Anda di halaman 1dari 19

BATUPASIR

1. Pengertian Batupasir
Batupasir adalah salah satu jenis batuan sedimen yang paling banyak tersingkap di
permukaan bumi. Menurut klasifikasi Wenworth, batupasir adalah batuan yang mempunyai
ukuran butir antara 1/16 mm 2 mm. Batupasir ini berdasarkan teksturnya adalah klastik
terigen, artinya berasal dari transportasi daratan.
Batupasir merupakan batuan sedimen yang terdiri dari butiran-butiran yang berukuran
pasir. Pasir sendiri didefinisikan sebagai sedimen yang mengandung butiran berukuran antara
63 m hingga 2 mm. Sedangkan pasir ini sendiri dibagi lagi ke dalam lima interval, yaitu:
sangat halus, halus, sedang, kasar, dan sangat kasar. Penamaan batupasir ini hanya
berdasarkan ukuran partikel penyusunnya. Material penyusun batupasir tersusun atas lima
komponen dasar yaitu litik fragmen atau fragmen batuan, butiran kuarsa, butiran feldspar,
matriks, dan semen. Matriks biasanya adalah mineral-mineral lempung, mineral karbonat,
maupun mineral oksida. Matriks biasanya juga akan terendapkan secara bersamaan dengan
fragmen. Setelah fragmen dan matriks terendapkan, maka selanjutnya akan diendapkan
semen. Semen yang umum dijumpai adalah kuarsa, kalsit, dan oksida . Setelah itu akan
terjadi peristiwa diagenesa, yakni proses pembentukan batuan sedimen itu sendiri, mulai dari
kompaksi, sementasi, dan litifikasi.
Meskipun banyak batupasir yang mengandung kuarsa, istilah batupasir tidak berimplikasi
pada jumlah kehadiran kuarsa dalam batuan karena beberapa batupasir tidak mengandung
butir kuarsa sama sekali. Butir pasir terbentuk oleh hancuran batuan yang sudah ada
sebelumnya yang merupakan hasil dari proses pelapukan dan erosi, serta dari material yang
terbentuk di dalam lingkungan transportasi dan pengendapan. Hasil lapukan terbagi ke dalam
dua kategori: butir mineral detrital, tererosi dari batuan yang lebih tua, dan sedimen- sedimen
berukuran pasir dari batuan atau fragmen batuan. Butiran yang terbentuk di dalam lingkungan
pengendapan umumnya merupakan material biogenik (bagian dari tanaman atau hewan) tapi
ada beberapa yang terbentuk dari reaksi kimia.

2. Penyusun Batupasir
Berikut ini adalah material umum yang sering ditemukan sebagai penyusun dari
batupasir:
1. Butir mineral detrital
Butiran mineral berat yang ditemukan dalam sedimen, akibat dari disintegrasi mekanik dari
batuan induk. Berikut ini adalah cbeberapa jenis butir mineral yang umum ditemukan sebagai
penyusun batupasir:
a. Kuarsa
Kuarsa adalah mineral yang paling umum ditemukan sebagai penyusun dari batupasir. Hal ini
dimungkinkan karena kuarsa memiliki tingkat resistensi yang tinggi sehingga tidak mudah
lapuk menjadi soil. Kuarsa merupakan mineral yang kestabilannya sangat tinggi sehingga
tahan
terhadap pelapukan kimia di permukaan bumi. Butiran kuarsa dapat saja hancur dan terabrasi
selama transportasi, tapi dengan kekerasan 7 pada skala Mohs, butir kuarsa masih tersisa
setelah transportasi yang panjang dan lama.
b. Feldspar
Feldspar merupakan mineral yang paling banyak terkandung dalam batuan beku. Feldspar
sangat umum dan keluar dalam jumlah yang besar ketika granit, andesit, dan gabro, beberapa
sekis dan gneiss terlapukkan. Namun feldspar dapat terubah secara kimiawi selama
pelapukan dan butirannya menjadi lebih halus daripada kuarsa, hal ini terjadi karena
kekerasan feldspar lebih kecil dibandingkan dengan kekerasan kuarsa (kekerasan feldspar 6
pada skala Mohs). Felspar cenderung terubah (mengalami alterasi) dan hancur selama
transportasi. Feldspar hanya umum ditemukan dalam keadaan dimana pelapukan kimia
batuan induk tidak terlalu hebat dan jarak transportasi ke lokasi pengendapan relatif pendek.
K-Feldspar lebih umum sebagai butiran detrital daripada Feldspar yang kaya Natrium (NaFeldspar) dan Calsium (Ca-Feldspar) karena secara kimia lebih stabil ketika mengalami
pelapukan
c. Mika
Muskovit dan biotit merupakan mineral mika yang keberadaannya dalam batupasir cenderung
melimpah, namun muskovit memiliki resistensi yang lebih tinggi. Mineral ini berasal dari
batuan beku berkomposisi granitik sampai intermediate dan juga dari batuan metamorf
seperti sekis dan gneiss dimana mineral ini terbentuk sebagai mineral hasil metamorfisme.
Mika cenderung terkonsentrasi terkumpul pada bidang lapisan dan sering memiliki daerah

permukaan lebih luas daripada butir detrital lain dalam sedimen. Hal ini dikarenakan butirnya
yang berbentuk lempengan memiliki kecepatan pengendapan lebih rendah daripada butir
mineral berbentuk kotak walaupun memiliki massa dan volume yang sama, jadi mika
bersuspensi lebih lama terendapkan daripada butiran kuarsa atau feldspar yang bermassa
sama.
d. Mineral berat
Mineral yang umum ditemukan dalam pasir memiliki berat jenis sekitar 2,6 sampai 2,7
gr/cm3. Kebanyakan batupasir mengandung kurang dari 1% mineral yang memiliki berat
jenis besar. Mineral ini secara tradisional dapat dipisahkan dengan mineral lainnya dengan
menggunakan cairan; mineral umum akan mengambang dan mineral berat akan tenggelam.
Mineral ini jarang terlihat dalam hand specimen dan terlihat pada sayatan tipis batupasir.
Biasanya dapat diteliti setelah dikonsentrasikan dengan teknik pemisahan dengan cairan.
Alasan untuk mempelajarinya adalah karena mineral ini dapat menjadi ciri khas daerah
sumber tertentu dan berharga dalam mempelajari sumber detritus. Mineral berat yang umum
adalah zircon, turmalin, rutil, apatit, garnet, dan sejumlah mineral asesori batuan beku dan
metamorf.
e. Mineral lain
Mineral lain jarang terdapat dalam jumlah yang besar pada batupasir. Kebanyakan mineral
umum dalam batuan beku silikat (contoh: olivin, piroksen, dan amfibol) hancur oleh
pelapukan kimia. Oksida besi relatif berlimpah. Konsentrasi lokal mineral tertentu mungkin
didapatkan jika lokasi cekungan pengendapan (basin) berada dekat dengan sumber batuan
induk yang terlapukkan dan tertransport.
2. Fragmen batuan
Lapukan batuan yang telah ada sebelumnya, baik itu batuan beku, sedimen, maupun
metamorf akan menghasilkan fragmen berukuran pasir. Fragmen batuan berukuran pasir
hanya ditemukan pada batuan berbutir halus sampai sedang karena kristal mineral dan butir
tipe batuan kasar memiliki ukuran pasir yang kasar. Batuan beku seperti basal dan ryolit
mudah terubah secara kimia di permukaan bumi dan hanya umum ditemukan dalam pasir
yang terbentuk dekat dengan sumber material volkanik. Pantai di sekitar kepulauan volkanik
seperti Hawai berwarna hitam, hampir keseluruhannya terbuat dari butir batuan basal.
Batupasir yang berkomposisi seperti ini jarang dalam rekaman stratigrafi, tapi butir tipe
batuan volkanik umum dalam sedimen yang diendapkan dalam cekungan yang berhubungan
dengan busur volkanik atau volkanisme rift. Fragmen sekis dan pelitik (berbutir halus) dari

batuan metamorf dapat dikenali di bawah mikroskop dengan kelurusan kemas yang kuat yang
dimiliki litologi ini; tekanan selama metamorfisme menghasilkan butiran mineral terorientasi
kembali atau tumbuh dalam kelurusan yang tegak lurus terhadap gaya stress lapangan. Hasil
lapukan dari batuan yang terbentuk oleh metamorfisme batuan kaya kuarsa akan menjadi
butiran yang relatif resisten dan terdapat dalam batupasir. Fragmen batuan dari batuan
sedimen dihasilkan ketika strata yang lebih tua terangkat, terlapukkan, dan tererosi. Butiran
pasir dapat mengalami proses reworked, oleh proses ini dan butir-butir individu ini dapat
mengalami sejumlah siklus erosi dan pengendapan kembali. Batulempung mungkin hancur
menjadi butiran berukuran pasir, meskipun ketahanannya terhadap pelapukan selanjutnya
selama transportasi bergantung sekali pada derajat kekerasan batulumpur. Pecahan
batugamping juga biasanya ditemukan sebagai fragmen batuan dalam batupasir, meskipun
begitu batuan sebagian besar penyusunnya sebagian besar berupa butiran karbonatan akan
diklasifikasikan sebagai batugamping. Salah satu litologi paling umum yang terlihat sebagai
butir pasir adalah rijang yang tersusun oleh mineral silika yang merupakan mineral yang
resisten.
3. Partikel biogenic
Hancuran cangkang moluska dan organisme lain yang memiliki bagian keras bersifat
karbonatan dapat ditemukan menjadi penyusun batupasir. Jika fragmen karbonatan menyusun
lebih dari 50% dari seluruh batuan maka dianggap sebagai batugamping. Fragmen berupa
tulang dan gigi mungkin ditemukan dalam batupasir dari berbagai jenis lingkungan
pengendapan tapi umumnya jarang. Bagian tanaman darat seperti kayu, benih dan lain-lain
mungkin ada dalam endapan batupasir baik dalam lingkungan pengendapan kontinen dan
maupun laut.
4. Mineral authigenic
Mineral authigenic merupakan mineral yang belum mengalami transportasi tetapi telah
ditemukan pada tempat di mana mineral tersebut terbentuk. Banyak mineral karbonat
terbentuk secara authigenic, dan mineral lain yang penting yang terbentuk dengan cara ini
adalah glaukonit. Glaukonit terbentuk ketika kecepatan sedimen lambat, dan berguna dalam
analisis stratigrafi , dan karena terbentuk dalam lingkungan pengendapan, penanggalan
radiometri dari kristal glaukonit dapat digunakan untuk menentukan umur endapan.
3. Klasifikasi Batupasir
Karena batupasir mempunyai jenis yang sangat beragam, maka dalam penentuan
namanya tentulah harus digunakan suatu klasifikasi yang jelas dan bisa digunakan secara
internasional. Berikut ini adalah macam-macam klasifikasi untuk batupasir:

Pada umumnya, klasifikasi batupasir menurut Pettijohn (1987), Folk (1974), dan
Gilbert (1982) merupakan klasifikasi yang didasarkan oleh komposisi batupasir tersebut.
Adapun komposisi batupasir ini adalah butiran (terdiri dari fragmen batuan, kuarsa, dan
feldspar), matriks, dan semen. Hasil dari klasifikasi ini menghasilkan beberapa jenis
penamaan batupasir, yaitu batupasir kuarsa (quartz arenite), batupasir arkose (arkoses),
batupasir litik (litharenites), batupasir wacke (greywacke).
1. Klasifikasi batupasir berdasar Pettyjohn

Gambar Klasifikasi Batupasir Menurut Pettyjohn


Dalam membuat klasifikasinya, Pettyjohn memakai dasar komposisi dari batupasir tersebut.
Klasifikasi ini menggunakan dasar segitiga sama sisi dimana setiap sudutnya terdiri dari
kuarsa, fielspar (plagioklas + K. fieldspar) dan fragmen batuan.

1. Luasan segitiga pertama sampai kedua yaitu dimana terdapat kandungan matriks 0 15 %
dinamakan arenit. Untuk klasifikasi selanjutnya, tergantung dari unsur utama penyusun
batuan itu.
a.

Jika unsur utamanya adalah fragmen batuan maka namanya menjadi litarenit atau litik

b.

arenit, yaitu kandungan fragmen batuan kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang lebih 20%.
Jika batuan litik arenit tersebut banyak tercampur mineral kuarsa, maka namanya menjadi

sublitik arenit.
c.
Jika unsur utamanya adalah feldspar, maka namanya menjadi arkosic arenite; yaitu
kandungan feldspar kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang lebih 20 %.
d.
Jika batuan arkosic arenite tersebut banyak mengandung mineral kuarsa, maka namanya
e.

menjadi subarkose.
Kalau kandungan kuarsa sudah sangat banyak (sekitar lebih dari 90 %), maka nama batuan
itu disebut quartz arenit.

2. Luasan segitiga kedua sampai ketiga yakni terdapat kandungan matriks antara 15 % - 75,
batuan yang terdapat di daerah tersebut dinamakan wacke.

Cara penamaanya hampir sama dengan luasan segitiga pertama yaitu:


a. Jika unsur utamanya adalah fragmen batuan maka namanya menjadi lithic wacke atau litik
arenit, yaitu kandungan fragmen batuan kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang lebih 10 %.
b. Jika unsur utamanya adalah feldspar, maka namanya menjadi arkosic wacke; yaitu
kandungan feldspar kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang lebih 10 %.
c. Kalau kandungan kuarsa sudah sangat banyak (sekitar 90 %), maka nama batuan itu
disebut quartz wacke.
3. Luasan segitiga ketiga dan seterusnya yakni terdapat kandungan matriks lebih dari 75 %;
batuan yang terdapat di daerah itu disebut mudstone.

Cara penamaan dan pembacaan:

a. Jika unsur utamanya adalah fragmen batuan maka namanya menjadi lithic mudstone, yaitu
kandungan fragmen batuan kurang lebih 50 % dengan kuarsa kurang lebih 30 %.
b. Jika unsur utamanya adalah feldspar, maka namanya menjadi arkosic mudstone; yaitu
kandungan feldspar kurang lebih 50 % dengan kuarsakurang lebih 30 %.
c. Kalau kandungan kuarsa sudah sangat banyak (sekitar lebih dari 70 %), maka nama batuan
itu disebut quartz mudstone.
2. Klasifikasi batupasir menurut Gilbert (1982)

klasifikasi batupasir dari Dott (1964) yang dimodifikasi oleh Giilbert (1982)
skema diatas hampir sama dengan toblerone nya pettijohn (1975) tetapi beda kadar
persentase matrik pengisinya saja, di pettijohn matrik sampai 15% batupasirnya masih bisa
dibilang arenite, tapi di Dott (1962 dalam Guilbert 1982) batupasir dikatakan arenite jika
matriknya kurang dari 5%. untuk komposisi komponen QFL nya, kuarsa minimal 90%
artinya yang lain (Feldspar dan Litik) minimal 10% untuk memenangkan nama feldspathic
atau litik di depan.
3. Klasifikasi batupasir berdasar Folk (1974)

pada klasifikasi folk kurang lebih ada dua kelompok nama arkos dan arenit, dan
quartzarenite. tetapi kelemahannya matrik diabaikan di folk. kadar matrik digunakan untuk
mengetahui kadar kematangan (maturitas) dari batupasir. pada klasifikasi Folk ini semua
yang berhubungan dengan feldspar (kaya feldspar) maka batuannya akan disebut arkose.
sedangkan untuk rock fragmen, akan jadi arenite dan turunannya. kadar persentase kuarsa
yang cukup tinggi bila mencapai 75% dan kandungan fragmen lain (feldspar dan rock
fragment) menurun maka batuannya diberi nama jadi sub, subarkose dan sublitharenite.
untuk kadar kuarsa >95% dinamakan quartz arenite (bayangin sob semuanya namanya
arenite wackenya gak ada). kemudian pemplotan dilakukan fokus pada tiga komponen
tersebut jadi komponen lain diabaikan berapapun jumlahnya, hingga jumlah ketiganya 100%
untuk diplot pada diagram.
sementara fragmen lain yang tidak dapat diplot dalam diagram (fosil, mineral berat) hanya
dijadikan paramter pembanding untuk formasi batuan lain.
4. Lingkungan Pengendapan

Batupasir Kuarsa (Quartz Arenites): berasosiasi dengan sedimen eolian, beach,

shelf (lingkungan kerak stabil), tingkat kematangan: matang (mature) hingga sangat matang
(supermature), interbedded dengan shallow marine limestone, umumnya memiliki struktur
sedimen lapisan bersilang, mineralogi kuarsa, rijang kuarsit lebih dari 90%, semen silika,

karbonat, hematit. batu pasir yang 90% butirannya tersusun dari kuarsa. Butiran kuarsa dalam
batu pasir ini memiliki pemilahan yang baik dan ukuran butiran yang bulat karena terangkut
hingga jarak yang jauh. Sebagian besar jenis batu pasir ini ditemukan pada pantai dan gumuk
pasir

Batupasir Arkose (Arkoses): memiliki butiran feldspar dengan persentase yang

tinggi, warnanya merah atau merah muda, lingkungan non-marine (sering fluviatil pada iklim
semi-arid), tingkat kematngan: matang (mature) atau submatang (submature), mineralogi:
kuarsa < 90% (rata-rata 50-60%), feldspar > fragmen litik 10-75% (rata-rata 20-40%), semen
karbonat, silika, feldspar, hematit, mineral sulfat (barit, pirit, mineral lempung). Arkose
adalah batu pasir yang memiliki 25% atau lebih kandungan feldspar. Sedimen yang menjadi
asal mula dari Arkose ini biasanya hanya mengalami sedikit perubahan secara kimia.
Sebagian arkose juga memiliki sedikit butiran-butiran yang bersifat coarse karena jarak
pengangkutan yang relatif pendek.

Batupasir Litik (Litharenites): penamaan tergantung dari jenis fragmen butiran

yang hadir, lingkungan deltaik atau fluviatil, mineralogi fragmen litik 10-80%, feldspar,
kuarsa, semen karbonat, silika, mineral lempung, oksida besi, pirit, matriks lempung / klorit
(kalau ada).

BATULEMPUNG
1. Pengertian Batulempung
Batu Lempung (Tanah Liat) adalah salah satu jenis batuansedimen
yang terdiri dari material kaya aluminum dan silika. Mineral penyusun batu
lempung sangat kecil, merupakan mineral yang aktif secara elektrokimiawi, dan
hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop elektron. Batu lempung
membentuk gumpalan keras saat kering, dan gumpalan lengket serta lunak saat
basah. Warna dari Batuan ini biasanya coklat, keemasan, merah, atau abu abu.
Sering dimanfaatkan untuk kerajinan tangan.

2. Penyusun Baulempung
Berbicara komposisi batuan artinya mineralogi dan kimia dari batuan itu.
Mineralogi
sangat sulit mengidentifikasi komposisi penyusun lempung (mineraloginya) paling
mungkin dan gampang menggunakan bantuan mikroskop elektron, adapun pengamatan pake
mikroskop polarisasi di lab yahh.. yang tampak tampak ajalah berikut ini pendekatan dari
berbagai penulis tentang mineralogi batulempung (or mudrock or shale) ini.
Shale (mudrock) secara umum disusun oleh mineral mineral lempung, dan mineral
lain seukuran lempung. Apa saja mineral lempung itu? Secara umum ada 4 kelompok utama
yaitu smektit, ilit, kaolinit, dan klorit (ini yang tipe sekunder paling banyak di alam) yang
primer adalah kelompok kelompok mika (item biotit, dan putih muskovit dari rock forming
mineral bowen). Sebelum membicarakan mineral penyusun lainnya mari fokus pada mineral
lempungnya saja dulu, apa sih mineral lempung itu?
Secara sederhana mineral lempung itu masuk ke dalam kelompok phylosilicate
(mineral yang berlembar lembar) bentuk struktur dari mineral ini adalah berlembar lembar

dan beruikuran sangat halus (makanya coba perhatiin simbol lempung di peta geologi mana
aja pasti berupa garis putus-putus berlapis gitu kan?? Mungkin kesan ini yang menunjukan
bahwa ia itu berlember.. hehe sekedar perspektif jangan dianggap serius.. eh tapi bener loh..).
Shale (mudrock) ini disusun oleh material kristal halus seperti disebutin diatas adalah
mineral mineral lempung (ukuran <1/256 atau antara 1/16-1/256 mm), selain itu ada juga
mineral lain seperti karbonat (kalsit, dolomit, siderit), sulfida (pirit, markasit), oksida besi
(geotit), mienral berat, juga beberapa karbon organik (Boggs Jr, 2006). Kalo kata gue mineral
apa aja bisa sih asal ukurannya segitu.
mineral lain seperti oksida alumunium (selain oksida besi diatas), hidrokseida, zeolit,
sulfat dan sulfida, apatit, mineral berat seperti hornblenda, selain itu ada gelas vulkanik dan
material organik (P.E Potte, Maynard, Prior, 1980; Scheiber et al., 2000 dalam Raymond,
2002).

Contoh sample batuan Mineral mineral penyusun batulempung dari berbagai tempat
versi OBrien dan Slatt, 1990. Untuk kelompok mineral lempung pada kolom kedua diatas
(clay minerals) kemungkinan empat kelompok utama mineral lempung (illit, smektit,
kaolinit, dan klorit). (dalam Boggs, Jr, 2006).
Mineral lempung dalam mudrock termasuk kaolinit; smektit, termasuk montmorilonit,
beidelite (aluminous smectite), dan nontronite (iron smectite); chamosite; ilmenite, mixed
layer (I/S) clay; Mg-bearing clay, termasuk corrensite, sepiolite, dan attapulgite
(palygorskite). Tiap individu lempung yang terbentuk pada kondisi tertentu. Diantra mineral
mineral lempungi ni ada yang teralterasi menjadi illite, klorit, muskovityaitu kelompok

mineral yang mencirikan suatu alterasi diagenetik dan memarfisme lemah dari mudrock.
Sebasgai contoh montmorilonit terubah menjadi illilte, yang mana dapat terreksritalisasi
membentuk muskovit seiring meingkatnya diaganesisi atau metamorfisme. Corrensite
teralterasi menajdi kloirt.
Mineral karbonat hadir pada kondisi tertentu seperti kaslit, dolomit, sideerit, dan
ankerite. Seperti halnya mika setiap mineral ini hadir pada kondisi tertentu. Mienral lain dan
material non mineral juga bisa hadir. Zeolit dijumpai pada batulempung termasuk mineral
mienral seperti phillipsite, clinoptilolite, dan analcite. Oksida besi dan alumunium atau
hidroksidanya seperti hematit, geotit, limonite, gibsite juga bisa hadir. Sulfida yang umum
adalah pyrite dan marcasite, dan sulfat contonya kayak gipsm dan anhidrit. Terus ada juga
mineral asesoirs seperti apatit, plus horndblenda, zirkon dan mineral berat lainnya menjadi
komposisi minor dalam lempung. Gelas volcanic juga umum dalam lumpur, tapi sedikit
dalam mudrock, karena mudah terkonversi menjadi zeolite, lempung dan mineral lainnya.
(Raymond, 2002 p 344) (mmmmm pantesan banyak zeolit di Tasik ya pak dhe.. ini sebabnya
di kavling sahabat saya master of literature Reza marza dan manzur DJ banyak dijumpai
zeolite yang berasosiasi dengan tuff).
Transportasi, setting tektonik, dan lingkungan pengendapan juga mempengaruhi
kelimpahan mineral dakn komposisi kimia dari sedimen (Raymond, 2002).
Untuk syarat lingkungan diatas, air teroksigenasi akan menghasilkan mineral
teroksidasi sepreti hamtit dan manganoan calcite, sementara air anoxic (eweuh oksigen na)
akan menghasilkan mineral sulfidic seperti pyrite. Khususnya pad alingkungan saline
(banyak larutan garam kayak air laut lah contonya ya pak dhe) kemuungkinan hadirnya zeolit
seperti erionite, chabazite, dan phillipsite terbentuk (Sheppard dan Gude, 1968; Surdam dan
Eugster, 1976). Secara umum, kaolinit cenderung mendominasi ke arah shoreward (proximal)
menuju basin (cekungan), dan palygorkskite (Parham, 1960). Kuarsa dan feldspar juga
cenderung melimpah ke arah proks8imal karena sifat proksimitas source terrain (semakin
melimpah). Jumlah signifikan dari kuarsa, bagaimanapun juga dapat mengalami proses
diagenetis dan dueerrr terubah lagi.. (Scheiber et al., 2000 gak pake dueer sob).
Perbedaan transportasi versus ujan sedimen (sediment rain) ditunjukan oleh aksi
aurs trubditit dan hemipelagic mud yang mengisi abysal plain (laut dalam). Hemiplagic mud
mengandung lempung dan mineral Mg carbonate, termasuk dolomit, semenatra mudrock
pada perlapisan turbidit, kaya akan illite, kuarsa dan kalsit.
Cekungan marin dan kontinental dari berbagai jenis yang mana juga menghasilkan
arus turbidit dapat bekerja (darat di danau contohnya laut ya lereng laut ojaaaan) terbentuk
sebagai fungsi setting tektonik (syarat kedua diatas), setting tektonik mengontorl source dari
sedimen, juga lingkungan pengendapan dan recycle dari sedimen. Sebagai contoh Garver dan
Scott (1995) menemukan bahwa, pada lingkungan yang secara tektonik aktif seperti pada
mesozoic pacific northwest (barat laut pasifik), migrasi crustal block (source area nya)
menghasilkan perubahan komposisi shale dari waktu ke waktu pada cekungan yang
berdekatan (menempati daerah tersebut). Semetnara itu Cox et al (41995) mengamati
mudrock di Colorado Province (Amrik) mengemukakan bahwa komposisi mudrock berubah
dari waktu ke waktu bukan hanya sebagai respon terhadap evolusi (erosi) dari source terrain,
tapi juga sebagai respon terhadap pelapukan dan recycle dari material sedimen yang lebih tua.

Berikut ini adalah bukti umum komposisi mudrock berubah seiring perubahan (berjalannya)
waktu geologi. Smektit melimpah pada mud dan shale kuarter, tapi pada era kenozoik yang
melimpah justru illite (>50%) dan smektit hanya sedikit saja (kata pak raymond, 2002).
Sementara itu variasi kimia dari berbagai jenis lempung juga signifikan, termasuk perubahan
kandungan K2O yang kaya pada batulempung lebih tua dibandingin sama yang lebih muda,
terus kadar CaO yang banyak di yang muda dan habis gak ada di lempung yang lebih tua.
Perubahan perubahan ini merupakan respon proses diagensis dalam batuan yang mana unsur
unsur dan senyawa tidak stabil akan hilang dan terganti yang baru. Smektit yang mendaung
kalsium terkonversi menjadi illite yaitu jenis mineral baru yang membawa larutan (bearing)
oksida potasium (K2O). penjelasan lain yang mengontrol perubahan kimia ini (selain
diagentic process) adalah perubahan kontrol giologi dari pelapukan seiring waktu berjalan
dan perbuahan kontrol tektonisme, vulkanisme, dan iklim (E.G dan Blatt, 1982p291ff.; C.E
Weaver, 1989, 1989 p 563ff.).
Sementara menurut Boggs, Jr (2006) selain proses diagensis (burial diagensisi khususnya),
setting tektonik, lingkungan pengendapan dan provenance (source), udah disebutin semua
diatas ditambah lagi ukuran butir. kuarsa, feldspar dan mineral lempung umumnya
merupakan mineral detritus (terrigen), namun beberapa bagian dari mineral ini juga terbentuk
selama proses diagensis terjadi (grain contact, dissolution, dll sudah dijelaskan sebasgain
kecil sebelumnya mudah mudahan detailnya nanti di postingan berikutnya), secara khusus
mineral lempung hadir secara kuat dipnegaruhi oleh proses diagentis (Boggs, Jr 2006).
Mungkin maksud kontrol ukuran butir menurut Boggs ini lebih ke arah proses diagensis,
masih ingat kan pelajaran kimia SMA?? Apa saja yang mempercepat reaksi kimia? Ada
temperatur (semakin meningkat) dan bidang sentuh permukaan reaktan semakin halus
semakin mudah bereaksi bukan?? Ketika detritus yang diendapkan kasar maka proses
diagensisi yang bekerja pada bidang kontak akan semakin lama berbeda dengan ukuran
butiran yang lebih kecil maka ketika ada larutan fluida yang larut melewati pori (antar ruang
butir) maka reaksi perubahan (alterasi) mineral lain menjadi lempung akan semakin cepat.
Mari perhatikan skema perubahan dari kelimpahan relatif mineral lempung yang umum
terhadap fungsi skala umur geologi menurut Singer A dan G. Muller, 1983 (dalam Boggs, Jr
hal 142).

perhatikan kelimpahan lempung kaolinit dan smektit yang berkurang pada kala mesozoik dan
porsi klorit dan illite cukup stabil dan melimpah (mengalmai pengayaan) hal ini menjelaskan
stabilitas dua mineral lempung yang mengalterasi mineral sebelumnya dan mampu bertahan
pada kondisi diagenetis yang lebih intens.
Kimia
Pembahasan mengenai kimia mudrock dibagi dua yaitu kimia organik dan anorganik dalam
kompsisi kimianya dan warna dari lempung itu sendiri yang mencirikan karakterisitik
kimianya. Penulisnya ini bodoh dibagi tiga maksudnya komposisi kimia inorganik dan
organik dari mudrock, dan warna dari mudrock. Sebentar kenapa dibagi dua inorganic dan
organic?? Karena karakter kimia dari dalam mudrock ini merupakan fungsi dari komposisi
mienraloginya (Raymond, 2002). Jika ternyata isinya karbonnya banyak (batubara) kan beda
atuh genetiknya sama yang kaya fosfat atau kaya feldspar. Kenapa warna itu penting kan
dibatuan lain gak begitu dibahas? Begini pak dhe yang suka garuk garuk di belangkon rumah
Kimia inorganik
Mudrock adalah batuan silisiklastik. Maka kandungan kimia inorganiknya dominan SiO2
(Raymond, 2002). Menurut Boggs, kandugnan kedua yang umum dari senyawa oksida dalam

lempung adalah Al2O3 yang kelimpahannya nomer dua paling banyak setelah SiO2. Sama
kayak batupasir menurut Boggs, SiO2 ini berasal dan mengalami pengayaan dari butiran
kuarsadan mineral silikat lainnya semetnara pengayaan Al2O3 secara umum kaya pada
mineral lempung (filosilikat) dan feldspar. Fe dalam shale berasal dari mineral oksida besi
(hematit, geotit), biotit, dan beberapa mineral seperti siderit, ankerit, dan smektit (semuanya
mineral lempung). Kelimpahan K2O dan MgOberhubungan dengan kelimpahan mineral
lempung dalam komposisinya, meskipun Mg dpaat berasal dari dolomit dan K dari feldspar.
Kelimpahan Na berhubungan dengan mineral lempung (seperti smektit) dan sodium
plagioklas (Na plag).

Kimia lempung dari berbagai sumber (dalam Boggs, Jr, 2006)


Menurut Raymond keberagaman jenis material dalam batulempung kelimpahan kuarsa,
organic debris, carbonate mineral, evaporite mineral seperti halit dan gipsum, matrerial
fosfatik, dan oksida dan hidroksida besimenunjukan bahwa kimia mudrock variasinya
cukup luas seperti pada tabel tabel yang ditunjukin dibawah ini.
Kimia Organik
Karbon organik, oleh Gautier (1986) menggunakan hubungan sulfur untuk mengetahui
karakteristik mudrock, yang mana sulfur ini merupakan suatu kandungan yang umum dalam
mudrock. shale, memiliki kandungan organik 2.1 % (Degens, 196, p 202), tapi bisa mencapai
hingga kisaran 35% (Bradley, 1948; Simoneit, 1974; Claypool, Love, dan maugham (1978)
dan lain lain). Karbon organik ini menghasilkan endapan batubara (berasal material
tumbuhan yang terkonsentrasi dalam jumlah besar) dan minyak (dimana material organik
amophous melimpah). Apapun sumber asal dari sumber organik dari organik debris, terdapat
juga aksi mikroba yang dihasilkan oleh bakteri dan fungi yang merubah komposisi kimia dari
material (Ourrion, Albrecht, danRohmer, 1984).
Kandungan organik dari sedimen beragam. Termasuk senyawa amino, karbohidrat dan
turunanya, lipid, isoprenoid, steroid, senyawa heterocyclic, fenol, quinones, senyawa basah,
hidrokarbon, dan aspal (Degens, 1965 hal 2). Lipid merupakan rantai panjang dari asam
karboksil, khususnya pada tumbuhan dan lemak hewan. Sementara kerogen merupakan suatu

senyawa yang halus, berwaran coklat (brown) sampai hitam, tidak laurt, secara umum
disusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen, plus or minus sulfur. Baik lipid
maupun kerogen merupakan dua jenis material organik yang penting dalam mudrock.
(Fporsman dan Hunt, 1958)
Khususnya jenis senyawa organik dan rasio senyawa ini berguna untuk mencirkan sumber
sedimen dan sejaarah pemanasan (thermal history) dari mudrock. dalam material keseluruhan
dari mudrock (diantara lipid dan kerogen), indikator molekul penyusunnya dapat menjadi ciri
atau indikator untuk menentukan source dari mudrock. sebagai contoh lipid perlene dapat
menjadi indikator untuk origin terigen (Aizenshtat, 1973; Simoneit, 1976). Sama halnya,
rasio pirstane/phytane mencirikan laminasi mudrock dari derivasi kontental (L.M Pratt,
Claypool, dan King, 1986). Simoneit (1986) menyimpulkan bahwa asal muasal dari material
organic debris pada batuan cretaceous di laut, adalah terrestrial (darat) dan marine. Adal
muasal ini semakin susah diuraikan lagi seiring meningkatnya kontrol diagensisi, yang bisa
mempengaruhi perubahan rasio unsur dan karena penambahan lipid (Ourrison, Albrecht, dan
Rohmer, 1984).
Perbedaan antara batuan mudrock yang kaya akan karbon organik (dengan mudrock lain)
yang akaya karbon ini dinamakan black shale. Secara luas didistribusikan dalam rekaman
geologi, dan secara khusus merupakan produk dari pengendapan amrin cretaceous. Dan
pengendapan devon marine di antartika utara. Hipotesis bahwa shale dari matrial sedimen
kaya organik merupakan anoxic bottom dari tubuh air secara umum telah dapat diterima.
Bukti karbon biomolekular, dihasilan oleh bakteri sulfur hijau, dalam black shale yang
terbentuk pada utara samudra atlantik, mendukung hiptoesis ini bahwa pada pertengahan
cretaceous di laut ini merupakan anoxic (Sinninghe Damste dan Koster, 1998) dan black
shale pada atlantik jurassik dan cretaceous black shale diidentifikasi kedalam tiga tipe matrial
organik (Tasot et al, 1980; B.J Katz dan Pheifer, 1986):
1. material organik marine yang terpreservasi baik, dengan nilai tinggi secara relatif dari rasio
Hidrogen/karbon (H/C) berada pada kisaran 1.2 dan nilai Oksigen/karbon (O/C) dalam
kerogen yaitu kurang dari 0.15
2. material organik terpreservasi secara moderat dari terresrial origin (dari darat atau
kontinen) dengan nilai H/C sekitar 0.85 dan nialai O/C dalam kerogen yang bisa mencapai
0.3
3. matrial organik terdaur (recycled) atau teralterasi, dengan nilai H/C kurang dari 0.7 dan
O/C yang bervariasi, dan variasi ini cukup luas sifatnya.
Fakta yang menunjukan proporsi relatif dari tipe ini berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain
pada level stratigrafi tertentu, mengindikasikan bahwa origin dari kandungan sedimen dalam
mudrock juga bervariasi. Menurut B.J Katz dan Pheifer (198/6) bahwa kondisi anoxic tidak
diperlukan bagi formasi black shale. Pendapat ini diterima secara luas. Rapid burial, aktivitas
organik yang tinggi, kondisi rekduksi, dan senyawa organik yang presisten serta metastabil
dapat menjadi komponen yang melimpah secara lokal dalam membentuk formasi blackshale
yang besar. (Raymond, 2002).
3. Lingkungan Pengendapan dan keterdapatan Shale (mudrock)

mudrock dapat hadir pada setting lingkungan apapun dimana sedimen halus melimpah
dan energi air cukup lemah sehingga memudahkan settling (terendapnya) material suspensi
halus ini berupa silt dan clay (Boggs, Jr., 2006 144). shale secara khsusu mencirikan
lingkungan laut yang dekat dengan kontinen dimana lantai laut berada dibawah storm wave
base. tapi bisa juga hadir di danau dan air tenang pada bagian tertentu di lingkungan sungai,
dan di lagoon, tidal-flat, dan lingkungan deltaik (Boggs, Je p 145).
sedimen silisiklastik halus yang merupakan produk langsung hasil pelapukan jumlahnya
melebihi partikel sedimen yang lebih kasar saat pelapukan terjadi. karena kelimpahan jumlah
sedimen halus ini maka sedimen halus ini dapat diendapkan pada lingkungan manapun
dimuka bumi dengan arus yang tenang, selama ini diketahui shale merupakan jenis sedimen
yang paling banyak jumlahnya mengisi permukaan bumi perkiraan kasarnya mencapai 50%
total sedimen yang menutupi permukaan bumi, umumnya berselang seling dengan batupasir
atau batugamping pada unit ketebalan yang bervariasi mulai dari beberapa milimiter hingga
puluan meter. bahkan ada yang mendekati satu unit masif shale dapat mencapai ratusan meter
tebalnya. unit shale pada lingkungan laut cukup luas secara lateral persebarannya (terutama
laut dalam).
menurut Raymond (2002) mudrock ini dapat terbentuk di kontinen pada daerah fluvial
floodplains, alluvial fans, playa lake, playa dan sabkhas, swamps, caves, dan lake yang
menunjukan varasi klimatik, topografik, dan lingkungan tektonik tertentu. pada lingkungan
transisi mudrock umumnya terbentuk pada estuari, lagoon, dan marshes. mudrock
terdistribusi secara luas pada daerah shelf dan endapan lerng, juga pada daerah rise
(continental rise), trench, dan basin plain. (Raym0nd, 2002 p 341) bayangin aja hampir
semua lingkungan pengendapan disebutin artinya.. mudrock adalah jenis batuan sedimen
terbanyak yang mengisi permukaan bumi. mantaaab..

terminologi struktur tebal perlapisan pada shale dan siltstone (dalam boggs, 2006)
jadi meski suatu lingkungan memiliki arus yang kuat karena mud pasti ada dimana
kemungkinan terendapkannya mud ini bisa saja terjadi meski berupa layer yang tipis. pada
lingkungan shelf yang dekat kontinen dimana arus pasang surut terjadi mud bisa saja dibawa
oleh arus tidal (pasang).