Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA

DAN SEMISOLIDA
PEMBUATAN SEDIAAN SALEP TETRASIKLIN HCl
DISUSUN OLEH:
Syafira Nur H.

142210101001

Fitri Valentina S.

142210101003

Yogi Prabawasari

142210101005

Yuliana Ayu P.

142210101007

AIn Rahmania

142210101013

Laili Wafa N. K.

142210101019

Erlinda Dwi J.

142210101021

Leny Rizkiana

142210101023

KELOMPOK

: A1

TGL PRAKTIKUM : 2 November 2016

BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

1.

TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa dapat mengetahui formula dar salpe dan evaluasinya.
Mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan zat aktif
dalam sediaan salep.
Mahasiswa dapat mengetahui cara untuk meningkatkan kelarutan zat aktif dalam
formulasi salep.

2.

TEORI DASAR
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir. Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok yaitu :

1. Dasar salep senyawa hidrokarbon


2. Dasar salep serap
3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
4. Dasar salep larut air
Setiap salep obat menggunakan salah satu dari dasar salep tersebut. Dasar salep
hidrokarbon dikenal sebagai bahan dasar salep berlemak antara lain vaselin putih dan
salep putih. Hanya sejumlah kecil komponen berair dapat dicampurkan ke dalamnya.
Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kullit dan
bertindak sebagai pembalut/penutup. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama
sebagai emolien dan sukar dicuci, tidak mengering dan tidak berubah dalam waktu yang
lama.
Dasar salep serap dibagi menjadi 2 kelompok yaitu dasar salep yang dapat
bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (Parafin hidrofilik dan
Lanolin anhidrat), dan emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur sejumlah larutan
air tambahan (lanoli). Dasar salep serap juga dimanfaatkan sebagai emolien.
Dasar salep yang dapat dicuci dengan air adalah emulsi minyak dalam air antara
lain salep hidrofilik atau yang lebih tepatnya disebut krim. Dasar ini dinyatakan juga
sebagai dapat dicuci dengan air karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah,
sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetik. Beberapa bahan obat dapat menjadi
lebih efektif menggunakan dasar salep ini dairipada dasar salep hidrokarbon.

Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah
mengyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologis.
Dasar salep larut dalam air disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari
konstituen larut air. Dasar salep sejenis ini memberikan banyak keuntungan seperti
dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam
air seperti parafin, lanolin anhidrat, atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel.
Pemilihan bahan dasar salep tergantung pada beberapa faktor seperti khasiat yang
diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, stabilitas dan
ketahanan sediaan jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang
kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Misalnya untuk obat-obat
yang cepat terhidrolisis, lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep
yang mengandung air, meskipun obat tersebut lebih bekerja efektif dalam dasar salep
yang mengandung air.
Pembuatan formulasi sediaan salep dapat dilakukan dengan 2 metode umum yaitu
metode pencampuran dan metode peleburan. Dalam metode pencampuran, komponen
salep dicampur bersama-sama sampai diperoleh massa sediaan yang homogen.
Penghalusan komponen sebelum diproses pencampuran kadang diperlukan sehingga
dapat dihasilkan salep yang tidak kasar saat digunakan. Pada metode peleburan, semua
bahan dicampur dan dilebur pada temperatur yang lebih tinggi daripada titik leleh
semua bahan, kemudian dilakukan pendinginan dengan pengadukan konstan.
Pendinginan yang terlalu cepat dapat menyebabkan sediaan menjadi keras karena
terbentuk kristal yang berukuran kecil, sedangkan pendinginan yang terlalu lambat akan
menghasilkan sedikit kristal sehingga salep menjadi lembek.
Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang
dihasilkan oleh mikroorganisme bakteri ataupun jamur. Pada dasarnya tujuan utama
penggunaan antibiotik untuk meniadakan infeksi, namun semakin luasnya penggunaan
antibiotik sekarang ini justru semakin meluas pula timbulnya infeksi baru akibat
penggunaan antibiotik yang tidak rasional.
Penggolongan Antibiotik berdasarkan mekanisme kerjanya :
Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan
Cephalosporin
Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone
Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan
Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline

Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin


Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida
Antimetabolit, misalnya azaserine
Penggolongan antibiotik berdasarkan penyakitnya :
Golongan Penisilin
Dihasilkan oleh fungi Penicillinum chrysognum. Aktif terutama pada bakteri
gram (+) dan beberapa gram (-). Obat golongan ini digunakan untuk mengobati
infeksi pada saluran napas bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit
tenggorokan, untuk infeksi telinga, bronchitis kronik, pneumonia, saluran kemih
(kandung kemih dan ginjal).
Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Ampisilin dan
Amoksisilin.
Golongan Sefalosporin
Dihasilkan oleh jamur Cephalosporium acremonium. Spektrum kerjanya luas
meliputi bakteri gram positif dan negatif. Obat golongan ini barkaitan dengan
penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan bagian atas
(hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga, kulit
dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih dan ginjal).
Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Sefradin, Sefaklor,
Sefadroksil, Sefaleksin dan Proteus.
Golongan Lincosamide
Dihasilkan oleh Streptomyces lincolnensis dan bersifat bakteriostatis. Obat
golongan ini dicadangkan untuk mengobati infeksi berbahaya pada pasien yang
alergi terhadap penisilin atau pada kasus yang tidak sesuai diobati dengan penisilin.
Spektrum kerjanya lebih sempit dari makrolida, terutama terhadap gram positif dan
anaerob. Penggunaannya aktif terhadap Propionibacter acnes sehingga digunakan
secara topikal pada acne.

Contoh

obatnya

yaitu

Clindamycin

(klindamisin)

dan

Linkomycin

(linkomisin).
Golongan Tetracycline
Diperoleh dari Streptomyces aureofaciens & Streptomyces rimosus. Obat
golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi jenis yang sama seperti yang diobati
penisilin dan juga untuk infeksi lainnya seperti kolera, demam berbintik Rocky
Mountain, syanker, konjungtivitis mata, dan amubiasis intestinal. Dokter ahli kulit
menggunakannya pula untuk mengobati beberapa jenis jerawat.
Contoh obatnya yaitu : Tetrasiklin, Klortetrasiklin, Oksitetrasiklin, doksisiklin
dan minosiklin.
Golongan Kloramfenikol
Bersifat bakteriostatik terhadap Enterobacter & S. aureus berdasarkan
perintangan sintesis polipeptida kuman. Bersifat bakterisid terhadap S. pneumoniae,
N. meningitidis & H. influenza. Obat golongan ini digunakan untuk mengobati
infeksi yang berbahaya yang tidak efektif bila diobati dengan antibiotik yang kurang
efektif. Penggunaannya secara oral, sejak thn 1970-an dilarang di negara barat karena
menyebabkan anemia aplastis. Sehingga hanya dianjurkan pada infeksi tifus
(salmonella typhi) dan meningitis (khusus akibat H. influenzae). Juga digunakan
sebagai salep 3% tetes/salep mata 0,25-1%.
Contoh obatnya adalah Kloramfenikol, Turunannya yaitu tiamfenikol.
Golongan Makrolida
Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerjanya yaitu pengikatan reversibel pada
ribosom kuman, sehingga mengganggu sintesis protein. Penggunaannya merupakan
pilihan pertama pada infeksi paru-paru. Digunakan untuk mengobati infeksi saluran
nafas bagian atas seperti infeksi tenggorokan dan infeksi telinga, infeksi saluran
nafas bagian bawah seperti pneumonia, untuk infeksi kulit dan jaringan lunak, untuk
sifilis, dan efektif untuk penyakit legionnaire (penyakit yang ditularkan oleh serdadu
sewaan). Sering pula digunakan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin.
Contoh obatnya : eritromisin, klaritromisin, roxitromisin, azitromisin,
diritromisin serta spiramisin.

Golongan Kuinolon
Berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan kuman, dgn menghambat enzim
DNA gyrase bakteri sehingga menghambat sintesa DNA. Digunakan untuk
mengobati sinusitis akut, infeksi saluran pernafasan bagian bawah serta pneumonia
nosokomial, infeksi kulit dan jaringan kulit, infeksi tulang sendi, infeksi saluran
kencing, dsb.

Aminoglikosida
Dihasilkan oleh fungi Streptomyces & micromonospora. Mekanisme kerjanya:
bakterisid, berpenetrasi pada dinding bakteri dan mengikatkan diri pada ribosom
dalam sel.
Contoh obatnya : streptomisin, kanamisin, gentamisin, amikasin, neomisin
Monobaktam
Dihasilkan oleh Chromobacterium violaceum Bersifat bakterisid, dengan
mekanisme yang sama dengan gol. b-laktam lainnya.Bekerja khusus pada kuman
gram negatif aerob misal Pseudomonas, H.influenza yang resisten terhadap
penisilinase.
Contoh : aztreonam
Sulfonamide
Merupakan antibiotika spektrum luas terhadap bakteri gram positrif dan
negatif. Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerja : mencegah sintesis asam folat
dalam bakteri yang dibutuhkan oleh bakteri untuk membentuk DNA dan RNA
bakteri. Kombinasi sulfonamida : trisulfa (sulfadiazin, sulfamerazin dan sulfamezatin
dengan perbandingan sama), Kotrimoksazol (sulfametoksazol + trimetoprim dengan
perbandingan 5:1), Sulfadoksin + pirimetamin.
Vankomisin

Dihasikan oleh Streptomyces orientalis. Bersifat bakterisid thp kuman gram


positif aerob dan anaerob. Merupakan antibiotik terakhir jika obat-obat lain tidak
ampuh lagi

3.

EVALUASI PRODUK REFERENCE


1. Nama produk
a. Komposisi
a.
b. Dosis
c. Kemasan
d. Pabrik

: ENPICORTYN
: Tetrasiklin HCL 30mg
Indikasi
: Pengobatan kulit baik sebagai antiperadangan
atau efek antibakteri
: dioleskan pada permukaan kulit yang terkena infeksi 2x sehari
: Tube 5 gram
: PT Global Multi Pharmalab

2. Nama produk
: TRIFACYCLINE
a. Komposisi
: Tetrasiklin 3%
b. Indikasi
: Infeksi pyogenik pada kulit
c. Kontraindikasi: anak dibawah umur 8 tahun, hipersensitif terhadap tetrasiklin
d.
Dosis : dioleskan pada permukaan kulit yang terkena infeksi 2e. Kemasan
3. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi
c.
d. Kemasan
4. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi
c.
d. Kemasan

4x
sehari
: Tube 5 gram
: TERIKORTIN
: Tetrasiklin HCL 3%
: dermatitis yang terinfeksi oleh kuman
Dosis : dioleskan pada permukaan kulit yang terkena infeksi 24x sehari
: Tube 5g
: TERRAMYCIN POLY TOPICAL
: Okxitetrasiklin HCL 3%
: Infeksi kulit , luka dan luka bakar
Dosis
: dioleskan pada permukaan kulit yang terkena
infeksi 2-3x sehari
: Tube 5 gram

5. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi
c. Dosis
d. Kemasan

: IKACYCLIN
: Tetrasiklin HCL 3%
: Pengobatan infeksi kulit superfisialis
: dioleskan pada permukaan kulit yang terkena infeksi 1x sehari
: Salep 15gram

6. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi

: ERLACYCLIN SALEP
: Tetrasiklin HCL 30mg/g salep
: infeksi karena luka terpotong, terbakar

c.
d. Kemasan

Dosis

: dioleskan pada permukaan kulit yang terkena

infeksi 3-4x sehari


: Tube 5 gram

7. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi
c. Dosis
d. Kemasan

: ENPICORTYN SALEP
: Tetrasiklin HCL 30mg
: Infeksi kulit, dermatitis atopik
: dioleskan pada permukaan kulit yang terkena infeksi 2x sehari
: Tube 5 gram

8. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi
c. Kemasan

: CENDOCYCLINE SALEP
: Tetrasiklin HCL 3%
: infeksi kuman peka infeksi saluran kemih
: Tube 5 gram

9. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi
c.

: BUPATETRA
: Tetrasiklin3%
: Infeksi pada kulit oleh bakteri gram positif dan negatif
Dosis
: dioleskan pada permukaan kulit yang terkena

d. Kemasan
10. Nama produk
a. Komposisi
b. Indikasi
c.
d. Kemasan

infeksi 2-4x sehari


: Tube 15 gram
: SANCORTMYCIN
: Oksitetrasiklin HCL
: Infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif
Dosis
: dioleskan pada permukaan kulit yang terkena
infeksi 2-4x sehari
: Tube 10 gram

4.

STUDI PRAFORMULASI BAHAN AKTIF


Hasil studi pustaka bahan aktif

No. Bahan aktif


1.
Tetrasiklin

Efek utama
Antibiotik,
spektrum

bakteriostatik
luas

Efek samping
- Gastrointestinal

terhadap

clamidiace,

Mycoplasma,

Ricketstsia

dan

banyak

nausea,
-

diare;
Mulut
lidah,

lainnya
-

Karakteristik fisik
Karakterisasi kimia
- Pemerian =
- Mudah

vomiting,
kering,

perubahan

bakteri aerob dan anaerob

warna

stomatitis,

dysphagia;
Disfungsi renal

serbuk hablur

teroksidasi,

berwarna

harus terlindung

kuning, tidak

dari cahaya, jika

berbau
Kelarutan

terkena
=

sangat sedikit
larut

dalam

air (1 : 2500),
larut

dalam

alkohol

dalam

kloroform
dan

eter,

larutan
metanol,
larutan asam,
alkali

udara

lembab,

warna

gelap;

praktis tidak

dan

dalam

berubah

menjadi

(1:50),
larut

matahari secara

akan

lebih
larutan

dengan pH tidak
lebih dari dua
menjadi inaktif
dan rusak pada
ph 7 sehingga
disimpan dalam
wadah tertutup
dan

untuk

sediaan injeksi

sinar

langsung

Sifat lain
Tidak

terlindung

hidroksida

dari

(Martindale,

matahari (FI III,

2009).
-

cahaya

1979)
Suspensi
tetrasiklin
dalam

air

memilki pH 3-7
2.

Tetrasiklin HCl

Antibiotik

spektrum

luas Myastenia

gravis,

pada bakteri gram positif dan

agranulositosis,

gram negatif.

aplastik, anemia hemolitik,

Infeksi

kuli

jaringan

dan neutropenia,

anemia
dan

lunak: trombositopenia

bisul , bases. Eksim,


jerawatselulitis,
borok,

pastular

dermatitis,
furunkulosis, infeksi
pada sela jari kaki,
-

dermatitis, impetigo
Infeksi
saluran

pencernaan
Infeksi saluran kemih

Pemerian

(USP 29, 2007)


Penyimpnan

Dapat

serbuk

dalam

kristalin

tertutup

berwarna

terlindung

sediaan

kuning, tidak

cahaya matahri.

injeksi.

berbau,

Jika

Jika

higroskopis
Kelarutan =

udara

lembab

digunakan

dan

terkena

untuk

sinar

matahari

larut

dalam

air

(1:10),

sedikit

larut

dalam

alkohol

wadah

dan

dalam

untuk

sediaan

langsung, warna

injeksi

menjadi gelap.
Larutan dengan

maka

(1:

ph tidak lebih

100), praktis

dari 2 menjadi

tidak

inaktif

larut

digunakan

dan

dalam

rusak pada ph

kloroform,

7 (FI III, 1979)

harus
disimpan
diwadah
steril
kedap

dan

eter,

aseton,

larut

dalam

Tetrasiklin HCl
%

dalanm

alkalihidroksi

larutan

air

da

dan

memiliki Ph 1,8

karbonat tapi

2,8 (USP 29,

tidak

sttabil
-

karena

udara.

2007)
Ph = 3,0 7,0
(Lewis, 1993)

mudah
dirusak
larutan alkali
dan

alkali

hidroksida
(Martindale,
3.

Tetrasiklin

Antibiotik

spektrum

kompleks fosfat

sebagai alternatif pengobatan


actynomicus,
anthrax,

2009).
tekanan Pemerian
=serbuk Penyimpanan

luas, Peningkatan

terhadap intrakanal, sakit

serangga kepala,

bronchitis,

gabggua kuning

dan penglihatan,

gastroentritis

kristalin

edema

dan

berwarna wadah
dan

papila berbau.

tertutup

dalam Merupakan

suatu

dan kompleks

dari

tidak terlindung dari cahaya.


Jika

terkena

sodium

meta

sinar phosphate

dan

Stabil dalam bentuk matahari langsung dan tetrasiklin


sediaan solid

udara

lembab

makan

akan berubah menjadi


4

Oxytetrasiklin

Seperti antibiotik tetrasiklin , Sakit

HCl

digunakan untuk menangani

kepala,

warna gelap.
perubahan Pemerian = serbuk Pengaruh

cahaya

Kontradiksi

warna pada lapisan gigi, hablur kuning, tidak matahari kuat dan suhu dengan

penyakit

pencernaan berbau, rasa pahit dan lebih dari 90o C pada gangguan

infeksi akibat bakteri, infeksi gangguan


saluran kemih, infeksi mata,
infeksi
(pneumonia/

(diare,

mual)

sensitif higroskopis.

paru-paru terhadap cahaya meningkat.


bronchitis),

infeksi kulit seperti jerawat.

Kelarutan

udara lembab, earana dan


=

tidakl berubah menjadi gelap; hipersensitivitas.

larut dalam kloroform terurai pada suhu lebih


dan eter, sukar larut dari 180o C.
dalam etanol, agak Dalam pH kurang dari 2
sukar

ginjal

larut

dalam potensi

metanol, mudah larut

rusak

dalam air.

larutan

turun,
oleh

cepat

pengaruh
alkali

hidroksida.
Penyimpanan
wadah

tertutup

dalam
rapat

dan tidak tembus cahaya

Alasan pemilihan bahan aktif


Bahan aktif yang dipih adalah Tetrasiklin HCl karena:
1. Tujuan pengobatannya digunakan untuk pengobatan topikal yang disebabkan oleh bakteri
gram positif maupun garam negatif seperti bisul, abses, jerawat, selulitis, borok,
dermatitis, impetigo, infeksi luka bakar dan infesksi sela jari kaki.
Berikut ini penjelasan mengenai bakteri gram positif dan gram negatif:
a. Bakteri gram positif
Merupakan bakteri yang mempertahankan zat warna kristal violet sewaktu
proses pewarnaan gram, sehingga akan berwarna ungu atau biru. Contoh bakteri gram
positif seperti Staphylococcus aureus ( bakteri patogen yang umum pada manusia)
hanya memilki membran plasma tunggal yang dikelilingi dinding sel tebal berupa
peptidoglikan. Penyakit penyakit yang yang dapat ditimbulakan bakteri gram positif
yaitu:
Genus
Staphylococcus
Streptococcus
Enterococcus
Listeria
Bacillus
Clostridium
Mycobacterium
Mycoplasma

Penyakit
Impetigo, keracunan makanan
bronkitis
Pneumonial
Meningitis
Enteritis
asteriosis
anthrax
Jerawat, pneumonia

b. Bakteri gram negatif


Adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna kristal violet sewaktu
proses pewarnaan gram, sehingga akan berwarna merah bila diamati dengan
mikroskop. Perbedaan antara

bakteri gram negatif dengan bakteri gram positi

didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel yang dapat dinyatakan oleh prosedur
pewarnaan. Bakteri gram negatif seperti E. Colli memilki sistem membran ganda
dimana diselimuti oleh membran luar permeabel. Penyakit-penyakit yang dapat
ditimbulakn oleh gram negatif:
Genus
Pseudomonas
Salmonella
Treponema
Chlamydia

Penyakit
Infeksi luka bakar
Salmonelosis
Sifilis
Pneumonia, urethritis

2. Tetrasiklin HCl memiliki stabilitas yang lebih baik pada sediaan semisolid dibandingkan
dalam sediaan liqid karena mudah terhidrolisis.

3. Tetrasiklin HCl bersifat relatif lebih stabil secara fisiologi pada pH basa dibanding
dengan tetrasiklin dan oksitetrasiklin yang mudah rusak pada Ph dibawah 2 dan larutan
alkali.

4. Tetrasiklin HCl memiliki kelarutan didalam air yang lebih baik dibanding dengan
tetrasiklin (1:10).
5. Tetrasiklin HCl memilim log P yang lebih tinggi = 1,37 dibanding dengan oksitetrasiklin
(log P= 0,9 ), sehingga kemampuan Tetrasiklin HCl untuk menembus membran biologis
lipid bilayer lebih besar sehingga aktivitas biologis yang ditimbulkan juga lebih besar
dibanding dengan oksitetrasiklin.

Pemilihan bentuk sediaan


Target organ yang dituju : lapisan epidermis
Tujuan terapi
: topikal pada kulit atau jaringan lunak
Alasan
:
Penyakit atau gangguan kulit yang diterapi seperti jerawat, eksim, bisul, kadas,
kurap, dan dermatitis hanya menyerang bagian epidermis kulit yaitu pada folikel rambut
dan pori-pori kulit yang tersumbat, serta saluran keringat yang tersumbat akibat adanya
baketri, keringat, atau kuman yang dat menyebabkab berbagai jenis penyakit pada kulit,
sehingga rute penetrasi yang dituju adalah lapisan epidermis.
Bentuk sediaan terpilih adalah salep dengan basis hidrokarbon karena:
1. Dipilih salep basis hidrokarbon karena tetrasiklin tidak stabil dalam air atau terhidrolis.
Bahan aktif yang diinginkan terpenetrasi ke epidermis sehingga digunakan basis salep
hidrokarbon dengan menggunakan basis vaselin album.
2. Salep memiliki kemampuan penyebaran yang baik dibandingan dengan krim yang mudah
tercuci dengan air.
3. Salep memiliki efek yang dapat melembabkan kulit karena basisnya dapat berfungsi
sbeagai emolient
4. Salep menggunakan basis lemak, sehingga dapat kontak lebih lama dengan daerah yang
akan diobati.
Dosis dan Perhitungan
a Takaran Dosis
1. Martindale Edisi 36 Hal. 1223:
Penggunaan tetrasiklin HCl untuk topikal dalam salep mengandung 3 %.
2. Diambil dari Jurnal:
Jurnal Review I Chopra et all. Tetracycline. Molecular and Clinical Aspect. Anti
Microba Chemothe. 1992: 29 halaman 245-277 (Pubmed id: 1592696) yaitu
penggunaan

topikal

akibat

sensitisasi

dapat

mengembangkan

kontribusi

pengembangan resistensi dapat digunakan tetrasiklin HCl 3 % dalam salep.


b Perhitungan dan Alasan Bobot Tiap Kemasan
Dalam sekali pemakaian kurang lebih diguanka 200-300 mg. Dalam sehari
digunakan 3 -4 kali. Jadi dalam sehari dibutuhkan :
200 300 mg x 3
= 600 -900 mg
200 300 mg x 4
= 800 1200 mg
Jika pemakaiannya dalam 1 minggu, dibutuhkan salep sebanyak 600- 1200 mg x 7
hari = 4200 -8400 mg. Dipilih penggunaan 3 x sehari sehingga dibuat salep dengan
kemasan 4200 mg -5 g.

5.

BAHAN TAMBAHAN DAN KEGUNAANYA


1) Vaselin album (Excipient : 579)
Pemerian
: warna putih, translusen, massa lunak, tak berbau, tak berasa.
Fungsi
: emmolient, basis salep.

Emmolient krim topikal 10%-30%

Emulsi topikal 4%-21%

Salep topikal hingga 100%


Kelarutan

: praktis tidak larut dalam aseton, etanol, etanol 95% dingin atau
panas, gliserin dan air, larut dalam benzena, carbon disulfida,
kloroform, eter, heksena dan sebagian minyak fixed dan mudah
menguap.

Inkompatibilitas: vaselin album merupakan material inert dengan sedikit


inkompatibilitas.
2) Parafin (Excipient: 474)
Pemerian
: tidak berbau dan beras, transluscent, tidak berwarna, sedikit
nerminyak bila disentuh dan rapuh. Mikroskopisnya merupakan
Fungsi
Kelarutan

campuran mikrokristal.
: emmolient, lubrikan, pembawa.
: larut dalam kloroform, ether, volatile oil dan fixed oil hangat, sedikit

larutdalam ethanol, praktis tidak larut dalam aseton, etanol 95% dan air.
Inkompatibilitas: 3) BHT (Butylated Hydroxytoluene) (Excipient : 75)
Pemerian
: kristal padat berwarna putih atau kuning pucat, serbuk dengan
Fungsi
Kelarutan

karakteristik bau fenol lemah.


: antioxidant.
: praktis larut dalam air, gliserin, propylene glycol, larutan alkali
hidroksida, asam mineral. Bebas larut dalam aseton, benzena, etanol

95%, eter, metanol, toluena, fixed oils dan minyak mineral.


Inkompatobilitas: BTH merupakan fenol dan mengalami reaksi khas fenol. Tidak
kompatibel dengan agen pengoksidasi kuat termasuk peroksida dan
permanganat. Kontak dengan agen pengoksidasi mengakibatkan
pembakaran spontan. Garam besi mengakibatkan kehilangan warna dan
kehilangan aktivitasnya

4) Oleum Jasmine
Pemerian
: berbentuk cair, berminyak dan berbau khas jasmine
Fungsi
: penambah aroma

6.

SUSUNAN FORMULA
DIGUNAKAN

DAN

KOMPOSISI

BAHAN

YANG

Tabel Rancangan Formula yang Direncanakan


No. Bahan

Fungsi

Tetrasiklin

%Bahan yang
Digunakan

Jumlah
(5 gram)

Bahan Aktif

3%

0,15 gram

HCl

Vaselin Album

Basis Salep

83,39%

4,1695 gram

BHT

Antioksidan

0,01%

0.0005 gram

Propilen

Pelarut

10%

0,5 gram

Oleum

Penambah

0,1%

0.005 gram

Jasmine

Aroma

Paraffin

Basis Salep

3,5%

0,175 gram

Glikol

Liquid
Total

100%

Perhitungan Penimbangan dalam 5 gram sediaan salep :


1. Tetrasiklin HCl
Dalam sediaan mengandung 3% tetrasiklin HCl
=

5 gram

= 0,15 gram
2. Vaselin Album

gram

Dalam sediaan mengandung 83,39% Vaselin Album


=

5 gram

= 4,1695 gram
3. BHT
Dalam sediaan mengandung 0,01% BHT
=

5 gram

= 0,0005 gram
4. Propilen Gilkol
Dalam sediaan mengandung 10% Propilen Glikol
=

5 gram

= 0,5 gram
5. Oleum Jasmine
Dalam sediaan mengandung 0,1% Oleum Jasmine
=

5 gram

= 0,005 gram
6. Paraffin Liquid
Dalam sediaan mengandung 3,5% Paraffin Liquid
=

5 gram

= 0,175 gram
Tabel Rancangan Formula yang Digunakan
% Bahan
No. Bahan

Fungsi

yang

Jumlah
(5 gram)

Jumlah
(20 gram)

Digunakan
1

4
5

Tetrasiklin
HCl
Vaselin
Album
BHT
Paraffin
Liquid
Oleum

Bahan Aktif

3%

0,15 gram

0,45 gram

Basis Salep

95,14%

4,757 gram

19,028 gram

Antioksidan

0,01%

Basis Salep

1,75%

Pengaroma

0,1%

0,0005
gram
0.0875
gram
0,005 gram

0,002 gram

0,35 gram
0,02 gram

Jasmine
Total

100%

5 gram

20 ram

Perhitungan Penimbangan dalam 5 gram dan 20 gram (1 batch) sediaan salep :


1. Tetrasiklin HCl
Dalam sediaan mengandung 3% tetrasiklin HCl
=

5 gram

= 0,15 gram (dalam 5 gram)


=

0,15 gram = 0,45 gram (dalam 20 gram)

2. Vaselin Album
Dalam sediaan mengandung 95,14% Vaselin Album
=

5 gram

= 4,757 gram (dalam 5 gram)


=

4,757 gram = 19,028 gram (dalam 20 gram)

3. BHT
Dalam sediaan mengandung 0,01% BHT
=

5 gram

= 0,0005 gram (dalam 5 gram)


=

0,0005 gram = 0,002 gram (dalam 20 gram)

4. Oleum Jasmine
Dalam sediaan mengandung 0,1% Oleum Jasmine
=

5 gram

= 0,005 gram (dalam 5 gram)


=

0,005 gram = 0,02 gram (dalam 20 gram)

5. Paraffin Liquid
Dalam sediaan mengandung 1,75% Paraffin Liquid
=

5 gram

= 0,875 gram (dalam 5 gram)


=

0,0875 gram = 0,35 gram (dalam 20 gram)

7.

METODE
7.1. Alat dan Bahan
Alat :
-

Mortir
Stemper
Pipet tetes
Sudip
Etiket
Perkamen
Cawan porselen
Oven
Tube

Bahan :
- Tetrasiklin HCL
- Vaselin album
- Parafin Liquid
- BHT
- Oleum jasmine
7.2. Prosedur Pembuatan

7.3. Metode evaluasi


1. Uji Organoleptis
Untuk mengetahui apakah suatu sediaan sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditentukan dan merupakan tes awal setelah sediaan itu dibuat. Secara
organoleptis sediaan salep yang dibuat harus :
- Bentuk : Salep
- Warna
: Kuning
- Bau
: Jasmine
2. Uji Homogenitas
Dilakukan untuk mengetahui kehomogenan sediaan yang dibuat. Homogenitas
sediaan dapat dilihat dari ketercampuran bahan-bahan yang digunakan pada
basis semisolida.
Tahapan uji homogenitas :
-o,o1 gram salep dari 3 tempat berbeda diambil.Tiap sampel diletakkan pada
kaca objek, lalu dengan bantuan kaca objek lain dilihat di bawah mikroskop
pada perbesaran 100 kali.
3. Uji Daya Sebar
Tahapan uji daya sebar :
- Timbang salep sebanyak 0,5 g
- Letakkan salep tepat di bawah kaca bulat yang bawahnya sertai dengan
skala diameter, kemudian ditutupi dengan kaca lain yang telah ditimbang
-

dan dibiarkan selama satu menit


Ukur diameter sebarnya
Setelah 1 menit, tambahkan beban 50 gram
Biarkan 1 menit, kemudian ukur diameter sebarnya
Lakukan hal yang sama tiap 1 menit, dengan penambahan beban 50 gram
secara terus-menerus hingga diperoleh diameter yang cukup untuk melihat
pengaruh beban terhadap diameter sebar salep

Prinsip kerja : Salep sebanyak 1 gram diletakkan pada lempeng kaca berskala,
lalu di atasnya ditutup lempeng kaca dan diberi beban 5 gram, lalu diamkan
selama 2 menit. Kemudian, beban ditambah dengan beban 5 gram serta amati
penyebaran yang terjadi.
4. Uji Daya Lekat
Tahapan pengujian :
- Salep dengan berat 0,25 gram diletakkan di atas dua gelas objek yang telah
-

ditentukan
Tekan dengan beban 1 kg selama 5 menit
Pasang objek glass pada alat uji
Tambahkan beban 80 gram pada alat uji
Catat waktu pelepasan krim dari gelas objek

5. Uji Viskositas
Bertujuan untuk mengetahui kekentalan dari sediaan salep. Kekentalan atau
viskositas sediaan termasuk salah satu hal yang harus diperhatikan dalam
pembuatan sediaan salep.
Alat : Viskotester VT-04
Tahapan pengujian:
- Ambil beberapa gram sediaan salep
- Pasang rotor no. 2 pada alat
- Masukkan bagian bawah rotor pada sediaan sehingga semua bagian
tercelup
Jalankan alat sampai jarum penunjuk menunjukkan angka yang konstan
Catat hasil dan matikan alat

Prinsip kerja : Cairan dimasukkan antara cup dan bob sampai temperature
seimbang. Beban ditempatkan seimbang. Beban ditempatkan pada
penggantung. Catat waktu untuk berputar 100 kali.
6. UJI pH
Untuk mengukur pH digunakan kertas pH indokator langsung pada sediaan.
Tahapan pengujian :
- Larutkan sejumlah salep dengan aquadest
- Celupkan kertas universal
- Amati perubahan pada kertas universal, cocokkan dengan standart
- pH sediaan salep yang kami buat memiliki rentang nilai pH 4,5-6,5
7. Uji Penetapan Kadar
a. Standar Oksitetrasiklin dan Kalibrasi Kurva
Dibuat standar oksitetrasiklin dengan menimbang sejumlah tertentu larutan
standar oksitetrasiklin dengan pelarut metanol hingga diperoleh kadar
100ng/l dan disimpan pada suhu - 18C. Sebanyak 10 larutan baku kerja
kisaran 0,5-20 ng/l ad metanol. Semua larutan oksitetrasiklin dihindarkan
dari sinar matahari langsung.
b. Preparasi Sampel
- Ditimbang secara saksama sediaan salep oksitetrasiklin sebanyak 2 gram
-

salep yang dilarutkan metanol sebanyak 50 ml. Kemudian disonikasi.


Supernatan yang diperoleh dipindahkan dalam labu 100 ml dan

ditambahkan metanol.
Dari baku tersebut dibuat/diencerkan menjadi 1,2 dan 3 ppm.
Periksa konsentrasi standar pada panjang gelombang maksimal dan

diperoleh kurva kalibrasi.


Penetapan konsentrasi sampel salep oksitertasiklin dengan HPLC pada

panjang gelombang yang ditentukan


Hitung kadar oksitetrasiklin. (Papadoyannis dkk,2000)

RANCANGAN ETIKET, BROSUR DAN KEMASAN


8.

PICHALINE
Tetracycline HCl 3%
Salep kulit
Komposisi:
Tiap gram mengandung Tetracycline HCl 3%.
CARA KERJA OBAT:
Tetracycline HCl merupakan antibiotic dengan spectrum luas. Untuk
mengobati penyakit / gangguan kulit seperti jerawat, eksim, dermatitis,
kudis, bisul, kurap yang hanya menyerang pada bagian epidermis kulit
yaitu folikel rambut dan pori-pori pada kulit yang tersumbat, serta
saluran keringat yang tersumbat akibat bakteri, kuman atau benda asing
lain.
INDIKASI:
Pengobatan infeksi pada bagian permukaan kulit (epidermis) yang
disebabkan oleh bakteri yang peka terhadap Tetrasycline HCl.

9.
10.
11.

KONTRA INDIKASI:
Penderita yang peka terhadap obat-obatan golongan Tetrasiklin dan
penderita gangguan fungsi ginjal (pielonefritis akut dan kronis).
DOSIS:
Dewasa dan anak: oleskan 3 kali sehari.
EFEK SAMPING:
Myasthenia gravis, agranulositosis, anemia aplastik, anemia hemolitik,
neutropienia, trombositopenia.
PERINGATAN DAN PERHATIAN:
Penggunaan antibiotik mengakibatkan pertumbuhan organisme yang
resisten terhadap antibiotik ini.
KEMASAN:
Dus, Pot berisi 5 g salep kulit TETRASIKLIN HCl.
CARA PENYIMPANAN:
Simpan pada suhu dibawah 30oC, terlindung dari cahaya.
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
No. Reg. :

7206313731 A1
PT. PICHA FARMA
Jember- Indonesia

PEMBAHASAN
HASIL PENGAMATAN
% Bahan
No. Bahan

Fungsi

yang

Jumlah
(5 gram)

Jumlah
(20 gram)

Digunakan
1

Tetrasiklin
HCl
Vaselin
Album
BHT
Paraffin
Liquid
Oleum
Jasmine
Total

Bahan Aktif

3%

Basis Salep

95,14%

Antioksidan

0,01%

Basis Salep

1,75%

Pengaroma

0,1%
100%

0,15 gram
4,757
gram
0,0005
gram
0.0875
gram
0,005
gram

0,45 gram

19,028 gram

0,002 gram

0,35 gram

0,02 gram

5 gram

20 ram

Uji organoleptis
Warna : kuning
Bau
: aroma melati atau jasmine karena menggunakan digunakan
pengaroma oleum jasmine
Bentuk : semisolida dalam bentuk salep

Uji pH
Nilai pH yang didapat yaitu 4.

Uji Viskositas
Nilai viskositas yang didapat dengan menggunakan viskotester yaitu 100
mpas.

Uji Daya Sebar


Hasil uji daya sebar, menunjukkan diameter penyebaran salep setelah
ditutup kaca adalah 2,5 cm. Kemudian setelah diberi beban 50, 100, 200, 250
gram diameter masing-masing yaitu 2,6;2,87;2,93;2,95;3,03 cm.

Uji Homogenitas
Uji homogenitas yang dilakukan selama 5 menit didapatkan bahwa tidak
terdapat gumpalan-gimpalan berwarna kuning yang artinya sediaan yang
didapat adalah homogen.

FORMULASI
Tabel Rancangan Formula yang Direncanakan
No. Bahan

2
3
4

%Bahan yang

Fungsi

Tetrasiklin

Jumlah
(5 gram)

Digunakan

Bahan Aktif

3%

0,15 gram

Basis Salep

83,39%

4,1695 gram

BHT

Antioksidan

0,01%

0.0005 gram

Propilen

Pelarut

10%

0,5 gram

Oleum

Penambah

0,1%

0.005 gram

Jasmine

Aroma

Paraffin

Basis Salep

3,5%

0,175 gram

HCl
Vaselin
Album

Glikol

Liquid
Total

100%

gram

Tabel Rancangan Formula yang Digunakan


% Bahan
No. Bahan

Fungsi

yang

Jumlah
(5 gram)

Jumlah
(20 gram)

Digunakan
1

2
3

Tetrasiklin
HCl
Vaselin
Album
BHT

Bahan Aktif

3%

Basis Salep

95,14%

Antioksidan

0,01%

0,15 gram
4,757
gram
0,0005

0,45 gram

19,028 gram
0,002 gram

gram
4

Paraffin
Liquid
Oleum
Jasmine
Total

Basis Salep

1,75%

Pengaroma

0,1%
100%

0.0875
gram
0,005
gram
5 gram

0,35 gram

0,02 gram
21 ram

Pada praktikum kali ini kami melakukan praktikum pembuatan sediaan


salep

dengan bahan aktif Tetrasiklin HCL , mengandung bahan aktif 3%

tetrasiklin hidroklorida. Bahan aktif tetrasiklin HCl ini dibuat dalam sediaan salep
diindikasikan untuk bakteri gram negatif dan gram positif. Penggunaan batas
konsentrasi 3% untuk sediaan salep ini mengacu pada Martindale edisi 28th
dimana konsentrasi yang biasa digunakan untuk sediaan salep adalah 3%.
Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi, memungkinkan difusi obat
pada kulit dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu
pada kondisi penyimpanan yang tepat. Pada praktikum kali ini, dasar salep yang
digunakan berupa vaselin album dengan jumlah 4,757 g tiap 5 g salep. Basis ini
dipilih karena bersifat lipofilik, sehingga waktu kontak yang lebih lama jadi
jumlah obat yang diabsorbsi lebih tinggi. Selain itu, bahan aktif tidak stabil dalam
air, jadi dibuat basis yang berminyak supaya zat aktif lebih stabil. Pada awalnya
vaselin yang digunakan dilelehkan terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan
bahan lainnya, namun setelah dievaluasi kembali ternyata kurang efisien sehingga
pada formula kedua vaselin yang digunakan tidak perlu dilelehkan dulu melainkan
langsung dicampur dan digerus dengan bahan lainnya.
Pada sediaan tidak digunakan pengawet, melainkan antioksidan karena
sediaan tidak mengandung air. Antioksidan digunakan untuk menghindari
terjadinya oksidasi pada sediaan. Pada awalnya, kami menggunakan BHA sebagai
antioksidan, namun karena ketidak tersediaannya di lab, maka kelompok kami
menggunakan BHT. Fungsi BHT adalah sebagai antioksidan dengan konsentrasi
0,01%. Pada salep tidak digunakan pengawet melainkan BHT, karena fungsi
pengawet adalah mencegah tumbuhnya jamur, sedangkan jamur dan bakteri

mudah tumbuh pada lingkungan berair dan minyak tidak berair tapi minyak
mudah teroksidasi dan tengik, sehingga digunakan BHT sebagai antioksidan.
Digunakan 2 basis dengan tujuan untuk meningkatkan stabilitas sediaan
salep. Namun ternyata dengan digunakannya 2 basis, sediaan yang dihasilkan
menjadi kurang homogen sehingga formulasi salep diubah.
Parafin liquid digunakan sebagai basis salep yang kedua dengan konsentrasi
3,5% pada formulasi awal. Pada formulasi kedua digunakan parafin liquid 1,75%.
Penggunaan parafin cair sebagai basis konsentrasinya diturunkan karena saat
penambahan parafin cair, zat aktif yang awalnya sudah menyatu, setelah dibiarkan
beberapa saat tanpa pengadukan akan terpisah kembali membentuk gumpalan,
sehingga dilakukan penurunan konsentrasi parafin cair. Setelah konsentrasinya
diturunkan barulah didapatkan sediaan salep yang homogen dan stabil.
Dilihat dari pemeriannya, Tetrasiklin HCl memiliki kelarutan yang cukup
dalam air (1:10). Tetapi pada kali ini sediaan yang diperlukan yaitu sediaaan salep.
Oleh karena dalam salep tidak mengandung air digunakan propilen glikol sebagai
pelarutnya. Propilen glikol digunakan sebagai solven dengan konsentrasi 10%
pada formulasi awal. Penggunaan propilen glikol ternyata membuat sediaan
menjadi terlalu berair (lebih menyerupai krim) sehingga pada formulasi kedua
penggunaan propilen glikol dihilangkan karena adanya propilen glikol membuat
zat aktif menggumpal dan tidak homogen.
Bau sediaan salep yang dihasilkan menjadikan salep menjadi kurang
acceptable sehingga dibutuhkan penambahan pengaroma untuk membuat aroma
salep menjadi lebih baik lagi. Pada praktikum kali ini digunakan pengaroma
dengan bau melati (Oleum jasmine).
Perhitungan dosis
Kandungan

: 3% Tetrasiklin HCl

Pemakaian

: 3-4x sehari

Untuk 1 hari

: 200-300 mg x 3 = 600-900 mg
200-300 mg x 4 =800-1200 mg

Untuk 1 minggu

: 600-1200 mg x 7 hari = 4200-8400 mg

Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan salep


Tetrasiklin HCl yang dibuat aman untuk digunakan dan tidak toksik karena dosis
yang digunakan masuk dalam rentang terapi. (Martindale)
Berdasarkan perhitungan dosis di atas maka dibuat salep dengan kemasan
4200-5000 mg (5 gram). Hal ini dikarenakan dengan digunakannya kemasan salep
5 gram akan lebih efisien dibandingkan dengan menggunakan kemasan yang lebih
besar. Karena jika menggunakan kemasan/pot salep yang lebih besar maka akan
menyebabkan sisa salep yang tidak terpakai lebih banyak. Jika sediaan digunakan
menurut aturan pakai 3x sehari maka sisa salep hanya berkisar 800 mg,
sedangkan jika digunakan aturan pakai 4x sehari dibutuhkan 2 pot salep karena
total salep yang dibutuhkan 8400mg. Sediaan salep yang dibiarkan terlalu lama
setelah dibuka akan mengalami kerusakan dan stabilitas sediaannya terganggu.
Sehingga kemasan 5 gram merupakan kemasan yang paling efisien.
Cara Kerja
Pada praktikum kali ini, dibuat sediaan sebanyak 5 gram terlebih dahulu,
kemudian setelah diuji ternyata sediaan salep yang dihasilkan kurang baik,
sediaan tidak homogen dan terlalu berair. Lalu dilakukan perubahan pada
formulasi dengan mengurangi konsentrasi parafin cair dan menghilangkan
propilen glikol.
Setelah itu dibuat lagi sediaan sebanyak 5 gram dengan menggunakan
formulasi yang baru. Ternyata sediaan yang dihasilkan sudah homogen dan
stabilitasnya bagus. Lalu dilanjutkan dengan pembuatan 1 batch salep.
Dalam pembuatan sediaan 1 batch (20 gram). Dilakukan dengan
mencampurkan BHT dan Tetrasiklin HCl dalam mortir kemudian digerus sampai
halus. Kemudiad ditambahkan parafin liquid ke diikuti dengan vaselin (sedikit
demi sedikit) ke dalam mortir. Setelah sediaan homogen maka barulah
ditambahkan pengaroma Oleum jasmine beberapa tetes ke dalamnya hingga salep
berbau harum.
UJI EVALUASI

Pada praktikum Teknologi Sediaan Semisolid dan Liquid kali ini dilakukan
formulasi dab evaluasi sediaan Salep Tetrasiklin. Evaluasi yang dilakukan pada
praktikum kali ini adalah:
1. Uji Organoleptis
Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, warna, dan bau yang diamati
secara visual. Prinsip pemeriksaan organoleptis yaitu dilakukan

pengamatan

secara kualitatif meliputi warna, bau, serta konsistensi sediaan secara visual.
Tujuan pemeriksaan organoleptis adalah untuk mengetahui sediaan yang dibuat
sudah sesuai dengan standar salep yang ada, dalam arti sediaan salep tersebut
stabil secara kimia dan tidak menyimpang dari standar salep. Karena salep yang
baik harus memenuhi persyaratan mutu yang baik antara lain harus memiliki
stabilitas kimia yang baik.
Stabilitas kimia yang baik untuk salep yaitu secara kimia inert sehingga
tidak menimbulkan perubahan warna, pH, dan bentuk sediaan (USP XII, p.1703).
Sediaan dibuat pada pH 3-6 diharapkan tidak mengalami perubahan potensi.
Dari hasil uji organoleptis didapatkan hasil sebagai berikut:
Warna
: kuning
Bau
: aroma melati atau jasmine karena menggunakan digunakan
pengaroma oleum jasmine
Bentuk
: semisolida dalam bentuk salep
Sediaan disimpan selama 2 minggu, kemudian diamati lagi organoleptisnya.
Setelah diamati organoleptisnya, ternyata sediaan tidak mengalami perubahan
organoleptis. Sediaan salep tetrasiklin tetap berwarna kuning, beraroma melati,
dan konsistensinya sebagai salep tidak berubah. Jadi dapat dikatakan salep
tersebut memiliki stabilitas kimia yang baik dilihat dari segi organoleptis, karena
tidak mengalami perubahan.
2. Uji pH
Uji pH digunakan untuk mengukur pH digunakan kertas pH indokator
langsung pada sediaan. Pada pengujian pH kali ini tidak dihunakan pH meter
melainkan digunakan kertas universal pH indikator.
Tahapan pengujian :
1. Larutkan sejumlah salep dengan aquadest
2. Celupkan kertas universal
3. Amati perubahan pada kertas universal, cocokkan dengan standart pH sediaan
salep yang kami buat memiliki rentang nilai pH 4,5-6,5
Hasil uji pH salep tetrasiklin sebesar 4 , nilai ini tidak sesuai dengan
rentang Ph sediaan yang akan dibuat. Tapi ph 4 masih masuk dalam criteria
dalam literature (martindale p.1216) bahwa tetrasiklin tidak aktif pada pH

dibawah 2 dan rusak pada pH di atas 7. Jadi, pada Ph tersebut tetrasiklin masih
dapat memberikan efek terapeutik.
Selain itu penyebab pH yang tidak sesuai, kemungkinan disebabkan karena
pengukuran pH hanya menggunakan pH

universal kertas indikator tidak

menggunakan pH meter, dimana salah satu kekurangan dari pH universal adalah


kurang signifikan dalam menentukan pH suatu sediaan.
3. Uji Viskositas
Pada uji viskositas salep,sediaan salep dalam satu batch digunakan untuk
menentukan viskositas salep menggunakan VT-4 dengan spindel no.2 dan
didapatkan nilai sebesaar 100 mPas pada jarum penunjuk. Viskositas
menunjukkan daya alir atau kekentalan suatu zat cair atau semipadat (Schramm,
1998). Berdasarkan hasil yang didapatkan viskositas yang dihasilkan salep
menunjukkan bahwa salep memiliki kekentalan lebih tinggi dibanding dengan
larutan. Salep memiliki viskositas yang tinggi dikarenakan basis yang digunakan
merupakan massa yang padat dan berlemak yang mempengaruhi nilai viskositas
pada sediaan. Menurut Martin et al. (1993),sifat alir yang diharapkan dari suatu
sediaan setengah padat adalah tiksotropik karena sediaan setengah padat
diharapkan mempunyai konsistensi tinggi dalam wadah pada saat
penyimpanan,namun saat diberikan gaya dapat dengan mudah dituang dan
disebar. Berdasarkan nilai viskositas yang didapatkan,salep pada percobaan
praktikum memiliki konsistensi yang cukup tinggi pada wadah saat penyimpanan
dan cukup mudah untuk disebarkan di bagian kulit.
4. Uji Daya Sebar
Pada praktikum kali ini, pembuatan salep di uji evaluasi daya sebar dengan
cara menimbang sebanyak 0,5g, kemudian diletakkan di tengah-tengah kaca bulat
yang disertai dengan skala diameter . Diletakkan kaca bulat lainnya diatasnya
sebagai beban awal dan dibiarkan selama 1 menit. Diperoleh diameter hasil tanpa
beban 2,5 cm. Setelah itu, kaca diberi beban awal 50 gram dan dibiarkan selama 1
menit, diulangi selama 3 kali setiap pemeriksaan salep. diperoleh hasil diameter
sebar rata-ratanya 2,6 cm. Kemudian dilanjutkan dengan meletakkan beban 100
gram pada kaca dan dibiarkan selama 1 menit lagi diulangi selama 3 kali setiap
pemeriksaan salep, hasil diameter sebar rata-ratanya 2,87 cm. Kemudian
dilanjutkan dengan meletakkan beban 200 gram selama 1 menit lagi diulangi

selama 3 kali setiap pemeriksaan salep dan diperoleh hasil diameter sebar rataratanya 2,95 cm. Dan meletakkan beban terakhir 250 gram pada kaca dan biarkan
1 menit diulangi selama 3 kali setiap pemeriksaan salep, setelah itu diukur lagi
diameter sebarnya, diperoleh 3,08 cm.
Hasil uji daya sebar, menunjukkan diameter penyebaran salep setelah
ditutupi dengan kaca adalah 2,5 cm. Setelah diberi beban 50, 100, 200, 250 gram
diameter masing-masing yaitu 2,6;2,87;2,93;2,95;3,03 cm. Persyaratan daya sebar
untuk sediaan topikal yaitu sekitar 5-7 cm, maka berdasarkan hasil uji daya sebar
pada sediaan dapat dikatakan bahwa sediaan tidak memenuhi syarat daya sebar
yang baik. Hasil seperti ini dimungkinkan karena kurang homogennya salep dan
formulasi yang kurang tepat.
Daya sebar yang baik menyebabkan kontak antara obat dengan kulit
menjadi luas, sehingga absorpsi obat ke kulit berlangsung cepat. Viskositas suatu
sediaan berpengaruh pada luas penyebarannya. Semakin rendah viskositas suatu
sediaan maka penyebarannya akan semakin besar sehingga kontak antara obat
dengan kulit semakin luas dan absorbsi obat ke kulit akan semakin cepat
(Maulidaniar dkk, 2011)
5. Uji Homogenitas
Uji homogenitas salep adalah untuk mengetahui apakah seluruh bahan telah
tercampur secara merata serta untuk menjamin zat aktif terkandung di dalam
bahan telah terdistribusi merata pada saat dioleskan di kulit tidak boleh terasa ada
bagian yang padat (Voight,1995). Hasil uji evaluasi salep didapatkan hasil bahwa
semua bahan pada sediaan salep homogen. Hal ini didasarkan pada saat pengujian
menggunakan gelas objek dan dapat dilihat tidak terdapat butrian kuning-kuning
yang menggumpal pada basis salep yang menunjukkan bahan aktif tidak
tercampur secara merata. Pada sediaan salep,meskipun tidak terdapat butiran
kuning menggumpal yang kasar,perbedaan warna pada hasil pengamatan namun
masih menunjukkan pemisahan antara basis salep padat dan cair berupa paraffin
liquid yang nampak memisah. Hal ini dapat menunjukkan bahwa salep tidak
stabil. Ketidakstabilan antara basis salep yang padat dan cair mungkin
dikarenakan pengadukan kedua basis yang kurang homogen.

KESIMPULAN
1. Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir. Alasan pemilihan bentuk sediaan salep yaitu,

Dipilih sediaan salep basis hidrokarbon karena tetrasiklin hidroklorida tidak


stabil dalam air (terhidrolisis). Target yang dituju lapisan epidermis.
Salep memiliki kemampuan penyebaran yang baik pada kulit.
Salep memiliki konsistensi yang kental sehingga dapat bertahan (kontak
dengan kulit) cukup lama pada daerah yang perlu diobati.
2. Hasil sediaan salep tetrasiklin HCl yang diperoleh, antara lain
a. Organoleptis
Bentuk
: salep
Bau
: jasmine oil
Warna
: kuning
Hasil sediaan telah sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.
b. pH
pH sediaan yang diperoleh yaitu 4, pH ini termasuk dalam rentang pH dalam
literatur yaitu 3 6.
c. Viskositas
Berdasarkan nilai viskositas yang didapatkan,salep memiliki konsistensi
yang cukup tinggi pada wadah saat penyimpanan dan cukup mudah untuk
disebarkan di bagian kulit.
d. Daya Sebar
uji daya sebar pada sediaan tidak memenuhi syarat daya sebar yang
diinginkan (baik).
e. Homogenitas
Diperoleh sediaan yang homogen.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim . 2002. United States Pharmacopeia Book 2. United Stated Pharmacopeia
Convention Inc. Rockville.
Martin,Alfred.1993.Farmasi Fisik Jilid I Edisi III. Jakarta : UI-Press.
Papadoyannis, L. N dkk. 2000. A rapid high performance liquid chromatographic
(HPLC) assay for the determination of oxytetracycline in commercial
pharmaceuticals.Thessaloniki : Aristoteles University of Thessaloniki.
Reynolds, James E.F. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia 28th Edition. The
Pharmaceutical Press. London.
Schramm, G.1998.A Practical Approach to Rheology and Rheometry, 2nd Edition, 2021. Gebrueder HAAKE GmbH Karlsruh. Federal Republic of Germany.
Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi (Terjemahan) Noeron .S, Edisi V.
Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.