Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) saat ini merupakan salah
satu jenis tanaman perkebunan yang menduduki posisi penting di sektor pertanian
umumnya, dan sektor perkebunan khususnya, hal ini disebabkan karena dari
sekian banyak tanaman yang menghasilkan minyak atau lemak, kelapa sawit yang
menghasilkan nilai ekonomi terbesar per hektarnya di dunia (Khaswarina, 2001).
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah tanaman perkebunan
penting penghasil minyak makanan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati
(biodiesel). Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah
Malaysia. Diperkirakan pada tahun 2009, Indonesia akan menempati posisi
pertama produsen sawit dunia.

Untuk meningkatkan produksi kelapa sawit

dilakukan kegiatan perluasan areal pertanaman, rehabilitasi kebun yang sudah ada
dan intensifikasi (Kiswanto, dkk, 2008).
Perkebunan kelapa sawit yang pengelolaannya terdiri atas perkebunan
rakyat, perkebunan negara atau Badan Umum Milik Negara (BUMN), dan
perkebunan swasta mencapai luas 5,4 juta hektar. Total produksi pada tahun 2004
mencapai 11,78 juta ton Crude Palm Oil (CPO) atau produksi rata-rata dari setiap
hektar perkebunan sawit adalah 2,17 ton (Statistik Perkebunan, Ditjen Bina
Produksi Perkebunan 2004). Sebagian besar dari perkebunan kelapa sawit berada
di Sumatera sekitar 4 juta hektar, sedangkan sisanya secara berturut-turut tersebar
di Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Jawa. Produksi CPO tersebut biasanya
dipergunakan untuk bahan baku pembuatan minyak goreng, dan sabun. Oleh
karena itu, masalah-masalah teknis, ekonomis, dan sosial dari pengembangan

perkebunan kelapa sawit untuk bahan baku biodiesel tersebut perlu diperhatikan,
sehingga hasilnya dapat lebih berdaya guna. Berdasarkan ketersediaan lahan,
Kalimantan dan Papua mempunyai potensi yang besar dalam pengembangan
perkebunan kelapa sawit (Haryanto, 2002).
Saat ini Indonesia merupakan negara produsen CPO nomor 2 terbesar di
dunia setelah Malaysia, dan dalam waktu dekat kemungkinan akan menggeser
posisi Malaysia sebagai produsen CPO terbesar didunia. Kelapa sawit sebagai
tanaman penghasil CPO merupakan tanaman perkebunan yang terdapat di hampir
seluruh wilayah Indonesia. Wilayah Sumatera saat ini merupakan wilayah yang
mempunyai lahan kelapa sawit terbesdar di Indonesia, khususnya Sumatera Utara,
disusul Riau dan Sumatera Selatan (Sugiyono, 2009).
Sumatera Utara menjadi populasi dasar hampir seluruh program pemuliaan
kelapa sawit di dunia. Populasi ini dikenal sebagai dura Deli, yang memiliki
karakter cangkang yang tebal, bobot tandan yang besar, dan jumlah tandan yang
sedikit. Penemuan sifat ketebalan cangkang pada kelapa sawit pada 1941, yang
berkorelasi dengan tingkat produksi minyak menjadi tonggak dasar untuk
pelibatan populasi tenera/pisifera dalam program pemuliaan kelapa sawit.
Tujuan dari pemuliaan itu sendiri yaitu Produksi minyak yang tinggi
masih menjadi fokus utama dalam program pemuliaan kelapa sawit.

Merakit varietas yang memiliki sifat ketahanan/toleransi terhadap penyakit,


khususnya Ganoderma. kualitas minyak. Merakit varietas dengan kandungan beta
karoten dan asam lemak tak jenuh yang tinggi tocopherol dan tocotrienol.
Karakter-karakter yang memudahkan untuk panen tanaman dengan laju
pertumbuhan meninggi yang lambat. Tangkai tandan yang panjang, buah yang

tidak mudah memberondol, dan perbedaan warna buah yang jelas antara tandan
mentah dan tandan matang juga mulai menjadi perhatian para pemulia kelapa
sawit. Dari tujuan pemuliaan tanaman diatas maka dilakukan studi lapangan untuk
mengetahui bagaimana cara menghasilkan bibit unggul dari

PT. Socfindo

Indonesia, Bangun Purba.


Tujuan Studi Lapangan
Untuk mengetahui bagaimana cara dan teknik pemuliaan tanaman
menghasilkan bibit unggul PT.Socfindo Indonesia, Bangun Purba.
Kegunaan Studi Lapangan
Sebagai salah satu komponen penilaian Praktikum Pemuliaan Tanaman
Perkebunan Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas
Sumatera Utara, Medan.

PROFIL PT. SOCFINDO INDONESIA, BANGUN BANDAR


Diawali pada tahun 1909, Societe Financiere des Caouchoucs Medan
Societe Anonyme (Socfin) didirikan oleh M. Bunge. Pada saat yang bersamaan
juga, Adrian Hallet mendirikan Plantation Fauconnier & Posth bersama Henry
Fauconnier. Sementara itu, aktivitas pembukaan dan pembangunan perkebunan
PT. Socfin Indonesia pertama sekali sudah dimulai pada tahun 1906 di Kebun Sei
Liput,

Aceh

Timur,

Propinsi

Nanggroe

Aceh

Darussalam

(sekarang).

Pada tanggal 7 Desember 1930, berdasarkan akta notaris William Leo No.45,
nama dan leaglitas PT. Socfin Medan S.A. (Societe Financiere des Caoutchoucs
Medan Societe Anonyme) resmi digunakan. Berdasarkan akta notaris tersebut, PT.
Socfin Medan S.A. berkedudukan di Medan dan mengelola perkebunan di daerah
Sumatera Timur, Aceh Barat, Aceh Selatan dan Aceh Timur.
PT. Socfin Indonesia didirikan pada tanggal 7 Desember 1930 dengan
nama Socfin Medan S.A. Pada tahun 1965, PT. Socfin Indonesia dialihkan di
bawah pengawasan pemerintah Indonesia berdasarkan penetapan Presiden No. 6
Tahun 1965. Pada tahun 1968, PT. Socfin Indonesia menjadi perusahaan
patungan antara Plantation Nord Sumatra S.A. - Belgia (pemilik saham Socfin)
dengan pemerintah R.I dengan nama PT. Socfin Indonesia (Socfindo),
berdasarkan UU penanaman modal asing No. 01/1967 dengan perbandingan
kepemilikan 60% saham Plantation Nord Sumatra dan 40% saham pemerintah
RepublikIndonesia. Pada tanggal 13 Desember 2001, sejalan dengan privatisasi
beberapa BUMN oleh pemerintah R.I., telah terjadi perubahan kepemilikan saham
Socfindo menjadi 90% saham Plantation Nord Sumatra dan 10% saham
pemerintah R.I. di bawah kementerian BUMN.

PENYERBUKAN BUATAN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT


Adapun kegiatan utama yang dilakukannya adalah proses bagging.
Bagging adalah kegiatan untuk menyungkupi bunga betina agar tidak diserbuki.
Mengisolasi bunga jantan dari pollen lain, tidak dilakukan penyerbukan oleh
pollen lain agar psifera tidak menyungkup, kemudian penanda warna biru dibuka
sungkupnya, sungkupan minimal 10 hari agar bunga reseptif dibawah 10 hari
nanti pollen-pollen lain akan menyerbuki. Untuk kegiatan pencegahan 10 hari
reseptif kemungkinan tidak ada pollen yang menempel jika dalam waktu 30 hari
setelah penyungkupan belum juga melakukan penyerbukan maka di reject.

Gambar. Pollen yang telah matang


Bunga dikatakan reseptif apabila seludangnya sudah membuka dengan
adanya bunga yang mekar pada spikelet dimana kepala putik bewarna putih
kekuningan, sudah merekah dan memiliki cairan putih kekuningan. Apabila 10
hari kedepan belum reseptif dan pecah maka pollinator dikenakan denda karena
gagal, apabila 7 hari sudah pecah maka gagal kegiatan reseptifnya. Ada binatang

elaedobius kemudian diberi kapas di tangkai bunga untuk kode, kemudian tangkai
dibalut dengan kapas agar kuat tekanan kapas yang sebelumnya diberi insektisida
powder. Apabila dilewati maka akan gagal dan pollinator akan didenda karena
gagal, keberhasilan proses penyungkupan ada 98%. Sungkupan terdiri atas dua
penyungkup, sungkup pertama digunakan untuk yang pertama, sungkup kedua
digunakan untuk melindungi sungkup pertama karena apabila sungkup kedua
terkena duri atau terjadi kerusakan janjang maka direject karena pollen datang dari
luar yang akan kontaminasi maka masih ada sungkup pertama.

Gambar. Proses penyungkupan bunga betina


Proses munculnyaa bunga betina tergantung tanaman itu sendiri contohnya
dura memiliki jumlah janjang sedikit yang bunga betina muncul 12-15 per tahun,
bunga tanaman muda 4-7 tahun memiliki bunga betina 24-30 bunga tergantung
usia dan jenis tanamannya, tenera bisa menghasilkan 36 bunga. Kemudian setiap
hari

melihat bunga yang belum reseptif, apabila sudah reseptif kemudian

dilaporkan kekomputer yang reseptif kemudian staf menjodohkan di bagian


laboratorium dilakukan preparasi yang pada pagi hari diserbuki untuk pokokpokoknya.

Proses penyungkupan diperiksa oleh mentri quality kontrol memeriksa


apakah sudah siap disungkup, sudah bersih prosesnya kemudian diberi label
disungkupan.
Semua sungkupan yang dilakukan hari ini pemeriksaan dilakukan besok
pagi secara random untuk 23 sungkup kemudian 5-9 hari quality kontrol II
melihat perkembangan bunga yang sudah reseptif. BDT dibawa oleh polisi untuk
QC III dan QC V untuk mengetahui janjang didatabase, yang ada dijanjang
kemudian di upload dan dicocokkan dengan janjang. QC II dilakukan untuk
melihat perkembangan bunga , apabila bunga mekar sebelum 10 hari maka di
reject , bunga yang mekar diperiksa 7-8 hari.

Gambar. Bunga yang telah disungkup


Proses Pemanenan Bunga Jantan

Sebelum antesis bunga jantan harus dibungkus dengan pembungkus yang


sedikit berbeda bentuknya yaitu pada bagian bawahnya terdapat kantong
plastik tempat penyaluran tepung sari

Bunga jantan harus dibungkus minimal 10 hari sebelum antesis, biasanya


pembungkusan dilakukan 10-15 hari sebelum panen.

Bunga akan antesis (60-70 %) dapat diketahui dengan melihat bunga pada
spikelet yang telah mengeluarkan tepung sari (maksimal 2/3 bagian
spikelet) dan bau adas yang wangi

Pemanenan sebaiknya dilakukan pada jam 09.00-12.00. Tandan bunga


jantan ini dipotong dan diturunkan dengan tali, kemudian di bawa ke
laboratorium tepung sari.

Penerimaan tandan bunga jantan dari lapang Tandan yang diterima dari
lapang harus dilengkapi dengan pengantar panen dan label identitas tandan

Penerimaan dilakukan pada pukul 11.00-12.00

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap dokumen, maka tandan


dikondisikan di ruang ber-AC dengan suhu maksimal 22oC selama 3 jam.

Pengumpulan Pollen
Tangkai tandan digantung dalam posisi di sebelah atas. Kemudian dilakukan
pemukulan bungkusan tandan dengan menggunakan kayu tumpul dari segala arah.
Pollen yang terlepas kemudian ditampung dalam kantung plastik yang kemudian
diklip dan bagian luar plastik diolesi alkohol lalu diberi identitas sesuai dengan
label tandan. 1 janjang menghasilkan 3-30 pollen murni.

Gambar. Pollen yang telah dilepas dari tandan

Pengeringan Pollen
Pollen yang terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam peti manipulasi
(yang telah disterilisasikan) dan dilakukan pengayakan untuk membersihkan
kotoran-kotoran yang tercampur dengan tepung sari. Hasil pengayakan ditampung
dengan ayakan ukuran 80-100 mesh yang telah dilapisi kertas tipis, serta diberikan
silica gel aktif 100-200 gram di bagian bawah ayakan. Kemudian ayakan ditutup
dan disegel dengan selotip dan setelah minimal 1 x 24 jam dilakukan
pengampulan Pollen. Pollen

hasil pengayakan dipasangi label sesuai dengan

identitas pollen. KA pollen yaitu 5-7%.

a
b
Gambar. (a) pengeringan dengan silica gel (b) Tepung sari (pollen) yang diayak
Pengujian Viabilitas Pollen
Bahan dan alat yang digunakan untuk pengujian viabilitas tepung sari adalah
1) media perkecambahan/sukrosa 8 %,
2) borax 15 ppm,
3) air bersih.
Media dan pollen diletakkan pada dek gelas, kemudian dek gelas dan tepung
dari tersebut disimpan dalam oven dengan suhu 38 oC selama 3-4 jam. Setelah
dipanaskan preparat tepung

sari diamati di bawah mikroskop. Pengamatan

meliputi jumlah kecambah pollen yang hidup dan mati. Kemudian dihitung
persentase kecambah pollen yang hidup. Pollen yang hidup memiliki ekor dan
berwarna terang. Pollen dinilai baik jika memiliki viabilitas > 70 % untuk seed
production, tetapi untuk pemuliaan tidak ditentukan viabilitas pollen.

a
b
Gambar. (a)pembiakan pollen, (b) gambar pollen yang hidup
Dilakukan pembotolan pollen, hal ini dilakukan untuk menghindari tidak
berkecambahnya pollen. Pada saat pollen dimasukkan kedalam botol botol dalam
keadaan vakum udara. Alatnya Vakum Pump 1000m/Bar. Botol kaca pollen
dimasukkan ke dalam freezer dengan suhu minimal 18oC untuk menunggu
pemakaiannya ke lapang. Biasanya pollen dapat bertahan 6 bulan.

Gambar. pembotolan pollen


Penyerbukan bunga
-

dibuka sungkup,lalu di bedaki/ diberi insektisida powdernya

dilubangi sungkup yang pertama, lalu disterilisasi dengan menggunakan

alcohol,
dilubangi sungkup kedua, diserbuki bunga betina dengan pollen yang telah

disediakan dengan cara digoyang-goyang agar pnyerbukan merata,


ditutup dengan selotip sungkup yang telah dilubangi,
digoyang sungkup agar pollen tersebar dan dapat menyerbuki semua

bunga betina,
ditempel identitas yang ada pada pollen tersebutdibagian yang sudah

terserbuki,
diperiksa bunga 5-9 hari apakah bunga telah terserbuki semua atau belum,
dilakukan 20 hari setelah penyerbukan untuk menghindari adanya bunga
yang reseptik.
Dilakukan QC 5 20 hari setelah penyerbukan. Dibuka kain lalu diganti

dengan net biru, hal ini dilakukan untuk menghindari buah membrondol dan jatuh
kebawah. QC 6 memeriksa bag, apabila ada bag yang berlubang maka tandan
direject. QC 7 mengontrol apakah serbukan kosong atau tidak, untuk memeriksa
apakah pekerja bekerja dengan baik. QC 8 pemeriksaan blanko. QC 10
pemeriksaan buah apakah sudah siap dipanen atau belum, pemanenan dilakukan
setelah 170 hari dan buah telah membrondol.
Produksi Benih
Buah yang telah dipanen umur 170 hari ditimbang. Identitas buah harus
diikuti apabila identitas tidak ada buah dibuang. Dilakukan perontokan buah, lalu
2 hari kemudian buah dirontokkan lagi dari tandan nya. Setelah buah dirontokkan
dimasukkan kedalam goni dan kemudian direndam selama 1 minggu. Lalu
dilakukan perontokan biji dari kulitnya dengan alat perontokan sampai biji benarbenar bersih dari daging buah. Perontokan ini menggunakan waktu 5 menit.

Gambar. (a) perontokan buah dari tandan, (b) hasil perontokan buah dari kulit
Sortasi benih
Biji yang telah siap dikering anginkan, lalu dipilih biji yang pecah, putih
dan kerdil, biji yang telah dipilih tersebut dibuang karena tidak layak dijadikan
benih. Dihitung biji yang digunakan, diprint (diberi label) pada biji tersebut.

Gambar. sortasi biji


Biji yang telah siap diberi label, lalu disimpan 3-6 bulan digudang benih
untuk menghomogenkan KA benih. Biji direndam 1 minggu, dengan setiap hari
air

diganti,

perendaman

Dikeringanginkan biji

dilakukan

untuk

meningkatkan

KA

18%.

selama 5-6 jam yang telah direndam dengan diberi

perlakuan fungisida. Lalu biji yang telah siap dimasukkan keruangan pemanas
dengan suhu 400C selama 70-80 hari, dengan pengatur suhu agar ruangan tetap
dalam kondisi panas. Dilakukan pengecekan pada biji apabila KA kurang dari

18,5% dilakukan penyemprotan dengan air. Dilakukan perendaman 1 minggu


setelah pemanasan dengan cara diambil sampel 3 butirdiberi perlakuan fungisida
KA harus 21%.

gambar. (a) pelabelan benih, (b) benih yang telah diberi label,
(c) penyimpanan benih
Ruang berminasi / gelap
Diruang ini biji disimpan selama 10 hari, dengan 2 hari sekali biji
disemprot dengan air. Setelah 2-3 bulan biji dapat dipisahkan yang telah
berkecambah. Biji dipisahkan dengan berkecambah 1, 2 dan 3.

Gambar. Ruang berminasi / gelap


Pengemasan Benih

Pengemasan benih berdasarkan warna kemasan, warna merah benih


Varietas Lame, putih VarietasYangamli, orange Varietas DDMT6. Diberi label
barcode yang berisi varietas, jumlah kecambah, kode pekerja. Setiap kemasan
berisi 100 kecambah. Setelah pengemasan dilakukan scan agar terdaftar benih
yang akan dipasarkan. Dipacking benih yang telah dikemas dan siap dikirim.

gambar. (a)pengemasan benih, (b) benih yang telah dikemas, (c) scan
pelabelan,(d) packing benih.

LABORATORIUM BIOMOLECULER PT. SOCFINDO,


BANGUN BANDAR

Didalam kegiatan ini, laboratorium genetika molekuler menganalisa sawit


yang berada di PT. Socfindo Indonesia, Bangun Bandar. Dalam kegiatan ini
dibutuhkan penanda (primer), pohon induk yang akan di analisa. Pada kegiatan
analisa pohon induk dilakukan dengan metode SSR.
Alat yang

terdapat

dilaboratorium

biomoleculer

yaitu

incubator,

centrifuge, gel doc, spectrophotometer, elektroforesis, PCR, dan alat-alat untuk


mendukung kegiatan menganalisa DNA suatau tanaman.
Kegiatan untuk menganalisa pohin induk tanaman kelapa sawit yang ada di
PT. Socfindo, Bangun Bandar sebagai berikut:
-

Digunakan primer yang cocok untuk tanaman kelapa sawit


Diambil sampel dilapangan, yaitu berupa daun yang masih muda,
Digerus sampel dengan menggunakan nitrogen cair, namun dalam
kegiatan ini penggerusan dengan bahan yang lebih cepat melakukan

penggerusan, yaitu penggunaan KIT untuk mengekstrak protein.


Dimasukkan sampel ke freezer dry untuk mengawetkan sampel sebelum

dilakukan penggerusan pada suhu -80C,


Disimpan ekstrak yang telah didapat pada suhu 200C,
Dilakukan sentrifuge apabila akan dilakukan analisa, sentrifuge yang

Digunakan besar dan kecil,


Dilakukan elektroforesis untuk menguji kualitas DNA,
Dimasukkan kedalam Gel doc,
Dilakukan PCR pada hasil elektroforesis, PCR yang digunakan dengan
389 sampel dan 96 sampel.

Gambar. alat-alat yang terdapat di laboratorium biomoleculer


LABORATORIUM ANALITIK PT. SOCFINDO,
BANGUN BANDAR
Dilaboratorium analitik terdapat 3 sub laboratorium yaitu:
-

laboratorium Tanah
laboratorium Analisa Pupuk
laboratorium Analisa Daun

Laboratorium Tanah
Laboratorium ini biasanya menganalisa 2000 sampel/tahun. Minimal 3
bulan sampel yang telah dianalisa disimpan dilaboratorium ini. Untuk kegiatan

analisa tanah alat yang digunakan seperti blander, ayakan. Dalam menganalisa
tanah hanya menghaluskan bongkahan tidak partikel, makanya digunakan alat
sederhana. Lalu dioven tanah yang telah halus tersebut Selma 1 malam dengan
suhu 400C, lalu digerus menggunakan mortal. Di laboratorium ini hanya
menganalisa tekstur, C organic, KTK, pH, P tersedia dan dan hanya unsur har a.

Gambar. laboratorium analisa tanah

Laboratorium Analisa Daun


Didalam laboratorium ini dilakukan analisa daun, untuk melihat tanaman
tersebut mengalami kekurangan unsur apa, sehngga dapat dilakukan perbaikan
budidaya pada tanaman tersebut. Dilboratorium ini untuk saat ini masih
menganalisa daun kelapa sawit yang ada di PT. Socfindo Indonesia, Bangun
Bandar.

Gambar. laboratorium analisa tanah


Laboratorium Pupuk
Kegiatan yang dilakukan dalam laboratorium yaitu menganalisa pupuk
yang akan digunakan untuk pengaplikasian ke tanaman kelapa sawit yang ada di
PT. Socfindo Indonesia, Bangun Bandar

Gambar. kegiatan yang ada di laboratorium Analitik


KESIMPULAN
Dari kegiatan study lapangan yang telah dilakukan diharapkan mahasiswa
mengetahui bagaimana teknik dalam persilangan tanaman kelapa sawit,
bagaimana cara menghasilkan benih unggul dan memproduksinya, bagaimana
cara menganalisa DNA tanaman secara molekuler, bagaimana menganalisa daun,
pupuk dan tanah.