Anda di halaman 1dari 34

PEMADATAN

1. UMUM
Peristiwa bertambahnya berat volume kering oleh beban dinamis
disebut pemadatan. Oleh akibat beban dinamis, butir-butir tanah merapat
satu sama lain sebagai akibat berkurangnya rongga udara. Tujuan
pemadatan dapat tercapai dengan pemilihan tanah bahan timbunan, cara
pemadatan, pemilihan mesin pemadat, dan jumlah lintasan yang sesuai.
Kepadatan secara kuntitatif diukur dari berat volume kering tanah, yaitu
berat butiran padat atau berat tanah kering oven dibagi dengan volume
tanah secara keseluruhan (yaitu volume tanah termasuk volume butiran
padat dan rongga pori). Volume tanah total (V), pada umumnya relatif tetap
oleh perubahan kadar air, kecuali pada lempung ekspansif. Jika akibat
perubahan kadar air volume total tanah (V) tetap, sedangkan berat butiran
tanah kering (Ws) juga tidak berubah, maka nilai berat volume kering
(kepadatan) d = Ws/V tetap, walaupun kadar air berubah.
Tanah-tanah granuler paling mudah penanganannya untuk pekerjaan
lapangan. Material ini mampu memberikan kuat geser yang tinggi dengan
sedikit perubahan volume sesudah dipadatkan. Permeabilitas tanah granuler
yang tinggi dapat menguntungkan maupun merugikan.
Tanah lanau yang dipadatkan, umumnya akan stabil dan mampu
memberikan kuat geser yang cukup dan sedikit kecenderungan perubahan
volume. Tapi, tanah lanau sangat sulit dipadatkan bila dalam keadaan basah,
karena permeabilitasnya rendah.
Tanah lempung yang dipadatkan dengan cara yang benar akan dapat
memberikan kuat geser tinggi. Lempung padat mempunyai permeabilitas
yang rendah dan tanah ini tidak dapat dipadatkan dengan baik pada waktu
sangat basah (jenuh). Bekerja dengan tanah lempung yang sangat basah
akan mengalami banyak kesulitan.
Tujuan dari pemadatan adalah:
1)
2)
3)
4)

Mempertinggi kuat geser tanah.


Mengurangi sifat mudah mampat (kompresibilitas).
Mengurangi permeabilitas.
Mengurangi perubahan volume sebagai akibat perubahan kadar air, dan
lain-lainnya.

Dalam pembangunan proyek-proyek jalan raya, gedung dan bendungan,


pemadatan adalah salah satu pekerjaan yang penting. Dalam pembangunan
jalan, tanah urug untuk timbunan, dan agregat untuk lapis pondasi (base
course) dihamparkan dan dipadatkan sampai kekuatannya mampu menahan
beban yang akan bekerja di atasnya. Suatu hal yang tidak diinginkan adalah
bila perkerasan setelah selesai dibangun, tanah berubah bentuknya, atau
berkurang volumenya, oleh akibat beban di atasnya. Dengan pemadatan
tanah yang baik, pengurangan volume akibat beban material di atasnya,
atau oleh akibat beban luar yang bekerja berulang-ulang dapat dikurangi.
Perubahan bentuk tanah yang umumnya tidak seragam dari satu tempat ke
tempat lainnya, akan dapat mengakibatkan kerusakan struktur yang terletak
di atasnya.
Oleh pengaruh tekanan rendah, tanah dapat berperilaku elastis,
sehingga regangan akibat beban dapat hilang, apabila bebannya hilang. Bila
tekanan lebih tinggi, tanah akan memadat, sehingga menambah kekuatan
tanah yang diikuti dengan regangan permanen. Jika tekanan lebih besar lagi,
tanah akan memadat sampai pada kedudukan tidak ada lagi kenaikan
kekuatan yang dapat dimobilisasi, dan pada kondisi ini tanah akan bergeser
pada volume konstan. Dengan memadatkan tanah secara terkontrol, rongga
udara dapat diminimumkan, sehingga di kemudian hari tanah cenderung
dalam kondisi sulit berubah kadar airnya. Jika tanah urug untuk timbunan
dipadatkan dengan baik, maka penurunan badan timbunan akan kecil.
Dalam kondisi ini, penurunan lebih diakibatkan oleh kompresi dari tanah
fondasi di bawah timbunan, bila tanahnya mudah mampat.
Bertambah rapatnya susunan butiran sesudah dipadatkan atau sesudah
bangunan dalam masa layanan, merupakan masalah umum yang harus
diperhatikan. Hal ini lebih terlihat pada struktur perkerasan jalan, di mana
ratusan atau bahkan ribuan siklus pengulangan beban terjadi oleh beban lalu
lintas. Pemadatan yang seksama diperlukan selama pelaksanaan
pembangunan perkerasan, jika ingin terhindar dari resiko pengurangan
volume tanah oleh memadatnya tanah ini.
Beberapa masalah bisa terjadi pada tanah fondasi yang kurang padat.
Jika bangunan di atasnya mengalami getaran oleh akibat mesin, pemadatan
tanah dapat mengakibatkan penurunan. Pemadatan tanah yang berakibat
penurunan juga dapat terjadi oleh aktivitas pembangunan di sekitarnya yang
menimbulkan getaran, seperti pemancangan tiang.

2. PERISTIWA BERTAMBAHNYA BERAT VOLUME KERING OLEH


PEMADATAN

Saat air ditambahkan pada pemadatan, air ini melunakkan partikelpartikel tanah. Partikel-partikel tanah menggelincir satu sama lain dan
bergerak pada posisi yang lebih rapat. Ketika kadar udara menjadi
berkurang, gabungan air dan udara cenderung membuat partikel tanah tetap
terpisah, dan mencegah pengurangan kandungan udara. Tetapi, volume
rongga total terus bertambah oleh kenaikan kadar air, sehingga berat
volume kering tanah turun.
Pada awal pemadatan berat volume kering bertambah ketika kadar air
bertambah (Gambar x.1). Pada kadar air nol (w = 0), berat volume tanah
basah (b) sama dengan berat volume kering (d),
Ketika kadar air berangsur-angsur ditambah, dan usaha pemadatan
yang sama digunakan pada saat pemadatan, berat butiran tanah padat per
volume satuan juga bertambah. Misalnya, pada saat kadar air sama dengan
w1,
dengan d = kenaikan berat volume kering akibat pemadatan. Pada
kadar air lebih besar dari kadar air tertentu, yaitu w = w2 (saat kadar air
optimum) kenaikan kadar air justru mengurangi berat volume keringnya. Hal
ini karena, air mengisi rongga pori yang sebelumnya diisi oleh butiran padat.
Kadar air saat berat volume kering mencapai maksimum (dmak) disebut
kadar air optimum (wopt).
3. HUBUNGAN BERAT VOLUME KERING DAN KADAR AIR
Untuk menentukan hubungan kadar air dan berat volume kering, dan
untuk mengevaluasi tanah agar memenuhi persyaratan kepadatan, maka
umumnya dilakukan uji pemadatan. Hubungan berat volume kering dan
kadar air tersebut diperoleh dari uji pemadatan standar.
Proctor (1933) telah mengamati bahwa ada hubungan yang pasti antara
kadar air dan berat volume kering tanah padat. Untuk berbagai jenis tanah
pada umumnya, terdapat satu nilai kadar air optimum tertentu untuk
mencapai berat volume kering maksimumnya.
Hubungan berat volume kering (d) dengan berat volume basah (b) dan
kadar air (w), dinyatakan dalam persamaan:
4. UJI PEMADATAN DI LABORATORIUM

Berat volume kering setelah pemadatan bergantung pada jenis tanah,


kadar air, dan usaha yang diberikan oleh alat penumbuknya. Karakteristik
kepadatan tanah dapat dinilai dari pengujian standar laboratorium yang
disebut uji Proctor. Prinsip pengujiannya pemadatan standar Proctor adalah
sebagai berikut:
Alat pemadat berupa silinder mould yang mempunyai volume 1/30 cu.ft
(9,44 x 10-4 m3) (Gambar x.2). Tanah di dalam mould yang berdiameter
10,2 cm dan tinggi 11,68 cm dipadatkan dengan penumbuk berdiameter 5
cm yang beratnya 2,5 kg (5,5 lb) dengan tinggi jatuh 30,5 cm. Tanah
dipadatkan dalam tiga lapisan dengan tiap lapisan ditumbuk 25 kali pukulan,
dengan tinggi jatuh penumbuk 30 cm.
Dalam uji pemadatan, percobaan diulang paling sedikit 5 kali dengan kadar
air tiap-tiap percobaan divariasikan. Kemudian, digambarkan sebuah grafik
hubungan kadar air dan berat volume keringnya (Gambar x.3). Kurva yang
dihasilkan dari pengujian memperlihatkan nilai kadar air yang terbaik (wopt)
untuk mencapai berat volume kering terbesar atau kepadatan
maksimumnya.
Bila seluruh udara di dalam tanah dapat dipaksa keluar pada waktu
pemadatan, tanah akan berada dalam kedudukan jenuh dan nilai berat
volume kering akan menjadi maksimum. Akan tetapi, dalam praktek, kondisi
ini sulit dicapai.
Garis jenuh (saturation line) atau garis rongga udara nol (zero air void
line) (lihat Gambar x.3) menunjukkan hubungan kadar air (w) dan berat
volume kering (d) saat tanah jenuh 100%. Hasil uji pemadatan pada kadar
air yang melebihi optimumnya tidak akan pernah mencapai garis rongga
udara nol. Letak garis optimum, umumnya kira-kira 90% dari kondisi
jenuhnya (atau terletak pada derajat kejenuhan S = 90%). Jadi, secara fisik
kurva pemadatan tidak pernah berada di sebelah kanan garis rongga udara
nol. Jika hal ini terjadi, kemungkinan terdapat kesalahan pada pengukuran
berat jenis tanah (Gs), atau air ke luar dari silinder pemadatan sewaktu
pengujian sehingga kadar air waktu pengujian lebih rendah dari pada kadar
air yang ditentukan.
Berat volume kering dengan tanpa rongga udara atau berat volume
kering saat tanah menjadi jenuh (zav), dapat dihitung dari persamaan :
(x.3a)
Karena saat tanah jenuh (S = 1) dan e = wGs, maka:
(x.3b)

Berat volume kering (d) setelah pemadatan pada kadar air w dengan
kadar udara (air content), A (A = Va/V = volume udara/volume total) dapat
dihitung dengan persamaan:
(x.4)
Hubungan berat volume kering pada kadar udara tertentu dengan kadar
air, dari hasil uji Standar Proctor dan Proctor dimodifikasi untuk tanah
dengan berat jenis Gs = 2,65 ditunjukkan dalam Gambar x.4.
Untuk menentukan variasi kadar air w dengan zav, maka dilakukan cara
sebagai berikut:
(1) Tentukan berat jenis tanah (Gs) dari uji laboratorium.
(2) Pilihlah beberapa kadar air (w) tertentu, misalnya 5%, 10%, 15% dan
seterusnya.
(3) Hitung zav untuk beberapa nilai kadar air (w) dengan menggunakan
Persamaan (x.2) atau (x.3).
Pada tipe pengujian Proctor dimodifikasi (modified Proctor), mould yang
digunakan masih tetap sama, hanya berat penumbuknya diganti dengan
4,54 kg (10 lb) dengan tinggi jatuh penumbuk 45 cm (18). Pada pengujian
ini, tanah di dalam mould ditumbuk dalam 5 lapisan. Hasil pengujian tipe
Proctor dimodifikasi ditunjukkan dalam Gambar x.4, yaitu grafik yang di
bagian atas, sedangkan hasil uji pemadatan standar Proctor berada di
bawahnya. Dari gambar ini terlihat bahwa hasil pengujian Proctor
dimodifikasi menghasilkan nilai berat volume kering maksimum yang lebih
besar, karena usaha pemadatannya lebih besar, sedangkan kadar air
optimum lebih kecil pada pengujian Proctor dimodifikasi.
Karena uji laboratorium dimaksudkan untuk mensimulasikan kondisi
lapangan, dan karena tipe alat pemadat di lapangan berbagai macam, maka
beberapa tipe uji laboratium dengan berbagai usaha pemadatan dibutuhkan.
Tabel x.1 menunjukkan beberapa metoda uji pemadatan di laboratorium
yang telah digunakan. Perbedaan pokok dalam setiap metoda adalah jumlah
energi yang diterapkan pada benda uji, yaitu dengan menggunakan berat
pemukul dan jumlah pukulan per lapisan yang berbeda.

Tabel x.2 menunjukkan kisaran nilai kadar air optimum dan berat
volume kering maksimum untuk berbagai jenis tanah-tanah berlempung
yang diperoleh dari uji standar Proctor.

Tabel x.2 Kisaran berat volume kering maksimum dan kadar air optimum untuk
tanah berlempung
Berat volume
Kadar air
Jenis tanah
optimum,
kering, d(mak)
3
wopt (%)
(kN/m )
Lempung
14,40 16,80
20 30
Lempung
16,00 18,40
15 25
berlanau
17,60 21,60
8 15
Lempung
berpasir
Tabel x.3 menunjukkan petunjuk umum nilai-nilai kisaran berat volume
kering maksimum (kepadatan maksimum) dan kadar air optimum yang
didasarkan pada klasifikasi AASHTO, serta kinerja tanah tersebut bila dipakai
sebagai bahan timbunan (Gregg, 1960).
Untuk uji pemadatan Proctor dimodifikasi, karena usaha pemadatan
bertambah, maka berat volume kering maksimum akan lebih besar sekitar
16 32 kN/m3, sedangkan kadar air optimum akan turun sekitar 3%.
Tabel x.3 Petunjuk umum untuk pemilihan tanah untuk kinerja timbunan yang
diharapkan (Gregg, 1960)
Berat
Kadar
volume
Perkiraa
air
Klasifi
Deskripsi
kering
n kinerja
optim
-kasi tanah visual maksim
timbuna
um
um
n
(%)
3
(kN/m )
Baik
A-1-a Material
18,1
sampai
7-15
A-1-b granuler
22,3
baik
sekali
A-2-4 Material
Sedang
A-2-5 granuler
17,3sampai
9-18
A-2-6 bercampur
21,2
sangat
A-2-7 tanah
baik
Sedang
Pasir dan
17,3A-3
9-15
sampai
pasir halus
18,1
baik
A-4
Lanau dan
14,910-20
Buruk
lanau
20,4
sampai

bagus

berpasir
A-5

Lanau dan
lempung
elastis

13,315,7

20-35

A-6

Lanaulempung

14,918,8

10-30

A-7-5

Lempung
berlanau
elastic

13,315,7

20-35

14,118,1

15-30

A-7-6

Lempung

Tidak
memuas
kan
Buruk
sampai
bagus
Tidak
memuas
kan
Buruk
sampai
sedang

Kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyebabkan kesalahan dalam


kurva hasil uji pemadatan (untuk sembarang usaha pemadatan) adalah:
1) Penggumpalan dari partikel kering.
2) Air tidak tercampur merata dalam benda uji.
3) Tanah digunakan berkali-kali dalam pengujian. Beberapa macam tanah
terpengaruh oleh pemadatan ulang. Karena itu, disarankan untuk
menggunakan material segar dalam setiap benda uji. Pemadatan ulang
dapat menambah berat volume kering, sehingga mengurangi kadar air
optimum.
4) Jumlah titik-titik untuk mendefinisikan kurva pemadatan secara tepat
kurang. Kadar air sebaiknya bervariasi sekitar 1,5% di antara masing-masing
benda uji, dan harus mencakup kisaran kadar air optimum dan berat volume
kering yang akan terjadi. Umumnya, lima benda uji cukup mendefinisikan
kurva pemadatan dengan baik.
5) Pondasi dasar mould tidak memenuhi syarat.
6) Volume mould untuk uji pemadatan tidak benar.
7) Pemadat mekanik tidak secara akurat dikalibarsi.
8) Kesalahan dalam melakukan cara pemukulan pada uji pemadatan dengan
tangan.
9) Kadar air yang diambil tidak mewakili kadar air benda uji secara
keseluruhan.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemadatan
Telah dipelajari bahwa kadar air mempunyai pengaruh besar terhadap
derajat kepadatan yang dapat dicapai oleh tanah tertentu. Selain kadar air,

faktor yang sangat mempengaruhi kepadatan adalah macam tanah dan


energi pemadatan (energi per volume satuan).
5.1 Pengaruh Macam Tanah
Macam tanah, seperti distribusi ukuran butir, bentuk butiran, berat jenis
dan macam mineral lempung yang terdapat dalam tanah sangat
berpengaruh pada berat volume maksimum dan kadar air optimumnya.
Gambar x.5 memperlihatkan sifat-sifat khusus kurva pemadatan yang
diperoleh dari beberapa macam tanah, yang diuji menurut prosedur
pemadatan ASTM D-698. Bentuk kurva yang mendekati lonceng, umumnya
diperoleh pada tanah-tanah berlempung.

Gambar x.6 menunjukkan contoh kurva hasil pemadatan pada berbagai


macam tanah, usaha pemadatan dari data yang dikumpulkan oleh Rolling
dan Rolling (1996). Dalam gambar tersebut ditunjukkan klasifikasi tanah
menurut sistem Unified. Terlihat bahwa tanah-tanah GW, GC dan SC
mempunyai kurva tajam yang meninggi, yaitu memperlihatkan perubahan
kepadatan pada kisaran kadar air yang sempit. Pemadatan di lapangan pada
jenis-jenis tanah seperti ini membutuhkan pengontrolan kadar air yang baik,
jika kadar air optimum harus dicapai. Kurva-kurva pemadatan dengan
puncak yang agak lancip ini cirikhas dari material berlanau dan material
granuler yang mengandung fraksi lanau atau lempung yang signifikan.
Sebaliknya, untuk lempung CH Goodfellow (plastisitas tinggi), pada
pemadatan standar memperlihatkan kisaran kadar air yang melebar, di
mana tingkat kepadatan yang relatif tinggi dapat dicapai dalam pemadatan
standar ini. Hal ini mungkin hanya suatu kebetulan, karena pengaturan kadar
air umumnya sulit pada lempung-lempung CH yang permeabilitasnya rendah
dan lengket. Material yang sama sekali tidak berkohesi (GW dan SW dalam
Gambar x.6) mempunyai kurva dengan puncak dobel. Ketika material ini
kering sempurna, tanah ini dapat dipadatkan sampai kepadatannya sama
dengan kepadatan maksimum pada kadar optimumnya. Pada kadar air di
antara kering menuju optimum, tegangan kapiler mencegah pemadatan,
sehingga menghasilkan kepadatan lebih rendah pada sembarang usaha
pemadatan. Perilaku kurva pemadatan semacam ini terjadi pada beberapa
benda uji pasir dan kerikil. Material yang betul-betul tidak berkohesi sering
dapat dipadatkan dengan baik di lapangan pada atau mendekati kadar air
jenuhnya.
Lee dan Suedkamp (1972) mempelajari kurva-kurva pemadatan untuk 35
jenis tanah, hasilnya terdapat beberapa perbedaan bentuk kurva

pemadatan. Kurva tipe A (Gambar x.7), adalah kurva yang mempunyai satu
puncak. Tipe B mempunyai bentuk seperti huruf S pada arah mendatar. Tipe
C mempunyai dua puncak. Kurva tipe B dan C adalah kurva pemadatan yang
dapat diperoleh pada tanah yang mempunyai batas cair (LL) kurang dari 30.
Kurva tipe D adalah kurva yang tidak mempunyai puncak. Kurva C atau D
dapat terjadi pada pemadatan tanah-tanah dengan batas cair (LL) lebih
besar 70.

Berat volume kering maksimum yang diperoleh dari uji laboratorium


maupun lapangan biasanya bervariasi antara 22 kN/m3 (140 lb/cu.ft) untuk
tanah pasir gradasi baik dan sekitar 14 kN/m3 (90 lb/cu.ft) untuk lempung
berat (heavy clay). Kadar air optimum biasanya berkisar di antara 4% untuk
tanah granuler kasar dan sekitar 28 untuk tanah-tanah lempung berat.
Woods (1938) mengklasifikasikan dan merata-ratakan data uji pemadatan
dari 1383 macam tanah di Ohio, hasilnya seperti yang ditunjukkan dalam
Gambar x.8. Kurva-kurva dengan kadar udara konstan untuk satu tanah
tertentu dengan berat jenis Gs = 2,7 diperlihatkan pula dalam gambar
tersebut. Terlihat bahwa puncak-puncak dari kurva mendekati kurva jenuh air
(rongga udara nol) dan letaknya mendekati garis kadar udara 5%. Semua
kurva hampir sama bentuknya. Pada pasir, umumnya kurva yang agak datar
merupakan kurva untuk tanah bergradasi sempit (seragam), dan kurva yang
lancip merupakan tanah bergradasi baik. Hal ini diilustrasikan dalam
Gambar x.9, yaitu untuk dua macam tanah pasir yang tak berkohesi.
Seperti yang telah ditunjukkan dalam Gambar x.6, bentuk kurva pemadatan
pada pasir tidak selalu berbentuk bel.

5.2 Pengaruh Usaha Pemadatan


Kenaikan berat volume kering oleh pemadatan, bergantung terutama
pada kadar air tanah dan usaha pemadatan yang diterapkan. Pada suatu
usaha pemadatan tertentu, untuk setiap jenis tanah terdapat satu kadar air
optimum, di mana berat volume kering tanahnya maksimum.
Dengan kadar air tertentu, kenaikan usaha pemadatan menghasilkan
susunan partikel yang lebih rapat dan kenaikan berat volume kering,
sedemikian hingga volume udara yang tinggal di dalam rongga pori
berkurang pada suatu nilai tertentu, dan pemadatan selanjutnya tidak
mengakibatkan perubahan volume tanah yang berarti.
Jika usaha pemadatan per volume satuan (E) berubah, maka bentuk
kurva hubungan kadar air terhadap berat volume kering juga berubah. Pada

Gambar x.10 diperlihatkan hasil uji pemadatan tanah lempung berpasir


dengan mould dari standard Proctor. Jumlah lapisan pada saat pemadatan di
dalam mould sama, yaitu 3 lapisan, akan tetapi jumlah pukulan pada tiap
lapisan dibedakan, yaitu antara 20 sampai 50 kali pukulan. Besarnya energi
pemadatan dihitung dengan menggunakan Persamaan (x.5) dan hasilnya
diperlihatkan dalam Tabel x.4.
Dari Tabel x.4 dan Gambar x.10 dapat disimpulkan bahwa:
(1) Jika energi pemadatan ditambah, berat volume kering tanah juga
bertambah.
(2) Jika energi pemadatan ditambah, kadar air optimum berkurang.
Kedua hal tersebut berlaku untuk hampir semua jenis tanah. Namun harus
diperhatikan bahwa derajat kepadatan tidak secara langsung proporsional
dengan energi pemadatan.
Tabel x.4 Hitungan energi pemadatan
No. kurva Jumlah pukulan
Energi
pada
per lapisan
pemadatan
Gambar
(Nb)
(ft-lb/ft3)
x.10
1
20
9900
2
25
12375
3
30
14850
4
50
24750
3
3
Catatan: 1 ft-lb/ft = 47,99 J/m .
6. Tipe-tipe alat Pemadat di lapangan
Di lapangan, tanah dipadatkan dengan memberikan energi dalam tiga
cara yang dikaitkan dengan lamanya tegangan yang diterapkan:
1) Tekanan atau penggilasan (rolling).
2) Tumbukan (ramming).
3) Getaran (vibration).
Tipe-tipe mesin pemadat yang tersedia adalah:
1) Penggilas: roda halus (smooth wheel), kaki kambing (sheeps foot), ban karet
(pneumatik-tyred) dan sebagainya.
2)
Tumbukan: pemberat dijatuhkan (termasuk peralatan tiang), tipe
pembakaran internal dan tipe pneumatik.
3) Getaran: tipe hidrolik dan tipe pemberat tak seimbang.
Pembangunan dari suatu struktur dari urugan tanah umumnya terdiri
dari dua operasi terpisah:

1) Penghamparan dan perataan lapisan tanah.


2) Proses pemadatan.
Tanah yang akan digunakan untuk timbunan, umumnya digali dari lokasi
pengambilan (borrow area) dengan menggunakan alat-alat bulldozer, shovel,
dragline, scraper dan lain-lain. Ketika tanah dari lokasi pengambilan (yang
umumnya diangkut dengan dumptruck) sampai di lokasi penimbunan, maka
bulldozer, loader, motor grader menghamparkan material timbunan sesuai
dengan ketebalan yang dikehendaki. Ketebalan lapisan timbunan, dapat
berkisar diantara 150 sampai 500 mm, bergantung pada ukuran dan tipe alat
pemadat dan ukuran butiran maksimum tanah yang dipadatkan.
Kecepatan operasi pemadatan biasanya merupakan tahap paling kritis,
karena sering mengendalikan lamanya waktu penyelesaian suatu proyek
tanah urug. Oleh karena itu, penggunaan mesin pemadat yang cocok
menjadi hal yang sangat penting dalam proyek urugan tanah. Beberapa
macam tipe mesin pemadat atau penggilas spesial telah dikembangkan oleh
banyak pabrik. Beberapa mesin pemadat dirancang khusus untuk
menangani macam tanah tertentu, sedang mesin yang lain cocok digunakan
untuk segala jenis material urugan.
Macam alat penggilas (pemadat) yang akan dipakai bergantung pada
tipe tanah yang akan dipadatkan. Penggilas drum halus atau roda drum
(smooth wheel, smooth drum roller) (Gambar x.11) dapat memadatkan
tanah
100%
di
bawah
rodanya,
dengan
tekanan
kontak pada tanah sekitar 380 kPa dan dapat digunakan hampir untuk
semua jenis tanah. Penggilas pneumatik atau penggilas ban karet
(pneumatic tire roller) (Gambar x.12) dapat menggilas 80% dari total area
yang tertutup oleh rodanya dan tekanan ban dapat mencapai 700 kPa.
Seperti penggilas drum halus, penggilas ban karet dapat digunakan pada
tanah granuler dan kohesif pada timbunan jalan raya atau pembangunan
bendungan.
Saat ini yang paling banyak dipakai adalah penggilas kaki kambing
(sheeps foot roller) (Gambar x.13). Seperti tercermin dalam namanya, pada
drum dilengkapi dengan tonjolan-tonjolan atau kaki-kaki (kambing) yang
telapaknya berbentuk bulat atau persegi. Luas telapak berkisar diantara 30
sampai 80 cm2. Karena hanya 8 sampai 12% dari luas keseluruhan tanah
yang tertutup seluruh roda tertekan oleh tonjolan, maka tekanan pada tanah
menjadi sangat tinggi, yaitu dapat berkisar diantara 1400 sampai 7000 kPa
(bergantung pada ukuran roda dan air yang dapat diisikan ke dalam drum
untuk menambah beratnya). Penggilas kaki kambing dapat dioperasikan

dengan ditarik oleh penggerak, maupun digerakkan oleh mesinnya sendiri.


Penggilas kaki kambing memadatkan tanah di bawah dasar kakinya.
Penggilas ini cocok untuk tanah-tanah kohesif.
Penggilas berkaki menonjol yang lain adalah penggilas kaki kambing tipe
meruncing (tamping foot roller) (Gambar x.14). Pada penggilas ini, 40% dari
luas keseluruhan tanah yang tertutup roda tertekan. Tekanan kontak pada
tanah berkisar diantara 1400 sampai 8400 kPa bergantung pada ukuran roda
dan pengisian air pada drum. Kaki yang dilengkapi engsel dapat bekerja
sebagai alat peremas tanah. Alat ini sangat baik untuk memadatkan tanahtanah berbutir halus.
Tipe alat pemadat yang lain, adalah mesin penggilas grid (mesh atau
grid roller) yang dapat memadatkan sampai 40% area dengan tekanan pada
roda 1400 sampai 6200 kPa. Alat ini sangat ideal untuk memadatkan tanahtanah berbatu, kerikil dan pasir. Dengan kecepatan yang relatif tinggi, tanah
digetarkan, dipecah dan ditumbuk.
Beberapa alat penggilas drum halus dan kaki kambing dilengkapi
dengan alat penggetar sehingga semakin efisien bila digunakan untuk
memadatkan tanah granuler.
Terdapat pula mesin penggilas ringan (Gambar x.15) dikendalikan
dengan tangan dan pemadat kecil dengan landasan yang berbentuk pelat
bergetar. Alat ini digunakan pada lokasi-lokasi sempit, di mana mesin
pemadat yang besar tidak dapat digunakan.

7. PEMADATAN DI LAPANGAN
Terdapat banyak variabel yang mempengaruhi pemadatan getaran atau
proses pemadatan tanah. Beberapa bergantung pada operator, dan yang
lain bergantung pada kondisi tanah yang dipadatkan. Variabel-variabel
tersebut termasuk:
(1) Karakteristik mesin pemadat: berat, ukuran, frekuensi operasi dan
kisaran frekuensi.
(2) Karakteristik tanah: kepadatan awal, ukuran butiran, bentuk, dan kadar
air.
(3) Prosedur pelaksanaan: jumlah lintasan mesin penggilas, tebal lapisan
yang dipadatkan, frekuensi operasi vibrator, kecepatan lintasan.
7.1 Pengaruh Tipe Mesin Pemadat

Karakteristik mesin pemadat mempengaruhi tingkat tegangan,


kedalaman pengaruh dari gaya dinamik. Selain itu kepadatan awal juga
sangat mempengaruhi kepadatan finalnya. Sebagai contoh, bagian atas
setebal 30 cm dari pasir kepadatan sedang mungkin tidak pernah menjadi
lebih padat dari kepadatan awalnya, sedang pasir padat akan menjadi
longgar setebal 30 cm di bagian atasnya, bila digetarkan. Sekali mesin
pemadat telah dipilih, prosedur pelaksanaan yang dipilih akan sangat
mempengaruhi hasilnya.
Karakteristik mesin pemadat mempengaruhi tingkat tekanan dan
kedalaman pengaruh gaya dinamik. Selain itu, kepadatan awal tanah
sebelum dipadatkan sangat berpengaruh pada hasil kepadatan akhirnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan di lapangan sama dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan di laboratorium. Faktor yang
lebih penting adalah kadar air tanah dan jumlah lintasan mesin pemadat
yang digunakan.
Penelitian telah dilakukan oleh Road Research Laboratory (1968) untuk
mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil kepadatan. Penelitian
dilakukan dengan melakukan uji pemadatan pada lima jenis tanah, yaitu dari
mulai lempung berat (heavy clay) sampai tanah campuran lempung-pasirkerikil. Distribusi ukuran butiran dari ke lima jenis tanah tersebut ditunjukkan
dalam Gambar x.16. Hasil dari berat volume kering dan kadar air optimum
yang diperoleh dari uji laboratorium dan hasil pemadatan dari penggilasan
dengan mesin pemadat ditunjukkan dalam Tabel x.5.
Dari hasil pengujian dalam Tabel x.5 terlihat bahwa kinerja mesin
pemadat bergantung pada macam tanah, distribusi butiran dan kadar air.
Faktor-faktor ini harus diperhitungkan dalam pemilihan mesin pemadat untuk
pekerjaan tertentu.
Secara umum, pemadat roda baja halus lebih cocok untuk batu pecah,
inti keras, campuran kerikil-pasir yang distabilisasi secara mekanis. Penggilas
roda karet cocok untuk pasir bergradasi seragam dan tanah-tanah berbutir
halus kohesif pada kadar air yang mendekati batas plastisnya. Penggilas kaki
kambing (sheep foot roller) cocok untuk tanah berbutir halus kohesif pada
kadar air antara 7 12% di bawah plastis limitnya (Road Research
Laboratory, 1968).
Berat volume kering tanah berkurang dengan kedalamannya jika tebal
lapisan yang dipadatkan bertambah. Dengan alat pemadat normal,
penurunan kepadatan ini tidak sangat besar bila tebal tanah dihamparkan
sebelum dipadatkan tidak lebih dari 23 cm (9), namun di atas tebal tersebut

penurunan cukup besar. Tabel x.6 menunjukkan karakteristik pemadatan


dan alat pemadat yang direkomendasikan (McCarthy,1977).

Tabel x.5 Perbandingan berat volume kering dan kadar air optimum yang diperoleh
dari pemadatan dengan mesin pemadat dan uji laboratorium (Road Research
Laboratory, 1968)-RRL hal 188
Lempung
Lempung
Lempung
Lempung
Tipe tanah
Pasir
-pasirberat
berlanau
berpasir
kerikil
Hertingfor
West
Staines,
Laboratory Laboratory
dbury,
Asal
Drayton,
Middlesex
grounds
grounds
Hertfordsh
Midlesex
ire
d(mak) wopt d(mak) wopt d(mak) wopt d(mak) wopt d(mak) wo
pt
(kN/ (%) (kN/ (%) (kN/ (%) (kN/ (%) (kN/
3
3
3
3
3
(%
m)
m)
m)
m)
m)
)
Uji
pemadatan
15,2
26 16,3 21 18,1 14
19
11
20,3
9
standar
Inggris
Uji Proctor
dimodifikasi 17,7
17 18,8 14 20,1 11 20,4
9
21,7
7
AASHO
Uji
pemadatan
16,0
23 17,4 17 18,2 14 18,7 11
Dietert
Penggilas
drum halus
14,9
21 17,1 17 17,9 16 19,9 10
21,0
8
2,75 ton
Penggilas
drum halus
16,3
20 17,4 16 18,2 14 20,7
8
21,7
7
8 ton
Penggilas
15,4
25 16,3 20 17,0 19 19,9 11
19,8
7
ban karet
Penggilas
kaki
kambing
16,8
16 18,2 14 18,7 12
20,3
6
(tipe kaki
tongkat)
Penggilas
16,8
15 18,1 14 18,8 12
20,1
5
kaki
kambing

(tipe kaki
meruncing
persegi)
Pemadat
tangan 0,5
ton

16,8

17

17,3

15

18,2

13

20,1

10

21,4

Tabel x.6 Karakteristik pemadatan dan alat pemadat yang


direkomendasikan (McCarthy, 1977) hal 310
Klasifikasi
Deskripsi jenis
Karakteristik
Alat pemadat yang
sistem
tanah
pemadatan
direkomendasikan
Unified
Pasir dan
Penggilas drum dengan
campuran pasirgetaran, penggilas ban
kerikil (tidak
SW, SP,
Baik
karet dengan getaran,
mengandung
GW, GP
penggilas ban karet
lanau dan
pneumatik
lempung)
Penggilas drum dengan
Pasir atau pasirgetaran, penggilas ban
kerikil
SM, GM
Baik
karet dengan getaran,
mengandung
penggilas ban karet
lanau
pneumatik
Penggilas ban karet
Pasir atau pasirpneumatik,
kerikil
Baik sampai
penggilas ban karet
SC, GC
mengandung
sedang
dengan getaran,
lempung
penggilas kaki kambing
dengan getaran
Penggilas ban karet
pneumatik,
Baik sampai
penggilas ban karet
Lanau
ML
buruk
dengan getaran,
penggilas kaki kambing
dengan getaran
Lempung
CL
Baik sampai
Penggilas ban karet
CH
sedang
pneumatik,
Sedang sampai penggilas ban karet
buruk
dengan getaran,

Tanah organic

OL, OH, PT

penggilas kaki kambing


dengan getaran,
penggilas tipe kaki
kambing.
Penggilas ban karet
Tidak
pneumatik,
direkomendasik
penggilas kaki kambing
an untuk tanah
dengan getaran dan
urug struktural
pengilas ban karet

7.2 Spesifikasi Pemadatan Tanah di Lapangan


Tujuan pemadatan adalah untuk memperoleh stabilitas tanah dan
memperbaiki sifat-sifat teknisnya. Oleh karena itu, sifat teknis timbunan sangat
penting diperhatikan, tidak hanya kadar air dan berat volume keringnya. Hal ini
sering diabaikan dalam pengontrolan pekerjaan tanah. Penekanan umumnya
diletakan pada pencapaian berat volume kering minimum yang harus dicapai,
dan sedikit saja yang pertimbangan diberikan pada sifat-sifat teknis tanah urug
yang akan dipadatkan. Berat volume kering dan kadar air mempunyai
hubungan yang baik dengan sifat-sifat teknis tanah, dan karena itu dipakai
sebagai parameter pengontrol pekerjaan pemadatan. Prosedur pelaksanaan di
lapangan pada umumnya, diterangkan di bawah ini.
Percobaan di laboratorium dilaksanakan pada contoh tanah yang diambil
dari borrow-material (lokasi pengambilan bahan timbunan), untuk ditentukan
sifat-sifat tanah yang akan dipakai dalam perencanaan. Untuk proyek-proyek
besar, tanah dari tempat pengambilan bahan timbunan ini diambil yang dapat
mewakili, yang secara tipikal diambil setiap 1000 sampai 3000 m 3 atau lebih,
atau jika material di tempat pengambilan berubah secara signifikan (Holtz dan
Kovacs, 1981).
Sesudah bangunan dari tanah (tanggul, jalan, dan sebagainya)
direncanakan, spesifikasi dibuat. Pengujian untuk kontrol hasil pemadatan di
lapangan dispesifikasikan dan hasilnya menjadi standar untuk pengontrolan
proyek.
Terdapat dua kategori spesifikasi untuk pekerjaan tanah :
1) Spesifikasi hasil akhir dari pemadatan.
2) Spesifikasi untuk cara pemadatan.
Untuk spesifikasi hasil akhir, kepadatan relatif atau persen kepadatan
tertentu dispesifikasikan. Kepadatan relatif (Rc) adalah nilai banding dari berat
volume kering di lapangan, d(lap) dengan berat volume kering maksimum di
laboratorium d(lab) menurut percobaan standar, seperti percobaan standar
Proctor atau Proctor dimodifikasi. Jadi, kepadatan relatif didefinisikan sebagai:
Dalam spesifikasi hasil akhir (banyak digunakan pada proyek-proyek jalan
raya dan fondasi bangunan), sepanjang kontraktor mampu mencapai
spesifikasi kepadatan relatifnya, alat maupun cara apa saja yang akan
digunakan, diizinkan. Pertimbangan ekonomis dalam memperoleh hasil
pemadatan, diilustrasikan oleh Seed (1964) seperti yang ditunjukkan dalam
(Gambar x.17). Gambar tersebut memperlihatkan 3 macam kurva dari hasil
pemadatan di lapangan pada tanah yang sama, hanya dengan usaha
pemadatan yang berbeda. Anggaplah kurva A mewakili kurva pemadatan yang
diperoleh dari alat pemadat yang telah ada. Kemudian untuk memperoleh,
misalnya 90% dari kepadatan maksimal (dmak), kadar air tanah yang akan
dipadatkan harus diantara kadar air w1 dan w2. Rentang kadar air dari w1

sampai w2 ini diperoleh dengan menarik garis horisontal 90% kali dmak pada
kurva A. Jika kadar air tanah yang akan dipadatkan melampaui rentang kadar
air w1 sampai w2, maka sangat sulit memperoleh hasil kepadatan yang
diinginkan. Pada kondisi ini tanah harus dikeringkan dulu sebelum dipadatkan.
Usaha yang paling ekonomis adalah bila kadar air pada w3. Pada kadar air w3 ini
usaha pemadatan untuk tercapainya 90% dari kepadatan maksimum yang
diinginkan paling kecil (hasil pemadatan diwakili oleh kurva C). Umumnya
pemadatan di lapangan dilakukan dengan sedikit meninggikan usaha
pemadatan sehingga hasilnya seperti kurva B. Jadi, rentang kadar air untuk
pemadatan di lapangan yang paling baik adalah diantara kadar air optimum
(wopt) kurva A dan w3.
Perlu diingat bahwa memadatkan tanah pada sisi basah optimum (wet side of
optimum), umumnya menghasilkan kuat geser tanah hasil pemadatan lebih
rendah dibandingkan dengan kadar air pada sisi kering optimum (dry side of
optimum). Sifat-sifat tanah yang lain, seperti permeabilitas dan potensi
kembang susut juga dipengaruhi oleh kadar air saat pemadatan. Karena itu,
selain persen kepadatan ditentukan, rentang kadar air tanah yang akan
dipadatkan sebaiknya juga ditentukan.
Dalam metoda spesifikasi cara pemadatan, macam dan berat mesin
pemadat, jumlah lintasan serta ketebalan tiap lapisan ditentukan. Selain itu,
ukuran butiran maksimum sering pula dispesifikasikan. Hal ini banyak dipakai
untuk proyek pekerjaan tanah yang besar seperti bendungan tanah.
Di lapangan hasil pekerjaan pemadatan dispesifikasikan menurut
kepadatan maksimum yang telah ditentukan sebelumnya. Ahli mekanika tanah
menyiapkan perancangan proyek yang di dalamya menyangkut spesifikasi
kepadatan tanah yang harus dicapai di lapangan. Umumnya, uji standar Proctor
digunakan sebagai acuan. Kadang-kadang, uji Proctor dimodifikasi juga
digunakan, terutama bila timbunan digunakan untuk mendukung bangunanbangunan yang berat.
Spesifikasi untuk pemadatan lapangan harus mendefinisikan tipe uji
laboratorium yang akan digunakan sebagai acuan, dan derajat kepadatan yang
disyaratkan, misalnya kepadatan atau berat volume kering minimum yang
harus dicapai di lapangan 95% kepadatan standar Proctor. Spesifikasi juga
harus menyebutkan dengan jelas prosedur uji pemadatan yang harus diacu,
misalnya ASTM, AASHTO atau yang lain. Gambar x.23 dan x.24 yang akan
dipelajari dalam Bab x.10 memberikan salah satu metoda untuk pemilihan
tingkat kepadatan untuk perkerasan dengan volume lalu lintas tinggi. Namun,
dalam hal menemui kondisi pembebanan atau tipe tanah yang khusus, maka
uji coba pemadatan di laboratorium atau di lapangan (field trial) mungkin
dibutuhkan untuk menentukan spesifikasi pemadatan yang cocok.
Kadar air saat saat pemadatan, umumnya berkisar di antara 1 atau 2%
dari kadar air optimum hasil uji laboratorium. Hal ini adalah untuk kemudahan
pekerjaan dan antisipasi variasi kadar air yang terjadi di lapangan. Namun,

untuk proyek-proyek tertentu, ada pula yang menspesifikasikan kisaran kadar


air pada kondisi basah atau kering optimum.
Frekuensi dan prosedur untuk mengecek kepadatan dan kadar air di
lapangan juga dispesifikasikan, misalnya pengecekan dilakukan dengan uji
kerucut pasir (sand cone) atau yang lain.
NAVFAC DM-7.2 (1982) memberikan petunjuk pelaksanaan pada jumlah uji
kontrol kepadatan di lapangan yang sebaiknya dilakukan pada berbagai
macam tipe proyek sebagai beriku:
1) Satu pengujian untuk setiap 380 m 3 (500 yd3) material timbunan yang
dihamparkan.
2) Satu pengujian untuk setiap 380 780 m 3 (500 1000 yd3) material untuk
pekerjaan perlindungan permukaan (lining) saluran atau waduk atau bagian
urugan yang relatif tipis yang lain.
3) Satu pengujian untuk setiap 75 150 m3 (100 200 yd3) untuk urugan pada
parit atau di sekitar struktur, bergantung pada volume total dari material yang
terkait.
4) Paling tidak satu pengujian untuk setiap satu lapisan penuh pada operasi
pekerjaan tanah.
5) Satu pengujian yang dilakukan kapan saja, bila terdapat suatu dugaan tentang
adanya perubahan kualitas kontrol dari kadar air atau efektivitas kepadatan.
Terdapat banyak petunjuk pelaksanaan terkait dengan jumlah pengujian
kepadatan lapangan yang harus dilakukan. Sebagai contoh, Road Research
Laboratory (1968) menyarankan melakukan uji kepadatan pada setiap luasan
dipadatkan 836 m2 (1000 yd2).
Pelaksana yang akan melakukan pengujian kepadatan di lapangan juga
harus dispesifikasikan (pemilik, kontraktor atau fihak ke tiga).
Tebal tanah urug yang dipadatkan, apakah sebelum atau sesudah
dipadatkan juga harus dispesifikasikan (umumnya dispesifikasikan tebal tanah
urug longgar sebelum dipadatkan sekitar 20 30 cm). Kecuali itu,
dispesifikasikan pula:
1)
2)
3)
4)

Macam tanah timbunan.


Derajat kepadatan minimum di lapangan yang harus dicapai
Energi pemadatan (tipe dan ukuran mesin pemadat dan jumlah lintasan).
Keahlian kontraktor dalam menjaga kadar air supaya tetap.
Hanya sayangnya, parameter-parameter di atas belum dapat diketahui
ketika spesifikasi pekerjaan dibuat. Tebal hamparan material yang dipadatkan
dapat menyebabkan perbedaan kepadatan, yaitu kepadatan yang tinggi di
dekat permukaan dan semakin berkurang di bagian bawahnya. Di lain fihak,
kontraktor ingin memadatkan tanah secepat mungkin agar pekerjaan cepat
dan hemat.
Suatu syarat yang juga dapat ditetapkan adalah tebal maksimum tanah
setelah dipadatkan, misalnya 15 cm. Tebal tanah dipadatkan yang lebih besar

dapat pula diusulkan, asalkan kontraktor dapat membuktikan bahwa dengan


alat pemadat dan cara penghamparan yang digunakan, seluruh tebal tanah
hamparan dapat mencapai kepadatan yang disyaratkan. Syarat yang paling
penting adalah bahwa kepadatan minimum di lapangan (misalnya diukur
dengan metoda uji kerucut pasir) pada bagian bawah dapat dicapai. Hal ini
harus dimonitor dari mulai pekerjaan pemadatan awal, hingga akhirnya.
7.3 Variasi Kepadatan Hasil Pemadatan
Kepadatan tanah hasil pengukuran akan bervariasi dari tempat ke tempat,
walaupun mungkin pada area yang kecil. Variasi ini, sebagian adalah akibat
perbedaan kepadatan yang dihasilkan oleh alat pemadat, perbedaan kecil jenis
tanah atau kadar air, dan sebagian lagi, oleh kesalahan dalam pengukuran
kepadatan yang menggunakan alat tertentu.
Jika pengontrolan kepadatan dilakukan dengan pengukuran berat
volumenya, maka pengontrolan harus tidak didasarkan hanya pada satu kali
pengujian. Sejumlah pengujian harus dilakukan, dan hasilnya dianalisis dengan
menggunakan metoda statistik untuk menentukan deviasi standar dan batasbatas dari nilai rata-ratanya.
Untuk analisis disarankan menggunakan 10 data hasil pengujian
kepadatan. Satu pengukuran dibuat untuk setiap 836 m 2 (1000 yd2) tanah
hamparan timbunan (Road Research Laboratory, 1968). Jumlah data
pengukuran yang diperlukan dalam dianalisis ini, bergantung pada sifat dari
pekerjaan dan derajat akurasi dari hasil yang disyaratkan.
Untuk kebanyakan klasifikasi pekerjaan, deviasi standar yang diijinkan
adalah 0,79 kN/m3 untuk tanah berbutir halus, dan 1,57 kN/m 3 untuk tanah
berbutir kasar, dan berat volume kering rata-rata harus sama atau melebihi
berat volume kering yang disyaratkan (Road Research Laboratory, 1968).
7.4 Percobaan Pemadatan di Lapangan
Area percobaan di lapangan sekitar 18 m x 13,5 m disiapkan pada lokasi
pekerjaan, di mana tanah pada bagian atasnya telah disingkirkan. Material
tanah urug yang digunakan, dihamparkan di area tersebut dan dibagi dalam 3
lajur yang lebarnya masing-masing 4,5 m. Kedalaman material sebelum
dipadatkan dalam satu lajur divariasikan sesuai dengan tebal yang akan diteliti.
Dalam uji coba, kisaran tebal material sebelum dipadatkan 15 45 cm. Pada
umumnya, tidak diperlukan penyesuaian kadar air dari material timbunan
(yang mungkin ada perbedaan sedikit kadar air), dan material timbunan
sebaiknya diuji pada kadar air asli lapangan.
Area yang diuji, kemudian dipadatkan dengan mesin pemadat yang telah
ditentukan (dipilih) dan berat volume kering rata-rata di seluruh kedalaman
pada setiap lajur diukur setelah 2, 4 dan 8 lintasan untuk semua tipe alat
pemadat, kecuali untuk pemadat kaki kambing (sheep foot roller), di mana
pengukuran berat volume kering dilakukan setelah 4, 8 dan 16 lintasan.

Pengecekan berat volume kering (d) dapat dilakukan dengan menggunakan


salah satu metoda, balon karet atau kerucut pasir, dipilih mana yang cocok,
dan sebaiknya kadat air diambil dari nilai rata-rata 5 pengukuran untuk setiap
kondisi tanah.
Prosedur ini harus diulang, jika mungkin, pada dua nilai kadar air. Kadar air
yang disarankan adalah kadar air optimum yang dihasilkan dari uji pemadatan
standar, dan satu nilai kadar air di tengah-tengah antara nilai kadar air
optimum dan kadar air asli dari tanah di lapangan. Jika kadar air asli dari
material di lapangan sama dengan kadar air optimum, maka disarankan untuk
melakukan uji tambahan pada kadar air 3% pada sisi lebih kering, dan sisi lebih
basah dari nilai kadar air optimum. Percobaan-percobaan ini harus dilakukan
pada material segar yang telah diletakkan pada area di sekitar area percobaan,
di mana tanah asli bagian atasnya sudah dibersihkan sebelumnya.
Prosedur pengujian di atas diuraikan secara detail, tapi prosedurnya dapat
diperpendek dari hasil pengalaman. Trial ini akan membutuhkan waktu sekitar
satu minggu, dan dapat dilakukan segera setelah alat-alat pemadat
didatangkan ke lapangan, yaitu ketika pekerjaan pembersihan sedang
berlangsung. Dengan cara ini, percobaan pemadatan dapat diselesaikan
sebelum pekerjaan utama dilakukan. Dari hasil-hasil percobaan tersebut, dapat
ditentukan prosedur yang paling ekonomis dalam memperoleh derajat
kepadatan yang disyaratkann.
7.5 Pengaruh Jumlah Lintasan
Pengaruh jumlah lintasan mesin penggilas dan kecepatan penarik (towing
speed) pada mesin pemadat 7700 kg pada tanah lempung berbatas cair tinggi
dan pasir gradasi baik diperlihatkan dalam Gambar x.18. Terlihat bahwa
kepadatan tanah bertambah oleh kenaikan jumlah lintasan sampai pada suatu
titik tertentu. Pada gambar tersebut diperlihatkan kurva hasil pemadatan untuk
kecepatan lintasan 0,75, 1,5 dan 2,25 mph.
Pengaruh jumlah lintasan terhadap ketebalan hamparan tanah yang
dipadatkan diilustrasikan pada Gambar x.19 (DAppolonia, et al., 1969). Mesin
pemadat dengan berat 5670 dioperasikan pada frekuensi 27,5 Hz dengan tebal
tanah (pasir dune Indiana utara) yang dipadatkan 240 cm. Kerapatan relatif
(Dr) awal pasir adalah 50 sampai 60%. Uji pemadatan di lapangan dilakukan
pada lubang uji (test pit) sebelum dan sesudah pemadatan. Perhatikan
kepadatan tanah (d) bervariasi dengan kedalamannya. Pada 15 cm bagian atas
tanah melonggar akibat vibrasi, sedang tanah mencapai kepadatan maksimal
(untuk lintasan tertentu) pada kedalaman sekitar 45 cm. Saat lintasan mesin
pemadat melebihi dari 5 lintasan, tidak ada kenaikan kepadatan (d) yang
berarti.
Cara menentukan tebal lapisan yang memenuhi kerapatan relatif (D r) tertentu
caranya adalah sebagai berikut (DAppolonia, et al., 1969): Misalnya pada hasil
uji pemadatan di lapangan pada pasir dune Indiana untuk 5 kali lintasan mesin
pemadat diperoleh hasil kurva kerapatan relatif terhadap kedalaman seperti
pada Gambar x.20a. Diinginkan hasil kerapatan relatif tanah minimum (Dr)

minimum 75%. Untuk itu, gambarkan beberapa kurva yang sama pada kertas
transparan, dan impitkan hingga membentuk seperti Gambar x.20b. Dari sini
dapat ditentukan tebal lapisan tanah dipadatkan yang dapat memenuhi syarat
Dr minimum 75% adalah 45 cm. Walaupun, sebenarnya tebal lapisan dapat
ditambah, karena saat pemadatan tanah di bagian atas, tanah di bawahnya
juga akan ikut memadat.
8. PENGUKURAN KEPADATAN DI LAPANGAN
Metoda yang umum digunakan untuk mengukur atau memeriksa
kepadatan tanah di lapangan adalah dengan mengukur berat volume kering
tanah di tempat. Seperti telah dipelajari, hal ini karena nilai berat volume
kering pada umumnya tidak berubah oleh akibat perubahan kadar air, misalnya
kenaikan kadar air oleh akibat hujan.
Kepadatan di tempat menunjukkan berat nilai berat volume kering dalam
kondisi tak terganggu di tempat tersebut. Pada proyek-proyek tanah urug,
umumnya pengukuran kepadatan di tempat ini dilakukan untuk mengecek hasil
pemadatan yang telah dilakukan. Pengukuran kepadatan di tempat yang
dilakukan pada tempat pengambilan bahan timbunan (borrow area),
dimaksudkan untuk mengetahui volume susut atau melonggarnya tanah yang
akan terjadi, ketika tanah tersebut diangkut menuju ke lokasi proyek. Untuk
tanah-tanah berbutir kasar, umumnya nilai berat volume kering setelah
dipadatkan lebih besar dibandingkan dengan tanah-tanah berbutir halus.
Ada dua macam cara untuk mengontrol kepadatan tanah di lapangan,
yaitu dengan pemindahan tanah dan cara langsung. Cara dengan pemindahan
tanah adalah sebagai berkut:
(1) Digali lubang pada permukaan tanah timbunan yang dipadatkan.
(2) Ditentukan kadar airnya.
(3) Diukur volume dari tanah yang digali. Cara yang biasa dipakai untuk ini
adalah metoda kerucut pasir (sand cone) dan balon karet (rubber baloon).
Dalam cara kerucut pasir, pasir kering yang telah diketahui berat volumenya
dituangkan ke luar lewat kerucut pengukuran ke dalam lubang di permukaan
tanah. Volume lubang dapat ditentukan dari berat pasir di dalam lubang dan
berat volume keringnya. Dalam cara balon karet, volume ditentukan secara
langsung dari pengembangan balon yang mengisi lubang galian.
(4) Dihitung berat volume basah (b). Karena berat dari tanah yang digali
dapat ditentukan dan volumenya telah diperoleh dari butir (3), maka b dapat
ditentukan. Dengan kadar air yang telah ditentukan di laboratorium, berat
volume kering di lapangan dapat ditentukan.
(5) Bandingkan berat volume kering lapangan dengan berat volume kering
maksimumnya, kemudian hitung kepadatan relatifnya.
Pengukuran kepadatan tanah di lapangan dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai metoda. Di bawah ini akan dibahas metoda-metoda
kerucut pasir, balon karet dan nuklir.

8.1 Metoda Kerucut Pasir (Sand Cone Method)


Dalam cara ini digunakan pasir untuk mengukur volume lubang di
permukaan tanah yang dibuat pada lokasi pengujian. Kepadatan di lapangan
dinyatakan oleh berat tanah kering dibagi dengan volume lubang yang digali.
Berat tanah ditentukan secara langsung dengan menimbang tanah yang digali
dari lubang. Kadar air dapat ditentukan setelah diperoleh berat basah dan
berat kering oven tanah tergali.
Alat kerucut pasir, seperti namanya, terdiri dari corong berbentuk kerucut
yang dipasang pada mulut botol yang berisi pasir (Gambar x.21a). Volume
tanah yang digali dari lubang uji, ditentukan dengan cara menimbang pasir
(yang awalnya berada di dalam botol) yang mengisi lubang uji. Pasir yang
digunakan adalah pasir kering, dapat mengalir dengan bebas, bergradasi
seragam di mana berat volumenya telah diketahui. Pasir yang digunakan,
umumnya pasir Ottawa dengan berat volume sekitar 100 lb/cu.ft (16 kN/m 3).
Jika berat pasir yang mengisi lubang dapat diperoleh, maka dengan mudah
volume lubang dapat diketahui. Lubang uji yang dibuat umumnya berdiamater
sekitar 15 cm dan kedalaman 15 cm. Prosedur detail mengenai uji kerucut
pasir ini dapat dilihat dalam ASTM D-1556.
8.2 Metoda balon karet (rubber balloon method)
Seperti halnya pada metoda kerucut pasir, metoda balon karet pada
prinsipnya juga mengukur volume lubang uji. Berat tanah yang digali ditimbang
langsung di lapangan, dan kadar air diperoleh dari menimbang tanah dalam
kondisi basah dan kering oven.
Alat uji terdiri dari air yang mengisi silinder kaca vertikal (gelas ukur) yang
mempunyai bukaan di bagian bawah, di mana membran dari karet dapat
menggelembung mengisi lubang (Gambar x.21b). Tanda-tanda dalam silinder
kaca digunakan untuk mengukur volume air yang mengisi lubang uji. Pengisian
lubang uji dengan air, dilakukan dengan menekan pompa tangan. Tekanan
atmosfer dari luar memaksa air dan balon kembali masuk ke dalam silinder,
dan alat siap digunakan pada pengujian lokasi lain.
Alat balon karet tersedia dalam berbagai ukuran. Ukuran yang paling kecil
dapat mengukur lubang berdiameter sekitar 10 cm dengan kedalaman 15 cm.
Alat yang lebih besar digunakan untuk lubang uji yang lebih besar. Prosedur uji
balon karet ini dapat dilihat dalam ASTM D-2167.
8.3 Metoda Nuklir
Pengukur kepadatan tanah dengan metoda nuklir telah banyak
digunakan untuk mengukur kepadatan tanah di lapangan. Hasil kepadatan
tanah di lapangan dapat diperoleh dengan cepat.

Elemen utama alat pengukur kepadatan adalah sumber nuklir yang


memancarkan sinar gamma (gamma rays), detektor untuk menangkap sinar
gamma atau photon yang melewati tanah yang diuji, dan alat penghitung
untuk menentukan kecepatan sinar gamma untuk mencapai detektor (Gambar
x.21c). Ketika alat ini digunakan, sinar gamma menembus tanah, di mana
sebagian terserap tanah, dan sebagian lagi mencapai detektor dengan tranmisi
langsung. Jumlah dari radiasi gamma yang mencapai detektor berbanding
terbalik secara proporsional dengan kepadatan tanah. Kepadatan ditentukan
dengan menggunakan kecepatan sinar yang diterima detektor dan dengan
mengkaitkan pembacaan ini dengan pembacaan kalibrasi yang telah dibuat
pada material yang telah diketahui kepadatannya. Kurva kalibrasi diberika oleh
pabrik alat. Kepadatan yang yang diperoleh adalah kepadatan total atau
berat volume basah.
Kelembaban atau kadar air diperoleh dari hitungan thermal neutrons.
Partikel alfa yang diemisikan dari sumber americium atau radium menyerang
target beryllium. Serangan ini menyebabkan beryllium mengemisikan neutronneutron cepat (fast neutrons). Neutron cepat ini kehilangan kecepatannya, jika
menabrak atom hidrogen dalam molekul air. Hasil neutron berkecepatan
rendah ini adalah thermal neutrons. Hasil kadar air yang diberikan adalah
sebagai berat air per satuan volume. Berat volume kering diperoleh dengan
mengurangkan berat volume basah dengan berat air persatuan volume ini.
Dengan metoda ini, pada penentuan kadar air, kesalahan signifikan dapat
terjadi bila tanah mengandung besi, boron atau cadmium. Informasi detail
mengenai penggunaan alat ini dapat dilihat dalam ASTM D-2922.

8.4 Metoda Pemotong Inti (Core Cutter Method)


Dalam cara ini suatu pemotong berupa tabung diameter dalam 10 cm (4
in.) dan tinggi 12,5 cm (5 in.) dipukulkan ke dalam tanah (Gambar 9.16).
Pemotong yang telah berisi tanah, kemudian dikeluarkan dari tanah dengan
cara digali. Tanah yang terambil dalam pemotong diratakan sehingga
permukaannya rata dengan permukaan tabung. Dengan cara ini, volume tanah
yang terambil dalam tabung pemotong sama dengan volume tabung. Kadar air
ditentukan dengan mengambil tanah dalam tabung pemotong. Dari berat,
volume tanah dalam tabung, serta kadar air, maka berat volume kering tanah
dapat ditentukan.
Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi ketelitian hasil pengukuran di lapangan telah dilaporkan oleh
Road Research Laboratory (1968). Tabel 9.3 menunjukkan pengaruh tebal
dinding silinder pemotong berdiameter 10 cm (4 in.) dan tinggi 12,5 cm (5 in.)
terhadap hasil pengukuran yang dilakukan di dua lokasi. Hasil dalam tabel
tersebut menunjukkan bahwa pemotong yang tipis menghasilkan berat volume
kering yang lebih tinggi. Hal ini akibat dari kompresi tanah yang disebabkan
oleh masuknya pemotong ke dalam tanah menyebabkan tanah mengembang.

Karena itu, untuk pengukuran yang lebih akurat, maka sebaiknya digunakan
silinder pemotong yang tipis. Hasil berat volume kering terukur yang tidak
begitu berbeda diperoleh pada pemotong dengan diameter silinder bagian
dalam berbeda dari 10 cm dan 15 cm dengan tebal dinding 1/8 in. Hasil ini
menunjukkan bahwa hasil yang lebih baik tidak dapat diperoleh dari
penggantian pemotong dari diameter bagian dalam 10 cm menjadi 15 cm.

Tabel 9.3 Pengaruh tebal dinding silinder pemotong terhadap berat volume
kering terukur (Road Research Laboratory, 1968)
Tebal dinding
Berat volume kering (lb/cu.ft)
Lokasi 1
Lokasi 2
(in.)

102,7
98,1
3/16
103,0
98,0
1/8
103,2
99,8
1/16
105,2
100,3

8.5 Perbandingan Hasil Pengukuran Kepadatan dari Beberapa Metoda


Jika alat pengukur kepadatan digunakan dalam tanah-tanah berbutir halus
yang berkohesi, di mana seluruh metoda cocok digunakan, metoda pemotong
inti (dimeter 10 cm dengan tebal dinding silinder 3 mm) menghasilkan nilai
yang baik, sedang hasil kepadatan dari uji kerucut pasir lebih kecil sekitar 2%.
Perbedaan ini kemungkinan adalah akibat dari corong dari botol pasir menonjol
dari permukaan. Metoda balon karet menunjukkan hasil yang kurang baik,
karena menggelembungnya balon sering tidak mengisi seluruh dinding lubang
uji yang dibuat, sehingga keberhasilan pengukuran kepadatan bergantung
pada tekanan udara yang menekan air dalam balon, namun hal ini sulit
dikontrol.
Keuntungan dan kerugian dari metoda yang dipakai ditunjukkan dalam
Tabel x.7.
Tabel x.7 Keuntungan
kepadatan
Metoda Keuntungan
Dapat
digunakan
Kerucut
pada
pasir
sebarang
jenis tanah.
Balon
Pengukuran
karet
cepat.

dan kerugian pemakaian empat metoda pengukuran


Kerugian
Pengukuran lambat.

Hasilnya kurang akurat,


akibat
balon
tidak
sepenuhnya
mengisi

Nuklir

Pengukuran
cepat.

Pemoto
ng inti

Murah dan
cepat

dinding lubang.
Ketika voleme diukur,
tanah
tidak
diijinkan
kering.
Suku cadang balon sulit
diperoleh.
Operator perlu sertifikasi
bahaya nuklir.
Angka
yang
terbaca
pada
alat,
sering
berubah-ubah.
Ujung pemotong sering
rusak, sehingga perlu
diruncingkan
secara
rutin.
Hasil terbaik digunakan
dalam
tanah-tanah
kohesif
lunak,
tidak
dapat digunakan dalam
tanah berkerikil atau
tanah granuler.

8.6 Masalah Dalam Pengukuran Kepadatan di Lapangan


Terdapat beberapa maslah dalam penentuan kepadatan tanah di
lapangan. Pertama, berat volume kering maksimum yang diperoleh dari uji
laboratorium tidak dapat diketahui secara tepat. Suatu hal yang tidak mungkin
untuk dilakukan adalah melakukan pengujian pada benda-uji pemadatan yang
benar-benar mewakili kondisi di tempat pengambilan bahan pengambilan,
misalnya untuk proyek pembangunan jalan raya. Padahal ketika dilakukan
pengukuran kepadatan untuk pengendalian kualitas pekerjaan di lapangan,
hasil pengujian laboratorium tersebut akan dijadikan acuan. Alternatifnya, yaitu
dengan melakukan pengujian lengkap untuk setiap macam tanah di lapangan,
namun ha ini akan mebutuhkan biaya dan waktu yang lama. Alternatif lain,
yaitu dengan cara melakukan pengujian pemadatan di laboratorium pada
material di lapangan yang terlihat berbeda dengan tanah yang sebelumnya
telah diuji di laboratorium. Caranya, tanah yang telah dipadatkan di lapangan
diambil, lalu diuji kepadatannya di laboratorium. Hasil uji pemadatan ini, lalu
dijadikan acuan dalam pengukuran kepadatan relatif (Rc) untuk tanah-tanah
yang telah dipadatkan di lapangan yang secara visual terlihat sejenis.
Masalah kedua dalam pengukuran kepadatan di lapangan adalah
penentuan nilai kadar air membutuhkan waktu yang lama. Hal ini karena uji
kadar air harus dilakukan pada tanah yang dikeringkan dalam oven selama
waktu yang ditentukan dalam prosedur ASTM.
---- LIHAT HAL 150 KOVAC

9. PENGARUH BERAT MESIN PEMADAT DAN BIDANG KONTAK RODA


PENGGILAS
Tegangan yang terjadi di dalam tanah oleh melintasnya mesin pemadat
akan menyebabkan tanah memadat. Gambar x.22 menunjukkan distribusi
tegangan di bawah satu roda dari empat mesin pemadat ban karet yang
berbeda. Ukuran-ukuran dalam gambar adalah beban kotor, dan beban roda
tunggal diperoleh dari beban kotor dibagi jumlah roda. Dalam contoh ini, beban
roda bervariasi antara 7,5 sampai 15 ton, yaitu sama dengan tekanan ban
yang bervariasi antara 65 sampai 150 psi. Pada kedalaman dangkal, pengaruh
tekanan ban sangat signifikan.
Akan tetapi, dari hubungan distribusi tegangan dengan kedalaman,
diperoleh bahwa faktor lain juga akan mempengaruhi tegangan, sehingga
mempengaruhi kepadatan tanah di sekitar roda. Rasio tegangan yang terjadi di
bawah roda dari 65 psi, untuk pemadat 10 ton menuju ke 150 psi untuk
pemadat proof yang beratnya 60 ton berawal dari nilai 2,3 di permukaan, tapi
kemudian bertambah sampai 2,9 pada kedalaman 5 cm (2), 7,2 pada 15 cm
(6) dan 13,3 pada 30 cm (12). Jelaslah, pemadat proof 60 ton jauh lebih
efektif dari yang lain. Hal ini membuktikan bahwa tegangan untuk pemadatan
tidak hanya disebabkan oleh tekanan ban yang lebih tinggi saja.
Tekanan roda sangat berpengaruh untuk pencapaian kepadatan tinggi pada
kedalaman yang dangkal, tapi untuk kedalaman yang lebih dalam, ukuran
luasan kontak roda menjadi lebih penting. Luasan kontak nominal sebuah roda
adalah beban roda dibagi dengan tekanan roda. Berat mesin pemadat dan area
kontak roda dalam Gambar x.22 adalah sebagai berikut:
Berat mesin
pemadat
60
23
15,5
10

Area
kontak
2
roda (in )
200
55,8
38,9
23,7

Tekanan roda yang tinggi dan area kontak besar merupakan alasan kenapa
mesin pemadat proof 60 ton lebih efektif untuk mencapai kepadatan yang
tinggi di permukaan.
Dalam Gambar x.22 distribusi tegangan yang digambarkan hanya
ditunjukkan untuk satu roda saja. Tegangan tambahan akan terjadi untuk
kelompok roda-roda dalam satu alat pemadat, oleh karena pengaruh tumpangtindih tegangan dari roda-roda di dekatnya.
10. INDEKS PEMADATAN (COMPACTION INDEX)

Perkerasan landas pacu di bandar udara akan menerima beban roda yang
tinggi, sehingga pemadatan sangat penting diperhatikan. U.S. Corp of
Engineers mengembangkan konsep yang dikaitkan dengan kebutuhan
kepadatan untuk persyaratan kekuatan rencana dengan menggunakan indeks
kepadatan (Ci).
Indeks kepadatan (Ci) didefinisikan sama dengan CBR rancangan, yaitu
CBR yang disyaratkan dalam perancangan perkerasan fleksibel, di sembarang
kedalaman dalam perkerasan. Contohnya, jika metoda rancangan
membutuhkan CBR = 10 pada kedalaman perkerasan 30 cm untuk 10.000
lintasan pesawat B-52, maka indeks pemadatan Ci harus 10. Perubahan istilah
dari CBR ke indeks pemadatan, untuk menekankan bahwa walaupun tingkat
tegangan yang timbul dalam material akan mempengaruhi tahanan geser
(CBR) dan tingkat pemadatan (Ci), namun terdapat perbedaan nyata antara
kuat geser dan kebutuhan kepadatan. Gambar x.23 dan x.24 menunjukkan
hubungan indeks pemadatan terhadap kepadatan akhir diukur dalam pengujian
perkerasan dengan lalu lintas skala penuh. Dari gambar-gambar tersebut
terlihat bahwa terdapat perbedaan penting antara tanah kohesif, plastis dan
tanah tak berkohesi, dan perbedaan antara 2 kategori adalah pada indeks
plastisitas (PI) sekitar 2 (Ahlvin, 1991). U.S. Corp of Engineer mengembangkan
dua hubungan seperti diperlihatkan dalam Gambar x.23 dan x.24. Data ini
telah dicek terhadap hasil pengujian lain dari perkerasan yang telah digunakan
(Ahlvin et al., 1959). Hubungan ini telah digunakan untuk persyaratan
pemadatan lapangan udara militer, walaupun analisis sesudahnya
mengindikasikan hasilnya terlalu hati-hati. (Rolling 207)

11. PENGARUH MATERIAL LUNAK SEBAGAI LANDASAN PEMADATAN hal 239 Rolling
Suatu hal yang tidak mungkin adalah memadatkan material di atas
pondasi yang lunak. Gambar x.25 memperlihatkan distribusi tegangan di
bawah dua mesin penggilas seperti ditunjukkan dalam Gambar x.22 untuk
dua macam fondasi. Dalam kasus 1, modulus elastis di bawah roda mesin
pengilas dianggap konstan sebesar 25.000 psi (mewakili material ganuler yang
bagus). Pada kasus 2, mesin penggilas berada di atas material yang tebalnya
15 cm dengan modulus elastis 25000 psi yang terletak di atas tanah dengan
modulus 5.000 psi. Tanah yang di bawah ini secara pendekatan akan
mempunyai CBR sekitar 3 4%, yang dapat mewakili lempung lunak. Pada
kasus 2, terlihat bahwa tegangan yang tersedia untuk memadatkan tanah
setebal 15 cm menjadi sangat berkurang akibat lunaknya landasan di
bawahnya. Lendutan di permukaan untuk masing-masing dari empat penggilas
untuk ke dua kasus diperlihatkan dalam Gambar x.26. Terlihat bahwa
landasan yang lebih lunak menyebabkan lendutan di permukaan yang lebih
besar. Pemadatan dengan tingkat kepadatan tinggi sangat tidak mungkin

dilakukan pada lapisan tipis yang berada di atas landasan lunak. Lebih dari itu,
tegangan tinggi yang terjadi pada landasan tanah yang lunak di bawahnya
menyebabkan tanah bergeser dan melendut.
Jika tanah harus dipadatkan di atas tanah lunak, maka tanah pada lapisan
paling awal akan menghasilkan tingkat kepadatan rendah. Dalam kasus
demikian, maka yang pekerjaan yang harus dilakukan adalah membongkar
material lunak tersebut atau memperbaiki material yang ada, dan membangun
landasan kerja sehingga alat-alat pemadat atau yang lainnya dapat bekerja di
atasnya.

12. PEMADATAN UNTUK STRUKTUR TIMBUNAN


Salah satu persyaratan permukaan jalan adalah harus rata. Karena itu,
sangat penting diperhatikan bahwa timbunan yang mendukung permukaan
jalan harus dipadatkan dengan baik. Timbunan harus bebas dari rongga-rongga
yang disebabkan oleh cara penimbunan yang buruk, dan bahan timbunan
harus bebas dari akar-akaran, ranting, jerami dan maerial lain yang
mengganggu pemadatan tanah. Dalam praktek, tebal lapisan penghamparan
tanah urug sebelum dipadatkan disyaratkan berkisar 15 30 cm untuk seluruh
lebar tampang melintang timbunan, dan setiap lapisan dipadatkan dengan
mesin penggilas atau oleh aksi alat berat.
Tanah urug dituangkan melalui unit alat angkut, kemudian diratakan
dengan buldozer atau grader. Tipe-tipe alat pemadat, umumnya adalah
penggilas roda halus, penggilas kaki kambing, penggilas roda karet dan
sebagainya. Hasil pemadatan yang baik umumnya dapat diperoleh dengan
lintasan mesin pemadat ke seluruh bagian tanah yang dihamparkan saat
proses pelaksanan. Akan tetapi, sangat sulit untuk menyebarkan lintasan ke
seluruh bagian lebar dari timbunan. Bila lintasan tidak merata, maka akan
diperoleh kepadatan yang tidak sama, yang dapat berakibat penurunan tak
seragam pada permukaan jalan di kemudian hari.
Pada bagian pinggir atau lereng timbunan, pemadatan yang baik
umumnya sulit tercapai. Karena, kecuali kurangnya tekanan kekang (confining
pressure) di bagian pinggir, juga mesin pemadat cenderung melintas agak ke
tengah. Kadang-kadang khusus bagian pinggir ini, pemadatan dilakukan
dengan mesin pemadatan ringan. Namun demikian, hasil pemadatan di bagian
pinggir timbunan ini umumnya masih ridak memuaskan. Untuk itu, maka
penghamparan tanah urug perlu dibuat lebih lebar dari tampang timbunannya,
kemudian bagian kelebihan ini dipangkas sampai pada permukaan lereng final.
Pada bagian pinggir ini dipadatkan dengan mesin pemadat ringan.
13. PERSYARATAN MATERIAL DAN KEPADATAN TIMBUNAN
(Tanah Urug (buku Bruce hal 257)
Stabilitas timbunan bergantung pada tahanan geser tanah pembentuk
timbunan. Tahanan geser atau kuat geser tanah terdiri dari komponen kohesi

(c) dan sudut gesek dalam (). Nilai kombinasi keduanya bergantung pada
jumlah rongga pori tanah atau kepadatan dan jumlah air yang berada di
dalamnya. Tanah yang mengandung banyak rongga akan menjadi sangat tidak
stabil ketika kadar air tinggi, dan sebaliknya tanah yang berisi sedikit rongga
akan menahan masuknya air, dan karena itu lebih stabil dibandingkan dengan
tanah yang banyak rongganya. Banyaknya rongga pori dalam tanah,
bergantung pada derajat kepadatannya.
Pada saat melakukan pemadatan, maka dibutuhkan pengontrolan kadar
air dan kepadatan timbunan. Pada umumnya tanah hasil pemadatan harus
sampai mencapai minimum 90-95% kepadatan maksimum standar pengujian
tertentu. Untuk mencapai hasil ini, dibutuhkan pengontrolan kadar air tanah
saat pemadatan. AASHO menyarankan hal-hal berikut ini untuk timbunan.
Jika timbunan tingginya tidak lebih dari 3 m dan tidak terletak pada lereng
curam atau dipengaruhi banjir yang lama, maka batas cair (LL) tanah harus
kurang dari 65%, indeks plastisitas (PI) tidak lebih dari 0,6(LL) 9, dan berat
volume kering minimum yang harus dicapai seperti disajikan dalam Tabel x.8.
Tabel x.8 Persyaratan kepadatan material timbunan tinggi >3m, tidak diletakkan
pada lereng atau dipengaruhi banjir lama (AASHO)
Berat
Berat
volume
volume
Klasifik
kering
kering
asi
Kategori
minimum di
minimum
tanah
lapangan
(kN/m3)
(%)*
<
A-5, A- Tidak
14,4
8
memuaskan
95
14,4
A-5, A- Sangat jelek
95
16,0
8
Jelek
90
16,0
A-6, A- Sedang
90
17,6
7
Baik
90
17,6
A-4
Sempurna
19,2
A-3, A19,2
2
20,8
A-1
>
20,6
*persen dari berat volume kering maksimum di laboratorium.
Untuk tanah granuler dengan >35% dari beratnya lolos saringan no. 200,
dan serpih (shale) atau batuan dari butiran halus terlaminasi oleh akibat
konsolidasi lempung, lanau, atau campuran pasir halus, dianggap cocok
digunakan, bila butiran lolos saringan no.10 minimum 40%.

Untuk timbunan lebih dari 3 m atau diletakkan pada lereng curam atau
dipengaruhi banjir, batas cair (LL) tanah harus tidak melebihi 50%, dan standar
uji pemadatan harus seperti yang ditunjukkan dalam Tabel x.8.
Tanah granuler (kurang dari 35% lolos saringan no. 200), dan serpih jika
40% lolos saringan no.10 dan nilai batas cair (LL) dari fraksi lolos saringan
no.40 tidak melebihi 50%, dapat digunakan untuk bahan timbunan, dan
persyaratan kepadatan minimum harus seperti ditunjukkan dalam Tabel x.9.
Tabel x.9 Persyaratan kepadatan minimum material timbunan tinggi >3 m terletak
pada lereng curam atau dipengaruhi banjir (AASHO)
Berat
Berat
volume
volume
Klasifika
kering
kering
Kategori
si tanah
minimum di
minimum
lapangan
(kN/m3)
(%)*
<
A-5, A-8 Tidak
16,0
A-6, A-7 memuaskan
100
16,0
A-4
Sangat
95
17,6
A-3, A-2 jelek
90
17,6
A-1
Jelek
90
19,2
Sedang
19,2
Baik
20,8
>
20,8
*persen dari berat volume kering maksimum di laboratorium.
Jika batuan digunakan untuk tanah urug, penting harus diperhatikan agar
seluruh rongga pori material urugan terisi seluruhnya untuk mencegah
penurunan tak seragam di masa datang. Material batuan, bolder, dan lain-lain
harus diletakkan di bagian bawah urugan dan ketika elevasi urugan akan
mendekati final, material berdiameter lebih kecil harus digunakan.
STOP!!!!
12.2 Pengaruh kadar air, berat volume
pemadatan & pengrh rongga)Masuk CBR

terhadap

CBR

(syrat

Untuk jalan raya dan bandara, pemadatan yang baik pada tanah-dasar
(subgrade) dan lapis pondasi (base) sangat diperlukan. Pemadatan menambah
kerapatan tanah, sehingga kadar air menjadi lebih rendah, bahkan bila tanah
pada kondisi jenuh. Kadar air yang lebih rendah ini akan menambah kekuatan
atau kuat geser tanah.

Karena pemadatan bertujuan untuk meyakinkan stabilitas timbunan, maka


penting untuk mengetahui hubungan kekuatan dan kepadatan. Seperti
ditunjukkan dalam Gambar 10.1, untuk tanah-tanah lempungan, kekuatan
merupakan fungsi kepadatan dan kadar air. Nilai CBR umumnya berkurang, bila
kadar air bertambah dan kepadatan berkurang. Namun, pada benda uji CBR
yang sama, jika direndam selama 4 hari, maka nilai puncak CBR terjadi pada
kadar air optimumnya atau saat kepadatan tanah mencapai maksimumnya,
karena alur kurva CBR dan kepadatan identik (Gambar 10.1). Alasan nilai
puncak ini, adalah karena terkait dengan penyerapan dan pengembangan
saaat perendaman. Beberapa tanah yang dipadatkan pada kadar air rendah
akan mengembang lebih banyak dengan diikuti oleh turunnya kekuatan,
dibandingkan dengan tanah yang dipadatkan pada kadar air lebih tinggi.
Pengembangan berkurang, ketika kadar air bertambah sampai nilai yang
mendekati kadar air optimum, dan kemudian menjadi relatif konstan untuk
kadar air yang melebihi optimum. Hal ini menunjukkan bahwa bilamana
ditemui tanah yang mudah mengembang, maka lebih baik dipadatkan pada
kadar air yang mendekati atau sedikit melebihi kadar air optimumnya (Yoder
dan Witczak, 1975).
Karena kekuatan tanah bergantung pada kadar air dan kepadatan, maka
penting diketahui pengaruh kepadatan pada kadar air yang bervariasi.
Gambar 10.2 menunjukkan variasi CBR dengan kepadatan pada dua jenis
tanah berbeda, yang satu lempung plastisitas tinggi (CH) dan yang lain
lempung plastistas rendah (CL). Data pengujian CBR diambil setelah 4 hari
perendaman. Angka-angka disamping kurva menunjukkan kadar air yang
diberikan pada masing-masing contoh tanah. Untuk tanah CH, pada berat
volume kering yang sama (kepadatan konstan), CBR bertambah dengan
naiknya kadar air. Demikian pula, CBR bertambah, jika kepadatan bertambah
sampai ke nilai puncaknya dan setelah itu turun. Fenomena ini dapat dikaitkan
dengan tekanan air pori pada tanah jenuh. Contohnya, pada kadar air 28% dan
berat volume kering 100 lb/cu.ft, tanah tidak stabil, karena sebagian dari beban
yang bekerja ditahan oleh air pori. Kondisi yang sama diperoleh pada tanah CL
pada Gambar 10.2, namun pada derajat yang lebih rendah. Fenomena ini
ditemui ketika tanah dipadatkan dengan cara ditumbuk (dinamis), tapi tidak
demikian kalau pemadatan dilakukan secara statis.

Sifat-sifat indeks menunjukkan sifat-sifat tanah yang menunjukkan


tipe dan kondisi tanah, dan memberikan hubungan sifat-sifat
struktur/susunan semacam kekuatan dan komprersibilitas atau
kecenderungan mengembang danpermeabilitasnya.
Tabel 1 Macam-macam metoda dalam prosedur uji pemadatan standar Proctor dan
Proctor dimodifikasi
Tipe uji
Uji standar
Uji Proctor

standar

Prosedur
Diameter
mould (mm)
Berat
pemukul
(kg)
Tinggi jatuh
(cm)
Jumlah
lapisan
Pukulan per
lapis
Energi (ft.
lb/ft)

Proctor
(ASTM D 698-91)
(AASHTO T
99)???
A
10
2

B
10
2

C
15
2

dimodifikasi
(ASTM D 155791)
(AASHTO T
180)???
A
B C
10 10 15
2
2
2

2,
5

2,
5

2,
5

4,
54

4,
54

4,
54

30

30

30

45

45

45

25

25

56

25

25

56

12
37
5

12
37
5

12
37
5

56
25
0

56
25
0

56
25
0

Ukuran
butiran
4, 9,
4, 9,
lolos
19
19
75 5
75 5
saringan
(mm)
Catatan:
Prosedur A digunakan bila material tertinggal dalam saringan no.4 (4,75 mm)
maksimum 20%. Jika prosedur ini tidak dispesifikasikan, maka material yang
memenuhi gradasi ini diuji dengan prosedur B atau C.
Prosedur B digunakan bila lebih dari 20% terhadap berat material tertinggal
dalam saringan no.4 (4,75 mm) dan 20% atau kurang terhadap beratnya
tertinggal pada saringan 9,5 mm (3/8 in). Jika prosedur ini tidak
dispesifikasikan, material yang memenuhi syarat gradasi ini diuji dengan
prosedur C.
Prosedur C digunakan bila lebih dari 20% terhadap berat kering material
tertinggal dalam saringan 9,5 mm (3/8 in.) dan kurang dari 30% dari berat
material tinggal pada saringan 19 mm (3/4 in).
Mould diameter 152 mm harus tidak digunakan dalam prosedur A atau B.