Anda di halaman 1dari 18

1.

Perbedaan ensefalitis, meningitis bakteri, dan meningitis tuberculosis


Pengertian

ENSEFALITIS
Infeksi jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai

Anamnesis

mikroorganisme (virus, bakteri, jamur, dan protozoa)


Demam tinggi mendadak, sering ditemukan hiperpireksia

macam

Penurunan kesadaran dengan cepat.


Anak agak besar sering mengeluh nyeri kepala, kejang, dan kesadaran
menurun.
Kejang bersifat umum atau fokal, dapat berupa status konvulsivus.
Dapat ditemukan sejak awal ataupun kemudian dalam perjalanan
Pemeriksaan Fisik

penyakitnya.
Demam, dapat ditemukan hiperpireksia
Kejang dapat berupa kejang umum, fokal, atau status konvulsivus
Kesadaran menurun sampai koma
Defisit neurologis dan gejala serebral lainnya, seperti kelumpuhan tipe upper
motor neuron (spastis, hiperefleks, refleks patologis, dan klonus), gerakan
involunter.

Gejala peningkatan tekanan intrakranial


Pemeriksaan Penunjang Darah perifer lengkap
Gula darah
Elektrolit
Pungsi lumbal
Serologik darah sesuai indikasi
CT scan atau MRI (bila terdapat indikasi, tidak rutin dilakukan)
EEG (bila terdapat indikasi, tidak rutin dilakukan)
PCR Herpes Simpleks Ensefalitis bila dicuriga iensefalitis akibat Herpes
Simpleks Virus
Kriteria Diagnosis

PCR virus lain (jika fasilitas laboratorium tersedia)


Demam
Kejang
Penurunan kesadaran
Defisit neurologis dan gejala serebral lainnya

Diagnosis kerja

Peningkatan tekanan intrakranial


Ensefalitis virus

Diagnosis Banding

Ensefalitis HSV

Terapi

Meningitis bakterialis
Rawat di ruang rawat intensif
Mengatasi dan mencegah kejang berulang dengan pemberian fenitoin
atau fenobarbital sesuai standard terapi.
Pemberian cairan intravena
Menjaga keseimbangan cairan, dan asam-basa, serta pemantauan kadar
Natrium darah.
Tata laksana peningkatan tekanan intrakranial dengan manitol 0,5-1
gram/kg/kali
Mengatasi demam /hiperpireksia
Antibiotik sebagai pengobatan bila dicurigai adanya infeksi sekunder.
Pemberian asiklovir 30 mg/kg/hari dibagi 3 dosis selama 14-21 hari bila

Edukasi

dicurigai ensefalitis herpes simpleks


Angka kematian masih tinggi (35-50%)
Diantara pasien yang hidup, 20-40% mempunyai gejala sisa berupa
paresis, paralisis, gerakan koreoatetoid, gangguan penglihatan, dan
kelainan neurologis lain.
Pasien yang sembuh tanpa kelainan yang nyata, dalam perkembangan
selanjutnya masih mungkin terjadi retardasi mental, gangguan perilaku,

Lama Perawatan
Indikator Medis

dan epilepsi
10 hari, kecuali pada kasus herpes simplek 17 hari
Kasus ensefalitis mengalami perbaikan klinis setelah pengobatan selama 10
hari kecuali pada kasus ensefalitis akibat virus Herpes Simpleks.
Kasus Herpes Simpleks ensefalitis akan mengalami perbaikan klinis setelah
pengobatan selama 17 hari.

MENINGITIS PURULENTA

Pengertian

Peradangan selaput jaringan otak dan medula spinalis yang disebabkan oleh
bakteri patogen. Peradangan tersebut mengenai araknoid, piamater, dan
cairan serebrospinalis. Peradangan ini dapat meluas melalui ruang

Anamnesis

subaraknoid sekitar otak, medulla spinalis, dan ventrikel.


Sering kali didahului infeksi pada saluran napas atas atau pencernaan seperti
demam, batuk, pilek, diare, dan muntah.
Demam < 1 minggu
Gejala meningitis berupa nyeri kepala, meningismus, dengan atau tanpa
penurunan kesadaran, letargi, malaise, kejang, dan muntah
Pada bayi dapat hanya berupa demam, iritabel, letargi, malas minum, dan

Pemeriksaan Fisik

high pitched-cry
Demam
Gangguan kesadaran dapat berupa penurunan kesadaran atau iritabilitas
Dapat ditemukan ubun-ubun membonjol, kaku kuduk, atau tanda rangsang
meningeal lain (Bruzinski, Kernig, Laseque), kejang, dan defisit neurologis
fokal. Tanda rangsang meningeal mungkin tidak ditemukan pada anak
berusia kurang dari 1 tahun.

Kriteria Diagnosis

Infeksi di tempat lain (infeksi THT, sepsis, atau pneumonia)


Demam akut (<1 minggu)
Penurunan kesadaran
Tanda rangsang meningeal dengan atau tanpa adanya defisit neurologis.
Pungsi lumbal : Cairan keruh, Nonne (+), Pandy (+), jumlah sel > 500 - >
1000/mcL, segmenter, protein >100 g/dL, glukosa < 30mg/dL, pewarnaan
gram (+).
Kultur LCS tumbuh (bukan baku emas). Bila pungsi lumbal dilakukan
setelah pemberian antibiotik beberapa hari kultur dapat tidak tumbuh (false

negative).
Diagnosis kerja
Meningitis Bakterialis
Diagnosis Banding
Meningitis serosa TB
Ensefalitis
Pemeriksaan Penunjang Darah perifer lengkap
Gula darah
Elektrolit darah
Analisis CSS dan kultur CSS
LED
CT scan dengan kontras atau MRI (pada kasus berat atau curiga adanya
komplikasi seperti empiema subdural, hidrosefalus, dan abses otak)

Terapi

Kultur darah dapat dilakukan bila dicurigai adanya sepsis


Medikamentosa
Diawali dengan terapi empiris, kemudian disesuaikan dengan hasil biakan
dan uji resistensi.
Terapi empirik antibiotik:
Usia1-3 bulan :
Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis +

sefotaksim 200-300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis, atau


Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 2 dosis
Usia> 3 bulan :
Sefotaksim 200-300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 3-4 dosis ,atau
Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi 2 dosiS, atau
Seftazidim 200-300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 3-4 dosis

Jika sudah terdapat hasil kultur, pemberian antibiotik disesuaikan dengan


hasil kultur dan resistensi.
Deksametason 0,6 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis selama 4 hari.
Bedah
Tindakan bedah dikerjakan bila ada komplikasi seperti empiema subdural,
abses otak, atau hidrosefalus
Suportif
Periode kritis adalah hari ke-3 dan ke-4. Tanda vital dan evaluasi
neurologis harus dilakukan secara teratur.
Elevasi kepala 30o-450 (sesuai indikasi).
Tata laksana peningkatan tekanan intrakranial dengan manitol 0,5-1
gram/kg/kali sampai 3x/hari atau furosemid 1 mg/kg/kali tiap 12 jam
(Bila pada pasien terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial).
Jika terdapat kontra-indikasi pemberian manitol atau furosemid dapat
diberikan NaCl

3 % 1-3 ml/kgBB/kali, diberikan 3 kali sehari

dengan kecepatan 1 ml/kgBB/jam.


Mengatasi dan mencegah kejang berulang dengan pemberian fenitoin
atau fenobarbital sesuai standard terapi
Mengatasi demam
Pantau ada-tidaknya komplikasi berupa

Edukasi

Syndrome

Inappropriate

Antidiuretic Hormone (SIADH) atau cerebral salt wasting (CSW).


Lakukan uji pendengaran segera setelah pasien pulang
1. Gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dari meningitis bakterialis
terjadi pada 30% pasien
2. Gejala sisa lainnya seperti retardasi mental, epilepsi, kebutaan,
spastisitas, dan hidrosefalus.
3. Kemoprofilaksis diberikan pada anak yang kontak erat dengan pasien
meningitis Hib atau meningokokus.

4. Vaksinasi yang telah tersedia adalah vaksinasi Hib, pneumokokus, dan


Prognosis

Lama Perawatan
Indikator Medis

meningokokus
Advitam:

: dubia ad bonam

Ad sanationam

: dubia ad bonam

Ad fungsionam
: dubia ad malam
17 hari- 21 hari
Kasus meningitis bakterialis akan mengalami perbaikan klinis setelah
pengobatan selama 17 hari, kecuali ada komplikasi.

Pengertian
Anamnesis

MENINGITIS TUBERCULOSIS
Radang selaput otak yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
Riwayat demam yang lama/kronis lebih dari 2 minggu
Kejang, deskripsi kejang (jenis, lama, frekuensi, interval) kesadaran
setelah kejang
Penurunan kesadaran
Penurunan berat badan (BB), anoreksia, muntah, sering batuk dan
pilek
Riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis dewasa

Pemeriksaan Fisik

Riwayat imunisasi BCG


Stadium I (inisial) Pasien apatis ,iritabel, nyeri kepala, demam, malaise,
anoreksia, mual dan muntah. Belum tampak manifestasi kelainan neurologi.
Stadium II pasien tampak mengantuk, disorientasi, ditemukan tanda
rangsang meningeal, kejang, defisit neurologis fokal, paresis nervus kranial,
dan gerakan involunter (tremor, koreoatetosis, hemibalismus).
Stadium III kesadaran semakin menurun sampai koma, terjadi peningkatan
tekanan

intrakranial,

pupil

terfiksasi,

pernapasan

ireguler

disertai

peningkatan suhu tubuh, ekstremitas spastis. Pada funduskopi dapat


ditemukan papil yang pucat, tuberkel pada retina, dan adanya nodul pada
Kriteria Diagnosis

koroid

Riwayat demam lama/kronis lebih dari 2 minggu

Kejang

Penurunan kesadaran

Pungsi lumbal : Liquor serebrospinal (LCS) jernih atau santokrom.


Pemeriksaan Nonne (+) dan Pandy (+). Jumlah sel meningkat 10- 500
sel/mm3, hitung jenis predominan sel limfosit. Protein meningkat di
atas 100 mg/dl sedangkan glukosa menurun di bawah 35 mg/dl, rasio

Diagnosis kerja
Diagnosis Banding

glukosa LCS dan darah dibawah normal.


Meningitis TB
Meningitis bakterialis

Ensefalitis
Pemeriksaan Penunjang Pungsi lumbal: Liquor serebrospinal (LCS) jernih, cloudy atau
santokrom. Jumlah sel meningkat 10500sel/mm3, hitung jenis
predominan sel limfosit. Protein meningkat di atas 100 mg/dl
sedangkan glukosa menurun di bawah 35 mg/dl, rasio glukosa LCS

dan darah dibawah normal.


Pemeriksaan CT Scan kepala dengan kontras


Terapi

Foto rontgen dada dapat menunjukkan gambaran penyakit tuberculosis

Uji tuberkulin dapat mendukung diagnosis


Pengobatan kejang sesuai algoritme status epileptikus

Pemberian 4 macam obat selama 2 bulan, dilanjutkan dengan pemberian


INH dan Rifampisin selama 10 bulan. Dosis obat anti tuberkulosis
adalah sebagai berikut:

Isoniazid (INH) 10-20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 300 mg/hari.


Rifampisin 10-20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 600 mg/hari.
Pirazinamid 15-30 mg/kgBB.hari, dosis maksimal 2000 mg/hari.
Etambutol 15-20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 1000 mg/hari atau

streptomisin IM 20 30 mg/kg/hari dengan maksimal 1 gram/hari.


Kortikosteroid untuk menurunkan inflamasi dan edema serebri.
Deksametason IV dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari selama 2 minggu
dilanjutkan dengan prednison12 mg/kg/hari selama 68 minggu per

oral.
Peningkatan tekanan intra kranial diatasi dengan manitol 0,51g/kgBB/kali diberikan 3x sehari. Jika terdapat kontra-indikasi
pemberian manitol dapat diberikan NaCl

3 % 1-3 ml/kgBB/kali,

diberikan 3 kali sehari, dengan kecepatan 1 ml/kgBB/jam.


Bila terjadi hidrosefalus diterapi dengan asetazolamid

30-50

mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis. Tindakan VP-shunt jika terdapat


hidrosefalus obstruktif dengan gejala ventrikulo megali disertai
peningkatan tekanan intraventrikel atau edema periventrikuler.
o Untuk spastisitas diberikan klonazepam dosis 0,01-0,03 mg/kg/hari
dibagi 2-3 dosis.
o Pantau ada tidaknya komplikasi berupa Syndrome Inappropriate
Edukasi

Antidiuretic Hormone (SIADH) atau cerebral salt wasting (CSW).


Pemantauan darah tepi dan fungsi hati setiap 3-6 bulan untuk
mendeteksi adanya komplikasi obat tuberkulostatik
Gejala sisa yang sering ditemukan adalah gangguan penglihatan,
gangguan pendengaran, palsi serebral, epilepsi, retardasi mental, dan
gangguan perilaku
Angka kejadian meningitis TB meningkat dengan meningkatnya jumlah
pasien tuberkulosi sdewasa.
Imunisasi BCG dapat mencegah meningitis tuberkulosis.
Faktor risiko adalah malnutrisi, pemakaian kortikosteroid, keganasan,

Prognosis

dan infeksi HIV


Ad vitam

: dubia ad malam

Adsanationam

: dubia ad bonam

Ad fungsionam
: dubia ad malam
Meningitis TB sembuh setelah pengobatan 1 tahun. Perbaikan klinis dan

Indikator Medis

perawatan dilakukan selama 4 minggu.

2. Perbandingan karakter cairan serebrospinal pada jenis meningitis yang berbeda


Normal
Makroskopik

Jernih,

Bakterial
tak Keruh

Viral

Tuberculosis

Fungal

Jerrnih

Santocrom

Jernih

berwarna
Tekanan

Sel

Normal

0-5/mm3

/jernih
Meningkat

100-

Normal atau Meningkat

Normal atau

meningkat

meningkat

5-100 /mm3

5-100 /mm3

20-500 /mm3

60.000/mm3
Neutrofil

Tak ada

Glukosa

75% glukosa Rendah


darah

Protein

<0,4 g/L

Lainnya

>80%

<50%

<50%

<50%

normal

Rendah

Rendah

(<40%

(<50%

(<80%

glukosa

glukosa

glukosa

darah)

darah)

darah)

1-5 g/L

0,5-5 g/L

1-5 g/L

>0,4-0,9 g/L

Gram positif PCR

kultur Kultur positif Gram

<90%, kultur positif <50%

50-80%

negatif;

positif <80%,

kultur positif

kultur darah

25-50%

positif <60%

3. Pemeriksaan None dan Pandy


a. Pemeriksaan Nonne
Pemeriksaan ini juga dikenal dengan nama test Nonne-Apelt atau test Ross-Jones,
menggunakan larutan jenuh amoniumsulfat sebagai reagens (ammonium sulfat 80 gr :
aquadest 100 ml: saring sebelum memakainya).
Tujuan: untuk menguji kadar globulin dalam cairan serebrospinal.
Cara :
1. Taruhlah 1 ml reagens Nonne dalam tabung kecil yang bergaris tengah kira-kira 7
mm.

2. Dengan berhati-hati dimasukkan sama banyak cairan otak ke dalam tabung itu, sehingga
kedua macam cairan tinggi terpisah menyusun dua lapisan.
3. Tenangkan selama 3 menit, kemudian selidikilah perbatasan kedua cairan itu.
Interpretasi:
Negatif
: Tidak terbentuk cincin diantara 2 lapisan
Positif : Terbentuk cincin diantara 2 lapisan
b. Pemeriksaan pandy
Reagen Pandy, yaitu larutan jenuh fenol dalam air (phenolum liquefactum 10 ml : aquadest
90 ml : simpan beberapa hari dalam lemari penyimpanan 37 oC dengan sering dikocokkocok).
Tujuan: untuk menguji kadar albumin dan globulin dalam cairan serebrospinal
Cara :
1. Sediakanlah 1 ml reagens Pandy dalam tabung serologi yang kecil bergaris tengah 7 mm.
2. Tambahkan 1 tetes cairan otak tanpa sedimen.
3. Segeralah baca hasil test itu dengan melihat derajat kekeruhan yang terjadi.
Interpretasi:
Negatif : Tidak ada kekeruhan (15-45mg%)
[+] 1 : Terjadi opalescent (50-100mg%)
[+] 2 : Cairan keruh (100-300mg%)
[+] 3 : Keruh (300-500mg%)
[+] 4 : Keruh seperti susu (>500mg%)

3. Imunisasi
a. Pengertian imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap
suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit.
Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan
kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan
dibuat oleh individu itu sendiri. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh
sendiri akibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah.

Kekebalan aktif berlangsung lebih lama daripada kekebalan pasif karena adanya memori
imunologik.
Tujuan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan
menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan
menghilangkan penyakit tertentu dari dunia.
b. Jadwal imunisasi

c. Jenis- jenis imunisasi


Ada dua Jenis imunisasi, yaitu :
1. Imunisasi dasar
Merupakan imunisasi pertama yang perlu diberikan pada semua orang, teru tama bayi dan
anak sejak lahir untuk melindungi tubuh dari penyakit yang berbahaya.
Imunisasi dasar yang diwajibkan adalah BCG, polio, hepatitis B, DPT, dan campak
a. BCG

Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum usia 3 bulan, optimal 2 bulan. Apabila diberikan
sesudah usia 3 bulan, perlu dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.
b. Polio
Pada saat lahir atau pada saat bayi dipulangkan harus diberikan vaksin polio oral (bOPV-0).
Selanjutnya, untuk polio-1, polio-2, polio-3 dan polio booster diberikan vaksin bOPV atau
IPV, paling sedikit mendapat satu dosis vaksin IPVa bersamaan dengan pemberian bOPV-3
(Program Eradikasi Polio)
c. DTP
Vaksin DTP pertama diberikan paling cepat pada usia 6 minggu. Dapat diberikan DTPw atau
DTPa atau kombinasi dengan vaksin lain. Jika diberikan vaksin DTPa maka interval
mengikuti rekomendasi vaksin tersebut: 2, 4, 6 bulan. Vaksin DTPw-HB-Hib dapat pula
diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Untuk usia >7 tahun diberikan Td atau Tdap, booster
diberikan setiap 10 tahun
d. Hepatitis B
Vaksin HB-1 optimal diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, didahului suntikan vitamin
K1 30 menit sebelumnya. Jika ibu HBsAg positif: diberikan vaksin HB dan imunoglobulin
hepatitis B (HBIg) pada ekstremitas yang berbeda Vaksinasi HB selanjutnya dapat
menggunakan vaksin HB monovalen atau vaksin kombinasi vaksin HB monovalen, maka
jadwal pemberian adalah 0, 1 dan 6 bulan, vaksin kombinasi DTP-HB-Hib, vaksin HB usia 1
bulan tidak perlu diberikan (vaksin HB mencapai 5 dosis pada umur 18 bulan).

e. Campak
Vaksin campak diberikan usia 9 bulan dan vaksin MMR 12 bulan. Apabila MMR sudah
diberikan pada 12 bulan, vaksin campak kedua tidak perlu diberikan pada usia 18 bulan.
Vaksin campak ketiga tidak perlu diberikan apabila sudah mendapat MMR kedua.
2. Imunisasi booster

Imunisasi booster adalah imunisasi ulangan (revaksinasi) dari imunisasi dasar yang di berikan
pada waktu-waktu tertentu dan juga diberikan bila terdapat wabah yang terjangkit atau bila
terdapat kontak dengan penyakit bersangkutan.
Imunisasi yang dianjurkan merupakan program imunisasi non-PPI. Anjuran ini
berdasarkan rekomendasi dari organisasi profesi kedokteran anak, yakni Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI). Jenis imunisasi ini merupakan pelengkap dari program imunisasi yang
diwajibkan pemerintah bagi anak-anak Indonesia. Jenis imunisasi booster atau imunisasi
yang dianjurkan ini ada tujuh, yaitu :
a . Hib (Haemophilus influenza type B)
b . Varisela
c . Tifoid
d . MMR (Measless,Mumps,Rubella)
e . Hepatitis B
f . Pneumokokus (PVC)
g . Influenza

4.

Definisi dan Gambaran Umum Fisioterapi

Fisioterapi adalah salah satu cabang pelayanan kesehatan yang erat kaitannya dengan
penanganan kelainan fisik dengan mengoptimalkan gerakan dan fungsi. Secara khusus,
fisioterapi melibatkan penilaian, penentuan jenis penyakit, pengobatan dan pencegahan
berbagai penyakit dan cedera dengan menggunakan berbagai cara dan teknik fisik. Istilah
fisoterapi sering dipakai bergantian dengan terapi fisik.
Tujuan utama fisioterapi adalah untuk mengembalikan fungsi gerak tubuh. Untuk
melakukan hal tersebut, ahli fisioterapi menggunakan berbagai metode, yang meliputi terapi
manual, latihan fisik dan latihan. Dengan adanya bentuk pengobatan seperti ini;
pendekatannya bersifat menyeluruh. Ahli fisioterapi melihat kondisi pasien secara
menyeluruh, tidak hanya pada salah satu bagian tubuh saja. Disamping melakukan
manajemen pada kecacatan tertentu, Ahli fisioterapi juga dapat memberikan saran untuk
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan Anda secara umum. Misalnya, seseorang yang
mengalami nyeri punggung, disarankan untuk menurunkan berat badannya dan belajar inti
latihan fisik untuk memperkuat otot perut dan punggung. Pemberdayaan dan keikutsertaan
pasien sangat penting pada pengobatan ini dan membantu mendorong pasien menjadi
mandiri.
Ahli fisioterapi khusus meliputi tim kedokteran yang berasal dari berbagai bidang
ilmu. Tim rehabilitasi pada umumnya terdiri dari dokter umum, dokter terapis dan ahli
kesehatan lainnya yang bekerjasama untuk merancang rencana pengobatan berpusat pada
pasien berdasarkan gejala dan kebutuhan khusus pada pasien tersebut. Komunikasi adalah
kunci menuju sukses seorang fisioterapi. Ahli fisioterapi berkomunikasi secara aktif dengan
anggota tim lainnya, pasien, dan bahkan keluarga pasien berkaitan dengan kelainannya.
Pasien akan melewati beberapa tahapan pemeriksaan, dan kemudian merancang tujuan baru,
tergantung dari kemajuan masing-masing pasien.

Lama waktu pengobatan dengan fisioterapi tergantung dari berbagai macam faktor.
Penentuan penyakit, tingkat cedera atau gangguan, dan keadaan Anda saat ini memegang
peranan penting. Sesi fisioterapi bisanya dilakukan 2-3 kali per minggu; namun, beberapa
kondisi yang telah berlangsung lama memerlukan pengobatan yang lebih sering. Tergantung
dari cedera Anda, ahli fisioterapi dapat membantu untuk belajar memakai alat bantu dan
hidup dengan menggunakannya, misalnya kruk, kursi roda, bahkan kaki palsu. Pengobatan
sebaiknya dimulai lebih awal untuk mencegah terjadinya peradangan kronis, jaringan parut
dan perlekatan, dimana akan memperburuk situasi tersebut.
Fisioterapi dapat dilakukan pada berbagai kondisi dan sektor pelayanan kesehatan
yang meliputi rumah sakit umum dan swasta, klinik kesehatan, pusat masyarakat, klub
olahraga, fasilitas rehabilitasi bahkan di kantor maupun di sekolah.
Ahli fisioterapi menggunakan berbagai pendekatan dan teknik untuk membantu Anda
pulih dari penyakit. Teknik yang paling sering dipakai adalah latihan fisik. Jenis latihan fisik
yang berbeda diresepkan pada masing-masing pasien, tergantung dari kebutuhan pasien
tersebut. Latihan fisik ini memperkuat bagian tubuh yang terkena dan mendorong pasien
untuk bergerak. Anda juga dapat menerima saran untuk ikut serta pada kegiatan ringan
misalnya berjalan untuk pemulihan gerakan Anda, terutama jika Anda baru saja pulih dari
cedera. Anda juga diajarkan latihan bernapas dan teknik membersihkan jalan napas untuk
memperkuat otot-otot pernapasan. Latihan fisik secara teratur akan diulang untuk beberapa
periode waktu tertentu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Disamping latihan fisik, ahli fisioterapi juga menggunakan teknik manual. Pada
teknik ini, peregangan sendi,peningkatan gerakan dan mobilitas pada bagian tubuh tertentu
dilakukan dengan tangan. Hal ini juga dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan peredaran
darah ke berbagai tempat di tubuh. Bentuk terapi manual yang berbeda-beda telah terbukti
mendatangkan manfaat bagi pasien dengan gangguan otot-rangka tertentu, kelainan yang
bersifat menetap, misalnya nyeri punggung bawah berkepanjangan/kronis.
5. KPSP dan DENVER DEVELOPMENT SCREENING TEST
A. KPSP (Kuisoner Pra Skrining Perkembangan)
Formulir KPSP adalah alat atau instrumen yang digunakan untuk mengetahui
perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. Jadwal skrining / pemeriksaan KPSP
adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan.
Bila anak berusia diantaranya maka KPSP yang digunakan adalah yang lebih kecil
dari usia anak. Contoh : bayi umur umur 7 bulan maka yang digunakan adalah KPSP 6
bulan. Bila anak ini kemudian sudah berumur 9 bulan yang diberikan adalah KPSP 9 bulan.
Apabila orang tua datang dengan keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh
kembang sedangkan umur
anak bukan umur skrining maka pemeriksaan
menggunakan KPSP untuk umur skrining terdekat yang lebih muda.
Interpretasi hasil KPSP :

Hitunglah berapa jawaban Ya.


Jawaban Ya
: Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak bisa atau pernah atau
sering atau kadang-kadang melakukannya.
Jawaban Tidak
: Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak belum pernah
melakukan atau tidak pernah atau ibu/pengasuh anak tidak tahu.
Jumlah jawaban Ya
9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangannya (S)

7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M)


6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P)

Untuk jawaban Tidak, perlu dirinci jumlah jawaban tidak menurut jenis
keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian)
Intervensi:
Untuk Anak dengan Perkembangan SESUAI (S)
Beri pujian kepada Ibu karena telah mengasuh anak dengan baik.
Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Berikan stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin, sesuai dengan
umur dan kesiapan anak.
Ikutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di Posyandu
secara teratur sebulan 1 kali dan setiap ada kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Jika anak
sudah memasuki usia prasekolah (36 72 bulan), anak dapat diikutkan pada kegiatan di Pusat
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD, Kelompok Bermin dan Taman Kanak-Kanak.
Lakukan pemeriksaan/skrining rutin menggunakan KPSP setiap 3 bulan pada anak
berumur kurng dari 24 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 24 sampai 72 bulan.
Untuk Anak dengan Perkembangan MERAGUKAN (M)
Beri petunjuk pada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada anak lebih
sering lagi, setiap saat dan sesering mungkin.
Ajarkan ibu cara melakukan interv
Misalnya umur anak sekarang adalah 8 bulan 2 minggu, dan ia hanya bisa 7-8 YA. Lakukan
stimulasi selama 2 minggu. Pada saat menilai KPSP kembali gunakan dulu KPSP 6 bulan.
Bila semua bisa, karena anak sudah berusia 9 bulan, bisa dilaksanakan KPSP 9 bulan.
Lakukan skrining rutin, pastikan anak tidak mengalami ketertinggalan lagi.
Bila setelah 2 minggu intensif stimulasi, jawaban masih (M) = 7-8 jawaban YA.
Konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau ke rumah sakit dengan fasilitas klinik
tumbuh kembang.
B. DENVER DEVELOPMENT SCREENING TEST (DDST)
Periode 5 (lima) tahun pertama kehidupan anak sering disebut juga sebagai "Masa
Keemasan (golden period) atau Jendela Kesempatan (window opportunity) atau Masa Kritis
(critical period)" karena periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang
paling pesat pada otak manusia, masa yang sangat peka bagi otak anak dalam menerima
berbagai masukan dari lingkungan sekitarnya. Mengingat masa 5 tahun pertama merupakan
masa yang 'relatif pendek' dan tidak akan terulang kembali dalam kehidupan seorang anak,
maka orang tua / pengasuh / pendidik / masyarakat dan tenaga kesehatan harus
memanfaatkan kesempatan ini untuk membentuk anak menjadi anak yang berkualitas tinggi
melalui kegiatan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).
Kegiatan SDIDTK meliputi:
1. Stimulasi dini yang memadai, yaitu merangsang otak balita agar perkembangan
kemampuan motorik (gerak kasar dan halus), berbicara, berbahasa, bersosialisasi dan
kemandirian anak meningkat secara optimal sesuai usia anak.

2. Deteksi dini, yaitu melakukan pemeriksaan/skrining atau mendeteksi sejak dini


terhadap kemungkinan adanya penyimpangan tumbuh kembang balita.
3. Intervensi dini, yaitu melakukan koreksi sejak dini dengan memanfaatkan plastisitas
otak anak untuk memperbaiki bila ada penyimpangan tumbuh kembang, serta
mencegah supaya penyimpangannya tidak menjadi lebih berat.
4. Rujukan dini, yaitu merujuk/membawa anak ke fasilitas kesehatan bila masalah
penyimpangan tumbuh kembang tidak dapat diatasi di tingkat rumah tangga meskipun
sudah dilakukan intervensi dini.
Apa yang disebut Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak?
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak adalah kegiatan pemeriksaan/skrining untuk
menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada anak balita
dan pra-sekolah. Semakin dini ditemukan penyimpangan maka semakin mudah
dilakukan intervensi untuk perbaikannya, sebaliknya bila penyimpangan terlambat
diketahui maka intervensi untuk perbaikannya lebih sulit dilakukan. Keuntungan lain
dari deteksi dini adalah agar tenaga kesehatan mempunyai waktu dalam menyusun
rencana dan melakukan tindakan/intervensi yang tepat.
Ada 3 jenis deteksi dini, yaitu:
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan.
2. Deteksi dini penyimpangan mental emosional.
3. Deteksi dini penyimpangan perkembangan.
1. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan
Alat yang digunakan: Buku KIA atau KMS, timbangan dacin, tabel BB/TB, grafik LK, alat
pengukur tinggi/panjang badan dan pita pengukur lingkar kepala.
Hal-hal yang diukur pada deteksi dini penyimpangan pertumbuhan:
a. Pengukuran Berat Badan terhadap Tinggi Badan (BB/TB), bertujuan untuk menentukan
status gizi anak (gemuk, normal, kurus, kurus sekali)
b. Pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA), bertujuan mengetahui apakah lingkaran kepala
anak dalam batas normal atau tidak normal (terdiri dari makrosefal atau mikrosefal)
2. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional
Tujuan pemeriksaan ini untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional,
autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas pada anak agar dapat segera
dilakukan tindakan intervensi.
Jadwal deteksi dini masalah mental emosional adalah rutin setiap 6 bulan, dilakukan untuk
anak yang berusia 36 bulan sampai 72 bulan. Jadwal ini sesuai dengan jadwal
skrining/pemeriksaan perkembangan anak.
Alat yang dipakai untuk skrining penyimpangan mental emosional adalah:
1. Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) bagi anak usia 36-72 bulan.
2. Ceklis Autis anak pra-sekolah atau Checklist for Autism in Toddlers (CHAT) bagi
anak usia 18-36 bulan.
3. Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH) bagi
anak usia 36 bulan keatas (pra-sekolah)
3. Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan Anak
Salah satu metode skrining untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan pada
tumbuh perkembangan anak adalah Denver Developmental Screening Test (DDST).
Pengertian
Denver Developmental Screening Test (DDST) adalah sebuah metode pengkajian yang
digunakan secara luas untuk menilai kemajuan perkembangan anak usia 0-6 tahun. Nama

Denver menunjukkan bahwa uji skrining ini dibuat di University of Colorado Medical
Center di Denver.
Selain DDST, sebenarnya ada sejumlah pengkajian perilaku lainnya untuk bayi dan
anak usia dini, diantaranya:
Neonatal Behavioral Assesment Scale (NBAS), yang disusun oleh ahli pediatri Harvard,
T. Berry Brazleton dan lebih dikenal sebagai The Brazleton;
Early Language Milestone (ELM) Scale untuk anak usia 0-3 tahun;
Clinical Adaptive Test (CAT) dan Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale
(CLAMS) untuk anak usia 0-3 tahun;
Infant Monitoring System untuk anak usia 4-36 bulan;
Early Screening Inventory untuk usia 3-6 tahun; dan
Peabody Picture Vocabulary Test ( The Peabody) untuk anak usia 2,5 sampai 4 tahun.
Dalam perkembangannya, DDST mengalami beberapa kali revisi. Revisi terakhir
adalah Denver II yang merupakan hasil revisi dan standardisasi dari DDST dan DDSR-R
(Revised Denver Developmental Screening Test). Perbedaan Denver II dengan skrining
terdahulu terletak pada item-item test, bentuk, interpretasi, dan rujukan.
Pembahasan mengenai DDST dalam sejarahnya tidak terlepas dari Denver
Developmental Materials. Denver Developmental Materials bermanfaat bagi petugas
kesehatan yang memberi perawatan langsung pada anak. Dengan prosedur yang sederhana
dan cepat, metode ini dapat digunakan oleh tenaga profesional maupun para profesional.
Prosedur tersebut dirancang untuk menilai perkembangan anak yang optimal sejak lahir
hingga usia 6 tahun melalui panduan dan identifikasi yang memerlukan evaluasi tambahan.
Materi pokok, yakni PDQ II, aparent answered questinnaire, dan The Denver II, merupakan
program surveilans perkembangan yang tepat untuk situasi ketika waktu yang tersedia
sempit.
Manfaat DDST
Penyimpangan perkembangan pada bayi dan anak usia dini sering kali sulit dideteksi
dengan dideteksi dengan pemeriksaan fisik rutin. DDST dikembangkan untuk membantu
petugas kesehatan dalam mendeteksi masalah perkembangan anak seusia dini.
Menurut studi yang dilakukan oleh The Public Health Agency of Canada, DDST
adalah metode tes yang paling banyak digunakan untuk skrining masalah perkembangan
anak. Tes ini bermanfaat dalam mendeteksi masalah perkembangan yang berat. Akan tetapi,
DDST telah dikritik tidak reliabel dalam memprediksikan masalah-masalah yang kurang
berat dan spesifik. Kritik ini juga dilontarkan terhadap versi DDST yang telah direvisi, yaitu
Denver II. Terhadap kritik tersebut Frankenburg menjelaskan bahwa tujuan pokok dari DDST
bukan untuk menetapkan diagnosis akhir, melainkan sebagai metode cepat untuk
mengidentifikasi anak-anak yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Manfaat pengkajian perkembangan dengan menggunakan DDST bergantung pada usia
anak. Pada bayi lahir, tes ini dapat mendeteksi berbagai masalah neurologis, salah satunya
serebral palsi. Pada bayi, tes ini sering kali dapat memberikan jaminan kepada orang tua atau
bermanfaat dalam mengidentifikasi berbagai problem dini yang mengancam mereka. Pada
anak, tes ini dapat membantu meringankan permasalah akademik dan sosioal.
Denver II dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain:
1.
Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya.
2.
Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat.
3.
Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukkan gejala kemungkinan
adanya kelainan perkembangan.
4.
Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan.
5.
Memantau anak yang berisiko mengalami kelainan perkembangan.

Pengukuran DDST
Sebelum menerapkan DDST, terlebih dahulu kita harus memahami apa yang hendak
diukur melalui tes tersebut. Agar tidak terjadi kesalahan pemahaman, ada beberapa hal yang
perlu kita perhatikan berkaitan Denver II.
1. Denver II bukan merupakan tes IQ dan bukan alat peramal kemampuan adaptig atau
intelektual (perkembangan) pada masa yang akan datang.
2. Denver II tidak digunakan untuk menetapkan diagnosis, seperti kesukaran belajar,
gangguan bahasa, gangguan emosional, dan sebagainya.
3. Denver II diarahkan untuk membandingkan kemampuan perkembangan anak dengan
anak lain yang seusia, bukan sebagai pengganti evaluasi diagnostik atau pemeriksaan
fisik.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, tujuan pokok DDST bukan untuk menetapkan diagnosis
akhir gangguan perkembangan anak, melainkan sebagai metode cepat untuk mengidentifikasi
anak-anak yang memerlukan evaluasi lebih lanjut terkait perkembangan mereka. Dengan
demikian, tes ini tidak memiliki kriteria kesimpulan hasil perkembangan anak abnormal,
yang ada hanyalah normal, tersangka dan tak dapat diuji. Uraian lengkap mengenai
kriteria hasil tes ini dijelaskan pada bagian tersendiri.
Denver II terdiri atas 125 item tugas perkembangan yang sesuai dengan usia anak, mulai dari
usia 0-6 tahun. Item-item tersebut tersusun dalam formulir khusus dan terbagi menjadi 4
sektor, yaitu:
1. Sektor Personal-Sosial, yaitu penyesuaian diri di masyarakat dan kebutuhan pribadi.
2. Sektor Motorik Halus-Adaptif, yaitu koordinasi mata-tangan, kemampuan memainkan
dan menggunakan benda-benda kecil, serta pemecahan masalah.
3. Sektor Bahasa, yaitu mendengar, mengerti, dan menggunakan bahasa.
4. Sektor Motorik Kasar, yaitu duduk, berjalan, dan melakukan gerakan umum otot besar
lainnya.
Setelah menyelesaikan tes Denver II, kita perlu melakukan tes perilaku untuk:
1.
Membantu pemeriksa menilai seluruh perilaku anak secara subjektif, dan
2. Memperoleh taksiran kasar bagaimana seorang anak menggunakan kemampuannya.