Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN

PEMANTAUAN TERAPI OBAT

Oleh :
KEISSHA NUANSA A. (3351162139)

APOTEKER

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER ANGKATAN XXII


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
2016

BAB I
TEORI DASAR
1.1 Pemantauan Terapi Obat
1.1.a Definisi
Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan
untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien. Tujuan PTO
adalah meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak
Dikehendaki (ROTD). Pemantauan terapi obat harus dilakukan secara berkesinambungan dan
dievaluasi secara teratur pada periode tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi
dapat diketahui (Menkes RI, 2014).
Pasien yang mendapatkan terapi obat mempunyai risiko mengalami masalah terkait
obat. Kompleksitas penyakit dan penggunaan obat, serta respon pasien yang sangat individual
meningkatkan munculnya masalah terkait obat. Hal tersebut menyebabkan perlunya
dilakukan PTO dalam praktek profesi untuk mengoptimalkan efek terapi dan meminimalkan
efek yang tidak dikehendaki. Kegiatan dalam PTO meliputi:
a. pengkajian pemilihan Obat, dosis, cara pemberian Obat, respons terapi, Reaksi Obat yang
Tidak Dikehendaki (ROTD);
b. pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait Obat; danpemantauan efektivitas
dan efek samping terapi Obat (Menkes RI, 2014).
1.1.b Tatalaksana Pemantauan Terapi Obat
Keberadaan apoteker memiliki peran yang penting dalam mencegah munculnya
masalah terkait obat. Apoteker sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan memiliki peran
penting dalam PTO. Pengetahuan penunjang dalam melakukan PTO adalah patofisiologi
penyakit; farmakoterapi; serta interpretasi hasil pemeriksaan fisik, laboratorium dan
diagnostik. Selain itu, diperlukan keterampilan berkomunikasi, kemampuan membina
hubungan interpersonal, dan menganalisis masalah. Tatalaksana pada PTO menurut Ditjen
BIRFAR dan ALKES (2009), yaitu:
a. Seleksi Pasien
Pemantauan terapi obat (PTO) seharusnya dilaksanakan untuk seluruh pasien.
Mengingat terbatasnya jumlah apoteker dibandingkan dengan jumlah pasien, maka perlu
ditentukan prioritas pasien yang akan dipantau. Seleksi dapat dilakukan berdasarkan:
Kondisi Pasien, dipilih pasien dengan kondisi:

Pasien yang masuk rumah sakit dengan multi penyakit sehingga menerima polifarmasi.
Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika.
Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan ginjal.
Pasien geriatri dan pediatri.
Pasien hamil dan menyusui.
Pasien dengan perawatan intensif.
Jenis Obat, dipilih pasien yang menerima obat jenis tertentu, antara lain:
Obat dengan indeks terapi sempit (contoh: digoksin,fenitoin),
Obat yang bersifat nefrotoksik (contoh: gentamisin) dan hepatotoksik (contoh: OAT),
Sitostatika (contoh: metotreksat),
Antikoagulan (contoh: warfarin, heparin),
Obat yang sering menimbulkan ROTD (contoh: metoklopramid, AINS),
Obat kardiovaskular (contoh: nitrogliserin).
Selain itu dapat juga dipilih pasien yang menerima kompleksitas regimen, antara lain:

Polifarmasi
Variasi rute pemberian
Variasi aturan pakai
Cara pemberian khusus (contoh: inhalasi)
b. Pengumpulan Data Pasien
Data dasar pasien merupakan komponen penting dalam proses PTO. Data tersebut

dapat diperoleh dari:

Rekam medik,
Profil pengobatan pasien/pencatatan penggunaan obat,
Wawancara dengan pasien, anggota keluarga, dan tenaga kesehatan lain.
c. Identifikasi Masalah Terkait Obat
Setelah data terkumpul, perlu dilakukan analisis untuk identifikasi adanya masalah

terkait obat, diantaranya:

Ada indikasi tetapi tidak di terapi


Pemberian obat tanpa indikasi
Pemilihan obat yang tidak tepat
Dosis terlalu tinggi
Dosis terlalu rendah
Reaksi obat yang tidak dikehendaki
Interaksi obat
Pasien tidak menggunakan obat karena suatu sebab.
d. Rekomendasi Penyelesaian Masalah Terkait Obat
Tujuan utama pemberian terapi obat adalah peningkatan kualitas hidup pasien, yang

dapat dijabarkan sebagai berikut :


Menyembuhkan penyakit (contoh: infeksi)
Menghilangkan atau mengurangi gejala klinis pasien (contoh: nyeri)

Menghambat progresivitas penyakit (contoh: gangguan fungsi ginjal)


Mencegah kondisi yang tidak diinginkan (contoh: stroke).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penetapan tujuan terapi antara lain derajat

keparahan penyakit dan sifat penyakit (akut atau kronis). Pilihan terapi dari berbagai
alternatif yang ada ditetapkan berdasarkan: efikasi, keamanan, biaya, regimen yang mudah
dipatuhi.
e. Rencana Pemantauan
Setelah ditetapkan pilihan terapi maka selanjutnya perlu dilakukan perencanaan
pemantauan, dengan tujuan memastikan pencapaian efek terapi dan meminimalkan efek yang
tidak dikehendaki. Apoteker dalam membuat rencana pemantauan perlu menetapkan langkahlangkah:
Menetapkan parameter farmakoterapi
Menetapkan sasaran terapi
Menetapkan frekuensi pemantauan.
Proses selanjutnya adalah menilai keberhasilan atau kegagalan mencapai sasaran
terapi. Keberhasilan dicapai ketika hasil pengukuran parameter klinis sesuai dengan sasaran
terapi yang telah ditetapkan. Apabila hal tersebut tidak tercapai, maka dapat dikatakan
mengalami kegagalan mencapai sasaran terapi. Penyebab kegagalan tersebut antara lain:

Kegagalan menerima terapi


Perubahan fisiologis/kondisi pasien, perubahan terapi pasien, dan
Gagal terapi.

Salah satu metode sistematis yang dapat digunakan dalamPTO adalah Subjective Objective
Assessment Planning(SOAP).
S : Subjective merupakan data subyektif adalah gejala yang dikeluhkan oleh pasien.Contoh :
pusing, mual, nyeri, sesak nafas.
O : Objective merupakan data obyektif adalah tanda/gejala yang terukur oleh
tenagakesehatan. Tanda-tanda obyektif mencakup tanda vital(tekanan darah, suhu tubuh,
denyut nadi, kecepatanpernafasan), hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik.
A : Assessment, berdasarkan data subyektif dan obyektif dilakukan analisisuntuk menilai
keberhasilan terapi, meminimalkan efek yangtidak dikehendaki dan kemungkinan adanya
masalah baruterkait obat.
P : Plans, setelah dilakukan SOA maka langkah berikutnya adalahmenyusun rencana yang
dapat dilakukan untukmenyelesaikan masalah.Rekomendasi yang dapat diberikan:

Memberikan alternatif terapi, menghentikan pemberianobat, memodifikasi dosis atau

interval pemberian,
Merubah rute pemberian.
Mengedukasi pasien.
Pemeriksaan laboratorium.
Perubahan pola makan atau penggunaan nutrisiparenteral/enteral.
Pemeriksaan parameter klinis lebih sering.
f. Tindak Lanjut
Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang telah dibuat oleh

apoteker harus dikomunikasikan kepada tenaga kesehatan terkait. Kerjasama dengan tenaga
kesehatan lain diperlukan untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan terapi. Informasi dari
dokter tentang kondisi pasien yang menyeluruh diperlukan untuk menetapkan target terapi
yang optimal. Komunikasi yang efektif dengan tenaga kesehatan lain harus selalu dilakukan
untuk mencegah kemungkinan timbulnya masalah baru.
Kegagalan terapi dapat disebabkan karena ketidakpatuhan pasien dan kurangnya
informasi obat. Sebagai tindak lanjut pasien harus mendapatkan Komunikasi, Informasi dan
Edukasi (KIE) secara tepat. Informasi yang tepat sebaiknya:

Tidak bertentangan/berbeda dengan informasi dari tenaga kesehatan lain,


Tidak menimbulkan keraguan pasien dalam menggunakan obat,
Dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat
Faktor yang harus diperhatikan, antara lain:
a. kemampuan penelusuran informasi dan penilaian kritis terhadap bukti terkini dan
terpercaya (Evidence Best Medicine);
b. kerahasiaan informasi; dankerjasama dengan tim kesehatan lain (dokter dan perawat)
(Menkes RI, 2014).

1.2 Data Pasien


Identitas Pasien
Nama : Tn.E
Usia : 46 Tahun
Alamat : Garut, Jawa Barat
Status : BPJS Non PBI
Data Klinis Awal
Tekanan darah : 110/60
Nadi : 110 kali/menit
Respirasi : 24 kali/menit

Ruang Rawat : xxx


No.Rekam Medik : xxx
Tgl. Masuk : 15-05-2016
Tgl. Keluar : 20-05-2016
Status pulang : Izin Dokter
Dokter : xxx
Apoteker : xxx
Riwayat Penyakit :
Penderita memilii riwaya penyakit TB
paru dan asma.

Suhu : 36,5oC
Gizi : Baik
Tinggi badan : Berat badan : Kesadaran : Sadar

Riwayat Konsumsi obat :


4 FDC 1 x 3 talet dari RSP. Rotinsulu
1bulan (TBC Kategori I Intensif)
Alergi:
Tidak ada
Pemeriksaan penunjang awal :
X-Ray Thoraks dan Ultrasonografi
Thoraks (penebalan pleura kanan tidak
tampa efusi leua kanan.

Alasan Masuk RS/ Keluhan Utama :


Sesak
Anamnesis:
Pasie mengeluh sesak sejak 10 hari, kelhan dirasakan semakinhari semakin
memburuk. Keluhan disertai batuk berdahak warna hijau kadang bewarna
putih, demam (+),nyeri dada (-), mual (-), muntah (-), bab dan bak tidak ada
kelainan.
Diagnosa Awal : Diagnosa Utama :
Dyspnea ec. TB Paru OAT Kategori I intensif, efusi pleura dan pneumonia
Diagnosa Tambahan :1.3 Diagnosa
Hasil diagnosis pasien, antara lain:
Dyspnea EC
Tuberkulosis paru
Efusi pleura
Pneumonia

BAB II
INFORMASI PENYAKIT
2.1 Pneumonia
2.1.a Definisi
Pneumonia merupakan penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang biasanya
diawali dengan infeksi saluran pernafasam bagian atas dengan gejala batuk, demam, dan
dispnea. Beberapa mikroorganisme S. Pneumonia, Hemophillus influenza tipe B, dan
Staphylococcus aures merupakan penyebab terjadinya bronkopneumonia pada bayi yang
lebih besar dan balita, sedangkan pada anak yang lebihbesar dan remaja, selain bakteri
tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae (Shefia, 2014).
Selain disebabkan oleh infeksi bakteri, kondisi lingkungan dan gizi anak juga
mempengarui terjadinya bronkopneumonia. Adanya gangguan gizi pada anak akan
mempengaruhi sistem imunitas, sistem kardiovaskular, saluran pernafasan, dan sistem organ
lainnya (Shefia, 2014).
2.1.b Epidemiologi
Di Indonesia prevalensi nasional infeksi saluran pernafasan atas mencapai 25,5%,
angka morbiditas pada bayi 2,2 %, balita 3%, dan mortalitas pada bayi 23,8%, balita 15,5%
(Riskesdas, 2007). WHO memperkirakan insidensi pneumonia di negara dengan angka
kematian bayi di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15% - 20% per tahun pada
golongan usia balita (Shefia, 2014).
Di Amerika dan Eropa yang merupakan negara maju angka kejadian pneumonia
masih tinggi, diperkirakan setiap tahunnya 30-45 kasus per 1000 anak pada umur kurang dari
5 tahun, 16-20 kasus per 1000 anak pada umur 5-9 tahun, 6-12 kasus per 1000 anak pada
umur 9 tahun dan remaja (Di Piro, 2009).
Di RSU Dr Soetomo Surabaya, jumlah kasus pneumonia meningkat dari tahun ke
tahun. Pada tahun 2003 dirawat sebanyak 190 pasien. Tahun 2004 dirawat sebanyak 231
pasien, dengan jumlah terbanyak pada anak usia kurang dari 1 ahun (69%). Pada tahun 2005,
anak berumur kurang dari 5 tahun yang dirawat sebanyak 547 kasus dengan jumlah terbanyak
pada umur 1-12 bulan sebanyak 337 orang (Asih, 2006).

2.1.c Etiologi
Pneumonia dapat juga dikatakan suatu peradangan pada parenkim paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur. Bakteri seperti Diplococus Pneumonia, Pneumococcus
sp, Streptococcus sp, Hemoliticus aureus, Haemophilus influenza, Basilus friendlander
(Klebsial pneumonia), dan Mycobacterium tuberculosis. Virus seperti Respiratory syntical
virus, Virus influenza, dan Virus sitomegalik. Jamur seperti Citoplasma capsulatum,
Criptococcus nepromas, Blastomices dermatides, Cocedirides immitis, Aspergillus sp,
Candinda albicans, dan Mycoplasma pneumonia. Organisme penyebab bronkopneumonia
yang paling sering adalah Stafilokokus, Streptokokus, H. influenza, proteus sp, dan
pseudomonas aeruginosa (Riyadi, 2009).
2.1.d Patofisiologi
Bakteri masuk ke dalam jaringan paru-paru melalui saluran pernafasan dari atas untuk
mencapai bronchiolus dan alveolus sekitarnya, kelainan yang timbul berupa bercak
konsolidasi yang tersebar pada kedua paru-paru, lebih banyak pada bagian basal. Bakteri
yang masuk menimbulkan reaksi peradangan hebat dan menghasilkan cairan edema yang
kaya protein dalam alveoli dan jaringan interstitial. Bakteri pneumokokus dapat meluas
melalui porus kohn dari alveoli ke seluruh segmen atau lobus. Eritrosit mengalami
pembesaran dan beberapa leukosit dari kapiler paru-paru. Alveoli dan septa menjadi penuh
dengan cairan edema yang berisi eritrosit dan fibrin dan serta relative sedikit leukosit,
sehingga kapiler alveoli menjadi melebar. Paru-paru menjadi tidak berisi udara lagi, kenyal
dan berwarna merah. Pada tingkat lebih lanjut, aliran darah menurun, alveoli penuh dengan
leukosit dan relative sedikit eritrosit (Riyadi, 2009).
.
2.1.e Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda klinis pneumoia bervariasi tergantung kuman penyebab, usia pasien,
status imunologis pasien dan beratnya penyakit. manifestasi klinis bisa berat yaitu sesak,
sianosis, dapat juga gejalanya tidak terlhat jelas seperti pada neonatus. Gejala dan tanda
pneumoia dapat dibedakan menjadi gejala umum infeksi (nonspesifik), gejala pulmonal,
pleural, dan ekstrapulmonal. Gejala nonspesifik meliputi demam, menggigil, sefalgia, dan
gelisah. Beberapa pasien mungkin mengalami gangguan gastrointestinal seperti muntah,
kembung, diare, atau sakit perut ( Dipiro, 2009).
Gejala pada paru biasanya timbul setelah beberapa saat proses infeksi berlangsung.
Setelah gejala awal seperti demam dan batuk pilek, gejala nafas cuping hidung, takipnea,
dispnea, dan apnea baru timbul.

Otot bantu nafas interkostal dan abdominal mungkin

digunakan. Batuk umumnya dijumpai pada anak besar, tapi pada neonatus bisa tanpa batuk.

Wheezing mungkin akan ditemui pada anak-anak dengan pneumonia viral atau mikoplasma,
seperti yang ditemukan pada anak-anak dengan asma dan bronkiolotis (Dipiro, 2009).
Peradangan pada pleura biasa ditemukan pada pneumonia yang disebabkan oleh S.
Pneumoniae dan S. Aureus, yang ditandai dengan nyeri dada pada daerah yang terkena. Nyeri
dapat berat sehingga akan membatasi gerakan dinding dada selama inspirasi dan kadang
menyebar ke leher dan perut ( Dipiro, 2009).
2.2 Tuberkulosis
2.2.a Definisi
Tuberculosis (TBC) merupakan suatu penyakit menular yang paling sering terjadi di
paru-paru, penyebabnya adalah suatu basil gram positif tahan asam dengan pertumbuhan
sangat lamban yaitu Mycobacterium Tuberculosis yang umumnya disebut dengan Pulmonary
tuberculosis dan extrapulmonary tuberculosis (Dipiro, 2009).
2.2.b Epidemiologi
Secara global, sekitar 2 miliar orang terinfeksi oleh M. tuberculosis, dan kira-kira 2
hingga 3 juta orang meninggal karena TB aktif setiap tahun. Amerika Serikat memiliki
14.093 kasus baru TB aktif pada tahun 2005 dan sekitar 1.500 deaths. Tahunan kejadian TB
di Amerika Serikat menurun 5% per tahun 1953-1983. Pada tahun 1984, penurunan ini
melambat, dan kemudian kejadian TB naik 1988-1992, mencapai 10,5 kasus per 100.000
penduduk. Sejak tahun 1992, praktek pengendalian infeksi yang lebih efektif dan protokol
pengobatan telah mengurangi tingkat TB menjadi 4,8 per 100.000 penduduk ( Dipiro,2009).
2.2.c Faktor Resiko
Setelah terinfeksi dengan M. tuberculosis, risiko seumur hidup seseorang TB aktif
sekitar 10% . Risiko Lokasi dan Tempat TB Lahir dapat menginfeksi siapa pun, Tutup kontak
pasien TB paru yang paling mungkin untuk menjadi infected termasuk anggota keluarga,
rekan kerja, atau coresidents di tempat-tempat seperti penjara, penampungan, atau panti
jompo. Semakin lama kontak, semakin besar risiko dengan tingkat infeksi sebesar 30% .
Ras, etnis, usia, dan gender. TB lebih sering terjadi pada orang kulit putih yang lebih
tua dan orang Asia dibandingkan dengan orang yang lebih muda dari kelompok-kelompok
ini. Hal ini mencerminkan reaktivasi infeksi laten diperoleh bertahun-tahun sebelumnya
ketika TB adalah sangat umum. kulit hitam yang lebih tua dan Hispanik juga memiliki resiko
lebih daripada individu yang lebih muda, Sampai usia 15 tahun, tingkat TB adalah sama
untuk pria dan wanita, tapi setelah itu, dominasi laki-laki meningkat dengan setiap dekade

HIV merupakan faktor risiko yang paling penting untuk TB aktif, terutama di
kalangan orang 25-44 tahun. Kira-kira 10% dari pasien TB koinfeksi dengan HIV, dan sekitar
20% dari TB pasien berusia 25 sampai 44 tahun koinfeksi HIV mungkin tidak meningkatkan
risiko

tertular

infeksi

M.

tuberculosis,

tetapi

tidak

meningkatkan

kemungkinan

pengembangan menjadi disease aktif Selanjutnya, pasien TB dan HIV berbagi sejumlah
faktor risiko perilaku yang memberikan kontribusi pada tingginya tingkat coinfection terbesar
untuk penyakit aktif terjadi selama 2 tahun pertama setelah infeksi. Anak-anak muda dari 2
tahun dan orang dewasa yang lebih dari 65 tahun telah 2-5 kali berisiko lebih besar untuk
penyakit aktif dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.
Pasien dengan gagal ginjal, kanker, dan terapi obat imunosupresif memiliki risiko 4
-16 kali lebih besar dari pasien lainnya. Oleh karena itu, semua pasien dengan infeksi HIV
harus diskrining untuk infeksi tuberkulosis, dan orang-orang yang diketahui terinfeksi M.
tuberculosis harus diuji untuk infeksi HIV (Dipiro, 2009).
2.2.d Etiologi
M. tuberculosis adalah basil ramping dengan luar lilin layer, panjang 1-4 mikron di
bawah mikroskop, baik lurus atau sedikit melengkung, Tidak noda dengan pewarnaan Gram,
sehingga noda Ziehl-Neelsen atau noda fluorochrome harus digunakan Setelah Ziehl-Neelsen
dengan carbol-fuchsin, bakteri cendawan mempertahankan warna merah meskipun di cuci
dengan asam-alkohol. Oleh karena itu mereka disebut bacilli.11 asam-cepat Setelah
pewarnaan. M. tuberculosis tumbuh perlahan, dua kali lipat setiap 20 jam. Ini sangat lambat
dibandingkan dengan bakteri positif dan gram negatif Gram, yang dua kali lipat setiap 30
menit. Di antara mikobakteri, hanya M. tuberculosis merupakan patogen manusia sering.
Beberapa mikobakteri nontuberculous seperti Mycobacte- rium kansasii, Mycobacterium
fortuitum, dan Mycobacterium avium complex (MAC) penyebab infeksi pada pasien dengan
masalah medis lainnya, terutama acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
2.2.e Presentasi Klinis
Timbulnya TB mungkin bertahap, dan diagnosis tidak dapat dianggap sampai rontgen
dada dilakukan. Pada titik ini, pasien biasanya memiliki lesi kavitas besar di paru-paru.
rongga ini dimuat dengan M. tuberculosis. Dahak atau menelan dahak yang terinfeksi dapat
menyebarkan penyakit ke area lain dari pemeriksaan fisik body. Tanda dan gejala, antara
lain :

Pasien mengalami penurunan berat badan, kelelahan, batuk produksi, demam,


Frank hemoptisis Pemeriksaan Fisik
Kusam pada perkusi dada, rales, dan peningkatan vokal tus fremi- sering diamati

pada Tes Laboratorium auskultasi


Ketinggian Moderat dalam sel darah putih (WBC) menghitung dengan limfosit

dominasi Dada radiografi


Patchy atau infiltrat nodular di daerah apikal lobus atas atau segmen superior dari

lobes2 rendah
Kavitasi yang mungkin menunjukkan tingkat udara-cairan infeksi berlangsung

2.3 Efusi Pleura


2.3.a Definisi
Efusi pleura merupakan akumulasi cairan abnormal pada rongga pleura. Hal ini dapat
disebabkan oleh peningkatan produksi cairan ataupun berkurangnya absorbsi.14 Efusi pleura
merupakan manifestasi penyakit pada pleura yang paling sering dengan etiologi yang
bermacam-macam mulai dari kardiopulmoner, inflamasi, hingga keganasan yang harus segera
dievaluasi dan diterapi.
2.3.b Epidemiologi
Di Amerika Serikat, 1,5 juta kasus efusi pleura terjadi tiap tahunnya. Sementara pada
populasi umum secara internasional, diperkirakan tiap 1 juta orang, 3000 orang terdiagnosa
efusi pleura. Secara keseluruhan, insidensi efusi pleura sama antara pria dan wanita. Namun
terdapat perbedaan pada kasus-kasus tertentu dimana penyakit dasarnya dipengaruhi oleh
jenis kelamin. Misalnya, hampir dua pertiga kasus efusi pleura maligna terjadi pada wanita.
Dalam hal ini efusi pleura maligna paling sering disebabkan oleh kanker payudara dan
keganasan ginekologi. Sama halnya dengan efusi pleura yang berhubungan dengan sistemic
lupus erytematosus, dimana hal ini lebih sering dijumpai pada wanita. Di Amerika Serikat,
efusi pleura yang berhubungan dengan mesotelioma maligna lebih tinggi pada pria. Hal ini
mungkin disebabkan oleh tingginya paparan terhadap asbestos. Efusi pleura yang berkaitan
dengan pankreatitis kronis insidensinya lebih tinggi pada pria dimana alkoholisme merupakan
etiologi utamanya. Efusi rheumatoid juga ditemukan lebih banyak pada pria daripada wanita.
Efusi pleura kebanyakan terjadi pada usia dewasa. Namun demikian, efusi pleura belakangan
ini cenderung meningkat pada anak-anak dengan penyebab tersering adalah pneumonia.
2.3.c Faktor Resiko
Efusi pleura merupakan suatu indikator adanya suatu penyakit dasar baik itu
pulmoner maupun non pulmoner, akut maupun kronis. Penyebab efusi pleura tersering adalah
gagal jantung kongestif (penyebab dari sepertiga efusi pleura dan merupakan penyebab efusi

pleura tersering), pneumonia, keganasan serta emboli paru. Berikut ini merupakan
mekanisme-mekanisme terjadinya efusi pleura :
1. Adanya perubahan permeabilitas membran pleura (misalnya : inflamasi, keganasan,
emboli paru).
2. Berkurangnya tekanan onkotik intravaskular (misalnya : hipoalbuminemia, sirosis)
3. Meningkatnya permeabilitas pembuluh darah atau kerusakan pembuluh darah
(misalnya : trauma, keganasan, inflamasi, infeksi, infark pulmoner, hipersensitivitas
obat, uremia, pankreatitis.
4. Meningkatnya tekanan hidrostatik pembuluh darah pada sirkulasi sistemik dan atau
sirkulasi sirkulasi paru (misalnya : gagal jantung kongestif, sindrom vena kava
superior).
5. Berkurangnya tekanan pada rongga pleura sehingga menyebabkan terhambatnya
ekspansi paru (misalnya : atelektasis ekstensif, mesotelioma)
6. Berkurangnya sebagaian kemampuan drainase limfatik atau bahkan dapat terjadi
blokade total, dalam hal ini termasuk pula obstruksi ataupun ruptur duktus torasikus
(misalnya : keganasan, trauma)
7. Meningkatnya cairan peritoneal, yang disertai oleh migrasi sepanjang diafragma
melalui jalur limfatik ataupun defek struktural. (misalnya : sirosis, dialisa peritoneal)
8. Berpindahnya cairan dari edema paru melalui pleura viseral
9. Meningkatnya tekanan onkotik dalam cairan pleura secara persisten dari efusi pleura
yang telah ada sebelumnya sehingga menyebabkan akumulasi cairan lebih banyak lagi
2.3.d Etiologi
Rongga pleura normal berisi cairan dalam jumlah yang relatif sedikit yakni 0,1 0,2
mL/kgbb pada tiap sisinya.7 Fungsinya adalah untuk memfasilitasi pergerakan kembang
kempis paru selama proses pernafasan.1 Cairan pleura diproduksi dan dieliminasi dalam
jumlah yang seimbang. Jumlah cairan pleura yang diproduksi normalnya adalah 17 mL/hari
dengan kapasitas absorbsi maksimal drainase sistem limfatik sebesar 0,2-0,3 mL/kgbb/jam.
Cairan ini memiliki konsentrasi protein lebih rendah dibanding pembuluh limfe paru dan
perifer Cairan dalam rongga pleura dipertahankan oleh keseimbangan tekanan hidrostatik,
tekanan onkotik pada pembuluh darah parietal dan viseral serta kemampuan drainase
limfatik. Efusi pleura terjadi sebagai akibat gangguan keseimbangan faktor-faktor di atas
2.3.e Presentasi Klinis
Efek yang ditimbulkan oleh akumulasi cairan di rongga pleura bergantung pada
jumlah dan penyebabnya. Efusi dalam jumlah yang kecil sering tidak bergejala. Bahkan efusi

dengan jumlah yang besar namun proses akumulasinya berlangsung perlahan hanya
menimbulkan sedikit atau bahkan tidak menimbulkan gangguan sama sekali. Jika efusi terjadi
sebagai akibat penyakit inflamasi, maka gejala yang muncul berupa gejala pleuritis pada saat
awal proses dan gejala dapat menghilang jika telah terjadi akumulasi cairan. Gejala yang
biasanya muncul pada efusi pleura yang jumlahnya cukup besar yakni : nafas terasa pendek
hingga sesak nafas yang nyata dan progresif, kemudian dapat timbul nyeri khas pleuritik pada
area yang terlibat, khususnya jika penyebabnya adalah keganasan. Nyeri dada meningkatkan
kemungkinan suatu efusi eksudat misalnya infeksi, mesotelioma atau infark pulmoner. Batuk
kering berulang juga sering muncul, khususnya jika cairan terakumulasi dalam jumlah yang
banyak secara tiba-tiba. Batuk yang lebih berat dan atau disertai sputum atau darah dapat
merupakan tanda dari penyakit dasarnya seperti pneumonia atau lesi endobronkial. Riwayat
penyakit pasien juga perlu ditanyakan misalnya apakah pada pasien terdapat hepatitis kronis,
sirosis hepatis, pankreatitis, riwayat pembedahan tulang belakang, riwayat keganasan, dll.
Riwayat pekerjaan seperti paparan yang lama terhadap asbestos dimana hal ini dapat
meningkatkan resiko mesotelioma. Selain itu perlu juga ditanyakan obat-obat yang selama ini
dikonsumsi pasien.
Hasil pemeriksaan fisik juga tergantung dari luas dan lokasi dari efusi. Temuan
pemeriksaan fisik tidak didapati sebelum efusi mencapai volume 300 mL. Gangguan
pergerakan toraks, fremitus melemah, suara beda pada perkusi toraks, egofoni, serta suara
nafas yang melemah hingga menghilang biasanya dapat ditemukan. Friction rub pada pleura
juga dapat ditemukan. Cairan efusi yang masif (> 1000 mL) dapat mendorong mediastinum
ke sisi kontralateral. Efusi yang sedikit secara pemeriksaan fisik kadang sulit dibedakan
dengan pneumonia lobaris, tumor pleura, atau fibrosis pleura. Merubah posisi pasien dalam
pemeriksaan fisik dapat membantu penilaian yang lebih baik sebab efusi dapat bergerak
berpindah tempat sesuai dengan posisi pasien. Pemeriksaan fisik yang sesuai dengan penyakit
dasar juga dapat ditemukan misalnya, edema perifer, distensi vena leher, S3 gallop pada gagal
jantung kongestif. Edema juga dapat muncul pada sindroma nefrotik serta penyakit
perikardial. Ascites mungkin menandakan suatu penyakit hati, sedangkan jika ditemukan
limfadenopati atau massa yang dapat diraba mungkin merupakan suatu keganasan.
2.4 Dyspnea ec
2.4.a Definisi
Dispnea atau sesak nafas merupakan keadaan yang sering ditemukan pada penyakit
paru maupun jantung. Bila nyeri dada merupakan keluhan yang paling dominan pada

penyakit paru. Akan tetapi kedua gejala ini jelas dapat dilihat pada emboli paru,bahkan sesak
napas merupakan gejala utama pada payah jantung.
Secara umum yang dimaksud dispnea adalah kesulitan bernapas,kesulitan bernapas ini
terlihat dengan adanya kontraksi dari otot-otot pernapasan tambahan. Perubahan ini biasanya
terjadi dengan lambat, akan tetapi dapat pula terjadi dengan cepat.
2.4.b Faktor Resiko
Dyspnea berkaitan dengan ventilasi. Ventilasi dipengaruhi oleh kebutuhan metabolic
dari konsumsi oksigen dan eliminasi karbondioksida. Frekuensi ventilasi bergantung pada
rangsangan pada kemoreseptor yang ada di badan karotid dan aorta. Selain itu, frekuensi ini
juga dipengaruhi oleh sinyal dari reseptor neural yang ada di parenkim paru, saluran udara
besar dan kecil, otot pernapasan, dan dinding toraks.
Pada dyspnea, terjadi peningkatan usaha otot dalam proses inspirasi dan ekspirasi. Karena
dypsnea bersifat subjektif, maka dypsnea tidak selalu berkorelasi dengan derajat perubahan
secara fisiologis. Beberapa pasien dapat mengeluhkan ketidakmampuan bernapas yang berat
dengan perubahan fisiologis yang minor, sementara pasien lainnya dapat menyangkal
terjadinya ketidakmampuan bernapas walaupun telah diketahui terdapat deteriorasi
kardiopulmonal.
Tidak terdapat teori yang dipakai secara universal dalam menjelaskan mekanisme
dypsnea pada seluruh situasi klinik. Campbell dan Howell (1963) telah memformulasikan
teori length-tension inappropriateness yang menyatakan defek dasar dari dypsnea adalah
ketidakcocokan antara tekanan yang dihasilkan otot pernafasan dengan volume tidal
(perubahan panjang). Kapanpun perbedaan tersebut muncul, muscle spindle dari otot
interkostal mentransmisikan sinyal yang membawa kondisi bernapas menjadi sesuatu yang
disadari. Reseptor jukstakapiler yang terlokasi di interstitium alveolar dan disuplai oleh serat
saraf vagal tidak termielinisasi akan distimulasi oleh terhambatnya aktivitas paru. Segala
kondisi tersebut akan mengaktivasi refleks Hering-Breuer dimana usaha inspirasi akan
dihentikan sebelum inspirasi maksimal dicapai dan menyebabkan pernapasan yang cepat dan
dangkal. Reseptor jukstakapiler juga bertanggung jawab terhadap munculnya dyspnea pada
situasi dimana terdapat hambatan pada aktivitas paru, seperti pada edema pulmonal.
Pada pasien dengan edema pulmonal, cairan yang terakumulasi akan mengaktifkan
serat saraf di interstitium alveolar dan secara langsung menyebabkan dyspnea. Substansi yang
terhirup yang dapat mengiritasi akan mengaktifkan reseptor di epitel saluran pernafasan dan

memproduksi nafas yang cepat, dangkal, batuk, dan bronkospasm. Dalam merespon
kegelisahan, sistem saraf pusat juga dapat meningkatkan frekuensi pernapasan. Pada pasien
dengan hiperventilasi, koreksi penurunan PCO2 sendiri tidak mengurangi sensasi dari nafas
yang tidak tuntas. Ini merefleksikan interaksi antara pengaruh kimia dan saraf pada
pernafasan
2.4.c Etiologi
Diagnosis dari dyspnea memiliki keberagaman yang sangat luas dan dapat
dikategorikan menjadi empat, yaitu kardiak, pulmonal, gabungan kardiak atau pulmonal, dan
nonkardiak atau nonpulmonal.
1. Kardiak

Gagal jantung
Penyakit arteri koroner
Kardiomiopati
Disfungsi katup

Hiipertrofi ventrikel kiri


Hipertrofi katup asimetrik
Perikarditis
Aritmia

2. Pulmonal

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)


Asma
Penyakit paru restriktif
Penyakit paru herediter
Pneumotoraks

3. Gabungan kardiak atau pulmonal

PPOK dengan hipertensi pulmonal atau cor pulmonale


Dekondiri
Emboli paru kronik
Trauma

4. Nonkardiak atau nonpulmonal

Kondisi metabolik, misal asidosis


Nyeri
Penyakit neurmuskular
Penyakit otorinolaringeal
Fungsional: Gelisah, panic, hiperventilasi

2.4.d Presentasi Klinis

1.Batuk dan Produksi Sputum

Karakteristik bunyi batuk dihasilkan dari getaran pita suara, lipatan


mukosa di atas dan bawah glottis, dan akumulasi sekresi. Variasi bunyi
batuk disebabkan oleh beberapa faktor, seperti sifat sekresi dan
kuantitasnya, perbedaan anatomi dan perubahan patologis dari laring dan
saluran udara lainnya, dan kekuatan batuk itu sendiri. Getaran saat batuk
juga membantu untuk mengeluarkan sekresi dari dinding saluran
pernafasan.

seperti

Sputum dapat mengandung material endogen dan eksogen lain,


cairan

transudat

dan

eksudat,

sel

lokal

maupun

termigrasi,

mikroorganisme, jaringan nekrotik, muntah yang teraspirasi, dan partikel asing

lainnya. Penampakan sputum merupakan hasil dari konten yang terkandung di


sputum. Sputum mukosa berwarna jernih dan kental, mengandung hanya sedikit
elemen mikroskopik. Sputum purulen berwarna off-white, kuning atau hijau, dan
opak. Ini mengindikasikan adanya jumlah yang besar dari leukosit, terutama
granulosit neutrofil. Pada asma, sputum mungkin tampak purulen dari sel
eosinofilik yang terlibat. Warna yang merah umumnya disebabkan karena
tercampur dengan darah. Partikel karbon akan membuat sputum berwarna abu-abu
(pada perokok) atau hitam (pada pekerja tambang).

2. Dada Berat
Gejala nyeri pada dada juga mengindikasikan perikarditis. Nafas
yang pendek dengan gejala nyeri dada yang tajam mengindikasikan
adanya inflamasi pada paru, kondisi yang dinamakan pleurisy. Ini juga
diartikan

sebagai

kerusakan

alveolus

pada

jaringan

paru

atau

pneumotoraks. Pneumonia juga menyebabkan dada berat disertai demam.


Iritasi pleura yang disebabkan oleh emboli pulmonal merupakan penyebab
lain dari nyeri dada.

3. Mengi
Mengi merupakan bunyi siul dengan pitch yang tinggi saat
bernapas. Bunyi ini muncul ketika udara mengalir melewati saluran yang
sempit. Mengi adalah tanda seseorang mengalami kesulitan bernapas.
Bunyi mengi jelas terdengar saat ekspirasi, namun bisa juga terdengar saat
inspirasi. Mengi umumnya muncul ketika saluran nafas menyempit atau
adanya hambatan pada saluran udara yang besar atau pada seseorang yang
mengalami gangguan pita suara.

BAB III

INFORMASI MENGENAI OBAT DARI LITERATUR

a.

Isoniazid (INH)

Kelas

Antituberkulosis

Mekanisme

Menghambat biosintesis dinding sel karena adanya

gangguan terhadap sintesis lipid dan DNA (bakterisid).

myobacterium avium complex (MAC).

15 mg/kg (tingkatkan hingga 300 mg satu kali/hari atau 20-

kerja

Indikasi
Dosis

Tuberkulosis, Infeksi laten tuberkulosis, infeksi


Anak-anak <15 tahun dan BB <40 kg digunakan 10-

30 mg/kg (tingkatkan hingga 900 mg) dua kali/minggu.

Efek samping
Kontraindikas

muntah, sakit perut, lemas.

Neuropati periferal, kehilangan nafsu makan, mual,

Pasien dengan riwayat reaksi hipersensitivitas, termasuk

obat yang menginduksi hepatitis.


Pasien dengan riwayat reaksi efek samping akibat

konsumsi isoniazid (seperti artritis, demam, kedinginan).


Penyakit hati akut dari beberapa etiologi.

Perhatian

Interaksi

Efek terhadap hati cukup berat dan dapat menyebabkan

penyakit hepatitis yang fatal telah dilaporkan.


Resiko yang berhubungan dengan faktor umur dan

konsumsi alkohol setiap hari perlu diperhatikan.


Kecenderungan mengalami neuropati, malnutrisi,

kerusakan ginjal parah, kerusakan hati kronis.


Pemberian bersama piridoksin (B6) pada wanita hamil

dan malnutrisi.
Disfungsi hati, renal, dan penggunaan alkohol yang

berpengaruh terhadap kadar obat dalam serum.


Carbamazepin
berinteraksi
dengan

menyebabkan meningkatnya resiko hepatotoksik yang

isoniazid

diinduksi oleh isoniazid.


Isoniazid berinteraksi dengan rifampisin menyebabkan

peningkatan resiko hepatotoksik.

(McEvoy, 2011; Lucy, 2008-2009;www.medscape.com)

b.

Rifampisin

Kelas

Antituberkulosis

Mekanisme

Menghambat DNA-dependent RNA polymerase oleh

ikatan bet subunit, sehingga dapat memblok transkripsi

kerja

RNA.

Indikasi

infeksi

Tuberkulosis, Infeksi laten tuberkulosis, anthrax,


Bartonella,

brucellosis,

ehrlichiosis

dan

anplasmosis, infeksi legionella, leprosy, infeksi Neisseria


meningitis, infeksi Rodokokus, dan pencegahan infeksi
Haemophilus influenze, dan infeksi myobacterium avium
complex (MAC).

Dosis

atau BB <40 kg digunakan 10-20 mg/kg (ditingkatkan

Pengobatan tuberkulosis pada anak-anak <15 tahun

hingga 600 mg) /hari.

Efek samping

epigastrik, mual, muntah diare, kram, pseudomembran

Peningkatan kadar tes fungsi hati, ruam, nyeri

kolitis, pankreatitis.

Kontraindikas

Perhatian

Diketahui hipersensitifitas terhadap rifampisin atau


rifamisin lain (rifabutin, rifbentine).

Efek

hiperbilirubinemia, terjadinya abnormalitas sementara

terhadap

hati

yaitu

adanya

disfungsi

hati,

terhadap hasil tes fungsi hati.


Pasien dengan riwayat penyakit diabetes melitus

penanganannya lebih sulit.


Pemberian regimen dosis >600 mg satu atau dua kali
seminggu dapat menyebabkan leukimia, anemia, atau
trombositopenia.

Interaksi

Isoniazid berinteraksi dengan rifampisin menyebabkan

peningkatan resiko hepatotoksik.


Rifampisin
berinteraksi
dengan

pirazinamid

menyebabkan pemingkatan toksisitas dimana terjadi


interaksi farmakodinamik.

(McEvoy, 2011; Lucy, 2008-2009; www.medscape.com)

c. Pirazinamid

Kelas

Antituberkulosis

Mekanisme

Tidak diketahui namun bersifat bakteriostatik.

Tuberkulosis, Infeksi laten tuberkulosis.

kerja

Indikasi

Dosis

tahun atau BB <40 kg digunakan 15-30 mg/kg

Pengobatan tuberkulosis pada anak-anak <15

(ditingkatkan hingga 2 g) /hari.

Efek

samping

mialgia.

Kontraindika

si

Perhatian

Diketahui hipersensitifitas terhadap pirazinamid atau


bahan tambahan dalam formulasi
Kerusakan hati parah
Gout akut

Hiperurisemia dimana obat ini dapat menghambat

pengeluaran urat melalui ginal.


Efek terhadap hati dapat menyebabkan hepatotoksis

dapat diketahui dengan mengukur AST, ALT.


Pasien dengan riwayat diabetes melitus.
Paien ibu hamil dan menyusui.

Interaksi

Malaise, mual, muntah, anoreksia, antralgia, dan

Rifampisin

berinteraksi

dengan

pirazinamid

menyebabkan pemingkatan toksisitas dimana


terjadi interaksi farmakodinamik.

(McEvoy, 2011; Lucy, 2008-2009; www.medscape.com)

d. Etambutol

Kelas

Antituberkulosis

Mekanis

Tidak

me kerja

Indikasi

diketahui

namun

bersifat

: bakteriostatik.

Mengobati penyakit tuberculosis (TBC),
:

terutama TB paru yang resisten. Penggunaan


obat ini sebaiknya tidak secara tunggal namun
dikombinasikan

dengan

obat-obat

anti

tuberculosis yang lain.Obat ini juga digunakan

untuk mengobati infeksi oleh Mycobacterium

Dosis

avium complex, dan Mycobacterium kansaii.



awal : 15 mg/kg BB secara oral, 1 x
:

sehari selama 6-8 minggu, dikombinasikan


dengan isoniazid.

lanjutan : 25 mg/kg BB secara oral, 1 x


sehari selama 60 hari, dikombinasikan
dengan setidaknya satu obat anti TBC
lain.

Setelah

60

hari

dosis

dapat

diturunkan sampai 15 mg/kg BB secara

Efek

samping

oral, 1 x sehari.
Efek samping yang sering dilaporkan

akibat pemakaian obat ini adalah terjadinya


gangguan penglihatan (neuritis retrobulbar) yang
disertai penurunan visus, skotoma sentral, buta
warna

hijau-merah,

serta

penyempitan

pandangan. Efek samping ini lebih rentan


dialami jika obat digunakan dengan dosis
berlebihan atau penderita gangguan ginjal.efek
samping yang juga sering adalah reaksi alergi,
dan gangguan pada saluran pencernaan.Efek
samping yang jarang adalah terjadinya masalah
pada organ hati (penyakit kuning), neuritis
perifer, efek samping pada sistem saraf pusat,

ikasi

serta hiperurisemia.
Kontraind Wania hamil
: Kerusakan hati parah
Gout akut
Perhatian pasien yang menggunakan obat ini harus
:

melaporkan kepada dokter bila merasakan


gangguan penglihatan sedini mungkin.
Sebaiknya lakukan pemeriksaan mata sebelum
menggunakan

obat

ini.

Jika

selama

penggunaan

ethambutol

terjadi

gangguan

penglihatan, pemakaian obat harus segera


dihentikan.
Penggunaan obat ini untuk anak-anak di bawah
13 tahun, atau anak yang belum bisa
mengidentifikasi
gangguan

dan

melaporkan

penglihatan,

sebaiknya

adanya
tidak

dilakukan.
Pasien dengan cacat visual seperti penderita
katarak, kondisi radang berulang pada mata,
neuritis optik, dan retinopati diabetes harus
mendapatkan

pertimbangan

yang

sangat

matang secara klinis jika ingin menggunakan


ethambutol.
Perhatian serius harus diberikan kepada pasien
yang memiliki gangguan ginjal, karena potensi
efek samping akan meningkat. selain itu,
penyesuaian dosis perlu dilakukan mengingat
obat ini diekskresikan melalui ginjal.
Obat ini bisa menyebabkan terjadinya
hiperurisemia,

hati-hati

menggunakannya

untuk penderita penyakit asam urat (gout).


Obat ini terutama digunakan jika diduga terjadi
resistensi. Jika resiko terjadinya resistensi
rendah, obat ini bisa dikesampingkan.
Karena obat ini kadang-kadang menimbulakn
efek toksisitas pada hati, pemeriksaan periodik
organ hati perlu dilakukan.
Jika anda ibu menyusui, sebaiknya hanya
menggunakan obat ini jika direkomendasikan
oleh dokter meskipun belum ada laporan pasti
bahwa obat ini memberikan efek buruk jika
digunakan selama menyusui.

Sebaiknya obat digunakan bersama makanan


untuk mengurangi efek terhadap saluran

Interaksi

pencernaan.
Obat-obat

antasida

mengandung
mengurangi

terutama

Aluminium
absorpsi

yang

hidroksida
ethambutol.

Sebaiknya penggunaan bersamaan obat


ini dihindari atau setidaknya penggunaan
antasida diberi jarak minimal 4 jam

setelah penggunaan ethambutol.


(McEvoy, 2011; Lucy, 2008-2009; www.medscape.com)

e. Infus Ringer Laktat

Kelas

Infus

Mekanisme

Natrium merupakan kation utama dari plasma

darah

kerja

dan

menentukan

tekanan

osmotik.

Klorida

merupakan anion utama di plasma darah. Kalium


merupakan kation terpenting di intraseluler dan berfungsi
untuk konduksi saraf dan otot. Elektrolit-elektrolit ini
dibutuhkan untuk menggantikan kehilangan cairan pada
dehidrasi

Indikasi

dehidrasi.

Dosis

:
Efek samping

si

Kontraindika

syok

perdarahan.

Mengembalikan

dan

hipovolemik

termasuk

syok

keseimbangan

elektrolit

pada

Injeksi Intra Vena 3 dosis sesuai dengan kondis

penderita.
Panas, infeksi pda tempat penyuntikan, trombosis

vena atau flebitis yang meluas dari tempat

penyuntikan, ekstravasasi.
Hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati,

laktat asidosis.

f.

Perhatian

Jangan digunakan bila botol rusak, larutan keruh

atau berisi partikel


Larutan mengandung fosfat.

Interaksi

Cefoperazone

kerja

Kelas

Antibotik Sepalosorin

Mekanisme

cara mematikan bakteri dalam tubuh.

Indikasi

Untuk mengobati infeksi bakteri tertentu.

Dosis

:
1.2
gr melalui otot (intra muscular) atau melalui pembuluh darah
:

(intra vascular), lakukan setiap 12 jam. Dosis maksimum: 12


gr/hari

Efek samping

1.

Reaksi hipersensitivitas (urticaria, pruritus, ruam,


reaksi parah seperti anaphylaxis bisa terjadi); Efek GI

(diare, N/V, diare/radang usus besar); Efek lainnya


(infeksi candidal)
2.

Dosis tinggi bisa dihubungkan dengan efek CNS


(encephalopathy, convulsion); Efek hematologis yang
jarang; pengaruh terhadap ginjal dan hati juga terjadi.

3.

Perpanjangan PT (prothrombin time), perpanjangan


APTT (activated partial thromboplastin time), dan
atau hypoprothrombinemia (dengan

atau

tanpa

pendarahan) dikabarkan terjadi, kebanyakan terjadi


dengan

rangkaian

mengandung cephalosporins.

sisi

NMTT

yang

Kontraindikas

Hipersensitivitas terhadap penicilin

ROB
Modifikasi dosis bila digunakan pada pasien dengan

Perhatian

gagal ginjal berat. Gunakan hati-hati pada pasien


dengan riwayat alergi cefalosporin, riwayat kejang.

Interaksi

Tetrasiklin

mungkin

mengurangi

efektivitas

penicillin.

g.

kerja

Gentamisin
Kelas

Aminoglikosida

Mekanisme

bersifat bakterisidal dan terutama aktif terhadap kuman

Indikasi

bakteri gram negatif

Untuk mengobati infeksi bakteri tertentu.

Dosis

injeksi intramuskuler, intravena lambat atau infus, 2-5


mg/kg bb/hari (dalam dosis terbagi tiap 8 jam). Lihat juga
keterangan di atas. Sesuaikan dosis pada gangguan fungsi
ginjal dan ukur kadar dalam plasma. ANAK di bawah 2
minggu, 3 mg/kg bb tiap 12 jam; 2 minggu sampai 2 tahun,
2 mg/kg bb tiap 8 jam. Injeksi intratekal: 1 mg/hari, dapat
dinaikkan

sampai

mg/hari

disertai

pemberian intramuskuler 2-4 mg/kg bb/hari dalam dosis


terbagi tiap 8 jam. Profilaksis endokarditis pada DEWASA
120 mg. Untuk ANAK di bawah 5 tahun 2 mg/kg bb.

Efek samping

Kontraindikasi

gangguan vestibuler dan pendengaran, nefrotoksisitas,

hipomagnesemia pada pemberian jangka panjang, kolitis

karena antibiotik.
kehamilan, miastenia gravis.

Perhatian

gangguan fungsi ginjal, bayi dan lansia (sesuaikan dosis,


awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan periksa
kadar plasma); hindari penggunaan jangka panjang. Lihat
juga keterangan di atas.

Interaksi

h.

Digoksin, obat analgetik, indometasin

Omeprazole

Kelas

:
Mekanisme

kerja

Pompa Proton Inhibitor

menghambat sistem enzim adenosin trifosfatase hidrogen-

menghambat sekresi asam lambung dengan cara

kalium (pompa proton) dari sel parietal lambung. Penghambat


pompa proton efektif untuk pengobatan jangka pendek tukak
lambung dan duodenum. Selain itu, juga digunakan secara

Indikasi

Dosis

kombinasi dengan antibiotika untuk eradikasi H. pylori.

Mencegah terjadinya infeksi lambung akibat H.Pilory.

tukak lambung dan tukak duodenum (termasuk yang


komplikasi terapi AINS), 20 mg satu kali sehari selama
4 minggu pada tukak duodenum atau 8 minggu pada
tukak lambung; pada kasus yang berat atau kambuh
tingkatkan menjadi 40 mg sehari; pemeliharaan untuk
tukak duodenum yang kambuh, 20 mg sehari;
pencegahan kambuh tukak duodenum, 10 mg sehari
dan tingkatkan sampai 20 mg sehari bila gejala muncul
kembali.

Efek samping

lihat keterangan di atas; juga dilaporkan paraesthesia,


vertigo, alopesia, ginekomastia, impotensi, stomatitis,
ensefalopati
hiponatremia,

pada

penyakit

bingung

hati

(sementara),

yang

parah,

agitasi

dan

halusinasi pada sakit yang berat, gangguan penglihatan


dilaporkan pada pemberian injeksi dosis tinggi.

Kontraindikasi

Perhatian

seharusnya

hipersensitif pantoprazol
Penghambat pompa proton sebaiknya digunakan

tidak

diberikan

pada

pasien

yang

dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit hati,


kehamilan dan menyusui. Penghambat pompa proton
dapat menutupi gejala kanker lambung ; perhatian
khusus perlu diberikan pada orang-orang yang
menunjukkan gejala-gejala yang membahayakan
(turunnya berat badan yang signifikan, muntah yang
berulang, disfagia, hematemesis atau melena), pada
kasus-kasus seperti ini penyakit kanker
lambungnya sebaiknya dipastikan terlebih dahulu
sebelum dimulai pengobatan dengan penghambat

Interaksi

pompa proton.
Digoksin, obat analgetik, indometasin

Combivent

i.

Kelas

Inhaler

Indikasi

bronkospasme reversibel yang berkaitan dengan

penyakit paru obstruksi dan serangan asma akut yang


membutuhkan terapi lebih dari bronkodilator tunggal

Dosis

terapi serangan akut: 1 unit dosis, pada kasus yang


parah, jika serangan tidak dapat diredakan dengan
pemberian satu unit dosis, mungkin diperlukan dua
unit dosis, pada kasus tersebut, pasien harus segera
berkonsultasi dengan dokter atau menuju ke rumah
sakit terdekat; terapi pemeliharaan: satu unit dosis
tiga atau empat kali sehari; overdosis: pemberian
sediaan obat penenang untuk kasus overdosis parah,
penghambat reseptor beta, terutama selektif beta-1,
cocok digunakan sebagai antidot spesifik, namun,
kemungkinan

terjadinya

peningkatan

obstruksi

bronkus harus diperhitungkan dan dosis harus


disesuaikan dengan hati-hati pada pasien yang

Efek samping

menderita asma bronkial.


sakit kepala, iritasi tenggorokan, batuk, mulut kering,
gangguan

motilitas

saluran

cerna

(termasuk

konstipasi, diare dan muntah), mual dan pusing,


reaksi anafilaktik, hipersensitivitas, hipokalemia,
gugup, gangguan mental, tremor, pusing, gangguan
akomodasi
peningkatan
penglihatan

mata,

edema

tekanan
kabur,

kornea,

glaukoma,

intraokular,

midriasis,

nyeri

mata,

hiperemia

konjungtiva, halo vision, aritmia, fibrilasi atrial,


iskemia miokard, palpitasi, takikardi supraventrikel,
takikardi,

penurunan

tekanan

darah

diastolik,

peningkatan tekanan darah sistolik, batuk, disfonia,


tenggorokan kering, bronkospasme, paradoksikal
bronkospasme, laringospasme, edema faringeal, mual,
diare, muntah, konstipasi, gangguan motilitas saluran
cerna, edema mulut, stomatitis, ruam, pruritus,
urtikaria, angioedema, hiperhidrosis, kram otot, lemah

otot, mialgia, retensi urin, astenia.

Kontraindikas

kardiomiopati

Perhatian

hipersensitivitas.
insufisiensi hati atau ginjal, segera konsultasi ke

obstruktif,

hipertrofi,

takiaritmia,

dokter jika mengalami perburukan dispnea akut,


jangan terkena mata, pemberian inhalasi disarankan
melalui mulut, pasien yang memiliki kecenderungan
glaukoma harus diperingatkan untuk melindungi
matanya secara khusus ketika pemakaian, pada
kondisi diabetes mellitus diperlukan dosis lebih
tinggi, infark miokard, kelainan jantung dan vaskular
yang parah, hipertiroid, feokromositoma, glaukoma
sudut sempit, hipertrofi prostat atau pun obstruksi
pangkal uretra, jantung iskemik, takiaritmia atau
gagal jantung, segera konsul ke dokter jika terjadi
perburukan penyakit jantung, hipokalemia, pasien
dengan sistik fibrosis karena rawan mengalami

gangguan motilitas saluran cerna, monitor kadar


kalium dalam serum pada penggunaan bersama
digoksin, kehamilan

Interaksi

penggunaan bersama dengan turunan xantin dan beta

adrenergik

serta

antikolinergik

lainnya

dapat

meningkatkan efek samping, potensi hipokalemia


meningkat pada penggunaan bersama dengan turunan
xantin, glukokortikosteroid, diuretik dan digoksin,
penurunan efek bronkodilator secara signifikan
terjadi selama penggunaan bersama dengan beta
bloker, pemberian agonis beta adrenergik dilakukan
secara hati-hati pada pasien yang mendapatkan terapi
penghambat monoamin oksidase atau antidepresan
trisiklik karena meningkatkan efek obat agonis beta
adrenergik,

inhalasi

dari

anastesi

hidrokarbon

terhalogenasi seperti halotan, trikloroetilen dan


enfluran

berpotensi

meningkatkan

kemungkinan

munculnya efek kardiovaskular dari agonis beta

Pulmicort

j.

Indikasi

oleh bronkodilator atau kromoglikat.

Dosis

Kelas

Inhaler Budesonid

profilaksis asma terutama jika tidak sepenuhnya teratasi

Inhalasi aerosol: 200 mcg 2 kali sehari; pada asma yang


terkontrol baik, dosis dapat dikurangi sampai tidak
kurang dari 200 mcg/hari; pada asma berat ditambah

sampai 800 mcg/hari.

Serbuk Inhalasi pada saat pengobatan dimulai pada


asma berat dan pada saat pengurangan atau penghentian
pemberian kortikosteroid oral; 0,2-1,6 mg/hari dalam
dosis terbagi; pada kasus kurang berat 200-800
mcg/hari;

pasien

yang

sudah

diatasi

dengan

kortikosteroid yang dihirup 2 kali sehari dapat diberikan


1 kali sehari (tiap malam) dengan total dosis perhari
sama (sampai 800 mcg 1 kali sehari). Anak-anak:200800 mcg/hari dalam dosis terbagi (800 mcg pada asma
berat).

Efek samping

Kontraindikasi

(biasanya pada dosis tinggi); ruam (jarang).

Perhatian

suara serak dan kandidiasis di mulut atau tenggorokan

kardiomiopati

obstruktif,

hipertrofi,

takiaritmia,

hipersensitivitas.

juga tuberkulosis aktif atau diam; mungkin perlu


mengembalikan terapi sistemik selama periode stres
atau jika jalan udara terganggu atau mukus menghalangi
akses obat ke jalan udara yang lebih kecil.

k.

Phadilon

Kelas

Indikasi

dihubungkan dengan keganasan; lihat keterangan di atas;

Glukokortikoid

supresi inflamasi dan gangguan alergi; udema serebral

penyakit rematik

Dosis

Oral, umum 2-40 mg/hari; lihat juga pemberian dosis di


atas. Injeksi intramuskular atau injeksi intravena lambat
atau infus, awal 10-500 mg; reaksi penolakan
pencangkokan sampai 1 g/hari melalui infus intravena
selama 3 hari.

Efek samping

Kontraindikasi

iritasi perineal dapat diikuti dengan pemberian injeksi


intravena ester fosfat.

infeksi sistemik (kecuali kalau diberikan pengobatan


microbial spesifik), hindari pemberian vaksin virus
hidup pada pemberian dosis imunosupresif (respon
serum antibodi berkurang).

Perhatian

Indikasi

dosis

besar

secara

intravena

cepat

dihubungkan dengan kolaps jantung.

Kelas

pemberian

Inhaler

dan kronis khususnya pada eksaserbasi bronkitis kronis dan

Sebagai sekretolitik pada gangguan saluran nafas akut

bronkitis asmatik dan asma bronkial.

Dosis

Dewasa: kapsul lepas lambat 1 kali sehari 75 mg,


sesudah makan. Dewasa dan anak di atas 12 tahun:1
tablet (30 mg) 2-3 kali sehari; Anak 6-12 tahun: 1/2 tablet
2-3 kali sehari. Sirup tetes (drops): 15 mg/ml drops (1
mL= 20 tetes): Anak s/d 2 tahun: 0,5 mL (10 tetes) 2 kali
sehari; Ambroksol drops dapat dicampur bersama
dengan sari buah, susu atau air.Sirup 15 mg/5 mL (1
sendok takar = 5 mL): Anak usia 6-12 tahun: 2-3 kali
sehari 1 sendok takar; 2-6 tahun: 3 kali sehari 1/2 sendok
takar; di bawah 2 tahun: 2 kali sehari 1/2 sendok takar.

Efek samping

Reaksi intoleran setelah pemberian ambroksol pernah


dilaporkan tetapi jarang; efek samping yang ringan pada
saluran saluran cerna pernah dilaporkan pada beberapa
pasien; reaksi alergi (jarang); reaksi alergi yang
ditemukan: reaksi pada kulit, pembengkakan wajah,
dispnea, demam; tidak diketahui efeknya terhadap
kemampuan mengendarai atau menjalankan mesin.

Kontraindikasi

Hipersensitif terhadap ambroksol.

Perhatian

ambroksol hanya dapat digunakan selama kehamilan

(terutama trimester awal) dan menyusui jika memang


benar-benar diperlukan; pemakaian selama kehamilan
dan menyusui masih memerlukan penelitian lebih lanjut;
ambroksol tidak boleh digunakan dalam jangka waktu
yang lama tanpa konsultasi dokter; dalam beberapa
kasus insufisiensi ginjal, akumulasi dari metabolit

Interaksi

ambroksol terbentuk di hati.


Pemberian bersamaan dengan antibiotik (amoksisilin
sefuroksim,

eritromisin,

doksisiklin)

menyebabkan

peningkatan penerimaan antibiotik kedalam jaringan


paru-paru.

l.

Codein
Kelas

kerja

Antimotilitas

Mekanisme

Menekan pusat teradinya batuk.

Indikasi

sebagai tambahan terhadap terapi rehidrasi pada diare

akut, penekan batuk.

Dosis

diawali dengan 4 tablet, dilanjutkan dengan 2 tablet


setiap 6 jam hingga diare terkendali. Anak di bawah 4
tahun tidak dianjurkan; 4-8 tahun 1 tablet 3 kali sehari; 912 tahun 1 tablet 4 kali sehari; 13-16 tahun 2 tablet 3 kali
sehari.

Kontraindikasi

Perhatian

dihindari, pada saat kejang perut, atau kondisi diare akut

seperti kolitis ulseratif akut atau kolitis akibat antibiotik.


Tidak dianjurkan untuk anak di bawah 12 tahun; toleransi

pada kondisi di mana hambatan peristaltik harus

dan ketergantungan dapat terjadi pada penggunaan jangka

panjang;

m.

Curcuma

Indikasi

n.

Penambah nafsu makan


Ambroxol

BAB IV

PEMANTAUAN TERAPI OBAT DENGAN METODE SOAP

4.1

Subjektif

Identitas Pasien

Nama : Tn.E

Usia : 46 Tahun

Alamat : Garut, Jawa Barat

Status : BPJS Non PBI

Ruang Rawat : xxx


No.Rekam Medik : xxx
Tgl. Masuk : 15-05-2016
Tgl. Keluar : 20-05-2016
Status pulang : Izin Dokter

Data Klinis Awal

Tekanan darah : 110/60

Nadi : 110 kali/menit

Respirasi : 24 kali/menit

Suhu : 36,5oC

Gizi : Baik

Tinggi badan :
Berat badan :
Kesadaran : Sadar

Dokter : xxx

Apoteker : xxx
Riwayat Penyakit :

Penderita memilii

riwayat

penyakit TB paru dan asma.


Riwayat Konsumsi obat :

4 FDC 1 x 3 talet dari RSP.


Rotinsulu

1bulan

(TBC

Kategori I Intensif)
Alergi:

Tidak ada

Pemeriksaan

penunjang

awal :

X-Ray

Thoraks

Ultrasonografi

dan
Thoraks

(penebalan pleura kanan tidak


tampak efusi pleua kanan.)
Alasan Masuk RS/ Keluhan Utama :

Sesak
Anamnesis:

Pasie mengeluh sesak sejak 10 hari, kelhan dirasakan semakinhari


semakin memburuk. Keluhan disertai batuk berdahak warna hijau
kadang bewarna putih, demam (+),nyeri dada (-), mual (-), muntah (-),

bab dan bak tidak ada kelainan.


Diagnosa Awal : Diagnosa Utama :
Dyspnea ec. TB Paru OAT Kategori I intensif, efusi pleura dan
pneumonia
Diagnosa Tambahan :

Para

Nil

Tanda Vital Pasien

Tanggal (Mei, 2016)

ai
Nor
mal
-

1
5

1
6

1
7

1
8

1
9

20

<14
0/9
0

9
0
/
6
0

9
9
/
6
4

Nadi
(X/me
nit)

80100

Suhu
(oC)

1
0
8
x
/
m
2
4
x
/
m
3
5

Respir
asi
(X/me
nit)

1
1
0
x
/
m
2
2
x
/
m
3
5

1
0
0
/
6
0
1
1
0
x
/
m
2
6
x
/
m
3
6
,
5

1
3
0
/
4
2
1
0
4
x
/
m
2
4
x
/
m
3
6

meter

BB
(kg)
TD(m
mHg)

1620

3637

1
1
0
/
6
0
1
1
0
x
/
m
2
2
x
/
m
3
6
,
5

92/

35

4.2

Objektif
Data Laboratorium

Parameter

Protein Total g/L

Nilai
Normal

6,5-8,0

Tanggal (Mei 2016)

1
1
1
1

Bilirubin
mg/dl

<1,0

SGOT U/L

L <38, P
<32

SGPT

L <41, P
<31

<200

Trigliserida mg/dl

<150

Ureum mg/dl

10-50

Kreatinin mg/dl

L : 0,6-1,1
P : 0,5-0,9

Asam Urat mg/dl

L : 3,4-7,0
P : 2,4-5,7

Gula Darah Puasa


mg/dl

70-110

Gula Darah 2 Jam


PP mg/dl

<150

Luekosit/mm3

400010.000

Kolesterol
mg/dl

Total

Total

4.3

Assesment

1.

Data Terapi Obat Pasien

Nama Obat

Dosis

Ru
te

Tanggal/Bulan Resep & Jumlah


Obat (Mei 2016)

RL

Cefoperazone
1000 mg/vial
Gentamisin
40 mg/ml
Omeprazole
40 mg
Combivent
2,5 ml

Pulmicort
0,25 ml

Phadilon 125
mg

Codein 10
mg
Curcuma 20
mg
Ambroxol 30
mg
OAT-4 FDC

1500
cc/24
jam
3x1 g

inf

iv

1x16
0 mg
1x40
mg
3x1
tiap 6
jam
2x1
tiap
12
jam
3x
62,5
mg
2x1
tab
3x1
tab
3x1
tab
1x3
tab

iv

iv

Ne
bu

Ne
bu

iv

Po
.
Po
.
Po
.
Po
.

2.

Ketepatan Penggunaan Obat Terhadap Indikasi/ Diagnosa

Nama Obat,
Kekuatan,
Bentuk
Sediaan

RL

Indikasi Menurut
Literatur

Mengembalikan
keseimbangan elektrolit pada
dehidrasi

Diagnosa
Pasien

Ketep
atan
Indika
si

Cefoperazo
ne 1000
mg/vial

Gentamisin
40 mg/ml

Antibiotik yang
berfungsi untuk mengobati
infeksi yang disebabkan
bakteri Pseudomonas, dan
tidak bisa menyembuhkan
infeksi akibat virus (seperti flu
atau pilek).
Gentamicin termasuk dalam
golongan antibiotik. Obat ini
digunakan untuk mengobati
infeksi akibat bakteri dan
berfungsi membunuh atau
mencegah pertumbuhan
bakteri penyebab infeksi.
Jenis-jenis infeksi yang dapat
diatasi dengan gentamicin
adalah infeksi mata, infeksi
telinga, infeksi saluran kemih,
infeksi paru-paru, serta
septikemia.

Batuk
Berdaha
k
berwarn
a hijau

Efulsi
pluera

Mual,M
untah

Nyeri
dada,
Asma

Omeprazole
Menghambat sekresi
40 mg
asam lambung dengan cara
menghambat sistem enzim
adenosin trifosfatase hidrogenkalium (pompa proton) dari sel
parietal lambung. Penghambat
pompa proton efektif untuk
pengobatan jangka pendek
tukak lambung dan duodenum.
Selain itu, juga digunakan
secara kombinasi dengan
antibiotika untuk eradikasi H.
pylori.
Combivent
Bronkospasme
2,5 ml
reversibel yang berkaitan
dengan penyakit paru obstruksi
dan serangan asma akut yang
membutuhkan terapi lebih dari

Pulmicort
0,25 ml

Phadilon
125 mg

Codein 10
mg

Ambroxol
30 m

bronkodilator tunggal

Profilaksis asma
terutama jika tidak sepenuhnya
teratasi oleh bronkodilator atau
kromoglikat

Glukokortikoid,perada
ngan

Antitusif

Batuk Mukolitik,
peradangan paru kronis,
bronkhitis, asma
bronkospasme
OAT 4 FDC
TBC Intensif (Kategori
I)

Nyeri
dada,
Asma

Radang

Batuk
berdaha
k

TBC
Kategor
iI

3.

Ketepatan Dosis Obat

Nama Obat,
Kekuatan &
Bentuk Sediaan
Cefoperazone 1000
mg/vial

Gentamisin 40
mg/ml

Omeprazole 40 mg

Combivent 2,5 ml

Dosis
Menurut
Litertur
2-4 g
perhari
tiap 12
jam
3-5 mg/kg
perhari

Dosis
Pasien

Ketepat
an Dosis

3g

160 mg

40 mg
perhari

40 mg

3 ml
perhari

7,5 ml

Pulmicort 0,25 ml

2 ml
perhari

0,5 ml

Phadilon 125 mg

10-250
mg

187,5 mg

Codein 10 mg

20 mg

Curcuma 20 mg

<7,5-20
mg
perhari
-

60 mg

Ambroxol 30 mg

90 mg

OAT-4 FDC

30-120
mg
perhari
Rifampisi
n 150 mg,
INH 75
mg,
Pyrazina
mide 400
mg/
Etambutol
275mg

Rifampisi
n 150 mg,
INH 75
mg,
Pyrazina
mide 400
mg/
Etambutol
275mg

4.

Kejadian Interaksi Obat

Interaksi Obat

Akibat Interaksi

OMEPRAZOLE-INH

OMEPRAZOLE-RIFAMPISIN

Isoniazid akan meningkatkan tingkat


atau efek dari omeprazole dengan
mempengaruhi enzim hati
metabolisme CYP2C19 . Hindari
penggunaan obat ini atau
menggunakan obat alternatif
Rifampisin akan menurunkan tingkat
atau efek dari omeprazole dengan

mempengaruhi enzim hati


metabolisme CYP2C19. Penggunaan
obat ini hati-hati / dimonitor

PHADILON- RIFAMPISIN

PULMICORT-PHADILON

PHADILON-INH

CODEIN-COMBIVENT

CODEIN-RIFAMPISIN

5.

Drug Related Problems (DRP)

Rifampisin akan menurunkan tingkat


atau efek dari phadilon dengan
mempengaruhi hati / usus enzim
metabolisme CYP3A4 . Hindari
penggunaan obat ini atau
menggunakan obat alternatif
Pulmicort akan menurunkan tingkat
atau efek dari phadilon dengan
mempengaruhi hati / usus
metabolisme enzim CYP3A4.
Penggunaan obat ini hati-hati /
dimonitor
INH akan menurunkan tingkat atau
efek dari phadilon dengan
mempengaruhi hati / usus enzim
metabolisme CYP3A4. Penggunaan
obat ini hati-hati / dimonitor
Efek dari codein meningkat dan
combivent menurun. Pengaruh
interaksi tidak jelas, penggunaan
hati-hati/dimonitor
Rifampisin mengurangi efek dari
kodein dengan mempengaruhi
metabolisme enzim hati CYP2D6
penggunaan hati-hati / monitor
mencegah konversi codein untuk
metabolit morfin aktif


No

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Parameter

Penilaian

Ada Indikasi tidak diobati

Tidak ada

Pemberian obat tanpa indikasi

Ada, Codein

Dosis rendah

Tidak ada

Dosis tinggi

Ada, Combivent

Kejadian efek samping

Tidak ada

Kejadian interaksi obat

7.

8.

Ketidakpatuhan pasien

Ada, OmeprazoleINH, OmeprazoleRifampisin, PhadilonRifampisin, PulmicortPhadilon, Phadilon-INH,


Codein-Combivent, CodeinRifampisin

Tidak ada

Gagal menerima obat

4.4

Planning

Rekomendasi kepada dokter

Rekomendasi kepada perawat


Rekomendasi kepada pasien

Tidak ada

Monitor terus kondisi pasien bila terlihat


efek samping dan ROTD karena terapi obat
dan merekomendasikan penghentian codein
karena tidak sesuai indikasi.
Memperhatikan waktu pemberian obat
untuk menghindari terjadinya interaksi.
Kepatuhan pasien dalam menjalani proses
pengobatan. Seperti teraapi OAT yang
diberikan harus berkesinambungan untuk
mengoptimalkan efek terapi dan mencegah
resistensi obat.

BAB V
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

4.1 Pembahasan

Pasien

yang

mendapatkan

terapi

obat

mempunyai

risiko

mengalami masalah terkait obat. Kompleksitas penyakit dan penggunaan


obat, serta respons pasien yang sangat individual meningkatkan
munculnya masalah terkait obat. Hal tersebut menyebabkan perlunya
dilakukan PTO dalampraktek profesi untuk mengoptimalkan efek terapi
dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki. Pemantauan terapi obat
(PTO) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan
terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien. Kegiatan tersebut
mencakup: pengkajian pilihan obat, dosis, carapemberian obat, respons
terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki(ROTD), dan rekomendasi
perubahan atau alternatif terapi. Pemantauan terapi obat harus dilakukan
secara berkesinambungan dan dievaluasi secara teratur pada periode
tertentu agar keberhasilan ataupun kegagalan terapi dapat diketahui.
(Pedoman PTO, DEPKES RI 2009)

Berbagai macam metode yang dapat digunakan pada pemantauan


terapi obat, diantaranya adalah metode SOAP (Subjective, Objective,
Assessment, and Plan) yang digunakan pada pemantauan terapi obat kali
ini. Subjective merupakan data hasil yang ditanyakan kepada pasien
mengenai gejala penyakit yang dialami pasien, Objective yaitu data seperti
hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostic dokter mengenai gejala
yang terukur oleh tenaga medis ataupun tenaga kesehatan.Assessment
adalah data yang berasal dari sisi subjektif dan objektif dengan
dilakukannya analisis untuk melihat ada tidaknya keberhasilan terapi obat,
meminimalisir adanya efek samping obat ataupun adanya masalah baru
terkait pengobatan. Planning ialah data yang diambil setelah dilakukan
SOAP atau setelah adanya penggalian informasi dari pasien dan

pengkajian data, maka dilakukan penyusunan rencana yang sesuai dengan


masalah pasien.

Kegiatan pemantauan terapi obat pada pasien Tn.E didiagnosa oleh


dokter memiliki penyakit TB Paru dengan kategori I intensif yang disertai
dengan Dispnea, Pneumonia dan Efusi Pleura. Pasien memiliki riwayat
penyakit yaitu TB paru dan Asma. Sebelumnya pasien pernah menerima
pengobatan dari Rumah Sakit Paru Dr. H. A. Rotinsulu yaitu pengobatan 4
FDC 1 x 3 talet selama kurang lebih satu bulan (TBC Kategori I Intensif).
Pasien selama 6 hari menjalani perawatan pengobatan mendapatkan terapi
obat yaitu Nebulizer Combovent, dan Pulmicort untuk menangani Dispnea
atau sesak yang dirasakan pasien akibat dari efusi nafas, untuk menangani
batuk berdahak berwarna hijau akibat infeksi pada saluran nafas
diperlukan antibiotic untuk membunuh bakteri penyebab infeksi tersebut
sehingga diberikan injeksi antibiotik cefoporazone, untuk menangani
pneumonia diberikan obat injeksi gentamisin, untuk mengatasi perdangan
pada pasien diberikan obat Phadilon, dan omeprazol digunakan untuk
mengatasi efek samping dari antibiotic yang digunakan pasien.
Penumpukkan cairan pada rongga pleura dikarenakan adanya infeksi yang
menyebabkan peradangan pada permukaan pleura dari rongga pleura
sehingga memecah dinding kapiler dan memungkinkan pengaliran protein
plasma dan cairan ke dalam rongga tersebut secara cepat. Akibat efusi
pleura menyebabkan pasien batuk sehingga diberikan codein sebagai
penanganan tetapi pemakaian codein diberhentikan pada tangal 16 Mei
2016 karena pemberian obat tersebut menyebabkan munculnya salah satu
dari drug related problems (DRP) yaitu pemberian obat tanpa indikasi
karena diketahui indikasi dari codein sebagai antitusif sedangkan pasien
mengalami batuk berdahak. Pada tanggal 17 mei 2016 codein diganti
dengan ambroxol sebagai obat mukolitik untuk mengatasi batuk berdahak,
dan pasien diberikan curucuma sebagai hapatoprotektif serta sebagai obat
penambah nafsu makan dan obat OAT 4 FDC kategori 1 fase intensif.

Tanggal 20 Mei pasien keluar dari rumah sakit atas ijin dokter yang
menangani dengan kondisi yang mulai membaik namun harus tetap
menjalankan perawatan rawat jalan untuk memaksimalkan hasil
pengobatan dengan mengkonsumsi obat ambroxol, curcuma, dan OAT 4
FDC kategori 1 intensif.

Hasil analisi masalah DRP obat pasien Tn.E terhadap ketepatan indikasi
penggunaan obat yaitu cefoperazon, gentamisin, combivent, pulmicort,
phadilon, curcuma, ambroxol, omeprazol, dan OAT 4 FDC kategori
1intensif sudah tepat indikasi sesuai diagnosa dokter. Pada obat codein
tidak tepat indikasi dimana codein sebagai antitusif sedangkan pasien
mengalami batuk berdahak.. Rekomendasi kepada dokter untuk monitor
terus kondisi pasien bila terlihat efek samping dan ROTD karena terapi
obat dan merekomendasikan penghentian codein karena tidak sesuai
indikasi. Hasil pemantauan ketepatan dosis perlu dikonsultasikan kepada
dokter karena terdapat dosis obat yang lebih tinggi dibandingkan literatur
yaitu combivent yang diberikan pada terapi sebanyak 7,5 ml sedangkan
menurut literatur penggunaan combivent 3 ml perhari. Pada pemantauan
interaksi

obat Tn.E terdapat interaksi obat yaitu, Omeprazole-INH,

Omeprazole-Rifampisin,

Phadilon-Rifampisin,

Pulmicort-Phadilon,

Phadilon-INH, Codein-Combivent, Codein- Rifampisin, namun interaksi


yang terjadi dapat ditangani dengan memberikan jeda waktu pemberian
obat dan monitoring pada penggunaan obat. Perlu rekomendasi kepada
perawat untuk memperhatikan waktu pemberian obat untuk menghindari
terjadinya interaksi, dan berikan penjelasan kepada pasien mengenai
kepatuhan pasien dalam menjalani proses pengobatan. seperti terapi OAT
yang diberikan harus berkesinambungan untuk mengoptimalkan efek
terapi dan mencegah resistensi obat.

Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang telah


dibuat oleh apoteker harus dikomunikasikan kepada tenaga kesehatan
terkait. Kerjasama dengan tenaga kesehatan lain diperlukan untuk

mengoptimalkan pencapaian tujuan terapi. Informasi dari doktertentang


kondisi pasien yang menyeluruh diperlukan untuk menetapkantarget terapi
yang optimal. Komunikasi yang efektif dengan tenagakesehatan lain harus
selalu dilakukan untuk mencegah kemungkinantimbulnya masalah baru.
(Pedoman PTO, DEPKES RI 2009)

Kegagalan terapi dapat disebabkan karena ketidakpatuhan pasien


dan kurangnya informasi obat. Sebagai tindak lanjut pasien harus
mendapatkan

Komunikasi,

Informasi

dan

Edukasi

(KIE)

secara

tepat.Informasi yang tepat sebaiknya:

tidak bertentangan/berbeda dengan informasi dari tenagakesehatan lain,


tidak menimbulkan keraguan pasien dalam menggunakan obat,
dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat,
(Pedoman PTO, DEPKES RI 2009)

4.2 Kesimpulan

Pasien bernama Tn.E laki-laki berumur 46 tahun didiagnosis menderita TB


paru kategori I disertai dispenia, efusi pleura dan pneumonia. Berdasarkan
analisis DRP ditemukan adanya obat tidak tepat indikasi yaitu codein,
dosis tinggi combivent, dan adanya interaksi obat yaitu Omeprazole-INH,
Omeprazole-Rifampisin,

Phadilon-Rifampisin,

Pulmicort-Phadilon,

Phadilon-INH, Codein-Combivent, Codein- Rifampisin, sehingga perlu


adanya informasi kepada dokter dan perawat. Oleh sebab itu untuk
mengoptimalkan

keberhasilan

tujuan

terapi

pasien

diperlukan

adanyakerjasama dengan tenaga kesehatan lain. Informasi dari dokter


tentang kondisi pasien yang menyeluruh diperlukan untuk menetapkan
target terapi yang optimal. Komunikasi yang efektif dengan tenaga
kesehatan lain harus selalu dilakukan untuk mencegah kemungkinan
timbulnya masalah baru.

Daftar Pustaka
Asih, S Retno., Landia S., Makmuri MS. 2006. Pneumonia. Surabaya:
Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR-RSU Dr. Soetomo

Dipiro.JT., 2009, Pharmacoterapy Handbook 7th edition, Mc Graw Hill,


New York.

Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. 2009. Pedoman Pemantauan


Terapi Obat. Jakarta : Departemen Kesehatan.

https://www.drugs.com/monograph/diazepam.html;
http://reference.medscape.com/drug/valium-diastat-diazepam-342902)
diakses 26 Juni 2016

https://www.drugs.com/ppa/ampicillin.htmlhttp://reference.medscape.com/
drug/ampi-omnipen-ampicillin-342475) diakses 26 Juni 2016

https://www.drugs.com/monograph/carbamazepine.html

http://reference.medscape.com/drug/tegretol-xr-equetro-carbamazepine343005) diakses 26 Juni 2016

http://reference.medscape.com/drug/isoniazid-342564 Diakses 15 Juli 2016

http://reference.medscape.com/drug/rifadin-rimactane-rifampin-342570

http://reference.medscape.com/drug/pyrazinamide-342678

http://reference.medscape.com/drug/suprax-cefixime-342503

Lucy, Charles F., Armstrong Lora L., Morton P. Goldman., Leonard L.


Lance. 2008-2009. Drug Information Handbook. American Pharmacist
Association

McEvoy, Gerald K., Elaine K. Snow., Linda Kester., dkk. 2011. AHFS
Drug Information Essentials. Maryland: American Society of HealthSystem Pharmacist

Menkes RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah
Sakit. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.

Riyadi, Sujono & Sukarmin, 2009, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi
1, Yogyakarta : Graha Ilmu

Shefia, Nadya Ayu. 2014. Family Medicine Approach of The Children


Aged 1 Years with Bronchopneumonia and Mild Malnutrition. J Medulla
Unila : Volume 3 Nomor 2