Anda di halaman 1dari 30

SANDBLASTING

DI PT. KUNANGO JANTAN

LAPORAN KERJA PRAKTEK

Disusun Oleh:
MUHAMAD AZMIL
BP: 2014130009

JURUSAN TEKNIK MESIN D3


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI PADANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


PT. kunango Jantan bergerak dibidang produksi, salah satunya produksi pipa baja
untuk tiang listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan pipa baja lainnya. Perawatan dan
perbaikan komponen mesin untuk produksi sangat penting demi kelancaran proses
produksi perusahaan. Kerusakan salah satu komponen dari mesin produksi pada sebuah
perusahaan dapat menghambat bahkan menghentikan proses produksi perusahaan tersebut,
sehingga kerugian pada bagian finansial perusahaan tidak dapat dihindari lagi karena setiap
detik waktu bagi perusahaan adalah tambang uang.
Salah satu komponen utama dari mesin Sand blasting di pabrik elbow adalah
(Impeller). Yang digunakan sebagai salah satu pemutar biji besi atau iron sand dan
berfungsi untuk membersihkan karat reduser dan elbow.
Impeller pada mesin sand blasting selalu diperhatikan oleh bagian maintenance
karena jika terjadi kerusakan pada impeller mesin sand blasting maka cara kerjanya
menjadi lambat.
Untuk mempermudah menentukan perawatan pada baling-baling mesin sand
blasting maka digunakan metoda perawatan FMECA (Failure Modes Effect and criticality
Analysis). Metoda FMECA ini banyak digunakan untuk memanajemen perawatan pada
suatu komponen, dengan cara mencari tahu bagian paling beresiko terkena kerusakan pada
suatu komponen mesin.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui sitem kerja dari impeller mesin sand blasting.
2. Menemukan kerusakan serta menganalisa penyebab dari kerusakan yang terdapat
pada impeller sand blasting, dengan cara menggunankan metoda FMECA (Failure
Modes Effect Criticality and Analysis).
3. Mencari tahu cara perawatan untuk meminimalisir kerusakan yang terjadi pada
impeller mesin sand blasting tersebut.

1.3 Batasan Masalah

Pada pelaksanaan kerja praktek ini, mengingat keterbatasan waktu dan


kemampuan, tidak semua bidang dapat dipelajari, maka dari itu penulis membatasi
permasalahan sesuai dengan penerapan disiplin ilmu teknik mesin mengenai analisa
kerusakan dan perawatan mesin yaitu pada impeller mesin sand blasting pabrik elbow.

BAB II
2

TINJAUAN PERUSAHAAN
2.1. Sejarah Singkat Perusahaan
Kunango Jantan group adalah kelompok usaha yang fokus dalam penyediaan,
pemprosesan dan distribusi material Baja dan Beton siap pakai untuk industri kontruksi,
kelistrikan dan pertambangan, telekomunikasi dan perhubungan.
PT. Kunango Jantan Group berdiri pada tahun 1993 dan bergerak dibidang
manufacture & trading terdiri dari beberapa divisi yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

PT. Kunango Jantan Beton


PT. Kunango Jantan Steel
PT. Tiga Pilar
PT. Kunango Jantan Concrete
Workshop PT. Kunango Jantan
Kunango jantan group beroperasi di dua lokasi utama yaitu Padang dan Pekanbaru

dimana masing-masing anak perusahaan memiliki fasilitas produksi sendiri. PT. Tiga Pilar
Sakato merupakan perusahaan trading yang mendistribusikan hasil produksi PT. kunango
Jantan ke costumer, seperti PT. PLN (Persero), PT. Semen Padang, PT. Telkom Indonesia
dan perusahaan ternama seperti ; PT. Krakatau Steel. Tbk, PT. Catur Prima Perkasa.
1. Informasi Umum Perusahaan
Tabel 2.1. Informasi Umum Perusahaan
Nama
Alamat

PT.KUNANGO JANTAN
Jln. By Pass Km.25, Kanagarian kasang, Kab. Padang

Telpon
Fax

Pariaman - Sumatra Barat


0751-4851888
0751-4851887

2. Lokasi PT. Kunango Jantan Group


Status Permodalan
Nomor Poko Wajib Pajak

Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)


01.622.858.7-201.000

(NPWP)
Akta pendirian

Akta Notaris Arry Supratno, SH No.30


3

Akta Perobahan

tanggal 09 April 1993


Akta Notaris Frida Damayanti, SH No.4

tanggal 09 januari 2001


Surat Izin Usaha Perdagangan 31/SIUP-PB/I-2015
(SIUP)
Tanda Daftar Perusahaan

30412400022

(TDP)
Surat Keterangan Domisili

395KEP / HO / BPMPPT- 2012

(SKDP)
PT. Kunango Jantan Group beralamatkan di Jln. By Pass Km. 25 ,Kanangarian
Kasang, kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman-Sumatra Barat.
Pemilihan ini menjadi lokasi pabrik berdasarkan beberapa pertimbangan teknis
antaranya:
a. Kanagarian Kasang, kecamatan Batang Anai, kabupaten Padang Pariaman
merupakan daerah kawasan industri di Sumatra Barat.
b. Jalur By Pass merupakan jalan lintas di kota Padang sehingga produk-produk
yang dihasilkan oleh PT. Kunango Jantan Group akan mudah didistribusikan
transportasi darat.
c. Lokasi pabrik yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan Teluk Bayur juga dapat
mempermudah pendistribusian produk melalui transportasi laut.

2.2 Struktur Organisasi Perusahaan

2.3. Aktifitas Perusahan


PT. Kunango Jantan Group adalah pabrik yang bergerak dibidang manufacture dan
trading yang terus melakukan inovasi untuk mengembangkan produksi Baja. PT. Kunanga
Jantan, sudah memiliki lima divisi yakni PT. Kunango Jantan Beton, PT. Kunango Jantan
Steel, PT. Tiga Pilar Sakato dan Workshop. PT. Kunango Jantan ini, akan membangun
pabrik baru yakni Pabrik Galvanis yang nantinya akan memproduksi baja yang tahan
hingga 30 tahun. Pabrik Galvanis ini adalah Satu-satunya pabrik di Sumatra. Adapun
Aktifitas kerja PT. Kunango Jantan adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hari kerja dimulai dari hari senin s/d hari sabtu


Jam kerja dimulai dari jam 08.00 s/d 16.00 WIB.
Bagi karyawan yang ingin lembur dimulai dari jam 16.00 s/d 22.00 WIB.
Jam istirahat coffee break dimulai dari jam 10.00 s/d 10.15 WIB.
Jam istirahat siang dimulai dari jam 12.00 s/d 13.00 WIB.
Khusus hari jumat jam istirahat siang dimulai dari jam 12.00 s/d 13.30 WIB.
Pada hari sabtu jam kerja hanya setengah hari dari jam 08.00 s/d 12.00 WIB.
Disetiap paginya karyawan dan karyawati PT. Kunango Jantan melakukan bersih-

bersih ruang kerja.


9. Setiap dua kali seminggu PT. Kunango Jantan memiliki program senam pagi
disetiap hari sabtu dari jam 07.45 s/d 08.30 dan acara tausiah setiap hari kamis
pagi dari jam 08.00 s/d 09.00 WIB.
10. Produk yang dihasilkan dari kegiatan diantaranya
- Produk pipa
- Produk elbow
- Produk tiang listrik
- Konstruksi bangunan
- Produk beton

BAB III
SANDBLASTING
3.1 Perawatan Mesin

Pengertian perawatan secara unman adalah memelihara serta mencegah suatu


masalah untuk meminimalisir terjadinya suatu kerugian.
Adaptor fungsi perawatan pada mesin adalah :
a.
b.
c.
d.
e.

Agar suatu mesin atau alat selalu tersedia dalam kondisi yang menguntungkan.
Kesiapan peralatan cadangan dalam kondisi darurat.
Keselamatan manusia dalam lingkungan kerja.
Usia pakai mesin atau alat menjadi lebih panjang.
Meningkatkan efisiensi.

3.1.1 Jenis-Jenis Perawatan

Perawatan preventive mencegah atau mengatasi sebeium timbul kerusakan yang


sudah diprediksikan selama periode masa beroperasinya suatu peralatan. Perawatan
preventive merupakan failure defence task dari hasil, failure mode and effect

analisys terhadap suatu peralatan.


Perawatan periodic melaksanakan kegiatan perbaikan dan penggantian peralatan
setelah masa beroperasi dalam periode waktu tertentu, berdasarkan kondisi
peralatan dan umur operasi dari peralatan. Tujuan periodic ini adalah untuk
menjamin bahwa selama masa periode operasinya, dapat berfungsi dengan baik

dengan tingkatan kehandalan dan kesediaan yang tinggi.


Perawatan korektif adalah pekerjaan yang ditimbulkan akibat adanya kegagalan
fungsi atau kerusakan suatu peralatan pada periode operasi peralatan. Indikasi
kegagalan atau kerusakan peralatan dapat diperoleh dari hasil laporan monitoring
kondisi operasi peralatan, temuan hasil fisik hasil patrol operator dan laporan dari

kegiatan predictive maintenance.


Perawatan prediktif adalah pemeliharaan yang dilakukan berdasarkan hasil
pengamatan (mentoring) dan analisa untuk menentukan kondisi dan kapan
pemeliharaan akan dilaksanakan, dan pelaksanaanya tanpa unit stop, untuk
membeeikan servis pada peralatan yang penting dan vital berdampak besar

terhadap operasi.
Perawatan breakdown adalah pemeliharaan menunggu sainpai peralatan rusak baru
dilakukan perbaikan. Perawatan jenis ini dilaksanakan ketika dampak kerusakan
yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan dan tidak mengancam beropersainya unit.

Pekerjaan perawatan periodic memerlukan:

Recommended Spare Part : semua spare part yang dibutuhkan sudah tersedia

sehingga tidak mengahambat pelaksanaan pekerjaan.


Tools : General Tool dan Special Mot.
7

3.1.2 Hubungan Antara Preventive Maintenance dan Predictive Maintenance

Preventive Maintenance
Adalah metode untuk melakukan pencegahan kerusakan peralatan atau mesin
dengan melakukan penggantian parts secara berkala berdasarkan waktu
penggunaan dan melakukan perawatan ringan serta inspeksi untuk mengetahui
keadaan peralatan atau mesin yang terkini. Contoh: Membersihkan, memeriksa,
melumasi, pengencangan baut, inspeksi berkala, restorasi periodik dan small over
haul.

Predictive maintenance
Adalah metode untuk melakukan perawatan dengan mengganti parts berdasarkan
prediksi dengan menggunakan alat bantu. Maksudnya adalah jika metoda
preventive hanya berdasarkan jadwal, maka metoda predictive berdasarkan hasil
dari pengukuran. Metoda ini bisa juga dengan menggunakan panca indera,
contohnya dalam pemeriksaan bearing dapat dibedakan dari suara yang dihasilkan
atau pemeriksaan temperatur, dengan menyentuhnya kita dapat merasakan
perbedaan atau kelainan peralatan tersebut.
Bila dengan menggunakan alat bantu,kita harus mempunyai parameter yang bisa

didapat dari manual book atau dari studi sendiri kemudian dibandingkan dengan hasil
pengukuran. Perlu diterapkan bahwa setiap selesai mengukur, catatlah tanggal pengukuran
agar kita mendapatkan suatu frekuensi akan kelayakan parts dari peralatan kita untuk
memudahkan memprediksikannya dikemudian hari.
Contoh alat bantu ukur yaitu :

Tachometer, untuk mengukur putaran


Thermometer, untuk mengukur suhu
Vibrameter, untuk mengukur getaran pada bearing motor
Desiblemeter, untuk mengukur suara, dll

3.1.3 Identifikasi Permasalahan dan Solusinya


Pada setiap pekerjaan overhaul biasanya akan ditemukan adanya kelainan dan atau
kerusakan pada komponen-kompenen tertentu. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal,
antara lain :

Life time.
Salah pengoperasian.
Salah saat pemasangan atau pembongkaran.
Adanya material asing yang tertinggal.
8

Kualitas dan lubricating yang tidak bagus.

3.1.4 Defenisi Pemeliharaan


Pemeliharaan mesin merupakan hal yang sering dipermasalahkan antara bagian
pemeliharaan dan bagian produksi. karena bagian pemeliharaan dianggap yang
memboroskan biaya, sedang bagian produksi merasa yang merusakkan tetapi juga yang
membuat uang (Soemarno, 2008). Pada umumnya sebuah produk yang dihasilkan oleh
manusia, tidak ada yang tidak mungkin rusak, tetapi usia penggunaannya dapat
diperpanjang dengan melakukan perbaikan yang dikenal dengan pemeliharaan. (Corder,
Antony, K. Hadi, 1992). Oleh karena itu, sangat dibutuhkan kegiatan pemeliharaan yang
meliputi kegiatan pemeliharaan dan perawatan inesin yang digunakan dalam proses
produksi.
Kata pemeliharaan diambil dari bahasa yunani terein artinya merawat, menjaga dan
memelihara. Pemeliharaan adalah suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan
untuk menjaga suatu barang dalam, atau memperbaikinya sampai suatu kondisi yang bisa
diterima. Pengertian pemeliharaan lebih jelas tindakan merawat mesin atau peralatan
pabrik dengan memperbaharui umur masa pakai dan kegagalan atau kerusakan mesin
(Setiawan F.D, 2008). Menurut Jay Heizer dan Barry Render, (2001) dalam bukunya
Operations Management pemeliharaan adalah : all activities involved in keeping a
system's equipment in working order, artinya: pemeliharaan adalah segala kegiatan yang
di dalamnya adalah untuk menjaga sistem peralatan agar bekerja dengan baik.
Menurut M.S Sehwarat dan J.S Narang, (2001) dalam bukunya Production
Management pemeliharaan (maintenance) adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan secara
berurutan untuk menjaga atau memperbaiki fasilitas yang ada sehingga sesuai dengan
standar (sesuai dengan standar fungsional dan kualitas). Menurut Sofyan Assauri (2004)
pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan
pabrik dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar
supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang
direncanakan.

Gambar 3.1 Konsep strategi pemeliharaan yang baik


Gambar di atas menjelaskan beberapa pendapat sebelumnya bahwa dapat
disimpulkan bahwa kegiatan pemeliharaan dilakukan untuk merawat ataupun memperbaiki
peralatan penisahaan agar dapat melaksanakan produksi dengan efektit dan efisien sesuai
dengan pesanan yang telah direncanakan dengan hasil produk yang berkualitas.
3.1.5 Tujuan Pemeliharaan
Suatu kalimat yang perlu diketahui oleh orang pemeliharaan dan bagian lainnya
bagi suatu pabrik adalah pemeliharaan (maintenance) murah sedangkan perbaikan (repair)
mahal (Setiawan F.D, 2008). Menurut Daryus A, (2008) dalam bukunya manajemen
pemeliharaan mesin.
Tujuan pemeliharaan yang utama dapat didefenisikan sebagai berikut :
1. Untuk memperpanjang kegunaan asset,
2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi
dan mendapatkan laba investasi maksimum yang mungkin,
3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan
dalam keadaan darurat setiap waktu,
4. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut.
Sedangkan Menurut Sofyan Assauri, 2004, tujuan pemeliharaan yaitu :
1. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana produksi.
10

2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan
oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu.
3. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang di luar batas dan
menjaga modal yang di investasikan tersebut.
4. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin, dengan
melaksanakan kegiatan pemeliharaan secara efektif dan efisien,
5. Menghindari kegiatan pemeliharaan yang dapat membahayakan keselamatan para
pekerja.
6. Mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi-fungsi utama lainnya dari
suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan yaitu
tingkat keuntungan (return on investment) yang sebaik mungkin dan total biaya
yang terendah.
3.1.6 Fungsi Pemeliharaan
Menurut pendapat Agus Ahyari, (2002) fungsi pemeliharaan adalah agar dapat
memperpanjang umur ekonomis dari mesin dan peralatan produksi yang ada serta
mengusahakan agar mesin dan peralatan produksi tersebut selalu dalam keadaan optimal
dan siap pakai untuk pelaksanaan proses produksi.
Keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh dengan adanya pemeliharaan yang
baik terhadap mesin, adalah sebagai berikut :
1. Mesin dan peralatan produksi yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan akan
dapat dipergunakan dalam jangka waktu panjang,
2. Pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan berjalan dengan
lancar,
3. Dapat menghindarkan diri atau dapat menekan sekecil mungkin terdapatnya
kemungkinan kerusakan-kerusakan berat dari mesin dan peralatan produksi selama
proses produksi berjalan,
4. Peralatan produksi yang digunakan dapat berjalan stabil dan baik, maka proses dan
pengendalian kualitas proses harus dilaksanakan dengan baik pula,
5. Dapat dihindarkannya kerusakan-kerusakan total dari mesin dan peralatan produksi
yang digunakan,
6. Apabila mesin dan peralatan produksi berjalan dengan baik, maka penyerapan
bahan baku dapat berjalan normal,
7. Dengan adanya kelancaran penggunaan mesin dan peralatan produksi dalam
perusahaan, maka pembebanan mesin dan peralatan produksi yang ada semakin
baik.
3.1.7 Kegiatan Pemeliharaan
11

Kegiatan pemeliharaan dalam suatu perusahaan menurut Manahan P. Tampuholon,


(2004) meliputi berhagai kegiatan sebagai berikut:
1. Inspeksi (inspection)
Kegiatan inspeksi meliputi kegiatan pengecekan atau pemeriksaan secara berkala
dimana maksud kegiatan ini adalah untuk mengetahui apakah perusahaan selalu
mempunyai peralatan atau fasilitas produksi yang baik untuk menjamin kelancaran
proses produksi. Sehingga jika terjadinya kerusakan, maka segera diadakan
perbaikan-perbaikan yang diperlukan sesuai dengan laporan hasil inspeksi dan
berusaha untuk mencegah sebab-sebab timbulnya kerusakan dengan melihat sebabsebab kerusakan yang diperoleh dari hasil inspeksi.
2. Kegiatan teknik (engineering)
Kegiatan ini meliputi kegiatan percobaan atas peralatan yang baru dibeli, dan
kegiatan-kegiatan pengembangan peralatan yang perlu diganti, serta melakukan
penelitian-penelitian terhadap kemungkinan pengembangan tersebut. Dalam
kegiatan inilah dilihat kemampuan untuk mengadakan perubahan-perubahan dan
perbaikan-perbaikan bagi perluasan dan kemajuan dari fasilitas atau peralatan
perusahaan. Oleh karena itu kegiatan teknik ini sangat diperlukan terutama apabila
dalam perbaikan mesin-mesin yang rusak tidak didapatkan atau diperoleh
komponen yang sama dengan yang dibutuhkan.
3. Kegiatan produksi (Production)
Kegiatan ini merupakan kegiatan pemeliharaan yang sebenarnya, yaitu merawat,
memperbaiki mesin-mesin dan peralatan. Secara fisik, melaksanakan pekerjaan
yang disarakan atau yang diusulkan dalam kegiatan inspeksi dan teknik,
melaksankan kegiatan service dan pelumasan (lubrication). Kegiatan produksi ini
dimaksudkan untuk itu diperlukan usaha-usaha perbaikan segera jika terdapat
kerusakan pada peralatan.
4. Kegiatan administrasi (Clerical Work)
Pekerjaan administrasi ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan
pencatatan-pencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukan
pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan dan biaya-biaya yang berhubungan dengan
kegiatan pemeliharaan, komponen (spare parts) yang dibutuhkan, laporan kemajuan
(progress report) tentang apa yang telah dikerjakan, waktu dilakukannya inspeksi
dan perbaikan, serta lamanya perbaikan tersebut, komponen (spare parts) yang
tersedia di bagian pemeliharaan. Jadi dalam pencatatan ini termasuk penyusunan
12

planning dan scheduling, yaitu rencana kapan suatu mesin harus dicek atau
diperiksa, dilumasi atau di service dan di resparasi.
5. Pemeliharaan bangunan (housekeeping)
Kegiatan ini merupakan kegiatan untuk menjaga agar bangunan gedung tetap
terpelihara dan terjamin kebersihannya.
3.1.8 Masalah Efisiensi pada Pemeliharaan
Menurut Manahan P. Tampubolon, (2004) dan Sofyan Assauri, (2004). Dalam
melaksanakan kegiatan pemeliharaan terdapat 2 persoalan yang dihadapi oleh suatu
perusahaan yaitu persoalan teknis dan persoalan ekonomis.
1. Persoalan teknis
Dalam kegiatan pemeliharaan suatu perusahaan merupakan persoalan yang
menyangkut usaha-usaha untuk menghilangkan kemungkinan-kemungkinan yang
menimbulkan kemacetan yang disebabkan karena kondisi fasilitas produksi yang
tidak baik. Tujuan untuk mengatasi persoalan teknis ini adalah untuk dapat menjaga
atau menjamin agar produksi perusahaan dapat berjalan dengan lancar. Maka dalam
persoalan teknis perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a. Tindakan apa yang harus dilakukan untuk memelihara atau merawat peralatan
yang ada, dan untuk memperbaiki meresparasi mesin-mesin atau atau peralatan
yang rusak,
b. Alat-alat atau komponen-komponen apa yang dibutuhkan dan harus
bagian pertama diatas dapat disediakan agar tindakan-tindakan pada dilakukan.
Jadi, dalam persoalan teknis ini adalah bagaimana cara perusahaan agar
dapat mencegah ataupun mengatasi kerusakan mesin yang mungkin saja dapat
terjadi, sehingga dapat mengganggu kelancaran proses produksi.
2. Persoalan ekonomis
Dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan disamping persoalaan teknis,
ditemui pula persoalan ekonomis Persoalan ini menyangkut bagaimana usaha yang
harus dilakukan agar kegiatan pemeliharaan yang dibutuhkan secara teknis dapat
dilakukan secara efisien. Jadi yang ditekankan pada persoalan ekonomis adalah
bagaimana melakukan kegiatan pemeliharaan agar efisien. Dengan memperhatikan
besarnya biaya yang terjadi dan tentunya alternative tindakan yang dipilih untuk
dilaksanakan adalah yang menguntungkan perusahaan. Adapun biaya-biaya yang

13

terdapat dalam kegiatan pemeliharaan adalah biaya-biaya pengecekan, biaya


penyetelan, biaya service, biaya penyesuaian, dan biaya perbaikan atau resparasi.
Perbandingan biaya yang perlu dilakukan antara lain untuk menentukan:
Pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) atau pemeliharaan korektif
(Corrective

maintenance)

saja.

Dalam

hal

ini

biaya-biaya

yang

perlu

diperbandingkan adalah:
a. Jumlah biaya-biaya perbaikan yang diperlukan akibat kerusakan yang terjadi
karena tidak adanya pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance),
dengan jumlah biaya-biaya penielihaiaan dan perbaikan yang diperlukan akibat
kerusakan yang terjadi walaupun telah diadakan pemeliharaan pencegahan
(preventive maintenance), dalam jangka waktu tertentu.
b. Jumlah biaya-biaya pemeliharaan dan perbaikan yang akan dilakukan terhadap
suatu peralatan dengan harga peralatan tersebut,
c. Jumlah biaya-biaya pemeliharaan dan perbaikan yang dibutuhkan oleh suatu
peralatan dengan jumlah kerugian yang akan dihadapi apabila peralatan tersebut
rusak dalam operasi produksi.
d. Peralatan yang rusak diperbaiki dalam perusahaan atau di luar perusahaan.
Dalam hal ini biaya-biaya yang perlu diperbandingkan adalah jumlah biaya
yang akan dikeluarkan untuk memperbaiki peralatan tersebut di bengkel
perusahan sendiri dengan jumlah biaya perbaikan tersebut di bengkel
perusahaan lain. Disamping perbandingan kualitas dan lamanya waktu yang
dibutuhkan untuk pengerjaannya.
Peralatan yang rusak diperbaiki atau diganti. Dalam hal ini biaya-biaya perlu
diperbandingkan adalah:
a. Jumlah biaya perbaikan dengan harga pasar atau nilai dari peralatan tersebut,
b. Jumlah biaya perbaikan dengan harga peralatan yang sama di pasar.
Dari keterangan di atas, dapatlah diketahui bahwa walaupun secara teknis
pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) penting dan perlu dilakukan untuk
menjamin bekerjanya suatu mesin atau peralatan. Akan tetapi secara ekonomis belum tentu
selamanya pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) yang terbaik dan perlu
diadakan untuk setiap mesin atau peralatan.
Hal ini karena dalam menentukan mana yang terbaik secara ekonomis. Apakah
pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) ataukah pemeliharaan korektif
(Corrective Maintenance) saja. Harus dilihat faktor-faktor dan jumlah biaya yang akan
terjadi. Disamping itu harus pula dilihat, apakah mesin atau peralatan itu merupakan
14

strategic point atau critical unit dalam proses produksi ataukah tidak, jika mesin atau
peralatan tersebut merupakan strategic point atau critical unit, maka sebaiknya di adakan
pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance) untuk mesin atau peralatan itu. Hal ini
dikarenakan apabila terjadi kerusakan yang tidak dapat diperkirakan, maka akan
mengganggu seluruh rencana produksi.
3.1.9 Hubungan Pemeliharaan dengan Proses Produksi
Pemeliharaan menyangkut juga terhadap proses produksi sehari-hari dalam
menjaga agar seluruh fasilitas dan peralatan perusahaan tetap berada pada kondisi yang
baik dan siap selalu untuk digunakan. Kegiatan hendaknya tidak mengganggu jadwal
produksi.
Menurut Sofjan Assauri (2004) agar proses produksi berjalan dengan lancar, maka
kegiatan pemeliharaan yang harus dijaga dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Menambah jumlah peralatan dan perbaikan para pekerja bagian pemeliharaan,


dengan demikian akan di dapat waktu rata-rata kerusakan dari mesin yang lebih

kecil,
Menggunakan pemeliharaan pencegahan, karena dengan cara ini dapat mengganti

parts yang sudah dalam keadaan kritis sebelum rusak,


Diadakannya suatu cadangan di dalam suatu system produksi pada tingkat kritis,
sehingga mempunyai suatu tempat parallel apabila terjadi kerusakan mendadak.
Dengan adanya suku cadangan ini, tentu akan berarti adanya kelebihan kapasitas
terutama untuk tingkat kritis tersebut, sehingga jika ada mesin yang mengalami
kerusakan, perusahaan dapat berjalan terus tanpa menimbulkan adanya kerugian

karena mesin-mesin menganggur,


Usaha-usaha untuk menjadikan para pekerja di bidang pemeliharaan ini sebagai
suatu komponen dari mesin-mesin yang ada, dan untuk menjadikan mesin tersebut

sebagai suatu komponen dari suatu sistem produksi secara keseluruhan,


Mengadakan percobaan untuk menghubungkan tingkat-tingkat sistem produksi
lebih cermat dengan cara mengadakan suatu persediaan cadangan diantara berbagai
tingkat produksi yang ada, sehingga terdapat keadaan dimana masing - masing
tingkat tersebut tidak akan sangat tergantung dari tingkat sebelumnya.

3.1.10 Hubungan Kegiatan Pemeliharaan dengan Biaya


Tujuan utama manajemen produksi adalah mengelola penggunaan sumber daya
berupa faktor-faktor produksi yang tersedia baik berupa bahan baku, tenaga kerja, mesin
dan fasilitas produksi agar proses produksi berjalan dengan efektif dan efisien. Pada saat
15

ini perusahaan-perusahaan yang melakukan kegiatan pemeliharaan harus mengeluarkan


biaya pemeliharaan yang tidak sedikit.
Menurut Mulyadi, (1999) dalam bukunya akuntansi biaya, biaya dari barang yang
diproduksi terdiri dari:

Direct Material Used (biaya bahan baku langsung yang digunakan),


Direct manufacturing Labor (biaya tenaga kerja langsung),
Manufacturing Overhead (biaya overhead pabrik).
Permasalahan yang sering dihadapi seorang manager produksi adalah bagaimana

menentukan untuk melakukan kebijakan pemeliharaan baik untuk pencegahan maupun


setelah terjadinya kerusakan. Dari kebijakan itulah nantinya akan mempengaruhi terhadap
pembiayaan. Oleh karena itu, seorang manajer produksi harus mengetahui hubungan
kebijakan pemeliharaan dengan biaya yang ditimbulkan sehingga tidak salah dalam
mengambil kebijakan tentang pemeliharaan. Di bawah ini diperlihatkan hubungan biaya
pemeliharaan pencegahan dan breakdown dengan total biaya. (Jay Heizer and Barry
Render, (2001).
Dengan demikian metode yang digunakan untuk memelihara mesin dalam
perusahaan adalah metode probabilitas untuk menganalisa biaya. Menurut Hani Handoko
T, (1999) [1]. Langkah-langkah perhitungan biaya pemeliharaan adalah :

Menghitung rata-rata umur mesin sebelum rusak atau rata-rata mesin hidup dengan
cara: Rata-rata mesin hidup = E (bulan sampai terjadinya kerusakan setelah

perbaikan X probabilitas terjadinya kerusakan)


Menghitung biaya yang dikeluarkan jika melaksanakan kebijakan pemeliharaan
breakdown:
TCr=

NC 2
n

iPi
i=1

TCr

= biaya bulanan total kebijakan breakdown

NC2

= biaya perbaikan mesin

iPi
i=1

= jumlah bulan yang diperkirakan antara kerusakan

Menghitung biaya yang dikeluarkan jika melaksanakan kebijakan pemeliharaan


preventive:

Untuk

menentukan

biaya

pemeliharaan

preventive

meliputi
16

pemeliharaan setiap satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan seterusnya, harus dihitung
perkiraan jumlah kerusakan mesin dalam suatu periode.
n

Bn=N Pn+ B( n1 ) P1 + B(n2 ) P2 +B (n3) P3+ +B1 P(n1 )


i

Keterangan:
Bn

= perkiraan jumlah kerusakan mesin dalam n bulan,

= jumlah Mesin,

Pn

= Probabilitas mesin rusak dalam periode n

3.1.11 Metoda Perawatan dan Perbaikan


Metoda perawatan yang akan digunakan kali ini adalah metoda FMECA (Failure
Modes Effect Criticality Analysis), dimana sebelum menentukan cara perawatan yang akan
digunakan kita harus mencaritahu dulu bagian-bagian yang paling kritis dan paring
beresiko terkena kerusakan pada alat yang akan kita lakukan perawatan. Untuk mengetahui
besarnya resiko kerusakan komponen pada alat yang akan dirawat, kita akan menggunakan
rumus sebagai berikut :
Risk = Probability x Consequence
Dengan cara membandingkan kemungkinan banyaknya kerusakan yang terjadi
(probability) dan besarnya konsekuensi yang akan terjadi (consequence), kita akan dapat
mengetahui bagian yang paling beresiko terkena kerusakan. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan untuk melakukan metoda ini adalah :

Persyaratan FMECA
Analisis Stuktur Sistem
Analisa kegagalan dan persiapan worksheets FMECA
Matrik Resiko (Team review)
Tindakan koreksi

3.2 SANDBLASTING
Musuh abadi seluruh benda berbahan dasar metal/besi adalah karat/korosi. Ada
salah satu cara yang paling efektif dan cepat untuk mengusir karat/korosi yaitu
sandblasting. Sandblasting, adalah proses penyemprotan abrasive material biasanya
berupa pasir silika atau steel grit dengan tekanan tinggi pada suatu permukaan dengan
tujuan untuk menghilangkan material kontaminasi seperti karat, cat, garam, oli dll. Selain
17

itu juga bertujuan untuk membuat profile (kekasaran) pada permukaan metal agar dapat
tercapai tingkat perekatan yang baik antara permukaan metal dengan bahan pelindung
misalnya cat. Tingkat kekasarannya dapat disesuaikan dengan ukuran pasirnya serta
tekanannya. Perlu diketahui berhasil atau gagalnya suatu pengecatan sangat tergantung
pada tingkat kebersihan dan tingkat perekatan antara cat dan permukaan serta tingkat
kepadatan dan perataan dari cat itu sendiri.
Sandblasting merupakan proses yang diadaptasi dari teknologi yang biasa
digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang oil & gas, industri, ataupun
fabrikasi guna membersihkan atau mengupas lapisan yang menutupi sebuah obyek yang
biasanya berbahan dasar metal/besi dengan bantuan butiran pasir khusus yang ditembakkan
langsung dari sebuah kompresor bertekanan tinggi ke obyek.
Sandblasting terbagi atas 2 jenis, yaitu
1. Dry Sandblasting
Dry Sandblasting biasa diaplikasikan ke benda-benda berbahan metal/besi yang
tidak beresiko terbakar, seperti tiang-tiang pancang, bodi dan rangka mobil, bodi
kapal laut, dan lain-lain
2. Wet Sandblasting
Wet Sandblasting diaplikasikan ke benda-benda berbahan metal/besi yang beresiko
terbakar atau terletak di daerah yang beresiko terjadi kebakaran, seperti tangki bahan
bakar, kilang minyak (offshore), ataupun pom bensin, dimana pasir silica yang
digunakan dicampur dengan bahan kimia khusus anti karat yang berguna untuk
meminimalisir percikan api saat proses sandblasting terjadi.
Namun begitu, alat yang digunakan tetaplah sama, terdiri dari kompresor, tabung
penyaring udara (Airblast Breathing Air Filters), tabung penampung pasir (blast pot),
selang, nosel, helm khusus untuk dikenakan oleh sang operator sandblasting.

Keuntungan dari Sandblasting :

18

1. Membersihkan permukaan material (besi) dari kontaminasi seperti karat, tanah,


minyak, cat, garam dan lainnya.
2. Mengupas cat lama yang sudah rusak atau pudar
3. Membuat profile (kekasaran) pada permukaan metal sehingga cat lebih melekat.

Mungkin Anda pernah mendengar ukuran standar sandblasting adalah Sa 2.5. Sa


adalah salah satu standard tingkat kebersihan yang dikeluarkan oleh Swedish Institute for
Standards disingkat SIS. Kode Sa disini berarti standard kebersihan Swedish menggunakan
Abrasive.
Pengertian Sa.2.5 berarti pembersihan / penyemprotan metal menghampiri putih
near-white metal blast cleaning, dengan pengertian bahwa penyemprotan terhadap
permukaan metal dilakukan sampai warnanya hampir putih. Secara kasat mata, warnanya
mendekati putih, bersih dari segala kotoran seperti kulit besi, karat, bekas cat, debu, dan
sebagainya, yang tertinggal hanya sedikit noda atau bintik kecil yang samar dan itupun
tidak boleh lebih dari 5% dari total suatu permukaan yang dibersihkan. Untuk dapat
mengetahui secara pasti bahwa tingkat kebersihan yang dikehendaki telah tercapai, dipakai
acuan warna sebagai perbandingan berupa referensi warna permukaan disebut dengan
visual pictorial surface standard. Sedangkan yang menggunakan alat dengan magnifier
surface profile comparator gunanya untuk melihat tingkat kekasaran permukaan setelah
sandblasting.
Standard-standard yang lain selain Swedish Standard yang digunakan untuk tingkat
pembersihan permukaan ada beberapa, misalnya standard dari SSPC (Steel Structure
Painting Council), NACE (National Association of Corrosion Engineers), ISO
(International Organization for Standarization), SAA (Standard Australia), DS (Standard
Denmark) dan JUS (Standard Jugoslavia), tetapi yang sangat umum digunakan saat ini
adalah Standard Swedish, SSPC, dan NACE.
Berikut contoh hasil Sandblasting :

19

Gambar 3.2 REDUCER sudah jadi

Gambar 3.3 REDUCER belum jadi


3.2.1 PRINSIP KERJA
Pada proses pembersih komponen komponen reducer dan elbow, dari berkarat
sampai keluar menjadi bersih dari karat, bahan yang akan dibersihkan tersebut harus
melewati berbagai tahapan proses. Salah satunya adalah proses pencucian (Cleaning).
Pada dasarnya proses pencucian atau cleaning menggunakan teknik penembakan
yaitu dengan menembakkan suatu material biji besi (Iron sand) pada suatu bahan yang
akan dibersihkan sesuai yang di inginkan. Yang dimana mesin sandblasting adalah mesin
yang menopang sebuah landasan dan penembakan, sebuah sumber tenaga, dan suatu
mekanisme yang menyebabkan bergerak dengan putaran motor listrik dan di putar dengan
impeller dan menuju ke bahan yang akan dibersihkan dari karat tersebut. Untuk
20

menghasilkan kualitas pembersihan yang baik, perlu adanya alat-alat pendukung dalam
melakukan proses pencucian.
Alat alat pendukung mesin sandblasting antara lain:

Biji besi (Iron Sand)


Adalah suatu material yang digerakkan oleh impeller mesin sandblasting
untuk memutar dan menmbakkan material biji besi ke bahan yang akan dibersihkan
dari karat untuk menghasilkan yang sesuai dengan contoh.
Proses pembersihan pada bahan yang akan dibersihkan haruslah sesuai
dengan standar yang ada diperusahaan. Adapun langkah langkah dalam proses
pencucian dari mesin sandblasting sebagai berikut.

Masukkan biji besi pada PAND


Sesuaikan kapasitas penampungan pada mesin sandblasting
Pastikan biji besi sesuai dengan kapasitasnya
Pastikan pintu dari mesin sandblasting tertutup rapat dengan
tertekannya limit switch.

Sebelum kita melakukan pengoperasian mesin sandblasting, kita harus


menentukan waktu untuk menghidupkan mesin sandblasting, waktu yang
dibutuhkan yaitu 30 menit untuk pencucian elbow sebanyak 30 buah, dan 30 menit
untuk pencucian reduser sebanyak 60 buah.
Biji besi atau iron sand yang dibutuhkan untuk pencucian hanya 4 liter.
3.2.2 Data Lapangan
Adapun data lapangan yang didapat berupa komponen-komponen yang digunakan
dalam proses pembersih karat hasil produksi PT. Kunango Jantan Group yaitu:
a. Motor Penggerak
Motor ini digunakan sebagai penggerak kerja sanblasting seperti yang ditunjukan
pada gambar 3.4 dengan data motor:

21

Gambar 3.4 : Motor Penggerak


Type motor
Daya motor
Cos
Putaran
Arus
Massa

: 3 phasa asynchronous motor


: 7.5 KW
: 0.84
: 1440 rpm
: 15.6 A
: 78 kg

b. Joint Vilter
Alat ini digunakan untuk memutar balikkan benda yang akan dibersihkan,
seperti digambar3.5.

Gambar 3.5 : Joint vilter


c. Dalting
Dalting berfungsi sebagai penyaring ampas dan penyimpanannya seperti di
gambar 3.6
22

Gambar 3.6 : Dalting


Berfungsi sebagai penyaring atau pemisah ampas halus dan ampas yang
kasar, dan tempat pembuang ampas.
d. PAND
Pand yang terletak diatas berfungsi sebagai penerus biji besi ke baling-baling
yang terlihat pada gambar 3.7

Gambar 3.7 : PAND


Berfungsi sebagai penghantar IRON SAND atau biji besi.
e. Sistem control DELTA STAR, Plus timer
Sistem kendali atau sistem kontrol (control system) adalah suatu alat
(kumpulan alat) untuk mengendalikan, memerintah, dan mengatur keadaan dari
suatu sistem. Istilah sistem kendali ini dapat dipraktikkan secara manual untuk
mengendalikan Sanblasting pada gambar 3.8.
23

Gambar 3.8 : Sistem control Delta star, plus timer.


f. Limit switch
Limit switch berfungsi sebagai memutuskan dan menghubungkan arus listrik
pada suatu rangkaian, berdasarkan struktur mekanik dari limit switch itu sendiri.
Limit switch memiliki tiga buah terminal, yaitu: central terminal, Normally Close
(NC) terminal, dan Normally Open (NO) terminal. Sesuai dengan namanya, limit
switch digunakan untuk membatasi kerja dari suatu alat yang sedang beroperasi.
Terminal NC, NO, dan central dapat digunakan untuk memutuskan aliran listrik
pada suatu rangkaian atau sebaliknya.

Gambar 3.9 : Limit switch


g. IRON SAND
Iron sand atau biji besi berfungsi sebagai bahan utama yang diperlukan untuk
pembersih karat pada sandblasting, dan ukurannya 2,3 mm. Iron sand yang terlalu
lama dipakai bias menjadi abu dan akan habis. Bentuk iron sand pada gambar
3.10

24

Gambar 3.10 : Iron sand.


h. Impeller
Baling-baling ini berfungsi sebagai pemutar dan penghantar biji besi pada
komponen yang akan dibersihkan dari karat, ini bentuk baling-baling yang telah
meleleh pada gambar 3.11

Gambar 3.11 : Baling-baling


i. Dinding baling-baling
Yang berfungsi sebagai penutup rumah pada baling-baling, yang telah
meleleh karena ketajaman biji besi, pada gambar 3.12

25

Gambar 3.12 Dinding baling-baling


3.3 PEMBAHASAN
3.3.1 Kondisi kerja
Kondisi kerja yang dialami oleh sandblasting pada impeller diantaranya:

Penempatan impeller dibawah box pand


Aliran biji besi bolak-balik, pada saat proses pembersihan biji besi dialirkan
pada box pand dan diantarkan kepada impeller, dan biji besi sampai dibawah,
biji besi tersebut akan terangkat oleh baling-baling dibawah dan sampai pada
box pand kembali.

3.3.2 Penyebab kerusakan pada impeller berupa ditimbulkannya panas yang berlebih
Penyebab utama kegagalan utama dari sistem baling-baling adalah panas, dengan
kata lain sebaik apapun sistem impeller yang digunakan bila panas tidak dicari solusinya
maka akan menyebabkan kegagalan dari sistem baling-baling.
Sumber utama penyebab panas adalah :
1. Kotoran partikel dari biji besi yang tersisa pada impeller akan menambah
panas pada impeller.
2. Dipengaruhi oleh kecepatan putaran motor pada impeller yang akan
membuat biji besi semakin cepat penembakannya pada komponen yang
akan dibersihkan.

26

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan kerja praktek yang telah dilakukan, mengenai impeller pada mesin
sandblasting di PT Kunango Jantan, dapat ditarik kesimpulan dari beberapa masalah yaitu
ada:
1. Impeller bekerja dalam kondisi dengan putaran yang tinggi dan menghasilkan
panas, maka dari itu komponen yang rentan terhadap kerusakan adalah impeller
dan dinding pada mesin sandblasting.
2. Karena jumlah impeller yang cukup banyak, maka rentan terhadap kerusakan
akibat kecepatan pada biji besi menghasilkan panas yang tinggi.
3. Solusi dan perawatan yang dilakukan untuk menghindari kerugian dan kerusakan
pada impeller sandblasting:
Solusi dari impeller yang cepat rusak, untuk ketahanan diberi besi cor yang

tahan sampai 1000`c.


Besi yang biasa dipakai pada impeller sandblasting, hanya tahan sampai 2
minggu, maka dari itu bila dipakai besi cor mungkin tahan lebih lama dari

yang biasa.
Prenventive: merupakan pengecekan rutin yang dilakukan ketika unit sedang
bekerja, meliputi pengecekan kerusakan, gresiasing, pembersihan dan
pengencangan komponen komponen yang longgar, serta pendataan
komponen komponen yang rusak untuk persiapan suku cadang saat

dilakukan pembongkaran.
Corrective: perawatan yang dilakukan saat unit sedang tidak bekerja atau
mati, meliputi pembongkaran seperti perbaikan dan penggantian komponen
komponen yang rusak pada baling-baling.

4.2 Saran
Adapun saran pada perawatan baling-baling untuk meminimalisir terjadinya
kerusakan yaitu:
1. Keterkaitan kerusakan yang satu dengan yang lain terjadi akibat kurangnya
pengecekan kerusakan, oleh karena itu pengecekan kerusakan harus dilakukan
secara rutin.

27

2. PT. Kunango Jantan perlu perencanaan perawatan dan solusi pada suatu unit untuk
kemaksimalan maintenance, oleh karena itu sangat diperlukannya catatan serta
pedataan kerusakan yang tepat dan akurat, seperti metode FMECA.

28

DAFTAR PUSTAKA

Arifvianto, B., Suyitno, Mahardika, M., 2011, Effect of Sandblasting and


Surface
Mechanical Attrition Treatment on Surface Roughness, Wettability, and
Microhardness Distribution of AISI 316L, Key Engineering Materials, Vol. 462463. pp 738-743.
Manual Book Operating and Maintenance Documentation PT. Kunango
Jantan Group padang pariaman.

29