Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN CAIRAN

I. Konsep Kebutuhan Cairan


1.1 Definisi / deskripsi kebutuhan cairan
Cairan dan elektrolit merupakan komponen tubuh yang berperan dalam memelihara
fungsi tubuh dan proses homeostasis. Tubuh kita terdiri atas sekitar 60% air yang
tersebar didalam sel maupun diluar sel. Namun demikian, besarnya kandungan air
tergantung dari usia, jenis kelamin, dan kandungan lemak. (Tarwoto & wartonah,
2015).
Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh
membutuhkan perubahan yangtetap dalam merespon terhadap stressor fisiologis dan
lingkungan. Cairan dan elektrolit saling berhubungan, ketidakseimbangan yang terdiri
sendiri jarang terjadi dalam kelebihan dan kekurangan (Tarwoto dan wartonah.2005:29)
1.2 Fisiologi system / fungsi normal system kebutuhan cairan
Cairan dan Elektrolit masuk melalui makanan, minuman dan cairan intravena(IV) dan
di distribusikan ke seluruh tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung
satu dengan yang lainnya. Jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang
lainnya.
Seluruh cairan tubuh manusia didistribusikan diantara dua kompartemen utama yaitu
ekstraseluler dan intraseluler. Cairan ekstraseluler dikelompokkan lagi dalam dua
bentuk yaitu cairan interstisial dan cairan intravaskuler. Selain dua kelompok utama
diatas ada juga sejumlah kecil cairan yang disebut sebagai cairan transeluler.
Kompartemen ini meliputi cairan dalam rongga synovial, peritoneum, pericardium, dan
intraokuler serta cairan serebrospinal. Secara umum volume cairan transeluler sekitar 12 liter.
Jumlah cairan tubuh pada individu dewasa dengan berat badan 70 kg adalah sekitar 42
kg (60% x 70 kg). proporsi cairan ini dapat berubah ubah bergantung pada kondisi.
Beradasarkan usia , didapatkan bahwa kompartemen cairan berubah-ubah setiap saat.

Proporsi cairan berdasarkan usia


jenis

Bayi baru
lahir

Usia 3 bulan

dewasa

lansia

40%

40%

40%

27%

5%

5%

5%

7%

35%

25%

15%

18%

80%

70%

60%

52%

Cairan
intraseluler
plasma
Cairan
interstisial
Total cairan

Cairan
ekstraseluler

a. Kompartemen cairan intraseluler


Jumlah cairan intraseluler sekitar2/3 dari jumlah total cairan tubuh (67%) dan
terdapat dalam sekitar 75 triliun sel tubuh besarnya konsentrasi dan jumlah zat
terlarut dalam masing-masing sel berubah-ubah, bergantung pada jenis sel yang ada.
Akan tetapi, secara umum dapat dianggap sama. Cairan intraseluler mengisi 40%
dari berat tubuh manusia.
b. Kompartemen cairan ekstraseluler
Seluruh cairan diluar sel disebut sebagai cairan ekstraseluler. Cairan ini mengisi 20%
dari berat badan tubuh atau memenuhi 1/3 dari jumlah total cairan tubuh. Cairan
ekstraseluler dikelompokkan menjadi plasma dan cairan interstisial. Plasma mengisi
dari volume cairan ekstraseluler, sedangkan sisanya diisi cairan interstisial.
c. Volume darah
Darah terdiri atas cairan ekstraseluler (cairan plasma) dan cairan intraseluler (cairan
dalam sel darah merah). Akan tetapi, darah dianggap sebagai kompartemen yang
terpisah karena terdapat dalam ruang tersendiri. Volume darah penting artinya bagi
sirkulasi cairan tubuh lainnya.
d. Transport cairan dalam tubuh
Secara umum, proses perpindahan (transport) cairan dari satu kompartemen ke
kompartemen lainnya dilakukan dalam empat cara, yaitu :
1) Difusi adalah pergerakan molekul melintasi membrane semipermiabel dari
kompartemen berkonsentrasi tinggi menuju kompartemen berkonsentrasi rendah.
Didalam tubuh manusia difusi cairan, elektrolit, dan substansi lainnya
berlangsung melalui pori-pori tipis membrane kapiler. Laju difusi suatu substansi
dipengaruhi oleh tiga hal yaitu ukuran molekul, konsentrasi larutan, dan
tempertatur larutan
2) Filtrasi adalah proses perpindahan cairan dan solute melintasi membrane
bersama-sama dari kompartemen bertekanan tinggi menuju kompartemen

bertekanan rendah. Contoh filtrasi adalah pergerakan cairan dan nutrient dari
arteri kapiler menuju cairan interstisial disekitar sel.
3) Osmosis adalah pergerakan cari solven (pelarut) murni (mis. Air) melintasi
membrane sel dari larutan berkonsentrasi rendah (encer) menuju larutan
berkonsentrasi tinggi (pekat).
1.3 Faktor-factor yang mempengaruhi perubahan fungsi system kebutuhan cairan
a. Usia
Asia berpengaruh terhadap proporsi tubuh, luas permukaan tubuh, kebutuhan
metabolic, serta berat badan. Bayi dan anak-anak dimasa pertumbuhan memiliki
proprosi cairan tubuh yang lebih besar di bandingkan orang dewasa. Karenanya
jumlah cairan yang diperlukan dan jumlah cairan yang hilang juga lebih besar
dibandingkan orang dewasa.
Perkiraan kebutuhan cairan tubuh berdasarkan usia
usia

Berat badan (kg)

3 hari
1 tahun
2 tahun
6 tahun
10 tahun
14 tahun
18 tahun (dewasa)

3,0
9,5
11,8
20,0
18,7
45,0
54,0

Kebutuhan (ml)/ 24
jam
250-300
1150-1300
1350-1500
1800-2000
2000-2500
2200-2700
2200-2700

b. Aktivitas
Aktivitas hidup seseorang sangat berpengaruh terhadap kebutuhan cairan dan
elektrolit. Aktivitas menyebabkan penigkatan proses metabolisme dalam tubuh.
Mengakibatkan peningkatan haluaran cairan melalui keringat.
c. Iklim
Normalnya, individu yang tinggal dilingkungan yang iklimnya tidak terlalu panas
tidak akan mengalami pengeluaran cairan yang ekstrim melalui kulit dan
pernapasan. Cairan yang keluar umumnya tidak dapat diobservasi sehingga disebut
kehilangan cairan yang tidak disadari (insensible water loss , IWL) besarnya IWL
pada setiap individu bervariasi, dipengaruhi oleh suhu lingkungan, tingkat
metabolism, dan usia.
Total asupan dan haluaran pada keadaan normal dan saat beraktivitas
I&O

Normal

Aktivitas

Asupan (I)
Cairan dari makanan

2100

Cairan dari metabolism

200

200

Total

2300

Insensible water loss kulit

350

350

Insensible water loss paru

350

650

Keringat

100

5000

Feses

100

100

Urine

1400

500

total

2300

6600

Haluaran (O)

Besar IWL munurut usia


usia
Baru lahir
Bayi

Besar IWL (mg/kg BB/hari)


30
50-60

Anak-anak

40

Remaja

30

dewasa

20

d. Diet
Diet seseorang berpengaruh juga terhadap asupan cairan dan elektrolit. Jika asupan
makanan tidak adekuat atau tidak seimbang. Tubuh berusaha memecah simpanan
protein dengan terlebih dahulu memecah simapanan glikogen dan lemak.
e. Stress
Kondisi stress berpengaruh pada kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Saat stress,
tubuh mengalami penignkatan metabolsime seluler, penignkatan konsentrasi glukosa
darah dan glikolisis otot. Mekanisme ini mengakibatkan retensi air dan natrium.
f. Penyakit
Trauma pada jaringan dapat meyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit dari
sel/jaringan yang rusak (mis. Luka robek atau luka bakar).

Standar urin normal


usia
BBL

Volume urine (ml/kg BB/hari)


10-90

Bayi

80-90

Anak-anak

50

Remaja

40

dewasa

30

Kehilangan cairan dan elektrolit melaui kulit dan paru-paru


Cairan dan

normal

Demam (38c)

Keringat

elektrolit
Air (ml)

600-1000

1000-1500

berlebih
1500-200

Na+ (mEq/L)

Sedikit

25-50

25-50

cl- (mEq/L)

sedikit

15-35

15-35

1.4 Macam-macam gangguan yang mungkin terjadi pada system kebutuhan cairan
a. Hipovolemia
Hipovolemia adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler
(CES) dan dapat terjadi karena kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal,
pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme kompensasi pada
hipovolemik adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi
jantung, kontraksi jantung, dan tekanan vaskuler), rasa haus, serta pelepasan
hormone ADH DAN aldosteron. Hipovolemia yang berlangsung lama dapat
menimbulkan gagal ginjal akut.
Gejala : pusing, lemah, letih, anoreksia, mual muntah, rasa haus, gangguan mental,
konstipasi dan oliguri, penurunan tekanan darah, denyut jantung meningkat.
b. Hipervolemia
Adalah penambahan atau kelebihan volume CES yang dapat terjadi pada saat
keadaan berikut ini :

Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air.

Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi matrium dan air.

Kelebihan pemberian cairan.

Perpindahan cairan interstisial ke plasma.

Gejala : sesak napas, peningkatan dan penurunan tekanan darah, nadi kuat, asites,
edema, adanya ronkhi, kulit lembap, distensi vena leher, dan irama gallop.

c. Edema
Edema adalah kelebihan cairan dalam ruang interstisial yang terlokalisasi.
Edema dapat terjadi karena hal-hal berikut ini :

Meningkatnya tekanan hidrostatik kapiler akibat penambahan volume darah.

Peningkatan permeabilitas kapiler seperti pada luka bakar dan infeksi .

Penurunan tekanan plasma onkotik, penurunan tekanan onkotikkarena kadar


protein plasma rendah seperti karena malnutrisi, penyakit ginjal, dan penyakit
hati.

Bendungan aliran limfe mengakibatkan aliran terhambat sehingga cairan masuk


kembali ke kompartemen vaskuler.

Gagal ginjal di mana pembuangan air yang tidak adekuat menimbulkan


penumpukan cairan dan reabsorbsi natrium yang berlebihan sehingga tertahan
pada intestisial.

II. Rencana Asuhan Klien dengan gangguan kebutuhan cairan


2.1 Pengkajian
2.1.1 Riwayat keperawatan
a. Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral, parentral).
b. Tanda umum masalah elektrolit.
c. Tanda kekurangan dan kelebihan cairan.
d. Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan
elektrolit.
e. Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat menganggu status cairan
f. Status perkembangan seperti usia atau situasi sosial
g. Factor psikologis seperti perilaku emosional yang menganggu pengobatan.
2.1.2 Pengukuran Klinis
a. Berat Badan
Kehilangan/ bertambanhnya berat badan menunjukkan adanya masalah
keseimbangan asam basa cairan :
+ 2 % : ringan,
+ 5 % : sedang,
+ 10 % : berat.
Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari pada waktu yang sama
b. Keadaan Umum
1) Pengukuran TTV seperti nadi, tekanan darah, suhu dan pernafasan,
2) Tingkat kesadaran
c. Pengukuran pemasukan cairan
1) Cairan oral ; NGT dan oral
2) Cairan parenteral termasuk obat-obatan IV
3) Makanan yang cenderung mengandung air

4) Irigasi kateter atau NGT


d. Pengukuran pengeluaran cairan
1) Urine : volume, kelernihan/kepekatan
2) Fesef : jumlah dan konsisten
3) Muntah
4) Tube drainase
5) IWL
e. Ukur keseimbangan cairan dengan akurat antara intake dan output normalnya
sekitar 200 cc.
2.1.3 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada kebutuhan cairan dan elektrolit difokuskan pada hal-hal
berikut :
a. Integumen : keadaan turgor kulit, edema, kelemahan otot, tetani dan sensasi
rasa.
b. Kardiovaskuler : distensi vena jugularis, tekanan darah, Hemoglobin dan bunyi
jantung.
c. Mata : cekung, air mata kering.
d. Neurologi : reflex, gangguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran.
e. Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntah-untah dan
bising usus.
2.1.4 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan elektrolit, darah lengkap, PH, berat janis urine, dan analisis gas
darah.
2.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
2.2.1 Kesiapan meningkatkan keseimbangan cairan (NANDA, 2012-2014)
Definisi : merupakan pola keseimbangan antara volume cairan dan kompos kimia
cairan tubuh untuk memperkuat dan memenuhi kebutuhan fisik (NANDA, 2012)
Berhubungan dengan :
a. Berkeringat secara berlebihan
b. Menurunnya intake oral
c. Operasi
d. Pembatasan cairan
Data yang ditemukan :
a. Rencana operasi
b. Berkeringat banyak
c. Berat badan tidak stabil

d. Intake makanan dan cairan tidak adekuat


e. Rasa haus yang berlebihan
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :
a. Operasi
b. Puasa
c. Kesulitan menelan
d. Tidak nafsu makan
2.2.2 Risiko kekurangan volume cairan (NANDA , 2012-2014)
Definisi : kondisi di mana pasien mengalami risiko terjadi kekurangan volume
cairan pada intraseluler, interstisial, dan intravascular. (NANDA, 2012).
Berhubungan dengan :
a. Kehilangan cairan secara berlebihan
b. Berkeringat secara berlebihan
c. Menurunnya intake oral
d. Diare
e. Penggunaan deuretik
f. Pendarahan
g. Keadaan hipermetabolisme
Data yang ditemukan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Hipotensi
Takikardi
Pucat
Kelemahan
Konsentrasi urine pekat
Diare
Muntah
Pendarahan massif
Turgor kulit kurang
Demam

Kondisi klinis kemungkinan trjadi pada :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Penyakit Addison
Koma
Ketoasidosis pada diabetic
Anoreksia nervosa
Pendarahan gastrointestinal
Muntah, diare
Intake cairan tidak adekuat
AIDS
Perdarahan akibat trauma
Ulcer kolon
Penyakit diabetes mellitus.

2.3 Perencanaan
2.3.1 Tujuan dan criteria hasil
tujuan yang diharapkan adalah mempertahankan adekuatnya kebutuhan cairan
yang ditandai :
a. pasien menunjukkan upanya untuk memenuhi kebutuhan cairan
b. berat badan stabil
c. mukosa mulut lembab

d.
e.
f.
g.
h.
i.

intake makanan dan cairan adekuat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari


turgor kulit baik
tidak ada rasa haus yang berlebihan
output urin sesuai intake cairan
tidak ada edema atau dehidrasi
berat jenis urine dalam batas normal

2.3.2 intervensi keperawatan dan rasional


a. intervensi factor yang mungkin menjadi penyebab ketidakseimbangan cairan
rasional : beberapa factor yang berisiko terjadinya ketidakseimbangan cairan
diantaranya tindakan operasi, pembatasan minuman atau makan, kecemasan
jika minum banyak
b. kaji keadaan tanda dan gejala gangguan ketidakseimbangan cairan
rasional : mengidentifikasi adanya kekurangan atau kelebihan cairan, sebagai
data dasar pasien.
c. Ukur tanda vital pasien setiap 4 jam
Rasional : keadaan dehidrasi dapat menyebabkan hipotensi, edema dapat
menyebabkan penigkatan tekanan darah
e. Monitor intake dan output cairan
Rasional : mengidentifikasi keseimbangan cairan
f. Timbang berat badan pasien setiap hari
Rasional : kehilangan dan kelebihan cairan akan dengan cepat terjadi
perubahan berat badan.
g. Anjurkan pasien untuk mengurangi stress
Rasional : keadaan stress dapat menstimulasi keinginan berkemih.
h. Anjurkan pasien untuk minum atau makan sesuai kebutuhan dalam batas
toleransi
Rasional : Memenuhi kebutuhan cairan
i. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan intravena
Rasional : cairan intravena dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan cairan
tubuh,
j. Monitoring berat jenis urin
Rasional : berat jenis urin menigkat, urine menjadi keruh pada dehidrasi.
k. Berikan pendidikan kesehatan tentang upanya mempertahankan
keseimbangan cairan tubuh sesuai kemungkinan penyebabnya
Rasional : mengurangi kecemasan, pasien kooperatif dalam upaya perawatan
dirinya.
2.3.3 Tujuan dan criteria hasil
Tujuan yang diharapkan sebagai berikut :
a. Memeprtahankan keseimbangan cairan
b. Menunjukkan adanya keseimbangan cairan seperti output urine adekuat,
tekanan darah stabil, membrane mukosa mulut lembab, dan turgor kulit baik.
c. Secara verbal, pasien mengatakan penyebab kekurangan cairan dapat teratasi
2.3.4 Intervensi keperawatan dan rasional
a. Identifikasi kemungkinan factor penyebab kekurangan volume cairan
Rasional : penanganan kekurangan cairan tergantung dari factor penyebabnya.
b. Lakukan pemeriksaan fisik : torgor kulit, mukosa mulut, kecekungan mata
Rasional : menentukan status cairan atau derajat dehidrasi
c. Cek tanda vital setiap 4 jam atau sesuai kebutuhan

Rasional : perubahan tanda vital data terjadi dengan cepat pada kekurangan
cairan seperti hipotensi, peningkatan nadi, pernapasan, maupun suhu tubuh.
d. Timbang berat badan pasien setiap hari atau sesuai kondisi
Rasional : penurunan berat badan dapat dengan cepat terjadi paa pengeluaran
cairan yang berlebihan
e. Anjurkan pasien minum 2000-3000 ml/hari sesuai batas toleransi
Rasional : meningkatkan intake cairan tubuh
f. Laksanakan program pemberian obat
Rasional : mengatasi penyebab masalah kekurangan cairan, seperti obat
antimuntah, antidiare, insulin, dan lain-lain
g. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan intravena
Rasional : memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
h. Monitor intake dan output cairan, catat jumlah jenis cairan yang diberikan
serta warna dan keadaan urine
Rasional : menentukan keseimbangan cairan tubuh
i. Monitor hasil laboratorium seperti gula darah, hematokrit, berat jenis urine
dan elektrolit, serta BUN
Rasional : hiperglikemia menyebabkan dieresis osmotic, serta hematokrit dan
BJ urine menigkat pada dehidrasi, elektrolit dapat keluar tubuh bersama
hilangnya cairan seperti adanya muntah atau diare.
j. Berikan pendidikan kesehatan tentang tanda dan gejala dehidrasi, intake dan
output cairan, serta terapi yang diberikan
Rasional : meningkatkan informasi dan kerja sama pasien
III. Daftar Pustaka
Herdinan, Heather T. (2012). Diagnosis Keperawatan NANDA: Definisi dan Klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC.
NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta:
EGC
Nurarif .A.H.,Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
Tarwoto & Wartonah. (2015). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika

Banjarmasin, November 2016


Preseptor akademik,

Preseptor Klinik,

(..........)

(.....)

Anda mungkin juga menyukai