Anda di halaman 1dari 39

Farmasi STKES Karisma Persada

MODUL PRAKTIKUM
FITOKIMIA

DISUSUN OLEH :
Muhammad Ikhwan Lukmanudin, S.Far., Lc., MA.Kes., Apt

FARMASI STIKES KHARISMA PERSADA


1 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


KATA PENGANTAR

Praktikum analisis fitokimia merupakan bagian dari paket materi


kuliah fitokimia yang diberikan kepada mahasiswa agar mahasiswa
mengetahui cara-cara analisis komponen kimia dalam tumbuhan,
khususnya tumbuhan obat. Materi praktikum disusun sedemikian rupa
sehingga dapat menunjang serta sekaligus memberikan gambaran yang
lebih jelas mengenai materi yang diberikan pada perkuliahan. Melalui
praktikum yang terarah diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan
merangsang inovasi baru dari mahasiswa dalam teknis praktis.
Buku panduan praktikum analisis fitokimia ini diupayakan dapat
memberi gambaran mengenai tahapan analisis fitokimia yang biasa
dilakukan oleh para peneliti bahan alam, dimulai dengan tahapan
pengenalan metabolit sekunder dalam tanaman obat melalui penapisan
fitokimia, metode ekstraksi untuk memisahkan sebagian besar komponen
kimia, metode pemisahan metabolit sekunder dengan teknik
kromatografi, serta metode pemurniannya, sehingga diperoleh komponen
tunggal/isolat. Selain itu, juga dipelajari mengenai isolasi minyak atsiri
dengan metode destilasi, enfleurasi, dan ekstraksi dari hasil pemerasan.
Teknik yang diberikan dalam buku panduan ini merupakan teknik
dasar namun dapat diterapkan di laboratorium dan cukup terandalkan.
Harapan kami semoga buku Panduan Praktikum Analisis Fitokimia ini
dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk proses pembelajaran di
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, khususnya dalam mata kuliah
Fitokimia.

Tangerang Selatan, September 2015


Penyusun

2 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI

PRAKTIKUM PERTAMA

PRAKTIKUM KEDUA 7
PRAKTIKUM KETIGA

16

PRAKTIKUM KEEMPAT

24

PRAKTIKUM KELIMA

26

PRAKTIKUM KEENAM

28

PRAKTIKUM KETUJUH

30

PRAKTIKUM KEDELAPAN

32

PRAKTIKUM KESEMBILAN 35
PRAKTIKUM KESEPULUH

43

PRAKTIKUM KESEBELAS

50

PRAKTIKUM KEDUABELAS 56
PRAKTIKUM KETIGABELAS 62
PRAKTIKUM KEEMPATBELAS

65

3 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada

PRAKTIKUM PERTAMA
PENYIAPAN SAMPEL BAHAN ALAM

TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah praktikum diharapkan mahasiswa dapat melakukan tahapan
dalam mempersiapkan simplisia sebelum melakukan proses ekstraksi dari
tumbuhan
TEORI DASAR
Tumbuhan telah digunakan semenjak zaman dahulu untuk mengobati
berbagai penyakit. Pada awalnya tumbuhan digunakan dalam proses
pengobatan
dalam
bentuk
herbalnya,
tetapi
seiring
dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolobgi, saat ini tumbuhan
berperan dalam menyediakan senyawa murni yang dapat dimanfaatkan
sebagai obat. Proses pencarian senyawa obat dari tumbuhan adalah
sebuah proses yang kompleks dan panjang serta melibatkan berbagai
bidang ilmu pengetahuan antara lain limia, farmakologi, biokimia, botani,
antropologi dan lain-lain.
Tumbuhan memberikan peranan yang penting dalam pengobatan
penyakit, dapat berada dalam bentuk teh herbal, fitofarmaka dan
senyawa murni yang diisolasi dari tumbuhan obat. Secara garis besar,
tahapan dalam proses isolasi senyawa kimia dari tumbuhan adalah
pertama persiapan sampel atau simplisia yang meliputi (pemilihan
sampel, pengambilan dan identifikasi sampel serta sortasi basah,
perajangan, pengeringan dan penghalusan), kedua skrining fitokimia,
ketiga ekstraksi dan keempat isolasi senyawa murni.
1. Pemilihan sampel, pengambilan dan identifikasi sampel

4 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


Metode yang digunakan dalam pemilihan, pengumpulan dan
identifikasi bahan tanaman secara langsung akan mempengaruhi
reproduksibilitas dari suatu penelitian fitokimia. Kecerobohan pada
tahap ini akan dapat mengurangi nilai ilmiah dari studi keseluruhan.
secara umum, pemilihan sampel dapat dilakukan menggunakan
beberapa pendekatan, antara lain
a. Pemilihan sampel secara random
b. Pendekatan fitokimia : pemilihan sampel berdasarkan kandungan
kimianya
c. Pendekatan farmakologis
bioaktivitasnya

pemilihan

sampel

berdasarkan

d. Pendekatan etnobotani : pemilihan sampel berdasarkan informasi


penggunaan tradinational tumbuhan tertentu. Biasanya sumber
informasi adalah seorang herbalis ataupun dari masyarakat yang
biasa menggunakan tumbuhan obat
e. Pendekatan kemotaksonomi : pemilihan berdasarkan kesamaan
taksonomi, misalnya dipilih berdasarkan famili tumbuhan tertentu
f. Pemilihan sampel berdasarkan laporan atau jurnal ilmiah tentang
pengujian bioaktivitas suatu tumbuhan
Kadar aktif suatu senyawa dalam suatu tumbuhan berbeda-beda dan
sangat bergantung pada bagian tanaman yang diambil, waktu
pengambilan, umur tumbuhan dan lingkungan tempat tumbuh. Identifikasi
sampel perlu dilakukan oleh ahlinya, serta sampel harus disimpan dengan
nomor kode sampel di herbarium untuk memudahkan penelusuran
kembali.
2. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan dengan cara pencucian sampel yang
bertujuan untuk menghilangkan sampel dari tanah dan kotoran lainnya
yang melekat
3. Perajangan
Beberapa sampel memerlukan perajangan terlebih dahulu sebelum
dikeringkan, yang bertujuan untuk membantu proses pengeringan.
Tanaman yang baru diambil, jangan langsung dirajang, tetapi dijemur
5 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


dalam keadaan utuh selama 1 hari, selanjutnya baru dirajang dengan
menggunakan pisau atau alat pemotong lainnya sehingga membentuk
irisan tipis atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan.
4. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang
dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Secara umum simplisia
harus dikeringkan pada suhu dibawah 30 oC, untuk mengundari
terurainya komponen kimia yang terdapat dalam tumbuhan akibat dari
pengaruh suhu. Sampel harus dihindari dari sinar matahari langsung
karena adanya potensi transformasi kimia akibat dari radiasi sinar UV.
5. Penghalusan
Jika sampel yang akan dihaluskan jumlahnya sedikit maka akan
digunakan blender. Tetapi jika jumlah sampel banyak, maka dianjurkan
untuk menghaluskan dengan menggunakan peralatan penghancur
skala industri.
ALAT :
1. Pisau
2. Gunting
3. Alas Pemotong
4. Blender
5. Kertas Koran
BAHAN :
Tumbuhan Obat

PROSEDUR KERJA
1. Pemilihan sampel
6 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


Pilihlah sampel dari tumbuhan yang akan diisolasi kandungan
kimianya dan tentukan pendekatan apa yang akan digunakan dalam
pemilihan sampel tersebut
2. Pengambilan sampel
Lakukan pengambilan sampel, serta lakukan pencatatan terhadap
a. Bagian tanaman yang diambil
b. Umur tanaman (jika memungkinkan)
c. Waktu pengambilan
d. Lokasi pengambilan
e. Jumlah (gram) sampel segar yang diambil
3. Identifikasi
Lakukan identifikasi organoleptik tumbuhan atau sampel tersebut.
Meliputi (bau, rasa, warna dan bentuk)
4. Perajangan
Untuk mempermudah dan membantu proses pengeringan, maka
sampel yang telah disortasi basah dan dibiarkan selama 1 hari,
selanjutnya dirajang dengan menggunakan pisau atau pemotong
lainnya sehingga membentuk irisan tipis, jika sampel yang diambil
adalah daun, maka proses perajangan tidak diperlukan.
5. Pengeringan
Sampel yang telah dirajang selanjutnya dikeringkan dan hindari
terkena cahaya matahari langsung
6. Penghalusan
Sampel yang telah kering, kemudian dihaluskan dengan
menggunakan blender. Sampel yang telah halus selanjutnya
ditimbang beratnya.

7 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


KEIMPULAN ...............................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
.............................

Paraf Asisten Praktikum

Paraf Praktikan

(Hari/Tanggal)

(Hari/ Tanggal)

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1985. Cara Pembuatan
Simplisia
2. Sarker, SD. Latif, Z. Gray. A.I. 2006. Natural Product Isolation. Humana
Press, New Jersey.

8 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada

PRAKTIKUM KEDUA
PENAPISAN FITOKIMIA SIMPLISIA TUMBUHAN OBAT

TUJUAN PRAKTIKUM
Melakukan pengujian penapisan fitokimia terhadap beberapa
simplisia tumbuhan obat sehingga diketahui golongan metabolit sekunder
yang terkandung dalam simplisia tersebut. Setelah melakukan praktikum

9 | M o d u l Pr a k t i ku m Fi t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


ini, mahasiswa mampu menganalisis kandungan metabolit sekunder suatu
simplisia tumbuhan obat atas dasar hasil pengujian penapisan fitokimia.
TEORI DASAR
Tumbuhan obat adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yang
digunakan baik untuk pencegahan ataupun pengobatan penyakitpenyakit tertentu, atas dasar pengggunaan secara empirik ataupun
pengujian ilmiah. Pengujian khasiat suatu tanaman obat dilakukan melalui
uji pra klinik hingga uji klinik.
Pengembangan obat tradisional di Indonesia semakin menunjukkan
kemajuan yang mengarah kepada upaya memasuki jalur pelayanan
kesehatan formal. Obat tradisional yang akan memasuki jalur pelayanan
kesehatan formal dituntut mempunyai kualitas yang memenuhi standar
yang telah ditetapkan. Evaluasi kualitas ini diperlukan untuk mendapatkan
obat tradisional yang memenuhi persyaratan, memiliki khasiat, dan aman
digunakan.
Khasiat atau aktivitas farmakologi yang menjadi tumpuan bagi
penggunaan suatu tumbuhan sebagai tumbuhan obat ditentukan oleh
kandungan senyawa metabolit sekunder dalam tumbuhan atau bagian
tumbuhan tersebut. Kandungan senyawa metabolit sekunder yang
mempunyai arti penting dalam kaitan dengan khasiat atau
aktivitasfarmakologi tumbuhan obat adalah senyawa metabolit sekunder
kelompok alkaloid, tanin dan polifenolat, mono dan sesquiterpen, senyawa
kuinon, glikosida jantung, flavonoid, triterpenoid dan steroid, serta
saponin.
Uji fitokimia terhadap kandungan senyawa kimia metabolit sekunder
merupakan langkah awal yang penting dalam penelitian mengenai
tumbuhan obat atau dalam hal penelusuran senyawa aktif baru yang
berasal dari bahan alam yang dapat menjadi prekursor bagi sintesis obatobat baru atau menjadi prototype senyawa obat dengan aktivitas
tertentu. Oleh karenanya, metode uji fitokimia harus merupakan uji
sederhana tetapi terandalkan. Metode uji fitokimia yang banyak
digunakan adalah metode reaksi warna dan pengendapan yang dapat
dilakukan di lapangan atau di laboratorium. Metode evaluasi fitokimia
meliputi penapisan fitokimia dan pencarian senyawa identitas melalui
analisis kromatografi.

10 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


I. Alkaloid
Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang dalam struktur
molekulnya terdapat atom Nitrogen (umumnya heterosiklik). Adanya
pasangan elektron bebas pada atom Nitrogen ini menyebabkan alkaloid
dapat membentuk kompleks yang tidak larut dengan logam-logam berat.
Fenomena ini merupakan dasar bagi reaksi pengenalan adanya alkaloid
dalam simplisia tumbuhan obat.
Alkaloid adalah kelompok atau golongan senyawa kimia metabolit
sekunder asal tumbuhan atau hewan dengan struktur yang mempunyai
atom Nitrogen (umumnya terikat dalam lingkar heterosiklik), bersifat
basa, serta mempunyai aktivitas fisiologis tertentu. Berdasarkan
biosintesisnya, alkaloid terbagi atas:
1. True alkaloid (alkaloid sesungguhnya), biosintesisnya berasal dari
asam amino, bersifat basa, umumnya mempunyai atom Nitrogen
dalam lingkar heterosiklik
2. Proto alkaloid, merupakan amina yang bersifat sederhana dengan
atom Nitrogen yang tidak terdapat dalam lingkar heterosiklik. Contoh
meskalin dan efedrin.
3. Pseudo alkaloid, biosintesisnya tidak berasal dari asam amino.
Contohnya basa purin (antara lain kafein)
Umumnya alkaloid bersifat basa karena adanya pasangan elektron
bebas pada atom Nitrogennya (Teori Asam-Basa Lewis). Dalam tumbuhan
biasanya alkaloid terdapat dalam bentuk garam (tartrat, laktat, sitrat).
Sifat kimia alkaloid ini merupakan dasar bagi cara isolasi maupun
pengenalannya. Pengenalan alkaloid didasarkan pada kemampuannya
membentuk senyawa kompleks tidak larut dengan pereaksi-pereaksi yang
mengandung logam berat, misalnya pereaksi Mayer (mengandung kalium
ioda dan raksa (II) klorida), pereaksi Dragendorff (mengandung Bismuth
subnitrat dan raksa (II) klorida).
Alkaloid dengan pereaksi Mayer akan memberikan endapan putih,
sedangkan pereaksi Dragendorff akan memberikan endapan jingga coklat.
Walaupun reaksi pengenalan alkaloid dengan kedua pereaksi tersebut
merupakan reaksi pengenalan umum tetapi beberapa senyawa non
alkaloid dapat mengendap dengan pereaksi- pereaksi tersebut di atas,
misalnya protein, kumarin, -piron, hidroksi flavon serta tannin. Reaksi
pengenalan palsu tersebut terkenal dengan sebutan reaksi positif palsu
(false positive). Perlu menjadi perhatian, selain adanya reaksi positif
11 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


palsu, dengan metode ini senyawa alkaloid kuarterner dalam simplisia
tidak dapat diubah menjadi alkaloid bentuk basa dan akan tetap tinggal
dalam sel, sehingga tidak dapat dikenali dengan metode pengendapan
oleh reaksi-reaksi tersebut di atas. Keadaan seperti itu disebut sebagai
reaksi negatif palsu (false negative).
Metode : Simplisia dibasakan dengan ammonia encer, digerus dalam
mortir, kemudian ditambahkan beberapa milliliter kloroform sambil terus
digerus. Setelah disaring, filtrat dikocok dengan asam klorida 2 N. Lapisan
asam dipisahkan kemudian dibagi menjadi tiga bagian dan diperlakukan
sebagai berikut :
1. Bagian pertama digunakan sebagai blangko
2. Bagian kedua ditetesi dengan larutan pereaksi Mayer, kemudian
diamati ada atau tidaknya endapan berwarna putih
3. Bagian ketiga ditetesi dengan larutan pereaksi Dragendorff,
kemudian diamati ada atau tidaknya endapan jingga coklat
II. Flavonoid
Flavonoid adalah senyawa metabolit sekunder yang memberikan
berbagai warna pada tumbuhan. Flavonoid mempunyai struktur yang
sangat bervariasi, namun pada umumnya mempunyai struktur dasar :

Gambar. Struktur dasar Flavonoid


Pengenalan flavonoid didasarkan pada reaksi reduksi gugusan
karbonil pada lingkar d-lakton menjadi gugusan alkohol membentuk
senyawa hidroksi yang berwarna-warna tergantung pada gugusan
fungsional yang terikat pada lingkar A atau B. warna yang terjadi dapat
ditarik oleh amil alkohol.
Metode : Senyawa dipanaskan dengan campuran logam Magnesium
dan asam klorida 5N, kemudian disaring. Adanya flavonoid akan
menyebabkan filtrat berwarna merah yang dapat ditarik oleh amilalkohol.
Untuk lebih memudahkan pengamatan sebaiknya digunakan percobaan
blangko.
12 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


III. Tanin dan Polifenol
Tanin dan senyawa polifenolat alam mudah dikenali melalui
pengenalan gugusan fenol yang dapat memberikan warna biru-hitam
dengan pereaksi besi (III) klorida. Untuk membedakan tanin dengan
polifenolat alam, digunakan sifat tanin yang dapat mengendapkan larutan
gelatin 1%.
Metode : Simplisia digerus dan dipanaskan dengan air di atas tangas
air, kemudian disaring panas-panas. Sebagian kecil filtrat ditetesi larutan
besi (III) klorida. Terbentuknya warna biru-hitam menunjukkan adanya
tanin dan polifenol alam. Sebagian kecil filtrat diuji ulang dengan
penambahan larutan gelatin 1%. Adanya endapan putih menunjukkan
bahwa dalam simplisia terdapat tanin.
IV. Saponin
Saponin adalah senyawa metabolit sekunder dalam tumbuhan yang
bersifat dapat membentuk busa, serta dapat menghemolisis sel darah
merah. Struktur kimia umumnya merupakan glikosida, yang bila
dihidrolisis akan menghasilkan bagian glikon (senyawa gula) dan aglikon
(senyawa non gula). Struktur aglikon tannin umumnya merupakan
struktur triterpenoid dan struktur steroid, hingga ditinjau dari strukturnya
saponin dapat dipilah menjadi saponin-triterpenoid dan saponin-steroid.
Reaksi pengenalan saponin didasarkan pada sifatnya yang mampu
memberikan busa pada pengocokan dan persisten pada penambahan
sedikit asam atau pada pendiaman.
Metode: Di atas tangas air, dalam tabung reaksi, simplisia dicampur
dengan air dan dipanaskan beberapa saat, kemudian disaring. Setelah
dingin filtrat dalam tabung reaksi dikocok kuat-kuat selama lebih kurang
30 detik. Pembentukan busa sekurang-kurangnya setinggi 1 cm dan
persisten selama beberapa menit serta tidak hilang setelah penambahan
1 tetes asam klorida encer menunjukkan bahwa dalam simplisia terdapat
saponin.
V. Monoterpenoid dan Sesquiterpenoid
Monoterpenoid dan sesquiterpenoid adalah senyawa-senyawa C10C15 yang tersusun dari unit isoprene (C5H8). Senyawa monoterpenoid
dan sesquiterpenoid ini merupakan komponen- komponen penyusun
minyak atsiri. Reaksi pengenalan didasarkan pada kemampuannya
membentuk warna-warna dengan pereaksi anisaldehid-asam sulfat atau
pereaksi vanillin-sulfat.
13 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


Metode : Simplisia disari dengan eter, kemudian sari eter diuapkan
hingga kering. Pada residu diteteskan pereaksi anisaldehid-asam sulfat
atau pereaksi vanillin-sulfat dari pinggir cawan. Terbentuknya warnawarna
menunjukkan
adanya
senyawa
monoterpenoid
dan
sesquiterpenoid.
VI. Steroid dan Triterpenoid
Senyawa kelompok steroid dan triterpenoid adalah senyawasenyawa kelompok metabolit sekunder yang mempunyai struktur dasar
yang hampir sama.

Gambar. (a) Steroid, (b) Triterpenoid

Pengenalan
senyawa
triterpenoid
dan
steroid
didasarkan
kemampuannya membentuk warna dengan pereaksi LiebermannBurchard.
Pereaksi
Liebermann-Burchard
dibuat
dengan
cara
mencampurkan 20 bagian asam asetat anhidrat dengan 1 bagian asam
sulfat pekat. Pereaksi ini harus digunakan dalam media bebas air.
Metode : Simplisia disari dengan eter, kemudian sari eter diuapkan
hingga kering. Pada residu diteteskan pereaksi Liebermann-Burchard.
Terbentuknya warna ungu menunjukkan bahwa dalam simplisia
mengandung senyawa kelompok triterpenoid, sedangkan bila terbentuk
warna biru-hijau menunjukkan adanya senyawa kelompok steroid.
VII. Senyawa Kuinon
Senyawa kuinon umumnya merupakan turunan p-benzokuinon.

Gambar. p-benzokuinon

14 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


Pengenalan
senyawa
ini
didasarkan
pada
kemampuannya
membentuk garam berwarna antara hidrokuinon dengan larutan alkali
kuat (NaOH atau KOH).

Gambar. Reaksi hidrokuinon dengan larutan alkali kuat


Metode : Simplisia digerus dan dipanaskan dengan air, kemudian
disaring. Filtrat ditetesi dengan larutan NaOH. Terbentuknya warna kuning
hingga merah menunjukkan adanya senyawa kelompok kuinon.

ALAT :
1. Mortir
2. Erlemeyer 250 mL
3. Pipet Tetes
4. Tabung Reaksi
5. Kapas
6. Erlemeyer 50 mL
BAHAN :
1. Amonia 10%
2. Kloroform

15 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


3. HCL
4. Pereaksi Mayer
5. Pereaksi Dragendorff
6. Pereaksi FeCl3 1%
7. Larutan Gelatin 1%
8. Serbuk Mg
9. HCl 2N
10. Amil Alkohol
11. Larutan Vanilin 10%
12. H2SO4
13. Pereaksi Libermann Burchard
14. Larutan KOH 5%
15. Asam Klorida

PROSEDUR KERJA
N
o

Golongan
Senyawa

Alkoloid

Prosedur

1. 1 gram serbuk simplisia dibasakan


dengan 10 mL amonia 10%,
digerus menggunakan mortir.
2. Tambahkan 5 mL kloroform, gerus
kuat.

16 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Hasil
(+/-)

Paraf
Asiste
n

Farmasi STKES Karisma Persada


3. Lapisan kloroform dipipet sambil
disaring menggunakan pipet yang
disumbat dengan kapas, masukkan
ke dalam tabung reaksi.
4. Tambahkan kedalamnya HCl 2N
(1:10 v/v). Kocok kuat hingga
terbentuk 2 lapisan.
5. Lapisan asam dipipet,kemudian
dibagi menjadi 3 bagian :
a. Filtrat 1 : ditambahkan pereaksi
Mayer, terjadinya kekeruhan
atau
endapan
putih
menunjukkan adanya alkaloid.
b. Filtrat 2 : ditambahkan pereaksi
Dragendorff,
terjadinya
endapan
jingga
coklat
menunjukkan adanya alkaloid.
c. Filtrat 3 : digunakan sebagai
blanko.
2

Polifenolat

1. 50 mg serbuk simplisia dalam


tabung reaksi dididihkandalam 50
mL air selama 15 menit, kemudian
didinginkan dan disaring (Filtrat A).
2. Kedalam
filtrat
ditambahkan
larutan
pereaksi
FeCl3
1%.
Terbentuknya
warna
biruhitam
menunjukkan adanya senyawa
polifenola

Tanin

3. Kedalam
Filtrat
ditambahkan
larutan gelatin 1%, terbentuknya
endapan
putih
menunjukkan
adanya tanin.

Flavonoid

1. 1
gram
serbuk
simplisia
ditambahkan 50 mL air panas,
dididihkan selama 5 menit, lalu
disaring.
2. Filtrat
yang
ditambahkan sedikit
dan 5 mL HCl 2N.

17 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

dihasilkan
serbuk Mg

Farmasi STKES Karisma Persada


3. Kemudian
tambahkan
amill
alkohol, lalu dikocok kuatkuat dan
dibiarkan
hingga
memisah.
Terbentuknya warna kuning hingga
merah yang dapat ditarik dengan
amil alcohol menunjukkan adanya
flavonoid.
5

Monoterpenoid
dan
Sesquiterpenoid

1. 1 gram simplisia digerus dengan 5


mL eter, kemudian dipipet sambil
disaring menggunakan pipet yang
disumbat dengan kapas (Filtrat B).
2. Filtrat ditempatkan dalam cawan
penguap,
kemudian
dibiarkan
menguap hingga kering.
3. Ke dalam residu diteteskan larutan
vanilin 10% dalam H2SO4 pekat
melalui
pinggir
cawan,
terbentuknya
warna
warna
menunjukkan adanya mono dan
sesquiterpenoid

Steroid
dan
Triterpenoid

4. Filtrat B ditempatkan dalam cawan


penguap,
kemudian
dibiarkan
menguap hingga kering.
5. Ke dalam residu diteteskan 2
hingga
3
tetes
pereaksi
Liebermann
Burchard.
Terbentuknya
warna
ungu
menunjukkan adanya golongan
triterpenoid,
sedangkan
terbentuknya warna biru hijau
menunjukkan adanya golongan
steroid.

Kuinon

6. Kedalam
Filtrat
ditambahkan
larutan KOH 5% terbentuknya
warna
kuning
hingga
merah
menunjukkan adanya golongan
kuinon

Saponin

7. Sejumlah 10 ml Filtrat A, dikocok


vertikal dalam tabung reaksi
selama 10 detik.

18 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


8. Terbentuknya busa yang persisten
pada penambahan asam klorida
atau pada pendiaman selama lebih
kurang 10 menit, menunjukkan
adanya golongan saponin.

KESIMPULAN
Dalam simplisia yang diperiksa, diperkirakan terdapat senyawa metabolit
sekunder golongan:
1. ................................................................................
2. ................................................................................
3. ................................................................................
4. ................................................................................
5. ................................................................................
6. ................................................................................
Paraf Asisten Praktikum

Paraf Praktikan

(Hari/Tanggal)

(Hari/ Tanggal)

19 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada

DAFTAR PUSTAKA
1. Farnsworth, N.R. 1966. Biological and Phytochemical Screening of
Plants.J. Pharm. Sci. 55(3): 243-26.
2. Harborne, J.B. 1984. Metode Fitokimia. Terjemahan K. Padmawinata dan
I. Sudiro.: Penerbit ITB. Bandung
3. Marini, C.P. 1981. Plant Screening By Chemical And Chromatography.
Prosedure in the Field Condition. J. Chromatogr. 213:117-122

20 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada

PRAKTIKUM KETIGA
EKSTRAKSI METABOLIT SEKUNDER DARI SIMPLISIA TUMBUHAN
OBAT

TUJUAN PRAKTIKUM
Melakukan penyarian metabolit sekunder dari simplisia
obat dengan beberapa metode ekstraksi. Setelah melakukan
ini, mahasiswa dapat memahami dan mampu melakukan
metabolit sekunder dari simplisia tumbuhan obat dengan cara
namun terandalkan.

tumbuhan
praktikum
penyarian
sederhana

TEORI DASAR
Pada analisis fitokimia tumbuhan obat idealnya digunakan bahan
baku segar yang dididihkan dengan alkohol selama beberapa menit
segera setelah dikumpulkan. Hal ini dimaksudkan untuk menonaktifkan
enzim, supaya tidak terjadi reaksi enzimatis selama percobaan dilakukan.
Kadang-kadang tumbuhan yang akan diteliti tidak dapat diperoleh dengan
segera dan bahkan mungkin kolektornya tinggal di daerah atau benua
lain, sehingga bahan baku dikeringkan terlebih dahulu sebelum dilakukan
ekstraksi. Pengeringan ini harus dilakukan dengan hati-hati dan dijaga
jangan sampai terjadi perubahan kimia. Oleh karena itu, tumbuhan
sesegera mungkin dikeringkan diudara terbuka tanpa menggunakan
panas tinggi. Setelah kering, bahan bisa disimpan lama sebelum dilakukan
ekstraksi.
Ekstraksi merupakan tahap awal pada jalur isolasi metabolit sekunder
dari tumbuhan obat. Ekstraksi dapat dibagi menjadi beberapa golongan
tergantung dari beberapa keadaan yang menyertainya. Ditinjau dari suhu,
ekstraksi dibagi menjadi dua golongan, yaitu ekstraksi dingin dan
ekstraksi panas. Ekstraksi dingin misalnya maserasi dan perkolasi.
Ekstraksi dingin dilakukan terhadap bahan tumbuhan yang mengandung
senyawa yang bersifat termolabil. Metode ini memerlukan waktu yang
relatif lebih lama bila dibandingkan dengan ekstraksi panas.
Ekstraksi panas misalnya dengan cara infus, dekok, refluks, dan
menggunakan alat soxhlet. Ditinjau dari banyaknya ulangan proses,
ekstraksi dibagi menjadi dua golongan pula, yaitu ekstraksi satu kali,
misalnya maserasi dan ekstraksi berulang kali, misalnya dengan alat
21 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


soxhlet. Dalam hal ini efektivitas proses ekstraksi akan ditentukan oleh
banyaknya pengulangan proses ekstraksi. Ekstraksi berulang akan lebih
efektif dibanding dengan ekstraksi satu kali, sesuai dengan perumusan
sebagai berikut :

W
n

= Jumlah zat yang belum terekstraksi

W
o

= Jumlah zat mula-mula

= Koefisien partisi zat

= Volume awal

= Volume larutan pengekstraksi

= Jumlah pengulangan ekstraksi

Persamaan di atas umumnya digunakan untuk ekstraksi cair-cair,


namun untuk ekstraksi padat-cair secara umum persamaan tersebut juga
dapat diterapkan. Ditinjau dari penggunaan pelarut, metode ekstraksi
terdiri atas metode yang menggunakan pelarut seperti maserasi,
perkolasi, soxhlet, refluks, infus, dekok dan digesti dan metode ekstraksi
tanpa pelarut misalnya destilasi uap yaitu pemisahan berdasarkan
perbedaan titik uap. Terdapat beberapa metode ekstraksi lainnya
misalnya ekstraksi dengan karbondioksida superkritik, ekstraksi ultrasonik
dan ekstraksi energi listrik.
Cara ekstraksi yang tepat tergantung pada jaringan tumbuhan, kadar
air dan golongan senyawa yang akan diisolasi. Pada umumnya diperlukan
mematikan jaringan tumbuhan terlebih dahulu dengan etanol mendidih
supaya tidak terjadi oksidasi enzimatis atau hidrolisis. Etanol merupakan
pelarut yang baik untuk ekstraksi tahap awal dan dapat digunakan untuk
menghilangkan klorofil yang terdapat pada simplisia, misalnya daun yang
berwarna hijau. Pada ekstraksi pertama klorofil akantertarik dan pada
ekstraksi selanjutnya dengan etanol diharapkan simplisia telah bebas dari
klorofil.
Berdasarkan pengertian bahwa ekstraksi adalah metode penarikan
metabolit sekunder dari tumbuhan atau bagian tumbuhan dengan pelarut
yang sesuai, maka dalam pemilihan pelarut pengekstraksi berlaku prinsip:
polar loves polar, nonpolar loves nonpolar, artinya bila kita akan
mengekstraksi senyawa polar, harus digunakan pelarut polar dan apabila
22 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


kita akan mengekstraksi senyawa nonpolar, maka harus digunakan
pelarut nonpolar. Namun pada prakteknya ekstraksi dilakukan dengan
menggunakan pelarut dalam gradasi kepolaran, mulai dari nonpolar ke
polar atau dari polar ke nonpolar. Contoh pelarut polar adalah air,
metanol, etanol, pelarut semi polar adalah aseton, etil asetat, kloroform
dan pelarut nonpolar adalah n-heksana, eter minyak tanah, toluen,
benzene. Pelarut-pelarut nonpolar benzena, kloroform dan karbon
tetraklorida sekarang jarang digunakan, karena sifatnya hepatotoksik atau
karsinogenik.
Pelarut metanol merupakan pelarut yang baik daripada etanol tetapi
kini dihindari karena memiliki sifat toksik akut dan kronik. Untuk
memperoleh ekstrak total, pelarut yang digunakan dipilih yang dapat
melarutkan hampir semua metabolit sekunder yang terkandung dalam
simplisia tanaman obat. Campuran pelarut alkohol-air merupakan
campuran yang baik untuk ekstraksi awal dan diperbolehkan menurut
peraturan . Faktor utama untuk mempertimbangkan pemilihan cairan
pernyari adalah selektivitas, kemudahan bekerja/proses dengan cairan
tersebut, ekonomis, ramah lingkungan dan keamanan. Ekstrak yang
diperoleh dipekatkan dengan penguap vakum putar pada tekanan rendah
(rotavapor=rotary evaporator) hingga diperoleh ekstrak kental. Terhadap
ekstrak kental dilakukan pemeriksaan kualitas ekstrak yang meliputi
parameter kimia dan fisika seperti organoleptik, pola kromatogram (lapis
tipis dan dinamolisis), kadar air, dan bobot jenis ekstrak.

PROSEDUR EKSTRAKSI
1. MASERASI
Bagian dasar maserator dilapisi dengan kapas sebagai penyaring.
Kemudian dimasukkan sebanyak 250 gram serbuk simplisia ke dalam
maserator. Tambahkan pelarut etanol 70% atau 95% secukupnya dan
biarkan selama kira-kira 10 menit agar terjadi proses pembasahan
simplisia, kemudian ditambahkan pelarut etanol sampai seluruh serbuk
simplisia terendam. Didiamkan selama 24 jam sambil sesekali diaduk.
Ekstrak cair yang diperoleh kemudian. Ekstraksi diulangi sampai ekstrak
cair yang diperoleh hampir tidak berwarna. Ukur volume ekstrak cair yang
diperoleh kemudian dipekatkan dengan rotavapor pada suhu 30-40 oC
sehingga diperoleh ekstrak kental.
2. EKSTRAKSI DENGAN ALAT SOXHLET
Tuangkan 250 mL pelarut etanol 95% ke dalam labu alas bulat atau
sampai kurang lebih 1/2-2/3 bagian volume labu dan ditambahkan batu
didih. Serbuk simplisia sebanyak 50 gram disiapkan dalam kertas saring
23 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


whatman dan dimasukkan ke dalam tabung Soxhlet. Pasang alat soxhlet
sesuai tempatnya dan tambahkan 50 mL pelarut dari bagian atas tabung
soxhlet untuk pembasahan simplisia dan nyalakan heating mantle sampai
suhu mencapai titik didih pelarut. Ekstraksi simplisia sampai tetesan
pelarut hampir tidak berwarna. Kemudian ekstrak yang diperoleh
dipekatkan dengan rotavapor sehingga menjadi ekstrak kental.
3. EKSTRAKSI DENGAN CARA REFLUKS
Sebanyak 50 gram serbuk simplisia dimasukkan ke dalam labu alas
bulat, tambahkan kedalamnya pelarut etanol 95% sebanyak 250 ml.
Pasangkan kondensor dengan alat refluks dan nyalakan heating mantle
sampai suhu titik didih pelarut. Ekstraksi dilakukan sampai tetesan pelarut
hampir tidak berwarna. Kemudian ekstrak yang diperoleh dipekatkan
dengan rotavapor sehingga menjadi ekstrak kental.
PEMERIKSAAN PARAMETER EKSTRAK :
Pemeriksaan parameter ekstrak perlu dilakukan untuk mengetahui
kualitas ekstrak dilihat dari sifat fisik dan kandungan kimianya. Parameter
yang diperiksa adalah sebagai berikut :
1. Organoleptik Ekstrak
Pemeriksaan menggunakan panca indera untuk mendiskripsikan
bentuk, warna, bau dan rasa dari ekstrak yang diperoleh.
2. Rendemen Ekstrak
Rendemen dapat ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :

Untuk menetapkan rendemen ekstrak, sejumlah tertentu ekstrak


kental dalam cawan penguap ditimbang kemudian diuapkan di atas
penangas air dengan temperatur 40-50C sampai bobot tetap. Tentukan
berat ekstrak setelah penguapan dengan mengurangkan dengan bobot
cawan kosong, kemudian hitung rendemen ekstrak (% b/b) sesuai dengan
rumus di atas.
3. Bobot Jenis Ekstrak
Penetapan bobot jenis ekstrak dapat dilakukan sebagai berikut.
Ditimbang piknometer dengan volume tertentu dalam keadaan kosong.
Kemudian piknometer diisi penuh dengan air dan ditimbang ulang.
Kerapatan air dapat ditetapkan. Kemudian piknometer dikosongkan dan
24 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


diisi penuh dengan ekstrak, lalu ditimbang. Melalui berat ekstrak yang
mempunyai volume tertentu, dapat ditetapkan kerapatan ekstrak. Bobot
jenis ekstrak ditetapkan dengan rumus sebagai berikut :

4. Kadar Air Ekstrak


Penetapan kadar air ekstrak dapat dilakukan dengan beberapa cara
misalnya dengan titrasi langsung atau tidak langsung (pereaksi KarlFischer), destilasi atau gravimetri. Pada praktikum ini akan dilakukan
penetapan kadar air dengan destilasi menggunakan destilasi toluene.
Prosedur :
Ke dalam labu bersih dan kering dimasukkan sejumlah ekstrak kental
yang telah ditimbang seksama kemudian tambahkan 200 ml toluene,
hubungkan alat. Tuangkan toluene ke dalam labu penerima melalui alat
pendingin. Panaskan labu hati-hati selama 15 menit. Setelah toluen
mendidih, suling dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga
sebagian air tersuling, kemudian naikkan kecepatan penyulingan hingga 4
tetes tiap detik. Setelah semua air tersuling, biarkan tabung penerima
mendingin hingga suhu kamar. Setelah air dan toluene memisah
sempurna, baca volume air. Hitung kadar air dalam % v/b
5. Pola Kromatogram Lapis Tipis
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dilakukan dengan fasa diam silika gel
GF 254 dan fasa gerak/pengembang kombinasi pelarut dengan
perbandingan yang cocok. Untuk memperoleh perbandingan pengembang
yang optimal, dapat diperoleh dari literatur atau datadata penelitian atau
mencoba dengan perbandingan pelarut polar, semipolar atau non polar
yang umum.
Prosedur :
Pelat silika gel disiapkan dengan ukuran tertentu kemudian ekstrak
cair ditutulkan pada garis awal dengan menggunakan pipa kapiler, biarkan
beberapa saat hingga pelarutnya menguap. Pelat silika kemudian
dimasukkan ke dalam bejana kromatografi yang sebelumnya telah
dijenuhkan dengan cairan pengembang. Proses kromatografi dihentikan
sampai cairan pengembang sampai ke garis depan. Amati pola
kromatogram dibawah lampu UV 254 dan 366 nm dan hitung Rf setiap
bercak yang teramati. Penampak bercak dapat juga menggunakan asam
sulfat 10% dalam metanol.
25 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


6. Pola Dinamolisis
Dinamolisis dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Kertas
saring Whatman diameter 10 cm, titik pusatnya dilubangi, kemudian
dipasang sumbu yang terbuat dari kertas saring. Kertas saring bersumbu
ini kemudian ditutupkan pada cawan petri yang berisi maserat/ekstrak
cair. Biarkan terjadi proses difusi sirkular selama kurang lebih 10 menit.
Pola dinamolisis diamati.
ALAT
1. Meserator
2. Retavapor
3. Labu Ukur
4. Tabung Soxhlet
5. Cawan Penguap
6. Cawan
7. Piknometer
8. Seperangkat Alat Destilasi
9. Pipa Kapiler
10. Lampu UV
11. Kertas Saring Whatman

BAHAN
1. Etanol 70%
2. Etanil 95%
3. Pereaksi Karl Fischer
4. Silika gel GF 254
5. Asam Sulfat 10%
6. Metanol

HASIL PERCOBAAN :
1. Organoleptik Ekstrak
Bentuk

: ....................

26 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


Warna
Bau
Rasa

: ....................
: ....................
: ....................

2. Rendemen Ekstrak
Volume ekstrak kental
Berat cawan kosong

: ................. mL

: ................. g

Berat cawan + ekstrak

: ................. g

Berat cawan+ekstrak setelah penguapan : ................. g


Berat simplisia awal : ................. g
Rendemen ekstrak

: ................. % b/b

3. Bobot Jenis Ekstrak


Berat piknometer kosong

: ................. g

Berat piknometer + air

: ................. g

Berat air

: ................. g

Volume piknometer
Kerapatan air

: ................. ml
: ................. g/mL

Berat piknometer + ekstrak : ................. g


Volume piknometer

: ................. mL

Berat ekstrak

: ................. g

Kerapatan ekstrak

: ................. g/mL

Bobot jenis ekstrak

: .................

4. Kadar Air Ekstrak


Berat ekstrak uji

: ................. g

Volume air

: ................. mL

Kadar air

: ................. % v/b

5. Pola Kromatogram Lapis Tipis


No.Berca
k

Rf

Pengamatan
Sinar

UV 254

27 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

UV 366

H2SO4

Farmasi STKES Karisma Persada


Tampak

nm

nm

10%

6. Pola Dinamolisis
Keterangan :
Diameter 1 : ........ cm ; warna .........................
Diameter 2 : ........ cm ; warna .........................
Diameter 3 : ........ cm ; warna .........................
Diameter 4 : ........ cm ; warna .........................
Diameter 5 : ........ cm ; warna .........................

KEIMPULAN ...............................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
.............................

Paraf Asisten Praktikum

Paraf Praktikan

(Hari/Tanggal)

(Hari/ Tanggal)

DAFTAR PUSTAKA
28 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


1. Harborne, J.B. 1973. Phytochemical Methods , A Guide to Modern
Techniques of Plant Analysis. Chapmann and Hall. London, 1-32.
2. Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.
Dirjen POM. Direktorat Pengawasan Obat Tradisional. 9-17.
3. Depkes RI. 1980. Materia Medika Indonesia, jilid IV. 154-157

29 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


PRAKTIKUM KEEMPAT
SUSUT PENGERINGAN DARI EKSTRAK BAHAN ALAM

TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa
dapat
melakukan
pengeringan dari ekstrak bahan alam

penentuan

parameter

susut

TEORI DASAR
Parameter susut pengeringan yaitu pengukuran sisa at setelah
pengeringan pada temperatur 105oC selama 30 menit atau sampai berat
konstan yang dinyatakan sebagai nilai persen. Dalam hal kasus (jika
bahan tidak mengandung minyak menguap/atsiri dan sisa pelarut organik
menguap) identik dengan kadar air, yaitu kandungan air karena berada di
atmosfer / lingkungan terbuka. Adapun tujuan menentukan susut
pengeringan untuk emmberikan batasan maksimal (rentang) tentang
besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan.
ALAT :
1. Cawan penguap bertutup
2. Kaca arloji
3. Spatel
4. Timbangan analitik
BAHAN :
1. Ekstrak masing-masing kelompok
PROSEDUR KERJA
1. Ekstrak ditimbang seksama sebanyak 2 gram (B) dan dimasukan ke
dalam boto, timbang dangkal tertutup (cawan penguap tertutup)
yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu 105 oC selama 30
menit dan telah ditara (Ao)
2. Sebelum ditimbang, ekstrak diratakan dalam botol ditimbang
dengan menggoyangkan botol, hingga menjadi lapisan setebal lebih
kurang 5 mm 10 mm. Jika ekstrak yang diuji merupakan ekstrak
kental, ratakan dengan bantuan pengaduk. Lemudian dimasukan ke
dalam ruang pengering, buka tutupnya dan keringkan pada suhu
105oC hingga botol tetap (A1).
3. Sebelum setiap pengeringan, biarkan botol dalam keadaan tertutup
mendingin dalam eksilator hingga suhu kamar
30 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


4. Catat bobot tetap yang diperoleh untuk menghitung persentase
susut pengeringannya.
5. Hitung persentase susut pengeringan dengan rumus berikut :
% susut pengeringan =

A 1Ao
x 100
B

Keterangan :
A1

: Bobot cawan + ekstrak setelah pemanasan (gr)

Ao

: Bobot cawan kosong (gr)

: Bobot sampel awal (gr)

KEIMPULAN ...............................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
.............................

Paraf Asisten Praktikum

Paraf Praktikan

(Hari/Tanggal)

(Hari/ Tanggal)

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar
Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Edisi I. Direktorat Jendral Pengawasan
Obat dan Makanan. Direktorat Pengawasan Obat Tradinasional. Jakarta
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1980. Materia Medika
Indonesia , Jilid IV.

31 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada

PRAKTIKUM KELIMA
PENENTUAN BOBOT JENIS DENGAN METODA PIKNOMETER
EKSTRAK BAHAN ALAM

TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu menentukan bobot jenis ekstrak bahan alam
dengan metode piknometer
TEORI DASAR
Piknometer bobot jenis yaitu masa persatuan volume pada suhu
kamar tertentu (25oC) yang ditentukan dengan alat khusus piknometer
atau alat lainnya. Tujuannya yaitu memberikan batasan tentang besarnya
massa persatuan volum yang merupakan perameter khusus ekstrak cair
sampai ekstrak pekat (kental) yang masih dapat dituang. Bobot jenis juga
terkait dengan kemurnian dari ekstrak dan kontaminasi.
ALAT :
1. Piknometer
2. Timbangan Analitik
BAHAN :
1. Ekstrak masing-masing kelompok
2. Air
PROSEDUR KERJA
1. Poknometer yang bersih, kering dan telah dikalibrasi ditimbang
terlebih dahulu (Wo)

32 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


2. Piknometer diisi dengan air yang baru di didihkan pada suhu 25 oC
kemudian ditimbang (W1)
3. Ekstrak cair (5% dan 10%) diatur kurang lebih pada suhu 20 oC lalu
dimasukkan ke dalam piknometer kosong, buang kelebihan ekstrak,
atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25 oC kemudian
ditimbang (W2).
4. Hitung bobot jenis ekstrak dengan rumus :
W 2WO
W 1WO
Keterangan :
d

: Bobot jenis

WO

: Bobot Piknometer Kosong

W1

: Bobot Piknometer + air

W2

: Bobot Piknometer + ekstrak

KEIMPULAN ...............................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
.............................

Paraf Asisten Praktikum

Paraf Praktikan

(Hari/Tanggal)

(Hari/ Tanggal)

DAFTAR PUSTAKA

33 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar
Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Edisi I. Direktorat Jendral Pengawasan
Obat dan Makanan. Direktorat Pengawasan Obat Tradinasional. Jakarta
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1980. Materia Medika
Indonesia , Jilid IV.

PRAKTIKUM KEENAM
PENENTUAN KADAR AIR DENGAN METODE GRAVIMETRI DARI
EKSTRAK BAHAN ALAM

TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa dapat menentukan kadar air ekstrak bahan alam dengan
metode gravimetrik
TEORI DASAR
Penentuan kadar air adalah pengukuran kandungan air yang berada
di dalam bahan, dilakukan dengan cara yang tepat diantaranya adalah
dengan cara titrasi, destilasi atau gravimetrik. Kadar air ditetepkan untuk
menjaga kualitas ekstrak. Disamping untuk penentuan kadar air, dapat
juga untuk menentukan jumlah zat lain yang mudah menguap pada
ekstrak. Menurut literatur, kadar air dalam ekstrak tidak boleh lebih dari
10%. Hal ini bertujuan untuk menghindari cepatnya pertumbuhan jamur
dalam ekstrak.
34 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


ALAT :
1. Krus Porselen
2. Timbangan Analitik
3. Oven
BAHAN :
1. Ekstrak masing-masing kelompok
PROSEDUR KERJA
1. Masukan lebih kurang 1 g ekstrak dan timbang seksama dalam
wadah yang telah ditara (krus porselen)
2. Keringkan pada suhu 105 oC selama 5 jam dan ditimbang
3. Lanjutkan pengeringan dan timbang pada jarak 1 jam sampai
perbedaan antara 2 penimbangan berturut-turut tidak lebih dari
0,25%.
KEIMPULAN ...............................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
.............................

Paraf Asisten Praktikum

Paraf Praktikan

(Hari/Tanggal)

(Hari/ Tanggal)

DAFTAR PUSTAKA
35 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


Depatemen Kesehatan Republik Indonesia, 2000. Pengantar Standar
Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, edisi I, Direktorat Jendral Pengawasan
Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Obat Tradinasional, Jakarta.

PRAKTIKUM KETUJUH
PENENTUAN KADAR ABU EKSTRAK BAHAN ALAM

TUJUAN PRAKTIKUM
Mahasiswa dapat menentukan kadar abuekstrak bahan alam
TEORI DASAR
36 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


Penentuan kadar abu bertujuan untuk memberikan gambaran
kandungan mineral internal dan eksternal. Penentuan kadar abu dilakukan
terhadap kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam. Kadar abu
ditetapkan sebagai kadar anorganik (mineral) dalam ekstrak sedangkan
kadar abu tidak larut asam sebagai kadar anorganik yang tidak larut
asam. Penentuan kadar abu menjadi penting dilakukan karena kadar abu
dapat menunjukkan kelayakan suatu sampel untuk pengolahan
berikutnya, bila kadar abu suatu sampel tinggi berarti masih banyak
bagian lain dari sampel yang terikut pada tahap sortasi atau penghalusan.
Selain itu kadar abu juga dapat digunakan sebagai parameter nilai gizi
suatu sampel, bila kadar abu tidak larut asam suatu sampel cukup tinggi
maka masih banyak terdapat pasir atau kotoran lain yang terikut.
Berdasarkan buku monografi ekstrak tumbuhan obat (2004) kadar abu
total tidak boleh lebih dari 16,6% dan untuk kadar abu tidak larut asam
tidak boleh lebih dari 0,75.
ALAT :
1. Kurs Porselen
2. Oven
3. Desikator
4. Penjepit Kayu
5. Timbangan Analitik
BAHAN :
1. Ekstrak bahan alam masing-masing kelompok
PROSEDUR KERJA
1. Penetapan kadar Abu
a. Timbang 2-3 g ekstrak dalam seksama ke dalam kurs yang sudah
ditara, dipijarkan berlahan-lahan.
b. Kemudian suhu dinaikan secara bertahap hingga 600 25 oC
sampai bebas karbon, selanjutnya didinginkan dalam desikator,
serta timbang berat abu.
c. Kadar abu dihitung dalam persen terhadap berat sampel awal

2. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam


a. Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu, dididihkan
dengan 25 mL asam sulfat pekat selama 5 menit
37 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada


b. Kumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam, saring melalui
kurs kaca masir atau kertas saring bebas abu
c. Cuci dengan air panas, pijarkan hingga bobot tetap, lalu timbang
d. Hitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap berat
sampel awal

KEIMPULAN ...............................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
...................................................................................................
.............................

Paraf Asisten Praktikum

Paraf Praktikan

(Hari/Tanggal)

(Hari/ Tanggal)

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2000), parameter standar
umum ekstrak tumbuhan obat, edisi I, Direktorat Jendral Pengawasan
Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Obat Tradinasional, Jakarta
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1980, Materia Medika
Indonesia, Jilid IV.

38 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Farmasi STKES Karisma Persada

39 | M o d u l P r a k t i k u m F i t o k i m i a

Anda mungkin juga menyukai