Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Keputihan adalah cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan
(Manuaba, 2009). Keluarnya cairan dari vagina adalah normal pada usia reproduksi,
selama cairan tersebut jumlahnya tidak banyak, jernih, tidak bau, dan tidak menimbulkan
rasa gatal. Secara alami cairan yang keluar merupakan produksi dari kelenjar di mulut
rahim, bercampur dengan sel-sel vagina, bakteri dan sekresi kelenjar-kelenjar di jalan
lahir. Secara fisiologis keluarnya cairan dapat dijumpai pada saat ovulasi, saat menjelang
dan setelah haid, rangsangan seksual, dan dalam kehamilan.
Di Indonesia sendiri 75% wanita pernah mengalami keputihan minimal satu kali
dalam hidupnya dan setengah di antaranya mengalami keputihan sebanyak dua kali atau
lebih. Hal ini berkaitan dengan cuaca yang lembab yang mempermudah wanita Indonesia
mengalami keputihan, dimana cuaca yang lembab dapat mempermudah berkembangnya
infeksi jamur (Maghfiroh, 2008).
Menurut studi Badan Kesehatan Dunia (WHO) masalah kesehatan reproduksi
perempuan yang buruk telah mencapai 33% dari jumlah total beban penyakit yang
diderita para perempuan di dunia salah satunya adalah keputihan (Putranto, 2006).
Sekitar 75% wanita didunia pasti akan mengalami keputihan paling tidak sekali seumur
hidup dan sebanyak 45% wanita mengalami keputihan dua kali atau lebih, sedangkan
pada kaum wanita yang berada di Eropa angka keputihan sebesar 25%, dimana 40-50%
akan mengalami kekambuhan. (NCBI, 2013).
Menurut Depkes (2010) kejadian keputihan banyak disebabkan karena bakteri
kandidosis vulvovagenitis dikarenakan banyak perempuan yang tidak mengetahui
membersihkan daerah vaginnya, penyebab lainnya adalah vaginitis bacterial dan
trichomonas vaginalis. Khusus di Indonesia data yang ada dari wanita yang mengalami
keputihan sulit untuk di dapat, hal ini dapat di maklumi karena sedikit sekali wanita yang
memeriksakan masalah alat reproduksinya.
Penyebab terbanyak keputihan di RSUP Dr. Kariadi Semarang adalah
mikroorganisme non patologis (36,6%), mikroorganisme patologis tunggal yaitu
1

Candida sp (31,6%), Gardnerella sp (17,6%), Trichomonas sp (5,7%), dan Gonococcus


sp (0,9%). Usia terbanyak yang menderita keputihan patologis dengan penyebab
mikroorganisme patologis tunggal adalah usia reproduksi sehat (59,8%) dan paritas
terbanyak adalah paritas nol (62,0%), dengan status menikah (44,5%), tingkat pendidikan
tinggi (62,0%), dan diagnosis klinis terbanyak adalah vaginitis (54,9%) (Ramayanti,
2004).
1.2 TUJUAN
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan
keputihan dengan pendekatan kedokteran keluarga.
1.3 MANFAAT
Penyusunan laporan kasus ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi
dokter muda agar dapat melaksanakan praktIk kedokteran keluarga secara langsung pada
pasien dengan keluhan keputihan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KEPUTIHAN
1 Definisi
Keputihan di kalangan medis dikenal dengan istilah leukore atau fluor albus,
yaitu keluarnya cairan dari vagina (Ababa, 2003). Leukore adalah semua
pengeluaran cairan dari alat genetalia yang bukan darah, namun merupakan
manifestasi klinik berbagai infeksi, keganasan atau tumor jinak organ reproduksi.
Pengertian lebih khusus keputihan merupakan infeksi jamur Candida sp pada
genetalia wanita dan disebabkan oleh organisme seperti ragi yaitu Candida
albicans (Manuaba, 2001).
Keputihan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu keputihan normal
(fisiologis) dan keputihan abnormal (patologis). Keputihan normal dapat terjadi
pada masa menjelang dan sesudah menstruasi, pada sekitar fase sekresi antara hari
ke 10-16 saat menstruasi, juga terjadi melalui rangsangan seksual. Keputihan
abnormal dapat terjadi pada semua alat genitalia (infeksi bibir kemaluan, liang
senggama, mulut rahim, rahim dan jaringan penyangga, dan pada infeksi penyakit
hubungan seksual) (Manuaba, 2001).
Keputihan bukan merupakan penyakit, melainkan suatu gejala. Gejala
keputihan tersebut dapat disebabkan oleh faktor fisiologis maupun faktor
patologis. Gejala keputihan karena faktor fisiologis antara lain : a).Cairan dari
vagina berwarna kuning; b). Tidak berwarna, tidak berbau, tidak gatal; c). Jumlah
cairan bisa sedikit, bisa cukup banyak Gejala keputihan karena faktor patologis
antara lain : a). Cairan dari vagina keruh dan kental; b). Warna kekuningan,
keabu-abuan, atau kehijauan; c).Berbau busuk, amis, dan terasa gatal; d). Jumlah
cairan banyak (Katharini, 2009).

b Epidemiologi
Sekret vagina sering muncul sebagai suatu gejala penyakit genital.
Proporsi perempuan yang mengalami flour albus bervariasi antara 1-15% dan
hampir seluruhnya memiliki aktivitas seksual yang aktif, tetapi jika
merupakan gejala penyakit dapat terjadi pada semua umur. Keputihan
merupakan indikasi suatu vaginitis yang biasanya disebabkan infeksi akibat
trikomoniasis, vaginitis bakterial, maupun kandidiasis. Penyebab non infeksi
dari vaginitis meliputi atrofi vagina, alergi, atau iritasi bahan kimia.
Prevalensi dan penyebab vaginitis masih belum pasti karena sering
didiagnosis dan diobati sendiri.
c

Patofisiologi
Organ yang paling sensitif dan rawan pada tubuh wanita adalah organ
reproduksi. Keputihan (fluor albus) merupakan salah satu tanda dan gejala
penyakit organ reproduksi wanita, yakni pada daerah alat genitalia eksternal
tempat muara saluran kencing dan anus. Apabila daerah tersebut tidak
dibersihkan secara sempurna, akan ditemukan berbagai bakteri, jamur dan
parasit, yang bisa menjalar ke organ genitalia lainnya. Hal ini dapat
menyebabkan infeksi dengan gejala keputihan. Selain itu dalam hal
melakukan hubungan seksual terkadang terjadi luka lecet yang bisa menjadi
pintu masuk

(port de entry) mikroorganisme penyebab infeksi penyakit

hubungan seksual (Kasdu, 2008).


d Etiologi dan Gejala
Penyebab keputihan tergantung dari jenisnya yaitu penyebab dari
keputihan yang fisiologik dan patologik.
a

Keputihan fisiologik
Penyebab keputihan fisiologik adalah faktor hormonal, seperti keputihan
yang terjadi pada bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari yang
disebabkan pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina
janin. Selain itu, keputihan fisiologik dapat dijumpai pada waktu
menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen. Rangsangan birahi

disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina, kelelahan


fisik, dan kejiwaan juga merupakan penyebab keputihan (Sarwono, 1999).
b Keputihan Patologik
Keputihan patologik disebabkan oleh karena kelainan pada organ
reproduksi wanita yakni berupa infeksi, adanya benda asing, dan penyakit
lain pada organ reproduksi. Keputihan bukan merupakan penyakit tetapi
hanya suatu gejala penyakit, sehingga penyebab yang pasti perlu
ditetapkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai pemeriksaan cairan
yang keluar dari alat genitalia tersebut. Pemeriksaan terhadap keputihan
meliputi pewarnaan gram (untuk infeksi jamur), preparat basah (infeksi
trikomonas), preparat KOH (infeksi jamur), kultur atau pembiakan
(menentukan jenis bakteri penyebab), dan pap smear (untuk menentukan
adanya sel ganas) (Manuaba, 2001).
Menurut Ababa (2003), penyebab paling sering dari keputihan tidak
normal adalah infeksi. Organ genitalia pada perempuan yang dapat terkena
infeksi adalah vulva, vagina, leher rahim, dan rongga rahim. Infeksi ini
dapat disebabkan oleh agen berikut.
1

Bakteri (kuman)
a

Gonococcus sp
Bakteri ini menyebabkan penyakit akibat hubungan seksual, yang
paling sering ditemukan yaitu gonore. Pada laki-laki penyakit ini
menyebabkan

kencing

nanah,

sedangkan

pada

perempuan

menyebabkan keputihan.
b

Chlamydia trachomatis
Keputihan yang ditimbulkan oleh bakteri ini tidak begitu banyak
dan lebih encer bila dibandingkan dengan penyakit gonore.

Gardnerella vaginalis
Keputihan yang timbul oleh bakteri ini berwarna putih keruh
keabu-abuan, lengket, dan berbau amis seperti ikan, disertai rasa
gatal dan panas pada vagina.

Jamur Candida sp
Candida merupakan flora normal pada rongga mulut, usus
besar, dan vagina. Bila jamur candida di vagina terdapat dalam jumlah
besar dapat menyebabkan keputihan yang dinamakan kandidosi
svaginalis.9 Gejala yang timbul sangat bervariasi, tergantung dari berat
ringannya infeksi. Cairan yang keluar biasanya kental, berwarna putih
susu, dan bergumpal seperti kepala susu atau susu pecah, disertai rasa
gatal yang hebat, tidak berbau namun berbau asam. Daerah vulva
(bibir genitalia) dan vagina meradang disertai maserasi, fisura, dan
kadang-kadang disertai papulopustular.
Keputihan akibat Candida terjadi sewaktu hamil maka bayi
yang dilahirkan melalui saluran vagina pun akan tertular. Penularan
terjadi karena jamur tersebut akan tertelan dan masuk ke dalam usus.
Dalam rongga mulut, jamur tersebut dapat menyebabkan sariawan
yang serius jika tidak diberi pengobatan. Pada suatu saat jamur yang
tertelan tadi akan menyebar ke organ lain, termasuk ke alat kelamin
dan menimbulkan keputihan pada bayi perempuan.

Parasit
Parasit

yang menimbulkan gejala keputihan dinamakan

trikomoniasis. Infeksi akut akibat parasit ini menyebabkan keputihan


yang ditandai oleh banyaknya keluar cairan yang encer, berwarna
kuning kehijauan, berbuih menyerupai air sabun, dan baunya tidak
enak. Meskipun dibilas dengan air, cairan ini tetap keluar. Keputihan
akibat parasit ini tidak begitu gatal, namun vagina tampak merah,
nyeri bila ditekan, dan pedih bila kencing. Kadangkadang terlihat
bintikbintik perdarahan seperti buah strawberry. Bila keputihan
sangat banyak, dapat timbul iritasi di lipat paha dan sekitar bibir
genitalia. Pada infeksi yang telah menjadi kronis, cairan yang keluar
biasanya telah berkurang dan warnanya menjadi abuabu atau hijau
muda sampai kuning. Parasit lain yang juga menyebabkan keputihan
adalah cacing kremi. Cacing ini biasanya menyerang anak perempuan

umur 28 tahun. Infeksi kremi terjadi akibat sering bermain di tanah,


atau penjalaran cacing dari lubang dubur ke alat genital. Keputihan
akibat cacing kremi dasertai rasa gatal, sehingga anak sering
menggaruk genitalianya sampai menimbulkan luka.10
4

Virus
Keputihan akibat infeksi virus sering disebabkan oleh Virus
Herpes Simpleks (VHS) tipe 2 dan Human Papilloma Virus (HPV).
Infeksi HPV telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker
serviks, penis, dan vulva. Sedangkan virus herpes simpleks tipe 2
dapat menjadi faktor pendamping.
Menurut Dalimartha (2004), gejala kanker serviks pada kondisi
pra-kanker ditandai dengan fluor albus (keputihan) yang lama
kelamaan akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
Keluhan yang timbul pada infeksi VHS tipe 2 berupa rasa
terbakar, nyeri, atau rasa kesemutan pada tempat masuknya virus
tersebut. Pada pemeriksaan tampak gelembunggelembung kecil
berisi vesikel (cairan), berkelompok, dengan dasar kemerahan yang
cepat pecah dan membentuk tukak yang basah. Kelenjar limfe
setempat teraba membesar dan nyeri. Pada perempuan, penyakit ini
dapat disertai keluhan nyeri sewaktu kencing, keputihan, dan radang
di mulut rahim. Pencetus berulangnya penyakit ini adalah stres,
aktivitas seks, sengatan matahari, beberapa jenis makanan, dan
kelelahan.
Terdapat empat penyebab utama yang dapat menyebabkan perubahan

flora normal dan memicu keputihan (Ichwan, 2009):


1

Faktor Fisiologis
Keputihan yang bersifat normal (fisiologis) pada perempuan
normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina. Sekret
patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior vagina.
Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa

mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang.


Sedangkan pada keputihan yang patologik terdapat banyak leukosit.
Keputihan yang fisiologis dapat ditemukan pada:
a

Waktu sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen;


keputihan ini dapat menghilang sendiri akan tetapi dapat
menimbulkan kecemasan pada orang tua.

Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu


koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudat dari dinding vagina.

Waktu sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelanjar serviks


uteri menjadi lebih encer.

Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga


bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan
neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri
(Wiknjosastro, 2005).

Faktor konstitusi
Faktor konstitusi misalnya karena kelelahan, stres emosional,
karena ada masalah dalam keluarga atau pekerjaan, bisa juga karena
penyakit yang melelahkan seperti gizi rendah ataupun diabetes.
Diabetes

adalah

suatu

penyakit

dimana

tubuh

tidak

dapat

menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah) atau insulin yang


dihasilkan tidak mencukupi atau insulin tidak bekerja dengan baik.
Penderita diabetes mempunyai kerentanan terhadap infeksi baik
bakteri, jamur, maupun virus. Infeksi jamur merupakan salah satu
komplikasi diabetes yang sering ditemukan. Kadar gula darah yang
tinggi merupakan kondisi yang menguntungkan bagi jamur untuk
berkembang biak dan menimbulkan infeksi. Selain itu, pada penderita
diabetes terjadi kerusakan pada pembuluh darah dan berkurangnya
kemampuan leukosit untuk menangani infeksi, menyebabkan infeksi
sulit disembuhkan dan malah bertambah parah. Oleh karena itu, perlu
dilakukan kontrol tehadap gula darah bersamaan dengan pengobatan
terhadap infeksi jamur. Infeksi jamur yang sering menyerang

penderita diabetes yaitu kandidiasis, merupakan infeksi jamur yang


disebabkan oleh jamur Candida albicans. Jamur ini pada keadaan
normal terdapat pada tubuh manusia, namun pada keadaan tertentu,
misalnya pada penderita diabetes pertumbuhannya menjadi berlebihan
sehingga menyebabkan infeksi. Infeksi biasanya menyerang kulit di
daerah lipatan seperti ketiak, bawah payudara, lipat paha, atau sering
juga pada wanita menyebabkan gatal pada daerah kemaluan dan
keputihan.
Keputihan bisa juga disebabkan oleh status imunologi yang
menurun maupun obat-obatan. Diet yang tidak seimbang juga dapat
menyebabkan keputihan terutama diet dengan jumlah gula yang
berlebihan, karena merupakan faktor yang memperburuk terjadinya
keputihan (Ichwan 2009). Makanan yang banyak mengandung
karbohidrat dengan kadar gula tinggi seperti tepung, sereal, dan roti,
dapat memperburuk kejadian keputihan karena menimbulkan efek
negatif pada flora normal di vagina. Selaput lendir dinding vagina
mengeluarkan glikogen, suatu senyawa gula. Bakteri yang hidup di
vagina disebut lactobacillus (bakteri baik) meragikan gula ini menjadi
asam laktat. Proses ini menghambat pertumbuhan jamur dan menahan
perkembangan infeksi vagina. Gula yang dikonsumsi berlebihan dapat
menyebabkan bakteri lactobacillus tidak dapat meragikan semua gula
ke dalam asam laktat dan tidak dapat menahan pertumbuhan penyakit,
maka jumlah patogen menjadi meningkat dan jamur atau bakteri
perusak akan bertambah banyak (Clayton, 2005).
3

Faktor iritasi
Faktor iritasi sebagai penyebab keputihan meliputi penggunaan
sabun untuk mencuci organ intim, iritasi terhadap pelicin, pembilas
atau pengharum vagina, ataupun bisa teriritasi oleh celana (Ichwan,
2009).

Menurut Clayton (2005), penyebab dari keputihan antara lain:


a

Penggunaan celana dalam yang tidak menyerap keringat


Jamur tumbuh subur pada keadaan yang hangat dan lembab.
Celana dalam yang terbuat dari nilon tidak dapat menyerap keringat
sehingga menyebabkan kelembaban. Campuran keringat dan sekresi
alamiah vagina sendiri mulai bertimbun, sehingga membuat selangkangan
terasa panas dan lembab. Keadaan ini menjadi tempat yang cocok untuk

pertumbuhan jamur candida dan bakteri lain yang merugikan


Penggunaan celana panjang yang ketat.
Celana panjang yang ketat juga dapat menyebabkan keputihan
yang merupakan penghalang terhadap udara yang berada di sekitar daerah
genitalia dan merupakan perangkap keringat pada daerah selangkangan.
Bila pemakaian jeans digabungkan dengan celana nilon di bawahnya,

efeknya sangat membahayakan.


Penggunaan deodorant vagina
Deodorant vagina sebenarnya tidak diperlukan karena dapat
mengiritasi membran mukosa dan mungkin menimbulkan keputihan.
Deodorant membuat vagina menjadi lebih kering dan gatal serta dapat
menyebabkan reaksi alergi. Mandi dengan sabun dan antiseptik sebaiknya
dihindari karena dapat mematikan bakteri alamiah dalam vagina dengan

cara mirip antibiotika.


Patologis
Menurut Manuaba (1998), cairan yang muncul pada keputihan
patologis mengandung banyak leukosit. Faktor-faktoryang menyebabkan
terjadinya keputihan antara lain benda asing dalam vagina, infeksi vaginal
yang disebabkan oleh kuman, jamur, virus, dan parasit serta tumor maupun
kanker dan keganasan alat kelamin.

Diagnosis Keputihan
a Keputihan (fluor albus) fisiologis
Keputihan (fluor albus) fisiologis biasanya lendirnya encer, muncul
saat ovulasi, menjelang haid dan saat mendapat rangsangan seksual.

10

Keputihan normal tidak menimbulkan rasa gatal, tidak berbau, dan tidak
menular karena tidak ada bibit penyakitnya.
b

Keputihan (fluor albus) patologis


Keputihan (fluor albus) patologis dapat didiagnosis melalui
anamnesis oleh dokter yang telah berpengalaman hanya dengan
menanyakan apa keluhan pasien dengan ciri-ciri; jumlah banyak,
warnanya seperti susu basi, cairannya mengandung leukosit yang berwarna
kekuning-kuningan sampai hijau, disertai rasa gatal, pedih, terkadang
berbau amis dan berbau busuk. Pemeriksaan khusus dengan memerikskan
lendir di laboratorium, dapat diketahui apa penyebabnya, apakah karena
jamur, bakteri atau parasit, namun ini kurang praktis karena harus butuh
waktu beberapa hari untuk menunggu hasil (Jones, 2005).

Pencegahan Keputihan
Menurut Army (2007), beberapa hal yang dapat dilakukan dalam
mencegah keputihan patologis antara lain :
a

Menjaga kebersihan, diantaranya:


1

Mencuci bagian vulva (bagian luar vagina) setiap hari dan menjaga
agar tetap kering untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur;

Saat menstruasi biasakan mengganti pembalut apabila sudah terasa


basah dan lembab;

Menggunakan sabun non parfum saat mandi untuk mencegah


timbulnya iritasi pada vagina;

Menghindari

penggunaan

cairan

pembersih

kewanitaan

yang

mengandung deodoran dan bahan kimia terlalu berlebihan, karena hal


ini dapat mengganggu pH cairan kewanitaan dan dapat merangsang
munculnya jamur atau bakteri;
5

Setelah buang air besar, bersihkan dengan air dan keringkan dari arah
depan ke belakang untuk mencegah penyebaran bakteri dari anus ke
vagina;

Menjaga kuku tetap bersih dan pendek. Kuku dapat terinfeksi


Candida sp akibat garukan pada kulit yang terinfeksi. Candida sp

11

yang tertimbun dibawah kuku tersebut dapat menular ke vagina saat


mandi atau cebok.
b

Memperhatikan pakaian, diantaranya:


1

Apabila celana dalam yang dipakai sudah terasa lembab sebaiknya


segera diganti dengan yang kering dan bersih;

Menghindari pemakaian pakaian dalam atau celana panjang yang


terlalu

ketat

karena

dapat

meningkatkan

kelembaban

organ

kewanitaan;
3

Tidak duduk dengan pakaian basah (misalnya: selesai berolahraga dan


selesai berenang karena jamur lebih senang pada lingkungan yang
basah dan lembab;

Menggunakan pakaian dalam dari bahan katun karena katun menyerap


kelembaban dan menjaga agar sirkulasi udara tetap terjaga.

Mengatur gaya hidup, diantaranya:


1

Menghindari seks bebas atau bergantiganti pasangan tanpa


menggunakan alat pelindung seperti kondom;

Mengendalikan stres;

Rajin berolahraga agar stamina tubuh meningkat untuk melawan


serangan infeksi;

Mengonsumsi diet yang tinggi protein. Mengurangi makanan tinggi


gula dan karbohidrat karena dapat mengakibatkan pertumbuhan
bakteri yang merugikan;

Menjaga berat badan tetap ideal dan seimbang. Kegemukan dapat


membuat peningkatan lemak pada paha sehingga mengganggu
sirkulasi udara dan meningkatkan kelembaban sekitar vagina;

Apabila mengalami keputihan dan mendapatkan pengobatan antibiotik


oral (yang diminum) sebaiknya mengkonsumsi antibiotik tersebut
sampai habis sesuai dengan yang diresepkan agar bakteri tidak kebal
dan keputihan tidak datang lagi;

12

Apabila mengalami keputihan yang tidak normal segera datang ke


fasilitas pelayanan kesehatan agar segera mendapatkan penanganan
dan tidak memperparah keputihan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mencegah keputihan

antara lain
a

Menjaga kebersihan organ genitali, salah satunya dengan mengganti


pakaian dalam dua kali sehari.

Dalam keadaan haid atau memakai pembalut wanita, mengunakan celana


dalam harus yang pas sehingga pembalut tidak bergeser dari belakang ke
depan.

Cara cebok/membilas yang benar adalah dari depan ke belakang. Jika


terbalik, ada kemungkinan masuknya bakteri atau jasad renik dari dubur ke
alat genitalia dan saluran kencing.

Menghindari penggunaan celana dalam yang ketat atau dari bahan yang
tidak menyerap keringat seperti nilon, serta tidak memakai celana yang
berlapislapis atau celana yang terlalu tebal karena akan menyebabkan
kondisi lembab di sekitar genitalia. Keadaan yang lembab akan
menyuburkan pertumbuhan jamur. Usahakan memakai celana dalam dari
bahan katun atau kaos.

Usahakan tidak memakai celana dalam atau celana orang lain. Karena hal
ini

memungkinkan

terjadinya

penularan

infeksi

jamur

Candida,

Trichomonas, atau virus.


g

Dampak Keputihan terhadap Wanita


Keputihan (fluor albus) yang fisiologis tidak memberi dampak pada
wanita. Keputihan yang memberi dampak pada ibu yaitu keputihan yang
patologis. Keputihan menimbulkan rasa tidak nyaman karena menunjukkan
keluhan berbau busuk, gatal, vulva terasa seperti terbakar. Apabila keputihan
tidak diobati maka infeksi dapat menjalar ke rongga rahim kemudian sampai
ke indung telur dan akhirnya sampai ke rongga panggul. Banyak ditemukan
wanita yang menderita keputihan yang kronik menjadi mandul (Jones, 2005).
Komplikasi yang biasa terjadi pada wanita adalah terinfeksinya kelenjar yang

13

ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar tersebut harus disedot keluar karena
tidak dapat disembuhkan dengan obat. Komplikasi pada wanita sering
menimbulkan radang saluran telur. Infeksi nonspesifik pada wanita sering
tanpa keluhan maupun gejala, sehingga tidak mudah mendiagnosis keputihan.
Kadang seorang wanita merasa tidak punya penyakit kelamin, tetapi ketika
lendir keputihannya diperiksa maka ditemukan bibit penyakit. Biasanya
wanita hanya merasa tidak nyaman kalau buang air kecil, kemudian jumlah
lendirnya hanya sedikit. Terkadang mereka merasa tidak nyaman di panggul
dan mungkin akan merasa nyeri kalau melakukan hubungan seks. Oleh
karena itu, komplikasi sering terjadi apabila tidak dilakukan pemeriksaan
sedini munggkin (Rahma, 2006).

KEDOKTERAN KELUARGA
Kedokteran keluarga merupakan disiplin ilmu akademik profesional, yaitu

pengetahuan klinik yang diterapkan pada komunitas keluarga. Dalam memberikan


pelayanan, idealnya setiap dokter dan khususnya dokter keluarga, menerapkan
ilmu ini.6
Kedokteran keluarga mempunyai kekhususan yaitu:
1

Komprehensif dalam ilmu kedokteran, dalam arti tidak membatasi ilmu

2
3

kedokteran tertentu.
Komprehensif dalam pelayanan kesehatan.
Sasarannya adalah individu yang bermasalah atau yang sakit, tetapi di samping

menganalisis fungsi organ tubuh secara menyeluruh, juga fungsi keluarga.


Disusun secara komunal, sehingga setiap dokter dapat memanfaatkan sesuai

kebutuhan.
Bersifat universal terhadap manusia dan lingkungan.
Dalam melakukan pelayanan kedokteran keluarga harus memahami hakikat

biologik, psikologik, sosiologik, ekologik, dan medik.


1

Hakikat biologik
Kedokteran keluarga memperhatikan dinamika kehidupan keluarga
sebagai makhluk biologis yaitu masuk keluarnya seorang anggota keluarga
dalam organisasi keluarga. Untuk lebih rinci menilai masalah keluarga dApat

14

dinilai dari kualitas hidup keluarga serta fungsi keluarga yaitu peranan fungsi
biologis perihal yang berkenaan dengan organ sistem terpadu dari individu dan
anggota keluarga lainnya yang mempunyai risiko yaitu:
a Adanya faktor keturunan
b Kesehatan keluarga
c Reproduksi keluarga
yang semuanya mempunyai pengaruh terhadap kualitas hidup keluarga.
2

Hakikat psikologik
Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai aktivitas dan tingkah laku
yang menggunaan gambaran sikap manusia yang menentukan penampilan dan
pola perilaku dan kebiasaannya. Setiap pengguna jasa perlu keyakinan akan
keberhasilan pelayanan yang diperolehnya agar merasa puas akan pelayanan
yang diberikan. Setiap manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan
hidupnya dan menjaga hidupnya untuk lebih baik. Menusia mempunyai
kemampuan dan keterbatasan, karena itu sikap dan pola hidup dapat

ditingkatkan potensinya, perilakunya untuk kebudayaan sehat.


Hakikat sosiologik
Dalam kehidupannya manusia berhubungan dengan sesama baik dalam
lingkungan keluarga, pekerjaan, dan budaya geografis yang menimbulkan
berbagai proses dan gejolak. Kebijakan yang digunakan dokter keluarga adalah

yang berorientasikan penyakit/permasalahan yang berhubungan dengan:


a Proses dinamika dalam keluarga
b Potensi keluarga
c Kualitas hidup
d Pendidikan dan lingkungan
4 Hakikat ekologik
Ekologik dalam kedokteran keluarga membahas manusia seutuhnya
dalam interaksinya dengan sesama manusia dan spesies lainnya juga
hubungannya dengan lingkungan fisik dalam rumah tangganya. Kodrat anggota
keluarga sesuai dengan fungsinya serta keseimbangan antara anggota dan
5

lingkungannya akan menentukan keseimbangan kesehatannya.


Hakikat medik
Kedokteran keluarga dimanfaatkan pada pelayanan kesehatan garis
terdepan,

yaitu

lingkungannya.

kaitannya
Pergeseran

dengan
pola

kehidupan
perilaku

dan

sosok
pola

manusia
penyakit

dalam
akan

mempengaruhi pola pelayanan keluarga. Dalam hal ini dokter keluarga


15

bertanggung jawab atas kesehatan keluarga sekaligus mengembalikan fungsi


tubuh pengguna jasa untuk menjadi optimal agar dapat menjalani fungsi
sosialnya kembali, untuk dapat mencapai kesejahteraan keluarga.
Prinsip dalam kedokteran keluarga adalah pendekatan keluarga.
Pendekatan keluarga merupakan serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan
yang terencana, terarah, untuk menggali, meningkatkan, dan mengarahkan
peran serta keluarga agar dapat memanfaatkan potensi yang ada guna
menyembuhkan anggota keluarga dan menyelesaikan masalah kesehatan
keluarga yang mereka hadapi. Pelayanan kedokteran keluarga merupakan
pelayanan yang bersifat komprehensif, meliputi upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Upaya promotif dan preventif dapat dilakukan secara
simultan berupa penyuluhan maupun upaya pencegahan potensi gangguan yang
dapat dialami oleh anggota keluarga. Hal ini idealnya dilakukan oleh dokter
keluarga dalam pelayanan kedokteran keluarga.

BAB III
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN RUMAH
1

IDENTITAS PASIEN DAN KELUARGA


a

Identitas Pasien

Nama

: Ny. Makfiroh

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 25 tahun

Status Pernikahan

: Menikah

16

Alamat

: Dusun Selorejo RT 01/ RW 01, Desa


Ngargoretno,

Kecamatan Salaman, Kabupaten

Magelang
Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Penjaga Warung

Identitas Kepala Keluarga

Nama

: Tn. Ihsanudin

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 60 tahun

Status Pernikahan

: Menikah

Alamat

: Dusun Selorejo RT 01/ RW 01, Desa Ngargoretno,


Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Petani

PROFIL KELUARGA YANG TINGGAL SATU RUMAH


Berikut adalah anggota keluarga yang tinggal bersama pasien

Tabel 1. Daftar Anggota Keluarga yang tinggal satu rumah


No

Nama

Kedudukan

JK Umur Pendidikan Pekerjaan Keterangaqn

dalam

(th)

1. Tn. Ihsanudin

Keluarga
Kepala

60

SD

Petani

Sehat

2. Ny. Sujirah

keluarga
Ibu Rumah

50

SD

Petani

Sehat

Tangga
Anak

27

SMA

Service AC

Sehat

3. Tn. Nastagih

17

4. Ny. Moktifah

Menantu

5. Ny. Sutirah

Kakak Kepala

6. Fitri

Keluarga
Cucu Kepala

P
P
P

25
64
8

SMP

Penjaga

Pasien

SD

Warung
Tidak

Sehat

SD

Bekerja
Pelajar

Sehat

keluarga

18

Genogram Keluarga

Ny.S, 78, Usia Tua

Tn.P,80 , Usia tua

1950

Tn.M,62

Ny.S,64

Ny.P, 58

Tn.I,60

1980

Ny.S, 50

Ny.S, 58

Tn.K,60

Tn.K,64

1990

198

Ny.S,62

1989

P
Tn.M,31

Ny.I, 30

Ny.K, 30

Tn.K, 25

Tn.I,27

2003

Tn.S,27

Ny.M, 25

2005

2001

2007

Legenda :
P

Ny.S, 25

Keputihan

Informan

: ny. M

Alamat

: Dusun Selorejo RT 01/ RW 01,


Desa Ngargoretno, Kecamatan
Salaman, Kabupaten Magelang

Tanggal

: 23 November 2016

Gambar 1. Pohon keluar


An. F, 8

19

Family Map

Ayah
Mertu
a

Ibu
Mertua

Kakak
Mertua

Pasien

Suam
i

Anak

Gambar 2. Family Map


Keterangan
Hubungan baik
Hubungan konflik
3 RESUME PENYAKIT DAN PENATALAKSANAAN
A ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 23 November
2016 pukul 15.00 WIB hingga 17.00 WIB di rumah pasien Dusun Selorejo
RT 01/ RW 01, Desa Ngargoretno,

Kecamatan Salaman, Kabupaten

Magelang
a

Keluhan Utama
Keluar cairan dari daerah kemaluan

Riwayat Penyakit Saat Datang Ke Puskesmas (20 November 2016)

20

Satu minggu sebelum datang ke puskesmas, pasien


mengeluh keluar cairan lendir dari jalan lahir. Lendir berwarna keputihan,
kental, bergumpal seperti susu dan tidak berbau. Pasien mengeluh keluar
lendir tersebut sudah satu minggu dan terus menerus. Keluar cairan
dirasakan semakin bertambah banyak terutama jika kelelahan setelah
beraktivitas. Keluhan disertai rasa gatal di daerah kemaluan. Nyeri saat
BAK (-), keluar darah di luar siklus menstruasi (-), keluar darah setelah
hubungan suami istri (-), kemerahan pada kemaluan (-), mual (-), muntah
(-), sering haus (-), sering buang air kecil malam hari (-), sering lapar (-)
Pasien mengeluh keluar keputihan tersebut sudah sejak 1 bulan
yang lalu. Berwarna putih kental seperti susu, tidak berbau, dan sering
terasa gatal. Saat ini dirasakan semakin bertambah banyak terutama jika
kelelahan akibat bekerja sebagai buruh pabrik. Karena bekerja sebagai
buruh, pasien mengaku sering menahan kencing sewaktu bekerja. Pasien
juga mengaku terkadang jarang mengganti celana dalamnya apabila
seharian menjaga warung.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat darah tinggi, riwayat kencing manis, penyakit jantung,

asma, alergi disangkal.


d

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan serupa.

Riwayat tekanan darah tinggi, kencing manis, asma dan alergi dalam
keluarga disangkal.
e

Riwayat perkawinan
Menikah 1x, dengan usia perkawinan 9 tahun.

21

Riwayat haid
Pasien menarche saat umur 13 tahun. Siklus mens tidak sama,

siklus maju terus tiap bulannya. Lama mens rata-rata 5 hari. Dalam 2 hari
pertama ganti pembalut rata-rata 3x sehari namun dalam satu pembalut
tidak pernah sampai penuh. Hari berikutnya hanya keluar plek-plek
kecoklatan. Pasien tidak mengeluh dysmenorhea tiap bulannya.
g

Riwayat KB

Pasien tidak mempunyai riwayat menggunakan KB


h

Riwayat kehamilan dan persalinan

G1P1A0.
Tabel 2. Riwayat Persalinan
Hamil Abortus/N Kelamin Usia BB lahir Penolong
B

Ke

ormal/

SC
Normal Perempuan 8 th 3500gr

Tmpt

Keadaan

lahir

sekarang

P
E

Bidan

Rumah

Sehat

ERIKSAAN FISIK (23 November 2016)


Keadaan umum

: baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital

Tekanan darah : 120/80 mmHg

TB : 162 cm

Nadi

: 80 x/menit

BB : 53 kg

Suhu

: 36,70 C

Pernapasan

: 20x/menit

Status Generalis
Kepala

: Mesosefal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik

(-/-)

22

Telinga

: Benjolan (-), oedem (-), discharge (-), nyeri

tekan (-)
Hidung

: Sekret (-), deviasi septum (-)

Bibir

: Pucat (-), sianosis (-)

Tenggorok

: T1-T1, faring hiperemis (-), nyeri telan (-)

Leher

: Trakhea di tengah, pembesaran KGB (-/-)

Dada :
Mammae

: Simetris ,hiperpigmentasi pada areola, benjolan (-),


retraksi puting (-).

Paru

: In
Pa
Pe
Au

Jantung:

: Simetris, statis, dinamis, retraksi (-)


: Stem fremitus kanan = kiri
: Sonor seluruh lapangan paru
: Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-)

In

: iktus kordis tak tampak

Pa

: iktus kordis teraba di SIC V, 2 cm lateral LMCS

Pe

: konfigurasi jantung dalam batas normal

Au

: Suara Jantung I-II normal, bising (-), gallop (-)

Abdomen : In
Au
Pe

: datar, supel
: bising usus (+) normal
:area traube timpani, pekak sisi (+) normal, pekak

Pa

alih (-),
: nyeri tekan epigastrium (-), hepar dan lien tidak
teraba

Ekstremitas
Oedema
Sianosis

:
:
:

Superior
-/-/-

Inferior
-/-/-

Status Ginekologis

Inspekulo/VT

tidak dilakukan

Fluxus

(-)

Fluor

(+)

v/u/v

tidak ada kelainan

23

Portio

tidak dilakukan

C.UT

tidak dilakukan

AP/CD

tidak dilakukan

C DIAGNOSIS KERJA
Fluor albus et causa suspek candidiasis
D HASIL LABORATORIUM DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Belum dilakukan pemeriksaan penunjang

E PENATALAKSANAAN
a

Tatalaksana medikamentosa yang telah diberikan :

Ketoconazole 2x200 mg PO selama 5 hari


b

Tatalaksana nonmedikamentosa

Menjaga kondisi di daerah genital bersih dan tidak

Istarahat yang cukup

Makan-makanan bergizi

lembab

F HASIL PENATALAKSANAAN MEDIS


Pasien minum obatnya secara teratur, gatal daerah genital berkurang
Faktor pendukung :
Pasien selalu minum obat secara teratur.
Pasien menjaga kebersihan dan kelembapan daerah genital
Pasien makan-makanan bergizi
Faktor penghambat:

Pasien masih kurang menjaga kebersihan dan kelembaban organ


genitalnya

24

Indikator keberhasilan

Keputihan dan rasa gatal berkurang sampai

dengan menghilang
4

PERMASALAHAN PADA PASIEN

Tabel 2. Tabel Permasalahan pada Pasien dan Keluarganya


No.

Resiko & masalah

Rencana pembinaan

Sasaran

Keterangan

kesehatan
1

Keputihan

Memberi penjelasan bahwa Pasien

Diharapkan

higienitas alat genital

pasien

merupakan salah satu

menjaga

faktor

dari

higienitas

alat

sehingga

genitalnya

dan

penyebab

keputihan,

dapat

kebersihan alat genital

dapat

perlu

menambah

dijaga.

Seperti

sering mengganti celana

waktu

dalam minimal sehari 2

untuk

kali, sering mengganti

mengurangi

pembalut

faktor kelelahan

sehari

minimal
3x,

tidak

menahan kencing,

dan

tingkat

stres.

Memberi penjelasan bahwa


keputihan

juga

dapat

dipicu oleh kelelahan


dan stres, oleh sebab itu
sebaiknya pasien perlu
meluangkan

waktu

untuk beristirahat.
Memberi penjelasan bahwa
keputihan

istirahat

dapat
25

menyebabkan

gatal-

gatal di daerah daerah


alat kelamin.

IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA


a

Fungsi Biologis

Dari hasil wawancara tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit
seperti pasien. Tidak ada keluarga pasien dan pasien yang memiliki
penyakit kronik atau penyakit menular lainnya dalam 1 bulan terakhir.
Pasien tidak mempunyai riwayat menggunakan KB.
b Fungsi Psikologis
Pasien tinggal bersama suami, anak, kedua orang tua suami dan saudara
orang tua dari suami . Dimana hubungan pasien dengan keluarga baik.
Pasien bekerja sebagai penjaga warung.
c

Fungsi Ekonomi

Biaya kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh suami. Pendapatan


perbulan Rp 1.500.000. Uang tersebut dipakai untuk kebutuhan rumah
tangga seperti makan. Pasien memiliki tidak memiliki jaminan kesehatan.
d Fungsi Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah SMP
e

Fungsi Religius

Pasien dan keluarga memeluk agama Islam, menjalankan ibadah agama


secara rutin (sholat).
f

Fungsi Sosial dan Budaya

Pasien dan keluarga tinggal di Dusun Selorejo, Desa Ngargoretni di


lingkungan yang cukup bersih. Pasien dan keluarga dapat diterima dengan
baik di lingkungan rumahnya. Komunikasi dengan tetangga baik. Keluarga
pasien aktif dalam kegiatan di lingkungan masyarakat desa.
Family APGAR

26

Sebuah alat untuk mengukur disfungsi keluarga secara kualitatif. Menunjukkan


persepsi dan kepuasan pasien terhadap keadaan hubungan keluarga saat ini.
Penilaian skor :
0 = tidak pernah
1 = kadang kadang
2 = hampir selalu
Interpretasi :
0 3 = keluarga pasien disfungsi berat
4 7 = keluarga pasien disfungsi sedang
8 -10 = keluarga pasien fungsional
Tabel 3. Tabel Family APGAR
NO

PERTANYAAN

A : Saya puas dengan keluarga

Hampir selalu

Kadang-kadang

Hampir Tidak

(2)

(1)
V

Pernah (0)

saya karena masingmasing


anggota keluarga sudah
menjalankan kewajiban sesuai
2

dengan seharusnya
P : Saya puas dengan kuluarga

saya karena dapat membantu


memberikan solusi terhadap
permasalahan yang saya
3

hadapi
G: Saya puas dengan

kebebasan yang diberikan


keluarga saya untuk
mengembangkan kemampuan

27

yang saya miliki


A : Saya puas dengan

kehangatan kasih sayang yang


5

deibrikan keluarga saya


R: Saya puas dengan waktu

yang disediakan keluarga


untuk menjalin kerjasama

Total APGAR keluraga ny. M adalah 8. Sehingga keluarga ny. M termasuk fungsi
keluarga baik.
Family Screem
Survey family screem menggambarkan ketersediaan sumber, penilaian, kapasitas
keluarga dalam berpartisipasi pada ketentuan pelayanan kesehatan atau
mengalami masalah krisis.

Tabel 4. Survey Family Screem


Pertanyaan

Sanga

Setuj

Tidak

Sanga

Setuj

Setuju (2)

Tidak

(3)

(1)

Setuju
(0)

Sosial

Di dalam keluarga, kami

saling membantu satu sama


lain.

Teman-teman

dan

tetangga juga membantu


kami bila kami mendapat
kesulitan

28

Kebudayaa

Budaya saling membantu V

satu

sama

lingkungan

lain
kami

di

tinggal

sangat membantu keluarga


Keagamaan

kami
Kami percaya dan yakin V
dengan agama yang kami
anut.

Ekonomi

Penghasilan keluarga kami


cukup

untuk

kehidupan

sehari-hari
Pendidikan

Pendidikan/
kami

pengetahuan

cukup

memahami
Kesehatan

untuk
masalah

kesehatan
Sangat
mudah
menjangkau
pelayanan

untuk

fasilitas
kesehatan

di

tempat tinggal kami

Dari survey Family SCREEM maka keluarga dapat diklasifikasikan berdasarkan


hasil dari penghitungan survey yang bilamana didapatkan hasil
0-6

: tidak ada sumber daya dalam keluarga

7-12

: sumber daya dalam keluarga cukup

13-18 : sumber daya dalam keluarga memadai


Berdasarkan hasil survei yang dilakukan kepada keluarga Ny. M dengan jumlah
total 12 dapat diklasifikasikan keluarga ny. M termasuk sumber daya dalam
keluarga cukup.

29

Family Cycle
Family life cycle melukiskan berbagai tahapan perkembangan dalam status
keluarga dan menjelaskan cara sebuah keluarga berfungsi. Pada setiap tahapan,
keluarga memproyeksikan berbagai identitas dan peran, pemenuhan yang akan
memastikan kemajuan ke tahap berikutnya atau lebih tinggi Berdarkan 9 tahap
oleh Duval, keluarga ny. M termasuk dalam tahap ke 4 yaitu orang tua dengan
anak usia sekolah.

POLA KONSUMSI PENDERITA


Frekuensi makan

rata-rata 3x sehari. Penderita biasanya makan di

rumah. Jenis makanan dalam keluarga ini cukup bervariasi. Variasi makanan
sebagai berikut: nasi, lauk (tahu, tempe, ikan, ayam, telur), sayur ( kangkung,
bayam, kacang panjang, terung, dsb), air minum (air putih). Air minum berasal
Perlindungan Mata Air (PMA) yang dimasak terlebih dahulu.
7

IDENTIFIKASI FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KESEHATAN
a

Faktor Perilaku

Kondisi lingkungan rumah pasien kurang bersih karena dekat dengan


kandang hewan. Pasien tidak memiliki jamban di rumah. Pasien BAB di
kebun dekat rumah. Pasien tidak terbiasa untuk mengeringkan daerah
genitalnya setelah buang air besar atau kecil sehingga kondisinya lembab
dan menyebabkan berkembangnya jamur dan bakteri-bakteri patologis di
alat genital. Pasien juga sering menahan kencing saat bekerja apalagi bila
pengunjung yang datang ke warung banyak. Sementara air seni yang statis
dalam waktu lama dapat menyebabkan berkembangbiaknya kuman di alat
genital.
b

Faktor Lingkungan

Kebersihan di dalam dan luar rumah kurang baik. Lantai rumah masih
lantai yang tidak kedap air (tanah). Pencahayaan di dalam rumah kurang

30

karena tidak terdapat jendela sehingga sirkulasi udara tidak berjalan lancar.
Sumber air minum berasal dari PMA dan dimasak terlebih dahulu sebelum
diminum. Di Rumah pasien memiliki kamar mandi tapi tidak memiliki
jamban dan mebuang BAB di kebun dekat rumah.Limbah air langsung
dialirkan ke tanah. Sampah dikelola dengan cara dikumpulkan di
pekarangan lalu dibakar.
c

Faktor Sarana pelayanan kesehatan

Ada bidan yang juga tinggal di Dusun Selorejo, Desa Ngargoretno, Kec.
Salaman yang berjarak 200 m dari rumah pasien. Terdapat Puskesmas
Salaman di kecamaran Salaman dengan jarak cukup jauh sekitar 20 km
d.Faktor keturunan
Tidak ada, keluarga pasien tidak ada yang pernah mengalami penyakit
serupa.

IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


a

Gambaran Lingkungan Rumah

Rumah pasien terletak di Dusun Selorejo, Desa Ngargoretno, Kecamat


an Salaman, Kabupaten Magelang, dengan ukuran rumah 15 x 8 m2,
bentuk bangunan 1 lantai. Rumah tersebut ditempati oleh 6 orang.
Secara umum gambaran rumah terdiri dari 4 kamar tidur. 1 dapur, 1
ruang tamu dan 1 kamar mandi yang terletak didalam dapur. Rumah
tidak mempunyai langit-langit, dinding dari anyaman bambu, lantai
menggunakan tanah. Penerangan di dalam rumah kurang. Ventilasi dan
jendela kurang memadai. Sehingga rumah menjadi kurang terang dan
terasa agak lembab. Tata letak barang di rumah berantakan. Sumber air
bersih dari PMA untuk minum maupun cuci dan masak. Air minum
dimasak sendiri. Rumahnya tidak memiliki jamban sendiri. Kebersihan
dapur kurang,dapur langsung terbuka dengan lingkungan luar.

31

Pembuangan air limbah langsung ke tanah. Tidak ada tempat


pembuangan sampah, sampah dikumpulkan lalu dibakar. Didepan
rumah terdapat pekarangan dari tanah seluas 5x5 m2.

32

Gambar 3.. Denah Rumah


A Halaman Rumah
B Ruang Tamu
C Dapur
9

D. Kamar Tidur
E. Kamar Mandi

DIAGNOSIS FUNGSI KELUARGA


a

Fungsi Biologis
Pasien sudah mengalami penyakit ini sejak 1 bulan yang

lalu.
Tidak ada keluarga dengan keluhan serupa
b

Fungsi Psikologis
Hubungan pasien dengan keluarga terjalin baik
Hubungan sosial dengan tetangga dan kerabat baik

Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan

Kesan sosial ekonomi kurang dilihat dari kondisi rumah.


d

Fungsi Religius dan Sosial Budaya

Termasuk keluarga yang taat beragama. Hubungan keluarga dan pasien


dengan tetangga baik, komunikasi berjalan dengan lancar. Tidak
terdapat keterbatasan hubungan antara pasien dan masyarakat.
e

Faktor Perilaku

Pasien jarangmengeringkan area genital setelah buang air

sehingga menjadi lembab.

33

Pasien juga sering kurang memanfaatkan waktu luangnya

untuk istirahat.
f

Faktor Non Perilaku

Pasien tinggal di rumah dengan lantai yang tidak

kedap air sehingga menciptakan situasi yang lembab dan kotor.

Pasien tinggal di rumah yang ventilasi udara di

rumah kurang sehingga sirkulasi udara kurang baik.

Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah adalah

bidan di desa yang berjarak sekita 200 m dari rumah. sedang sarana
pelayanan kesehatan yang lain cukup jauh. Jarak antara rumah
pasien dengan puskesmas 20 km.
DIAGNOSIS HOLISTIK
1

Aspek Personal
Penderita datang dengan keluhan keputihan dan gatal di area genital.
Penderita khawatir sakit yang dialami penderita disebabkan karena
penyakit keganasan kandungan. Penderita datang ke puskesmas dengan
harapan keputihan yang diderita dapat berkurang dan sembuh dengan
bantuan dokter di puskesmas.

Aspek klinis
Pasien adalah seorang wanita 25 tahun G1P1A0 dengan diagnosa klinis

fluor albus et causa suspek candidiasis.


Aspek risiko internal
Perilaku penderita yang dapat mempengaruhi munculnya keputihan
adalah masalah higienitas. Penderita memiliki kebiasaan tidak
mengeringkan genitalianya setelah BAK sehingga dapat menyebabkan
kondisi lembab di daerah genitalia.

Aspek risiko eksternal dan psikososial


Keluarga mendukung pengobatan pasien. Tetapi kurang dalam hal
membantu mengingatkan pasien dalam hal menjaga area genital agar
tidak lembab.

34

5. Aspek Fungsional
Derajat fungsional dengan skor 1, yaitu mampu melakukan pekerjaan
sebelum seperti sakit artinya mandiri dalam perawatan diri, bekerja di
dalam dan di luar rumah.
Pengelolaan secara komprehensif

Promotif

mengedukasi

pasien

untuk menjaga kebersihan area genital dan menjaganya


supaya tidak lembab.

Preventif

mengedukasi

pasien

untuk mengeringkan genitalianya setelah buang air kecil


dan rajin mengganti celana dalam minimal 2x sehari.

Kuratif
:
berobat ke puskesmas
untuk diterapi dengan antijamur.

Rehabilitatif :

merujuk

ke

rumah

sakit
10 DIAGRAM REALITA YANG ADA PADA KELUARGA
GENETIK

STATUS KESEHATAN
PELAYANAN KESEHATAN

LINGKUNGAN

Aktivitas
Bidan praktek
(+) ibu manjaga warung, mengurus rumah dan m
Poskesdes (-)
PERILAKU
Jarang mengeringkan area genital setelah buang air sehingga menjadi
Jarang mengganti pakaian dalam

Gambar 4. Diagram Realita

35

11 PEMBINAAN DAN HASIL KEGIATAN


Tabel 5. Pembinaan dan Hasil Kegiatan
Tanggal
23

Kegiatan yang dilakukan

Keluarga

Hasil Kegiatan

yang terlibat
Melakukan pemeriksaan kepad Pasien dan ke Mendapatkan diagnosis ker

November a pasien dan mengamati keada luarga

ja pasien, data keluarga

2016

an kesehatan rumah dan lingku

pasien, gambaran perilaku

ngan sekitar

kesehatan dan mengetahui


keadaan rumah pasien.

24

Memberikan penjelasan

November kepada pasien dan keluarga


2016

Pasien dan

Pasien dan keluarga pasien

keluarga

dapat memahami

pasien mengenai keputihan

penjelasan yang diberikan

dan faktor-faktor risiko yang

dan diharapkan dapat

bisa menyebabkan keputihan

merubah pola hidup bersih

serta menjelaskan perilaku

dan sehat terutama bagian

hidup bersih dan sehat

genital.

terutama bagian genital.

3.12

KESIMPULAN PEMBINAAN KELUARGA


1

Tingkat pemahaman :

Pemahaman terhadap pembinaan yang dilakukan

cukup baik.
2

Faktor pendukung

Pasien selalu minum obat secara teratur.

Pasien makan-makanan bergizi


Faktor penghambat:

Pasien masih kurang terbiasa untuk mengeringkan alat genital


setiap selesai mandi dan buang air
36

Indikator keberhasilan

Keputihan dan rasa gatal berkurang sampai dengan menghilang

Penderita dan

keluarga dapat memahami dan menangkap

penjelasan yang diberikan tentang kesehatan reproduksi wanita


khususnya mengenai keputihan.

Keluarga yang kooperatif dan adanya keinginan untuk hidup sehat


khususnya menjaga kesehatan dan kebersihan organ reproduksi.

37

BAB IV
PENUTUP

SIMPULAN
Penatalaksanaan pasien berusia 25 tahun dengan keluhan keputihan
menggunakan kedokteran keluarga sebagai berikut:
Diagnosis Kerja:
Fluor albus et causa suspek candidiasis

Terapi medikamentosa:
R/ Ketoconazole 200 mg tab no X
S 2 dd tab I

Terapi edukasi:
1

Pasien dianjurkan minum obat secara teratur

Pasien dianjurkan menjaga kebersihan dan kelembaban daerah genital.

Pasien dianjurkan untuk banyak beristirahat, menghindari kelelahan, dan


stres.

Pasien dianjurkan makan-makanan bergizi

Pasien dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter atau Puskesmas


terdekat apabila keluhan dirasa semakin memberat.

Pembinaan terhadap pasien dan keluarga:


1

Menjelaskan kepada penderita dan keluarga tentang penyakit keputihan,


meliputi faktor risiko, komplikasi dan pencegahan komplikasi. Memotivasi
pasien dan keluarga untuk bersama-sama memperhatikan penyakit pasien.

Menganjurkan pasien untuk minum obat secara teratur.

Menganjurkan pasien dan keluarga untuk rutin berolahraga.

Menganjurkan pasien dan keluarga untuk menjaga pola makan

38

Menganjurkan pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri,

Menganjurkan kepada pasien segera memeriksakan diri ke dokter atau


Puskesmas terdekat atau apabila keluhan semakin memberat.

SARAN
Untuk meningkat kualitas hidup dari pasien dengan keputihan
diperlukan pendekatan keluarga dalam penatalaksanaan pasien secara
komprehensif.

39

DAFTAR PUSTAKA
1
2
3

Centers for Disease Control and Prevention. 1993. Sexually transmitted


diseases treatment guidelines. Morb. Mortal. Wkly. Rep. 42:(RR-14):70-72
Sianturi. 1996. Keputihan. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Sadhine, M. 2009. Penyakit Wanita Pencegahan, deteksi dini dan

4
5

pengobatannya. Jakarta: Keen Book.


Pratiwi, 2012. Buku pintar kesehatan Wanita. Jyogyakarta: Imperium.
Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo

40

DOKUMENTASI

41

42

43

Anda mungkin juga menyukai