Anda di halaman 1dari 12

NYAMUK

(Culex sp)

A. Klasifikasi
1. Kingdom
2. Phylum
3. Class
4. Ordo
5. Family
6. Genus
7. Species

: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Diptera
Culicidae
: Culex
: Culex sp

B. Morfologi

1. Telur Culex sp
Telur berwarna coklat, panjang dan silinder, vertical pada
permukaan air, tersementasi pada susunan 300 telur. Panjangnya

biasanya 3-4mm dan lebarnya 2-3mm. telur-telur Culex sp diletakkan


secara berderet-deret rapi seprti kait tanpa pelampung yang berbentuk
menyerupai peluru senapan.
2. Larva nyamuk Culex sp
Pada larva nyamuk culex sp mempunyai siphon yang mengandung
bulu-bulu siphon (siphonal tuft) dan pekten, sisir atau comb dengan
gigi-gigi sisir (comb teeth), segmen anal dengan pelana tertutup dan
tampak tergantung pada permukaan air.
Nyamuk Culex mempunyai 4 tingkatan atau instar sesuai dengan
pertumbuhan larva tersebut, yaitu :
a. Larva instar I, berukuran paling kecil yaitu 1 2 mm atau 1 2
hari setelah menetas. Duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan
corong pernafasan pada siphon belum jelas.
b. Larva instar II, berukuran 2,5 3,5 mm atau 2 3 hari setelah telur
menetas. Duri-duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
c. Larva instar III, berukuran 4 5 mm atau 3 4 hari setelah telur
menetas. Duri-duri dada mulai jelas dan corong pernafasan
berwarna coklat kehitaman.
d. Larva IV, berukuran paling besar yaitu 5 6 mm atau 4 6 hari
setelah telur menetas, dengan warna kepala.
3. Pupa nyamuk Culex sp
Tubuh pupa berbentuk bengkok dan kepalanya besar. Pupa
membutuhkan waktu 2-5 hari. Pupa tidak makan apapun. Sebagian
kecil tubuh pupa kontak dengan permukaan air, berbentuk terompet
panjang dan ramping, setelah 1 2 hari akan menjadi nyamuk Culex.
4. Nyamuk dewasa
Ciri-ciri nyamuk Culex dewasa adalah berwarna hitam belangbelang putih, kepala berwarna hitam dengan putih pada ujungnya.
Pada bagian thorak terdapat 2 garis putih berbentuk kurva. Palpus
nyamuk betina lebih pendek dari proboscis, sedagkan pada nyamuk
jantan palpus dan proboscis sama panjang. Pada sayap mempunyai
bulu yang simetris dan tanpa costa. Sisik sayap membentuk kelompok

sisik berwarna putih dan kuning atau putih dan coklat juga putih dan
hitam. Ujung abdomen nyamuk culex selalu menumpul.
C. Habitat
Nyamuk

dewasa

merupakan

ukuran

paling

tepat

untuk

memprediksi potensi penularan arbovirus. Larva dapat di temukan dalam


air yang mengandung tinggi pencemaran organik dan dekat dengan tempat
tinggal manusia. Betina siap memasuki rumah-rumah di malam hari dan
menggigit manusia dalam preferensi untuk mamalia lain. Nyamuk Culex
sp terdapat pada daerah tropis dan sub tropis di seluruh dunia dalam garis
lintang 35oLU dan 35oLS, dengan ketinggian wilayah kurang dari 1000m
diatas permukaan laut.
CACING TANAH
(Lumbricus rubellus)

A. Klasifikasi
1. Super Kingdom
2. Kingdom
3. Sub Kingdom
4. Filum
5. Kelas
6. Ordo
7. Sub Ordo
8. Famili
9. Genus
10. Spesies
B. Morfologi

: Eukaryota
: Animalia
: Metazoa
: Annelida
: Oligochaeta
: Haplotaxida
: Lumbricina
: Lumbricidae
: Lumbricus S
: Lumbricus rubellus

Cacing tanah memiliki alat gerak yang dinamakan setae berbentuk


seperti rambut kasar, letaknya beraturan pada setiap segmen. Setae
digerakkan oleh dua berkas otot yaitu muskulus protaktor yang berfungsi
untuk mendorong setae keluar dan muskulus retraktor yang berfungsi
menarik kembali setae ke dalam rongganya. Kedua berkas muskulus ini
melekat pada ujung setae (Minnich, 1997). Sistem pergerakan cacing tanah
diatur oleh susunan syaraf.
Pusat susunan syaraf terletak di sebelah dorsal pharink dalam
segmen ketiga dan terdiri atas simpul sistem syaraf anterior ( ganglion
celebrale ), simpul syaraf vertikal dan serabutserabut syaraf. Dengan
adanya ujung serabut syaraf di kulit, rangsangan berupa getaran atau sinar
dapat diterima oleh ujung syaraf untuk kemudian disalurkan ke otak.
Syaraf ini sangat sensitif terhadap cahaya, suhu, getaran, dan sentuhan.
Sistem peredaran darah cacing tanah bersifat tertutup, dihubungkan
dengan pembuluh darah.
Di dalam tubuh cacing tanah terdapat lima pasang organ kontraktil
yang berfungsi sebagai jantung serta terdapat pigmen haemoglobin di

dalam

plasma

darahnya

(Gaddie

and

Douglas,

1975).

Lumbricus rubellus mempunyai keuntungan jika dipelihara, yaitu:


mudah dalam penangannya, dan memiliki nilai komersial tinggi (Minnich,
1977). Lumbricus rubellus ini berwarna kemerahan, dengan panjang
berkisar antara 7,5 10 cm. Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai
bentuk tubuh gilig. Tubuhnya terdapat segmen luar dan dalam, berambut,
tidak mempunyai kerangka luar, tubuhnya dilindungi oleh kutikula (kulit
bagian luar), tidak memiliki alat gerak dan tidak memiliki mata. Jumlah
segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada
segmen 27-32.

Klitelum merupakan alat yang membantu perkembangan dan baru


muncul saat cacing mencapai dewasa kelamin, sekitar 2 bulan (Ristek,
2009). Lendir pada tubuhnya yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis
mempermudah pergerakannya. Pada setiap segmennya terdapat organ seta
yang berupa rambut yang relatif keras, berukuran pendek, dan memiliki
daya lekat yang sangat kuat. Selain itu, terdapat pula prostomium yang
merupakan organ syaraf perasa dan berbentuk seperti bibir. Bagian akhir
tubuhnya terdapat 8 anus untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dan tanah
yang dimakannya. Kotoran yang keluar dari anus Lumbricus rubellus
dikenal dengan istilah kascing. Kascing terdiri dari berbagai komponen
biologis (giberelin, sitokinin, auxin) maupun kimiawi (nitrogen, fosfor,
kalium, belerang, magnesium, besi) yang sangat diperlukan untuk
perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Kascing bersifat netral dengan
pH 6,5-7,4 dan rata-ratanya adalah 6,8 (Palungkun, 2008).
C. Habitat
Cacing tanah menyukai bahan-bahan yang mudah membusuk
karena lebih mudah dicerna oleh tubuhnya. Cacing tanah memerlukan
tanah yang sedikit asam sampai netral atau pH sekitar 6-7,2, dengan
kondisi tersebut bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal
untuk mengadakan pembusukan atau fermentasi. Kelembaban yang
optimal untuk pertumbuhan dan 9 perkembangbiakan cacing tanah adalah
antara 15-30%. Suhu yang diperlukan untuk pertumbuhan cacing tanah
adalah sekitar 15250C atau suam-suam kuku. Suhu yang lebih tinggi dari
250C masih baik asal ada naungan yang cukup dan kelembaban optimal
(Ristek, 2009).
D. Manfaat
Telah banyak bukti yang menunjukkan bahwa cacing tanah
merupakan makrofauna tanah yang berperan penting sebagai penyelaras
dan keberlangsungan ekosistem yang sehat, baik bagi biota tanah lainnya
maupun bagi hewan dan manusia. Aristoteles mengemukakan pentingnya

cacing tanah dalam mereklamasi tanah dan menyebutnya sebagai usus


bumi (intestines of the earth) (Hanafiah, dkk.2003). Cacing tanah selama
ini diketahui sebagai makhluk yang berguna untuk menyuburkan tanah dan
makanan ternak.
Cacing tanah memiliki manfaat yang sangat besar, seperti di Korea
selatan dan Taiwan cacing telah dikonsumsi oleh manusia untuk sumber
protein hewani dan pengobatan tradisional, yang sangat di kenal sebagai
Negara yang banyak mengekspor cacing tanah (Arlen,H.J, 1994).
Kegunaan cacing tanah sebagai penghancur gumpalan darah (fibrymolisis)
telah di uji kebenarannya oleh Fredericq dan Krunkenberg pada tahun
1920. Selain itu, Mihara hisahi, peneliti asal Jepang, berhasil mengisolasi
enzim pelarut fibrin dalam cacing tanah yang bekerja sebagai enzim
proteolitik. Enzim tersebut kemudian dinamai lumbrokinase karena berasal
dari cacing lumbricus. Kemudian enzim tersebut diproduksi secara
komersial di Kanada sebagai obat stroke, mengobati penyumbatan
pembuluh darah jantung (ischemic) dan tekanan darah tinggi.
Di Australia pun dilaporkan ada masyarakat yang melahap cacing
tanah mentah yang masih hidup karena dipercaya dapat menyegarkan
badan (Khairulman dan Amri, 2009). Di RRC, Korea, Vietnam, dan
banyak tempat lain di Asia Tenggara, cacing tahah terutama dari spesies
Lumbricus sp, bisa digunakan sebagai obat Universitas Universitas
Sumatera Sumatera Utara sejak ribuan tahun yang lalu.
Hasil penelitian terhadap cacing tanah menyebutkan bahwa
senyawa aktifnya mampu melumpuhkan bakteri patogen, khususnya
Eschericia coli penyebab diare. Pengalaman nyata lain juga menyebutkan
cacing tanah bermanfaat untuk menyembuhkan rematik, batu ginjal, dan
cacar air. Di beberapa negara Asia dan Afrika, cacing tanah yang telah
dibersihkan dan dibelah kemudian dijemur hingga kering, lazim dijadikan
makanan obat (healing foods). Biasanya kering disantap sebagai keripik
cacing (Anonim, 2008).
Gumilar (1993) menyatakan bahwa di Jepang, Amerika Serikat dan
Eropa, cacing tanah selain diolah sebagai makanan, juga digunakan untuk

pupuk tanaman, bahan pembuat kosmetika serta obat-obatan. Misalnya di


Jepang cacing tanah dimanfaatkan untuk produksi antidote (penawar
racun) dan penurun demam. Penelitian lainnya dilakukan di Universitas
Diponegoro dan Institut Teknologi Bandung yang menguji sensitivitas
Salmonella typhi terhadap ekstrak cacing tanah secara in vitro. Hasil yang
diperoleh menunjukkan ekstrak cacing tanah spesies Lumbricus rubellus
dan Pheretima sp memberikan hasil yang efektif dalam menurunkan
jumlah koloni Salmonella typhi (Jacinta dkk, 1991; Ratriyani, 2000).

KEONG MAS
(Pomacea canaliculata)

A. Klasifikasi
1. Kingdom
2. Filum
3. Kelas
4. Ordo
5. Famili
6. Genus
7. Spesies
B. Morfologi

: Animalia
: Moluska
: Gastropoda
: Mesogastropoda
: Ampullariidae
: Pomacea
: Pomacea canaliculata

Keong mas ini memiliki bentuk yang hampir sama dengan keong
sawah yang disebut dengan gondang. Namun, memiliki perbedaan

dibagian cangkang keong mas berwarna kekuningan keemasan hingga


kecoklatan transparan dan juga cangkang lebih tipis. Keong mas ini
memiliki daging bewarna krim keputihan hingga kemerah emasan atau
orange kekuningan dengan ukuran lebih dari 10 cm dan cangkang
memiliki daimeter berkisar 4-5 cm.Keong ini juga bertelur ditempat yang
kering 10-13 cm dari permukaan air, bentuk telur memanjang dengan
warna meeah jambu. Panjang telur ini 3 cm lebih dengan lebar 1-3 cm
dengan ukuran mencapai 2.0 mm dan berat 4,5 7,7 mg.
Menurut penelitian dari Halimah dan Ismail, 1989 keong mas ini
memiliki ciri ciri sebagai berikut : cangkang berbentuk bulat mencapai
tinggi lebih dari 10 cm, berwarna kekuningan. Pada mulut cangkang keong
mas

ini

terdapat

operculum

yang

berbentuk

bulat

bewarna

coklatkehitaman pada bagian luar dan coklat kekuningan pada bagian


dalamnya. Bagian kepala keong mas ini memiliki dua tentakel dekat
dengan mata. Kaki lebar berbentuk segitiga dan kecil pada bagian
belakangnya, dan mereka dapat hidup dengan baik pada perairan deras
dengan komponen utama tumbuhan air dan bangkai.
C. Habitat
Keong yang disalurkan ditemukan dalam berbagai habitat yang
berbeda, termasuk subtropis dan tropis di Amazon Basin dan Interior Plata
Basin. Spesies ini ditemukan dalam berbagai bidang air tawar seperti
danau, aliran air, lahan basah dan lahan pertanian. Preferensi Suhu
untuk P. canaliculata berkisar 18-250 C. Suhu di bawah 180 atau di atas
320C secara drastis meningkatkan angka kematian siput (Cowie, 2005)
D. Manfaat
Keong Mas (Pomacea canaliculata) dapat bermanfaat untuk
meningkatkan kecerdasan, meningkatkan libido, dan obat liver. Keong
mas mengandung asam omega 3, 6 dan 9. Hasil uji proksimat, kandungan
protein pada keong mas 57,76 %. Kandungan protein yang tinggi dapat
digunakan sebagai pakan belut karena belut merupakan hewan karnivora

sehingga membutuhkan pakan dengan kadar protein yang tinggi. Selain


banyak mengandung protein, hewan dari keluarga moluska ini juga kaya
akan kalsium. Penggunaan keong mas untuk pakan itik terbukti mampu
menaikkan hasil telur hingga 80 %. Pemberian pakan sekitar 4,5 % tepung
keong mas pada sapi potong juga memberikan hasil pertumbuhan yang
baik dan tingkat keuntungan paling tinggi dibandingkan pemberian pakan
lain. Sebagai pakan ikan, penggantian kandungan tepung ikan menjadi
tepung keong mas sebanyak 25 hingga 75 % memberikan pengaruh cukup
baik terhadap laju pertumbuhan harian individu, efisiensi pakan, retensi
protein, dan retensi lemak (Ruslan dan Harianto 2009).