Anda di halaman 1dari 11

341027058.

xls

PEDOMAN PERENCANAAN PEMBEBANAN JEMBATAN JALAN RAYA


SKBI- 1.3.28.1987
UDC: 624.042: 624.21
BEBAN
Beban Primer :
:
:
:
:
Beban Skunder:
:
:
:
:
:
:
Beban Khusus :
:
:
:
:
Beban Mati
:
Beban Hidup :

Beban Utama yang selalu dihit beban utama selalu dihitung


Beban Mati
Beban Hidup
Beban Kejut
Gaya akibat Tekanan Tanah
Beban Sementara yang selalu dihitung dalam perencanaan jembatan
Beban Angin
Gaya akibat Perbedaan Suhu
Gaya akibat Susut dan Rangkak
Gaya akibat Traksi dan Rem
Gaya akibat Gempa Bumi
Gaya Gesekan pada Tumpuan
Beban Tertentu yang dihitung dalam perencanaan jembatan
Gaya Centrifugal
Gaya Tumbukan pada Jembatan Layang
Gaya selama Pelaksanaan Konstruksi
Gaya Aliran Air
Beban dari Berat Sendiri semua Elemen Jembatan
Beban dari Berat Kendaraan/ Lalu Lintas dan/ atau Pejalan Kaki yang Bekerja pada Jembatan

BEBAN MATI
Beton Bertulan
Beton Tumbuk
Baja Tuang
Pasangan Batu
Aspal
Air
Kayu

:
:
:
:
:
:
:

c
ct
s
b
as
w
yk

=
=
=
=
=
=
=

2.50
2.20
7.85
2.00
2.50
1.00
1.20

t/m3
t/m3
t/m3
t/m3
t/m3
t/m3
t/m3

BEBAN HIDUP
Beban " T "
Beban " D "

: Beban Terpusat untuk Lantai Jembatan


: Beban Jalur untuk Gelagar Jembatan

JUMLAH JALUR LALU LINTAS


Jumlah Jalur
Lalu Lintas
2
3
4
5

Lebar Jembatan
m'
5.50

8.25
8.25

11.25
11.25

15.00
15.00

18.75

Lebar Minimum Lebar Maksimum


m'
m'
2.75
3.25
2.75
3.25
2.75
3.25
2.75
3.25

BEBAN "T"
merupakan beban kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda (dual wheel load) sebesar 10 ton
digunakan untuk menghitung lantai jembatan

2.75

5 ton

5.0 m
20 ton

Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya

0.5
20 ton

1.75

10 ton

0.5
10 ton

Lebar 1 Jalur
Lalu Lintas

4.0 m

1 / 11

341027058.xls

b1

P/2

P/2

P/2

P/8
P/8

a1
a2
b1
b2
P

(cm)
(cm)
(cm)
(cm)
(ton)

30.00
30.00
12.50
50.00
20.00

Lebar 1 Jalur
Lalu Lintas

2.75 m

P/2

2.75 m

a2

Lebar 1 Jalur
Lalu Lintas

b2

a1

BIDANG KONTAK BEBAN RODA TRUK PADA PERMUKAAN LANTAI JEMBATAN

P/8 = 2.5 ton

a1
=
0.30

P/2 = 10.0 ton

b1 = 0.125

b2 = 0.50

45o

has

has
45o

hs

b1 + (2 has + hs)

a1 + (2 has + hs)

hs/2

45o

TAMPAK SAMPING

b2 + (2 has + hs)

TAMPAK DEPAN

PENYEBARAN BEBAN RODA TRUK PADA LANTAI JEMBATAN

BEBAN "D"
digunakan untuk menghitung gelagar jembatan
disebut juga beban lajur yang merupakan beban ekivalen dari beban "T"
terdiri dari beban merata q (t/m' per jalur lalu lintas) dan beban garis "p" (ton per jalur lalu lintas)

p/2
q/2

q
p/2
5.50 m

q/2
5.50 m

BEBAN MERATA "q" (t/m' per jalur)

BEBAN GARIS "p" (ton per jalur)

BEBAN MERATA "q" DAN BEBAN GARIS "p"


Untuk setiap jalur lalu lintas :

Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya

2 / 11

341027058.xls

Nilai Beban Merata "q"


q
= 2.2
q
q

=
=

t/m' per jalur

L 30 m

2.2 [ (1.1/60) (L 30) ] t/m' per jalur


1.1 [ 1 + (30 / L) ]
t/m' per jalur

_
_

30 m < L < 60 m
L 60 m

Nilai Beban Garis "p"


p
= 12.0 ton per jalur
Untuk setiap meter lebar jembatan
q
= q / 2.75
t/m'
p
= p / 2.75
ton

BEBAN KEJUT (K)


digunakan untuk memperhitungkan pengaruh-pengaruh getaran dan pengaruh-pengaruh dinamis lainnya
persamaan Koefisien Kejut :
K

1 + [ 20 / (50 + L) ]

beban garis "p" harus dikalikan dengan Koefisien Kejut yang akan memberikan hasil maksimum
beban terbagi rata q dan beban T tidak dikalikan dengan Koefisien Kejut

BEBAN HIDUP PADA TROTOAR DAN SANDARAN


Beban Hidup Trotoar
Beban hidup yang diperhitungkan dalam perencanaan trotoar (wtr)
500
Persentase pengaruh beban hidup pada trotoar yang diperhitungkan dalam perencanaan gelagar
jembatan
60
Trotoar juga harus diperhitungkan terhadap beban horizontal dalam arah melintang jembatan
500
Beban horizontal bekerja pada puncak trotoar, atau pada jarak 25 cm dari permukaan lantai
jembatan, jika tinggi trotoar lebih dari 25 cm
0.25
Beban Hidup Tiang Sandaran
Tiang sandaran harus diperhitungkan terhadap beban horizontal dalam arah melintang jemba
Lokasi titik tangkap beban horizontal pada tiang sandaran dari atas lantai trotoar

Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya

kg/m2
%
kg/m'
m

100 kg/m'
0.90 m

3 / 11

341027058.xls

ANALISIS GAYA GAYA DALAM JEMBATAN BAJA KOMPOSIT


(GELAGAR TENGAH PANJANG BENTANG JEMBATAN 21 m)
DATA DATA STRUKTUR JEMBATAN
Panjang Bentang Jembatan
Lebar Pelat Lantai Jembatan
Tebal Pelat Lantai Jembatan
Lebar 1bh balok kayu lantai jembatan
Jumlah 1 sisi balok lindasan

L
B
hp
Bk
Nl

=
=
=
=
=

Ng
S

=
=

h
b
tw
tf
As
ws

=
=
=
=
=
=

21.00
5.50
0.08
0.25
3

m
m
m
m
bh

DATA DATA GELAGAR BAJA

Lebar Lapisan Perkerasan


Tebal Lapisan Perkerasan
Lebar Trotoar
Tebal Trotoar
Berat Tiang + Sandaran

Bas
has
Btr
htr
wts

=
=
=
=
=

4.50
0.12
0.75
0.20
0.050

Nd
Ld

=
=

6
3.00

wd1
Ld1
Wd1

=
=
=

37.40
1.375
0.051

DATA DATA DIAFRAGMA

Jumlah Gelagar Baja


Jarak antar Gelagar Baja
Dimensi Penampang Gelagar Baja
Tinggi gelagar baja
Lebar pelat sayap
Tebal pelat badan
Tebal pelat sayap
Luas penampang baja
Berat Gelagar Baja

4 bh
1.38 m
500.0
250.0
15.0
22.0
17840
0.140

mm
mm
mm
mm
mm2
t/m'

Jumlah Diafragma
Jarak antar Diafragma
Dimensi Diafragma
Baja Kanal C 220

POTONGAN MELINTANG JEMBATAN (GELAGAR TENGAH)


1.38 m

###

Lantai balok kayu

Diafragma

Gelagar Baja

h =0.50 m

b = 250.0 mm

b = 250.0 mm

S = 1.38 m

Properties Penampang Gelagar Baja


(BAJA IWF 500 . 250 . 15 . 22)
Tinggi gelagar baja
h
Lebar pelat sayap
b
Tebal pelat badan
tw
Tebal pelat sayap
tf
Tinggi pelat badan
hw
Luas penampang baja
As
Momen inersia penampa
Ix
Iy
Modulus penampang
Sx
Sy
Jari-jari girasi penampan
rx
ry
Momen inersia puntir torsi
J = (1/3) [(2 b tf3) + (h tw3)]
Momen inersia puntir lengkung
Iw = (1/24) (tf b3 h2)

b = 250.0 mm

S = 1.38 m

PENAMPANG GELAGAR BAJA


=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

500.0
250.0
15.0
22.0
456.0
17840.0
747298186.7
57419916.7
2989192.7
459359.3
204.7
56.7

mm
mm
mm
mm
mm
mm2
mm4
mm4
mm3
mm3
mm
mm

2337166.7 mm4

3.581 E+12 mm6

tf = 22 mm

h = 500 mm

hw = 456 mm
tw = 15 mm

b = 250 mm

Analisis Beban

Page 4

341027058.xls

BEBAN PRIMER
A.

BEBAN MATI (DEAD LOAD)

A.

A.1

BEBAN MATI PRIMER (DL)

A.
A.

A.1
A.1

A.1.1
A.1.1

ANALISIS PEMBEBANAN
a. Beban Mati Primer Merata (wDL)
Berat sendiri lantai balok kayu
Berat sendiri balok lindasan
Berat sendiri gelagar baja
Berat alat sambung

=
=
=
=

(hp S) c
(hp Bk) Nl
ws
25 % ws

A.1

A.1.1

b.

A.

A.1

A.1.1

c.

A.
A.

A.1
A.1

A.1.2
A.1.2

ANALISIS GAYA - GAYA DALAM


a. Gaya - Gaya Dalam Maksimum akibat Beban Mati Primer (DL)
MOMEN LENTUR (MDL)
INTERVAL
0.0 m
x
2.0 m
9.947 t.m
2.0 m
x
4.0 m
17.815 t.m
4.0 m
x
6.0 m
23.601 t.m
6.0 m
x
8.0 m
27.256 t.m
8.0 m
x
10.0 m
28.829 t.m
10.0 m
x
12.0 m
28.322 t.m
12.0 m
x
14.0 m
25.682 t.m
14.0 m
x
16.0 m
20.962 t.m
16.0 m
x
18.0 m
14.161 t.m
18.0 m
x
20.0 m
5.228 t.m
20.0 m
x
21.0 m
0.000 t.m

A.

A.1

A.1.2

A.

A.2

BEBAN MATI SEKUNDER (SDL)

A.
A.

A.2
A.2

A.2.1
A.2.1

ANALISIS PEMBEBANAN
a. Beban Mati Sekunder (w'SDL)
Berat sendiri aspal
Berat sendiri trotoar
Berat sendiri tiang + sandaran
Berat genangan air hujan

=
=
=
=

=
=
=
=
w'SDL
=
Beban mati sekunder yang bekerja pada jembatan diasumsikan dipikul sama besar oleh setiap
Sehingga, beban mati sekunder yang dipikul oleh setiap gelagar (w SDL) :
wSDL
w'SDL / Ng
=
=
0.606 t/m'
Resume Beban Mati Sekunder (SDL)
wSDL
Beban Mati Sekunder Merata
:
=
0.606 t/m'

A.2.1

b.

A.
A.

A.2
A.2

A.2.2
A.2.2

ANALISIS GAYA - GAYA DALAM


a. Gaya - Gaya Dalam Maksimum akibat Beban Mati Sekunder (SDL)
MOMEN LENTUR (MSDL)
INTERVAL
0.0 m
x
2.0 m
0.000 t.m
2.0 m
x
4.0 m
0.000 t.m
4.0 m
x
6.0 m
0.000 t.m
6.0 m
x
8.0 m
0.000 t.m
8.0 m
x
10.0 m
0.000 t.m

A.2.2

b.

GAYA GESER (DDL)


-4.467 ton
-3.401 ton
-2.386 ton
-1.320 ton
-0.254 ton
0.761 ton
1.827 ton
2.893 ton
3.908 ton
4.974 ton
5.482 ton

(Bas has) as
2 (Btr htr) c
2 wts
(0.05 Bas) w

A.2

A.21

t/m'
t/m'
t/m'
t/m'
t/m'

Gaya - Gaya Dalam Maksimum akibat Beban Mati Primer (DL) pada Lokasi Sambungan
MOMEN LENTUR (MDL,S)
GAYA GESER (DDL,S)
LOKASI SAMBUNGAN
x =
5.25 m
14.745 t.m
-4.179 ton
x =
15.75 m
21.330 t.m
2.424 ton

A.

A.

0.275
0.024
0.140
0.035
0.474

wDL
Beban Mati Primer Terpusat (PDL)
Beban mati terpusat yang bekerja pada gelagar jembatan (gelagar tengah) merupakan beban akibat berat sendiri
diafragma (pengekang lateral)
Berat sendiri diafragma dihitung berdasarkan reaksi perletakan balok di atas dua tumpuan sederhana (sendi - rol).
PDL
=
Wd1
=
0.051 ton
Resume Beban Mati Primer (DL)
wDL
Beban Mati Primer Merata
:
=
0.474 t/m'
PDL
Beban Mati Primer Terpusat
:
=
0.051 ton

A.

b.

=
=
=
=
=

GAYA GESER
0.000
0.000
0.000
0.000
0.000

1.350 t/m'
0.750 t/m'
0.100 t/m'
0.225 t/m'
2.425 t/m'
gelagar jembatan.

(DSDL)
ton
ton
ton
ton
ton

Gaya - Gaya Dalam Maksimum akibat Beban Mati Sekunder (SDL) pada Lokasi Sambungan
MOMEN LENTUR (MSDL,S)
GAYA GESER (DSDL,S)
LOKASI SAMBUNGAN
x =
5.0 m
0.000 t.m
0.000 ton
x =
15.0 m
0.000 t.m
0.000 ton

Analisis Beban

Page 5

341027058.xls

B.

BEBAN HIDUP (LIVE LOAD)

B.

B.1

ANALISIS PEMBEBANAN

B.
B.

B.1
B.1

B.1.1
B.1.1

B.

B.1

B.1.1

B.

B.1

B.1.1

B.

B.2

B.1.2

BEBAN HIDUP KENDARAAN (Beban "D")


a. Koefisien Kejut (K)
Koefisien kejut pada jembatan :
K
=
1 + [ 20 / (50 + L) ]
=
1.282
b. Beban Merata (q')
Beban merata q (t/m') per jalur jembatan yang dipikul gelagar tengah
q
=
2.200 t/m' per jalur
Beban merata q' (t/m') per meter lebar jembatan yang dipikul gelagar tengah
q'
=
(q / 2.75) S
=
1.100 t/m'
c. Beban Garis (p')
Beban garis p (ton) per jalur jembatan yang dipikul gelagar tengah
p
=
12.00 ton per jalur
Beban garis p' (ton) per meter lebar jembatan yang dipikul gelagar tengah
p'
=
(p / 2.75) S K
=
7.690 ton
BEBAN HIDUP TROTOAR (q")
Beban hidup pada trotoar (wt)
wt
=
60 % wtr
=
0.300
t/m2
Beban hidup pada trotoar yang dipikul oleh gelagar tengah jembatan (wt)
qt
=
2 (Btr wt)
=
0.450
t/m'
Beban hidup pada trotoar yang dipikul oleh setiap gelagar tengah jembatan (q")
Beban hidup pada trotoar yang bekerja pada jembatan diasumsikan dipikul sama besar oleh setiap gelagar jembatan.
Sehingga, beban hidup pada trotoar yang dipikul oleh setiap gelagar tengah jembatan (q") :
q"
=
qt / Ng
=
0.113
t/m'

B.

B.1

B.1.3

RESUME BEBAN HIDUP (LL)


Beban Mati Primer Merata
Beban Mati Primer Terpusat

Beban roda 1
Beban roda 2
Beban roda 3
B.

B.2

:
:
:

P1
P2
P3

wLL

:
:

p'

=
=
=

=
=

1.213 t/m'
7.690 ton

5
20
20

ANALISIS GAYA - GAYA DALAM


Untuk menentukan nilai gaya-gaya dalam maksimum pada gelagar jembatan (gelagar tengah) akibat beban hidup, maka penempatan
beban-beban hidup yang bekerja pada jembatan dapat dikombinasikan, sehingga akan menghasilkan nilai yang yang maksimum.
Pada perencanaan gelagar jembatan (gelagar tengah) ini, beban hidup merata w DL (wDL = q' + q") diasumsikan bekerja penuh
di sepanjang bentang jembatan, sedangkan penempatan beban hidup garis p' dikombinasikan agar diperoleh nilai gaya-gaya dalam
yang maksimum.

B. B.2 a. Gaya - Gaya Dalam Maksimum akibat Beban Hidup (LL)


INTERVAL
0 x 0
0 x 0
0 x 0
0 x 0
0 x 0

MOMEN LENTUR (MLL)

0
0
0
0
0

t.m
t.m
t.m
t.m
t.m

GAYA GESER (DLL)

0
0
0
0
0

ton
ton
ton
ton
ton

B. B.2 b. Gaya - Gaya Dalam Maksimum akibat Beban Hidup pada Lokasi Sambungan (LL,s)
LOKASI SAMBUNGAN
5
15
LOKASI SAMBUNGAN
x =
5.0 m
x =
15.0 m

MOMEN LENTUR (MLL,S)


#REF!
t.m
#REF!
t.m
MOMEN LENTUR (MRm,S)
0.000 t.m
0.000 t.m

GAYA GESER (DLL,S)


#REF!
ton
0.0 m
ton
GAYA GESER (DRm,S)
0.000 ton
0.000 ton

GAYA NORMAL (N
0.000
0.000

C.

GAYA GESEK (Gg) PADA TUMPUAN JEMBATAN

C.

C.1

KOEFISIEN GESEK JEMBATAN


Koefisien Gesek untuk Tumpuan yang terbuat dari Karet Baja

=
0.15
~
0.18

C.

C.2

GAYA GESEK PADA TUMPUAN JEMBATAN


Gaya gesek yang bekerja pada tumpuan merupakan perkalian antara koefisien gesek () dengan gaya geser akibat beban mati
pada tumpuan gelagar baja
NGg
(Dtump,DL + Dtump,SDL)
=
=
-0.67
~
-0.80
ton

Analisis Beban

Page 6

341027058.xls

C.

C.3

GAYA GESEK MAKSIMUM PADA TUMPUAN JEMBATAN


Gaya gesek maksimum yang bekerja pada masing-masing tumpuan gelagar tengah jembatan (N Gg) adalah :geser akibat beban mati
NGg
=
-0.804 ton

GAYA - GAYA DALAM MAKSIMUM GELAGAR JEMBATAN (Gelagar Tengah)


A.

MOMEN LENTUR MAKSIMUM (Mmax)


Beban Mati
Primer
MDL

INTERVAL

###
###
###
###
###

B.

x
x
x
x
x

2.1 m
4.2 m
6.3 m
8.4 m
###

9.947
17.815
23.601
27.256
28.829

t.m
t.m
t.m
t.m
t.m

0.000
0.000
0.000
0.000
0.000

t.m
t.m
t.m
t.m
t.m

Beban
Hidup
MLL+K
1 Kendaraan
2 Kendaraan
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!

GAYA GESER MAKSIMUM (Dmax)

INTERVAL
###
###
###
###
###

C.

BEBAN PRIMER
Beban Mati
Sekunder
MSDL

x
x
x
x
x

2.1 m
4.2 m
6.3 m
8.4 m
###

Beban Mati
Primer
DDL
-4.467 ton
-3.401 ton
-2.386 ton
-1.320 ton
-0.254 ton

BEBAN PRIMER
Beban Mati
Sekunder
DSDL
0.000 ton
0.000 ton
0.000 ton
0.000 ton
0.000 ton

Beban Mati
Primer
NDL

BEBAN PRIMER
Beban Mati
Sekunder
NSDL

Beban
Hidup
MLL+K
1 Kendaraan
2 Kendaraan
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!
#REF!

GAYA NORMAL MAKSIMUM (Nmax)

INTERVAL
###
###
###
###
###

x
x
x
x
x

2.1 m
4.2 m
6.3 m
8.4 m
###

Beban
Hidup
NLL+K

GAYA - GAYA DALAM RENCANA GELAGAR TENGAH JEMBATAN BAJA KOMPOSIT PADA LOKASI SAMBUNGAN
Sambungan pada gelagar tengah jembatan komposit direncanakan pada jarak 5.0 m dari tumpuan jembatan

A.

MOMEN LENTUR MAKSIMUM PADA LOKASI SAMBUNGAN


LOKASI
SAMBUNGAN
x

B.

= 5.0 m
###

Beban Mati Primer


(MDL,S)
14.745
21.330

t.m
t.m

GAYA GESER MAKSIMUM PADA LOKASI SAMBUNGAN


LOKASI
SAMBUNGAN
x

= 5.0 m
###

Beban Mati Primer


(DDL,S)
-4.179
2.424

ton
ton

Analisis Beban

Page 7

341027058.xls

m
m
m
m
t/m'

bh
m
kg/m'
m
ton

Analisis Beban

Page 8

341027058.xls

Analisis Beban

Page 9

341027058.xls

p, maka penempatan

gaya-gaya dalam

GAYA NORMAL (NRm,S)


ton
ton

Analisis Beban

Page 10

341027058.xls

r akibat beban mati

Analisis Beban

Page 11