Anda di halaman 1dari 9

perpustakaan.uns.ac.

id

digilib.uns.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Matematika adalah ilmu pengetahuan eksak dan terstruktur secara
sistematis, logis dan bertumpu pada rasional manusia. Sehingga secara tidak
langsung matematika memegang peranan dalam membentuk pola pikir,
memecahkan masalah dan mengomunikasikan gagasan secara efektif,
sistematis dan praktis. Dengan kata lain, matematika juga merupakan alat
komunikasi yang teliti dan tidak membingungkan.
Melalui

komunikasi,

siswa

dapat

mengeksplorasi

pemikiran

matematisnya, mengembangkan pola pikir, dan menghubungkan gagasan satu


dengan gagasan yang lain, sehingga dapat meningkatkan pemahaman konsep
konsep abstrak dalam pembelajaran matematika yang dihadapi oleh peserta
didik sehingga keadaan atau masalah yang dihadapi terlihat lebih jelas.
Komunikasi matematis itu sendiri merupakan cara bagi peserta didik untuk
mengomunikasikan gagasan-gagasan, strategi ataupun solusi matematika baik
secara tertulis maupun lisan.
Pentingnya komunikasi membuat beberapa ahli melakukan penelitian
mengenai

komunikasi

matematis.

Beberapa

hasil

temuan

penelitian

(Fuentes,1998; Wahyudin,1999; Osterholm,2006; Ahmad,Siti&Roziati,2008)


dalam Neneng Maryani (2011:23) menunjukkan bahwa kemampuan
komunikasi matematis peserta didik dinilai masih rendah terutama
keterampilan dan ketelitian dalam mencermati atau mengenali sebuah
persoalan matematika. Begitu juga menurut hasil penelitian Osterholm
(2006:292-294)

menyatakan

bahwa

responden

tampaknya

kesulitan

mengartikulasikan alasan dalam memahami suatu bacaan. Ketika diminta


mengemukakan alasan logis atas pemahamannya, responden terkadang hanya
tertuju pada bagian kecil dari teks, menyatakan bahwa bagian ini
(permasalahan yang memuat simbol-simbol) tidak mengerti, tetapi tidak
memberikan alasan atas pernyataannya
tersebut. Selain itu, menurut hasil
commit to user

2
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

penelitian Ahmad, Siti, dan Roziati dalam penelitian Neneng Maryani


(2011:24) menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik tidak menuliskan
solusi masalah dengan menggunakan bahasa matematik yang benar. Oleh
karena itu, pengembangan kemampuan berkomunikasi secara matematis
sangat diperlukan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran matematika. Hal
ini didukung dengan salah satu poin tujuan pembelajaran matematika di
sekolah

menurut

Permendiknas

No.22

(Depdiknas,

2006),

yaitu

mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain


untuk memperjelas keadaan dan masalah.
Permendiknas No.22 tahun 2006 mengenai Standar Isi Mata Pelajaran
Matematika, menyatakan tujuan pembelajaran matematika yaitu :
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika

dalam

membuat

generalisasi,

menyusun

bukti,

atau

menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.


3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan
solusi yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media
lain untuk memperjelas keadaan dan masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran matematika yang
terjadi adalah pembelajaran yang lebih mengutamakan pada pencapaian target
materi sesuai isi buku yang digunakan sebagai buku wajib dengan berorientasi
pada soal-soal UN dan masih kurang memperhatikan ketercapaian pada
kompetensi dasar matematika peserta didik, dimana pada umumnya soal-soal
commit to peserta
user
UN hanya mengukur kemampuan
didik melalui penyelesaian

perpustakaan.uns.ac.id

3
digilib.uns.ac.id

persoalan dengan pilihan ganda. Tentu saja hal ini tidak bisa mengukur sejauh
mana kemampuan peserta didik untuk menuliskan notasi matematika,
memberikan argumen secara tertulis, mengkomunikasikan gagasan/ide yang
dimiliki dimana kemampuan tersebut merupakan aspek dalam komunikasi
matematis. Akibatnya guru lebih menekankan aspek pemahaman konsep dan
pemecahan masalah. Sehingga komunikasi matematis yang seharusnya
mendapat perhatian sering terabaikan.
Tidak diperhatikannya aspek komunikasi matematis mengakibatkan tidak
jarang kita temui banyak peserta didik yang berkemampuan komunikasi
matematis rendah. Hal tersebut terlihat dari banyaknya peserta didik yang
menyelesaikan permasalahan matematika melalui tulisan seringkali tidak
sistematis dan sulit untuk dipahami orang lain, sehingga gagasan-gagasan
yang ada di dalam pikiran peserta didik tidak tertuang secara jelas. Padahal
ilmu matematika tidak hanya mengajarkan bagaimana peserta didik mampu
menyelesaikan permasalahan melalui perhitungan saja, tetapi bagaimana
peserta didik dapat menganalisis dan mengkomunikasikan gagasan-gagasan
yang harus dituangkan dalam sebuah pengerjaan.
PISA merupakan suatu program penilaian skala internasional yang
bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik menerapkan
pengetahuan yang sudah mereka pelajari di sekolah. PISA fokus dalam
mengukur kemampuan peserta didik dalam bidang membaca, matematika, dan
sains. PISA mengacu pada filosofi bahwa matematika bukanlah suatu ilmu
yang terisolasi dari kehidupan manusia, melainkan matematika justru berasal
dari kehidupan kita sehari-hari. Dari hasil PISA matematika tahun
2009,diperoleh hasil bahwa hampir setengah dari peserta didik Indonesia
(yaitu 43,5 %) tidak mampu menyelesaikan soal PISA paling sederhana (the
most basic PISA task). Sekitar sepertiga peserta didik di Indonesia (yaitu
33,1%) hanya bisa mengerjakan soal jika permasalahan soal konstektual
diberikan secara eksplisit dan semua data yang dibutuhkan untuk mengerjakan
soal tersebut diberikan secara tepat. Hanya 0,1% peserta didik di Indonesia
commit to user

4
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

yang mampu mengembangkan dan mengerjakan pemodelan matematika yang


menuntut keterampilan berpikir dan penalaran.
Kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan peserta
didik

dalam

menyatakan

ide,

bercakap,

menjelaskan,

menggambar,

mendengarkan, menanyakan, dan bekerja sama. Kemampuan peserta didik


memberikan dugaan tentang gambar-gambar pada masalah geometri juga
merupakan komunikasi matematis. Dalam berkomunikasi secara matematis
terkadang ada beberapa kendala yang sering terjadi yaitu kurang jelasnya
dalam berkomunikasi sehingga terdapat beberapa ide yang tidak tersampaikan
secara rinci dan terdapat ungkapan yang menyebabkan ambigu atau
mengandung dua makna. Oleh karena itu diperlukan komunikasi matematis
secara tertulis sehingga gagasan dapat tersampaikan secara jelas dan mudah
dipahami orang lain. Komunikasi matematis secara tertulis dapat membantu
peserta didik dalam menyatakan hasil dalam bentuk tertulis baik melalui
gambar, tabel, bagan, dan simbol matematika secara tepat sehingga tidak ada
yang ambigu dan ide-ide dapat tersampaikan secara jelas, mudah dipahami
orang lain, dan rinci.
Berdasarkan hasil observasi peneliti di kelas X MIA 1 MIA 5 SMA N 1
Sukoharjo pada semeter ganjil tahun ajaran 2014/2015 dan wawancara dengan
guru matematika, diperoleh informasi bahwa secara umum kemampuan
komunikasi matematika peserta didik kelas X MIA SMA N 1 Sukoharjo
masih rendah, hal ini dibuktikan dengan adanya :
1. Sebagian besar peserta didik merasa kesulitan dalam menyampaikan
ide/gagasan

matematika

baik

secara

lisan

maupun

tertulis

dari

permasalahan kontekstual (soal cerita) contohnya mengubah suatu


permasalahan kontekstual (soal cerita) ke dalam kalimat matematika.
Contohnya : Pada saat peserta didik menyelesaikan soal pada materi
Sistem Persamaan Linier Dua Variabel (SPLDV) dengan bentuk soal
sebagai berikut :
Chaerul anak Pak Purwoko
persegi dan segitiga. Kartu
sebuah matahari dan empat

memiliki kartu. Keseluruhan kartu tersebut berbentuk


yang
berbentuk
commit
to userpersegi didalamnya terdapat gambar
buah bulan. Kemudian kartu yang berbentuk segitiga

perpustakaan.uns.ac.id

5
digilib.uns.ac.id

didalamnya terdapat gambar dua buah matahari dan empat buah bulan. Lihat
gambar berikut ini :

Berapakah banyak kartu persegi dan segitiga yg harus diambil dari tumpukan kartu
agar jumlah gambar matahari 41 dan jumlah gambar bulan 128 ?

Dalam soal ini, kebanyakan siswa tidak mengetahui bagaimana harus


menentukan apa saja yang menjadi variabel. Selain itu, siswa juga
kesusahan dalam membuat model matematika dari informasi yang
diperoleh.
2. Sebagian besar peserta didik menggunakan simbol/notasi matematika dan
melakukan operasi matematika secara tidak tepat.
Contohnya : Pada saat peserta didik menyelesaikan soal pada materi
persamaan linier dan fungsi kuadrat dengan bentuk soal sebagai berikut :
Diberikan dua bilangan. Bilangan pertama sama dengan bilangan kedua
dikuadratkan dan dikurangi empat. Bilangan pertama juga sama dengan empat kali
setelah dua kali bilangan kedua dikurangi lima. Tentukanlah kedua bilangan
tersebut !

Dalam soal ini, ditunjukkan dengan peserta didik membuat persamaan yang
salah dari kalimat bilangan pertama sama dengan empat kali setelah dua
kali bilangan kedua dikurangi lima . Misalkan bilangan pertama adalah x
dan bilangan kedua adalah y, kebanyakan peserta didik membuat persamaan
dari kalimat di atas menjadi seperti berikut, = 4.2 5 bukan =
4. (2 5) sehingga persamaan = 4.2 5 bernilai salah.
Rendahnya kemampuan komunikasi matematis peserta didik salah
satunya dapat dilihat dari bagaimana peserta didik menjawab persoalan
matematika yang diberikan dengan cara tes tertulis uraian. Sistematika peserta
didik dalam mengerjakan soal tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk
untuk mengetahui sejauh mana kemampuan komunikasi matematis peserta
didik. Sehingga adanya kesalahan-kesalahan dalam komunikasi tersebut perlu
diidentifikasi dan dicari solusi penyelesaiannya. Dengan demikian, informasi
commitdidik
to user
tentang ketidakteraturan peserta
dalam menyelesaikan soal-soal

6
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

matematika tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan mutu kegiatan


belajar mengajar dan akhirnya dapat meningkatkan kemampuan komunikasi
matematis peserta didik.
Menurut penelitian tentang komunikasi matematis yang dipaparkan oleh
Roselainy Abdul Rahman, Yudariah Mohammad Yusof, Hamidreza Kashefi,
dan Sabariah Baharun (2012) memaparkan hasil penelitian sebagai berikut :
Throughout, the students were actively supported in discussing, verbalising and
writing out their understanding of the mathematical ideas and concepts. The diverse
activities had generated the students interest as well as providing them with
opportunities to take charge of their learning.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa pembelajaran yang mengoptimalkan


kemampuan dalam berdiskusi, berkomunikasi, menuliskan pemahaman
matematika dan konsep dapat membuat peserta didik aktif untuk belajar.
Selain itu, kegiatan pembelajaran tersebut juga dapat mengembangkan minat
belajar peserta didik dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
menjadi pusat pembelajaran.
Selain itu, Eviana, Sugiatno, dan Hamdani (2011) memaparkan hasil
penelitian bahwa kemampuan komunikasi matematis memberikan pengaruh
terhadap pemahaman konseptual matematis peserta didik dengan masingmasing tingkat kemampuan pada peserta didik.

Hal ini ditunjukkan

berdasarkan hasil r hitung korelasi antara kemampuan komunikasi matematis


dan pemahaman konseptual matematis adalah 0,320 lebih besar dari r tabel
0,304 dengan taraf signifikansi 5% dan db=40. Dalam penelitian ini yang
menjadi subjek penelitian adalah peserta didik SMP Negeri 14 Pontianak pada
materi bangun ruang.
Tentu saja guru telah menganalisis kemampuan komunikasi matematika
peserta didik. Akan tetapi, guru belum dapat melakukannya secara mendetail
mengingat banyaknya peserta didik dan kelas yang dipegang. Analisis
kemampuan komunikasi matematika peserta didik secara mendetail sangat
dibutuhkan agar peserta didik dapat menuangkan gagasan matematika secara
optimal dan faktor-faktor penyebab kurang optimalnya kemampuan
commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

7
digilib.uns.ac.id

komunikasi peserta didik dapat diketahui lebih jauh untuk membantu


mengatasi permasalahan tersebut.
Disatu sisi menurut Eric (2008:149), terdapat perbedaan keterampilan
pemecahan masalah antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki mempunyai
kemampuan penguasaan matematika dan pemecahan masalah yang lebih
unggul daripada perempuan. Sedangkan menurut Rita L.Atkinson (1977:172173), Suatu bidang kemampuan kognitif yang terus menunjukkan perbedaan
jenis kelamin yang konsisiten adalah hubungan visual-spasial. Selanjutnya
juga dinyatakan Wanita pada rata-ratanya memiliki kemampuan verbal yang
lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki, kemudian laki-laki pada rataratanya memiliki kemampuan penalaran kecakapan matematika visual-spasial
yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Berdasarkan teori di atas
terdapat perbedaan kemampuan verbal, penguasaan matematika, dan
penalaran kecakapan matematika visual-spasial sehingga dimungkinkan
terdapat perbedaan cara berkomunikasi matematis secara tertulis pada peserta
didik laki-laki dan perempuan.
Dengan fakta-fakta yang ada dan informasi mengenai perbedaan
kemampuan pada laki-laki dan perempuan serta pentingnya mengembangkan
kemampuan komunikasi metematis untuk pencapaian tujuan pembelajaran
matematika, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian hubungan
dari kedua hal tersebut. Sehingga berdasarkan uraian di atas penulis akan
menganalisis kemampuan komunikasi matematis peserta didik secara tertulis
ditinjau dari perbedaan gender, mencari faktor-faktor yang mempengaruhi
dan memberikan solusi altenatif untuk permasalahan tersebut.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan masalahmasalah sebagai berikut:
1. Kemampuan komunikasi matematika peserta didik di Indonesia masih
rendah. Hal ini disebabkan karena peserta didik sering melakukan
kekeliruan dalam mengerjakan soal, kesalahan menggunakan simbol
commit to user

8
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

matematika, dan ketidakruntutan peserta didik dalam mengerjakan soal.


Oleh karena itu, kekeliruan-kekeliruan tersebut perlu diidentifikasi.
2. Terjadi kesulitan pada peserta didik dalam menuangkan gagasan secara
tertulis dalam pengerjaan soal matematika. Hal tersebut disebabkan oleh
berbagai faktor, baik dari dalam maupun dari luar diri peserta didik. Oleh
karena itu, perlu dicari faktor-faktor yang menyebabkannya sehingga dapat
membantu mengoptimalkan kemampuan komunikasi matematis secara
tertulis tersebut.
3. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab tersebut kemudian dicari suatu
solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan komunikasi matematis
secara tertulis. Sehingga diharapkan guru dapat meningkatkan dan
memperbaiki kemampuan komunikasi matematika secara tertulis peserta
didik.
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, diberikan batasan masalah sebagai berikut :
1. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X MIA 1 SMA N 1 Sukoharjo
tahun ajaran 2014/2015.
2. Materi yang diujikan adalah materi geometri kelas X semester genap.
3. Kemampuan komunikasi matematis secara tertulis diukur berdasarkan
indikator pada Maine Holistic Rubric for mathematics, Maryland Math
Communication dan QUASAR General Rubric.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, permasalahan dapat dirumuskan
sebagai berikut:
1. Bagaimana kemampuan komunikasi matematis secara tertulis peserta
didik perempuan kelas X MIA 1 SMA N 1 Sukoharjo tahun ajaran
2014/2015 pada materi geometri ?
2. Bagaimana kemampuan komunikasi matematis secara tertulis peserta
didik laki-laki kelas X MIA 1 SMA N 1 Sukoharjo tahun ajaran 2014/2015
pada materi geometri ?
commit to user

9
digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id

3. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi komunikasi matematis secara


tertulis peserta didik kelas X MIA 1 SMA N 1 Sukoharjo ?
4. Bagaimana

solusi

alternatif

untuk

menyelesaikan

permasalahan

komunikasi matematis secara tertulis tersebut ?


E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah:
1. Mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis secara tertulis
peserta didik perempuan kelas X MIA 1 SMA N 1 Sukoharjo tahun ajaran
2014/2015 pada materi geometri.
2. Mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis secara tertulis
peserta didik laki-laki terkait kelas X MIA 1 SMA N 1 Sukoharjo tahun
ajaran 2014/2015 pada materi geometri.
3. Mengetahui faktor penyebab peserta didik kurang optimal dalam
mengkomunikasikan gagasan matematis secara tertulis.
4. Memberikan

solusi

alternatif

untuk

mengoptimalkan

komunikasi

matematis secara tertulis peserta didik.


F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang penulis harapkan adalah sebagai berikut:
1. Sebagai bahan pertimbangan bagi guru dalam proses pembelajaran
matematika, sehingga kemampuan komunikasi matematis secara tertulis
peserta didik dapat ditingkatkan.
2. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi penelitian yang sejenis.

commit to user