Anda di halaman 1dari 18

Case Report Session Rotasi II

OSTEOARTHRITIS

Oleh :
Nurul Aini Yudita

1110311001

Preseptor :
dr. Gardenia Akhyar, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PUSKESMAS ALAI PADANG
2016

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
Osteoarthritis adalah penyakit degenerative yang ditandai dengan
penipisan rawan sendi, pembentukan tulang baru subkondral dan osteofit.
Penyakit ini meyerang sendi terutama pada pergelangan kaki, lutut dan panggul.
Orang yang terserang osteoarthritis biasanya susah menggerakkan sendi-sendinya
dan pergerakannya menjadi terbatas karena turunnya fungsi tulang rawan untuk
menopang

badan.

Hal

ini

dapat

mengganggu

produktifias

seseorang.

Osteoarthritis tidak hanya menyerang orang tua, tapi juga bisa menyerang orang
yang muda dan berdasarkan penelitian, kebanyakan orang yang terkena
osteoarthritis adalah wanita1,2,3.
1.2 Epidemiologi
Osteoartritis merupakan penyakit tersering yang menyebabkan timbulnya
nyeri dan disabilitas (hambatan) gerakan pada populasi usia lanjut. OA merupakan
kelainan yang mengenai berbagai ras dan kedua jenis kelamin. Pria dan wanita
memiliki kesempatan yang sama untuk terkena OA, namun pada wanita biasanya
sendi yang terkena lebih banyak. Seiring dengan bertambahnya usia, insidens OA
juga semakin bertambah. Diperkirakan sekitar 1 sampai 2 juta penduduk
Indonesia menderita OA. OA dapat menyerang semua sendi, namun predileksi
yang tersering adalah pada sendi-sendi yang menanggung beban berat badan
seperti panggul, lutut, dan sendi tulang belakang bagian lumbal bawah.

1.3 Faktor Resiko

Tidak ada bakteri atau virus yang menyebabkan osteoarthritis. Adapun


faktor risiko dari osteoarthritis adalah1:
1. Adanya peradangan kronis pada persendian
ditandai dengan pembengkakan pada jari-jari tangan, siku, dan lutut. Biasanya
daereah yang mengalami pembengkakan, berwarna kemerah-merahan
2. Pernah mengalami trauma dan radang pada sendi. Terutma patah tulang yang
mengenai permukaan sendi.
3. Faktor usia
Kebanyakan orang yang terkena osteoarthritis adalah orang dengan usia diatas
50 tahun.
4. Keturunan/riwayat OA pada keluarga
Ada beberapa orang yang mengalami osteoarthritis karena faktor keturunan.
Pada ibu dengan OA, anak perempuannya memiliki kemungkinan 3 kali
terkena OA dibandungkan anak perempuan dari ibu tanpa OA.
5. Berat badan yang berlebihan
Berat badan yang berlebihan, dapat memberatkan sendi dalam menopang
tubuh.
6. Stres pada sendi
Biasanya stres pada sendi ini terjadi pada olahragawan.
1.4 Etiopatogenesis
Berdasarkan patogenesisnya OA dibagi dua menjadi OA primer dan OA
sekunder. OA primer adalah OA idiopatik. OA sekunder didasari dengan adanya
kelainan seperti endokrin, inflamasi, metabolik, herediter, jejas mikro dan makro
serta imobilisasi yang terlalu lama.

Beberapa pakar berpendapat bahwa OA ternyata merupakan penyakit


gangguan homeostasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur
proteoglikan kartilago yang penyebabnya belum diketahui. Jejas mekanis dan
kimia pada sendi yang terjadi multifaktorial antara lain karena faktor umur, defek
anatomik, stress mekanis atau penggunaan sendi berlebihan, obesitas dan genetik.
Jejas mekanis dan kimiawi ini yang diduga merangsang terbentuknya molekul
abnormal dan degradasi kartilago di cairan sinovial sendi yang mengakibatkan
inflamasi pada sendi. Pada rawan sendi pasien OA juga mengalami peningkatan
aktivitas fibrinogenetik dan penurunan fibrinolysis. Proses ini mengakibatkan
penumpukan trombus dan komplek lipid pada pembuluh darah subkondral yang
mengakibatkan terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan subkhondral tersebut. Ini
mengakibatkan dilepaskannya prostaglandin dan interleukin yang menimbulkan
bone angina lewat subkhondaral yang diketahui mengandung saraf sensible yang
menghantarkan rasa sakit. Sakit juga diakibatkan oleh adanya osteofit yang
menekan periosteum dan radiks sarafa yang berasal dari medulla spinalis serta
kenaikan tekanan vena intrameduller akibat stasis vena.
1.5 Gejala dan Tanda
Predileksi

sendi

yang

terkena

OA

yaitu

carpometacarphal

1,

metatarsophalangeal, 1, lutut dan paha. Biasanya, osteoarthritis terjadi secara


perlahan, dimulai dari rasa sakit pada sendi setelah melakukan aktivitas, seperti
olahraga, kemudian lama-kelamaan akan terasa lebih sakit dan kaku. Nyeri
merupakan keluhan utama tersering dari pasien-pasien dengan OA yang
ditimbulkan oleh kelainan seperti tulang, membran sinovial, kapsul fibrosa, dan
spasme otot-otot di sekeliling sendi. Nyeri awalnya tumpul kemudian semakin

berat, hilang timbul, dan diperberat oleh aktivitas gerak sendi. Nyeri biasanya
menghilang dengan istirahat. Kekakuan pada kapsul sendi dapat menyebabkan
kontraktur (tertariknya) sendi dan menyebabkan terbatasnya gerakan. Penderita
akan merasakan gerakan sendi tidak licin yang disertai bunyi gemeretak
(krepitus). Sendi terasa lebih kaku setelah istirahat. Perlahan-lahan sendi akan
bertambah kaku. Sendi akan terlihat membengkak karena adanya penumpukan
cairan di dalam sendi. Pembengkakan ini terlihat lebih menonjol karena
pengecilan otot sekitarnya yang diakibatkan karena otot menjadi jarang
digunakan.
Gejala pada tangan: jari-jari membesar, terasa sakit, kaku bahkan mati
rasa. Gejala pada lutut yaitu lutut terasa sakit dan kaku. Susah digunakan untuk
berjalan dan dapat menyebabkan cacat. Pada panggul, panggul terasa sakit dan
kaku pada kunci paha dan dapat membatasi pergerakan. Pada punggung/tulang
belakang, terasa sakit dan kaku pada leher.
1.6 Diagnosis
Anamnesis
Tanyakan gejala dan tanda yang disebutkan di atas.
Pemeriksaan fisik
Pada penderita osteoarthritis, pemeriksaan fisik ini dilakukan dengan :
-

Memeriksa hambatan gerakan


Krepitasi
Tanda-tanda peradangan
Perubahan bentuk
Perubahan gaya berjalan

Pemeriksaan Penunjang

1. X ray
Xray untuk mengetahui sejauh mana sendi mengalami kerusakan. X ray dapat
memperlihatkan rusaknya tulang, penyempitan rongga sendi, pembentukan
osteofit (tonjolan-tonjolan kecil pada tulang), perubahan bentuk sendi, dan
destruksi tulang.
2. Pemeriksaan cairan sendi pada OA disertai peradangan terjadi peningkatan
ringan sel peradangan <8000mm3 dan peningkatan protein.
3. Pemeriksaan artroskopi dapat memperlihatkan destruksi tulang rawan sebelum
tampak di foto polos.
1.7 Tatalaksana
Penatalaksanaan Non Farmakologi
Ada beberapa cara dalam penanganan osteoarthritis non farmakologi,
diantaranya2,3:
1. Olahraga
Olahraga dapat mengurangi rasa sakit dan dapat membantu mengontrol barat
badan.
Olahraga untuk osteoarthritis misalnya berenang dan jogging.
2. Menjaga sendi
Menggunakan sendi dengan hati-hati dapat menghindari kelebihan stres pada
sendi.
3. Panas/dingin
Panas didapat, misalnya dengan mandi air panas. Panas dapat mengurangi rasa
sakit pada sendi dan melancarkan peredaran darah. Dingin dapat mengurangi
pembengkakan pada sendi dan mengurangi rasa sakit. Dapat didapat dengan
mengompres daerah yang sakit dengan air dingin.

4. Pembedahan
Apabila sendi sudah benar-benar rusak dan rasa sakit sudah terlalu kuat, akan
dilakukan pembedahan. Dengan pembedahan, dapat memperbaiki bagian dari
tulang
5. Vitamin D,C, E, dan beta karotin
Untuk mengurangi laju perkembangan osteoarthritis.
Terapi Farmakologi
Semua obat memiliki efek samping yang berbeda, oleh karena itu, penting
bagi pasien untuk membicarakan dengan dokter untuk mengetahui obat mana
yang paling cocok untuk di konsumsi. Berikut adalah beberapa obat pengontrol
rasa sakit untuk penderita osteoarthritis2, 3, 4, 5:
1. Acetaminophen
Merupakan obat pertama yang di rekomendasikan oleh dokter karena relatif
aman dan efektif untuk mengurangi rasa sakit.
2. NSAIDs (nonsteroidal anti inflammatory drugs)
Dapat mengatasi rasa sakit dan peradangan pada sendi. Mempunyai efek
samping, yaitu menyebabkan sakit perut dan gangguan fungsi ginjal.
3. Topical pain
Dalam bentuk cream atau spray yang bisa digunakan langsung pada kulit yang
terasa sakit.

4. Chondroprotective agent

Adalah obat-obatan yang dapat menjaga dan merangsang perbaikan tulang


rawan sendi pada pasien OA. Sebagian peneliti menggolongkan obat tersebut
dalam Diseases Modifying Anti Osteoarthritis Drugs (DMAODs). Yang
termasuk golongan ini adalah tetrasiklin, asam hialuronat, glikosaminoglikan,
vitamin c, superoxide desmutase.
5.

Steriod intraartikuler
Kejadian inflamasi kadang terjadi pada pasien OA oleh karena ini

kortikosteroid mampu mengurangi rasa sakit walaupun hanya dalam waktu


singkat.
Terapi Bedah
Terapi bedah dilakukan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk
mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi
deformitas yang mengggangu aktivitas sehair-hari.
1.8 Pencegahan
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar kita terhindar dari
osteoarthritis1:
1. Menghindari olahraga yang bisa meyebabkan sendi terluka
2. Mengontrol berat badan agar berat yang ditopang oleh sendi menjadi ringan
3. Minum obat untuk mencegah osteoarthritis

BAB II
LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur
: Ny. M/perempuan/67 tahun
b. Pekerjaan/Pendidikan
: Ibu Rumah Tangga/ SD
c. Alamat
: Parak Kopi
2. Latar Belakang Sosial-Ekonomi-Demografi-Lingkungan Keluarga
a. Status Perkawinan
: Menikah
b. Jumlah anak
: 5 orang
c. Status ekonomi keluarga : Mampu
d. KB
: Tidak ada
e. Kondisi Rumah
:
Rumah permanen, terdiri dari 3 kamar tidur, lantai keramik
Pekarangan cukup luas
Listrik ada
Sumber air: PDAM, air minum: galon isi ulang
Jamban ada 1 buah, di dalam rumah
Sampah dibuang ke tempat pembuangan sementara dan diambil
oleh petugas setiap hari
Kesan : hygiene dan sanitasi baik.
3. Kondisi lingkungan keluarga
Pasien tinggal bersama suami, anak perempuannya dan menantu
serta dua orang cucu.
Pasien tinggal di lingkungan perkotaan yang cukup padat
penduduk.
4. Aspek psikologis keluarga
Hubungan pasien dengan anggota keluarga lain baik.
Faktor stress dalam keluarga tidak ada.
5. Keluhan Utama
Nyeri pada lutut kanan yang hilang timbul sejak 1 hari yang lalu.
6. Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri pada lutut kanan yang hilang timbul sejak 1 hari yang lalu.
Nyeri terutama dirasakan setelah pasien beraktivitas seperti
menaiki tangga atau setelah pulang shalat dari masjid. Nyeri
berlangsung selama 30 menit, tidak menjalar, dan berkurang
dengan istirahat.

Selain nyeri, pasien juga sering merasa kaku terutama pada pagi
hari kira-kira selama 5 menit dan hilang saat pasien sudah

menggerak-gerakkan lutut kanannya.


Nyeri pada lutut kanan sudah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu.
Merah dan panas pada sendi yang nyeri tidak ada.
Riwayat kesemutan pada kaki tidak ada.
Demam tidak ada.
Riwayat penurunan berat badan tidak ada.
Pasien berjalan kaki ke mesjid untuk shalat berjamaah setiap

harinya.
7. Riwayat Penyakit Dahulu/Penyakit Keluarga
Pasien sudah mengalami penyakit seperti ini selama 1 tahun
terakhir, hilang timbul, dan pasien sudah mendapatkan pengobatan
sebelumnya untuk penyakitnya ini.
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit yang
sama seperti pasien.
Riwayat penyakit diabetes mellitus, hipertensi, dan ginjal tidak
ada.
Riwayat sakit maag tidak ada.
8. Pemeriksaan fisik
Status Generalis
Keadaan umum
: Sakit sedang
Kesadaran
: Komposmentis Kooperatif
Nadi
: 84 kali/menit
Nafas
: 20 kali/menit
Tekanan darah
:120/70 mmHg
Suhu
: afebris
BB
: 54 kg
TB
: 160 cm
Status gizi
: Baik, BMI: 21,09
Mata
Thoraks
Paru
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Jantung

: Simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis


: Fremitus kiri dan kanan normal
: Sonor
: Suara nafas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing-/-

Inspeksi
: Iktus tidak terlihat
Palpasi
: Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi
: Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi
: Bunyi jantung murni, bising tidak ada
Abdomen
Inspeksi : Perut tidak tampak membuncit
Palpasi
: Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Anggota gerak:
Refleks fisiologis ++/++, refleks patologis -/-, edema -/-, hipotrofi
-/Tungkai kanan (lutut): pergerakan terbatas, nyeri tekan (+),
krepitasi (+), bengkak (-), kemerahan (-), panas (-)
Tungkai kiri
: dalam batas normal
Jari-jari tangan dan kaki dalam batas normal.
9. Laboratorium
Asam urat : 3,8 mg/dL
10. Pemeriksaan Anjuran
Rontgen genu dekstra AP-lateral
Pemeriksaan Rheumatoid factor
11. Diagnosis kerja
Osteoarthritis genu dekstra
12. Diagnosis banding
Rheumatoid arthritis
13. Manajemen
Preventif :
Menjaga berat badan agar tetap ideal dan menghindari berat badan
yang berlebihan, karena berat badan yang berlebih dapat
memperburuk penyakit.
Berhati-hati agar tidak terjatuh, karena cedera dapat memperburuk
penyakit.
Menghindari aktivitas fisik yang berlebihan dalam kegiatan seharihari seperti tidak menaiki tangga.
Promotif :
Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai penyakitnya,
yaitu osteoarthritis yang disebabkan oleh proses penuaan di mana

10

terjadi kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan


berhubungan dengan usia lanjut, terutama pada sendi besar yang
menanggung beban tubuh.
Mengedukasi keluarga pasien agar lingkungan sekitar pasien dijaga
untuk melindungi pasien dari cedera, misalnya kerapian rumah dan
lantai supaya tidak licin.
Jelaskan kepada pasien untuk mengistirahatkan dan menghindari
aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit.
Memberitahu pasien dan keluarga bahwa sendi yang sakit dapat
dikompres dengan air hangat, di mana kompres air hangat dapat
mengurangi rasa sakit pada sendi.
Mengedukasi keluarga pasien untuk memberi motivasi kepada
pasien, misalnya untuk membantu pasien dalam melakukan
aktivitas sehari-hari dan memberi pasien dorongan untuk berobat.
Kuratif :
Ibuprofen tablet 200 mg diminum 2 x 1 tablet sehari.
Bioneuron diminum 1 x 1 tablet sehari.
Ranitidin tablet 150 mg diminum 2 x 1 tablet sehari.
Rehabilitatif :
Kontrol teratur ke Puskesmas, datang kembali ke Puskesmas jika
obat telah habis namun lutut masih nyeri.
Istirahat yang cukup 6 jam per hari dan kurangi aktivitas yang
Dinas Kesehatan Kodya Padang
Puskesmas Alai
berlebihan pada sendi yang sakit.
Dokter
: dr. N
Tanggal
: 16 November 2016
R/ Ibuprofen tab 400 mg
S 2dd tab I
R/ Bioneuron tab
S 1dd tab I
R/ Ranitidin tab 150 mg
S 2dd tab I

No. X

No. V

No. X

11

Pro
: Ny. M
Umur : 67 tahun

BAB III
DISKUSI

Osteoarthritis (OA) adalah penyakit degenerasi kartilago artikuler yang


berlangsung secara perlahan dan ditandai dengan nyeri sendi, kekakuan dan
keterbatasan gerak yang berkembang secara progresif. Tanda-tanda tersebut
ditemukan pada penderita ini.
Berdasarkan etiologinya, OA diklasifikasikan menjadi dua yaitu OA
primer dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik yaitu OA yang
kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik
maupun proses perubahan lokal pada sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari
oleh adanya kelainan endokrin, trauma, inflamasi, metabolik, pertumbuhan,
herediter, jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama, faktor
mekanik, penyakit deposit kalsium, penyakit tulang dan sendi lainnya, serta
neuropatik endemik. Beberapa faktor risiko yang diketahui berhubungan dengan
penyakit OA, di antaranya : faktor risiko umum yang penting seperti kegemukan,
faktor genetik dan jenis kelamin, serta beberapa faktor risiko lain seperti usia lebih
dari 60 tahun, suku bangsa, cedera sendi, pekerjaan, olahraga, kelainan
pertumbuhan, kepadatan tulang, dan lain-lain. Pada penderita ini, berdasarkan

12

anamnesis riwayat sosialnya, penderita adalah seorang wanita berusia 67 tahun


yang meskipun tidak melakukan pekerjaan yang berat, tetapi dirinya tetap
menjalankan pekerjaan rumah tangga (sebelum sakit), dan pergi berjalan kaki
setiap hari ke mesjid yang notabene banyak menggunakan sendi lutut. Kondisikondisi pada penderita ini merupakan faktor risiko sekunder terjadinya OA. Jadi,
dapat disimpulkan bahwa penyebab OA pada penderita ini bukan termasuk faktor
risiko OA primer.
Penderita datang dengan keluhan nyeri pada lutut kanan yang hilang
timbul sejak 1 hari yang lalu. Nyeri terutama dirasakan setelah pasien beraktivitas
seperti menaiki tangga atau setelah pulang shalat dari masjid. Nyeri berlangsung
selama 30 menit, tidak menjalar, dan berkurang dengan istirahat. Nyeri ini
dialami pasien dalam 1 tahun terakhir dan sudah mendapatkan pengobatan. Nyeri
sendi merupakan keluhan yang umum terjadi pada penyakit reumatik, seperti
artritis gout, OA, keganasan, reumatik septik dan lain sebagainya. Pada penderita
ini, nyeri terlokalisir pada lutut tanpa adanya nyeri pada sendi yang lain, nyeri
bertambah saat melakukan gerakan (seperti berjalan) dan berkurang apabila
beristirahat. Tidak ada demam. Nyeri tidak menetap sepanjang hari. Nyeri seperti
ini biasanya ditemukan pada OA.
Penderita juga mengeluh kaku sendi. Kaku sendi dirasakan penderita pada
pagi hari. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh desakan cairan yang berada di
sekitar jaringan yang mengalami inflamasi (kapsul sendi, sinovial, atau bursa).
Kaku sendi makin nyata pada pagi hari atau setelah istirahat. Setelah digerakgerakkan, cairan akan menyebar dari jaringan yang mengalami inflamasi sehingga
penderita merasa terlepas dari ikatan dan bisa menggerakkan sendinya kembali.

13

Lama kaku sendi pada OA adalah kurang dari 30 menit sedangkan pada
rheumatoid artritis minimal satu jam. Pada penderita ini, kaku sendi juga
dirasakan pada pagi hari selama 30 menit dan menghilang dengan sendirinya
bila penderita menggerakkan kakinya dengan beraktivitas seperti biasa. Hal ini
sesuai untuk mendukung keluhan pada penderita OA.
Pemeriksaan fisik lokalis pada kedua sendi lutut didapatkan : pada
inspeksi tidak didapatkan pembesaran / bengkak pada kedua sendi lutut, tidak ada
perubahan warna kulit. Palpasi pada kedua sendi lutut didapatkan nyeri tekan pada
lutut kanan, sedangkan pada lutut kiri tidak didapatkan adanya nyeri tekan.
Pemeriksaan gerak sendi didapatkan keterbatasan gerak fleksi yaitu hanya dapat
mengerakkan lutut sebesar 60. Hambatan gerak terutama disebabkan oleh adanya
remodelling osteofit, penebalan kapsul, dan juga adanya efusi. Pada auskultasi
sendi lutut penderita ditemukan adanya krepitasi pada lutut kanan, di mana
terdengar suara gemeretak kretek-kretek seperti suara krupuk yang diremukkan.
Gejala ini mungkin disebabkan karena gesekan kedua permukaan tulang sendi
yang irregular pada saat sendi digerakkan ataupun secara pasif dimanipulasi.
Pemeriksaan radiologis rontgen genu dekstra AP-lateral dianjurkan untuk
pasien ini untuk menunjang diagnosis OA. Pada penderita OA didapatkan adanya
gambaran berupa penyempitan sendi dan osteofit pada pinggir sendi. Menipisnya
rawan sendi diawali dengan retak dan terbelahnya permukaan sendi di beberapa
tempat yang kemudian menyatu dan disebut sebagai fibrilasi. Di lain pihak pada
tulang akan terjadi pula perubahan sebagai reaksi tubuh untuk memperbaiki
kerusakan. Perubahan itu adalah penebalan tulang subkondral dan pembentukan
osteofit marginal, disusul kemudian dengan perubahan komposisi molekular dan

14

struktur tulang. Penipisan kartilago sendi akibat proses degeneratif memberi


gambaran penyempitan celah sendi yang tidak simetris pada foto polos radiologi.
Pengelolaan penderita dengan OA bertujuan untuk menghilangkan
keluhan, mengoptimalkan fungsi sendi, mengurangi ketergantungan dan
meningkatkan kualitas hidup, menghambat progresivitas penyakit dan mencegah
komplikasi. Pilar terapi OA : non farmakologis (edukasi, diet/penurunan berat
badan), farmakologis (analgetik topikal ataupun oral), dan pembedahan.
Edukasi sangat penting bagi semua pasien OA. Dua hal yang menjadi
tujuan edukasi adalah bagaimana mengatasi nyeri dan disabilitas. Pemberian
edukasi pada penderita ini sangat penting karena dengan edukasi diharapkan
pengetahuan penderita mengenai penyakit OA menjadi meningkat dan pengobatan
menjadi lebih mudah serta dapat diajak bersama-sama untuk mencegah kerusakan
organ sendi lebih lanjut. Edukasi yang diberikan pada penderita ini yaitu
memberikan pengertian bahwa OA adalah penyakit yang kronik, sehingga perlu
dipahami bahwa mungkin dalam derajat tertentu akan tetap ada rasa nyeri, kaku
dan keterbatasan gerak serta fungsi. Selain itu, agar rasa nyeri dapat berkurang,
maka penderita hendaknya mengurangi aktivitas/pekerjaannya sehingga tidak
terlalu banyak menggunakan sendi lutut dan lebih banyak beristirahat. Penderita
juga disarankan untuk kembali kontrol sehingga dapat diketahui apakah
penyakitnya sudah membaik atau ternyata ada efek samping akibat obat yang
diberikan.
Terapi farmakologis pada penderita OA biasanya bersifat simptomatis.
Pada tahap awal dapat dicoba analgetik sederhana, seperti asetaminofen atau
salisilat. Bila tidak ada perbaikan, dapat diberikan obat anti inflamasi non steroid.

15

Untuk mengurangi keluhan nyeri pada penderita ini, telah diberikan pengobatan
langsung dengan obat anti inflamasi non steroid seperti Ibuprofen dengan dosis
2200 mg tanpa menggunakan obat lini pertama. Hal ini dikarenakan keluhan
yang dialami berulang dan tidak hilang dengan obat analgetik sederhana.
Ibuprofen merupakan obat golongan OAINS COX-1 inhibitor yang non-selektif,
di mana obat ini diberikan pada penderita karena tidak terdapat riwayat pernah
menderita gangguan gastrointestinal. Namun, mengingat usia penderita yang
memang sudah lanjut maka penderita juga diberikan obat pelapis lambung untuk
menjaga kondisi saluran pencernaannya. Di sini, penderita diberikan obat
golongan H2 Blocker (Ranitidin 2 x 150 mg). Setelah dievaluasi beberapa hari,
keluhan nyeri pada lutut kanan penderita berkurang.
Terapi pembedahan diberikan apabila terapi farmakologis dan rehabilitasi
tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi
apabila terjadi deformitas yang menimbulkan gangguan mobilisasi sendi yang
mengganggu aktifitas sehari-hari. Pada penderita ini tidak sampai dilakukan terapi
pembedahan.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim.Osteoarthritis.http://new.merapi.net/index.php?
view=news/116&id=116&PHPSESSID=4ca6439313b991ed97f43906b994. 17
november 2007
2. Anonim. Handout of Health: Osteoarthritis.http://www.niams.nih. gov/Health_
Info/ Osteoarthritis/default.asp. 17 november 2007
3. Anonim.

What

is

Osteoarthritis.

http://www.arthritis.

ca/types%20of

%20arthritis/osteoarthritis/default.asp?s=1.17 november 2007


4. Felson, D.T. 2006. Osteoarthritis of the Knee. NEJM 354: 841-848
5. Lane, N. E. 2007. Osteoarthritis of the Hip. NEJM 357: 1413-14.
6. Setyohadi, Bambang, dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta;
PAPDI.

2004.

17