Anda di halaman 1dari 6

TINGKAT KEBERHASILAN PERSILANGAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.

)
VARIETAS GUPITA DAN MERCY
Oleh :
*Nazriah Pratiwi/130301178
**Prof. Dr. Ir. Rosmayati. MS
*Praktikan
**Dosen Penanggung Jawab Laboratorium
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
ABSTRAC
Practicum

aims

to

know

the

techniques

and

the

success

rate

crosses

of

cucumber (Cucumis sativus L.) varieties Gupita and Mercy. The practicum was carried out in
gauze house Agricultures Faculty of North Sumatera University, Medan, in Indonesia with height
25 m above of surface of the sea in October to December 2016. Materials and equipment used in
the lab are cucumber crop (Cucumis sativus L.) varieties Gupita as male parent and varieties Mercy
as the female parent, a tool used tweezers, scissors, toothpick, label, tissue. The percentage of
crossbred plants cucumber (Cucumis sativus L.) amounted to 58.06%. This percentage is influenced
directly by the time variable pollination. Factors that led to the failure of crosses which are future
receptive male and female flowers are not in sync, buds and flowers fall before or after fertilization,
the low production of pollen, the pollen is not viable, male sterile, and self incompatibility.
Keywords: Cucumber, crosses, the success rate
ABSTRAK
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui teknik dan tingkat keberhasilan persilangan
tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) varietas Gupita dan Mercy. Praktikum dilaksanakan di
rumah kassa Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan pada ketinggian 25 m dpl pada bulan Oktober sampai Desember 2016. Bahan dan Alat
yang digunakan dalam praktikum yaitu tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) varietas Gupita
sebagai tetua jantan dan varietas Mercy sebagai tetua betina, alat yang digunakan pinset, gunting,
tusuk gigi, label, tissue. Persentase persilangan tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) sebesar
58.06%. Persentase ini dipengaruhi secara langsung oleh variabel waktu penyerbukan. Faktor yang
menyebabkan kegagalan persilangan diantaranya adalah masa reseptif bunga jantan dan betina yang
tidak sinkron, kuncup dan bunga rontok sebelum atau setelah fertilisasi, rendahnya produksi polen,
polen tidak viabel, mandul jantan, dan self incompatibility.
Kata kunci : Mentimun, persilangan, tingkat keberhasilan
1

Jurnal Pemuliaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016

PENDAHULUAN
Mentimun

pemuliaan tanaman secara konvensional dan


atau

timun

(Cucumis

nonkonvensional. Secara konvensional dapat

sativus L.) merupakansalah satu jenis sayuran

dilakukan dengan teknik persilangan.

Dan

dari famili Cucurbitales atau labu-labuan yang

nonkonvensional dapat dilakukan dengan cara

sudah popular di seluruh dunia. Mentimun

mutasi (Gunawan, 2002).

adalah sayuran buah yang banyak dikonsumsi

Pada proses polinasi buatan, jumlah

masyarakat Indonesia dalam bentuk segar.

polen yang digunakan sangat berpengaruh

Nilai gizi mentimun cukup baik karena

terhadap

keberhasilan

sayuran buah ini merupakan sumber vitamin

polinasi

itu

dan mineral. Kandungan nutrisi per 100 g

(2009), stigma dari bunga sirsak yang

mentimun terdiri dari 15 g kalori, 0,8 g

diserbuki 100% dari polinasi yang dilakukan

protein, 0,1 g pati, 3 g karbohidrat, 30 mg

manusia menghasilkan ukuran buah yang

fosfor, 0,5 mg besi, 0,02 mg thianine, 0,01 mg

baik, yaitu bentuk buah lonjong dan tidak

riboflavin, natrium 5,00 mg, niacin 0,10 mg,

berlekuk. Jika polen dan stigma berada pada

abu 0,40 gr, 14 mg asam, 0,45 mg IU vitamin

tingkat kematangan yang sama maka tingkat

A, 0,3 mg IU vitamin dan 0,2 mg IU vitamin

keberhasilan polinasi juga akan semakin

(Misluna, 2016).

tinggi. Sehingga ketersediaan polen dalam

sendiri.

dari

pada

Menurut

proses

Sukarmin

Produksi mentimun secara nasional

satu bunga jantan dengan viabilitas yang baik

terus mengalami penurunan dalam kurun

diharapkan dapat menyerbuki lebih dari satu

waktu tertentu, produksi mentimun pada

bunga betina dengan suhu dan cuaca yang

tahun 2009 berproduksi 540.122 ton, pada

mendukung.

tahun 2010 berproduksi 583.149 ton, pada

Untuk meningkatkan produksi benih

tahun 2011 berproduksi 547.141 ton, pada

mentimun hibrida, diperlukan usaha khusus

tahun

ton.

dalam teknik budidayanya. Teknik yang

Sementara kebutuhan akan mentimun terus

paling sulit dalam produksi benih mentimun

meningkat

kesadaran

yaitu teknik polinasi atau penyerbukan.

masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran

Faktor yang sering dijumpai dalam kegagalan

(BPS, 2014).

bunga untuk menghasilkan benih adalah

2012

Upaya

berproduksi
seiring

untuk

511.525

dengan

peningkatan

hasil

kegagalan dalam proses penyerbukan. Dalam

produksi mentimun dapat dilakukan melalui

produksi

penggunaan

perbaikan

polinasi dipengaruhi oleh kematangan dari

tekhnik bercocok tanam (budidaya) dan

bunga jantan dan bunga betina itu sendiri.

penerapan pola tanam yang tepat. Perakitan

Oleh karena itu diperlukan waktu yang cocok

varietas unggul dapat dilakukan dengan cara

dalam melakukan polinasi untuk melihat

varietas

unggul,

benih

mentimun,

keberhasilan

Jurnal Pemuliaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016

reseptifitas stigma dan viabilitas polen pada

kegagalan tanaman untuk berbunga, kuncup

tingkat yang sama. Perbandingan jumlah

dan bunga rontok sebelum atau setelah

dalam bunga jantan dengan betina yang

fertilisasi, rendahnya produksi polen, polen

digunakan dalam proses polinasi juga sangat

tidak

penting

incompatibility.

biji

untuk
dengan

menghasilkan
kualitas

jumlah

yang

baik

(Wijaya et al., 2015).

viabel,

mandul

jantan,

dan

self

Kegagalan pada kebanyakan bunga


untuk membentuk buah merupakan hal yang

Pernyataan Haryanti (2004), banyak

biasa

dan

bukan

perkecualian.

keberhasilan persilangan, diantaranya adalah

pembentukan buah : Kurangnya penyerbukan,

kondisi pollen yang digunakan dan tingkat

kurangnya fertilisasi karena serbuk sari lemah

kompatibilitas.

atau tidak cocok, gugurnya bunga dan buah

persilangan

hal

suatu

faktor yang dapat mempengaruhi tingkat

Kompatibilitas

Ada

merupakan

kegagalan

merupakan kemampuan dalam membentuk

karena defisiensi nutrisi, penyakit dan faktor

buah. Persilangan yang menghasilkan buah

lingkungan (Milawatie, 2006).

disebut kompatibel, sedangkan yang tidak

Dari

sudut

pemuliaan

tanaman,

menghasilkan buah disebut inkompatibel.

inkompatibilitas merupakan faktor pembatas

Persilangan digolongkan dalam kompatibel

kombinasi genetik yang mungkin dihasilkan

jika persilangan dapat menghasilkan buah di

melalui persilangan. Tingkat kompatibilitas

atas 20 %. Sifat kompatibel terjadi karena

dari suatu kombinasi persilangan didasarkan

terdapat kecocokan antara putik dan benang

pada

sari sehingga buah pun terbentuk.

persilangan,

klasifikasi
yaitu

kompatibilitas
Kompatibel,

suatu
jika

Menurut Iswanto (2005), persilangan

persilangan dapat menghasilkan buah di atas

dikatakan berhasil apabila 3-4 hari setelah

20%, inkompatibel sebagian, jika persilangan

persilangan tangkai kuntum induk betina

dapat menghasilkan buah antara 10 20 %,

masih

inkompatibel,

segar

dan

berwarna

kehijauan.

jika

persilangan

dapat

Beberapa hari kemudian kelopak dan mahkota

menghasilkan buah di bawah 10 %. Adanya

bunga akan layu, akhirnya kering dan ronrok

sifat tidak serasi sendiri (self incompatibility)

diganti munculnya calon buah berbentuk bulat

dan tidak serasi silang (cross incompatibility)

telur dan berwarna hijau.

dalam sistem perkawinan suatu tanaman serta

Dari hasil penelitian Multhoni et al.


(2012)

bahwa

rendahnya

keberhasilan

persilangan dipengaruhi oleh waktu berbunga

sterilitas dari jenis tanaman itu merupakan


salah satu kendala dalam pemuliaan tanaman
(Welsh, 1991).

yang tidak sinkron antar tetua (jantan dan


betina). Selain itu ada beberapa faktor seperti
3

Jurnal Pemuliaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016

BAHAN DAN METODE

Keterangan :

Tempat dan Waktu Praktikum

X1 : Tinggi tanaman
X2 : Umur bunga jantan

Praktikum dilaksanakan di rumah kasa


Program studi Agroekoteknologi,

X3 : Umur bunga betina

Fakultas

X4 : Waktu penyerbukan

Pertanian, Universitas Sumatera Utara pada

Y : Persentase keberhasilan persilangan

ketinggian 25 dpl pada tanggal 22 Oktober

Berdasarkan

2014 sampai dengan selesai.

diatas

Bahan Dan Alat

hasil

diketahui

dari

bahwa

tabel

persentase

keberhasilan persilangan tanaman mentimun

Bahan yang digunakan yaitu benih

(Cucumis sativus L.) dipengaruhi secara

mentimun varietas Gupita dan Mercy, tissue,

langsung oleh variabel waktu penyerbukan

tanah, polybag, label, air, hekter.

dengan nilai sebesar (1.338) yang memiliki

Alat yang digunakan yaitu gunting,

korelasi positif. Sedangkan secara tidak

pinset, cangkul, pacak, tusuk gigi, plastik, alat

langsung dipengaruhi oleh variabel umur

tulis, buku data, gembor.

bunga betina dengan nilai (1.337) dan

Prosedur Praktikum

variabel umur bunga jantan dengan nilai

Praktikum ini tidak menggunakan

(1.333) yang berkorelasi positif.

rancangan. Pelaksanaan percobaan ditanam

Pembahasan

benih mentimun varietas Gupita dan Mercy,


dilihat

waktu

pembungaan

Persilangan buatan pada tanaman

tanaman,

mentimun (Cucumis sativus L.) bertujuan

dilakukan persilangan apabila tanaman telah

untuk

berbunga, dilakukan persilangan, persilangan

pembentukan varietas unggul. Hal ini sesuai

dilakukan di pagi hari atau sore hari, diberi

dengan

label hasil persilangan yang telah dilakukan.

menyatakan bahwa upaya untuk peningkatan

Parameter

pengamatan

persentase

meningkatkan
literatur

produksi

Welsh

(1991)

melaui
yang

hasil produksi mentimun dapat dilakukan

keberhasilan persilangan.

melalui

HASIL DAN PEMBAHASAN

perbaikan tekhnik bercocok tanam (budidaya)

Hasil

dan penerapan pola tanam yang tepat.

Tabel 1. Analisis sidik lintas tanaman


mentimun (Cucumis sativus L.)

Perakitan varietas unggul dapat dilakukan

VARIABEL

PENGARUH
LANGSUNG

X2

varietas

unggul,

dengan cara pemuliaan tanaman secara

PENGARUH TIDAK LANGSUNG


X1

penggunaan

X3

X4

konvensional dan nonkonvensional. Secara


konvensional

X1

-0.133

0.050

0.050

0.050

X2

-0.991

-0.988

-0.987

X3

0.547

0.371
0.2050

0.545

0.547

X4

1.338

-0.50

1.333

1.337

dapat

teknik persilangan.
dapat

dilakukan

dilakukan

dengan

Dan nonkonvensional
dengan

cara mutasi
4

Jurnal Pemuliaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016

(Gunawan, 2002).

Dari praktikum yang dilakukan hal

Dari praktikum yang telah dilakukan


diketahui

bahwa

persilangan

tingkat

tanaman

keberhasilan

yang

menyebabkan

terjadinya

inkompatibilitas pada tanaman yaitu karena

sebesar

ketidaksesuaian organ jantan dan betina.

menunjukkan adanya

ketidaksesuaian ini dikendalikan oleh faktor

kompatibilitas diantara putik dan benang sari

lingkungan, genetik dan fisiologis. Faktor

dari beberapa tanaman yang disilangkan.

lingkungan karena cuaca yang begitu panas

Persilangan ini disebut kompatibel apabila

karena suhu dirumah kasa yang tinggi dapat

tingkat keberhasilan diatas 20%. Hal ini

menyebabkan bunga rontok. Hal ini sesuai

sesuai dengan literatur Haryanti (2004) yang

dengan

menyatakan bahwa persilangan digolongkan

menyatakan bahwa adanya sifat tidak serasi

dalam kompatibel jika persilangan dapat

sendiri (self incompatibility) dan tidak serasi

menghasilkan buah di atas 20 %. Sifat

silang (cross incompatibility) dalam sistem

kompatibel terjadi karena terdapat kecocokan

perkawinan suatu tanaman serta sterilitas dari

antara putik dan benang sari sehingga buah

jenis tanaman itu merupakan salah satu

pun terbentuk.

kendala dalam pemuliaan tanaman.

58.06%. Hal ini

Faktor

yang

mentimun

lain

dapat

menyebabkan

literatur

Welsh

(1991)

yang

KESIMPULAN

kegagalan persilangan diantaranya adalah

Persentase

persilangan

tanaman

masa reseptif bunga jantan dan betina yang

mentimun (Cucumis sativus L.) sebesar

tidak sinkron, kuncup dan bunga rontok

58.06%.

sebelum atau setelah fertilisasi, rendahnya

langsung oleh variabel waktu penyerbukan.

produksi polen, polen tidak viabel, mandul

Faktor

jantan, dan self incompatibility. Hal ini sesuai

persilangan diantaranya adalah masa reseptif

dengan literatur Multhoni et al. (2012) yang

bunga jantan dan betina yang tidak sinkron,

menyatakan bahwa rendahnya keberhasilan

kuncup dan bunga rontok sebelum atau

persilangan dipengaruhi oleh waktu berbunga

setelah fertilisasi, rendahnya produksi polen,

yang tidak sinkron antar tetua (jantan dan

polen tidak viabel, mandul jantan, dan self

betina). Selain itu ada beberapa faktor seperti

incompatibility.

kegagalan tanaman untuk berbunga, kuncup

DAFTAR PUSTAKA

dan bunga rontok sebelum atau setelah

Badan Pusat Statistik. 2014. Grafik Produksi


Mentimun di Indonesia. Badan Pusat
Statistik Republik Indonesia. Jakarta.

fertilisasi, rendahnya produksi polen, polen


tidak

viabel,

incompatibility.

mandul

jantan,

dan

Persentase ini dipengaruhi secara


yang

menyebabkan

kegagalan

self
Gunawan. 2002. Karakterisasi Plasma Nutfah
Mentimun. Balai Penelitian Tanaman
5

Jurnal Pemuliaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016

Sayuran, Lembang. Buletin Plasma


Nutfah Vol.10:1.
Iswanto, H. 2005.
Merawat dan
Menggembangkan
Anggrek
Phalaenopsis. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Martin. 2004. Ilmu Pemuliaan Tanaman.
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Gajah Mada
Yogyakarta. H. 1-22.
Milawatie. 2006. Pengaruh Frekuensi
Penyerbukan
Terhadap
Keberhasilan Persilangan Mentimun
(Cucumis sativus L.). Skripsi.
Universitas Malang. Malang.
Misluna, 2016. Uji Daya Hasil Tanaman
Mentimun (Cucumis sativus L.)
Hibrida Hasil Persilangan Varietas F1
Baby Dan F1 Toska. Universitas
Lampung. Lampung.

Multhoni, J, Shimelis, H, Melis, R & Kabira,


J 2012, Reproductive biology and
early generations selection in
vonventional potato breeding, AJCS,
vol. 6, no. 3, pp. 488-497.
Sukarmin, 2009. Teknik Penyerbukan pada
Tanaman Sirsak. Buletin Teknik
Pertanian. 14(1):9-11
Welsh, J.R. 1991. Dasar-dasar Genetika dan
Pemuliaan Tanaman. Alih bahasa J.P.
Mogea. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Wijaya, S.A.,
N. Basuki., dan S. L.
Purnamaningsih. 2015. Pengaruh
Waktu Penyerbukan Dan Proporsi
Bunga Betina Dengan Bunga Jantan
Terhadap Hasil Dan Kualitas Benih
Mentimun (Cucumis sativus L)
Hibrida. Jurnal Produksi Tanaman. 3
(8):615 622

Jurnal Pemuliaan Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2016