Anda di halaman 1dari 35

Metode Polarisasi

Terinduksi
Metode Induced Polarisation (Polarisasi Terimbas)
A. Pendahuluan
Polarisasi terimbas merupakan salah satu metode geofisika yang mendeteksi terjadinya
polarisasi listrik pada permukaan mineral-mineral logam di bawah permukaan bumi. Pada metode
geolistrik polarisasi terimbas, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua elektroda arus,
kemudian beda potensial yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial. Ketika arus sudah
dimatikan maka akan timbul tegangan overpotensial yang disebabkan adanya efek polarisasi dan
waktu peluruhannya akan diukur sebagai parameter IP kawasan waktu atau disebut chargeability.
Metode polarisasi terimbas ini terutama digunakan dalam eksplorasi logam dasar (base
metal) dan penyelidikan air tanah, persebaran mineral sulfide termasuk emas dan perak
(disseminated sulfides), sink holes, dll.
Dalam metode polarisasi terimbas ada 4 macam metodepengukuran yaitu pengukuran
dalam domain waktu, domain frekuensi,pengukuran sudut fasa dan Magnetic Induced
Polarization (MIP). Untuk metode pengukuran kali ini adalah IP domain waktu dan akan lebih
dibahas secara detil daripada metode pengukuran lainnya.
Prinsip pengukuran IP memiliki susunan konfigurasi yang serupa dengan survey geolistrik.
Pengukuran dikombinasikan sedemikian rupa sehingga akuisisi data IP dapat dilakukan secara
simultan dengan geolistrik. Dengan demikian dapat dikarakteristik material yang memiliki respon
resistivitas yang samabisa mempunyai karakteristik IP yang berbeda.

B. Dasar Teori
Berdasarkan target, susunan konfigurasi elektroda dalam metode IP sama dengan metode
resistivitas umumnya antara lain : konfigurasi Schlumburger, konfigurasi Wenner, pole-dipole dan
dipole dipole. Pada pembahasan kali ini hanya konfigurasi dipole dipole yang akan digunakan.

Metode Polarisasi
Terinduksi
1. Konfigurasi Elektroda ( Dipole-dipole)

Gambar 1. Konfigurasi dan besarnya faktor geometri

2. Metode Pengukuran
2.1. Domain Waktu
Pengukuran dalam domain waktu maksudnya adalah pengamatan peluruhan
potensial sekunder (V s ) terhadap waktu. Untuk mengukur derajat terpolarisasi suatu
bahan pada suatu waktu, didefinisikan dengan besaran chargeabilitas (m) yang
bergantung pada jenis bahan dan selang waktu pengaliran arus.
Adanya system elektrolit dan elektronik pada saat penghantaran arus,
menyebabkan tanah bertindak sebagai kapasitor, menyimpan muatan listrik, dengan
demikian terjadi polarisasi atau pengkutuban. Pengukuran peluruhan tegangan, sesaat
setelah arus listrik dimatikan adalah luasan daerah dari kurva waktu peluruhan.

Metode Polarisasi
Terinduksi

time
Gambar 2.1grafik peluruhan potensial dan integral peluruhan tegangan

Integral dari skema di atas dapat dituliskan dengan persamaan:


=

Atau untuk beberapa literature dan prinsip pengukuran beberapa alat survey biasanya
digunakan bentuk persamaan :
=

Dimana Vp adalah potensial terukur ketika arus dihidupkan, dan Vs potensial ketika
arus dimatikan. Karena Vs jauh lebih kecil dibandingkan dengan Vp, maka satuan dari
persamaan di atas diekspresikan dengan milivolt per volt atau dalam persen.

2.2.

Domain Frekuensi

Pengukuran IP dalam kawasan frekuensi dibuat dengan cara mengalirkan arus


bolak balik pada dua atau lebih frekuensi yang berbeda. Adanya perubahan nilai
resistivitas semu antar tiap frekuensi digunakan untuk mengukur polarisasi elektrik
yang terjadi. Pada pengukuran konvensional kawasan frekuensi arus yang
ditransmisikan memiliki frekuensi yang rendah ditunjukkan dalam sinyal kotak pada

Metode Polarisasi
Terinduksi
kisaran 0.1 Hz sampai dengan 3 Hz. Perbedaan dalam nilai resistivitas pada dua
frekuensi relative terhadap resistivitas pada frekuensi yang tinggi yang digunakan
untuk menghitung parameter IP yang dikenal sebagai percentage frequency effect
(PFE), dimana pada PFE terdapat ac adalah resistivitas yang diukur pada frekuensi
tinggi dan dc adalah resistivitas yang diukur pada dc.
a) Efek Frekuensi
Percentage Frequency Effect (PFE) merupakan hubungan antara efek frekuensi dengan
jumlah kandugan mineral logam. Percentage Frequency Effect (PFE) didefinisikan pada
rumus di bawah ini :
=
=

Maka nilai persentasenya adalah

100

b) Metal Factor (MF)


Parameter IP lainnya yang berhubungan dengan frekuensi adalah metal factor
(MF). MF merupakan PFE yang dinormalisasikan (dibagi) oleh resitivitas terukur pada
frekuensi yang rendah. IP efek dikatakan tervariasi dengan resistivitas efektif dari
batuan sumber dan tipe elektrolit, suhu, ukuran pori, dan lainnya.
Persentase metal factor (MF) ditunjukkan dalam rumus di bawah ini :
105
103
=
=
( 2)
( 2)

Metode Polarisasi
Terinduksi
3. Teori Sumber Polarisasi Terimbas
Polarisasi terimbas adalah distribusi volume dipol-dipol arus listrik pada setiap
titik dalam medium yang terjadi akibat adanya arus primer. Arus primer

ini

menyebabkan reaksi transfer antara ion elektrolit dengan mineral logam sehingga
terbentuk dipole arus listrik dalam medium tersebut.
3.1. Mineral mineral yang menimbulkan gejala IP
Kandungan mineral logam dalam bumi umumnya terbentuk sebagai senyawasenyawa sulfida.Bijih sulfida ini mempunyai kontras konduktivitas yang besar
dibandingkan latar belakang.Jadi tubuh sulfida merupakan penghantar elektronik
sedangkan larutan dalam pori-pori batuan merupakan penghantar ionik.Sistem
demikian memungkinkan terjadinya gejala IP jika arus listrik dialirkan ke
dalamnya.Gejala

IP

juga

ditimbulkan

oleh

beberapa

oksida

dan

mineral

lempung.Gejala IP tersebut dapat dijelaskan dengan polarisasi elektrodan dan


polarisasi membrane.
4. Polarisasi
4.1. Polarisasi Elektroda
Overpotensial
Jika dalam sistem mineral logam dialirkan arus listrik akan terjadi pengutuban
muatan pada bidang batas antara mineral logam dengan larutannya. Peristiwa
inidisebut polarisasi elektroda sedangkan beda potensial pada keadaan reversible dan
tak reversibel (saat dialiri arus) disebut overpotensial. Jika arus listrik dihentikan ionion yang terkumpul pada bidang batas akan berdifusi kembali ke keadaan semula. Hal
ini teramati sebagai peluruhan tegangan (potensial).

Metode Polarisasi
Terinduksi

Gambar 5.1 skema terjadinya polarisasi elektroda

4.2. Polarisasi Membran


Gejala latar belakang dalam eksplorasi mineral logam terutama disebabkan
mineral-mineral clay dalam batuan yang berpori-pori. Umumnya mineral-minral clay
dalam batuan bermuatan negatif pada bidang batas antar muka permukaan batuan
dan larutan pori. Sehingga ion-ion positip dalam larutan pori terkumpul dekat pada
bidang batas sedangkan ion-ion negatif tertolak menjauhi bidang batas.
Jika ukuran pori kecil (10-16m) pori bersifat sebagai kapiler maka ion-ion positif
akan memenuhi diameter kapiler sedangkan ion-ion negatif akan terkumpul di ujung
kapiler sehiingga terjadi polarisasi muatan pada sistem ini. Jika diberi beda potensial
maka ion-ion tersebut akan bergerak sesuai dengan arah medan listrik. Distribusi ionion positip dapat melalui awan ion positip yang terdapat didekat mineral clay tetapi
distribusi ion negatif akan terhambat dan terkumpul pada awan ion positip. Jadi awan
ion positip sebagai membran pemilih.Polarisasi yang terjadi karena sifat membran ini
disebut polarisasi membran.

Metode Polarisasi
Terinduksi

Gambar 3.2 skema terjadinya polarisasi membran

5. Sumber Derau IP
5.1.

Sp
Self-potential yang merupakansalahsatubackground noise dapat dengan mudah

dikompensasi yaitu dengan cara mengurangi beda potensial terukur setelah arus
diinjeksikan dengan nilai sp terukur saat pertama kali alat dipasang. Ada alat yang
mengkompensasi nilai SP secara manual yaitu dengan membawa bacaan potensial saat
pertama kali alat dipasang ke nol dan ada juga yang secara otomatis menghasilkan
nilaipotensial terukur yang sudah dikurangi nilai SP nya.
5.2.

Capacitive Coupling
Terjadi karena kebocoran arus antara elektroda arus dan elektroda potensial,

Antara kabel arus dan potensial, atau kombinas ikeduanya. Besarnya cukup kecil
sehingga dapat diabaikan kecuali insulator pada kabel cacat atau kabel terletak lebih
dekat dengan elektroda yang tersambung kabel lain disbanding dengan elektroda
sambungannya sendiri, sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut kabel-kabel yang
akan digunakan mesti dicek terlebih dahulu sebelum pengukuran.
5.3.

Elektromagnetik Coupling
Efek ini cukup merepotkan, terjadi karena induksi antara kabel arus dan

potensial. Efek ini akan semakin besar ketika bentangan elektroda cukup besar

Metode Polarisasi
Terinduksi
sehingga kabel yang digunakan panjang dan apabila frekuensi lebih besar digunakan.
Konfigurasi pole-dipole dan dipole-dipole dapat digunakan untuk mengurangi efek ini
karena membutuhkan kabel yang pendek kemudian frekuensi arus yang diinjeksikan
dibawah 10 Hz.
6. Akuisisi Data IP
Prosedur pengukuran IP
1.

Konfigurasi dipole dipole. A dan B adalah elektroda arus, M dan N adalah elektroda
potensial. a adalah spasi antar elektroda, n adalah faktor pengali n 1,2,3
Elektroda potensial M dan N di geser ke kiri dengan jarak n.a sebanyak n kali.

Gambar 6.1 skema konfigurasi dipole dipol

Dalam survey lapangan, untuk lebih memudahkan pengukuran dapat dilakuakan


dengan langkah langkah berikut ini.
2.

Tancapakan elektroda (arus) dan pasang porospot (potensial) seperti pada skema
di bawah ini dengan nilai a yang sudah ditentukan. Skema ini dibuat untuk n=6.

Gambar 6.2 Skema pengukuran IP di lapangan

Metode Polarisasi
Terinduksi
3. Porospot yang sudah dipasang, di sambungkan dengan kabel potensial 2 warna
untuk 2 porospot terdepan dan 4 warna untuk 4 porospot dari belakang, dengan
pengaturan warna seperti pada skema diatas. B (biru), K (kuning), M (merah), H
(hitam). Porospot ke 3 atau yang dekat dengan alat hanya perlu disambung
dengan kabel penghubung yang pendek.
4. Pastikan elektroda, porospot, dan kabel sudah terpasang, lakukan pengecekan
sambungan kabel. Bisa dengan menggunakan fungsi RS CHEK dan MONITOR pada
alat Syscal, atau menggunakan multimeter.
5. Apabila alat sudah terpasang semua dan tersambung dengan baik, lakukan
pengukuran resistivitas dan chargeability sesuai konfigurasi.
6. Untuk memindahkan porospot sesuai konfigurasi, hanya perlu mengganti warna
kabel yang masuk kealat sesuai dengan warna yang tersambug dengan porospot.
7. Apabila pengukuran sudah selesai hingga n 6, semua kabel dan alat ditarik ke
depan sejauh a. dan dilakukan pengukuran lagi.

Prosedur Pengukuran Beda Ketinggian dengan Klinometer


1. Berdirilah di titik yang akan dilakukan pengukuran, yaitu mulai dari titik elektroda
arus pertama.
2. Pastikan teman anda berdiri di titik selanjutnya yang akan dibidik sudut elevasinya,
yaitu di titik elektroda arus kedua.
3. Arahkan pandangan satu mata anda ke mata teman anda, atau ke bagian lainnya
yang dirasaa sejajar ketinggiannya dengan mata anda lalu baca angka di sebelah kiri
di dalam klinometer dengan satu mata lainnya.
4. Membidik teman anda dilakukan agar bidikan anda sejajar dengan permukaan
tanah. Apabila anda membidik permukaan tanah langsung saat topografi naik maka

Metode Polarisasi
Terinduksi
hasil bidikan anda akan lebih landai atau apabila saat topografi turun, bidikan anda
akan lebih curam. Sehingga tidak menggambarkan sudut elevasi sebenarnya.
5. Apabila untuk membidik titik selanjutnya terhalang topografi tinggi atau bentuknan
bukit, maka anda diperbolehkan membidik dahulu bagian atas bukit tersebut,
kemudian dari atas bukit baru diteruskan membidik titik anda sebenarnya.

Gambar 6.3 Skema pengukuran sudut elevasi dengan klinometer

Metode Polarisasi
Terinduksi
7. Penggunakan Syscal Jr
Deskripsi Alat Ukur
Spesifikasi Umum

Berat : 13,8 kg

Dimensi : 31 x 23 x38 cm

Operating temperature: -20 to +70 C

Spesifikasi arus keluaran :

Automatic

Ranging

(dikontrol

sebuah

mikroprosesor)

Intensitas. : sampai dengan 1250 mA

Tegangan : hingga 400 V (800 V puncak ke


puncak)

Daya : hingga 200 W

Waktu siklus dipilih dari : 0.25, 0.5, 1, 2, 4,


atau 8 s

Reduksi noise : stacking kontinyu terpilih


dari 1 hingga 255 stacks

Kompensasi

SP

melalui

koreksi

penyimpangan (drift) secara linear

Power supply : two internal rechargable 12


V/ 7.2 Ah batteries

Gambar 7.1. Syscal Jr dan spesifikasinya

Metode Polarisasi
Terinduksi
General set Up

Batt

Tombol ini berfungi untuk menampilkan voltase baterai (aki) yang kita miliki.Pada
Syscal apabilamenekan tombol Batt akan menunjukan tampilan sebagai berikut :

Tampilan tersebut menunjukan kapasitas Aki yang kita miliki masih Full.Apabila
terdapat tampilan berikut

voltaseAki kita terlampau sedikit sehingga harus menggantikan dengan Aki yang lain
untuk syscal, voltase aki yang dapat digunakan adalah 12,7 V 100 % dan apabila
voltase aki sebesar 10 v 0 % maka aki tidak dapat diigunakan

RS CHECK

Kegunaan dari tombol RS CHECK adalah untuk melakukan pengecekan antara


elektroda arus dengan kontak tanah, apabila elektroda arus dengan kontak tanah

Metode Polarisasi
Terinduksi
terdapat pembacaan 1 kohm maka sambungan/kontak dengan ground tidak terlalu
baik. pembacaan bagus berkisar kurang dari 0,3 kohm.

MODE

Pada pilihan mode, anda dapat mengatur pilihan mode pengukuran yang dapat
dilakuakan, terdapat 3 mode dalam pemilihan syscal ini yaitu Rho, RHO IP, Multi
Electrode.

ELECTRODE ARRAY

Tombol electrode array memiliki kegunaan yaitu memilih konfigurasi yang akan kita
gunakan. Pada syscal kofigurasi yang tersedia adalah :

SPACING

Apabila dalam penggunaan syscal memilih electrode array, maka selanjutnya adalah
menentukan geometri parameter yang digunakan. Berikut merupakan parameter
geometri desetiap konfigurasi :

Metode Polarisasi
Terinduksi

Dipole - dipole

Dimana,
XC = jarak dari 0 sampai electrode B
XP = jarak dari 0 sampai electrode M
D = Spasi yang digunakan pada pengukuran

MONITOR

Kegunaan dari tombol Monitor adalah untuk melakukan pengecekan elektroda


potential terhadap noise.Dimana pengecekan ini bertujuan untuk melihat nilai
potential yang terbaca pada saat sebelum diinjeksikan arus. Pada syscal setelah
menekan tombol Monitor akan muncl tampilan :

Metode Polarisasi
Terinduksi

Dan apabila menekan tombol ENTER maka akan muncul tampilan sebagai berikut

Pada tampilan tersebut merupakan selisih nilai yang terbaca antara potential observasi
dengan potential referensi.

START

Tombol start berfungsi untuk memulai menginjeksikan arus, dimana pada saat
melakukan injeksi arus dilayar akan terbaca :

SP = potential yang terbaca sebelum diinjeksikan arus


HV = high voltage yang disuplai (Vab). Garis putus menunjukan arus transmisi yang
diinjeksikan

Dimana,
V = voltase yang terbaca dalam mV
I = arus yang terukur dalam mA
M = Global chargeability mV/V
Q = standard deviasi dari V/I ratio atau dapat dikatan pada apparent resistivity
# = angka stack yang dijalankan
Setelah selesai injeksi dapat dilihat hasilnya dengan menekan tombol RESULT dan akan
menampilkan tampilan :

Metode Polarisasi
Terinduksi
V = rata-rata voltase yang terukur Vmn pada mV
I = rata-rata arus yang dikeluarkan pada AB mA
Sp = Potential yang terukur sebelum diinjeksikan arus
Apabila ditekan tombol ENTER akan muncul tampilan :

Apabila ditekan tombol ENTER lagi akan muncul tampilan :

Nilai M tersebut merupakan nilai yang terbaca pada Syscal, karena chargeability
merupakan peluruhan secara eksponential dan dalam alat sendiri pembacaan berupa
diskrit maka hasil chargeability yang digunakan merupakan windowing dari setiap
peluruhan tersebut. Dari pembacaan tersebut dapat dijadikan QC dimana M yang
terbaca semakin mengecil.

Metode Polarisasi
Terinduksi
8. Kontrol Data
Kontrol data yang dapat dilakukan dalam pengukuran IP adalah:

Nilai Potensial (V)


Dalam datu set pengukuran (dari n ke 1 hingga ke i), nilai potensial harus mengecil,

dengan catatan arus yangdiinjeksikan hampir sama. Hal ini sesuai dengan persamaan v = I
rho/2 phi r. dimana v dan r berbanding terbalik.

Nilai Q (Standar deviasi)


Merupakan standar deviasi yang dihitung oleh alat. Data yang bagus memiliki Q yang 0

NIlai M
Dalam 4 kali pengukuran dan pembacaan nilai M, untuk M1 hingga M4, nialianya

semakin menurun.Dengan asumsi grafik peluruhan potensial menurun secara


eksponensial.Apabila M yang terbaca -99.99 berarti terjadi error pengukuran, dan perlu
diulangi kembali.
Apabila data yang dihasilkan tidak begitu bagus sesuai parameter diatas, makan perlu
dilakukan pengecekan sambungan antar kabel menggunakan multimeter, melepas dan
pemasang kembali sambungan antar kabel, memastikan porospot terkubur dengan baik
(tanah padat dan diusahakan lembab), memastikan larutan CuSO4 masih tersisa.
C. Peralatan Lapangan
a. Syscal jr

h. Log sheet

b. Aki

i.

Sunto

c. Elektroda (min 2 buah)

j.

Mutimeter

d. Porous Pot

k. Larutan CuSo4

e. Kabel

l.

f. Konektor (capit buaya)

m. Palu

g. Peta (RBI, topografi, geologi)

n. Meteran

Parang

Metode Polarisasi
Terinduksi
o. Kompas

q. Manual

p. Ponco

D. Pengolahan Data
1. Log Sheet
Nama
Line

C1(m) C2(m) P1(m) P2(m)

V
(mV)

I(mA)

R (kOhm)

(V/I)

RHO(ohm

m)

pi.a.n(n+1)(n+2)

R.k

2. Tabel Pengoahan Excel


Nama
Line

C1(m) C2(m) P1(m) P2(m)

V
(mV)

I(mA)

R (kOhm)
(V/I)

Q K

RHO(ohm

X mid

m)
R.k

(C1+P2)/2

Metode Polarisasi
Terinduksi
3. Format di notepad
FORMAT INPUT RES2DINV .dat (notepad)
FC IP Hari 1 Line 1
20
3
50
1
1
Chargeability
msec
0.1, 1.0
20
1
20
63.77031
5.2
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
270
1
20
21006.45
3.2
1
16
0
791
.
.
.
.
.
.
300
751
1
0
0
0
0

KETERANGAN
Judul/Nama Survey
Spasi terkecil elektroda
Jenis Konfigurasi (1 = Wenner (alpha), 2 = Pole-pole, 3 = Dipole-dipole, 4 = Wenner (beta), 5 = Wenner (gamma), 6 = Pole-dipole, 7 = Schlumber
Jumlah data
Tipe x-location (0 = jika elektroda pertama digunakan untuk mengukur titik data, 1 = jika titik data terletak pada titik tengah konfigurasi)
0 = Resistivitas, 1 = IP

x-location Spasi
n
Apparent rho Chargeability (data pertama)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
x-location Spasi
n
Apparent rho Chargeability (data terakhir)
Isikan 1 jika ingin menambahkan data topografi
Jumlah data
x-location Elevasi (data pertama)
.
.
.
.
.
.
x-location Elevasi (data terakhir)
Di akhiri dengan 1 jika menambahkan topografi
Di akhiri dengan 0 sebanyak 4 kali

4. Step-by-Step Res2Dinv
1. Buka Res2Dinv, klik Filepada menu bar lalu pilih read data file. Kemudian pilih file yang telah
kita simpan dalam .dat

Metode Polarisasi
Terinduksi

2. Setelah file dipilih, akan muncul tampilan gambar seperti ini.

Kemudian klik OK
Pada tahap ini pastikan jumlah data yang dimasukan sesuai dengan jumlah data kita.Error
yang biasa terjadi adalah pada perhitungan jumlah datanya.

3. Kemudian pilih menu Inversion pada menu bar dan pilih Least squares inversion, lalu klik.

Setelah diklik, apabila terdapat command seperti ini

Metode Polarisasi
Terinduksi

Hal tersebut terjadi dikarenakan perubahan error relative adalah 5 percent, sedangkan pada
hasil inversi perubahan error yang didapat adalah 3,3 percent. Anda dapat melakukan
perhitungan kembalik atau menghentikan proses inversi. Dalam contoh ini proses inversi akan
distop denga meng-klik NO
4. Kemudian akan didapat hasil inversi seperti berikut

Terdapat 3 baris dimana baris 1 merupakan data rho apparent hasil inputan (Measured
Apparent Resistivity Pseudosection).Pada baris 2 adalah hasil perhitungan dari rho apparent
(calculated apparent resistivity pseudosection) dan pada baris ke 3 merupakan hasil inversi
yang didapat.Dalam hal ini RMS error yang didapat adalah 148%.Nilai RMS tersebut cukup

Metode Polarisasi
Terinduksi
besar sehingga diperlukan pengrangan dalam nilai RMS sehingga memberikan model yang
mendekati data yang sebenarnya.

5. Untuk merubah nilai RMS tersebut dapat mengatur parameter inputan yang terdapat pada
pilihan Change Setting pada menu bar.

Pada pilihan Change Setting terdapat beberapa parameter yang dapat kita ubah untuk
memberikan suatu hasil inversi yang lebih baik.

6. Pada contoh ini, hal yang dilakukan adalah mengubah nilai dari Damping Factor

Pada initial damping factor kita pilih 0.15 dan pada minimum damping factor kita pilih 0.03
kemudian klik OK.

7. Kemudian klik Optimize Damping Factor dan pilih YES kemudian klik OK

Metode Polarisasi
Terinduksi

8. Kemudian atur Vertical/Horizontal Flatness Ratio. Dalam contoh ini akan diberikan nilai 2.
Pemilihan Vertical/Horizontal Flatness Ratio berfungsi untuk mempertajam arah dari
anomaly sendiri, apabila arah anomaly menghasilkan nilai yang memanjang secara vertical
maka nilai Vertical/Horizontal Flatness Ratio dapat ditingkatkan, apabila secara horizontal
maka dapat di rendahkan. Kemudian klik OK.

9. Selanjutnya masuk pada pilihan Finite Mesh Grid Size, kemudian klik pada pilihan 4 nodes.
Pemilihan 4 nodes bertujuan untuk meningkatkan hasil processing data dimana pada
resistivitas yang kontras akan memberikan hasil yang lebih jelas.

Metode Polarisasi
Terinduksi

10. Kemudian masuk pada pilihan Use Finite Element Method. Pada pilihan ini terdapat metode
forward modeling yang akan kita gunakan. Pada contoh ini kita akan menggunakan Finite
element. Pemilihan metode finite element didasarkan pada data yang kita gunakan terdapat
konten Topografi, apabila data yang digunakan tidak memuat konten topografi maka
digunakan Finite Difference. Dan pada pilihan Type of Finite Element kita pilih Triangular.
Kemudian klik OK.

11. Kemudian Pilih Mesh Refinement, pada pilihan ini bertujuan untuk memberikan nilai
perhitungan pada resistivity menjadi lebih akurat pada arah vertical. Terdapat 3 tipe mesh,
normal mesh, finer mesh, dan finest mest pada 3 tipe tersebut pemilihan dilakuka
berdasarkan kontras resisitivitas yang terdapat pada data. Pada contoh ini kita gunakan pada
Finer Mesh dan pemilihan node yaitu 4 node.

Metode Polarisasi
Terinduksi

12. Kemudian pilih Converge Limit. Pemilihan converge limit ini bertujuan untuk menentukan
perubahan error yang telah di proses. Pada latihan ini kita pilih 5%.

13. Kemudian pilih RMS Converge Limit pemilihan ini bertujuan untk menentukan batas minimal
perubahan error. Pada latihan ini akan dipilih batas perubahan adalah 2.

14. Kemudiaan atur jumlah iterasi yang akan kita lakukan pada Number of Iterations.

Metode Polarisasi
Terinduksi

15. Selain mengatur setting yang akan diproses untuk inversi, melalui Res2dinv dapat juga
menghilangkan nilai datum yang dirasa kurang baik, dengan cara memilih Edit pada menubar
kemudian pilih Exterminated Bad Datum Point. Setelah diklik akan muncuk tampilan seeperti
berikut :

selain resistivitas dapat juga menampilkan nilai datum IP dengan memilih menu Display pilih
Choose resistivity or IP display kemudian pilih Display IP

Metode Polarisasi
Terinduksi

kita dapat menghilangkan datum yang memiliki lonjakan nilai resisitivitas/IP dengan klik kanan
pada nilai yang ingin kita hilangkan

Lingkaran merah menunjukan data ang ingin kita hilangkan.

Kemudian pilih Exit nanti

akanada arahan untuk melakukan save terhadap datum yang telah kita pilih, kemudian pilih
YES dan akan menuju pada folder yang akan kita pilih sebagai tempat save kita.

Metode Polarisasi
Terinduksi

16. Kemudian kembali pilih Inversion pada menu bar dan klik Least Square Inversion.

Dapat dilihat bahwa RMS error mengalami pengurangaan nilai yaitu menjadi 28.5%
17. Kita dapat juga melihat hasil Resistivity dan IP dengan mengklik pilihan Display pada menu bar
klik Show Inversion result. Pilih Display Section kemudian klik Choose Resistivity or IP display.
Jika ingin menampilkan data tanpa topografi dapat meng-klik pilihan Display section klik
pilihan Display data and model section.
Apabila terdapat pilihan seperti berikut :

Metode Polarisasi
Terinduksi

Ketik iterasi 5 (pemilihan iterasi berdasarkan angka iterasi yang telahdi tentukan pada proses
inversi).Kemudian pilih OK. Pada pilihan Set Resistivity Contour Value pilih Logaritmic
Contour interval kemudian klik OK,kemudian IP pilih IP Contour Interval kemudian akan
muncul pilihan seperti berikut :

Apabila ingin memunculkan bentuk topografi dapat kembali ke menu pilihan Display dan pilih
Include Topography in model display maka akan menghasilkan hasil seperti berikut :

Metode Polarisasi
Terinduksi

NOTE!
Dalam Step-by-step Res2dinv ini kami hanya memberikan tutorial mengenai langkah-langkah
cepat dalam melakukan inversi dan cara mengurangi error RMS dari inversi. Terdapat
beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengurangi error RMS, dengan mengatur nilai
pada parameter yang terdapat pada pilihan Change setting maupun Inversion. Jika ingin
mempelajari lebih mendalam terhadap parameter pada Res2Dinv dapat dilihat pada manual
Res2dinv sendiri. SELAMAT MENCOBA!

Metode Polarisasi
Terinduksi
E. Interpretasi
Pada

pengukuran

metode

IP

dengan

Domainmakaakandidapatkanhasilberupanilaichargeability

menggunakan

pengukuran

Time-

dimanahasilpengukuranTime-domain

membandingkan nilaipotensial residual V(t) yang tersisa padawaktu t sesaat setela harus
diinjeksikan. Interpretasi data IP merupakan interpretasi yang bersifatkualitatif. Alokasi
keberadaan dan perpanjangan darisuatu anomaly ditunjukkan dalam suatu profile anomaly dan
plotting pseudodepth.
Seluruh parameter elektrik yang terukur pada survey resistivitas atuapun IP berasal dari
respon berbagai sumber di bawah permukaan.Pada umumnya adalah adanya material konduktif
bawah permukaan tanah (conductive overburden). Beberapa noise seperti adanya medan
electromagnet yang berasosiasi dengan kabel yang terhubung dengan elektroda, keadaan
topografi yang berundulasi, adanya anisotropi elektrik padapermukaan material tersebut dan juga
gangguan sekitar.
Secara teoritis suatu sulfide massive memiliki nilai response IP yang lebih rendah
dibandingkan dengan mineralisasi tersebar atau disseminated mineralization, tetapi hal ini tidak
harus menjadi patokan dalam keadaan lapangan sebenarnya, kemungkinan responnya menjadi
kebalikannya. Salah satu kemungkinannya adalah adanya Halo pada disseminated mineralization
yang biasanya dikelilingi oleh zona yang massive. Penjelasan lainnya yaitu tidak adanya
keberadaan sulfide massive homogeny namun terpecah menjadi beberapa zona konduktif dan
non-konduktif.(Telford, et al 1990).
Terdapat salah satu kelemahan pada pengukuran IP dan resistivitas apabila adanya zona
konduktor dengan dip yang sangat terjal dan tipis, sehingga hal ini hanya terespon baik dengan
survey Magnetik ataupun Elekromagnetik, karena pada IP spasi konfigurasi yang relative lebih
besar dibandingkan targetnya.
Dalam suatu interpretasi chargeabilitas harus disandingkan dengan nilai resistivitasnya,
dimana nilai anomaly ditunjukkan dengan adanya nilai IP tinggi dengan resistivitas yang rendah,

Metode Polarisasi
Terinduksi
hal tersebut sering terjadi pada pengukuran dengan metode IP dimana batuan dominan sekitar
adalah dari jenis clay yang memiliki resistivitas rendah.
Nilai chargeabilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor di bawah ini :
a. Komposisi mineral logam dari matriks batuan.
Batuan yang memiliki mineral logam lebih banyak akan memilik ichargeability yang
lebih besar akibat perpindahan elektron yang terjadi di dalam tubuh batuan tersebut.
b. Specific surfacedari grains matriks.
Kenaikan Spesific surface akan menaikkan chargeability batuan karena menurunnya
permeabilitas batuan.
c. Kandungan clay
Compacted clay akan menghasilkan IP effect yang rendah, namun disseminated clay
akan menghasilkan IP effect yang besar. Sementara clean sand dan gravel akan menghasilkan
IP effect yang rendah namun masih dapat terukur.
d. Porositas
IP effect akan meningkat apabila porositas berkurang
e. Intensitas dan Frekuensi Arus
f. Kadar air dalam struktur pori
Hubungan ini didasarkan pada ketersediaan ion untuk pertukaran ion, yang akan
menimbulkan respon IP. Ketika kadar air dalams truktur pori menurun, ketersediaan ion
untuk terjadi pertukaran ion meningkat sehingga menaikkan respon IP

Pada pengukuran IP Time-Domain memiliki noise/gangguan/derau berupaEM Coupling


(Electromagnetic Coupling).Menurut Wynn and Zonge, 1975EM-Coupling atau Inductive Coupling
menyebabkan efek IP yang palsu, dimana respon IP-efek serupa dengan material.Efek ini dapat
mebingungkan interpreter apakah hal tersebut berasal dari material elektrik terpolarisasi di
bawah permukaan ataukahEM-Coupling.

Metode Polarisasi
Terinduksi
EM Coupling sendiri merupakan tumpukan medan elektromagnetik antara suatu batuan yang
terinjeksi arusmenghasilkan arus Eddy dengan medan elektromagnetik yang disebabkan oleh
kabel yang terhubung dengan elektroda. Selain itu efek topografi juga mempengaruhi nilai
response IP, dimana pada asumsi awal apparent resistivitas terukur pada suatu bidang yang datar,
sehingga apabila survey berada pada topgrafi yang berundulasi menjadi suatu gangguan dalam
interpretasi dan menghasilkan variasi nilairesitivitas palsu (Fox et al, 1980).Namun dalam survey
IP tidak ada hal yang akurat yang dapat memindai efek topografidari data IP, sehingga pada
interpretasi nanti nya harus disertakan adanya nilai variasi topografi pada hasil pemodelan. Hal ini
menjadi sangat masuk akal ketika menetukan target ekonomis yang bergantung pada perubahan
topografi.

Contoh respon data geofisikan SP, IP, dan resistivitas

Gambar. Contoh respon data geofisika terhadap beberapa jenis batuan

Metode Polarisasi
Terinduksi

Gambar. (a) nilai variasi chargeabilitas pada mineral, (b) nilai variasi chargeabilitas padabatuan, dan (c) nilai variasi
chargeabilitas pada material, Telford et al, 1990

Sumber :
Geophysical Consulting and Instrument Services, Metode Geolistrik Polarisasi Terimbas (Induced
Polarization)
Dentith, M and Mudge, Stephen T. 2014.Geophisics for the Mineral Exploration Geoscientist. USA:
Cambridge University Press
Kiberu, J. 2002. Induced Polarization and Resistivity Measurements on a Suite of Near Surface
Soil.Netherland. International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation
Telford et al.. 1990. Applied Geophysics : Chapter 9.

Metode Polarisasi
Terinduksi