Anda di halaman 1dari 27

Budidaya Tanaman Aren (Arenga pinnata Merr)

Ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Produksi Tanaman Penghasil Gula dan Obat

Disusun Oleh :
M Eza S

150510130118

Indah Ayuningsari

150510130261

Fajar Bolipia

150510130262

Nurul Annisa Fatimah

150510140093

Wira Putraastama

150510140145

Rachman A Indrawan

150510140166

Bisri Alvi DN

150510140209

M Ali Akbar

150510140219

Rima Anggita Putri

150510140220

Hana Alfianita Utami

150510140221

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhuan masyarakat Indonesia akan bahan pemanis dalam hal ini pemanis tebu
semakin meningkat. Produksi pemanis yang berbahan dasar utaman dari tebu atau gula tebu
pada rentang tahun 2013-2014 mengalami peningkatan, namun hal tersebut belum mampu
mencukupi kebutuhan konsumsi nasional. Terkait hal tersebut, kebijakan impor gula dari
negara produsen gula terkemuka pun dilakukan pleh pemerintah Indonesia untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri. Pada tahun 2014 paling sedikit terdapat 12 negara importir gula tebu
dengan volume impor 2.933.823 ton (BPS, 2014).
Hingga saat ini bahan pemanis (gula) yang terdapat di Indonsia mayoritas masih
berbahan dasar tebu. Walaupun hamper sebagian besar penduduk Indonseia menggunakan
gula tebu sebagai pemanis, namun ternyata pemanis jenis ini memeliki dampak yang kurang
baik terhadap kesehatan. Menurut American Heart Foundation , perempuan sebaiknya tidak
mengkonsumi lebih dari 100 kalori tambahan dari gula perhari dan laki laki 150 kalori per
harinya. Artinya, untuk perempuan tidak lebih dari 25 gr per hari, dan 37,5 gr untuk laki
laki. Jumlah itu sudah mencakup gula di minuman, makanan,kudapan, permen, dan semua
yang dikonsumsi pada hari itu (Darwin, 2013). Terdapat 13 jenis pemanis sintetik yang
penggunaannya diizinkan oleh pemerintah Indonesia, diantaranya: aspartame, acesulfam-K,
aliatam, neotam, siklamat, sakarin, sukralosa, isomalt, xylitol, maltitol, manitol, sorbitol dan
laktitol (Wedowati dkk., 2015).
Produksi pemanis dalam negeri harus ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan
masyarakat dan menekan impor. Penggunaan bahan pemanis alternatif yang aman bagi
kesehatan pun perlu digencarkan, selain upaya meningkatkan produksi gula tebu. Tumbuhan
yang dapat digunakan sebagai alternatif tebu sebagai bahan pemanis di Indonesia sendiri
adalah aren.
Dahulu tanaman aren dikenal dengan nama botani Arenga saccharifera. Tetapi
sekarang lebih banyak dipustakakan dengan nama Arenga pinnata Merr. Tanaman aren bisa
dijumpai dari pantai barat India sampai ke sebelah selatan Cina dan juga kepulauan Guam.
Habitat aren juga banyak terdapat di Philipina , Malaysia, dataran Assam di India, Laos,
Kamboja , Vietnam, Birma (Myanmar), Srilanka dan Thailand (Lutony, 1993 ) Akan tetapi

konon, tanaman yang termasuk dalam keluarga Palma atau Aracaceae ini berasal dari
Indonesia (Lempang, 2012)
Tanaman aren ( Arenga pinnata ) dapat menghasilkan nira aren dapat diolah menjadi
gula aren. Kandungan pati dalam empulur batang aren akan menentukan jumlah nira yang
akan keluar melalui tangkai bunga.Kandungan pati dalam batang pohon aren telah dilaporkan
oleh Pontoh (2010). Kandungan pati dalam nira aren bervariasi dari 0.25 - 0.5 g/g empulur
(Manatar, Pontoh, & Runtuwene, 2012). Faktor yang mempengaruhi produktivitas tanaman
aren yaitu tanah, iklim, tanaman meliputi ukuran tanaman dan umur tanaman (Suseno, 1991).
Aspek lain dari penentuan kandungan pati dalam empulur pohon adalah cara pengambilan
sampel pada pohon (Kunarso, 2008). Negara - negara yang membutuhkan gula aren dari
Indonesia adalah Arab Saudi, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Jepang dan Kanada
(Sapari, 1994).
Gula aren memiliki kandungan senyawa alami tidak seperti gula tebu. Gula aren
mengandung beberapa unsur kandungan senyawa seperti vitamin B kompleks, glukosa,
garam mineral dan yang paling utama memiliki kadar kalori yang cukup tinggi diselingi
dengan kadar glisemik gula terendah yakni 35 GI (Indeks Glisemik). Gula aren juga memiliki
keunggulan yakni gula aren tidak secara langsung larut dalam tubuh, namun diserap secara
perlahan, oleh karenanya gula aren dapat bertahan lama di dalam tubuh. Sehingga tidak
secara langsung meningkat kadar gula darah dalam tubuh. Gula aren aman dikonsumsi oleh
penderita diabetes. Gula aren yang telah dicerna di dalam tubuh akan melepaskan energi
untuk tubuh dalam waktu yang cukup lama dan kandungan riboflavinnya mampu membantu
melancarkan metabolisme sistem pencernaan dalam tubuh. Gula aren dapat digunakan dalam
berbagai hidangan makanan atau minuman dengan mencampurkan gula aren sebagai
pengganti gula tebu atau gula pasir.
Hampir semua bagian dari pohon aren dapat dimanfaatkan. Bagian-bagian yang dapat
dimanfaatkan tersebut antara lain ialah ijuk, buah, daun, nira dan batang yang menghasilkan
tepung (Tamrin, 2013). Tanaman aren dapat dikembangkan menjadi tanaman konservasi
karena sifat perakaran yang dalam 10-30 m dan daya cengkeraman yang kuat, dapat tumbuh
dengan baik pada ketinggian 0 - 1.400 m dpl, di daerah pegunungan, lembah- lembah, dekat
aliran sungai dan mata air, secara alami banyak ditemukan di daerah hutan (Ardi, 2004).
1.2 Identifikasi Masalah

Bagaimana botani, morfologi, dan syarat tumbuh tanaman aren


Bagaimana persiapan bahan tanam aren

Bagaimana penanaman tanaman aren


Bagaimana pemeliharaan tanaman aren
Bagaimana proses panen dan pasca panen pada tanaman aren
Apa tantangan dan peluang budidaya tanaman aren

1.3 Tujuan

Mengetahui botani, morfologi, dan syarat tumbuh tanaman aren


Mengetahui persiapan bahan tanam aren
Mengetahui penanaman tanaman aren
Mengetahui pemeliharaan tanaman aren
Mengetahui proses panen dan pasca panen pada tanaman aren
Mengetahui tantangan dan peluang budidaya tanaman aren

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Botani dan Morfologi Aren
2.1.1 Botani Tanaman Aren
Tanaman aren menurut klasifikasi tanaman
divisi

: Spermatophyta
subdivisi

: Angiospermae

kelas

: Monocotyledonae
bangsa

: Spadicitlorae
suku

: Palmae
marga

: Arenga
spesies

: Arenga pinnata MERR.

Tanaman aren berasal dari daerah tropis Asia, menyebar luas di Indonesia, Filipina,
Malaysia, Assam-India, Laos, Kamboja, Vietnam, Srilanka dan Thailand (kew.org/wcsp).
Tanaman ini tumbuh pada beberapa daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda. Di Aceh
diberi nama Bakjuk, Batak Karo dinamai Paula, Nias diberi nama Peto, Minangkabau nama
Biluluk, Lampung nama Hanau, Jawa Tengah diberi nama Aren, Madura nama Are dan di
Bali nama Hano. Untuk NusaTenggara diberi nama : Jenaka, Pola, Nao, Karodi, Moka,
Make, Bale dan Bone. Pemberian nama tanaman ini untuk Sulawesi: Apele, Naola, Puarin,
Onau, dan Inau. Sedang untuk kepulauan Maluku diberi nama: Seko, Siho, Tuna, Nawa dan
Roni. (Rindengan dan Manaroinsong, 2009 ).
2.1.2 Morfologi Tanaman Aren
Akar
Akar pohon aren berbentuk serabut, menyebar dan cukup dalam dapat mencapai > 5
m sehingga tanaman ini dapat diandalkan sebagai vegetasi pencegah erosi, terutama untuk
daerah yang tanahnya mempunyai kemiringan lebih dari 20 % (Sunanto, 1993).
Batang
Batang pohon aren padat, berambut, dan berwarna hitam (Mc Currach, 1970; dan
Keng, 1969). Batang aren terbalut ijuk yang warnanya hitam dan sangat kuat. Batang
tanaman aren tidak mempunyai lapisan kambium, sehingga tidak dapat tumbuh semakin
besar lagi (Sunanto, 1993). Garis tengah batangnya mencapai 65 cm, sedang tingginya 15 m.

Jika ditambah dengan tajuk daun yang menjulang di atas batang, tinggi keseluruhannya bisa
mencapai 20 m. Batang aren yang sudah tua dan turun produksi niranya, biasanya ditebang
untuk diremajakan dengan tanaman muda yang lebih produktif.
Daun
Menurut Samingan (1974) bahwa bagian-bagian daun aren bergerigi renggang, dan
pada ujungnya bergerigi banyak dan letaknya berkelompok. Sunanto (1993) mengemukakan
bahwa daun tanaman aren pada tanaman bibit (sampai umur 3 tahun), bentuk daunnya belum
menyirip (berbentuk kipas). Daun tanaman aren yang sudah dewasa dan tua bersirip ganjil
seperti daun tanaman kelapa, namun ukuran daun dan pelepah daunnya lebih besar dan lebih
kuat jika dibandingkan dengan daun tanaman kelapa. Warna daun tanaman aren adalah hijau
gelap. Tanaman aren memiliki tajuk (kumpulan daun) yang rimbun, di mana daun-daun muda
yang terikat erat pada pelepahnya berposisi agak tegak. Daun tanaman aren makin tua tidak
akan melengkung ke bawah tapi tetap kaku ke atas atau menempel agak miring ke samping
pada batangnya. Kalau sudah tua benar, helaian daunnya rontok, tetapi pangkal pelepahnya
yang menyisa masih lama menempel pada batang, sebelum akhirnya terlepas. Pelepah itu
melebar di bagian pangkalnya, tapi makin ke pucuk makin menyempit, dan merupakan
tangkai daun sepanjang 5 m. Pada pelepah tersebut tumbuh tulang-tulang (atau poros) berikut
helaian daun yang sebenarnya, helaian daun ini memanjang seperti pita, yang terpanjang bisa
mencapai 1.5 m (Soeseno, 2000).
Bunga
Karangan bunga yang pertama dari ruas batang yang berada di pucuk pohon akan
keluar saat aren sudah berumur 8 tahun, kira-kira letaknya sedikit di bawah tempat tumbuh
daun muda (muncul dari daerah puncak saja), tetapi makin tua pohon itu, keluarnya bunga
juga bisa dari ketiak daun di daerah bawah. Kira-kira 2 bulan kemudian, muncul tandan
bunga jantan yang disebut ubas, Selanjutnya disusul oleh bunga -bunga jantan lainnya, yang
disebut adik ubas, penyadapan nira sudah bisa dilakukan ketika itu. Bunga jantannya muncul
bergantian dengan bunga betina di ketiak daun daerah bawah (Sastrapradja dkk, 1980; dan
Soeseno, 2000). Menurut Sunanto (1993) bunga aren jantan duduk berpasangan pada untaian
yang berjumlah sekitar 25, pangkalnya melekat pada sebuah tandan. Jika bunga betina
berbentuk butiran (bulat) berwarna hijau dan duduk sendiri-sendiri pada untaian, sedangkan
bunga jantan berbentuk bulat panjang 1.2 1.5 cm berwarna ungu. Bunga jantan setelah
dewasa kulitnya pecah dan kelihatan banyak benang sari dan tepung sari berwarna kuning.
Selanjutnya Soeseno (2000) menambahkan bahwa bila pohon aren sudah berumur 12 tahun,

dan makin banyak membentuk tongkol bunga betina, biasanya pemiliknya membiarkannya
membentuk buah, dan niranya tidak disadap lagi.
Buah
Buah aren terbentuk setelah terjadinya proses penyerbukan dengan perantaraan angin
atau serangga. Buah aren berbentuk bulat, berdiameter 4 5 cm, di dalamnya berisi biji 3
buah, masing-masing berbentuk seperti satu siung bawang putih. Bagian- bagian dari buah
aren terdiri dari: 1). Kulit luar, halus berwarna hijau pada waktu masih muda, dan menjadi
kuning, setelah tua (masak). 2) Daging buah, berwarna

putih kekuning-kuningan. 3)

Kulit biji, berwarna kuning dan tipis pada waktu masih muda, dan berwarna hitam yang keras
setelah buah masak. 4). Endosperm, berbentuk lonjong agak pipih berwarna putih agak
bening dan lunak pada waktu buah masih muda; dan berwarna putih, padat atau keras pada
waktu buah sudah masak. (Sunanto, 1993). (Manahan, 2012)
2.2 Syarat Tumbuh
Tanaman aren berasal dari daerah tropis Asia, menyebar luas di Indonesia, Filipina,
Malaysia, Assam-India, Laos, Kamboja, Vietnam, Srilanka dan Thailand (kew.org/wcsp).
Tanaman ini menyebar luas di Indonesia, oleh sebab itu mempunyai nama daerah sangat
banyak, misalnya : bak juk (Aceh), ijuk (Gayo), pola atau paula (Karo), bagot atau agaton
(Toba), bargot (Mandailing), peto (Nias), poula (Mentawai), hanau (Kerinci), kawung
(Sunda), aren (Jawa, Madura), hano (Bali), Pola (Sumbawa), Nao (Bima), kalotu (Sumba),
maoke (Flores), nau (Timur), seho (Manado) dan sageru (Maluku) (Heyne, 1987).
Aren merupakan jenis tanaman tahunan dapat tumbuh di daerah beriklim basah
hingga beriklim kering, tumbuh secara soliter (tunggal). Pada dasarnya aren merupakan
tanaman yang dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dengan ketinggian antara 0 - 1.500 m dpl.
dengan suhu rata-rata 25 C dan curah hujan rata-rata setahun 1.200 mm. Namun demikian,
tanaman lebih menyukai pada ketinggian 500 1.200 m dari permukaan laut.
Tumbuh baik pada tanah gembur, tanah vulkanis, dan tanah berpasir di tepian sungai.
Pada iklim yang sesuai tanaman ini dapat mencapai umur 15 20 tahun (Chan, 2000) dalam
(Lasut, 2012)
2.3 Pemilihan Bahan Tanam, Perkecambahan dan Pembibitan Aren
2.3.1 Pemilihan Bahan Tanam (Seleksi Pohon Induk)
Seleksi terhadap pohon induk merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk
perbanyakan tanaman aren, karena pemilihan induk yang berkualitas dapat mempengaruhi

anakan yang dihasilkan. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menentukan indukan
adalah penentuan blok dengan hasil yang tinggi, yang dapat dilakukan dengan melakukan
pengujian keragaman sifat tandan, bunga dan buah. Sifat-sifat tandan, bunga dan buah yang
diamati adalah: 1) jumlah tandan bunga jantan/pohon, 2) jumlah tandan bunga betina/pohon,
3) jumlah tandan buah/pohon, 4) jumlah buah/tandan.
Dalam seleksi blok ini keadaan pertanaman seragam dengan bentuk mahkota tegak,
bebas hama dan penyakit, terletak di areal pertanaman dan mudah dijangkau. Pohon contoh
ditentukan secara acak, kemudian dihitung jumlah tandan bunga jantan, betina dan buah.
Pengambilan contoh sebesar 10 persen dari populasi tanaman yang ada. Pada pemilihan
pohon induk ini, hal yang harus diperhatikan adalah umur dari tanaman tersebut, umur pohon
yang bisa digunakan sebagai pohon induk adalah pohon yang berumur kisaran 10 hingga 20
tahun, karena pohon yang berumur dibawah 10 tahun produksi niranya belum stabil,
sedangkan pohon yang berumur lebih dari 20 tahun kemampuan berproduksinya menurun.
Pohon yang terpilih sebagai pohon indukan harus memiliki produksi nira yang lebih
dari 10 liter/pohon/tahun. Benih yang diperoleh dari pohon indukan ini berasal dari seleksi
buah yang masak dan bebas dari gerekan hama.
2.3.2 Perkecambahan dan Pembibitan
Perkecambahan dilakukan pada benih yang sudah lulus seleksi, yaitu yang berasal
dari indukan berproduksi tinggi, dan terbebas dari hama penyakit. Benih hasil seleksi
kemudian dikecambahkan menggunakan media tanah, pasir dan pupuk kandang. Dari
beberapa hasil penelitian, perkecambahan benih aren telah berhasil dengan daya
berkecambah di atas 90 %. Suatu cara atau metode yang dapat dipakai untuk menghasilkan
daya kecambah benih aren yang tinggi adalah benih yang telah dibersihkan dari daging buah
langsung dibenamkan 1-2 cm kedalam media tanam. Benih yang telah berkecambah
selanjutnya membentuk apokol sepanjang 12 cm ke dalam media dan dari ujung apokol
keluar akar dan tunas (Gambar 1) (Mailangkay et al, 2004 dalam Effendi, 2010). Hasil
penelitian Hadipoentyanti dan Luntungan (1988) menunjukkan daya kecambah benih yang
terbaik apabila benih dikikis dahulu pada bagian titik tumbuh. Penelitian yang sama
dihasilkan oleh Saefudin dan Manoi (1994) dimana perlakuan pengikisan bagian titik tumbuh
menghasilkan daya tumbuh tertinggi setelah disemai 5 bulan (Tabel 1).

Tabel 1. Daya Kecambah Benih Aren Pada Berbagai Perlakuan

Setelah benih aren berkecambah mencapai tinggi 3-5 cm dapat dipindahkan ke tempat
pembibitan (bedeng pembibitan), pemindahn dilakukan pada sore hari untuk menghindari
penguapan air. Bibit juga dapat dipindahkan ke dalam polybag yang berdiameter 25-40 cm.
Tanah yang digunakan dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2 yang
kemudian dimasukkan kedalam polybag sebanyak bagian polybag. Bibit aren memerlukan
penyiraman dan naungan (atap peneduh) yang tingginya sekitar 1 m agar terhindar dari
cahaya matahari secara langsung (Effendi, 2010).

Gambar 1. Tunas dan Akar yang Keluar dari Apikal


2.4 Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Aren
2.4.1 Penanaman
1

Persiapan Lahan
Penanaman aren dapat dilakukan dengan sistem monokultur, sistem agroforestri atau

tumpangsari. Dilakukan pembersihan lokasi dari vegetasi yang ada sebelum penanaman,
kemudian dilakukan pengajiran untuk menentukan posisi lubang tanam sesuai jarak tanam
yang diinginkan.
2

Pembuatan Lubang Tanam


Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. Pada saat pembuatan

lubang tanam, tanah lapisan atas dipisah dari tanah lapisan bawah. Lubang tanam dibiarkan
selama satu minggu sebelum digunakan. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan gas-gas
yang bersifat racun didalam tanah. Pengajiran dan pembuatan lubang tanam sebaiknya
dilakukan diawal musim hujan. Penyiangan perlu dilakukan agar tidak terjadi persaingan di
dalam pertumbuhan tanaman aren dengan gulma. Sambil melakukan penyiangan, lakukan
juga penggemburan tanah di sekeliling batang aren sekitar 1-1,5 m agar aerasi udara yang
akan masuk dan keluar di dalam tanah berlangsung dengan baik.

Gambar 2. Lubang Tanam untuk penanaman aren


3

Penanaman
Benih aren yang telah diseleksi ditanam pada lubang tanam yang telah disiapkan

sebelumnya, kemudian polibeg dikeluarkan dengan disayat oleh pisau dan selanjutnya
polibeg ditarik keluar. Tanah lapisan atas yang telah dicampur pupuk kandang dimasukkan
lebih dahulu dan disusul dengan tanah lapisan bawah. Benih yang baru ditanam diberi
naungan atau peneduh. Penanaman aren dapat dilakukan secara monokultur dengan jarak
tanam 7 m x 7 m segi empat atau secara polikultur dengan menggunakan jarak antar barisan
lebih lebar dari dalam barisan yaitu 16 m x 7 m. Oleh karena tanaman aren bersifat
hapaxanthic (sekali berbunga mati), maka sebaiknya benih aren ditanam dengan mengatur
waktu tanam sehingga produksi nira dapat berkesinambungan.
2.4.2 Pemeliharaan Tanaman
1

Pemupukan
Pemupukan dilakukan dua kali setahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan.

Untuk melakukan pemupukan harus diperhatikan umur tanaman, jenis dan takaran pupuk.
Pupuk dimasukkan ke dalam parit kecil yang dibuat melingkari pohon. Jarak parit dari
tanaman yang akan dipupuk berbeda menurut umur tanaman. Pada tanaman aren Genjah
yang baru ditanam jaraknya 50 cm, tanaman umur 1-2 tahun jaraknya 75 cm dan tanaman
umur >3 tahun jaraknya 100-150 cm. Sebelum dilakukan pemupukan, daerah piringan
dibersihkan, sehingga pupuk yang diberikan dimanfaatkan tanaman secara efisien, dan tidak
terjadi persaingan antara tanaman aren dengan gulma yang tumbuh di daerah piringan dalam
memanfaatkan pupuk. Seperti halnya benih aren, untuk tanaman aren muda dan produktif
dapat dipupuk dengan pupuk organik. Menurut Maliangkay et.al., (2000) pemberian pupuk
organik berupa kotoran hewan pada bibit aren dapat memberikan pengaruh yang baik
terhadap pertumbuhan bibit aren yang diusahakan. Pupuk organik yang digunakan untuk
tanaman aren merupakan pupuk organik granuler yang diperkaya dengan mikroba. Takaran

pupuk organik untuk tanaman aren muda 400 g/pohon/tahun dan untuk tanaman aren
produktif 800 g/pohon/tahun.
2

Pengendalian Gulma
Gulma atau tumbuhan pengganggu sangat mengganggu pertumbuhan aren. Oleh

karena itu, pengendalian gulma perlu dilakukan terutama di daerah piringan dan yang
melekat pada batang aren. Pengendalian gulma di areal pertanaman aren adalah pembabatan
gulma di antara tanaman dan pembersihan gulma di daerah piringan. Pengendalian gulma
pada batang aren menggunakan parang dilakukan secara hati-hati sehingga tidak merusak
batang. Pengendalian gulma ini dilakukan secara rutin, yaitu 4 kali dalam setahun.
3

Sanitasi Batang
Setelah tanaman berumur lebih dari 5 tahun dianjurkan untuk memanen ijuk yang

sudah berwarna hitam dan melekat padabatang, sehingga pembesaran batang tidak terhambat,
yang berakibat pada menurunnya produksi nira.
4

Pengendalian Hama dan Penyakit


Hama dan penyakit tanaman aren hingga saat ini belum banyak diketahui. Hal ini

disebabkan tanaman aren belum dibudidayakan secara intensif oleh masyarakat.Hasil


penelitian Balai Penelitian Tanaman Palma menunjukkan bahwa hama dan penyakit tanaman
aren ditemui di beberapa lokasi, yaitu di Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan Banten.
Hama dan penyakit tersebut adalah sebagai berikut:
a

Hama
Hama Oryctes rhinoceros menyerang pucuk aren dan menggerek sampai menembus

pangkal pelepah daun muda. Jaringan daun muda yang digerek akan terlihat jelas setelah
daun terbuka. Gejala serangannya terlihat guntingan daun bentuk segi tiga. Teknologi
pengendalian hama O. rhinoceros dilakukan secara terpadu melalui pemanfaatan musuh
alami (Metarhizium dan Baculovirus), sanitasi, penggunaan serbuk mimba dan penggunaaan
feromon.
b Penyakit
Penyakit yang menyerang tanaman aren yaitu penyakit bercak daun yang disebabkan
oleh cendawan Helminthosporium sp. dan Pestalotiopsis. Serangan Helminthosporium sp.
menyebabkan daun menjadi kering sehingga mempengaruhi pertumbuhan benih. Pada
permukaan daun yang masih muda, yaitu pada bagian atas dan bawah daun muncul bercakbercak kecil berwarna hijau mengkilat yang selanjutnya membesar dan berubah menjadi
warna coklat dengan bagian tepi terdapat lingkaran kuning. Cendawan Pestalotiopsis
menyerang permukaan daun yang agak tua. Bagian bawah dan atas daun terlihat bercak-

bercak membesar berukuran diameter 2-3 cm, berwarna kuning keputih-putihan dan
ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam. Pengendalian kedua jenis penyakit ini
dilakukan apabila 25%dari luas permukaan daun sudah ditutupi bercak. Pengendalian
dilakukan melalui penyemprotan tanaman dengan

pestisida yang berbahan aktif Cobox

0,5%.
2.5 Penanganan Panen dan Pasca Panen Tanaman Aren
2.5.1 Panen
Bagian tanaman aren yang dapat dimanfaatkan meliputi tandan bunga, daun, batang, dan
ijuk. Pemanenan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a

Tandan bunga
Tandan bunga merupakan bagian tanaman aren yang dimanfaatkan sebagai penghasil

nira. Pemanenan dilakukan melalui penyadapan pada tanaman berumur 5-12 tahun.
Karakteristik tandan bunga jantan yang siap disadap adalah jatuhnya serbuk sari.
Kriteria mayang jantan siap disadap niranya apabila bunga pada mayang jantan mulai
mekar (terbuka), dengan teknik penyadapan adalahsebagai berikut :
1

Tangkai mayang bunga jantan diketuk dan digoyang sekitar 2 minggu sebelum

penyadapan, untuk memperlancar keluarnya nira.


Penyadapan dilakukan dua kali setiap hari yaitu jam 05.00 08.00 pagi dan jam 16.00
18.00 sore hari. Ketebalan mayang yang disayat pada setiap kali penyadapan sekitar

1-2 mm.
Penyadapan dilakukan dengan persyaratan sebagai berikut:
a Wadah penampung nira yang digunakan seperti bambu atau jerigen yang
b
c

dibersihkan terlebih dahulu dan dikeringkan.


Penyadapan nira menggunakan pisau khusus dan tajam.
Ke dalam wadah penampung dimasukkan bahan aditif, antara lain kulit batang
manggis atau serat sabut kelapa sebanyak 10 g per wadah penampung sebelum
penyadapan untuk mempertahankan mutu nira (pH nira tidak cepat turun),pH

ideal adalah 5,7 6,8.


Nira yang disadap sore hari dipanaskan terlebih dahulu kemudian disimpan dalam
wadah penampung untuk mencegah penurunan pH. Nira ini akan dimasak
bersama dengan nira yang disadap besok paginya.

Penyadapan nira umumnya dilakukan terhadap tandan bunga jantan, tetapi dapat pula
dilakukan terhadap tandan bunga betina namun hasil nira lebih rendah dan kualitasnya

tidak sebaik penyadapan tandan bunga jantan. Setiap pohon aren mampu menghasilkan 34 tandan bunga dalam setahun dengan masing-masing dapat memproduksi 300-400 liter
per musim berbunga (3-4 bulan), sehingga dalam setahun mampu menghasilkan 900
1600 liter.
b Buah
Buah aren dapat diolah menjadi bahan makanan yang disebut kolang kaling. Bahan
bakunya berupa biji buah aren yang berumur setengah masak, sehingga buah yang
dipanen merupakan buah yang masih muda. Pemanenan buah harus memperhatikan
kematangan buah. Buah siap panen apabila telah memiliki kriteria kulit biji tipis, lembut,
berwarna kuning, endosperm berwarna putih sedikit transparan dan lembut.
c Daun
Daun muda dapat digunakan sebagai pembungkus rokok dan gula aren, sementara
daun tua digunakan untuk bahan atap rumah atau pembungkus buah durian. Lidinya dapat
dibuat sapu atau bahan anyaman.
d Batang
Batang aren dapat digunakan sebagai penghasil tepung (pati aren). Pati aren termasuk
non waxy atau high amylose dengan kadar amilosa 10-30%. Pemanenan dilakukan
dengan memotong batang aren sekitar 0,5 2 meter kemudian mengambil bagian inti
batang, dicampur dengan air, dan digiling untuk memproduksi sagu.
e Ijuk
Ijuk aren yang baik berasal dari tanaman yang belum berbunga, yaitu ketika tanaman
berumur 4-5 tahun. Tanaman yang telah berbunga mutu ijuknya akan menurun yaitu
menjadi kasar. Ijuk merupakan bahan baku untuk membuat sapu, sikat, tali dan atap
rumah tradisional.
2.5.2 Pasca Panen
A Pengolahan Utama
1 Pengolahan Nira Aren
Gula aren terdapat dalam tiga bentuk yaitu gula cetak (kerekan), gula pasir dan gula
semut (Sapari, 1994).
a Gula cetak
Nira yang masih segar merupakan bahan dasar untuk pengolahan gula cetak aren, rasa
manis, tidak berwarna dengan pH 6-7 dan total asam 0,1%. Apabila pH < 6, nira tidak diolah
menjadi gula tetapi diolah menjadi cuka atau alkohol. Untuk mendapatkan nira yang
memenuhi syarat sebagai bahan baku pembuatan gula, wadah penampung nira di pohon
dicuci dengan nira yang mendidih. Nira yang ditampung dengan wadah ini memiliki pH 6,27,0 dan kadar sukrosa 11-14,9%.

Pengolahan gula cetak aren dilakukan oleh industri rumah tangga. Gula yang
dihasilkan digunakan sebagai pemanis, penyedap dan pemberi warna pada berbagai jenis
makanan. Gula cetak diperoleh dengan cara menguapkan air nira dan dicetak dalam berbagai
bentuk, antara lain ukuran setengah tempurung kelapa, ukuran balok,

ataupun bentuk

lempengan.
Cara pengolahan gula cetak, yaitu nira disaring, dituang-kan kedalam wajan yang
telah berisi nira hasil sadapan sore hari sebelumnya yang telah dipanaskan lebih dahulu,
kemudian dimasak di atas tungku. Dalam proses pemanasan nira akan berbuih putih dan
meluap, untuk mencegah agar buih tidak tumpah dilakukan pengadukan. Pemanasan
dihentikan pada saat larutan nira menjadi kental dan berwarna coklat kemerahan. Untuk
mengetahui waktu penghentian pemanasan, larutan nira panas diteteskan ke dalam air.
Apabila tetesan larutan ini mengental maka pemanasan dihentikan. Wajan diangkat dari
tungku, larutan diaduk kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Cetakan yang biasa
digunakan adalah tempurung kelapa, dan bambu ukuran kecil yang telah dipotong dengan
ukuran panjang 8-10 cm. Setelah kering, gula dikeluarkan dari cetakan dan dikemas
menggunakan daun pisang kering atau plastik. Agar gula tidak berwarna coklat tua,
ditambahkan Natrium bisulfit sebanyak 0,02%. Penggunaan kayu bakar dalam pengolahan
gula cetak berkisar 0,25 m3 untuk pemasakan nira sebanyak 100 liter nira, dan menghasilkan
gula sekitar 10-12 kg.
b Gula semut
Gula semut adalah Gula semut merupakan jenis gula yang dibuat dari nira dengan
bentuk serbuk atau kristal dan berwarna kuning kecokelatan sampai coklat (Lutony, 1993).
Proses pengolahan gula semut sama dengan pengolahan gula cetak, yaitu tahap pemanasan
nira hingga menjadi kental. Pada pengolahan gula cetak, setelah diperoleh nira kental, wajan
diangkat dari tungku, dilakukan pencetakan, sedangkan pada pengolahan gula semut setelah
diperoleh nira kental dilanjutkan dengan pendinginan dan pengkristalan. Pengkristalan
dilakukan dengan cara pengadukan menggunakan garpu kayu. Pengadukan dila-kukan secara
perlahan-lahan, dan makin lama makin cepat hingga terbentuk serbuk gula (gula semut).
Langkah selanjutnya adalah pengeringan gula semut. Pengeringan dilakukan dengan
dua cara, yaitu (1) pengeringan dengan sinar matahari selama 3-4 jam dan (2) pengeringan
dengan oven pada suhu 45oC-50oC selama 1,5-2,0 jam. Untuk keseragaman ukuran butiran,
dilakukan pengayakan
I
Menggunakan ayakan stainless steel ukuran 18-20 mesh. Butiran gula yang
tidak lolos ayakan akan dikeringkan ulang dan dilanjutkan dengan

penghalusan butiran. Penghalusan ukuran butiran dengan grinder mekanis,


II

diikuti dengan pengayakan


Gula semut kering dikemas dalam kantong plastik dengan ukuran berat
bervariasi, yaitu 250 g, 500 g dan 1000 g (1 kg).
Cara pengolahan gula semut tersebut telah dikembangkan oleh koperasi petani

di Desa Hariang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pengembangan agroindustri


gula semut model Hariang dimulai sejak tahun 2000. Pengolahan gula semut di desa
ini dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pertama pengolahan dilakukan anggota
kelompok tani/koperasi, menghasilkan gula semut kasar, dan tahap kedua pengolahan
lanjut pada unit pengolahan di koperasi dihasilkan gula semut.
Pengolahan pada tingkat koperasi, dengan kegiatan meli-puti pengeringan,
pengayakan dan pengepakan. Pengeringan gula semut dilakukan dengan dua cara,
yakni dengan sinar matahari dan dalam oven sistem rak (70% produk dikeringkan
dengan oven dan 30% dengan sinar matahari). Pengayakan secara manual dengan
saringan ayakan stainless steel 18-20 mesh. Produk dikemas dalam karung propilien
dua lapis berat-nya 50 kg/karung. Gula semut hasil olahan dengan karakteristik: kadar
air 2.88%, kadar sakarosa 92.02%, cemaran logam Pb kurang dari 0.05 ppm dan
kadar abu 1.35%. Gula semut yang dihasilkan Koperasi Usaha Bersama Mandala
Hariang, memenuhi syarat mutu SNI.

Perbedaan proses pengolahan gula merah cetak dan gula semut adalah sebagai
berikut:

Gula merah cetak

Gula semut

Gambar 3. Perbedaan proses pengolahan gula merah cetak dan gula semut
c Gula kristal
Gula kristal adalah gula aren dalam bentuk butiran menyerupai gula semut, dengan
ukuran butiran mengikuti gula pasir dari nira tebu. Gula kristal dibedakan dari gula semut
dari ukuran kristalnya, yaitu gula kristal tidak dapat melewati ayakan berukuran 20 mesh,
sedangkan gula semut dapat melewati ayakan tersebut. Sebagai gambaran pengolahan gula
kristal yang dilakukan di unit pengolahan gula kristal di Masarang-Tomohon Sulawesi Utara
dilakukan secara mekanis. Pengolahan gula kristal dari nira aren terdiri atas beberapa tahap:
(a) persiapan dan pemekatan nira, (b) pemekatan lanjutan, (c) sentrifugasi masakan gula, d)
pengeringan dan pengepakan gula.
Bahan baku nira aren berasal dari petani aren di wilayah Tomohon dan sekitarnya.
Nira aren mudah mengalami fermentasi secara alami, sehingga untuk keawetan nira agar
tidak men-jadi masam sebelum pengolahan, petani melakukan pemanasan hingga nira
mendidih,kemudian didinginkan. Proses penguapan nira menjadi gula membutuhkan energi
panas yang cukup besar, yang berasal dari energi panas bumi dalam bentuk uap panas dari
Pertamina Lahendong, yang letaknya sekitar unit peng-olahan. Uap panas yang dibutuhkan
yaitu saturated stream sekitar 0,5 ton/jam dengan suhu kurang lebih 107oC pada tekanan 1
kg/cm.

Nira aren yang berasal dari petani dilakukan pemekatan awal (pH nira 6-8) dengan
menggunakan open pan hingga diperoleh larutan nira agak kental berkadar gula 50-60%.
Pemekatan lanjutan menggunakan close open, diperoleh gula yang kering namun saling
lengket antar butiran gula. Proses selanjutnya yaitu butiran gula disentrifus pada unit
sentrifugal, dengan kecepatan 1200 rpm agar terbentuk kristal gula yang agak kering dan
tidak lengket antar butiran. Selanjutnya butiran gula dikeringkan sehingga diperoleh gula
kristal yang memenuhi standar SNI. Pengolahan gula kristal di Masarang Tomohon memiliki
kapasitas produksi sekitar 1 ton/hari, membutuhkan nira aren segar sebanyak 10.000-15.000
l/hari, dengan gula kristal yang diperoleh dikategorikan cukup baik
2. Pengolahan buah menjadi kolang-kaling
Proses pengolahan buah menjadi kolang-kaling membutuhkan waktu kurang lebih
selama satu minggu, dengan proses sebagai berikut:

Gambar 4. Pengolahan buah menjadi kolang-kaling

2.6 Peluang dan Tantangan Pengembangan Aren


2.6.1 Peluang
Tanaman aren dapat dengan mudah beradaptasi pada berbagai tipe tanah yang
diusahakan untuk komoditas pertanian termasuk tanah marginal, selain itu tanaman ini
berfungsiuntuk konservasi tanah dan air. Sebagian besar pertanaman aren belum menerapkan
inovasi teknologi yang ada. Sehingga adanya diseminasi teknologi akan membawa dampak

bukan hanya produktivitas dan pendapatan petani, tetapi berkembangnya diversifikasi hasil
yang memberi kesempatan usaha dan lapangan kerja bagi banyak orang. Ketersediaan
teknologi walaupun belum lengkap telah dilakukan berbagai kegiatan penelitian untuk
menunjang agribisnis aren. Teknologi yang sudah siap pakai meliputi: pemilihan pohon induk
tanaman, pesemaian, pembibitan, budidaya, penyadapan, pengawetan nira, pengolahan gula,
gula semut, gula kristal, pengolahan pati aren dan pembuatan etanol. Cadangan lahan yang
tersedia disetiap provinsi termasuk lahan kritis, padang alang, dll dapat ditanami tanaman
aren. Adanya gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan dapat mempergunakan tanaman
aren untuk program konservasi dan reboisasi.
2.6.2 Tantangan
Masalah utama pengembangan aren : input teknologi sangat minim, managemen
produksi, pengolahan dan pemasaran masih cara tradisional; diseminasi teknologi belum
mencapai sebagian besar petani; dampak negatif produksi aren sebagai minuman keras.
Kesulitan dalam penyediaan benih/bibit unggul. Sampai saat ini belum ada varietas yang
dilepas, benih yang ada diambil dari Blok Penghasil Tinggi (BPT) yang diseleksi
berdasarkan

seleksi

individu terbaik populasi tersebut. Penggunaan tanaman aren dari

kegiatan reboisasi hanya untuk zona penyangga dan kegiatan penghijauan oleh Dinas/Instansi
untuk konservasi tetapi belum memberdayakan petani sehingga tanaman tersebut belum
mempunyai nilai tambah (Ardi, 2004). Kemampuan sumber daya manusia, petugas dan
petani terbatas karena hasil-hasil diseminasi inovasi teknologi dari lembaga- lembaga yang
berkompetensi tidak sampai kepada pemakai/konsumen.(Effendi, 2010)
2.7 Resume Contoh Jurnal Budidaya
Respon Pertumbuhan Bibit Aren (Arenga pinnata Merr) Terhadap Pemberian
Pupuk Organik Cair
Aren merupakan salah satu komoditas yang dimanfaatkan hampir seluruh bagian fisik
maupun dari hasil produksinya. Akar aren dimanfaatkan untuk obat tradisional dan beberapa
peralatan, batang aren dimanfaatan sebagai bahan baku peralatan dan bangunan, daun muda
atau janur tanaman aren dimanfaatkan untuk pembungkus atau pengganti ketras rokok
(kawung) dan niranya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan gula sebagai pengganti
tebu.
Permasalahan yang terjadi pengembangan pada budidaya aren yaitu petani masih
mengandalkan tanaman yang tumbuh secara alami, dimana aren tumbuh bergerombol dengan

jarak yang tidak beraturan sehingga terjadi permborosan lahan, serta belum ada nya dosis
pupuk yang sesuai utuk pembibitan aren. Berdasarkan hal tersebut Manahan dkk. (2014)
melakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian pupuk cair terhadap pertumbuhan bibit
aren.
Penelitian tersebut dilakukan di Areal Universitas Sumatera Utara, Medan dengan
ketinggian tempat 25 m dpl, menggunakan Rangcangan

Acak Kelompok (RAK) non

factorial dengan jenis perlakuan Xo : Kontrol (tanpa pupuk cair organik), A1 : pupuk organik
cair N : < 2%, P2O5 : < 2%, K2O : < 2% (50 cc/bibit), A2: pupuk organik cair N : < 2%,
P2O5 : < 2%, K2O : < 2% (75 cc/bibit), B1 : pupuk organik cair P2O5 : < 2%, K2O : < 2%
(4,5cc/bibit), B2 : pupuk organik cair P2O5 : < 2%, K2O : < 2% (7cc/bibit), C1:pupuk
organik cair N 0,011%, P 6,26mg/100 ml, K 72,13 `mg/100ml, auksin IAA 0,066 g/l,
giberelin GA3 0,093 g/l (6cc/bibit), C2 : pupuk organic cair N 0,011%, P 6,26mg/100 ml, K
72,13mg/100ml, auksin IAA 0,066 g/l, giberelin GA3 0,093 g/l (8,5cc/bibit). Perlakuan
diulangan sebanyak 4 kali.
Pengaplikasian pupuk dilakukan sesuai dosis masing-masing perlakuan, dan sesuai
dengan waktu aplikasi masing-masing perlakuan. Untuk aplikasi pupuk A1 dengan dosis 50
cc/bibit di t ambahkan dengan air sebanyak 50 cc dan A2 dengan dosis 75 cc/bibit di
tambahkan dengan air sebanyak 75 cc, pemupukan diaplikasikan sebanyak 2 kali, pemupukan
pertama dilakukan pada 2 MSPT (Minggu Setelah Pindah Tanam) dan diaplikasikan kembali
pada minggu 14 MSPT. Kemudian untuk pupuk B1 dengan dosis 0,50 cc/bibit di tambahkan
dengan air sebanyak 100 cc dan B2 dengan dosis 0,75 cc/bibit di tambahkan dengan air
sebanyak 100 cc. Pemupukan diaplikasikan sebanyak 4 kali, pemupukan pertama dilakukan
pada 2 MSPT, pemupukan kedua dilakukan pada 6 MSPT, pemupukan ketiga dilakukan pada
10 MSPT, dan pemupukan ke empat dilakukan pada 14 MSPT. Kemudian untuk pupuk C1
dengan dosis 0,60 cc/bibit di tambahkan dengan air sebanyak 100 cc dan C2 dengan dosis
0,90 cc/bibit di tambahkan dengan air sebanyak 100 cc. Pemupukan diaplikasikan sebanyak
empat kali, pemupukan pertama dilakukan pada 2 MSPT, pemupukan kedua dilakukan pada 6
MSPT, pemupukan ketiga dilakukan pada 10 MSPT, dan pemupukan ke empat dilakukan
pada 14 MSPT. Pemupukan di aplikasikan dengan cara menyemprotkan ke seluruh bagian
tanaman dengan menggunakan handsprayer dan pengaplikasian pupuk di lakukan pada waktu
pagi hari. Sedangkan Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan
insektisida Matador 25 EC dan fungisida Dithane M-45 dengan konsentrasi 2 gr/l air.
Aplikasi dilakukan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Berikut ini merupakan hasil percobaan perlakuakn pupuk organic cair yang dilakukan
pada tanaman aren dengan parameter yang diamati adalah pertambahan tinggi bibit (cm),
pertambahan jumlah daun (helai), Pertambahan diameter batang (mm), total luas daun (cm2),
berat basah tajuk (g), berat basah akar (g), berat kering tajuk (g), berat kering akar (g).
Tabel 1. Rataan tinggi bibit umur 0-16 MSPT pada perlakuan pupuk organic cair (cm)

Pada gambar tersebut terlihat bahwa perlakuan pupuk organic cair tidak memiliki
pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman aren. Kondisi tersebut disebabkan oleh
factor lain seperti genetic, unsur hara, sinar matahari, kelembaban dan lainnya. Pupuk organic
memiliki sifat yang diperlukan dalam jumlah sangat banyak sehingga pada dosis ini belum
dapat terlihat optimal, selain itu pupuk organic tidak dapat berpengaruh langsung terhadap
tanaman aren, karena jenis tanaman aren yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis
tanaman aren dipanen pada umur 25 tahun.

Tabel 2. Rataan jumlah daun umur 0-16 MSPT pada perlakuan pupuk organic cair (helai)

Dari hasil analisis statistik dalam parameter jumlah daun belum memiliki pengaruh
nyata terhadap perlakuan yang digunakan, diduga disebabkan oleh pengaruh suhu udara yang
tinggi sehingga stomata pada daun menutup dan pupuk cair yang diberikan tidak dapat
terserap kedalam daun. Stomata berfungsi untuk mengatur penguapan air dari tanaman
sehingga aliran air dari akar dapat sampai kedaun. Saat suhu udara terlalu panas, stomata
akan menutup sehingga tanaman tidak akan mengalami kekeringan. Selain itu juga
menyemprot pada suhu tinggi akan menyebabkan kerusakan pada daun.
Tabel 3. Rataan total luas daun pada perlakuan pupuk organik cair (cm2)

Tidak terlihat pengaruh nyata dari perlakuan pupuk organic cair terhadap luas daun.
Tabel 4. Rataan berat basah tajuk pada perlakuan pupuk organik cair (g)

Berdasarkan gambar diatas tidak terlihat pengaruh nyata terhadap perlakuan yang
diberikan.
Tabel 5. Rataan berat basah akar pada perlakuan pupuk organik cair (g)

Tidak terlihat pengaruh nyata terhadap Rataan berat basah akar pada perlakuan pupuk
organik cair.
Tabel 6. Rataan berat kering tajuk pada perlakuan pupuk organik cair (g)

Berdasarkan gambar 6. diketahui bahwa berat kering tajuk dengan pemberian pupuk
organik cair yang tertinggi yaitu pada perlakuan C2 (10,21) belum berpengaruh nyata dengan
perlakuan lainnya.
Tabel 7. Rataan berat kering akar pada perlakuan pupuk organik cair (g)

Berdasarkan Gambar 7. diketahui bahwa berat kering akar dengan pemberian pupuk
organik cair yang tertinggi yaitu pada perlakuan A2 (1,82) belum berpengaruh nyata dengan
perlakuan lainnya.
Tabel 8. Rataan diameter batang umur 0 16 MSPT pada perlakuan pupuk organik cair (mm)

Dari hasil statistic menunjukan bahwa perlakuan pupuk organic cair berpengaruh
nyata terhadap parameter diameter batang umur 2, 4, dan 6 MSPT. Haltersebut dikarenakan
jenis tanah yang digunakan mendukung untuk pertumbuhan tanaman, terutama akar yang
mana hal tersebut akan mempengaruhi pada diameter batang.
Hasil percobaan menunjukan pupuk organic cair belum berpengaruh nyata terhadap
parameter tinggi bibit tanaman, jumlah daun, luas daun, berat basah akar, berat basah kering
tajuk, dan berat kering akar, namun berpengaruh nyata pada parameter diameter batang umur
2,4,dan 6 MST. Tanaman aren merupakan tanaman tahunan yang pengaruh dari setiap
perlakuan pupuk, zat pengatur tumbuh, media tanam dan lain-lain pengaruhnya akan dapat
dilihat dalam jangka waktu yang panjang. Jadi, pengaruh pemberian pupuk organik cair
diduga belum nampak pada pertumbuhan bibit aren.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Produksi pemanis dalam negeri harus ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan
masyarakat dan menekan impor. Selain mengandalkan produksi tanaman tebu sebagai
penghasil bahan pemanis utama, perlu dilakukan pengembangan bahan pemanis alternatif,
yakni tanaman aren (Arenga pinnata Merr).
Tanaman aren ( Arenga pinnata ) dapat menghasilkan nira aren dapat diolah menjadi
gula aren. Kandungan pati dalam nira aren bervariasi dari 0.25 - 0.5 g/g empulur. Gula aren
mengandung beberapa unsur kandungan senyawa seperti vitamin B kompleks, glukosa,
garam mineral dan yang paling utama memiliki kadar kalori yang cukup tinggi diselingi
dengan kadar glisemik gula terendah yakni 35 GI (Indeks Glisemik). Gula aren aman
dikonsumsi oleh penderita diabetes. Gula aren dapat digunakan dalam berbagai hidangan
makanan atau minuman dengan mencampurkan gula aren sebagai pengganti gula tebu atau
gula pasir.
Hampir semua bagian dari pohon aren dapat dimanfaatkan. Bagian-bagian yang dapat
dimanfaatkan tersebut antara lain ialah ijuk, buah, daun, nira dan batang yang menghasilkan
tepung. Tanaman aren dapat dikembangkan menjadi tanaman konservasi karena sifat
perakaran yang dalam 10-30 m dan daya cengkeraman yang kuat, dapat tumbuh dengan baik
pada ketinggian 0 - 1.400 m dpl, di daerah pegunungan, lembah- lembah, dekat aliran sungai
dan mata air, secara alami banyak ditemukan di daerah hutan.
Tanaman aren dapat dengan mudah beradaptasi pada berbagai tipe tanah yang
diusahakan untuk komoditas pertanian termasuk tanah marginal, selain itu tanaman ini
berfungsi untuk konservasi tanah dan air. Namun masih terdapat masalah dalam
pengembangan tanaman aren yakni input teknologi sangat minim, managemen produksi,

pengolahan dan pemasaran masih cara tradisional; diseminasi teknologi belum mencapai
sebagian besar petani; dampak negatif produksi aren sebagai minuman keras. Kesulitan
dalam penyediaan benih/bibit unggul.

DAFTAR PUSTAKA
BPS. (2014). Statitiska tebu 2014. Bps, XXXIII(2), 8187. https://doi.org/10.1007/s13398014-0173-7.2
Effendi, D.S. 2010. Prospek Pengembangan Tanaman Aren ( Arenga pinnata Merr )
Mendukung Kebutuhan Bioetanol di Indonesia. Perspektif 9(1): 3646Available at
http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/wpcontent/uploads/2010/11/perkebunan_persp
ektif_9-1-2010-N4-dedi-SE-_Aren_.pdf. Diakses pada 22 November 2016.
Lasut, M.T. 2012. BUDIDAYA YANG BAIK AREN ( Arenga pinnata ( Wurmb ) Merr .).
Available

at

https://seafast.ipb.ac.id/tpc-project/wp-content/uploads/2014/02/GAP-

Aren.pdf. Diakses pada 22 November 2016.


Lempang, M. (2012). Pohon Aren dan Manfaat Produksinya. Info Teknis EBONI, 9(1), 3754.
Lutony, T.L., 1993. Tanaman Sumber Pemanis. P.T Penebar Swadaya, Jakarta.
Maliangkay, R.B., D. Allorerung dan M. Polnaya. 2000. Pengaruh Pupuk Organik dan An
Organik Terhadap Pertumbuhan Bigit Aren. Buletin Palma No. 26. Balitka Manado.
Manahan., Putri, L.A.P., Husni, Y. 2014. Respons Pertumbuhan Bibit Aren (Arenga pinnata
Merr) Terhadap Pemberian Pupuk Organik Cair. Jurnal Online Agroteknologi. ISSN
Vol. 2(2):460-471.
Manatar, J. E., Pontoh, J., & Runtuwene, M. J. (2012). ANALYSIS OF STARCH CONTENT
IN STALK PALM SUGAR PLANT ( Arenga pinnata ). Jurnal Ilmiah Sains, 12, 8992.
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 133 tahun 2013 tentang Pedoman Budidaya Aren
(Arenga pinnata Merr) Yang Baik. No.17 tahun 2014.

Sapari, A., 1994. Teknik Pembuatan Gula Aren. Karya Anda, Surabaya.
Tamrin, Y. (2013). STUDI PEMANFAATAN POHON AREN (Arenga pinnata Merr), (3), 1
11.