Anda di halaman 1dari 34

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Mixing
Mixer merupakan salah satu alat pencampur dalam sistem emulsi sehingga

menghasilkan suatu dispersi yang seragam atau homogen. Terdapat dua jenis
mixer yang berdasarkan jumlah propeler-nya (turbin), yaitu mixer dengan satu
propeller dan mixer dengan dua propeller. Mixer dengan satu propeller adalah
mixer yang biasanya digunakan untuk cairan dengan viskositas rendah. Sedangkan
mixer dengan dua propiller umumnya diigunakan pada cairan dengan viskositas
tinggi. Hal ini karena satu propeller tidak mampu mensirkulasikan keseluruhan
massa dari bahan pencampur (emulsi), selain itu ketinggian emulsi bervariasi dari
waktu ke waktu (Suryani, dkk., 2002).
Pencampuran

merupakan

operasi

yang

bertujuan

mengurangi

ketidaksamaan kondisi, suhu, atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan.
Pencampuran dapat terjadi dengan cara menimbulkan gerak di dalam bahan itu
yang menyebabkan bagian-bagian bahan saling bergerak satu terhadap yang
lainnya, sehingga operasi pengadukan hanyalah salah satu cara untuk operasi
pencampuran. Pencampuran fasa cair merupakan hal yang cukup penting dalam
berbagai proses kimia. Pencampuran fasa cair dapat dibagi dalam dua kelompok.
Pertama, pencampuran antara cairan yang saling tercampur (miscible), dan kedua
adalah pencampuran antara cairan yang tidak tercampur atau tercampur sebagian
(immiscible). Selain pencampuran fasa cair dikenal pula operasi pencampuran fasa
cair yang pekat seperti lelehan, pasta, dan sebagainya; pencampuran fasa padat
seperti bubuk kering, pencampuran fasa gas, dan pencampuran antar fasa.
Mixer merupakan proses mencampurkan satu atau lebih bahan dengan
menambahkan satu bahan ke bahan lainnya sehingga membuat suatu bentuk yang
seragam dari beberapa konstituen baik cair padat, padat padat , maupun cair gas. Komponen yang jumlahnya lebih banyak disebut fasa kontinyu dan yang
lebih sedikit disebut fasa disperse. (Fellows, 1988).

Universitas Sumatera Utara

2.1.1

Proses Pencampuran

Proses pencampuran dalam fasa cair dilandasi oleh mekanisme perpindahan


momentum di dalam aliran turbulen. Pada aliran turbulen, pencampuran terjadi
pada 3 skala yang berbeda, yaitu:
1. Pencampuran sebagai akibat aliran cairan secara keseluruhan (bulk flow) yang
disebut mekanisme konvektif.
2. Pencampuran karena adanya gumpalan-gumpalan fluida yang terbentuk dan
tercampakkan di dalam medan aliran yang dikenal sebagai eddies, sehingga
mekanisme pencampuran ini disebut eddy diffusion.
3. Pencampuran karena gerak molekular yang merupakan mekanisme
pencampuran difusi.
Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling
menentukan adalah eddy diffusion. Mekanisme ini membedakan pencampuran
dalam keadaan turbulen daripada pencampuran dalam medan aliran laminer.Sifat
fisik fluida yang berpengaruh pada proses pengadukan adalah densitas dan
viskositas.
Pengadukan dan pencampuran merupakan operasi yang penting dalam
industry kimia. Pencampuran (mixing) merupakan proses yang dilakukan untuk
mengurangi ketidakseragaman suatu sistem seperti konsentrasi, viskositas,
temperatur dan lain-lain. Pencampuran dilakukan dengan mendistribusikan secara
acak dua fasa atau lebih yang mula-mula heterogen sehingga menjadi campuran
homogen. Peralatan proses pencampuran merupakan hal yang sangat penting,
tidak hanya menentukan derajat homogenitas yang dapat dicapai, tapi juga
mempengaruhi perpindahan panas yang terjadi. Penggunaan peralatan yang tidak
tepat dapat menyebabkan konsumsi energi berlebihan dan merusak produk yang
dihasilkan. Salah satu peralatan yang menunjang keberhasilan pencampuran ialah
pengaduk.
Hal yang penting dari tangki pengaduk dalam penggunaannya antara lain:
1.

Bentuk : pada umumnya digunakan bentuk silindris dan bagian bawahnya


cekung.

2. Ukuran: yaitu diameter dan tinggi tangki

Universitas Sumatera Utara

3. Kelengkapannya:
a. ada tidaknya baffle, yang berpengaruh pada pola aliran di dalam tangki

Gambar.2.1 pengaduk memakai baffle


b. jacket atau coil pendingin/pemanas yang berfungsi sebagai pengendali
suhu.
c. Letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu.
d. Kelengkapan lainnya seperti tutup tangki, dan sebagainya.
Prinsip pencampuran bahan banyak diturunkan dari prinsip mekanika
fluida dan perpindahan bahan, karena pencampuran bahan akan ada bila terjadi
gerakan atau perpindahan bahan yang akan dicampur baik secara horizontal
ataupun vertikal. Ada dua jenis pencampuran, yaitu (1) pencampuran sebagai
proses terminal sehingga hasilnya merupakan suatu bahan jadi yang siap pakai,
dan (2) pencampuran merupakan proses pelengkap atau proses yang mempercepat
proses lainnya seperti pemanasan, pendinginan atau reaksi kimia.
Aliran yang terjadi di dalam bahan diperkirakan berupa seperti pada
gambar berikut sehingga pencampuran akan terjadi dengan cepat dan teratur.
pandangan depan

pandangan lintang

Gambar 2.2 Aliran yang terjadi dalam bahan

Universitas Sumatera Utara

Kebutuhan tenaga yang diperlukan untuk mencampur suatu jumlah


tertentu bahan (cairan) tergantung pada viskositas cairan tersebut. Selain itu
kecepatan mixer juga berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan bahan-bahan
tersebut. Mixer dengan kecepatan rendah biasanya digunakan untuk cairan dengan
viskositas tinggi dimana campurannya pekat, licin dan sebagainya. Kecepatan
tinggi biasanya berkisar antara 1400-1800 rpm, kecepatan sedang biasanya adalah
1500 rpm dan kecepatan rendah berkisar antara 100-500 rpm.
Dalam hal mencampurkan dua bahan berbeda kapasitas perlu diperhatikan,
dalam hal ini, untuk Menentukan kapasitas Maksimum dari bejana adukan :

= 2 H ..................................................................
4

Pers.1

Menghitung kapasitas dari adukan :

Dimana :

V = 4 . 2 . Z .......................................................

Pers.2

Q = Kapasitas dari Bejana adukan (mm3)


V = kapasitas dari adukan (mm3)
D, Dj = Diameter Bejana (mm)
H, Z = Tinggi dari Bejana (mm)
Setelah menentukan kapasitas daya motor dapat dihitung, Dari beberapa
komponen inilah kita dapat menentukan daya pengaduk. Dari rumus daya
pengaduk dapat dihitung dengan cara :
hp

= (1,29 104 ) ( 1,1 ) (2,72 ) ( 2,86 ) ( 0,3 ) ( 0,6 ) ( ) (0,86 )


(Ir.Sri Wuryani, Hal 152) ...........................................

Pers 3

Daya perencanaan dihitung dengan rumus :


Pd = P . fc ................................................................................

Pers 4

Dimana :

Universitas Sumatera Utara

P = Daya nominal motor (kW)


fc = Faktor koreksi daya
Momen puntir yang direncanakan pada poros pengaduk dapat dihitung
dengan rumus :

Pd =

(2 1 )
1000
60

Dimana :
T

........................................... Pers 5

102

= momen puntir rencana ( kg . mm)

Pd = daya perencanaan (kW)


n1

= putaran normal (rpm)

Menghitung besarnya a (tegangan geser yang diijinkan) untuk pemakaian


umur pada poros dapat diperoleh dengan cara:
a =
dimana :

1 2

............................................................. Pers 6

a = tegangan geser yang diijinkan (kg/mm2)


= kekuatan tarik bahan poros adalah stainless steel
(81,55 kg/mm2)

1 = faktor keamanan yang diambil

2 = faktor keamanan yang diambil

Merencanakan Diameter poros pengaduk, Untuk merencanakan diameter


poros pengaduk dapat dihitung dengan cara :
5,1

dimana :

ds =

1/3

Cb

Pers 7

= Faktor koreksi yang dipilih adalah 1,0

Universitas Sumatera Utara

Cb = Faktor koreksi yang dipilih adalah 1,2


= momen puntir ()

ds = diameter poros motor (mm)


a = tegangan geser yang diijinkan (kg/mm2)
Peralatan pencampur dapat dibagi atau diklasifikasikan atas beberapa
kategori, yaitu:
1. Berdasarkan jenis bahan yang dicampur yaitu alat pencampur liquid, alat
pencampur padat, dan alat pencampur pasta
2. Berdasarkan jenis agitator, yaitu double cone mixer, ribbon blender,
planetary mixers, dan propeller mixers.
2.1.2 Alat Pencampur Bahan Cair/liquid
Bahan cair diaduk untuk mencapai beberapa maksud, diantaranya (Mc
Cabe et al,1985) :
a. Mensuspensikan partikel padatan.
b. Menggabungkan bahan cair yang dapat saling bercampur.
c. Mendispersikan gas dalam bentuk gelembung halus.
d.

Mendispersikan bahan cair lain yang tidak dapat bercampur.

e. Meningkatkan pindah panas antara bahan cair dan sumber panas.


Pengadukan bahan cair umumnya dilakukan dalam suatu bejana, biasanya
berbentuk silinder, yang memiliki sumbu vertikal. Bagian atas dari bejana bisa
terbuka terhadap udara atau dapat juga tertutup. Dasar bejana pada umumnya
dicekungkan, artinya tidak rata, agar tidak dihindari adanya sudut atau bagian
yang tidak bisa dipenetrasi oleh aliran fluida. Sebuah pengaduk (impeller) terakit
pada sumbu yang menggantung ke atas. Sumbu ini digerakkan oleh motor listrik
yang kadang-kadang langsung dihubungkan ke sumbu tetapi lebih sering melalui
kotak gear pengurang kecepatan. Perlengkapan tambahan seperti jalur masuk atau
keluar bahan, coil pemanas, jaket atau termometer rendam atau alat pengukur
suhu lainnya merupakan komponen tetap alat pencampur bahan cair ini.

Universitas Sumatera Utara

Tiga tipe utama impeller adalah propeller (baling-baling), paddles (pedal),


dan turbin. Setiap tipe memiliki banyak variasi dan subtipe. Sekalipun masih
terdapat tipe impeller lain yang juga berguna untuk situasi tertentu, akan tetapi
ketiga tipe tersebut mungkin dapat mengatasi 95% masalah pencampuran bahan
cair yang ada. Untuk pencampuran liquid, propeller mixer adalah jenis yang
paling umum dan paling memuaskan.Alat ini terdiri dari tangki silinder yang
dilengkapi dengan propeller/ blades beserta motor pemutar.
Bentuk propeller, impeller, blades didesain sedemikian rupa untuk
efektifitas pencampuran dan disesuaikan dengan viskositas fluid. Pada jenis alat
pencampur ini diusahakan untuk dihindari tipe aliran monoton yang berputar
melingkari dinding tangki , penambahan sekat-sekat (baffles) pada dinding tangki
juga dapat menciptakan pengaruh pengadukan, namun menimbulkan masalah
karena sulit membersihkannya.
2.1.3

Alat Pencampur Bahan Padat


Pada umumnya, untuk mencampur bahan-bahan berpartikel padat

digunakan mesin pencampur yang lebih ringan dari pada bahan viscous.Dalam hal
ini digunakan ribbon blender dan double cone mixers. Ribbon blender terdiri dari
silinder horizontal yang di dalamnya dilengkapi dengan screw berputar dan
pengaduk pita berbentuk heliks. Dua pita yang bergerak berlawanan dirakit pada
sumbu yang sama. Yang satu menggerakkan padatan perlahan kesatu arah,
sedangkan yang lain menggerakkannya dengan cepat ke arah lain. Pita-pita bisa
kontinyu maupun terputus-putus. Pencampuran dihasilkan oleh turbulensi yang
diinduksi oleh pengaduk yang beraksi berlawanan, jadi tidak oleh gerakan lamban
padatan sepanjang rongga aduk. Beberapa ribbon blender beroperasi secara batch
yaitu dengan membuat padatan sekaligus dan mengaduknya sampai tercampur
rata. Ribbon blender tipe

lain bekerja secara kontinue yaitu bahan padatan

diumpankan pada salah satu ujung rongga aduk dan dikeluarkan pada ujung
lainnya. Ribbon blender adalah pencampur yang efektif untuk tepung tepungan
yang tidak mengalir dengan sendirinya. Beberapa unit batch memiliki kapasitas
yang sangat besar sehingga mampu memuat sampai 9000 galon bahan padat.
Kebutuhan daya umumnya berukuran sedang.

Universitas Sumatera Utara

Hal ini sesuai dengan pendapat Handoko (1992), yang menyatakan bahwa
satu prinsip penerapan untuk mencampur bahan dengan viskositas yang tinggi dan
berbentuk pasta adalah kinerja yang tergantung pada kontak langsung antara
material pencampur dengan bahan yang akan dicampur. Untuk bahan dengan
viskositas tinggi dan berbentuk pasta ini banyak menggunakan model pencampur
seperti:pencampur tipe pancim, pencampur dengan pisau berbentuk z.
Planetery mixer merupakan alat pencampur bahan padat yang bekerja
berdasarkan perputaran planet dimana beater berputar mengitari bowl sedangkan
bowl tidak berputar sehingga menghasilkan adonan yang lembut dan merata.
Aplikasi alat ini adalah pada industri bakery (roti dan kue).
Double cone blender adalah alat pencampur yang terdiri dari 2 kerucut
yang berputar pada porosnya, jika kerucut berputar maka tepung granula berada di
dalam granula yang berada di dalam volume kerucut akan teragitasi dan
tercampur. Pencampuran tipe ini memerlukan energi dan tenaga yang lebih besar.
Oleh karena itu diperhatikan jangan sampai energi yang dikonsumsi diubah
menjadi panas yang dapat menyebabkan terjadinya kenaikan temperatur dari
produk. Jenis alat pencampur adonan kadang-kadang harus dilengkapi dengan alat
pendingin.
Yang umum ditemui yaitu kneader yang berbentuk sigmoid yang berputar
didalam suatu can atau vessel dengan berbagai kecepatan. Prinsip dari alat ini
adalah disamping mencampur juga mengadon yaitu membagi, mematahkan dan
selalu membuat luas permukaan yang baru sesering mungkin terhadap adonan.
2.1.4 Alat Pencampur Bahan Pasta/Viscous
Dibandingkan dengan pencampuran pada bahan cair, proses pencampuran
pada bahan viscous memerlukan tenaga yang lebih banyak. Hal ini disebabkan
oleh kenyataan bahwa pada bahan viscous dan juga bahan padat tidak mungkin
terbentuk aliran yang dapat memindahkan bagian yang belum tercampur ke
daerah pencampuran di sekitar impeller seperti pada pengadukan bahan cair.
Pada pencampuran bahan viscous seluruh bahan yang akan dicampur
harus dibawa ke pengaduk atau pengaduknya sendiri yang mendatangi seluruh

Universitas Sumatera Utara

bagian campuran. Aksi pada mesin-mesin pencampuran merupakan kombinasi


shear berkecepatan rendah, penyapuan (wiping), pelipatan (folding), pelemasan
(stretching), dan penekanan (compressing). Energi mekanik diaplikasikan oleh
komponen-komponen yang bergerak langsung pada massa bahan.
Diantara mesin pencampur pasta yang relatif dikenal adalah change - can
mixer dan kneaders. Change-can mixer merupakan alat yang memiliki wadah
kecil dan dapat dipindah pindahkan sebagai tempat bahan yang akan dicampur.
Wadah ini berukuran sekitar 5 10 galon. Pada pony mixer, pengaduk terdiri dari
beberapa bilah vertical atau jari yang terpasang pada head yang berputar dan
diletakkan di dekat dinding wadah. Pada beater mixer, wadah atau bejana bersifat
stationer. Pengaduknya memiliki gerakan melingkar sehingga ketika berputar
secara berulang mendatangi seluruh bagian dari bejana.
Gerakan pencampuran pada mixer bahan baik secara horizontal maupun
secara vertikal tersebut dapat bervariasi bergantung dari jenis pengaduk/ propeller
yang digunakan, sehingga hasil yang didapat akan bervariasi pula. Peralatan
Pencampur dengan menggunakan satu pengaduk/ propeller biasanya digunakan
untuk mengaduk bahan dengan viskositas rendah, sedangkan peralatan pengaduk
dengan lebih dari satu propeller digunakan untuk mengaduk bahan dengan
viskositas tinggi.
2.2

Jenis Pengaduk (Impeller)


Pengaduk dalam tangki memiliki fungsi sebagai pompa yang menghasilkan

laju volumetrik tertentu pada tiap kecepatan putaran dan input daya. Input daya
dipengaruhi oleh geometri peralatan dan fluida yang digunakan. Profil aliran dan
derajat turbulensi merupakan aspek penting yang mempengaruhi kualitas
pencampuran. Rancangan pengaduk sangat dipengaruhi oleh jenis aliran, laminar
atau turbulen. Aliran laminar biasanya membutuhkan pengaduk yang ukurannya
hampir sebesar tangki itu sendiri. Hal ini disebabkan karena aliran laminar tidak
memindahkan momentum sebaik aliran turbulen [Walas, 1988].
Pencampuran di dalam tangki pengaduk terjadi karena adanya gerak rotasi
dari pengaduk dalam fluida. Gerak pengaduk ini memotong fluida tersebut dan

Universitas Sumatera Utara

dapat menimbulkan arus yang bergerak keseluruhan sistem fluida tersebut. Oleh
sebab itu, pengaduk merupakan bagian yang paling penting dalam suatu operasi
pencampuran fasa cair dengan tangki pengaduk. Pencampuran yang baik akan
diperoleh bila diperhatikan bentuk dan dimensi pengaduk yang digunakan, karena
akan mempengaruhi keefektifan proses pencampuran, serta daya yang diperlukan.
Menurut aliran yang dihasilkan, pengaduk dapat dibagi menjadi tiga golongan:
1.

Pengaduk aliran aksial yang akan menimbulkan aliran yang sejajar dengan
sumbu putaran.

2.

Pengaduk aliran radial yang akan menimbulkan aliran yang berarah


tangensial dan radial terhadap bidang rotasi pengaduk. Komponen aliran
tangensial menyebabkan timbulnya vortex dan terjadinya pusaran, dan dapat
dihilangkan dengan pemasangan baffle atau cruciform baffle.

3.

Pengaduk aliran campuran yang merupakan gabungan dari kedua jenis


pengaduk di atas. Menurut bentuknya, pengaduk dapat dibagi menjadi 3
golongan:Propeller, Turbine, Paddles.
Gerakan pencampuran pada mixer bahan baik secara horizontal maupun

secara vertikal tersebut dapat bervariasi bergantung dari jenis pengaduk yang
digunakan, sehingga hasil yang didapat akan bervariasi pula. Peralatan Pencampur
dengan menggunakan satu pengaduk biasanya digunakan untuk mengaduk bahan
dengan viskositas rendah, sedangkan peralatan pengaduk dengan lebih dari satu
propeller digunakan untuk mengaduk bahan dengan viskositas tinggi. Untuk
merencanakan Luas kipas dapat dicari dengan menggunakan rumus;
V = P x Lx t............................................... Pers 8
Di mana;
P

= Panjang kipas pengaduk (mm)

= Lebar kipas pengaduk (mm)

= Tebal kipas pengaduk (mm)

Pemilihan pengaduk (impeller) yang tepat menjadi salah satu faktor penting
dalam menghasilkan proses dan pencampuran yang efektif. Pengaduk jenis

Universitas Sumatera Utara

baling-baling (propeller) dengan aliran aksial dan pengaduk jenis turbin dengan
aliran radial menjadi pilihan yang lazim dalam pengadukan dan pencampuran.
Secara umum, terdapat empat jenis pengaduk yang biasa digunakan, yaitu
pengaduk

balingbaling (propeller),

pengaduk

turbin (turbine),

pengaduk

dayung (paddle)
2.2.1

Pengaduk jenis baling-baling (Propeller)


Kelompok ini biasa digunakan untuk kecepatan pengadukan tinggi dengan

arah aliran aksial. Pengaduk ini dapat digunakan untuk cairan yang memiliki
viskositas rendah dan tidak bergantung pada ukuran serta bentuk tangki. Kapasitas
sirkulasi yang dihasilkan besar dan sensitif terhadap beban head. Dalam
perancangan propeller, luas sudu biasa dinyatakan dalam perbandingan luas area
yang terbentuk dengan luas daerah disk. Nilai nisbah ini berada pada rentang 0.45
sampai dengan 0.55.
Pengaduk propeler terutama menimbulkan aliran arah aksial, arus aliran
meninggalkan pengaduk secara kontinu melewati fluida ke satu arah tertentu
sampai dibelokkan oleh dinding atau dasar tangki. Ada beberapa jenis pengaduk
atau impeller yang biasa digunakan, yaitu:
a. Marine propeller
b. Hydrofoil propeller
c. High flow propeller

Gambar 2.3 Jenis Pengaduk propeller

Universitas Sumatera Utara

Baling-baling ini digunakan pada kecepatan berkisar antara 400 hingga


1750 rpm (revolutions per minute) dan digunakan untuk cairan dengan viskositas
rendah.
Menghitung gaya pada sudu pengaduk, Gaya atau kakaks adalah apapun
yang dapat menyebabkan sebuah benda bermassa mengalami percepatan. gaya
sentripetal adalah gaya yang membuat benda bergerak melingkar, sehingga pada
perencanaan ini dapat dihitung gaya sentripetal yang terjadi pada pengaduk.
Untuk menghitung Gaya sentripetal (fs) pada sudu poros penggerak dari
pengaduk,adalah sebagai berikut:
Fs = m.as (Newton) ..............................................................
2

Fs = m

dengan r =

pers 9

untuk mencari percepatan sentripetal (as) pada pengaduk :


as =

dimana :

(m/s2) .......................................................................

pers 10

v = kecepatan linier pengaduk ( m/s)


r = jari jari pengaduk (blade) (m)
Kecepatan linier (v) pengaduk dapat dihitung :
v=
dimana:


60

(m/s) ...................................................................

pers 11

d = diameter pengaduk ( m)
n = putaran dari poros pengaduk (rpm)

Universitas Sumatera Utara

2.2.2 Pengaduk Jenis Dayung (Paddle)


Pengaduk jenis ini sering memegang peranan penting pada proses
pencampuran dalam industri. Bentuk pengaduk ini memiliki minimum 2 sudu,
horizontal atau vertical, dengan nilai D/T yang tinggi. Paddle digunakan pada
aliran fluida laminar, transisi atau turbulen tanpa baffle.
Pengaduk padel menimbulkan aliran arah radial dan tangensial dan hamper
tannpa gerak vertikal sama sekali. Arus yang bergerak ke arah horisontal setelah
mencapai dinding akan dibelokkan ke atas atau ke bawah. Bila digunakan pada
kecepatan tinggi akan terjadi pusaran saja tanpa terjadi agitasi.
Berbagai jenis pengaduk dayung biasanya digunakan pada kecepatan
rendah diantaranya 20 hingga 200 rpm. Dayung datar berdaun dua atau empat
biasa digunakan dalam sebuah proses pengadukan. Panjang total dari pengadukan
dayung biasanya 60 - 80% dari diameter tangki dan lebar dari daunnya 1/6 - 1/10
dari panjangnya. Beberapa jenis paddle yaitu:
a. Paddle anchor
b. Paddle flat beam basic
c. Paddle double motion
d. Paddle gate
e. Paddle horseshoe
f. Paddle glassed steel (used in glass-lined vessels)
g. Paddle finger
h. Paddle helix
i. Multi paddle

Gambar 2.4 Pengaduk Jenis Dayung (Paddle)

Universitas Sumatera Utara

Pengaduk dayung menjadi tidak efektif untuk suspensi padatan, karena


aliran radial bisa terbentuk namun aliran aksial dan vertikal menjadi kecil.Sebuah
dayung jangkar atau pagar, yang terlihat pada gambar 6 biasa digunakan dalam
pengadukan.Jenis ini menyapu dan mengeruk dinding tangki dan kadang-kadang
bagian bawah tangki. Jenis ini digunakan pada cairan kental dimana endapan pada
dinding dapat terbentuk dan juga digunakan untuk meningkatkan transfer panas
dari dan ke dinding tangki. Bagaimanapun jenis ini adalah pencampuran yang
buruk. Pengaduk dayung sering digunakan untuk proses pembuatan pasta kanji,
cat, bahan perekat dan kosmetik.
2.2.3 Pengaduk jenis Turbin (turbine)
Istilah turbine ini diberikan bagi berbagai macam jenis pengaduk tanpa
memandang rancangan, arah discharge ataupun karakteristik aliran. Turbine
merupakan pengaduk dengan sudut tegak datar dan bersudut konstan. Pengaduk
jenis ini digunakan pada viskositas fluida rendah seperti halnya pengaduk jenis
propeller [Uhl & Gray, 1966]. Pengaduk turbin menimbulkan aliran arah radial
dan tengensial. Di sekitar turbin terjadi daerah turbulensi yang kuat, arus dan
geseran yang kuat antar fluida. Salah satu jenis pengaduk turbine adalah pitched
blade. Pengaduk jenis ini memiliki sudut sudu konstan. Aliran terjadi pada arah
aksial, meski demikian terdapat pule aliran pada arah radial. Aliran ini akan
mendominasi jika sudu berada dekat dengan dasar tangki.
Pengaduk turbin adalah pengaduk dayung yang memiliki banyak daun
pengaduk dan berukuran lebih pendek, digunakan pada kecepatan tinggi untuk
cairan dengan rentang kekentalan yang sangat luas. Diameter dari sebuah turbin
biasanya antara 30 - 50% dari diameter tangki. Turbin biasanya memiliki empat
atau enam daun pengaduk.
Turbin dengan daun yang datar memberikan aliran yang radial. Jenis ini
juga berguna untuk dispersi gas yang baik, gas akan dialirkan dari bagian bawah
pengaduk dan akan menuju ke bagian daun pengaduk lalu tepotong-potong
menjadi gelembung gas. Beberapa jenis turbin yaitu:
a. Turbine disc flat blade
b. Turbine hub mounted curved blade

Universitas Sumatera Utara

c. Turbine disc mounted curved blade


d. Turbine pitched blade
e. Turbine bar
f. Turbine shrouded

Gambar 2.5 Pengaduk Turbin pada bagian variasi


Pada turbin dengan daun yang dibuat miring sebesar 450, seperti yang
terlihat pada Gambar 3, beberapa aliran aksial akan terbentuk sehingga sebuah
kombinasi dari aliran aksial dan radial akan terbentuk. Jenis ini berguna dalam
suspensi padatan kerena aliran langsung ke bawah dan akan menyapu padatan ke
atas. Terkadang sebuah turbin dengan hanya empat daun miring digunakan
dalam suspensi padat.Pengaduk dengan aliran aksial menghasilkan pergerakan
fluida yang lebih besar dan pencampuran per satuan daya dan sangat berguna
dalam suspensi padatan.
2.3

Kecepatan Pengadukan
Komponen radial dan tangensial terletak pada daerah horizontal dan

komponen longitudinal pada daerah vertikal untuk kasus tangkai tegak (vertical
shaft). Komponen radial dan longitudinal sangat berguna untuk penentuan pola
aliran yang diperlukan untuk aksi pencampuran (mixing action). Pengadukan pada
kecepatan tinggi ada kalanya mengakibatkan pola aliran melingkar di sekitar
pengaduk. Gerakan melingkar tersebut dinamakan vorteks.
Vorteks dapat terbentuk di sekitar pengaduk ataupun di pusat tangki yang
tidak menggunakan baffle. Fenomena ini tidak diinginkan dalam industri karena
beberapa alasan. Pertama: kualitas pencampuran buruk meski fluida berputar
dalam tangki. Hal ini disebabkan oleh kecepatan sudut pengaduk dan fluida sama.
Kedua udara dapat masuk dengan mudahnya ke dalam fluida karena tinggi fluida
di pusat tangki jatuh hingga mencapai bagian atas pengaduk. Ketiga, adanya

Universitas Sumatera Utara

vorteks akan mengakibatkan naiknya permukaan fluida pada tepi tangki secara
signifikan sehingga fluida tumpah.
Salah satu variasi dasar dalam proses pengadukan dan pencampuran
adalah kecepatan putaran pengaduk yang digunakan. Variasi kecepatan putaran
pengaduk bisa memberikan gambaran mengenai pola aliran yang dihasilkan dan
daya listrik yang dibutuhkan dalam proses pengadukan dan pencampuran. Secara
umum klasifikasi kecepatan putaran pengaduk dibagi tiga, yaitu : kecepatan
putaran rendah, sedang dan tinggi.
2.3.1

Kecepatan Putaran Rendah


Kecepatan rendah yang digunakan berkisar pada kecepatan 100 rpm.

Pengadukan dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak kental,


lumpur dimana terdapat serat atau pada cairan yang dapat menimbulkan busa.
Jenis pengaduk ini meghasilkan pergerakan batch yang empurna dengan sebuah
permukaan fluida yang datar untuk menjaga temperatur atau mencampur larutan
dengan viskositas dan gravitasi spesifik yang sama.
2.3.2 Kecepatan Putaran Sedang
Kecepatan sedang, berkisar pada kecepatan 1150 rpm. Pengaduk dengan
kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental dan minyak pernis.
Kecepatan rendah, berkisar pada kecepatan 400 rpm. Pengaduk dengan kecepatan
ini umumnya digunakan untuk minyak kental, lumpur di mana terdapat serat atau
pada cairan yang dapat menimbulkan busa. Untuk menjamin keamanan proses,
pengaduk dengan kecepatan lebih tinggi dari 400 rpm sebaiknya tidak digunakan
untuk cairan dengan viskositas lebih besar dari 200 cP, atau volume cairan lebih
besar dari 2000 L. Pengaduk dengan kecepatan lebih besar dari 1150 rpm
sebaiknya tidak digunakan untuk cairan dengan viskositas lebih besar dari 50 cP
atau volume cairan lebih besar dari 500 L. Kecepatan pengaduk ditentukan oleh
viskositas fluida dan ukuran geometri sistem pengadukan.
Kecepatan sedang yang digunakan berkisar pada kecepatan 1150 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental
dan minyak pernis. Jenis ini paling sering digunakan untuk meriakkan permukaan
pada viskositas yang rendah, mengurangi waktu pencampuran, mencampuran

Universitas Sumatera Utara

larutan dengan viskositas yang berbeda dan bertujuan untuk memanaskan atau
mendinginkan.
2.3.3 Kecepatan Putaran Tinggi
Kecepatan tinggi yang digunakan berkisar pada kecepatan 1750 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk fluida dengan
viskositas rendah misalnya air. Tingkat pengadukan ini menghasilkan permukaan
yang cekung pada viskositas yang rendah dan dibutuhkan ketika waktu
pencampuran sangat lama atau perbedaan viskositas sangat besar.
2.4

Jumlah Pengaduk
Penambahan jumlah pengaduk yang digunakan pada dasarnya untuk tetap

menjaga efektifitas pengadukan pada kondisi yang berubah. Ketinggian fluida


yang lebih besar dari diameter tangki, disertai dengan viskositas fluida yang lebih
besar dan diameter pengaduk yang lebih kecil dari dimensi yang biasa digunakan,
merupakan kondisi dimana pengaduk yang digunakan lebih dari satu buah,
dengan jarak antara pengaduk sama dengan jarak pengaduk paling bawah ke dasar
tangki. Penjelasan mengenai kondisi pengadukan dimana lebih dari satu pengaduk
yang digunakan dapat dilihat dalam Tabel 2.1
Tabel 2.1. Kondisi untuk pemilihan pengaduk (sumber:Hardjomidjoo,1992)
Satu Pengaduk

Dua Pengaduk

Fluida dengan viskositas rendah

Fluida dengan viskositas sedang dang tinggi

Pengaduk menyapu dasar tangki

Pengaduk pada tangki yang dalam

Kecepatan balik aliran yang tinggi

Gaya gesek aliran besar

Ketinggian permukaan cairan yang

Ukuran mounting nozzle yang minimal

bervariasi

Universitas Sumatera Utara

2.4.1 Pemilihan Jenis Pengaduk


Viskositas dari cairan adalah salah satu dari beberapa faktor yang
mempengaruhi pemilihan jenis pengaduk. Indikasi dari rentang viskositas pada
setiap jenis pengaduk adalah :
a. Pengaduk jenis baling-baling digunakan untuk viskositas fluida di bawah
Pa.s (3000 cP).
b. Pengaduk jenis turbin bisa digunakan untuk viskositas di bawah 100 Pa.s
(100.000 cp).
c. Pengaduk jenis dayung yang dimodifikasi seperti pengaduk jangkar bisa
digunakan untuk viskositas antara 50 - 500 Pa.s (500.000 cP)
d. Pengaduk jenis pita melingkar biasa digunakan untuk viskositas di atas
1000 Pa.s dan telah digunakan hingga viskositas 25.000 Pa.s. Untuk
viskositas lebih dari 2,5 - 5 Pa.s (5000 cP) dan diatasnya, sekat tidak
diperlukan karena hanya terjadi pusaran kecil.

Gambar 2.6 Pola aliran yang dihasilkan oleh jenis-jenis pengaduk yang berbeda,
(a) Impeller, (b) Propeller, (c) Paddle dan (d) Helical ribbon
Tabel 2.2 Daerah Penggunaan Berbagai Tipe Pengaduk Berdasarkan Viskositas
(Sumber:Demal didalam Hardjomidjoo,1992)
Viscositas (Centipoises)
Tipe Pengaduk

10 -4

10-3 10-2

10-1

10-0

101

102

Heliks Berulir
Paddle
Propeller

Universitas Sumatera Utara

Turbin
Keterangan :
Proses Batch

Dari tabel 2.2. Pada Gambar dibawah diperlihatkan pembagian (daerah kegunaan)
Tipe Pengaduk berdasarkan viskositas. Pengaduk turbin dapat diguanakan pada
kisaran viskositas 0,0001 - 5 Pa.s, sedangkan pengaduk baling - balig (propeller)
dapat berkisar 0,0001 - 1 Pa.s
Propeller, turbine dan paddle secara umum digunakan pada sistem yang
kekentalannya rendah dan beroperasi pada putaran dengan kecepatan tinggi.
Kecepatan dari tipe turbine berada pada 3 m/s. Propeller memiliki kecepatan
lebih cepat dan paddle lebih rendah dari tipe turbine.
Secara umum dapat dikelompokkan bahwa propeller, turbine, dan paddle
digunakan untuk mencampur dengan kekentalan rendah, campuran antara cairan
dengan cairan, membubarkan gas dalam cairan dengan kekentalan rendah,
menyingkirkan benda padat pada cairan dengan kekentalan yang rendah. Untuk
anchor, helical ribbon dan helical screw digunakan untuk mencampur dengan
kekentalan tinggi.
2.5

Aliran Fluida
Fluida adalah suatu zat yang dapat mengalir bisa berupa cairan atau gas..

Pemakaian mekanika kepada medium kontinyu, baik benda padat maupun fluida
adalah didasari pada hukum gerak newton yang digabungkan dengan hukum gaya
yang sesuai.
Salah satu cara untuk menjelaskan gerak suatu fluida adalah dengan
membagi bagi fluida tersebut menjadi elemen volume yang sangat kecil yang
dapat dinamakan partikel fluida dan mengikuti gerak masing-masing partikel ini.
Suatu massa fluida yang mengalir selalu dapat dibagi-bagi menjadi tabung aliran,
bila aliran tersebut adalah tunak, waktu tabung-tabung tetap tidak berubah
bentuknya dan fluida yang pada suatu saat berada didalam sebuah tabung akan

Universitas Sumatera Utara

tetap berada dalam tabung ini seterusnya. Kecepatan aliran didalam tabung aliran
adalah sejajar dengan tabung dan mempunyai besar berbanding terbalik dengan
luas penampangnya. (pantar,s, 1997)
2.5.1 Macam Aliran fluida
Aliran dapat diklasifikasikan (digolongkan) dalam banyak jenis seperti:
turbulen, laminar, nyata, ideal, mampu balik, tak mampu balik, seragam, tak
seragam, rotasional, tak rotasional. Aliran fluida terdapat dua jenis aliran yaitu :
1. Aliran laminer
2. Aliran turbulensi
Cairan dengan rapat massa yang akan lebih mudah mengalir dalam keadaan
laminer. Dalam aliran fluida

perlu ditentukan besarannya, atau arah vektor

kecepatan aliran pada suatu titik ke titik yang lain. Agar memperoleh penjelasan
tentang medan fluida, kondisi rata-rata pada daerah atau volume yang kecil dapat
ditentukan dengan instrument yang sesuai.
Pengukuran aliran adalah untuk mengukur kapasitas aliran, massa laju
aliran, volume aliran. Pemilihan alat ukur aliran

tergantung pada ketelitian,

kemampuan pengukuran, harga, kemudahan pembacaan, kesederhanaan dan


keawetan alat ukur tersebut. Dalam

pengukuran fluida termasuk penentuan

tekanan, kecepatan, debit, gradien kecepatan, turbulensi dan viskositas. Terdapat


banyak cara melaksanakan pengukuran pengukuran , misalnya : langsung, tak
langsung, gravimetrik, volumetrik, elektronik, elektromagnetik

dan optik.

Pengukuran debit secara langsung terdiri dari atas penentuan volume atau berat
fluida yang melalui suatupenampang dalam suatu selang waktu tertentu.
Metoda tak langsung bagi pengukuran debit memerlukan penentuan tinggi
tekanan, perbedaan tekanan atau kecepatan dibeberapa di titik pada suatu
penampang dan dengan besaran perhitungan debit. Metode pengukuran aliran
yang paling teliti adalah penentuan gravimerik atau penentuan volumetrik dengan
berat atau volume diukur atau penentuan dengan mempergunakan tangki yang
dikalibrasikan untuk selang waktu yang diukur.

Universitas Sumatera Utara

Pada prinsipnya besar aliran fluida dapat diukur melalui :


1. Kecepatan (velocity)
2. Berat (massanya)
3. Luas bidang yang dilaluinya
4. Volumenya.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18295/3/Chapter%20II.pdf)
2.5.2 Pola Alir Liquid
Impeller Pitch Blade Turbine ( PBT ) adalah tipe impeller dengan aliran
aksial, sirkulasi aliran beroperasi secara pumping down dan pumping up yang
mana seringkali digunakan. Menurut Nurtono,et,al ( 2009 ). Aliran yang
dihasilkan oleh pumping down PBT terdapat tiga pola aliran yang dikenali yaitu:
1. Double Circulation ( DC )
Pada Pola DC terdapat dua circulation loops, yang utama melalui daerah
dintara blades dan yang kedua dekat dengan dasar tangki. Pola ini
dipertimbangkan sebagai aliran rata rata dari impeller PBT. Dua loops
dihasilkan dari jet yang diinduksi oleh impeller, mengenai dinding yangki
dibawah ketinggian impeller sebelum akhirnya terpisah menjadi dua aliran. Satu
langsung turun dan dipantulkan oleh dasar tangki, menjadi loop kedua. Aliran lain
bergerak secara aksial mendekati dinding samping dari tangki, dan kemudian
kembali pada impeller shaft, mengalir turun menuju impeller menjadi loop utama.
2. Full Circulation Discharge ( FC )
Pada Pola FC menggambarkan dimana impeller menghasilkan pumping down
circulation loop yang hampir terjadi diseluruh tangki.
3. Main Circulation Interaction ( IP )
Pada Pola IP menggambarkan aliran yang berpotongan melalui sumbu axis
dari tangki. Bagian dari loop kedua yang mengalir diatas dasar tangki berpotongan
terhadap boundary diantara loop utama dan kedua pada sisi yang berseberangan.

Universitas Sumatera Utara

2.5.3

Parameter Hidrodinamika dalam Tangki Berpengaduk


Menurut Geankoplis ( 2003 ), dalam suatu peningkatan skala pada tangki

berpengaduk, jika kesamaan geometrik peralatan skala kecil ke skala besar


dipertahankan pada kondisi yang sama , maka bagian bagian yang relevan
dengan perilaku cairan dalam tangki berpengaduk adalah tenaga yang digunakan
untuk agitasi ( P ) dan kecepatan putar pengaduk ( N ). Konsumsi energi oleh
tangki berpengaduk digambarkan dengan Bilangan Power ( Power Number ).
Bilangan Power merupakan bilangan yang tak berdimensi yang diperoleh dengan
persamaan:
Np

3 5

...................................................................pers12

Dimana :
Np

= Bilangan Power

= Putaran Pengaduk (rpm)

= Diameter Pengaduk (mm)

= Daya

Pergerakan cairan di dalam tangki berpengaduk dapat digambarkan


dengan bilangan tak berdimensi lain, yaitu bilangan reynolds ( N Re ). Bilangan
Reynolds merupakan rasio antara inersia dengan kekentalan. Bilangan Reynolds (
N Re ) didefinisikan sebagai berikut :
N Re =

...................................................................pers13

Dimana:
N Re = Bilangan Reynold

= Kekentalan ( kg/m.detik)

= Densitas cairan dalam tangki ( kg/m3)

= Putaran Pengaduk (Rpm)

Dt

= Diameter pengaduk ( m )

Universitas Sumatera Utara

Bilangan tak berdimensi ini menunjukkan perbandingan antara gaya


inersia dengan gaya gravitasi. Bilangan Fraude dapat dihitung dengan persamaan
berikut :
Fr
Dimana:
Fr

()2

...................................................pers14

= Bilangan Fraude

= Kecepatan putaran pengaduk (Rpm)

= Diameter pengaduk (m)

= Percepatan gravitasi (m/s2)

Bilangan Fraude bukan merupakan variabel yang signifikan. Bilangan ini


hanya diperhitungkan pada sistem pengadukan dalam tangki tidak bersekat. Pada
sistem ini bentuk permukaan cairan dalam tangki akan dipengaruhi gravitasi
sehinggamembentuk pusaran ( vortex ). Vorteks menunjukkan keseimbangan
antara gaya gravitasi dengan gaya inersia.
Menurut Galletti et al. (2004) hubungan antara Bilangan Power ( Np )
dengan Bilangan Reynolds ( N Re ) biasanya digunakan untuk menggambarkan
hubungan antara konsumsi energi dengan kecepatan pengadukan. Hubungan ini
digambarkan dalam bentuk kurva tenaga ( power curve ). Kurva ini diperoleh
dengan cara memplotkan nilai nilai Np dan N Re berdasarkan data hasil
percobaan yang meragamkan nilai kecepatan pengaduk ( N ), diameter pengaduk (
D ), densitas ( ), dan viskositas ( ) cairan pada tiap tiap pengaduk yang
mempunyai kesamaan geometrik tertentu.
2.6

Polietilena
Polietilena adalah bahan termoplastik yang digunakan secara luas oleh

konsumen sebagai produk kantung plastik. Polietilena adalah polimer yang terdiri
dari rantai panjang monomer. Di industri polietilena disingkat dengan PE molekul
etana C2H4 adalah CH2 = CH2. Dua grup CH2 bersatu dengan ikatan ganda.

Universitas Sumatera Utara

Polietilena dibentuk melalui proses polimerisasi dari etena. Bisa


diproduksi melalui proses polimerisasi radikal, adisi ionik, adisi anionik, adisi
kationik dan ion koordinasi. Setiap metode menghasilkan PE yang berbeda.

Gambar 2.7 Struktur Etilen dan Polietilena


Polietilena pertama kali disintesis oleh ahli kimia Jerman bernama Hans
von Pechmann yang melakukannya secara tidak sengaja pada tahun 1989 ketika
sedang memanaskan diazometana. Ketika koleganya, Euger Bamberger dan
Friedrich Tschirner mencari tahu tentang substansi putih, berlilin, mereka
mengetahui bahwa yang ia buat mengandung rantai panjang -CH2- dan
menamakannya polimetilena.
Kegiatan sintesis polietilena secara industri pertama kali dilakukan, lagilagi, secara tidak sengaja, oleh Eric Fawcett dan Reignald Gibson pada tahun
1993 di fasilitas ICI di Northwich, Inggris. Ketika memperlakukan campuran
etilena dan benzaldehida pada tekanan yang sangat tinggi, mereka mendapatkan
substansi yang sama seperti yang didapatkan oleh Pechmann. Reaksi di inisiasi
oleh keberadaan oksigen dalam reaksi sehingga sulit mereproduksinya pada saat
itu. Namun, Micheal Perrin, ahli kimia ICI lainnya, berhasil mensintesisnya sesuai
harapan pada tahun 1935, dan pada tahun 1939 industri LDPE pertama dimulai.
2.6.1

Sifat Sifat Polietilena


Berdasarkan kristalinitas dan massa molekul, titik leleh, dan transisi gelas

sulit melihat sifat fisik polietilena. Temperatur titik tersebut sangat bervariasi
bergantung pada tipe polietilena. Pada tingkat komersil, polietilena berdensitas
menengah dan tinggi, titik lelehnya berkisar 120oC hingga 135oC. Titik leleh
polietilena berdensitas rendah berkisar 105oC hingga 115oC. Kebanyakan LDPE,
MDPE, dan HDPE mempunyai tingkat resistansi kimia yang sangat baik dan tidak

Universitas Sumatera Utara

larut pada temperatur ruang karena sifat kristalinitas mereka. Polietilena


umumnya bisa dilarutkan pada temperatur yang tinggi dalam hidrokarbon
aromatik seperti toluena, xilena, atau larutan terklorinasi seperti triklorometana
atau triklorobenzena.
2.6.2

Jenis Polietilena
Polietilena terdiri dari berbagai jenis berdasarkan kepadatan dan

percabangan molekul. Sifat mekanis dari polietilena bergantung pada tipe


percabangan, struktur kristal, dan berat molekulnya.
1. Polietilena bermassa molekul sangat tinggi (Ultra High Molecular Weight
Polyethylene atau UHMWPE)
2. Polietilena bermassa molekul sangat rendah (Ultra Low Molecular Weight
Polyethylene atau ULMWPE)
3. Polietilena bermassa molekul tinggi (High Molecular Weight Polyethylene
atau HMWPE)
4. Polietilena berdensitas tinggi (High Density Polyethylene atau HDPE)
5. Polietilena cross-linked berdensitas tinggi (High Density Cross-Linked
Polyethylene atau HDXLPE)
6. Polietilena cross-linked (Cross-Linked Polyethylene atau XLPE)
7. Polietilena berdensitas menengah (Medium Density Polyethylene atau
MDPE)
8. Polietilena berdensitas rendah (Low Density Polyethylene atau LDPE)
9. Polietilena linier berdensitas rendah (Linear Low Density Polyethylene
atau LLDPE)
10. Polietilena berdensitas sangat rendah (Very Low Density Polyethylene
atau VLDPE).
2.6.3

Polietilena Berdensitas Rendah atau LDPE


Polietilena berdensitas rendah (low density polyethylene, LDPE) adalah

termoplastik yang terbuat dari minyak bumi. Pertama kali diproduksi oleh
Imperial Chemical Industries (ICI) pada tahun 1933 menggunakan tekanan tinggi
dan polimerisasi radikal. LDPE dapat didaur ulang, dan memiliki nomor 4 pada
simbol daur ulang.

Universitas Sumatera Utara

LDPE dicirikan dengan densitas antara 0.910 - 0.940 g/cm3 dan tidak reaktif
pada temperatur kamar, kecuali oleh oksidator kuat dan beberapa jenis pelarut
dapat menyebabkan kerusakan. LDPE dapat bertahan pada temperatur 90 oC
dalam waktu yang tidak terlalu lama. LDPE memiliki percabangan yang banyak,
lebih banyak dari pada HDPE sehingga gaya antar molekulnya rendah.
LDPE dapat didaur ulang, dan memiliki nomor 4 pada simbol daur ulang.
LDPE dicirikan dengan densitas antara 0.910 0.940 g/cm3 dan tidak reaktif pada
suhu kamar, kecuali oleh oksidator kuat dan beberapa jenis pelarut dapat
menyebabkan kerusakan. LDPE dapat bertahan pada temperatur 90 oC dalam
waktu yang tidak terlalu lama.
LDPE memiliki percabangan yang banyak, lebih banyak dari pada HDPE
sehingga gaya antar molekulnya rendah. Ketahanan LDPE terhadap bahan kimia
diantaranya:
1. Tak ada kerusakan dari asam, basa, alkohol, dan ester
2. Kerusakan kecil dari keton, aldehida, dan minyak tumbuh-tumbuhan
3. Kerusakan menengah dari hidrokarbon alifatik, aromatik dan oksidator.
4. Kerusakan tinggi pada hidrokarbon terhalogenisasi.
Ketahanan LDPE terhadap bahan kimia diantaranya:
1. Tak ada kerusakan dari asam, basa, alkohol, dan ester.
2. Kerusakan kecil dari keton, aldehida, dan minyak tumbuh-tumbuhan.
3. Kerusakan menengah dari hidrokarbon alifatik dan aromatik dan
oksidator.
4. Kerusakan tinggi pada hidrokarbon terhalogenisasi.
LDPE memiliki aplikasi yang cukup luas, terutama sebagai wadah pembungkus.
Produk lainnya dari LDPE meliputi:
1. Wadah makanan dan wadah di laboratorium
2. Permukaan anti korosi
3. Bagian yang membutuhkan fleksibilitas
4. Kontong plastik
5. Bagian elektronik
Jenis kode plastik yang umum beredar diantaranya:

Universitas Sumatera Utara

1. PET (Polietilena tereftalat). Umumnya terdapat pada botol minuman atau


bahan konsumsi lainnya yang cair.
2. HDPE (High Density Polyethylene, Polietilena berdensitas tinggi) biasanya
terdapat pada botol deterjen.
3. PVC (polivinil klorida) yang biasa terdapat pada pipa, rnitur, dan
sebagainya.
4. LDPE (Low Density Polyethylene, Polietilena berdensitas rendah) biasa
terdapat pada pembungkus makanan.
5. PP (polipropilena) umumnya terdapat pada tutup botol minuman, sedotan,
dan beberapa jenis mainan.
6. PS (polistirena) umum terdapat pada kotak makanan, kotak pembungkus
daging, cangkir, dan peralatan dapur lainnya.
2.7

Elemen Pemanas Listrik


Electrical Heating Element banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari,

baik didalam rumah tangga ataupun peralatan dan mesin industri. Panas yang
dihasilkan oleh elemen pemanas listrik ini bersumber dari kawat ataupun pita
bertahanan listrik tinggi ( Resistance Wire) biasanya bahan yang digunakan
adalah niklin yang dialiri arus listrik pada kedua ujungnya dan dilapisi oleh
isolator listrik
2.8

Computational Fluid Dynamics (CFD)


CFD adalah metode penghitungan, memprediksi, dan pendekatan aliran

fluida secara numerik dengan bantuan komputer. Aliran fluida dalam kehidupan
nyata memiliki banyak sekali jenis dan karakteristik tertentu yang begitu
kompleks, CFD melakukan pendekatan dengan metode numerasi serta
menggunakan

persamaan-persamaan

fluida.

CFD

merupakan

metode

penghitungan dengan sebuah kontrol dimensi, luas dan volume dengan


memanfaatkan bantuan komputasi komputer untuk melakukan perhitungan pada
tiap-tiap elemen pembaginya. Prinsipnya adalah suatu ruang yang berisi fluida
yang akan dilakukan penghitungan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian, hal ini
sering disebut dengan sel dan prosesnya dinamakan meshing. Bagian-bagian yang

Universitas Sumatera Utara

terbagi tersebut merupakan sebuah kontrol penghitungan yang akan dilakukan


oleh aplikasi atau software.
2.8.1 Perhitungan Dinamika Fluida (Computational Fluid Dynamics)
Dinamika fluida adalah cabang dari ilmu mekanika fluida yang
mempelajari tentang pergerakan fluida. Dinamika fluida dipelajari melalui tiga
cara yaitu:
Dinamika fluida eksperimental
Dinamika fluida secara teori, dan
Dinamika fluida secara numerik (CFD)
Computational Fluid Dynamics (CFD) merupakan suatu ilmu untuk
memprediksi aliran fluida, perpindahan panas, perpindahan massa, reaksi kimia,
dan fenomena yang berhubungan, dengan menyelesaikannya menggunakan
persamaan-persamaan matematika secara numerik.
1. Hukum Konservasi Massa
Misalkan sebuah elemen fluida dalam kasus tiga dimensi dengan dimensi
dx, dy dan dz seperti ditunjukkan pada Gambar 2.8. Konsep dasar dari hukum
konservasi massa adalah bahwa jumlah pertambahan massa pada volume control
adalah sama dengan jumlah aliran massa yang masuk dan keluar elemen.

Gambar 2.8 Konservasi massa pada elemen fluida

( )

( )

( )

= 0 ....................... pers15

Atau menggunakan operator divergen dapat dituliskan sebagai:

Universitas Sumatera Utara

. ( ) = 0 .................................................. pers16

Persamaan di atas merupakan bentuk umum dari persamaan konservasi massa


yang biasa disebut juga dengan persamaan kontinuitas.
Persamaan (2.13) adalah unsteady, kekekalan massa atau persamaan
kontinuitas tiga dimensi pada sebuah titik dalam sebuah fluida kompresibel. Suku
pertama pada sisi sebelah kiri kelajuan perubahan dalam waktu dari densitas
(massa per satuan volume). Suku kedua menjelaskan neto aliran massa keluar dari
elemen melintasi boudarinya dan disebut suku konvektif.

Pada persamaan

inkompresibel, dimana kerapatan spasial dan temporal diabaikan, persamaan ini


dapat disederhanakan dengan menghilangkan
2. Hukum konservasi momentum

dari persamaan.

Hukum ini dikenal juga dengan hokum Newton II tentang gerak. Tingkat
kenaikan momentum partikel fluida sama dengan jumlah gaya gaya pada partikel
atau resultan gaya yang bekerja pada suatu objek sama dengan percepatan
dikalikan dengan massa objek tersebut. Suatu elemen kecil fluida dengan dimensi
dx, dy dan dz ditunjukkan pada Gambar 2.22. Pada gambar tersebut hanya gaya
searah x yang ditampilkan. Sebagai catatan, untuk kasus ini, terdapat enam gaya
normal dan geser yang bekerja pada permukaan.
a. Gaya-gaya permukaan:

Gaya tekanan

Gaya viskos

b. Gaya-gaya badan:
Gaya gravitasi
Gaya sentrifugal
Gaya coriolis
Gaya elektromagnetik
Dalam menyoroti kontribusi yang disebabkan gaya-gaya permukaan sebagai
bagian tersendiri dalam persamaan momentum dan memasukkan gaya-gaya badan
sebagai suku source.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.9 Konservasi momentum pada elemen fluida

Keadaan tegangan dari sebuah elemen fluida didefinisikan dalam suku suku tekanan dan sembilan komponen tegangan viskos ditunjukkan dalam
Gambar 2.9. Tekanan, sebuah tekanan normal, di tandai oleh . Tegangan-tegangan
viskos ditandai oleh .Notasi akhiran yang biasa digunakan untuk menandakan
arah tegangan viskos.akhirani dan j dalam menandakan bahwa komponen
tegangan bekerja dalam arah j pada sebuah permukaan normal kearah.
Dengan mengacu kepada elemen fluida tersebut, maka persamaan
konservasi momentum dapat dituliskan sebagai:
() () () ()
+
+
+

+ 2
3

+. ...................................................................

() () () ()
+
+
+

+ 2
3

+. ..................................................................

Pers 17

Pers 18

Atau dalam bentuk tensor dapat dituliskan sebagai:

( ) ( )

+
=
+

+

3

...........................................................................................

Pers 19

Universitas Sumatera Utara

Dimana i, j, k = 1, 2, 3 yang menyatakan x, y, z.


Persamaan di atas berlaku untuk kondisi tunak (steady). Untuk kondisi tidak tunak
(unsteady), maka persamaan dalam hubungannya terhadap waktu,

( )

dihilangkan.

3. Hukum konservasi energy


Hukum konservasi energy mengatakan bahwa laju perubahan energi dalam
dan E pada suatu elemen sama dengan jumlah fluks panas yang masuk ke elemen
itu dan laju kerja yang bekerja pada elemen oleh gaya yang ada pada bodi dan
permukaannya. Hukum ini dapat dituliskan sebagai:
E = Q + W ........................................................................

Pers

Hukum ini juga dikenal sebagai hokum pertama termodinamika. Gaya yang
bekerja adalah gaya karena medan tekanan, karena gaya normal dan gaya geser;
dan juga karena gaya bodi seperti di tunjukkan pada Gambar 2.10 di bawah ini.

Gambar 2.10 Konservasi energi pada elemen fluida


Penyelesaian dari kesetimbangan energi pada gambar adalah suatu persamaan
konservasi energi yang dituliskan sebagai:
() () () ()
+
+
+

=
+
+
+ + (. ) +



..........................................................................................

Pers 20

Atau dapat dituliskan dalam tensor sebagai:

Universitas Sumatera Utara


() ()

+
=
+ +

.........................................................................................

Pers 21

Dimana i, j, k = 1, 2, 3 yang merupakan sumbu x, y, z


Jika beberapa asumsi dinyatakan, beberapa bagian dari persamaan energi
dapat dihilangkan. Sebagai contoh, jika kerapatan massa konstan atau fluida
inkompresibel, maka persamaan

menjadi nol. Selanjutnya, jika disipasi

kekentalan diabaikan, maka dapat dihilangkandari persamaan. Dan juga jika

energi dalam yang timbul pada elemen sama dengan nol, dapat juga dihilangkan
dari persamaan.
Meskipun persamaan pembentuk aliran di atas terlihat sangat rumit,
namun persamaan tersebut berasal dari hokum konservasi yang sangat sedarhana
yaitu konservasi massa, momentum dan energi. Pada kasus tiga dimensi , humum
ini menjadi lima persamaan yang berbeda. Mereka merupakan system yang
disatukan dari persamaan diferensial parsialnonlinear.Sampai saat ini belum ada
solusi analitik dari persamaan-persamaan tersebut.Dalam hal ini, persamaan ini
bukan tidak memiliki solusi namun sampai saat ini belum ditemukan. Metode
yang lain yang digunakan untuk menyelesakan persamaan tersebut adalah dengan
metode numerik yang dikenal dengan Computational Fluid Dynamics (CFD).
Dengan metode ini, persamaan ini akan diselesaikan dengan iterasi untuk
menemukan solusi yang mungkin berdekatan dengan solusi sebenarnya.
2.8.2 Metode CFD Menggunakan Perangkat Lunak FLUENT
CFD memungkinkan penyelesaian persamaan pembentuk aliran dengan
menggunakan suatu perhitungan numerik yang disebut dengan metode volume
hingga (finite volume methods). Untuk memudahkan perhitungan numerik, telah
tersedia banyak perangkat lunak computer. Salah satu perangkat lunak yang
terkenal dalam perhitungan dan simulasi CFD adalah FLUENT.
FLUENT adalah program komputer yang dikembangkan oleh ANSYS Inc.
untuk memodelkan aliran fluida dan perpindahan panas dalam geometri yang
kompleks. FLUENT merupakan salah satu jenis program CFD (Computational
Fluid Dynamics) yang menggunakan metode diskritisasi volume hingga.

Universitas Sumatera Utara

FLUENT memiliki fleksibilitas mesh, sehingga kasus-kasus aliran fluida yang


memiliki mesh tidak terstruktur akibat geometri benda yang rumit dapat
diselesikan dengan mudah. Selain itu, FLUENT memungkinkan untuk
penggenerasian mesh lebih halus atau lebih besar dari mesh yang sudah ada
berdasarkan pemilihan solusi aliran.
Fluent menggunakan teknik control volume untuk mengubah persamaan
pembentuk aliran menjadi persamaan algebra sehingga dapat diselesaikan secara
numeric. Teknik control volume ini mengandung pengintegralan setiap persamaan
pembentuk aliran pada tiap-tiap kontol volume, menghasislkan persamaanpersamaan diskrit yang mengkonservasikan tiap jumlah yang ada pada control
volume. Secara lengkap langkah-langkah FLUENT dalam menyelesaikan suatu
simulasi adalah sebagai berikut :
1. Membuat geometri dan mesh pada model.
2. Memilih solver yang tepat untuk model tersebut (2D atau 3D).
3. Mengimpor mesh model (grid).
4. Melakukan pemeriksaan pada mesh model.
5. Memilih formulasi solver.
6. Memilih persamaan dasar yang akan dipakai dalam analisa.
7. Menentukan sifat material yang akan dipakai.
8. Menentukan kondisi batas.
9. Mengatur parameter kontrol solusi.
10. Initialize the flow field.
11. Melakukan perhitungan/iterasi.
12. Menyimpan hasil iterasi.
13. Jika diperlukan, memperhalus grid kemudian melakukan iterasi ulang
FLUENT menggunakan suatu teknik berbasis volume kendali untuk
mengubah bentuk persamaan umum (governing equation) ke bentuk persamaan
aljabar (algebraic equation) agar dapat dipecahkan secara numerik.Teknik kontrol
volume ini intinya adalah pengintegralan persamaan diferensial umum untuk
setiap volume kendali, sehingga menghasilkan suatu persamaan diskrit yang
menetapkan setiap besaran pada suatu basis volume kendali. Diskritisasi

Universitas Sumatera Utara

persamaan umum dapat diilustrasikan dengan menyatakan persamaan kekekalan


kondisi-steady untuk transport suatu besaran skalar. Hal ini ditunjukkan dengan
Persamaan 3.1 yang ditulis dalam bentuk integral untuk volume kendali
sembarang.Persamaan 3.1 diterapkan untuk tiap volume kendali atau sel dalam
daerah asal komputasi (domain).sebagai berikut:
. = . + ...............................

pers 22

Dimana

= rapat massa

= vector kecepatan (=ui + vj +wk dalam 3D)

= vector area permukaan

= koefisien difusi untuk

= gradient (=(/x)i+ /y)j+ /z)k dalam 3D)


= sumber tiap satuan volume

Universitas Sumatera Utara