Anda di halaman 1dari 7

ABSTRAK

Permasalahan pada kegiatan pertambangan biasanya ada pada masalah


lingkungan, hal ini dapat dicegah dengan melakukan reklamasi dan kegiatan
pascatambang. Hanya saja adanya beberapa kendala dalam melakukan kegiatan
tersebut seperti kondisi tanah yang tidak memungkinkan hingga menurunnya
pendapatan daerah. Reklamasi dan pascatambang harus dilakukan untuk
mengembalikan lahan bekas tambang kembali ke fungsi asalnya dan apabila
memungkinkan menambah pendapatan daerah sekitar. Beberapa solusi bisa
dilakukan seperti penyimpanan top soil, penanaman kembali, pengembangan kota,
dan pengembangan industri lain. Hal ini memiliki pengaruh pada pemegang
IUP/IUPK (perusahaan) dan stakeholder.

PENDAHULUAN
Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian,
penambangan, pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian baik itu
mineral, batubara, minyak, atau gas bumi. Pertambangan adalah salah satu jenis
kegiatan yang melakukan ekstraksi mineral dan bahan tambang lainnya dari dalam
bumi.

Sedangkan

tambang

sendiri

adalah

tempat

terjadinya

kegiatan

penambangan.
Di Indonesia Pertambangan mineral dan batubara diatur oleh Undang
Undang Minerba No. 4 Tahun 2009. Disebutkan bahwa pengertian pertambangan
adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan
umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
Pada pasal di atas, disebutkan bahwa dalam kegiatan pertambangan
termasuk kegiatan reklamasi dan pasca tambang. Kegiatan reklamasi adalah
kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata,
memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat
berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Sedanngkan kegiatan pascatambang,
adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau
seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam
dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.
Reklamasi dan kegiatan pascatambang sangat penting untuk dilaksanakan
dalam kegiatan pertambangan maupun setelah kegiatan pertambangan, karena
reklamasi memperbaiki kualitas lahan bekas pertambangan agar tidak rusak dan
terbengkalai, sedangkan kegiatan pascatambang berperan penting dalam
kelangsungan kegiatan ekonomi dan keadaan sosial lingkungan sekitar lahan
pertambangan. Dipandang dari beberapa kasus banyaknya kota industri
pertambangan yang menjadi kota mati karena habisnya kegiatan pertambangan di
daerah tersebut

Pelaksanaan dari reklamasi dan kegiatan pascatambang ini, terkadang


menjadi masalah atau kendala, mulai dari pelanksanaan, perawatan hingga kriteria
kerberhasilan dari kegiatan reklamasi dan kegiatan pascatambang. Dengan
pentingnya kegiatan reklamasi dan pascatambang terhadap lingkungan, untuk
mengetahui strategi dan pelaksanaan dari reklamasi dan pascatambang diperlukan
adanya naskah kebijakan.

DESKRIPSI MASALAH
Beberapa masalah yang dapat timbul setelah kegiatan pertambangan
adalah munculnya daerah daerah tandus dan terbengkalai, yang ditinggalkan oleh
perusahaan

perusahaan

pertambangan.

Selain

itu

berakhirnya

industri

pertambangan juga dapat mengakibatkan menurunnya pendapatan daerah sekitar


lokasi pertambangan.
Permasalahan ini biasa terjadi pada perusahaan pertambangan kecil dan
lahan lahan bekas pertambangan. Pihak pihak yang terlibat dalam masalah ini
adalah pemegang IUP / IUPK dan stakeholdernya.
Mengapa permasalahan di atas dapat terjadi?
Masalah lahan yang rusak akibat tambang yang terbengkalai adalah tidak
dilakukannya reklamasi dan penanganan terhadap limbah pertambangan yang
dapat mencemari lingkungan. Seperti contoh kasus di Kalimantan Selatan pada
Tahun 2014. Ditemukannya lubang bekas kegiatan pertambangan dan kolam
penampungan limbah yang dibiarkan terbengkalai. Lubang lubang bekas tambang
tersebut terpapar air dan membentuk kolam air asam tambang. Setelah dilakukan
penelitian terhadap air tersebut, didapatkan derajat keasaman (pH) 2,32 dan kadar
mangan sepuluh kali lipat dari kadar batas yang dilegalkan. Selain itu adanya
kandungan logam berat seperti nikel, arsenik, dan merkuri yang menyebabkan air
menjadi beracun. Akibat dari adanya kolam tersebut terjadinya pencemaran pada
sumber air dan tanah di sekitarnya yang mengakibatkan lahan menjadi kering dan
pepohonan tak bisa tumbuh. Letak dari kolam tersebut yang dekat dengan
pemukiman juga mengancam kehidupan warga sekitarnya.

Berakhirnya kegiatan pertambangan juga berdampak pada kehidupan


ekonomi di sekitarnya. Hal ini dapat dibuktikan seperti contoh kasus Rhondda
Valley. Rhondda Valley merupakan kota yang terkenal sebagi pusat pertambangan
batubara di Wales, Inggris pada tahun 1820. Kegiatan pertambangan dihentikan
pada tahun 1990, menyebabkan kota Rhondda Valley menjadi kota tragedi.
Sekitar 117 perusahaan pertambangan menghentikan kegiatannya, menyebabkan
adanya ribuan pengangguran yang tidak tertampung. Hal itu membuat sebagian
dari penduduk meninggalkan kota dan mencari penghidupan di daerah lain. Kota
yang awalnya menjadi pusat perhatian kini menjadi sepi, hingga dilakukannya
pengembangan industri lain pada kota tersebut di awal abad ke-20.
Dua kasus diatas adalah contoh dari permasalahan yang dapat timbul,
apabila pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pascatambang tidak dilakukan dengan
sungguh sungguh.

REKOMENDASI KEBIJAKAN
Ada beberapa kebijakan yang dapat diambil untuk mengatasi masalah di
atas. Beberapa perusahaan bahkan telah melakukan kebijakan kebijakan tersebut.
Bahkan, pemerintah telah membuat peraturan mengenai reklamasi dan kegiatan
pascatambang yang diatur dalam Permen ESDM No.7 Tahun 2014.
Menurut Permen ESDM No.7 Tahun 2014, pada pasal 4 dikatakan
Pemegang IUP Eksplorasi diwajibkan menyusun rencana reklamasi tahap
eksplorasi sebelum melakukan kegiatan eksplorasi. Pada pasal 12 dikatakan
Pemegang IUP diwajibkan menyusun rencana reklamasi tahap operasi produksi.
Pada pasal 16 dikatakan Pemegang IUP wajib menyusun rencana Pascatambang
berdasarkan studi kelayakan dan dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui
oleh instansi yang berwenang. Selain itu, pada BAB V Permen ESDM No.7 Tahun
2014 dijelaskan mengenai Jaminan Reklamasi dan Jaminan PascaTambang yang
berisi pemegang IUP wajib menyediakan dana jaminan reklamasi tahap eksplorasi
dan operasi produksi, dan dana jaminan pascatambang.
Menurut kebijakan diatas, pemerintah sudah berusaha mencegah adanya
tambang tambang yang terbengkalai dengan adanya dana jaminan reklamasi dan

kegiatan pascatambang yang dapat diambil apabila perusahaan telah melakukan


dan melaporkan kegiatan tersebut.
Beberapa kebijakan juga telah dijalankan oleh beberapa perusahaan,
seperti melakukan reklamasi selama masa pertambangan dengan sistem back
filling, menyimpan top soil yang dikupas selama pengupasan over burden. Untuk
pencegahan terbentuknya air asam tambang, beberapa perusahaan melakukan
sistem enkapsulasi, yaitu membungkus potential acid forming (PAF) dengan
bahan kedap air sebelum ditimbun oleh non acid forming (NAF) agar material
PAF tidak bereaksi dengan air dan udara yang menimbulkan air asam tambang.
Apabila air asam tambang tekah terbentuk, perusahaan seharusnya melakukan
penanganan untuk pada air asam tersebut sebelum menyalurkannya ke sungai atau
lingkungan sekitar, penanganan ini dapat dilakukan dengan cara netralisasi air
asam tambang. Hal ini dilakukan agar tidak mencemari air yang menjadi sumber
kehidupan masyarakat. Untuk pengembalian kembali fungsi lingkungan pada
daerah yang kehilanngan unsir hara beberapa perusahaan menggunakan jute net
sebagai media penanaman bibit. Jute net berupa media tanam buatan yang terbuat
dari sabut kelapa dan unsur lainnya.
Untuk menanggulangi masalah sosial dan ekonomi daerah sekitar yang
timbul setelah penghentian aktivitas penambangan, dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Salah satunya adalah mendirikan industri lain disamping
penambangan selama masa penambangan. Contohnya seperti industri briket yang
menggunakan tenaga kerja sekitar, atau memberikan beberapa lahan sebagai lahan
pertanian yang diolah oleh warga sekitar lokasi pertambangan. Dengan cara itu,
apabila kegiatan penambangan telah selesai, masyarakat dan perusahaan masih
memiliki kegiatan ekonomi lain yang dapat menunjang biaya reklamasi dan
mencegah penurunan pendapatan daerah sekitar.
Selain cara diatas perusahaan juga dapat membangun museum
pertambangan pada lahan bekas pertambangan untuk membantu kegiatan
akademik di bidang pertambangan. Perusahaan juga dapat membangun taman atau
area rekreasi yang juga dapat menambah pendapatan daerah bekas tambang
tersebut.

Beberapa cara diatas tentunya harus dilakukan pengkajian terlebih dahulu


baik dalam bidang teknis, ekonomis, maupun lingkungan.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dalam naskah kebijakan ini adalah
kegiatan reklamasi dan kegiatan pascatambang sangat penting dalam tahapan
kegiatan pertambangan. Apabila diabaikan hal ini dapat merusak lingkungan dan
menimbulkan masalah sosial ekonomi pada lingkungan sekitar. Cara untuk
mengatasi masalah tersebut telah diatur oleh pemerintah dalam Permen ESDM
No.7 Tahun 2014 mengenai dana jaminan reklamasi dan kegiatan pascatambang.
Selain itu beberapa kebijakan telah direkomendasikan untuk mencegah terjadinya
masalah tersebut. Seperti melakukan sistem enkapsulasi pada material PAF,
melakukan netralisasi pada air asam tambang, melakukan penanaman dengan
media jute net pada lokasi yang tidak memiliki top soil, mendirikan usaha dan
industri selain pertambangan pada masa penambangan, hingga membangun
pengembangan daerah untuk mendukung kegiatan ekonomi dan akademik
masyarakat sekitar. Pengambilan keputusan dalam memilih kebijakan juga harus
disesuaikan dengan aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan.