Anda di halaman 1dari 19

Case Report

Wanita 19 tahun dengan Kista Ovarium Sinistra

Penyaji :
Abdurrohman Izzuddin, S.Ked.
Perseptor:
dr. Fonda Octarianingsih Shariff, Sp.OG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN
KOTA BANDAR LAMPUNG
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Case Report :

Wanita 19 tahun dengan Kista Ovarium Sinistra

Penyaji,

Abdurrohman Izzuddin, S.Ked

Perseptor,

dr. Fonda Octarianingsih Shariff, Sp.OG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN
KOTA BANDAR LAMPUNG
2016

ii

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Nn. L

Med.Rec/Reg : 07-05-91
Umur

: 19 Tahun

Suku bangsa : Jawa, Indonesia

II.

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

:-

Alamat

: Pangkal Mas Mulya Rt.009/001 Mesuji

MRS

: 29 Juli 2016 pukul 14.00 WIB

ANAMNESIS
1. Keluhan Utama :
Nyeri perut bagian kiri bawah
2. Riwayat Perjalanan Penyakit :
Os datang ke poliklinik RSPBA dengan keluhan nyeri di perut bagian kiri
bawah. Nyeri dirasakan + 2 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan semakin
memberat apabila haid. Os juga mengeluhkan benjolan di perut sebelah
kiri yang dirasakan sejak 1 tahun yang lalu. Keluarnya darah dari jalan
lahir disangkal. BAB dan BAK lancar tidak terdapat gangguan.
3. Riwayat Perkawinan :
Belum menikah
4. Riwayat Reproduksi :
G0P0A0. Riwayat menarche usia 11 tahun, siklus teratur, lama siklus 28
hari, lama haid 6 hari, banyaknya 2-4 pembelut perhari, disminore (+)
5. Riwayat Kehamilan/Melahirkan : 6. Riwayat Pemeriksaan Kehamilan : 7. Riwayat Kontrasepsi : -

8. Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien mengaku tidak pernah menderita suatu penyakit atau dilakukan
perawatan di Rumah Sakit.
9. Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien mengaku tidak ada penyakit yang diderita pada keluarga kandung.
10. Riwayat Kebiasaan :
Pasien mengaku tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol,
obat-obatan atau merokok.
11. Riwayat Gizi / Sosioekonomi :
Tinggi Badan

: 150 cm

Berat Badan

: 40 kg

Status Gizi

: Kurang (IMT 17,78)

12. Riwayat Alergi : -

III.

STATUS GENERALIS
1. Kesadaran

: Compos Mentis

2. Keadaan Umum : Baik


3. Tanda Vital
Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 81x/mnt, reguler, kuat

Pernafasan

: 22x/mnt

Suhu

: 35,1C, aksiler.

4. Pemeriksaan Fisik Umum


Kepala
Bentuk kepala

: Normosefali, Tidak ada deformitas

Rambut

: Warna hitam, Distribusi merata, Tidak mudah dicabut

Wajah

: Simetris, Tidak ada deformitas

Mata

: Kelopak mata oedem (-), Konjungtiva anemis (+/+),


Sklera ikterik (-/-), Pupil isokor (+/+), Refleks cahaya
langsung (+/+)

Telinga

: Normotia, Deformitas (-), Nyeri tekan tragus (-),


Nyeri tekan mastoid (-), Sekret (-)

Hidung

: Pernafasan cuping hidung (-), Sekret (-), Septum


deviasi (-), Mukosa hiperemis (-)

Bibir

: Simetris, Sianosis (-), Mukosa lembab

Mulut

: Tonsil tenang T1-T1, Faring tidak hiperemis, Uvula di


tengah, Oral hygiene baik

Leher
Bentuk

: Simetris, Normal

KGB

: Tidak teraba membesar

Trachea

: Lurus ditengah

Kelenjar tiroid

: Tidak teraba membesar

Toraks
Dinding dada

: Simetris dalam keadaan statis dan dinamis

Paru-paru
Inspeksi

: Gerakan kedua hemithorak simetris saat inspirasi dan


ekspirasi

Palpasi

: Gerakan dada simetris, Hemithoraks tidak tertinggal,


Vokal fremitus kedua hemithoraks sama, Krepitasi (-),
Nyeri tekan (-)

Perkusi

: Sonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-

Jantung
Inspeksi

: Tidak tampak pulsasi ictus cordis, Tidak ada tanda


radang

Palpasi

: Ictus cordis teraba di sela iga V, 2 cm sebelah medial


garis midklavikularis sinistra

Perkusi

: Batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II reguler, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: Cembung, Simetris, Benjolan (+) massa sebesar 2x3


cm, Jejas (-), Linea nigra (-), Striae alba (-)

Palpasi

: Fundus uteri tidak teraba, Teraba massa berukuran


4x5 cm sebasar bola kasti, berbentuk bulat, batas
medial linea mediana anterior, batas superior setinggi
umbilical, batas lateral linea midclavicularis sinistra,
batas inferior symphisis pubis, permukaan rata,
mobile, berbatas tegas, konsistensi kistik, Nyeri tekan
(+), nyeri lepas (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) 3 kali/menit

Ekstremitas
Akral hangat pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, Oedem tungkai -/-,
Varises (-), Refleks fisiologis +/+, Refleks patologis -/-.

IV.

STATUS GINEKOLOGI
1. Pemeriksaan Luar
a. Abdomen
Inspeksi

: Cembung, Simetris, Benjolan (+) massa sebesar 2x3


cm, Jejas (-), Linea nigra (-), Striae alba (-)

Palpasi

: Fundus uteri tidak teraba, Teraba massa berukuran


4x5 cm sebasar bola kasti, berbentuk bulat, batas
medial linea mediana anterior, batas superior setinggi
umbilical, batas lateral linea midclavicularis sinistra,
batas inferior symphisis pubis, permukaan rata,
mobile, berbatas tegas, konsistensi kistik, Nyeri tekan
(+), nyeri lepas (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) 3 kali/menit

b. Genitalia Eksterna
Inspeksi

: Benjolan (-), Lesi (-)

Palpasi

: Nyeri (-), Rasa panas (-)

c. Inspekulo
Tidak dilakukan pemeriksaan

2. Pemeriksaan Dalam
Tidak dilakukan pemeriksaan

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. USG
Didapatkan gambaran massa hipoechoik. Massa berukuran 8 x 6,4 cm.

b. Laboratorium : hasil keluar tanggal : 29 Juli 2016


Darah rutin

VI.

Hb

: 10,8 gr%

Hitung jenis

Hematokrit

: 32 %

Trombosit : 379.000/mm3

Leukosit

: 7.300 ul

Masa perdarahan (BT) : 3 menit

Eritrosit

: 3,9 ul

Masa pembekuan (CT) : 12 menit

MCV

: 93 fi

MCH

: 28 pg

MCHC

: 29 g/dl

DIAGNOSIS BANDING
1.

Kista Ovarium

2.

Endometriosis

3.

Kehamilan Ektopik

: 0/0/1/50/44/5

VII.

DIAGNOSIS KERJA
Kista Ovarium

VIII.

TERAPI
a.

R/ Laparotomi

b. IVFD RL gtt xx tpm


c.

Inj. Ceftriaxone 3x1 gr

d. Cek Lab : DL, CT, BT

IX.

e.

Obs. KU, TTV, Skala Nyeri, GCS

f.

Informed Consent

PROGNOSIS

Quo Ad Vitam

: ad bonam.

Quo Ad Functionam

- Fungsi menstruasi:
dubia, ovarium kanan masih dipertahankan, dan belum diketahui
apakah jenis kista mengarah kepada keganasan atau tidak.
- Fungsi reproduksi:
dubia, ovarium kanan masih dipertahankan, dan belum diketahui
apakah jenis kista mengarah kepada keganasan atau tidak.
- Fungsi seksual :
ad bonam, karena tidak ada intervensi pada genitalia eksterna.

Quo ad sanationam:
dubia, karena tergantung dari masih terdapat atau tidaknya faktor risiko
yang dimiliki pasien.

X.

LAPORAN OPERASI
Tanggal Operasi

: 30 Juli 2016

Akut/Terencana

: Terencana

Operator

: dr. Bambang Kurniawan, Sp.OG

Asisten I

: John

Asisten II

: Abdurrohman Izzuddin

Ahli Anestesi

: dr. Wirawan Anggorotomo, Sp.An

Diagnosa Pra Bedah

: Kista Ovarium sinistra

Diagnosa Pasca Bedah

: Post Salfingooforektomi Sinistra a.i. Kista


ovarium sinistra

Jenis Operasi

: Salfingooforektomi Sinistra

Jenis Anestesi

: Spinal

Kategori Operasi

: Besar

Desinfeksi Kulit

: Alkohol dan Povidone Iodine

Laporan Operasi Lengkap

Persiapan pasien

Tindakan anestesi spinal

Tindakan desinfeksi dengan alkohol dan povidone iodine

Insisi mediana inferior + 10 cm

Setelah peritoneum dibuka, tampak massa kistik berukuran 8x6x4 cm


sebagian padat berwarna putih merah kebiruan dengan permukaan
rata tanpa adanya perlengketan dengan jaringan sekitar.

Pada eksplorasi selanjutnya tampak massa berasal dari ovarium kiri.


Diputuskan untuk dilakukan Salfingooforektomi sinistra

Ligamentum infundibulopelvikum kiri di klem, dipotong, dan diikat


secara ligasi ganda. Pangkal tuba kiri, ligamentum ovarii proprium
diklem, diikat, dan dipotong.

Perdarahan dirawat. Setelah yakin tidak ada lagi perdarahan,


8

dilakukan reperitonealisasi

Rongga abdomen dibersihkan dari darah dan bekuan darah,


dilakukan pembilasan dengan NaCl 0,9%

Luka operasi dijahit lapis demi lapis

Perdarahan selama operasi + 300 cc

XI.

FOLLOW UP PASCA OPERASI

Tanggal

Waktu

30/07/2016 12.30
WIB

31/07/2016 06.00
WIB

13.00
WIB

Pemeriksaan

Tindakan

S : Nyeri post operasi


O: KU : baik, CM, TD 110/90
mmHg, N 80x/mnt, RR 18/mnt,
T 36,1C
A: Pasca SOS a.i. Kista
ovarium sinistra

- IVFD RL + Ketorolac
drip xx gtt/mnt
- Inj. Ceftriaxone 3x1
- Pronalges supp
- Cek Hb pasca Op

S : Nyeri post operasi


O: KU : baik, CM, TD 110/80
mmHg, N 83x/mnt, RR
20x/mnt, T 36,2C
A: Pasca SOS a.i. Kista
ovarium sinistra

- IVFD RL + Ketorolac
drip xx gtt/mnt
- Inj. Ceftriaxone 3x1
- Pronalges sup

BLPL

Terapi Pulang:
- Asam mefenamat 3x1
- Cefadroxil 3x1

Laboratorium Pasca Operasi : hasil keluar tanggal : 31/07/2016


Darah rutin

XII.

Hb

: 10,2 gr%

Hematokrit

: 27 %

Leukosit

: 6,600 ul

Trombosit

: 269.000/mm3

Hitung jenis

: 0/0/1/75/15/10

DIAGNOSIS AKHIR
Pasca Salfingooforektomi Sinistra a,i. Kista Ovarium Sinistra

10

XIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


1.

Histopatologi PA

2.

Pemeriksaan serum CA-125

XIV. PERMASALAHAN

XV.

1.

Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?

2.

Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?

3.

Bagaimanakah prognosis pada pasien ini?

ANALISIS KASUS
1.

Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?


Dalam pengertian luas, tumor ovarium mencakup pembengkakan
ovarium, yang biasanya dapat dipikirkan suatu neoplasma. Tetapi, tumor
ovarium dapat pula berupa kista fungsional (non neoplastik). Dari sudut
diagnosis, semuanya merupakan massa adneksa yang terkadang sulit
untuk dapat memastikan bahwa tumor berasal dari ovarium.1
Pada anamnesa harus dibedakan apakah timbul benjolan di perut
dalam waktu lama atau cepat, disertai gangguan haid atau tidak, apakah
terdapat gangguan BAK atau BAB, nyeri perut, riwayat menarche, usia
saat menikah, mempunyai berapa anak sehingga dapat mengarahkan
diagnosis apakah bersifat jinak atau ganas. Pada pemeriksaan fisik harus
ditentukan

karakteristik

massa

tersebut

secara

cermat.

Dengan

pemeriksaan luar dan dalam, lokasi, ukuran, bentuk, konsistensi, batas,


permukaan, mobilitas, dan nyeri tekan pada tumor dapat ditentukan.1
Pada kasus ini didiagnosa sebagai kista ovarium dan dari hasil
anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan:
1. Didapatkan usia penderita 19 tahun. Pada masa usia reproduktif
massa ovarium yang paling sering terjadi adalah massa ovarium
yang jinak. 80-85% tumor ovarium adalah jinak, 2/3 nya terdapat

11

pada usia 20-44 tahun. Kemungkinan tumor ovarium menjadi ganas


pada wanita kurang dari 45 tahun adalah 1:15. Massa neoplasma
lebih dari 80% adalah kista teratoma (kista dermoid) yang terjadi
pada usia reproduksi dengan usia median 30 tahun. Peningkatan
resiko tumor epitel seiring dengan peningkatan usia. Studi terbaru
menyimpulkan bahwa kista teratoma jinak adalah yang paling
sering, 66% dari tumor jinak pada wanita <50 tahun. Tumor serosa
hanya 20%, umumnya jinak, tetapi 5-10% berpotensi ke arah
keganasan borderline dan 20-25% menjadi ganas. Sedangkan untuk
tumor musinosum hanya 5-10% yang menjadi ganas.
2. Dari anamnesa didapatkan massa sejak 1 tahun yang lalu, yang baru
disadari pasien ketika massa tersebut muncul ke permukaan perut
dan membentuk benjolan. Ini menunjukkan bahwa awalnya pasien
tidak merasakan adanya massa, dikarenakan pertumbuhannya yang
tidak terlalu cepat.
3. Massa disertai dengan rasa nyeri, ini menunjukkan bahwa dapat
dipertimbangkan adanya komplikasi penyerta, di antara nya adalah
torsio, ruptur, perdarahan ke dalam kista, dan supurasi.
4. Dari pemeriksaan fisik, teraba massa di abdomen bawah regio
abdominalis lateralis dan inguinalis berbentuk bulat seukuran bola
kasti, posisi sentral, berbentuk bulat, permukaan rata, mobile,
berbatas tegas, konsistensi kistik, nyeri tekan (+), ascites (-).
5. Dari hasil USG didapatkan bayangan kista ovarium, berukuran 8 x
6,4 cm. Neovaskularisasi (-). Hal ini menunjukkan bahwa pada
kistanya tidak mengarah kepada keganasan, walaupun belum dapat
dipastikan.
Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pada pasien ini
diagnosis kista ovarium sudah tepat, dilihat dari segi usia pasien dengan
insidensi kista ovarium, faktor resiko yang dimiliki pasien, gejala yang
12

ada, dan karakteristik dari massa yang ditemukan mengarah kepada


diagnosis tumor ovarium neoplastik tipe kistik, dan belum bisa ditentukan
apakah termasuk keganasan atau bukan.

Gambar 1. Kista Ovarium2

2.

Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?


Tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor ovarium
nonneoplastik tidak. Jika tumor ovarium tidak memberikan gejala atau
keluhan pada penderita dengan diameter kurang dari 5 cm kemungkinan
besar adalah tumor non neoplastik. Tidak jarang tumor tersebut
mengalami

pengecilan

spontan

dan

menghilang,

sehingga

pada

pemeriksaan ulang setelah beberapa minggu dapat ditemukan ovarium


yang kira-kira besarnya normal.1
Oleh sebab itu sebaiknya ditunggu 2-3 bulan sementara mengadakan
pemeriksaan ginekologi berulang. Jika selama kurun waktu observasi
dilihat peningkatan pertumbuhan tumor tersebut, kemungkinan besar
tumor tersebut bersifat neoplastik dan dapat dipertimbangkan pengobatan
operatif. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas
ovarium dan menghilangkan kista.1
13

Penatalaksanaan kista ovarium tergantung pada beberapa faktor,


termasuk ukuran, jenis kista, usia, kondisi kesehatan umum, rencana
kehamilan, gejala yang dialami, masih menstruasi atau tidak. Biasanya
dapat diberikan terapi hormon untuk mengecilkan kista ovarium. Tetapi
hormon juga memberikan perlindungan terhadap kista ovarium maligna.
Kista ovarium dapat dihilangkan dengan memanipulasi tubuh seakanakan terjadi kehamilan. Ketika hamil tidak terjadi ovulasi, tidak ada
folikel dan tidak ada kista ovarium. Dengan menggunakan progesteron
alami pasien dapat memanipulasi tubuh seakan-akan terjadi kehamilan
dan mencegah kista ovarium berkembang.1
Progesteron merupakan hormon yang di produksi tubuh selama
pertengahan siklus haid. Progesteron alami secara tidak langsung
memberikan sinyal kepada ovarium untuk berhenti bertelur, yang mana
sama halnya bahwa progesteron alami memerintahkan ovarium untuk
memberikan sinyal kepada kista ovarium untuk berhenti berkembang.
Mekanisme sinyal yang menghentikan ovulasi pada satu ovarium setiap
siklus adalah produksi progesteron pada ovarium yang lain. Jika
progesteron dalam jumlah cukup diberikan pada saat ovulasi, kadar LH
akan terhambat dan kedua ovarium akan menganggap bahwa ovarium
yang lain telah berovulasi sehingga ovulasi tidak muncul. Demikian pula
halnya bahwa kadar tinggi estriol dan progesteron pada kehamilan secara
sukses menghambat aktivitas ovarium selama 9 bulan. Oleh sebab itu,
pemberian progesteron dari hari ke 10 ke 26 pada siklus akan menekan
LH dan efek luteinisasinya sehingga kista ovarium tidak akan terstimulasi
dan akan mengecil kemudian menghlang tanpa penanganan lebih lanjut.1

14

Adapun indikasi operasi pada kista ovarium adalah :


1. Kista berdiameter lebih dari 5 cm, dan telah diobbservasi selama
6 8 minggu tanpa ada pengecilan tumor.
2. Ada bagian padat dari dinding tumor.
3. Dinding tumor bagian dalam berjonjot.
4. Kista lebih besar dari 10 cm disertai ascites
5. Adanya kista torsi atau ruptur kista
Tindakan operatif pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas
adalah pengangkatan tumor dengan kistektomi bila masih ada jaringan
ovarium yang sehat. Akan tetapi jika tumornya besar atau terdapat
komplikasi dapat dilakukan tindakan ovarektomi atau pengangkatan
ovarium, biasanya disertai pengangkatan tuba (salfingooforektomi). Pada
saat operasi kedua ovarium harus diperiksa untuk mengetahui apakah
terdapat keganasan atau tidak. Jika terdapat keganasan dan ditemukan
tumor pada usia lebih 50 tahun operasi yang tepat adalah histerektomi dan
salpingo-ooforektomi billateral. Akan tetapi untuk wanita muda yang
masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganassan yang
rendah dapat dipertimbangkan untuk dilakukan operasi yang tidak
seberapa radikal.2
Prosedur pelaksanaan pengelolaan pada pasien ini sudah benar, yaitu
dilakukan SOS. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan karena
ukuran kista yang sudah membesar. Pemberian antibiotik, dalam kasus ini
ceftriaxone dan cefadroxil dilakukan sebagai profilaksis terjadinya infeksi
intraoperasi maupun pascaoperasi. Pada kasus ini juga diberikan ketorolac
dan pronalges supp yang ditujukan untuk mengurangi rasa nyeri yang
dialami pasien setelah menjalani operasi.

15

3.

Bagaimanakah prognosis pada pasien ini?


William Helm, C dkk mengatakan bahwa : Prognosis dari kista jinak
sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di jaringan sisa ovarium
atau ovarium kontralateral. Kematian disebabkan karena karsinoma ovari
ganas berhubungan dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan
pasien dengan keganasan ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir.
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41,6 %, bervariasi antara
86,9% untuk stadium FIGO Ia dan 11,1% stadium IV.3

Quo Ad Vitam

Quo Ad Functionam :

: ad bonam.

- Fungsi menstruasi:
dubia, ovarium kanan masih dipertahankan, dan belum diketahui
apakah jenis kista mengarah kepada keganasan atau tidak.
- Fungsi reproduksi:
dubia, ovarium kanan masih dipertahankan, dan belum diketahui
apakah jenis kista mengarah kepada keganasan atau tidak.
- Fungsi seksual

ad bonam, karena tidak ada intervensi pada genitalia eksterna.

Quo ad sanationam:
dubia, karena tergantung dari masih terdapat atau tidaknya faktor
risiko yang dimiliki pasien.

XVI. KESIMPULAN
1.

Diagnosis pada pasien ini sudah tepat

2.

Penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat, namun belum tuntas, karena
belum ada tindakan PA dan pemeriksaan serum CA-125 untuk
mengetahui apakah terdapat keganasan pada pasien ini.

16

DAFTAR PUSTAKA
1.

Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi IV. Jakarta:


Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008.

2.

Mayo Foundation For Medical Education and Research. [cited 2016 Sept. 18].
Available from:http://drugs.com

3.

Helm W.,Ovarian Cysts. [online]. 2005 Sept 16. [cited 2016 Sept. 18].
Available from: http://www.emedicine.com

17

Anda mungkin juga menyukai