Anda di halaman 1dari 9

PANDUAN PRAKTIKUM HISTOLOGI MODUL 2.

2 LOKOMOTOR DAN SISTEM SARAF


PERIFER
OTOT DAN TULANG
1. OTOT
Otot terdiri atas sel yang berfungsi untuk menghasilkan gerakan dalam
organ tertentu dan tubuh secara keseluruhan. Terdiri atas 3 jenis jaringan otot
yaitu otot rangka, otot polos dan otot jantung ( gambar 1). Praktikum histologi
di modul ini akan membahas mengenai otot rangka dan otot polos,
sedangkan otot jantung akan dibahas di modul kardiovaskular.
Serabut otot rangka berupa sel multinuklear berbentuk silindris dan
sangat panjang, memiliki garis garis melintang dengan diameter 10-100m.
Inti banyak terbentuk karena peleburan sel mesenkimal embrional atau
mioblas (gambar 2). Inti sel umumnya terletak di tepi dekat dengan
sarkolemma. Kontraksi otot rangka umumnya cepat, kuat dan volunter.
Otot polos terdiri atas kumpulan sel yang meruncing di kedua
ujungnya (fusiform) dan tidak bergaris. Kontraksi otot ini bersifat involunter
dan lambat . Otot jantung juga memiliki garis melintang dan tersusun atas sel
panjang dan bercabang yang paralel, kontraksinya bersifat involunter dan
ritmis.
a. Otot Rangka
Otot tersusun atas kumpulan berkas serabut otot dengan panjang 2,5 m,
diselubungi jaringan ikat padat disebut epimisium. Berkas serabut yang
menyusun otot disebut fasciculus dan diselubungi selapis halus jaringan ikat
disebut perimisium. Sedangkan serabut otot yang menyusun fasciculus
diselubungi oleh lapisan halus jaringan ikat berupa lamina basalis yang
tersusun atas serabut multinuklear dan retikular. Jaringan ikat ini berperan
penting dalam meneruskan kontraksi otot dan vaskularisasi otot. Endomisium
menjadi tempat penetrasi dan jejaring kapiler (gambar 3a dan 3b) .
Komponen jaringan ikat epimisium menyambung langsung dengan tendon
melalui taut miotendinosa dimana serat kolagen tendon menyusup diantara
serabut otot dan berhubungan dengan lipatan kompleks sarkolemma (gambar
4).

Gambar 1. Otot rangka dan otot polos

Gambar 2. Pembentukan serabut otot dari kumpulan mioblas hingga


membentuk sel multinuklear.

Gambar 3a. Struktural otot

Gambar 3b. Lapisan jaringan ikat otot rangka potongan melintang

Gambar 3. Taut miotendineal, antara tendon (T) dan serabut otot (M),
tampak serat kolagen menyusup diantara serabut otot
Otot rangka disebut juga otot lurik, disebabkan garis melintang
berwarna gelap dan terang secara bergantian pada serabut otot seperti
tampak pada gambar 1. Garis gelap disebut pita A yang bersifat

birefringen/anisotrop, membiaskan cahaya sehingga pita A tampak gelap.


Garis terang disebut pita I yang bersifat isotrop, tidak membiaskan cahaya
sehingga tampak terang. Setiap pita I terbagi dua oleh garis melintang yang
disebut garis Z, sedangkan setiap pita A memiliki zona pucat di tengahnya
disebut zona H. Bagian tengah zona H terdapat garis M.
Pola garis ini disebabkan susunan miofilamen tebal dan tipis yang paralel
terhadap sumbu panjang miofibril. Miofibril merupakan organel kontraktil otot
skelet, tersusun atas protein berupa filamen atau miofilamen. Ada 3 macam
miofilamen, protein kontraktil: aktin dan miosin yang berfungsi dalam
kontraksi otot; protein regulator: tropomiosin dan troponin yang berfungsi
dalam regulasi kontraksi otot; protein struktural: titin yang berfungsi dalam
pengaturan posisi, stabilitas, elastisitas dan ekstensibilitas miofibril.
Miofilamen tersusun atas sarkomer, yang merupakan unit fungsional otot
mulai dari garis Z ke garis Z berikutnya.
Pita A tersusun atas filamen tebal dengan sedikit bagian filamen tipis yang
bertumpuk, zona H yang berada di tengah pita A tersusun atas miosin tanpa
adanya filamen tipis sehingga cahaya dibiaskan dan tampaklah zona H
sebagai area pucat. Garis M yang berada di tengah zona H merupakan
tempat miomesin yaitu protein pengikat miosin. Miomesin juga sebagai
tempat kreatin kinase yang mengkatalisis perubahan ADP menjadi ATP.
Sedangkan pita I merupakan filamen tipis aktin. Aktin juga terkait dengan
tropomiosin berupa polimer halus panjang yang terletak diantara dua untai
aktin yang terpilin. Pada tropomiosin melekat protein troponin yang
menghambat perlekatan aktin dan miosin. Garis Z yang berada di tengah pita
I merupakan perlekatan filamen tipis sehingga tampak lebih gelap dibanding
sekitarnya.

Gambar 4. Struktural sarkomer dan filamennya


Otot memiliki retikulum endoplasma halus yang disebut retikulum
sarkoplasma. Organel ini khusus untuk sekuestrasi ion kalsium yang berperan
pada kontraksi otot. Sedangkan untuk penyebaran kontraksi otot di perankan
oleh tubulus Transversus atau tubulus T. Tubulus ini merupakan invaginasi
membran sel atau sarkolemma yang membentuk anastomosis di sekitar
perbatasan pita A-I di setiap sarkomer dengan retikulum sarkoplasma melalui
bagian melebar retikulum yang disebut sisterna terminal.
Kontraksi otot dimulai dari pelepasan neurotransmitter di neuromuscular
junction, motor end plate hingga pelepasan ion kalsium dari sisterna terminal
ke retikulum sarkoplasma yang pada akhirnya memicu perlekatan dan
pergeseran aktin-miosin.

Gambar 5. Organel sel otot


Kontraksi otot bermula dari neuromuscular junction atau motor end plate,
struktur ini merupakan tempat perlekatan serabut saraf motorik dengan
serabut otot. Disini akson bermielin dengan banyak mitokondria dan vesikel
sinaps yang mengandung asetilkolin. Satu akson motorik dapat mempersarafi
hingga banyak serabut otot dan disebut unit motorik.
Otot juga memiliki inervasi sensorik yaitu muscle spindle dan organ
tendon/golgi yang telah dibahas pada modul neurosains. Dimana, muscle
spindle berjalan paralel dengan serabut otot dan berfungsi dalam permulaan
muscle stretch reflex dan proprioseptif. Sehingga muscle spindle berperan
penting dalam menjaga postur tubuh. Sedangkan organ Golgi berjalan
melintang terhadap serabut otot, berperan dalam inhibisi stretct reflex yang
berlebihan, sehingga ia berperan dalam mengatur gerakan halus.
Serabut otot rangka berasal mioblas, namun berdasarkan morfologis histo
dan biokimiawi, serabut otot rangka di klasifikasikan atas:
i.

Serabut tipe I/ serabut oksidatif


Serabut ini berwarna kemerahan karena kaya akan mioglobin dan
mitokondria. Mioglobin sama fungsinya seperti hemoglobin pada
darah, sehingga serabut ini sangat bergantung pada metabolisme

aerobik namun dapat berkontraksi kontinu lambat dengan durasi


ii.

panjang
Serabut tipe IIa/serabut glikolitik oksidatif intermedia
Serabut ini kaya mitokondria dan mioglobin namun metabolismenya
selain aerob juga mengandalkan glikolisis anaerob. Serabut ini

iii.

beradaptasi sesuai kontraksi cepat dan lonjakan singkat aktivitas.


Serabut tipe Iib/ serabut glikolitik
Memiliki paling sedikit mioglobin dan mitokondria dan berwarna
paling pucat. Serabut ini mengandalkan glikolisis anaerob dan
beradaptasi untuk kontraksi cepat dan singkat

b. Otot Polos
Terdiri atas sel panjang yang runcing tanpa garis lurik dengan inti tunggal
di tengah serabut, tiap serabut dibungkus lamina basalis dan serabut
retikular halus. Keberadaan serabut retikular ini berfungsi untuk membantu
koordinasi gerakan ritmis otot polos. Sel otot polos tersusun rapat saling
berhimpitan dengan panjang hingga 10x lipat serabut otot rangka, berkisar
antara 20m pada pembuluh darah hingga 500 m pada uterus gravid.
Berbeda dengan otot rangka, otot polos memiliki sisterna retikulum
endoplasma kasar, sedangkan retikulum sarkoplasma biasanya rudimenter
dan tidak memiliki tubulus T. Kontraktilitas otot polos bergantung pada
struktur miofilamen. Miofilamen pada otot polos berjalan oblik dan
membentuk jalinan seperti kisi kisi. Sama seperti otot rangka, otot polos juga
memiliki filamen tebal yang tersusun atas miosin dan filamen tipis yang
tersusun atas aktin. Selain itu ada kalmodulin sebagai protein regulator,
desmin dan vimentin filamen intermedia yang berperan meneruskan
kontraktilitas otot.
Sama seperti otot rangka, kontraksi otot polos diawali dengan ion kalsium,
namun ikatannya dengan kalmodulin mengaktifkan enzim kinase, myosin
light chain kinase. Aktivasi enzim ini dipengaruhi sejumlah hormon dan
berkaitan erat dengan sistim saraf otonom. Kontraktilitas otot ini involunter ,
dipersarafi adrenergik dan kolinergik yang bekerja bersama. Otot polos dapat
bekerja sebagai multi unit, yaitu tiap sel memiliki inervasi dan berkontraksi
terpisah contoh pada ganglia ciliaris. Atau sebagai satu kesatuan/ unitary
smooth muscle dengan sedikit inervasi namun kontraktilitas diteruskan oleh
gap junction contoh pada traktus digestivus.

Gambar 6. Serabut otot polos saluran cerna, potongan melintang (OL) dan
potongan memanjang (IC), tampak serabut tersusun rapat memanjang
dengan inti tunggal di tengah serabut (tanda panah)