Anda di halaman 1dari 24

BAB IV

KEGIATAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

4.1

Kegiatan Lapangan
Kegiatan lapangan yang dilakukan pada PT Total Optima Prakarsa, berupa

kegiatan pengamatan dan pengambilan data yang diperlukan untuk mengetahui


aktivitas kegiatan pembongkaran material berupa kegiatan peledakan. Kegiatan
pengambilan data aktual berupa :
1.

Mengamati secara umum pada kegiatan peledakan mulai dari tahapan


pelaksanaan hingga tahapan akhir dari proses kegiatan peledakan.

2.

Pengukuran geometri aktual setiap kegiatan peledakan yang berupa burden,


spasi, tinggi jenjang, kemiringan, kedalaman

3.

Pengukuran orientasi kekar dilokasi kegiatan peledakan, dimana data ini


dimaksudkan untuk pengolahan data pembobotan massa batuan guna
mendapatkan data untuk dalam proses pengolahan perhitungan fragmentasi
secara teoritis menggunakan model Kuz-Ram.

4.2

Kegiatan Pemboran
Pada kegiatan pemboran yang dilakukan pada PT Total Optima Prakarsa di

Desa Peniraman ini dilakukan dengan menggunakan 1 unit alat bor merk Junjin JD800, dimana diameter bit alat bor tersebut sebesar 3 inch, panjang batang bor tersebut
sebesar tiga meter. Pola pemboran yang dilakukan oleh PT Total Optima Prakarsa ini
dilakukan untuk memenuhi kegiatan peledakan yaitu dengan menerapkan pola
staggered square, yaitu dimana jarak burden sebesar 2,38 2,56 meter dan spasi
sebesar 2,43 2,52 meter. Pada kegiatan pemboran ini dilakukan dengan 2 orang
crew yaitu satu orang bertindak sebagai operator dan satu orang lagi bertindak sebagai
helper dari operator. Operator alat bor bertindak sebagai pihak yang mengoperasikan
mesin bor, sedangkan helper bertindak sebagai pihak yang membantu untuk
mengarahkan ketepatan posisi dari bit terhadap lubang tembak. Jumlah titik lubang bor
yang di bor pada kegiatan peledakan pertama sebanyak 89 titik dengan kedalaman 6
meter, pada kegiatan peledakan kedua sebanyak 69 lubang bor dengan kedalaman 9

47

48

meter, pada kegiatan peledakan ketiga sebanyak 46 lubang bor dengan kedalaman 9
meter, pada kegiatan peledakan keempat sebanyak 73 lubang bor dengan kedalaman
9 meter, pada kegiatan peledakan kelima sebanyak 62 lubang bor dengan kedalaman
9 meter.dengan teknis pemboran dilakukan sebanyak 2 hari, dengan kemajuan titik
pemboran perhari sekitar 30 - 40 titik bor.

Sumber : Data Pengamatan di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Gambar 4.1
Sketsa Pola Pemboran PT Total Optima Prakarsa

Untuk waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu lubang bor bervariasi
tergantung dari material yang akan dibor, pada PT Total Optima Prakarsa ini jenis
batuan tergolong keras sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan
pemboran dengan kisaran waktu + 2 menit per tiga meter (satu rod) batang bor. PT
Total Optima Prakarsa menggunakan arah pemboran tegak 900 (vertical).

49

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Foto 4.1
Alat bor Junjin JD-800

4.3

Kegiatan Peledakan
Alur kegiatan peledakan yang dilakukan oleh PT Total Optima Prakarsa dapat

dilihat sebagai berikut :


1.

Pembuatan perancangan pola pemboran dan geometri kegiatan peledakan


oleh juru ledak.

2.

Melakukan kegiatan pemboran dengan menggunakan alat bor Junjin JD-800


dengan pola pemboran berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh pihak
juru ledak.

3.

Melakukan maintenance pada alat-alat dan pengecekan serta pemeriksaan


harian terhadap alat-alat penunjang kegiatan yang akan digunakan pada
proses kegiatan peledakan.

4.

Pemeriksaan pada lubang-lubang ledak apakah kering atau basah guna


memutuskan terhadap tindakan yang akan dilakukan.

5.

Pengambilan aksesoris dan bahan peledak pada gudang bahan peledak.

6.

Perangkaian detonator (penyambungan leg wire dan conecting wire)

7.

Proses pengangkutan bahan peledak dan aksesoris peledakan ke area


tambang atau lokasi yang akan dilakukan kegiatan peledakan.

8.

Membagikan bahan peledak dan aksesoris peledakan pada setiap lubang guna
mempermudah proses kegiatan peledakan.

9.

Membuat primer.

10.

Pengisian bahan peledak ke lubang (charging) .

50

11.

Menutup lubang ledak dengan material sisa hasil cutting pemboran dengan
material debu batu.

12.

Melakukan perangkaian kelistrikan.

13.

Melakukan final checking pada semua lubang yang telah dirangkai sebelum
eksekusi peledakan.

14.

Pengamanan area kegiatan peledakan.

15.

Eksekusi peledakan.

16.

Pengecekan lokasi setelah peledakan apakah terjadinya missfire dan


kemungkinan terjadinya fumes.

17.

Pelaporan kegiatan peledakan.

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Gambar 4.2
Diagram Alir Teknis Pemboran dan Peledakan

4.3.1

Peralatan dan Perlengkapan Kegiatan Peledakan

4.3.1.1 Peralatan Kegiatan Peledakan


Peralatan kegiatan peledakan merupakan kumpulan dari beberapa alat yang
fungsinya sebagai penunjang terlaksanya kegiatan peledakan. Peralatan kegiatan
peledakan ini fungsinya masih dapat digunakan berulang kali dalam setiap kegiatan
peledakan telah dilakukan. Peralatan kegiatan peledakan yang digunakan antara lain
blasting machine Kobla BL-500 sebanyak 2 unit, mixer ANFO sebanyak 1 unit, cable
crimper sebanyak 2 unit dan blasting ohm meter Kobla BR503N sebanyak 1 unit.

51

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Foto 4.2
Peralatan Peledakan

4.3.1.2 Perlengkapan Kegiatan Peledakan


Perlengkapan peledakan merupakan alat yang diperlukan untuk membuat
rangkaian peledakan, perlengkapan peledakan ini memiliki sifat hanya sekali pakai
saja atau dengan kata lain hanya untuk satu proses kegiatan peledakan. Perlengkapan
kegiatan yang digunakan antara lain menggunakan bulk ANFO produk dari PT Pindad
(Persero) yang lebih dikenal dengan PANFO, powergel menggunakan produk dari
Solar dengan tipe Superpower 90 200gr dan detonator menggunakan produk dari
Solar dengan tipe Supreme Class-6 Division-3 (nomor detonator 7 dan 8)

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Foto 4.3
Perlengkapan Peledakan

4.3.2

Pola Peledakan
Pola peledakan yang diterapkan pada kegiatan peledakan pada PT Total

Optima Prakarsa yaitu dengan menggunakan pola V-Cut guna memudahkan dalam
proses loading yang akan dilakukan. Pola peledakan yang diterapkan diatur dengan
menggunakan kombinasi delay dari detonator.
4.3.3 Perangkaian Rangkaian Peledakan
Perangkaian detonator listrik dilakukan setelah proses kegiatan stemming
selesai dilaksanakan, penyambungan rangkaian ini dibentuk sesuai dengan desain

52

perangkaian yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan keadaan lapangan dan
perhitungan sebelumnya, kegiatan ini dilakukan oleh blasting engineer ataupun asisten
blasting engineer yang telah mengikuti kursus juru ledak dan telah mempunyai KIM
(Kartu Ijin Meledakan) sehingga mampu atau mengetahui tentang geometri peledakan.
Tahanan dari rangkaian perlengkapan peledakan dihitung dengan bantuan alat berupa
blasting ohm meter Kobla BR503N, dimana pada alat tersebut memiliki besaran nilai
tahanan keseluruhan rangkaian apabila seluruh tahanan sudah sesuai dengan
perhitungan maka kegiatan eksekusi dapat diaksanakan. Setelah rangkaian selesai
dibuat maka lead wire disambungkan ke blasting machine Kobla BL-500 sebanyak 2
unit.

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Foto 4.4
Penyambungan Rangkaian

4.3.4 Perlindungan Pada Saat Kegiatan Blasting


Untuk perlindungan blaster biasanya digunakan suatu bangunan ruang yang
terbuat dari material besi atau baja (shelter) dan terdapat celah untuk dapat melihat
atau memantau proses pada peledakan apabila peledakan telah selesai dilakukan,
sedangkan kondisi shelter di PT Total Optima Prakarsa itu sendiri dalam kondisi rusak,
sehingga untuk sebagai tempat perlindungan dari kegiatan peledakan menggunakan
alat berat berupa excavator sebagai tempat untuk berlindung, dimana lokasi untuk
berlindung blaster terdapat pada track daripada excavator tersebut.

53

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Foto 4.5
Perlindungan Pada Saat Kegiatan Blasting

4.3.5 Peringatan Sebelum Peledakan


Sebelum melakukan proses peledakan, hal pertama yang harus diperhatikan
yaitu keamanan, maka sebelum proses kegiatan peledakan dimulai, daerah yang akan
diledakan harus dilakukan checking dan dipastikan tidak ada manusia, maupun
binatang, dimana jarak aman untuk manusia dalam proses peledakan yaitu minimal
500 meter dari area peledakan, dan sedangkan untuk jarak aman dari alat yaitu 300
meter dari peledakan. Peringatan sebelum peledakan dilakukan dengan memblokir
jalan menuju site tambang yang akan dilakukan kegiatan peledakan, selain dari
memblokir jalan menuju daerah kegiatan, peringatan juga dilakukan dengan
menyalakan sirine di wilayah PT Total Optima Prakarsa, hal ini dilakukan agar tidak
mengganggu produktivitas dan tidak membahayakan.

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Foto 4.6
Papan Peringatan Kegiatan Peledakan

54

4.3.6 Pemeriksaan Setelah Peledakan


Setelah kegiatan peledakan selesai dilakukan, maka yang harus dilakukan oleh
crew peledakan PT Total Optima Prakarsa harus melakukan checking ke blasting area
untuk pengecekan tahap akhir. Hal hal yang dilakukan dalam pengecekan ini yaitu
mengecek ada atau tidaknya misfire dan fumes pada kegiatan peledakan, dan serta
pengecekan terhadap fragmentasi hasil ledakan.
4.3.7 Geometri Peledakan
Agar operasi peledakan berhasil dengan baik maka perlu suatu perencanaan
dari geometri peledakan. Geometri peledakan meliputi burden, spacing, stemming,
kedalaman lubang ledak dan subdrilling serta tinggi jenjang
Tabel 4.1
Data Aktual Geometri Peledakan

No
1
2
3
4
5
6
7
8

Parameter
Burden (B)
Spacing (S)
Stemming (T)
Subdrilling (J)
Hole Depth (H)
Powder Column (PC)
Diameter Lubang (De)
Tinggi Jenkang (L)

Nilai
2,38 2,56 m
2,43 2,52 m
2-4m
0m
6-9m
4-6m
3
10,2 13,25 m

Sumber : Data Pengamatan di PT Total Optima Prakarsa, 2015

1.

Burden
Burden merupakan jarak antara lubang ledak dengan bidang bebas atau free

face terdekat kearah mana batuan akan terlempar, berdasarkan hasil pengamatan nilai
burden yang digunakan pada kegiatan peledakan di lapangan menurut desain yang
dikeluarkan oleh pihak perusahaan memiliki nilai sebesar 2,5 meter, namun ketika
dilakukan pengukuran jarak burden secara aktual yang kegiatan pengukurannya
diambil dari beberapa contoh titik pengukuran secara acak dilapangan didapat nilai
rata-rata burden sebesar 2.38 - 2,56 meter (lampiran G).
2.

Spacing
Spacing merupakan jarak antara lubang ledak pada suatu baris lubang ledak,

jarak spacing yang tepat sangat penting dalam interaksi bahan peledak antara dua
buah lubang ledak yang berdekatan sehingga mampu membongkar batuan secara
maksimal, pada kegiatan peledakan di lapangan menurut desain yang dikeluarkan oleh

55

pihak perusahaan memiliki nilai sebesar 2,5 meter, namun ketika dilakukan
pengukuran jarak spasi secara aktual yang kegiatan pengukurannya diambil dari
beberapa contoh titik pengukuran secara acak dilapangan didapat nilai rata-rata
burden sebesar 2,43 - 2,52 meter (lampiran H).
3.

Kedalaman Lubang Ledak


Kedalaman lubang ledak yang dipakai PT Total Optima Prakarsa, sebesar 6 9

meter. Dimana lubang bor dibuat oleh mesin bor Junjin JD-800, dengan panjang rod
sebesar 3 meter per batang, menggunakan bit dengan diameter 3 inch merk Burner
and Lay TA 38 FA STD.
4.

Stemming Lubang Ledak


Stemming merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peledakan yang

dilakukan oleh PT Total Optima Prakarsa, yang dimana proses steaming tersebut
bertujuan untuk meredam suara yang ditimbulkan dari suara peledakan atau air blast,
material yang digunakan untuk stemming berasal dari hasil cutting pemboran dan debu
batu berukuran 0,5 cm. Pada kegiatan peledakan di lapangan menurut desain yang
dikeluarkan oleh pihak perusahaan memiliki stemming nilai sebesar 2 - 4 meter
5.

Subdrilling
Subdrilling merupakan kelebihan panjang lubang ledak dibawah lantai jenjang,

subdrilling perlu dibuat untuk menghindari adanya tonjolan pada lantai jenjang. Tujuan
dari subdrilling agar diperoleh jenjang yang rata setelah proses peledakan. Dari
pengamatan dilapangan besarnya subdrilling yang dipakai sebesar 0 meter.
6.

Tinggi jenjang
Tinggi jenjang merupakan ketinggian dari hasil peledakan, dari pengamatan di

lapangan menurut desain yang dikeluarkan oleh pihak perusahaan memiliki nilai
sebesar 10 - 13 meter, namun ketika dilakukan pengukuran jarak tinggi jenjang secara
aktual yang kegiatan pengukurannya diambil dari beberapa contoh titik pengukuran
secara acak dilapangan didapat nilai rata-rata burden sebesar 10,2 13,25 meter
(lampiran I).

56

4.4

Pembahasan

4.4.1 Perhitungan Geometri Peledakan Aktual


Tabel 4.2
Geometri Peledakan Aktual
PARAMETER
Diameter (De)
Burden (B)
Spacing (S)
Stemming (T)
Subdrilling (J)
Hole Depth (H)
Tinggi Jenjang (L)
Jumlah Lubang (n)
Loading Density (LD)
Powder Collumn (PC)
Berat Handak (W)
Berat Handak Total (W total)
Volume Solid (Vs)
Volume Solid Total (Vs total)
Target Produksi (TP)
Tonase (ton)
Tonase Total (ton total)
Powder Factor (PF)

Tanggal Kegiatan
13/8/2015
22/8/2015
27/8/2015
29/8/2015
09/05/2015
inch
3
3
3
3
3
m
2,38
2,45
2,53
2,56
2,55
m
2,45
2,48
2,43
2,52
2,45
m
2
4
3
3,5
3,5
m
0
0
0
0
0
m
6
9
9
9
9
m
10,2
13,15
13,25
13,24
12,98
89
69
46
73
62
kg/m
4,0005
4,0005
4,0005
4,0005
4,0005
m
4
5
6
5,5
5,5
kg
16,002
20,0025
24,003
22,003
22,003
kg
1424,178
1380,1725
1104,138
1606,219
1364,186
BCM
59,476
79,899
81,46
85,414
81,093
BCM
5293,364
5513,031
3747,16
6235,222
5027,766
BCM
5500
5600
3700
5900
5000
ton
161,775
217,325
221,571
232,326
220,573
ton
14397,95008 14995,44432 10192,275
16959,804
13675,523
kg/BCM 0,269049701 0,250347313 0,294659956 0,25760414 0,271330448
UNIT

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Perhitungan geometri kegiatan peledakan aktual didasarkan pada pengambilan


data geometri secara aktual yakni peledakan pertama yaitu pada tanggal 13 Agustus
2015 dengan menggunakan parameter pada tabel 4.1. Berikut merupakan data yang
diperlukan untuk perhitungan geometri peledakan secara aktual, diantaranya :
-

1.

SGe

= 0,875 gr/cc
3

=2m

SGr

= 2,72 gr/cc (2,72 ton/m )

-J

=0m

De

= 3

-H

=6m

= 2,38 m (lampiran G)

- Nlubang

= 89 Lubang

= 2,45 m (lampiran H)

-L

= 10,2 m (lampiran I)

Loading Density (LD)


= 0,508 x SGe x D2
= 0,508 x 0.875 gr/cc x 32 m
= 4,0005 kg/m

2.

-T

Powder Collumn (PC)


=HT
=6m2m
=4m

57

3.

Berat Handak (W)


= PC x LD
= 4 x 4,0005 kg/m
= 16,002 kg

4.

Berat Total Handak (W total)


= W x Nlubang
= 16,002 kg x 89
= 1424,178 kg

5.

Jumlah Handak yang Dikeluarkan Dari Gudang


= W total : Berat handak (/karung)
= 1424,178 kg : 25 kg
= 56,967 karung
= 57 karung

6.

Volume (Vs)
-

VS
=BxSxL
= 2,38 m x 2,45 m x 10,2 m
= 59,476 BCM

VS TOTAL
= VS x Nlubang
= 59,476 BCM x 89
= 5293,364 BCM

7.

Tonase (ton)
= SGr x Vs
= 2,72 ton/m3 x 59,476 m3
= 161,775 ton

8.

Mencari Tonase Total Keseluruhan (tontotal)


= SGr x Vs total
= 2,72 ton/m3 x 5293,364 m3
= 14397,950 ton

9.

Powder Factor (PF)


= W total : Vs total
= 1424,178 kg : 5293,364 BCM
= 0,26090497007 kg/BCM

58

4.4.2 Perhitungan Geometri Peledakan Teoritis


4.4.2.1 Perhitungan Geometri Peledakan Metode R.L Ash
Tabel 4.3
Geometri Peledakan Teoritis R.L Ash
PARAMETER

Tanggal Kegiatan
13/8/2015
22/8/2015
27/8/2015
29/8/2015
09/05/2015
inch
3
3
3
3
3
m
2,016
2,016
2,016
2,016
2,016
m
2,667
2,667
2,667
2,667
2,667
m
1,512
1,512
1,512
1,512
1,512
m
0,534
0,534
0,534
0,534
0,534
m
10,734
13,684
13,784
13,774
13,514
m
10,2
13,15
13,25
13,24
12,98
101
80
52
83
72
kg/m
4,0005
4,0005
4,0005
4,0005
4,0005
m
9,222
12,172
12,272
12,262
12,002
kg
36,893
48,694
49,094
49,054
48,014
kg
3726,193
3895,52
2552,888
4071,482
3457,008
BCM
54,842
70,703
71,241
71,187
69,789
BCM
5539,042
5656,24
3704,532
5908,521
5024,808
BCM
5500
5600
3700
5900
5000
ton
149,17
192,312
193,775
193,629
189,826
ton
15066,194
15384,973
10076,327
16071,177
13667,478
kg/BCM 0,672714343 0,688711936 0,689125644 0,689086491 0,687988078
UNIT

Diameter (De)
Burden (B)
Spacing (S)
Stemming (T)
Subdrilling (J)
Hole Depth (H)
Tinggi Jenjang (L)
Jumlah Lubang (n)
Loading Density (LD)
Powder Collumn (PC)
Berat Handak (W)
Berat Handak Total (W total)
Volume Solid (Vs)
Volume Solid Total (Vs total)
Target Produksi (TP)
Tonase (ton)
Tonase Total (ton total)
Powder Factor (PF)

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Perhitungan geometri kegiatan peledakan pertama pada tanggal 13 Agustus


2015, dipergunakan beberapa parameter dalam proses pengolahan geometri
peledakan secara teoritis R.L Ash, berikut merupakan data yang diperlukan untuk
perhitungan geometri peledakan secara aktual, diantaranya :
Parameter :
-

= 90o

- SGrSTD

= 2,8 gr/cc

KbSTD

= 30

- VoD

= 11.482 fps

KsSTD

= 1,5

- VoDSTD

= 12.000 fps

KtSTD

= 0,85

- De

= 3

KjSTD

= 0,3

-L

= 10,2 m (lampiran I)

SGe

= 0,875 gr/cc

-H

=6m

SGeSTD

= 1,2 gr/cc

- TP

= 3300 m3

SGr

= 2,72 gr/cc (2,72 ton/m3)

1.

Burden (B)
-

Kb
SGe x VOD2

= Kbstd x [ SGestd x VODstd2 ]1/3 x [

SGrstd 1/3
]
SGr

59

= 30 x [

0.875 x (11482)2
1.2 x (12000)2

= 30 x 0,874 x 1,009
= 26,456
-

Burden (B)
=

Kb x De x sin 90
12

26,456 x 3 x sin 90
12

= 6,614 feet = 2,016 m


2.

Spasi (S)
-

Ks
= Ksstd x AF1 x AF2
= 1.5 x 0,874 x 1,009
= 1,323

Spasi (S)
= Ksstd x B
= 1,323 x 2,016 m
= 2,667 m

3.

Stemming (T)
-

KT
= KTstd x 1 x 2
= 0,85 x 0,874 x 1,009
= 0,750

Stemming (T)
= KT x B
= 0,750 x 2,016 m
= 1,512 m

4.

Subdrilling (J)
-

KJ
= KJstd x 1 x 2
= 0,3 x 0,874 x 1,009
= 0,265

Subdrilling (J)
= KJ x B

160

]1/3 x [ 155.76 ]1/3

60

= 0,265 x 2,016 m
= 0,534 m
5.

Kedalaman Lubang (H)


=L+J
= 10,2 m + 0,534 m
= 10,734 m

6.

Powder Column (PC)


=HT
= 10,734 m 1,512 m
= 9,222 m

7.

Volume (Vs)
=BxSxL
= 2,016 m x 2,667 m x 10,2 m
= 54,842 BCM

8.

Tonase (ton)
= SGr x Vs
= 2,72 ton/m3 x 54,842 m3
= 149,17 ton

9.

Loading Density (LD)


= 0,508 x de2 x SGe
= 0,508 x 32 x 0,875 gr/cc
= 4,0005 kg/m

10.

Berat Handak Setiap Lubang (W)


= PC x LD
= 9,222 m x 4,0005 kg/m
= 36,893 kg/lubang

11.

Jumlah Lubang (Nlubang)


= Target Produksi x SGr
tonase
= 5500 m3 x 2,72 ton/m3
149,17
= 100,288 lubang 101 lubang

12.

Mencari Volume Total Keseluruhan (Vs total)


= Vs x Nlubang

61

= 54,842 BCM x 101 lubang


= 5539,042 BCM
13.

Mencari Tonase Total Keseluruhan (tontotal)


= SGr x Vs total
= 2,72 ton/m3 x 5539,042 m3
= 15066,194 ton

14.

Mencari Berat Total Handak (W total)


= LD x PC x Nlubang
= 4,0005 kg/m x 9,222 m x 101
= 3726,193 kg

15.

Powder Factor (PF)


= W total / Vtotal
= 3726,193 kg / 5539,042 BCM
= 0,672714343 kg/BCM

4.4.2.2 Metode Perhitungan Teoritis Peledakan C.J Konya


Perhitungan

geometri

peledakan

menurut

Konya

tidak

hanya

mempertimbangkan faktor bahan peledak, sifat batuan dan diameter lubang ledak
tetapi juga memperhatikan faktor koreksi terhadap posisi lapisan batuan, keadaan
struktur geologi serta koreksi terhadap jumlah lubang ledak yang diledakkan.
Tabel 4.4
Geometri Peledakan teoritis C.J Konya
PARAMETER
Diameter (De)
Burden (B)
Spacing (S)
Stemming (T)
Subdrilling (J)
Hole Depth (H)
Tinggi Jenjang (L)
Jumlah Lubang (n)
Loading Density (LD)
Powder Collumn (PC)
Berat Handak (W)
Berat Handak Total (W total)
Volume Solid (Vs)
Volume Solid Total (Vs total)
Target Produksi (TP)
Tonase (ton)
Tonase Total (ton total)
Powder Factor (PF)

UNIT
inch
m
m
m
m
m
m
kg/m
m
kg
kg
BCM
BCM
BCM
ton
ton
kg/BCM

13/8/2015
3
1,974
3,948
1,382
0,592
10,792
10,2
70
4,0005
9,41
37,645
2635,15
79,492
5564,44
5500
216,218
15135,277
0,473569667

Tanggal Kegiatan
22/8/2015
27/8/2015
29/8/2015
3
3
3
1,974
1,974
1,974
3,948
3,948
3,948
1,382
1,382
1,382
0,592
0,592
0,592
13,742
13,842
13,832
13,15
13,25
13,24
55
36
58
4,0005
4,0005
4,0005
12,36
12,46
12,45
49,446
49,846
49,806
2719,53
1794,456
2888,748
102,483
103,262
103,184
5636,565
3717,432
5984,672
5600
3700
5900
278,754
280,873
280,66
15331,457
10111,415
16278,308
0,482480021 0,482713873 0,482691115

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

09/05/2015
3
1,974
3,948
1,382
0,592
13,572
12,98
50
4,0005
12,19
48,766
2438,3
101,158
5057,9
5000
275,15
13757,488
0,482077542

62

Perhitungan geometri kegiatan peledakan pertama pada tanggal 13 Agustus


2015, dipergunakan beberapa parameter dalam proses pengolahan geometri
peledakan secara teoritis C.J Konya, berikut merupakan data yang diperlukan untuk
perhitungan geometri peledakan secara aktual, diantaranya :
Parameter :
-

= 90o

- De

= 3

SGe

= 0,875 gr/cc

-L

= 10,2 m (lampiran I)

SGr

= 2,72 gr/cc (2,72 ton/m3)

-H

=6m

1.

TP

= 3300 m

Burden (B)
3

= 3,15 x de x
3

0,875 /3

= 3,15 x 3 x
2,72 /3
= 6,475 ft = 1,974 m
2.

Spasi (S)
-

SR
=L/B
= 10,2 m / 1,974 m
= 5,167 m (>4)

S
=2xB
= 2 x 1.974 m
= 3,948 m

3.

Stemming (T)
= 0.7 x B
= 0.7 x 1,974 m
= 1,382 m

4.

Subdrilling (J)
= 0.3 x B
= 0.3 x 1,974 m
= 0,592 m

5.

Kedalaman Lubang (H)


=L+J
= 10,2 m + 0,592 m

63

= 10,792 m
6.

Powder Column (PC)


=HT
= 10,792 m 1,382 m
= 9,41 m

7.

Volume (Vs)
=BxSxL
= 1.974 m x 3,948 m x 10,2 m
= 79,492 BCM

8.

Tonase (ton)
= SGr x Vs
= 2,72 ton/m3 x 79,492 m3
= 216,218 ton

9.

Loading Density (LD)


= 0,508 x SGe x de2
= 0,508 x 0,875 gr/cc x 32
= 4,0005 kg/m

10.

Berat Handak Setiap Lubang (W)


= PC x LD
= 9,41 m x 4,0005 kg/m
= 37,645 kg/lubang

11.

Jumlah Lubang (Nlubang)


= Target Produksi x SGr
tonase
= 5500 m3 x 2,72 ton/m3
216,218 ton
= 69,189 lubang 70 lubang

12.

Mencari Volume Total Keseluruhan (Vs total)


= Vs x N lubang
= 79,492 BCM x 70 lubang
= 5564,44 BCM

13.

Mencari Tonase Total Keseluruhan (tontotal)


= SGr x Vs total
= 2,72 ton/m3 x 5564,44 m3

64

= 15135,277 ton
14.

Mencari Berat Total Handak (W total)


= LD x PC x Nlubang
= 4,0005 kg/m x 9,41 m x 70
= 2635,15 kg

15.

Powder Factor (PF)


= W total / Vs total
= 2635,15 kg / 5564,44 BCM
= 0,47356967 kg/BCM

4.5

Fragmentasi Batuan Hasil Peledakan

4.5.1 Fragmentasi Aktual Batuan Hasil Peledakan


Pengukuran fragmentasi aktual di lapangan dilakukan dengan cara membuat
daerah pengamatan pada lokasi kegiatan peledakan, dimana dilakukan pembuatan
section pengamatan yang berukuran 5 x 5 m. Kemudian melakukan perhitungan
ukuran fragmentasi batuan setelah peledakan dilakukan.

Sumber : Dokumentasi di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Foto 4.7
Pengukuran Fragmentasi Aktual

Penggolongan ukuran distribusi fragmentasi dengan interval setiap 20 cm yang


dimulai dari ukuran 0 cm sampai 100 cm. Dari kegiatan pengukuran fragmentasi
kegiatan peledakan didapatkan data berupa distribusi ukuran fragmentasi hasil
peledakan. Pengukuran ukuran fragmentasi ini didasarkan pada ukuran bukaan
primary jaw crusher PT Total Optima Prakarsa yang memiliki lebar sebesar 80 cm.
Data distribusi ukuran fragmentasi hasil kegiatan berguna untuk mengetahui bersarnya

65

(%) pemberaian dari kegiatan peledakan yang masuk dalam kriteria ukuran mulut
primary jaw crusher.
Tabel 4.5
Distribusi Fragmentasi Hasil Peledakan Aktual
Kegiatan
13 Agustus 2015
22 Agustus 2015
27 Agustus 2015
29 Agustus 2015
5 September 2015

< 20
(cm)
38,768966
34,981429
37,83125
36,351364
36,598947

Distribusi Fragmentasi (%)


20,01 - 40 40,01 - 60 60,01 - 80 80,01 - 100
(cm)
(cm)
(cm)
(cm)
25,410345 22,594828 4,9634483 4,9662069
33,437619 19,951429 4,6757143 4,1504762
36,51
15,01
3,521875 3,773125
31,71
20,145909 4,8190909 3,5068182
29,814737 19,866316 5,3257895 3,9310526

> 100,01
(cm)
3,2962069
2,8033333
3,35375
3,4668182
4,4631579

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Tabel 4.6
Distribusi Fragmentasi Hasil Peledakan Berdasarkan Bukaan Primary Jaw Crusher

Kegiatan
13 Agustus 2015
22 Agustus 2015
27 Agustus 2015
29 Agustus 2015
5 September 2015

Distribusi Fragmentasi (%)


< 80
> 80,01
(cm)
(cm)
91,73758621 8,262413793
93,04619048 6,953809524
92,873125
7,126875
93,02636364 6,973636364
91,60578947 8,394210526

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

4.5.2 Perhitungan Prediksi Fragmentasi Dengan Model Kuz-Ram


Dalam perhitungan fragmentasi dengan menggunakan model Kuz-Ram maka
terlebih dahulu dilakukan perhitungan pembobotan masa batuan. Dimana parameter
diambil secara aktual di lapangan. Untuk mendapatkan nilai Blastability Index (BI),
parameter-parameter yang diperlukan adalah sebagai berikut :
1.

Rock Mass Description (RMD), dimana lokasi penambangan PT Total Optima


Prakarsa termasuk material blocky.

2.

Joint Plane Spacing (JPS), dimana kedalaman spasi kekar pada lereng
mempunyai jarak rekahan dibawah 0,1 meter sampai 1 meter.

3.

Joint Plane Orientation (JPO), pola kekar batuan diorit di lokasi penambangan
termasuk dalam strike normal to face penggolongan ini berdasarkan
pengambilan data kedudukan kekar pada lokasi penambangan.

4.

Specific gravity (SGI) batu diorit adalah 2,72 ton/m3.

5.

Kekerasan (H) batu diorit berdasarkan Skala Mohs adalah 7.

66

Tabel 4.7
Pembobotan Masa Batuan

No.
1
2
3
4
5

No.
1
2
3
4
5

No.
1
2
3
4
5

No.
1
2
3
4
5

No.
1
2
3
4
5

Untuk Kegiatan Peledakan 13 Agustus 2015


Parameter
Keterangan
Rock Mass Description (RMD)
Blocky
Joint Plane Spacing (JPS)
Close (< 0,1m)
Joint Plane Orientation (JPO)
Strike normal to face
Specific Gravity Influence(SGI)
= (25 x 2,72) -50
Hardness (H)
Total Nilai Pembobotan
Untuk Kegiatan Peledakan 22 Agustus 2015
Parameter
Keterangan
Rock Mass Description (RMD)
Blocky
Joint Plane Spacing (JPS)
Intermediate (0,1 - 1,0 m)
Joint Plane Orientation (JPO)
Strike normal to face
Specific Gravity Influence(SGI)
= (25 x 2,72) -50
Hardness (H)
Total Nilai Pembobotan
Untuk Kegiatan Peledakan 27 Agustus 2015
Parameter
Keterangan
Rock Mass Description (RMD)
Blocky
Joint Plane Spacing (JPS)
Intermediate (0,1 - 1,0 m)
Joint Plane Orientation (JPO)
Strike normal to face
Specific Gravity Influence(SGI)
= (25 x 2,72) -50
Hardness (H)
Total Nilai Pembobotan
Untuk Kegiatan Peledakan 29 Agustus 2015
Parameter
Keterangan
Rock Mass Description (RMD)
Blocky
Joint Plane Spacing (JPS)
Close (< 0,1m)
Joint Plane Orientation (JPO)
Strike normal to face
Specific Gravity Influence(SGI)
= (25 x 2,72) -50
Hardness (H)
Total Nilai Pembobotan
Untuk Kegiatan Peledakan 5 September 2015
Parameter
Keterangan
Rock Mass Description (RMD)
Blocky
Joint Plane Spacing (JPS)
Close (< 0,1m)
Joint Plane Orientation (JPO)
Strike normal to face
Specific Gravity Influence(SGI)
= (25 x 2,72) -50
Hardness (H)
Total Nilai Pembobotan

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Pembobotan
20
10
30
18
7
85
Pembobotan
20
20
30
18
7
95
Pembobotan
20
20
30
18
7
95
Pembobotan
20
10
30
18
7
85
Pembobotan
20
10
30
18
7
85

67

Blastability Index (BI) = 0,5 x (RMD + JPS + JPO + SGI + H)


= 0,5 x (20 + 10 + 30 + 18 + 7)
= 42,5
Faktor Batuan (A)

= 0,12 x Blastability Index


= 0,12 x 42,5
= 5,1

Tabel 4.8
Penilaian Blastability Index (BI) dan Faktor Batuan (A)

Kegiatan
13 Agustus 2015
22 Agustus 2015
27 Agustus 2015
29 Agustus 2015
5 September 2015

BI
42.5
47.5
47.5
42.5
42.5

A
5.1
5.7
5.7
5.1
5.1

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

Perhitungan prediksi fragmentasi yang dihasilkan dari suatu kegiatan peledakan


dapat menggunakan persamaan Kuz-Ram, dimana untuk kegiatan pengolahan data
menggunakan nilai faktor batuan (A) yang berdasarkan dari parameter pembobotan
masa batuan dan nilai blastability index (BI).
Tabel 4.9
Prediksi Fragmentasi Dengan Model Kuz-Ram Menggunakan Data Geometri Aktual,
Teoritis R.L Ash dan C.J Konya

Metode

Tanggal

AKTUAL

13/8/2015
22/8/2015
27/8/2015
29/8/2015
09/05/2015

Metode

Tanggal

C.J KONYA

13/8/2015
22/8/2015
27/8/2015
29/8/2015
09/05/2015

Xm
(cm)
25,284
31,069
28,113
27,606
26,483
Xm
(cm)
18,549
21,374
21,395
19,141
19,093

N
0,48
0,467
0,549
0,512
0,516
N
1,48
1,508
1,509
1,509
1,507

68

Metode

Tanggal

R.L ASH

13/8/2015
22/8/2015
27/8/2015
29/8/2015
09/05/2015

Xm
(cm)
13,961
16,037
16,051
14,361
14,328

N
1,143
1,17
1,17
1,17
1,168

Sumber : Hasil Pengolahan Data di PT Total Optima Prakarsa, 2015

4.5.3 Perhitungan Prediksi Fragmentasi Geometri Peledakan Aktual


1.

Ukuran Rata-Rata Fragmentasi (Xm)


Dengan data-data :
A

= Faktor batuan (5,1)

PF = 0,269049701 kg/BCM
Qe = 16,002 kg
E

= 100 (karena menggunakan ANFO)

Jadi,
Xm = A(PF)-0,8 x Qe1/6 x (115/E)19/30
= 5,1(0,269049701)-0,8 x 16,0021/6 x (115/100)19/30
= 25,284 cm
2.

Indeks Keseragaman (n)


Dengan data-data :
B

= Burden (2,38 m)

= Diameter lubang ledak (3 inchi = 76,2 mm)

W = Standar deviasi pemboran (1 m, Lubang bor miring).


A

= Ratio spacing terhadap burden S/B (2,45/2,38 = 1,029)

PC = Powder Collumn (4 m)
L

= Tinggi jenjang (10,2 m)

SF = Staggered Factor (1,18)


Jadi,
n

= (2,2

14

) (1 ) (1 +
)( )

= (2,2

14(2,38)
1
1,0291
4
) (1 2,38) (1 +
) (10,2) (1,18)
76,2
2

= 0,48

(SF)

69

4.5.4

Perhitungan Prediksi Fragmentasi Geometri Peledakan C.J Konya

1.

Ukuran Rata-Rata Fragmentasi (Xm)


Dengan data-data :
A

= Faktor batuan (5,1)

PF = 0,473569667 kg/BCM
Qe = 37,645 kg
E

= 100 (karena menggunakan ANFO)

Jadi,
Xm = A(PF)-0,8 x Qe1/6 x (115/E)19/30
= 5,1(0,473569667)-0,8 x 37,6451/6 x (115/100)19/30
= 18,549 cm
2.

Indeks Keseragaman (n)


Dengan data-data :
B

= Burden (1,974 m)

= Diameter lubang ledak (3 inchi = 76,2 mm)

W = Standar deviasi pemboran (1 m, Lubang bor miring).


A

= Ratio spacing terhadap burden S/B (3,948/1,974 = 2)

PC = Powder Collumn (9,41 m)


L

= Tinggi jenjang (10,2 m)

SF = Staggered Factor (1,18)


Jadi,
n

= (2,2

14

) (1 ) (1 + 2 ) ( )

= (2,2

14(1,974)
1
) (1 1,974) (1
76,2

(SF)

21
9,41
) (10,2) (1,18)
2

= 1,48
4.5.5

Perhitungan Prediksi Fragmentasi Geometri Peledakan R.L Ash

1.

Ukuran Rata-Rata Fragmentasi (Xm)


Dengan data-data :
A

= Faktor batuan (5,1)

PF = 0,672714343 kg/BCM
Qe = 36,893 kg
E

= 100 (karena menggunakan ANFO)

Jadi,
Xm = A(PF)-0,8 x Qe1/6 x (115/E)19/30

70

= 5,1 (0,672714343)-0,8 x 36,8931/6 x (115/100)19/30


= 13,961 cm
2.

Indeks Keseragaman (n)


Dengan data-data :
B

= Burden (2,016 m)

= Diameter lubang ledak (3 inchi = 76,2 mm)

W = Standar deviasi pemboran (1 m, Lubang bor miring).


A

= Ratio spacing terhadap burden S/B (2,667/2,016 = 1,323)

PC = Powder Collumn (9,222 m)


L

= Tinggi jenjang (10,2 m)

SF = Staggered Factor (1,18)


Jadi,
n

= (2,2

14

) (1 ) (1 +
)( )

= (2,2

14(2,016)
1
1,3231
9,222
) (1
) (1 +
)(
) (1,18)
76,2
2,016
2
10,2

= 1,143

(SF)