari elemen. Persamaan umum defleksi maksimum
max

pada balok elastis dapat diperoleh dari prinsip dasar mekanika,

yaitu:
W l 3n
max=K
48 E I c

(1.15)

dimana,
W = beban total pada bentang
l n = panjang bentang bersih
E = modulus elastisitas beton
l C = momen inersia penampang
K = suatu faktor yang bergantung pada derajat kekakuan tumpuan

Persamaan (1.15) dapat juga dinyatakan dalam momen lentur sehingga


defleksi pada suatu titik balok adalah:
ML2
=k
Ec I e

(1.16)

dimana,
k = suatu faktor yang bergantung pada kekakuan tumpuan dan kondisi
pembebanan
M = momen yang bekerja pada penampang
l e = momen inersia efektif
2.4. Metode Elemen Hingga
Analisis element hingga (FEA) atau yang dikenal dengan metode element hingga
(FEM) adalah sebuah metode untuk solusi numerik dari masalah yang biasa dijumpai di
lapangan. Suatu masalah dilapangan umumnya mengharuskan kita untuk menyelesaikan
satu atau lebih variabel yang ada. Bila suatu kontinum dibagi-bagi menjadi beberapa
bagian yang lebih kecil, maka bagian-bagian kecil ini disebut elemen hingga. Proses
pembagian suatu kontinum menjadi elemen-elemen hingga ini sering dikenal sebagai
proses diskretisasi atau pembagian. Dengan menggunakan metode elemen hingga kita
dapat mengubah suatu masalah yang memiliki jumlah derajat kebebasan tidak berhingga
menjadi suatu masalah yang memiliki jumlah derajat kebebasan tertentu sehingga proses
pemecahannya menjadi lebih sederhana. Tujuan utama analisis dengan menggunakan
metode elemen hingga adalah untuk memperoleh nilai pendekatan tegangan yang terjadi.
Sebaliknya, pendekatan dengan metode element hingga (finite element methode)
merupakan suatu analisis pendekatan yang berdasarkan asumsi peralihan atau asumsi
tegangan, bahkan dapat juga berdasarkan kombinasi dari kedua asumsi tadi dalam setiap
elemennya (Cook, et al, 2002). Secara umum metode elemen hingga memiliki beberapa
kelebihan, diantaranya:
1. Metode elemen hingga dapat digunakan pada berbagai masalah, contohnya :

perpindahan panas, analisa tegangan, analisa medan magnet dan masih banyak lagi.
2. Metode elemen hingga tidak membatasi geometri dari benda, benda apapun dapat

dimodelkan.
3. Kondisi batas dan pembebanan yang dilakukan juga tidak dibatasi.
4. Data meterial yang yang didefinisikan pada elemen juga tidak dibatasi, sehingga

pada elemen tersebut dapat diubah-ubah data materialnya sesuai kebutuhan.


5. Dapat menggabungkan beberapa tipe elemen, contohnya pada beton bertulang.
10

Metode pelaksanaan analisa sebuah struktur dengan metode elemen hingga secara garis
besar dapat dibagi menjadi seperti berikut :
1. Membagi struktur menjadi elemen-elemen hingga (diskretisasi).
2. Menyusun formulasi sifat atau propertis dari masing-masing elemen.
3. Menggabungkan elemen-elemen hingga dan formulasinya menjadi elemen
utuh/elemen dari struktur
4. Memberikan beban sesuai rencana
5. Menentukan kondisi batas (tergantung dari tipe tumpuan struktur)
6. Menyelesaikan persamaan yang terbentuk (hasilnya berupa displacement pada
batas-batas antar elemen tadi.
7. Menghitung tegangan dan gaya-gaya dalam dari elemen-elemen (berdasar
formulasi sifat masing-masing elemen).
2.5. Manual Program Abaqus
Abaqus FEA (Finite Element Analysis) merupakan salah satu software berbasis
elemen hingga yang pengaplikasiannya banyak digunakan pada teknik mesin, teknik sipil,
dll. Software Abaqus ini bisa memodel dan menganalisis suatu elemen atau komponen
secara linier dan non-linier, tentunya dengan metode elemen hingga. Abaqus FEA meliputi:
1. Abaqus/Standard, program elemen hingga secara umum.
2. Abaqus/Explicit, program elemen hingga mengenai suatu unsur dinamik.
3. Abaqus/CFD, program elemen hingga untuk bidang hidro (air) secara dinamis.
4. Abaqus/CAE, sebagai pengembangan interaksi yang digunakan untuk membuat
model elemen, menganalisis dengan Abaqus, memonitor dan menampilkan hasil
pekerjaan, dan mengevaluasi hasil analisis.
5. Abaqus/Viewer, suatu bagian dari Abaqus/CAE yang berisi kemampuan
memvisualisasi modul.
Pada program Abaqus memiliki banyak fitur-fitur yang digunakan untuk analisis, memiliki
kemampuan untuk mendesain dan menganalisis elemen baik secara 2 dimensi ataupun 3
dimensi. Bagaimanapun bentuk model elemen yang akan dianalisis bisa dilakukan pada
Abaqus asalkan input datanya benar maka hasil (output) tentunya akan sesuai juga. Adapun
beberapa tahapan di dalam pemodelan dengan Abaqus secara ringkas, diantaranya:
1. Membuat geometri ukuran benda yang diinginkan.

2. Mendefinisikan material yang akan digunakan.


11

3. Melakukan diskretisasi kontinum.


4. Memberikan pembebanan.
5. Menentukan kondisi batas (boundary condition),dan
6. Melakukan analisa terhadap elemen yang dimasukan.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.

Metode Pemecahan Masalah


Pada penelitian ini akan dimodelkan balok beton bertulang pada

Abaqus dalam tiga dimensi dengan perletakan pada tumpuan sendi-roll,


beban yang digunakan adalah beban merata. Balok yang akan dianalisis
memiliki panjang bentang 6 m, dengan estimasi dimensi untuk
penampang balok yaitu tinggi (h = 40 cm) dan lebar balok (b = 25 cm).
Lendutan balok beton bertulang tersebut direncanakan memikul beban
merata q pada sepanjang bentang. Model balok beton bertulang
tersebut nantinya akan dianalisis lendutannya yang terjadi akibat
perbedaan rasio tulangan. Mengingat lendutan dipengaruhi oleh beban,
modulus elastisitas dan inersia, maka nantinya juga akan divariasikan
untuk beban, dan modulus elastisitas beton. Untuk model baloknya
ditampilkan pada gambar 3.1 dibawah ini.
12

q=10 kN/m=10N/mm
A

B
6m

h=400

b=250

Mulai
Gambar 3.1 Model Balok
Beton Bertulang yang dianalisis

Metode yang digunakan dalam tugas ini adalah berupa study


literatur,

dengan

Pengumpulan Data (Studi Literatur)

mengumpulkan

bermacam-macam

teori

dan

pembahasan melalui buku-buku, peraturan Standar Nasional Indonesia


(SNI), serta jurnal yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.
Pemilihan Kriteria Desain

Kemudian, dilakukan pemilihan mutu bahan, dimensi penampang untuk


besi tulangan komponen struktur balok beton bertulang yang akan
digunakan. Untuk
selanjutnya,
dan perhitungan
Analisa
Perhitungandilakukan
Balok Betonanalisa
Bertulang
terhadap

(Berdasarkan
SNI Beton
03-2847-2013)
ACI
kebutuhan
jumlah
tulangan
pada dan
SAP2000v15

yang

berdasarkan acuan SNI 03-2847-2013 dan ACI. Rasio tulangan analisis


yang didapat harus diantara rasio minimum dan rasio maksimum.

Selanjutnya
dilakukanlah
dari balok
beton
bertulang
an Pada Balok Bertulang
Dengan
Variasi Rasioanalisis
Tulanganlendutan
Dengan Program
Abaqus
(Variasi
Modulus Elastisitas
yang memiliki variasi rasio tulangan dengan menggunakan program
berbasis metode elemen hingga yaitu Abaqus. Setelah dianalisis dengan
Abaqus, maka akan diperoleh
hasil mengenai hubungan antara beban
Beban-Lendutan
dengan lendutan yang Modulus
terjadi. Elastisitas-Lendutan
Secara garis besar, tahapan metodologi
penelitian ini digambarkan pada diagram alir pada gambar 3.2.
Kesimpulan dan Saran
13

Selesai

Gambar 3.2 Diagram Alir Penelitian


Pada pemodelan dengan Abaqus, modulus elastisitas dari beton akan
divariasikan juga untuk memperoleh grafik hubungan antara modulus
elastisitas dengan lendutan. Berikut merupakan nilai modulus elastisitas
yang akan divariasikan.
a. fc 25 MPa, E1 = 23500 MPa
b. fc 30 MPa, E2 = 25743 MPa
c. fc 35 MPa, E3 = 27806 MPa
Berikut ditampilkan diagram tegangan regangan beton untuk nilai
modulus elastisitas yang divariasikan, yang tentunya akan diinput juga
pada pemodelan di Abaqus.

14

Diagram Tegangan Regangan Beton


40.00
35.00
30.00
25.00
20.00
25 MPa
tegangan f'c

f'c 30 MPa

f'c 35 MPa

15.00
10.00
5.00
0.00
0.00000 0.00200 0.00400 0.00600 0.00800 0.01000 0.01200 0.01400

Regangan

Gambar 3.3 Diagram Tegangan Regangan Beton


Peningkatan beban juga akan dilakukan pada pemodelan ini, dengan
faktor pengali adalah 5 kali lipat dari beban awal. Hal ini dilakukan untuk
memperoleh grafik hubungan antara beban dengan lendutan yang
terjadi. Tulangan yang digunakan pada pemodelan ini adalah untuk
tulangan lentur 400 MPa, dan untuk tulangan sengkang 240 MPa,
dengan

diagram

tegangan

regangan

untuk

tulangannya

akan

ditampilkan pada gambar 3.4 di bawah ini

Diagram tegangan untuk tulangan baja yang akan diinput dalam


pemodelan

15

Tegangan Regangan Tulangan Baja


700
600
500
400

Tegangan

400 MPa

300

240 MPa

200
100
0

0.02

0.04

0.06

0.08

0.1

0.12

0.14

0.16

Regangan

Gambar 3.4 Diagram Tegangan Regangan Tulangan Baja


3.2.

Analisa Perhitungan Balok Beton Bertulang Berdasarkan Hasil SAP2000


Analisa perhitungan balok beton bertulang digunakan untuk menghitung rasio

tulangan berdasarkan model balok yang sudah ditentukan. Balok dimodel pada SAP2000,
dengan beban merata yang sudah ditentukan, kombinasi beban yang bekerja adalah 1,4D,
sedangkan berat sendiri balok diabaikan. Setelah dianalisis kemudian diperoleh rasio
tulangan maka akan ditentukan model balok yang akan dianalisis pada Abaqus nantinya.
Data-data material ditentukan sebagai berikut:

Kuat tekan beton (fc')


Kuat leleh baja tulangan longitudinal (fyl')
Kuat leleh baja sengkang (fyv')
Modulus Elastisitas Beton (Ec)
Modulus Elastisitas Baja (Es)

: 25 Mpa
: 400 Mpa
: 240 Mpa
: 23500 MPa
: 200000 MPa

3.2.1. Model Desain Balok Pada SAP2000 Pada Balok

16

Gambar 3.5 Model Balok Pada SAP2000 (satuan dalam N/mm)


Berikut merupakan gambar bidang momen, dan gaya geser akibat
kombinasi 1,4D pada pemodelan balok tersebut.

Gambar 3.6 Diagram Momen Balok Pada SAP2000 (satuan dalam Nmm)

Gambar 3.7 Diagram Geser Balok Pada SAP2000 (satuan dalam N)


Analisa desain tulangan berdasarkan acuan ACI 318-08/IBC 2009
sehingga didapatkan rasio tulangan dan luas tulangan yang dibutuhkan.

Gambar 3.8 Rasio Tulangan Lentur Pada Balok

17

Gambar 3.9 Rasio Tulangan Geser Pada Balok


3.2.2. Perhitungan Penulangan Pada Balok
Diketahui data-data material sebagai berikut:

Kuat tekan beton (fc')


Kuat leleh baja tulangan longitudinal (fyl')
Kuat leleh baja sengkang (fyv')
Dimensi Balok

: 25 Mpa
: 400 Mpa
: 240 Mpa
: 25/40

Tinggi efektif (d)

: 50 mm

Rasio tulangan minimum :

min

f 'c
25

0.003125
4 fy 4 400

min

1 .4 1 .4

0.0035
fy 400

Digunakan min terbesar yaitu min = 0.0035

=
max

0.85 f ' c
600

fy
600 fy
0.85 25
600
0.85
400
600 400
0.75 b

0.75 0.027

= 0.027

= 0.0203

jadi besarnya adalah

min max
0.0035 0.0203

Jika lebih kecil dari min maka yang digunakan adalah min.
Setelah mendapatkan analisis pada hasil SAP2000, maka akan ditentukan variasi rasio
tulangan untuk analisis lendutan dengan abaqus, yaitu:
min =0.0035

model balok 1 (Balok I)


18

analisis=0.0055

model balok 2 (Balok II)

mak =0.0203

model balok 3 (Balok III)

Perhitungan Balok I

As

= 0.0035
=

bd

= 0.0035 250 350 = 306.25 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 13 (D13)


As

1
D2
4

306.25
132.732

= 2.3

3 buah

Maka dipasang tulangan longitudinal 3D13 dengan luas tulangan Ast = 398.20 mm2.
Kapasitas Terpasang :

Mnt

Ast fy
0.85 f ' c b

(398.20) 400
0.85 25 250

= 29.98 mm

Ast fy d
2

29.98

(398.20) 400 350

= 53360392.8 Nmm
Mnt = 53360392.8 Nmm > Mn = 52500000 Nmm.............................................OK!
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 3D13

19

2D13

400
3D13

50

250
Gambar 3.10 Model Balok Type I
Perhitungan Balok II

As

= 0.0055
=

bd

= 0.0055 250 350 = 481.25 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 16 (D16)


As

1
D2
4

481.25
201.06

= 2.39

3 buah

Maka dipasang tulangan longitudinal 3D16 dengan luas tulangan Ast = 603.18 mm2.
Kapasitas Terpasang :

Mnt

Ast fy
0.85 f ' c b

(603.18) 400
0.85 25 250

= 45.42 mm

Ast fy d
2

45.42

(603.18) 400 350

= 78965912.88 Nmm
Mnt = 78965912.88 Nmm > Mn = 52500000 Nmm...........................................OK!
20

Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 4D13

2D16

400
3D16

50
250

Gambar 3.11 Model Balok Type II


Perhitungan Balok III

As

= 0.0203
=

bd

= 0.0203 250 350 = 1776.25 mm2

Direncanakan menggunakan tulangan diameter 19 (D19)


As

1
D2
4

1776.25
283.52

= 6.26

7 buah

Maka dipasang tulangan longitudinal 7D19 dengan luas tulangan Ast = 1990.90 mm2.
Kapasitas Terpasang :

Mnt

Ast fy
0.85 f ' c b

(1990.90) 400
0.85 25 250

= 149.9 mm

Ast fy d
2

149.9

(1990.90) 400 350

21

= 219038818 Nmm
Mnt = 219038818Nmm > Mn = 52500000 Nmm...............................................OK!
Jadi banyak tulangan longitudinal yang digunakan 7D19

2D19

400
7D19

50
250

Gambar 3.12 Model Balok Type III

Perhitungan Penulangan Geser


Data :

Tulangan sengkang

Gaya geser maksimum (VU) = 42000 N

Dimensi Balok

= 25/40

= 350 mm

= 8 mm

Sehingga :
VU = 42000 N

VC =

f 'c b d

1
25 250 350
6

= 72916.67 N
VC = 0.75 72916.67 N
= 54687 N
1
VC
2

= 27343 N
22

Dari hasil perhitungan didapat kondisi

1
VC
2

< VU <

VC

sehingga diperlukan tulangan

geser minimum, yaitu :

Av 1200 fy
Smaks =

75 fc' bw

Av = 2

=2

1
4

1
4

d2

82 = 100.57 mm2

100.57 1200 240


Smaks =

75 25 250

= 308.955 mm 300 mm
Jadi digunakan 8 200 sebagai tulangan Transversal.
3.3.

Pemodelan Balok Dengan Abaqus


Dalam abaqus, input data dibagi dalam beberapa modul. Masing-masing modul

memiliki fungsi yang spesifik untuk mendefinisikan data. Berikut langkah langkah input
data dalam masing-masing modul untuk pemodelan balok beton bertulang dengan variasi
rasio tulangan.
3.3.1. Modul Geometri (Part)
Menggambar geometri dilakukan dengan modul part, terdapat 3 part yang perlu
digambar untuk pemodelan ini, yaitu

23

Gambar 3.13 Menu pada Modul part


Tabel 1.1 Type Part
Nama Part
Balok Beton
Perletakan
Tulangan Lentur
Tulangan Sengkang

Type
Solid Ekstrusion
Solid Ekstrusion
Wire Planar
Wire Planar

3.3.2. Modul Property


Mendefenisikan material, mendefenisikan section dan mengaplikasikannya ke
dalam part yang telah dibuat terdapat pada modul ini. Terdapat tiga material dan tiga
section yang perlu didefenisikan.
Tabel 1.2 Material dan Section Part
Nama Part
Balok
Perletakan
Tulangan Lentur
Tulangan Sengkang

Material
Beton f'c 25 Mpa
Baja fy 400 MPa
Baja fy 400 MPa
Baja fy 240 Mpa

Section
Solid Homogen
Solid Homogen
Truss
Truss

24

Gambar 3.14 Menu pada Modul property

Gambar 3.15 Menu pada Create section

3.3.3. Modul Assembly


Setiap part yang sudah terdefenisi akan dirakit satu persatu
25

Gambar 3.16 Menu pada Modul Assembly

3.3.4. Step
Pada modul ini analisys step diciptakan dan kemudian dikonfigurasikan. Selain itu
output request juga dapat dikonfigurasikan disini sesuai kebutuhan.

Gambar 3.17 Menu pada Modul Step

3.3.5. Modul Interaction


26

Pada modul ini interaksi mekanik dan termal antara daerah-daerah dari model atau
antar daerah model dan lingkungannya didefinisikan. Dalam hal ini hubungan material
beton dengan material baja tulangan didefinisikan sebagai Embedded region, sedangkan
perletakan dengan beton memakai interaksi Tie.

Gambar 3.18 Menu pada Modul Interaction Create Constraint

3.3.6. Modul Load dan Boundary Condition


Pada boundary condition merupakan pendefenisian perletakan, model balok ini
menggunakan perletakan sederhana sendi dengan kondisi batas U1 = U2 = U3 = 0, dan roll
dengan kondisi batas U2 = 0.

27

Gambar 3.19 Menu pada Modul Load Create Boundary Condition


Pemberian beban diberikan pada modul ini, yaitu beban merata (Q) sebesar 10 N/mm pada
modul Load. Karena dimodel dengan tiga dimensi, maka beban merata sebesar 10 N/mm
dibagi dengan lebar balok 250 mm sehingga pada input beban di Abaqus sebesar 0.04.

Gambar 3.20 Menu pada Modul load

3.3.7. Modul Mesh


Pada modul ini tersedia tools yang bertujuan menciptakan mesh elemen hingga
pada assembly yang telah dibuat. Besarnya mesh diambil 50 mm.

28

Gambar 3.21 Menu pada Modul Mesh

3.3.8. Modul Job


Setelah semua langkah diatas selesai dilakukan, maka akan dilakukan analisis (run)
menggunakan modul job.

29

Gambar 3.22 Menu pada Modul job

Berikut ini merupakan gambar model 3D pada Abaqus untuk salah satu model balok type
II

30

Gambar 3.23 Model Balok Beton Bertulang dengan Abaqus

Gambar 3.24 Model Balok Beton Bertulang dengan Pembebanan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
31

4.1. Pendahuluan
Pada bab ini akan dibahas mengenai hasil dari pemodelan balok
beton bertulang dengan variasi rasio tulangan dengan menggunakan
Abaqus. Variabel yang akan diamati adalah lendutan yang terjadi pada
balok untuk masing-masing model dengan variasi modulus elastisitas
dan peningkatan beban. Perletakan sendi-rol di ujung-ujung balok,
sehingga lendutan maksimum terjadi pada tengah bentang. Sehingga
lendutan yang akan diamati pada pemodelan ini adalah lendutan
maksimum. Nantinya akan diperoleh grafik hubungan beban dengan
lendutan atau hubungan modulus elastisitas beton dengan lendutan
yang terjadi.
4.2. Perbandingan Lendutan
Setelah memodel balok di program Abaqus dengan input datadata yang sudah benar, maka akan diperoleh hasil mengenai lendutan
yang terjadi. Berikut merupakan hasil dari analisis untuk lendutan
masing-masing model balok.
Tabel 4.1 Lendutan Untuk Beban Awal (fc 25 MPa)
No
1
2
3

Type Balok
Balok Type I
Balok Type II
Balok Type III

Lendutan (mm)

Type Balok
Balok Type I
Balok Type II
Balok Type III

Lendutan (mm)

4.773
4.542
3.976

Tabel

4.2

Lendutan Untuk
Beban

(fc

30

MPa)
No
1
2
3

4.36
4.189
3.703

Tabel 4.3 Lendutan Untuk Beban (fc 35 MPa)


No
1
2
3

Type Balok
Balok Type I
Balok Type II
Balok Type III

Lendutan (mm)
4.062
3.913
3.484

32

Lendutan (f'c 25 MPa)


12
10
8
6 I
Balok Type
Beban (N/mm)

Balok Type II

Balok Type III

4
2
0

Lendutan (mm)

Gambar 4.1 Grafik Lendutan Untuk fc 25 MPa

Berdasarkan grafik diatas dapat dijelaskan bahwa perbedaan rasio tulangan


mempengaruhi lendutan yang terjadi pada suatu balok beton bertulang. Balok dengan rasio
tulangan minimum memiliki lendutan yang paling besar yaitu 4.773 mm (Balok I),
sedangkan balok dengan rasio tulangan maksimum memiliki lendutan paling kecil yaitu
3.976 mm(Balok III), untuk beban dan modulus elastisitas yang sama. Semakin besar rasio
tulangan yang digunakan maka diameter tulangan dan jumlah tulangan yang digunakan
ikut menjadi lebih besar. Hal yang bisa dilihat disini adalah rasio tulangan mempengaruhi
inersia dari penampang balok, yang sesuai dengan teori tentu mempengaruhi lendutan yang
terjadi. Semakin besar momen inersia maka lendutan yang dihasilkan semakin kecil.
Perbedaan lendutan antara rasio tulangan pakai (Balok II) dengan tulangan minimum
(Balok I) tidak terlalu jauh perbedaannya yaitu 0.231 mm, sedangkan perbedaan lendutan
antara tulangan maksimum (Balok III) dan minimum (Balok I) yaitu 0.797 mm. Memang
33

dari lendutan yang dihasilkan untuk semua model balok, perbedaannya tidak terlalu jauh
dikarenakan penampang baloknya masih tetap sama sehingga inersianya tidak berubah
banyak meskipun jumlah tulangan dan letak tulangan berubah. Visualisasi dari lendutan
pada yang dihasilkan pada Abaqus akan ditampilkan pada gambar di bawah ini untuk
masing-masing model.

Gambar 4.2 Visualiasi Hasil Analisis Lendutan (Balok I) fc 25 MPa

Gambar 4.3 Visualiasi Hasil Analisis Lendutan (Balok II) fc 25 MPa

34

Gambar 4.4 Visualiasi Hasil Analisis Lendutan (Balok III) fc 25 MPa


Berikut ini akan ditampilkan grafik lendutan dengan fc 30 MPa dan fc
35 MPa

Lendutan (f'c 30 MPa)


12
10
8
6 I
Balok Type
Beban (N/mm)

Balok Type II

Balok Type III

4
2
0

0.5

1.5

2.5

3.5

4.5

Lendutan (mm)

Gambar 4.5 Grafik Lendutan Untuk fc 30 MPa

35

Lendutan (f'c 35 MPa)


12
10
8
6 I
Balok Type
Beban (N/mm)

Balok Type II

Balok Type III

4
2
0

0.5

1.5

2.5

3.5

4.5

Lendutan (mm)

Gambar 4.6 Grafik Lendutan Untuk fc 35 MPa

Berdasarkan grafik lendutan diatas untuk variasi modulus elastisitas


menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai modulus elastisitas maka
lendutan yang dihasilkan semakin kecil, ini sesuai dengan rumus
perhitungan lendutan untuk perletakan sendi rol dengan beban merata
sesuai dengan teori yang ada. Modulus elastisitas sebanding dengan
inersia penampang balok. Selain modulus elastisitas dan inersia
penampang, lendutan juga dipengaruhi oleh beban yang bekerja. Pada
pemodelan ini beban yang bekerja akan ditingkatkan. Dibawah ini akan
ditampilkan grafik lendutan untuk peningkatan beban dengan fc 25
MPa.
Tabel 4.4 Lendutan Dengan Peningkatan Beban
No

Beban (N/mm)
1
2
3
4
5
6
7

0.000
5.000
10.000
17.500
28.750
45.625
70.938

Balok Type I
0.000
2.370
4.743
8.364
13.777
21.856
33.983

Lendutan (mm)
Balok Type II
Balok Type III
0.000
0.000
2.269
1.988
4.538
3.976
8.002
6.997
13.184
11.533
20.934
18.344
32.544
28.544
36

108.906

52.317

50.055

43.856

Beban-Lendutan
120.000
100.000
80.000

Balok T60.000
ype I
Beban (N/mm)

Balok Type II

Balok Type III

40.000
20.000
0.000
0.000

10.000

20.000

30.000

40.000

50.000

60.000

Lendutan (mm)

Gambar 4.7 Grafik Hubungan Beban dengan Lendutan


Berdasarkan grafik hubungan beban dengan lendutan, diperoleh bahwa semakin besar
beban yang diberikan maka lendutan yang dihasilkan meningkat. Pada grafik ditunjukkan
balok III dengan rasio tulangan maksimum memiliki lendutan yang paling kecil
dibandingkan dengan balok I dengan rasio tulangan minimum. Peningkatan beban
dilakukan hanya untuk melihat pengaruh peningkatan beban dengan lendutan. Lendutan
maksimum pada masing-masing balok untuk balok I yaitu 52.31 mm, balok II yaitu 50
mm, dan balok III 43.85 mm untuk beban maksimum 108.9 N/mm, dengan fc 25 MPa.
Pada pemodelan ini tidak menampilkan seberapa besar beban yang dibutuhkan agar balok
beton bertulang tersebut mencapai keruntuhan. Lendutan pada tulangan juga dilihat pada
pemodelan ini, hasil yang didapat sama dengan lendutan dengan balok, ini artinya lekatan
atau interaksi beton dengan tulangan pada pemodelan di abaqus sudah berhasil dilakukan.

37

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisis lendutan balok bertulang dengan variasi rasio
tulangan yang telah dilakukan dengan menggunakan program Abaqus,
dapat diambil kesimpulan:
1. Semakin besar rasio tulangan, maka dimensi tulangan atau diameter
tulangan lentur semakin besar, sehingga lendutan yang dihasilkan
semakin kecil, untuk beban yang sama.
2. Modulus elastisitas dan inersia penampang balok mempengaruhi
lendutan, semakin besar modulus elastisitas dan inersia, maka
lendutan

menjadi

semakin

kecil.

Variasi

rasio

tulangan

mengindikasikan variasi dari inersia penampang balok.


3. Peningkatan beban mempengaruhi lendutan, semakin besar beban
yang bekerja maka lendutan yang dihasilkan juga meningkat.
4. Lendutan maksimum pada masing-masing balok untuk balok I yaitu
52.31 mm, balok II yaitu 50 mm, dan balok III 43.85 mm untuk beban
38

maksimum 108.9 N/mm, sedangkan untuk beban 10 N/mm lendutan


pada balok I, II, dan III adalah masing-masing 4.743 mm, 4.538 mm,
dan 3.976 mm untuk fc 25 MPa.
5. Lendutan pada tulangan hampir sama dengan lendutan pada balok
untuk semua jenis model type balok, baik itu dengan variasi modulus
elastisitas dan peningkatan beban.

5.2.

Saran

Adapun hal yang dapat disarankan dalam penelitian ini adalah:


1. Perlu validasi bahwa lendutan yang dihasilkan Abaqus apakah sudah
sesuai dengan teori perhitungan yang ada, mengingat lendutan
dipengaruhi oleh inersia dan modulus elastisitas.
2. Perlu menampilkan mengenai keruntuhan dari balok, sampai kapan
balok tersebut akan mencapai runtuh.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-28472013). Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Chu-Kia Wang, Salmon C. G. alih bahasa Binsar Hariandja. 1986. Disain Beton Bertulang.
Jakarta: Erlangga.
Cook, R., Malkus, D., Plesha, M., and Witt, R. 2002. Concept and Aplications of finite
Element Analysis. Denver : John Wiley & Sons.
Nawy, E. G. 2003. Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar. Bandung: Refika Aditama,
Bandung.
Pakpahan, Y. R dan Sitorus, T. 2015. Analisa Lendutan Balok Beton Bertulang Dengan
Variasi Diameter Tulangan Berbeda Dan Letak Tulangan Berbeda Namun Luas
Penampang Tetap Sama Dengan Cara Teoritis Dan Simulasi Program FEA. Jurnal
Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara. Vol. 4, No 1.

39

Wiyono, D, R dan Trisna, W. 2013. Analisa Lendutan Seketika dan Lendutan Jangka
Panjang Pada Struktur Balok. Jurnal Teknik Sipil Universitas Kristen Maranatha.
Vol. 9, No. 1.

40