Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH IKD

KONSEP-KONSEP POLITIK

Disusun Oleh :
Sri Waningsih

G2A215002

Yanuan Ben Olina G2A215008


Bayu Permana

G2A215012

Etika Putri

G2A215013

Ilham Willi I.

G2A215017

Darma Asiah

G2A215020

Omi Shobrina

G2A215024

Prayogi D.W.

G2A215028

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN LINTAS JALUR


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Akhir akhir ini banyak masalah yang melanda profesi keperawatan ini
berkaitan dengan tidak adanya seseorang perawat yang menjadi pemegang
kebijakan baik di eksekutif maupun legislatif. Arti politik secara umum adalah
proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara
lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam Negara. Disebutkan
juga bahwa politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara
konstitusional maupun nonkonstitusional. Dalam teori politik menunjuk pada
kemampuan untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang tidak
dikehendakinya. Untuk melembagakan demokrasi diperlukan hukum dan
perundang-undangan dan perangkat structural yang akan terus mendorong
terpolanya perilaku demokratis sampai bisa menjadi pandangan hidup. Karena
diyakini bahwa dengan demikian kesejahteraan yang sesungguhnya baru bisa
dicapai, saat tiap individu terlindungi hak-haknya bahkan dibantu oleh Negara
untuk bisa teraktualisasikan, saat tiap individu lain sesuai dengan norma dan
hukum yang berlaku. Perawat yang merupakan bagian dari insan perpolitikan di
Indonesia juga berhak dan berkewajiban ikut serta dan mengambil sebuah
kekuasaan demi terwujudnya regulasi profesi keperawatan yang nyata. Dari hal
tersebut juga terlihat bahwa perawat dapat memperjuangkan banyak hal terkait
dengan umat maupun nasib perawat itu sendiri. Pentingnya dunia politik bagi
profesi keperawatan adalah bahwasanya dunia politik bukanlah dunia yang asing,
namun terjun dan berjuang bersamanya mungkin akan terasa asing bagi profesi
keperawatan. Hal ini ditunjukkan belum adanya keterwakilan seorang perawat
dalam kancah perpolitikan Indonesia.
Tidak dipungkiri lagi bahwa seorang perawat juga rakyat Indonesia yang
juga memiliki hak pilih dan tentunya telah melakukan haknya untuk memilih
wakil-wakilnya sebagai anggota legislatif. Namun seakan tidak ada satu pun suara
yang menyuarakan hati nurani profesi keperawatan. Tentunya hal ini tidak boleh
dibiarkan begitu saja, karena profesi kita pun membutuhkan penyampaian aspirasi
yang patut untuk didengar dan diselesaikannya permasalahan yang ada, yang
tentunya akan membawa kesejahteraan rakyat seluruh profesi keperawatan.

Menjadi bagian dari dunia perpolitikan di Indonesia, diharapkan seorang perawat


mampu mewakili banyaknya aspirasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada
di profesi keperawatan salah satunya seperti yang disebutkan diatas yaitu
mengenai bagaimana meregulasi pendidikan keperawatan yang hasil akhirnya
diharapkan tercapainya kualitas perawat bisa dipertanggung jawabkan.
Regulasi pendidikan akan menjadikan tidak bermunculnya institusi
pendidikan keperawatan yang hanya mencari untung, politik uang, dan institusi
yang tidak melakukan penjaminan mutu akan output perawat yang di luluskan
setiap periodenya. Dengan regulasi pendidikan keperawatan, semua menjadi
terstandarisasi, profesi keperawatan yang mempunyai nilai tawar, nilai jual, dan
menjadi profesi yang dipertimbangkan. Regulasi kewenangan perawat di lahan
kliniktidak kalah pentingnya dengan regulasi pendidikan, dimana regulasi
pendidikan merupakan bagaimana kita melakukan persiapan yang matang
sebelum membuat dan memulai (perencanaan), dimana kita melakukan
pembangunan fondasi yang kokoh dan system yang mensupport akan
terbentuknya generasi perawat-perawat yang siap tempur. Regulasi kewenangan
perawat dilahan klinik akan menjadiakan profesi keperawatan semakin mantap
dalam langkahnya. Kewenangan perawat yang mandiri, terstruktur dan ranah
yang jelas akan menjadikan perawat semakin professional dan proporsional sesuai
dengan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Selain itu, dalam regulasi
kewenangan ini di harapkan tidak terjadi adanya overlap dan salah satu yang
paling penting adalah menghindari terjadinya malpraktik yang kemungkinan
dapat terjadi.
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang perawat sehingga mampu
terjun ke dunia politik. Salah satu yang paling umum dilakukan adalah
mendukung salah satu partai politik. Partai politik ini akan menjadi motor
penggerak pembawa di kancah perpolitikan Indonesia. Banyak partai yang
menawarkan posisi legislative, ada partai yang melakukan pengkaderan dari awal
yang mampu menyiapkan calon-calon legislative dari embrio yang akan diberikan
suntikan ideology dari partai tersebut, ada juga partai yang memberikan
kesempatan kepada siapa saja yang siap untuk berjuang bersama-sama
mendukung partainya dan menjadi calon legislatif.
B. Tujuan umum

Mengetahui konsep-konsep politik


C. Tujuan khusus
1. Mengetahui teori politik
2. Mengetahui tentang masyarakat
3. Mengetahui tentang kekuasaan
4. Mengetahui tentang negara

BAB II
PEMBAHASAN

A. konsep-konsep politik
Menurut Aristoteles, selama manusia menjadi makhluk sosial
(zoon politikon), selama itu pula ditemukan politik. Ini berarti dalam
kehidupan bersama, manusia memiliki hubungan yang khusus yang
diwarnai oleh adanya aturan yang mengatur.Ada kekuasaan dan
wewenang yang dipegang oleh segelintir orang yang sekaligus
melahirkan aturan serta aturan mana yang perlu dipelihara dan tidak,
kemudian menentukan apakah seseorang mengikuti aturan atau tidak,
serta menentukan sanksi serta ganjaran bagi yang mengikuti dan
melanggar aturan tersebut.
Secara

etimologis,

politik

berasal

dari

bahasa

Yunani

yaitu polis yang berarti kota. Orang yang mendiami polis disebut
polites atau

warga

negara,

sementara

kata

politikos berarti

kewarganegaraan. Lalu muncul istilah politike techne yang berarti


kemahiran politik. Ars politica yang berarti kemahiran tentang soal
kenegaraan. Politike epitesme berarti ilmu politik, istilah yang saat
ini banyak digunakan.
Politik memiliki banyak definisi tergantung sudut pandang si
pembuat definisi. Miriam Budiardjo (1993)

mendefinisikan politik

sebagai berbagai macam kegiatan yang terjadi di suatu negara, yang


menyangkut proses menentukan tujuan dan bagimana cara mencapai
tujuan itu. Sementara itu, Hoogerwerf, mendefinisikan politik sebagai
pertarungan kekuasaan.Hans Morgenthau juga mendefinisikan politik
sebagai usaha mencari kekuasaan (struggle power). Sementara David
Easton

mengartikan

politik

sebagai

semua

aktivitas

yang

mempengaruhi kebijaksanaan dan cara bagaimana kebijaksanaan itu


dilaksanakan.
Dengan demikian, mengikuti Miriam Budiardjo, sesungguhnya
politik itu memiliki beberapa konsep pokok. Beberapa konsep pokok
politik tersebut adalah : politik berkaitan dengan negara (state),

kekuasaan

(power),

pengambilan

keputusan

(decision

making),

kebijaksanaan umum (public policy), pembagian (distribution) dan


alokasi (alocation). Roger F. Soltou mengatakan ilmu politik adalah
ilmu yang mempelajari negara, tujuan negara dan lembaga-lembaga
yang akan melaksanakan tujuan itu, hubungan antara negara dengan
warganegara, hubungan antara negara dengan negara lain.
Politik Secara Umum adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan
dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya
dalam negara Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi
yang

berbeda

mengenai

hakikat

politik

yang

dikenal

dalam

ilmu

politik.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun
nonkonstitusional.
Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain:

Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan

bersama (teori klasik Aristoteles).


Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan

negara.
Politik merupakan

mempertahankan kekuasaan di masyarakat.


Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan

kegiatan

yang

diarahkan

untuk

mendapatkan

dan

publik.
1. Teori Politik
Teori politik adalah bahasan sistematis dan generalisasi generalisasi dari fenomena
politik. atau merupakan bahasan dan renungan atas :
a.
Tujuan dari kegiatan politik
b.
Cara-cara pencapaian tujuan
c.
Kemungkinan-kemungkinan dan kebutuhan-kebutuhan yang ditimbulkan oleh
d.

situasi politik yang tertentu dan


Kewajiban-kewajiban yang diakibatkan oleh tujuan politik itu.

Konsep-konsep yang dibahas dalam teori politik mencakup antara lain: masyarakat,
kekuasaan, kedaulatan, hak dan kewajiban, kemerdekaan, lembaga-lembaga negara,
perubahan sosial, pembangunan sosial dan modernisasi.

a. Teori teori ilmu politik :


Terdapat tiga teori dalam ilmu politik, yaitu :
1. Teori Politik Empiris
Yaitu teori politik yang digunakan untuk mengacu kepada bagian bagian
teoritis ilmu politik.
2. Teori Politik Formal
Yaitu teori politik yang kadang kadang dirasakan tumpang tindihnya
dengan teori sosial maupun teori publik. Tidak ada aturan keputusan yang
secara simultan dapat memenuhi sejumlah kondisi yang sangat masuk akal.
3. Teori Politik Normatif
Merupakan teori politik yang paling dekat dengan enterprise tradisional
sejauh ia berkenaan dengan kebijakan politik. Tujuannya adalah meletakkan
prinsip

prinsip

otoritas,

kebebasan,

dan

keadilan.

Kemudian,

mengkhususkan pada tatanan sosial, untuk memenuhi prinsip prinsip


tersebut. Tugas teori politik menurut pandangan ini adalah :
a. Menjelajah apakah makna kebebasan dan kemudian menerapkannya pada
masalah masalah praksis.
b. Untuk menentukan landasan tujuan dalam mendukung prinsip prinsip
politik yang mendasar.
b. Teori politik menurut para ahli :
1. Menurut Thomas Jenkin dibedakan dua macam teori politik :
a. Teori-teori yang mempunyai dasar moril dan yang menentukan normanorma politik (norms for political behavior) karena ada unsur norma dan
nilai disebut valuational. Termasuk di dalamnya filsafat politik, teori
politik sistematis, ideologi, dan lain sebagainya. Hubungan antar konsep
yaitu menjelaskan fenomena-fenomena politik (menghasilkan teori yang
baik : bagaimans perilaku, tujuan politik suatu negara) teori yang berisi
moril yang menentukan norma politik.
b. Teori-teori yang membahas fenomena dan fakta-fakta politik dengan
tidak mempersoalkan norma-norma atau nilai dan dinamakan nonvaluational. Biasanya bersofat deskriptif dan berusaha membahas fakta

fakta politik sedemikian rupa sehingga dapat disistematisir dan


disimpulkan dalam generalisasi generalisasi.
2. Menurut Easton ( varma, 2007 : 130 ). Teori politik terdiri dari tiga unsur :
a. Keterangan tentang fakta fakta atau deskriptf
b. Teori murni, atua teori sebaab akibat yang berusaha mencari hubungan
yang dianggap ada antara fakta fakta, dan
c. Teori nilai yang menentukan keterangan keterangan preferensi saling
berhubungan.
Fakta meneurut Easton dapat didefinisikan kenyataan yang khusus disusun
untuk sebuah kepentingan teori .
c. Bidang Kajian Ilmu Politik
1. Teori ilmu politik yang meliputi teori politik dan sejarah perkembangan ide
ide politik.
2. Lembaga lembaga politik yang meliputi UUD, pemerintahan nasional,
pemerintahan daerah dan lokal, fungsi ekonomi dan sosial dari pemerintah
dan perbandingan lembaga lembaga politik.
3. Partai politik, organisasi kemasyarakatan, pendapat umum, partisipasi warga
Negara dalam pemerintahan dan administrasi.
4. Hubungan internasional yang meliputi politik internasional, organisasi dan
administrasi internasional dan hukum internasional.
d. Konsep dan Generalisasi Ilmu Politik
1. Konsep dalam ilmu politik
Dalam bagian terdahulu telah diuraikan lima konsep esensial sekaligus
merupakan unsur pokok dalam pengertian ilmu politik. Berikut ini konsep
esensial lainnya :
Politik
Negara
Kekuasaan
Pembuat keputusan ( decision making )
Kebijaksanaan umum
Distribusi dan alokasi
Kelompok interest
Sosialisasi politik

Kultur politik
2. Generalisasi dalam ilmu politik
Berikut ini beberapa contoh generalisasi politik yang ditulis oleh Banks dan
Clegg, Jr. ( 1977:344 ) :
Didalam setiap masyarakat dan lembaga, peraturan dan hokum tumbuh
untuk mengendalikan tingkah laku individu warganya; para individu
biasanya mengalami salah satu jenis hukum apabila penguasa berhasil

menangkap mereka karena melanggar hukum.


Para penguasa cenderung menolak setiap perubahan yang dirasakan akan

mengurangi kekuasaan dan pengaruh mereka.


Konflik timbul dalam suatu sistem politik apabila para individu atau
kelompok mempunyai tujuan yang bersaing dan mengartikan hukum

secara berlebihan.
e. Tujuan dan Fungsi Ilmu Politik
1. Perspektif Intelektual
Tujuan politik adalah untuk tindakan politik. Agar dapat bertindak dengan
baik secara politik orang perlu mempelajari asas dan seni politik dan nilai
nilai yang dianggap penting. Jadi, perspektif intelektual dalam politik adalah
perspektif yang mempergunakan diri sendiri sebagai titik tolak. Sebab setiap
perspektif itu bertolak dan dibangun berdasarkan apa yang dianggap salah
oleh individu itu, dan individu tersebut yang memperbaikinya.
2. Perspektif Politik
Bahwa pandangan intelektual mengenai politik tidak banyak berbeda dengan
pandangan politisi. Jika politisi bersifat segera, sedangkan intelektual dapat
menjadi politisi jika ia mampu memasukkan masalah politik dalam
pelayanan suatu kepentingan atau tujuan. Jika tujuan politisi adalah
memperoleh kekuasaan, maka tujuan yang kedua adalah mempertahankan
kekuasaan.
3. Perspektif Ilmu Politik
Dalam hal ini politik dipandang sebagai ilmu. Ia menilai dari sisi intelektual
dengna pertimbangan khusus serta memiliki kriteria yang sistematis.

Pendirian ini memandang pada kebutuhan kedepan, untuk meramalkan


akibat tindakan politik maupun kebijaksanaan para politisi. Para politisi
memandang politik sebagai pusat kekuasaan publik, kaum intelektual
memandang politik sebagai perluasan pusat moral dari diri. Dengan
demikian, politik sebagai ilmu menaruh perhatian pada dalil, keabsahan,
percobaan, hukum, dan keragaman.
f. Teknik
Teknik yang banyak digunakan dalam ilmu politik banyak ragamnya, seperti :
field work, investigation, questionare, sampling, interview, opnionnaire,
participant, observer, schedule, direct observation, case study, and action
research.
g. Ruang Lingkup Ilmu Politik
1. Hubungan ilmu politik dengan ilmu sosiologi
2. Hubungan ilmu politik dengan ilmu antropologi
3. Hubungan politik dengan ilmu ekonomi
4. Hubungan politik dengan ilmu psikologi
A. Masyarakat
Kata Masyarakat itu berasal dari bahasa Arab, yaitu syaraka
yang berarti ikut serta.Pengertian masyarakat mencakup interaksi
sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan.Masyarakat sering
juga disebut sistem sosial.Selain itu, ada beberapa pendapat yang
mengemukakan tentang pengertian masyarakat.
Koentjaraningrat, Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia
yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang
terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Harold J.Laski, Masyarakat
adalah kelompok manusia yang hidup bersama dan bekerja sama
untuk mencapai terkabulnya keinginan-keinginan mereka bersama.
Soerjono Soekamto, sejak dilahirkan manusia memiliki dua
keinginan pokok, yaitu:
a.

Keinginan

untuk

menjadi

satu

dengan

manusia

lain

di

sekelilingnya.
b.

Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya.

Pada umumnya ciri-ciri masyarakat adalah sebagai berikut:


a.
b.
c.
d.

Manusia yang hidup bersama,


Bergaul dalam waktu yang cukup lama,
Sadar merupakan satu kesatuan,
Suatu sistem kehidupan bersama.
Unsur-unsur agar terbentuk masyarakat antara lain:

a. Terdapat sekumpulan orang,


b. Berdiam dalam suatu wilayah dalam waktu yang relatif lama,
c. Menghasilkan sistem nilai.
Masyarakat politik dapat diartikan sebagai masyarakat yang
bertempat tinggal di dalam suatu wilayah tertentu dengan aktivitas
tertentu

yang

berhubungan

dengan

bagaimana

cara-cara

memperoleh kekuasaan, usaha-usaha mempertahankan kekuasaan,


menggunakan kekuasaan, wewenang dan bagaimana menghambat
penggunaan kekuasaan, pengendalian kekuasaan, dan sebagainya.
Pada masyarakat politik, interaksi setiap individu maupun
kelompok memiliki cirri-ciri sebagai berikut.
1. Perilaku Politik
(Political Behavior) Perilaku politik dapat dinyatakan sebagai
keseluruhan tingkah laku, politik dan warga negara yang telah saling
memiliki

hubungan

antara

pemerintah

dan

masyarakat,

antara

lembaga pemerintah dan antara kelompok masyarakat dalam rangka


proses pembuatan, pelaksanaan dan penegakan keputusan politik.
2. Budaya Politik
(Political Culture) Menurut Almond dan Verba, budaya politik
merupakan suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap
sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap
peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu.Warga negara
mengidentifikasikan

dirinya

dengan

simbol-simbol

kenegaraan berdasarkan orientasi yang mereka miliki.

dan

lembaga

3. Kelompok Kepentingan
(Interest

Group)

Adalah

kelompok/organisasi

yang

berusaha

mempengaruhi kebijakan pemerintah tanpa berkehendak memperoleh


jabatan publik. Kelompok kepentingan bisa menghimpun ataupun
mengeluarkan dana dan tenaganya untuk melaksanakan tindakantindakan politik, biasanya mereka berada di luar tugas partai politik.
4. Kelompok Penekan
(Pressure Group) Menurut Stuart Gerry Brown, kelompok penekan
adalah kelompok yang dapat mempengaruhi atau bahkan membentuk
kebijaksanaan pemerintah. Adapun cara yang digunakan dapat melalui
persuasi, propaganda atau cara lain yang lebih efektif. Mereka antara
lain: kelompok pengusaha, industriawan dan asosiasi lainnya.
B. Kekuasaaan
Dalam teori politik menunjuk pada kemampuan untuk membuat
orang lain melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Max Weber
menuliskan adanya tiga sumber kekuasaan: pertama dari perundangundangan

yakni

kewenangan;

kedua,

dari

kekerasan

seperti

penguasaan senjata; ketiga, dari karisma.


Menguraikan konsep kekuasaan politik kita perlu melihat pada
kedua elemennya, yakni kekuasaan dari akar kata kuasa dan politik
yang berasal dari bahasa Yunani Politeia (berarti kiat memimpin kota
(polis)). Sedangkan kuasa dan kekuasaan kerapa dikaitkan dengan
kemampuan untuk membuat gerak yang tanpa kehadiran kuasa
(kekuasaan) tidak akan terjadi, misalnya kita bisa menyuruh adik kita
berdiri yang tak akan dia lakukan tanpa perintah kita (untuk saat itu)
maka kita memiliki kekuasaan atas adik kita. Kekuasaan politik dengan
demikian adalah kemampuan untuk membuat masyarakat dan negara
membuat keputusan yang tanpa kehadiran kekuasaan tersebut tidak
akan dibuat oleh mereka.
Bila seseorang, suatu organisasi, atau suatu partai politik bisa
mengorganisasi

sehingga

berbagai

badan

negara

yang

relevan

misalnya membuat aturan yang melarang atau mewajibkan suatu hal


atau perkara maka mereka mempunyai kekuasaan politik.
Variasi yang dekat dari kekuasaan politik adalah kewenangan
(authority), kemampuan untuk membuat orang lain melakukan suatu
hal dengan dasar hukum atau mandat yang diperoleh dari suatu
kuasa. Seorang polisi yang bisa menghentikan mobil di jalan tidak
berarti dia memiliki kekuasaan tetapi dia memiliki kewenangan yang
diperolehnya dari UU Lalu Lintas, sehingga bila seorang pemegang
kewenangan

melaksankan

kewenangannya

tidak

sesuai

dengan

mandat peraturan yang ia jalankan maka dia telah menyalahgunakan


wewenangnya, dan untuk itu dia bisa dituntut dan dikenakan sanksi.

2. PENGERTIAN NEGARA
a. Sejarah Negara
Beberapa abad sebelum Masehi, para filsuf Yunani: Socrates, Plato, dan
Aristoteles sudah mengajarkan beberapa teori tentang negara. Pendapat mereka
tentang ilmu negara dan hukum masih berpengaruh hingga saat ini. Tapi
pengertian mereka tentang negara pada saat itu hanya meliputi lingkungan kecil,
yakni lingkungan kota atau negara kota yang disebut Polis.
Istilah negara mulai dikenal pada masa Renaissance di Eropa dalam abad
ke-16 melalui Niccolo Machiavelli yang mengenalkan istilah Lo Stato dalam
bukunya yang berjudul The Prince, semula istilah itu digunakan untuk
menyebut sebagian dari jabatan negara, kemudian diartikan juga sebagai aparat
negara, dan orang-orang yang memegang tampuk pemerintahan beserta stafstafnya, maupun susunan tata pemerintahan atas suatu masyarakat di wilayah
tertentu.
Tetapi janganlah sekali-sekali disangka bahwa negara dari zaman
Machiavelli itu serupa dengan negara dari zaman modern ini. Italia dari zaman
Machiavelli masih terbagi dalam negara-negara kota atau lebih tepat republik-

republik kota. Oleh karena itu mungkin lebih tepat jika Machiavelli
menggunakan kata Polis daripada kata Lo Stato.
b. Beberapa Definisi Negara Oleh Para Ahli
1. Roger H. Soltau: Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau
mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat.
2. Harold J. Laski : Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan
karena memiliki wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih
agung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari
masyarakat.
3. Max Weber : Negara adalah suatu masyarakat yang memonopoli
penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah.
4. R.M. MacIver : Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penertiban
di dalam suatu masyarakat di suatu wilayah berdasarkan sistem hukum yang
diselenggarakan oleh suatu pemerintah dan mempunyai kekuasaan memaksa.
5. Benedictus de Spinoza : Negara adalah susunan masyarakat yang integral
(kesatuan) antara semua golongan dan bagian dari seluruh anggota
masyarakat (persatuan masyarakat organis).
6. Dr. W.L.G. Lemaire : Negara tampak sebagai suatu masyarakat manusia
teritorial yang diorganisasikan.
7. Prof. Mr. Kranenburg : Negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang
diciptakan oleh sekelompok manusia yang disebut bangsa.
8. Bellefroid : Negara adalah suatu persekutuan hukum yang menempati suatu
wilayah untuk selama-lamanya dan dilengkapi dengan suatu kekuasaan
tertinggi untuk menyelenggarakan kemakmuran rakyat sebesar-besarnya.
9. Prof.Mr. Soenarko : Negara adalah organisasi masyarakat di wilayah
tertentu dengan kekuasaan yang berlaku sepenuhnya sebagai kedaulatan.
10. M. Solly Lubis, SH : Negara adalah suatu bentuk pergaulan hidup manusia
yang merupakan suatu community dengan syarat-syarat tertentu: memiliki
wilayah, rakyat dan pemerintah.
11. Mr. J.C.T. Simorangkir dan Mr. Woerjono Sastropranoto : Negara adalah
persekutuan hukum yang letaknya dalam daerah tertentu dan memiliki

kekuasaan tertinggi untuk menyelenggarakan kepentingan umum dan


kemakmuran bersama.
12. Prof. Miriam Budiardjo : Negara adalah suatu daerah teritorial yang
rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat dan yang berhasil menuntut dari
warga negaranya ketaatan pada peraturan perundang-undangannya melalui
penguasaan (kontrol) monopolistis dari kekuasaan yang sah.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa negara
merupakan:
a. Suatu organisasi kekuasaan yang teratur;
b. Kekuasaannya bersifat memaksa dan monopoli;
c. Suatu organisasi yang bertugas mengurus kepentingan bersama dalam
masyarakat.
c. Tujuan dan Fungsi Negara
Tujuan negara merupakan suatu harapan atau cita-cita yang akan dicapai oleh
negara, sedangkan fungsi negara merupakan upaya atau kegiatan negara untuk
mengubah harapan itu menjadi kenyataan. Maka, tujuan negara tanpa fungsi
negara adalah sia-sia, dan begitu juga sebaliknya.
d. Teori-teori Tujuan Negara
1. Teori Kekuasaan
a. Shang Yang, yang hidup di negeri China sekitar abad V-IV SM
menyatakan bahwa tujuan negara adalah pembentukan kekuasaan negara
yang sebesar-besarnya. Menurut dia, perbedaan tajam antara negara
dengan rakyat akan membentuk kekuasaan negara.
b. Niccolo Machiavelli, dalam bukunya Il Principe menganjurkan agar raja
tidak

menghiraukan

kesusilaan

maupun

agama.

Untuk

meraih,

mempertahankan dan meningkatkan kekuasaannya, raja harus licik tak


perlu menepati janji dan berusaha selalu ditakuti rakyat.
2. Teori Perdamaian Dunia
Dalam bukunya yang berjudul De Monarchia Libri III, Dante
Alleghiere(1265-1321) menyatakan bahwa tujuan negara adalah untuk

mewujudkan perdamaian dunia. Perdamaian dunia akan terwujud apabila


semua negara merdeka meleburkan diri dalam satu imperium di bawah
kepemimpinan seorang penguasa tertinggi.
3. Teori Jaminan atas Hak dan Kebebasan Manusia
a. Immanuel Kant (1724-1804)
Adalah penganut teori Perjanjian Masyarakat karena menurutnya setiap
orang adalah merdeka dan sederajat sejak lahir. Maka Kant menyatakan
bahwa tujuan negara adalah melindungi dan menjamin ketertiban hukum
agar hak dan kemerdekaan warga negara terbina dan terpelihara. Untuk
itu diperlukan undang-undang yang merupakan penjelmaan kehendak
umum (volonte general), dan karenanya harus ditaati oleh siapa pun,
rakyat maupun pemerintah. Agar tujuan negara tersebut dapat
terpelihara
b. Kranenburg
Termasuk penganut teori negara kesejahteraan. Menurut dia, tujuan
negara bukan sekadar memelihara ketertiban hukum, melainkan juga
aktif mengupayakan kesejahteraan warganya. Kesejahteran pun meliputi
berbagai bidang yang luas cakupannya, sehingga selayaknya tujuan
negara itu disebut secara plural: tujuan-tujuan negara. Ia juga
menyatakan bahwa upaya pencapaian tujuan-tujuan negara itu dilandasi
oleh keadilan secara merata.
e. Fungsi Negara
Setiap negara minimal harus melaksanakan fungsi:
1. Penertiban (law and order): untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah
terjadinya konflik, negara harus melaksanakan penertiban, menjadi
2.
3.
4.
f.
1.

stabilisator.
Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Pertahanan, menjaga kemungkinan serangan dari luar.
Menegakkan keadilan, melalui badan-badan pengadilan.
Teori-teori Fungsi Negara
Teori Anarkhisme

Penganut anarkhisme menolak campur tangan negara dan pemerintahan


karena menurutnya manusia menurut kodratnya adalah baik dan bijaksana,
sehingga tidak memerlukan negara/ pemerintahan yang bersifat memaksa
dalam penjaminan terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat.
Fungsi negara dapat diselenggarakan oleh perhimpunan masyarakat yang
dibentuk secara sukarela, tanpa paksaan, tanpa polisi, bahkan tanpa hukum
dan pengadilan. Anarkhisme menghendaki masyarakat bebas (tanpa terikat
organisasi kenegaraan) yang mengekang kebebasan individu.
2. Teori Individualisme
Individualisme adalah suatu paham yang menempatkan kepentingan
individual sebagai pusat tujuan hidup manusia. Menurut paham ini, negara
hanya berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan setiap individu.
Negara hanya bertugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat
(penjaga malam), tidak usah ikut campur dalam urusan individu, bahkan
sebaliknya harus memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap
individu dalam kehidupannya. Individualisme berjalan seiring dengan
liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan perseorangan. Di bidang
ekonomi, liberalisme menghendaki persaingan bebas. Yang bermodal lebih
kuat/ besar layak memenangi persaingan. Sistem ekonomi liberal biasa
disebut kapitalisme.
3. Teori Sosialisme
Sosialisme merupakan

suatu

paham

yang

menjadikan

kolektivitas

(kebersamaan) sebagai pusat tujuan hidup manusia. Penganut paham ini


menganggap bahwa dalam segala aspek kehidupan manusia, kebersamaan
harus diutamakan. Demi kepentingan bersama, kepentingan individu harus
dikesampingkan. Maka, negara harus selalu ikut campur dalam segala aspek

kehidupan demi tercapainya tujuan negara, yaitu kesejahteraan yang merata


bagi seluruh rakyat.
g. Unsur-Unsur Negara
1. Wilayah/ Daerah
a. Daratan
b. Lautan
c. Udara
d. Wilayah Ekstrateritorial
2. Rakyat
Rakyat adalah kumpulan manusia yang hidup bersama dalam suatu
masyarakat penghuni suatu negara, meskipun mereka ini mungkin berasal
dari keturunan dan memiliki kepercayaan yang berbeda. Selain rakyat,
penghuni negara juga disebut bangsa.
3. Pemerintah yang berdaulat
Istilah
Pemerintah
merupakan

terjemahan

dari

kata

asing Gorvernment (Inggris),Gouvernement (Prancis) yang berasal dari kata


Yunani yang berarti mengemudikan kapal (nahkoda). Dalam arti
luas, Pemerintah adalah gabungan dari semua badan kenegaraan (eksekutif,
legislatif, yudikatif) yang berkuasa memerintah di wilayah suatu negara.
Dalam arti sempit, Pemerintah mencakup lembaga eksekutif saja.
4. Pengakuan oleh negara lain
Pengakuan oleh negara lain didasarkan pada hukum internasional.
Pengakuan itu bersifat deklaratif/ evidenter, bukan konstitutif. Adanya
pengakuan dari negara lain menjadi tanda bahwa suatu negara baru yang
telah memenuhi persyaratan konstitutif diterima sebagai anggota baru dalam
pergaulan antarnegara

BAB III

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar ilmu politik. Jakarta: PT. Gramedia


Pustaka Utama. 1993.
Hutauruk, M. Garis besar ilmu politik pelita keempat 1984-1989.
Jakarta: Erlangga. 1984.
Varma, SP. Teori politik modern. Jakarta: Rajawali Pers. 1992.
Supardan,Dadang.

Pengantar

Ilmu

Sosial.Jakarta:

PT.

Bumi

Aksara.2008.
Wiki.(2008).Politik.[online].
Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Politik [ 9 Maret 2008]
Hidayatlubis.(2008).Sifat dan Ruang Lingkup Ilmu Politik. [omline].
Tersedia:
http://www.geocities.com/hidayatlubis/politik.html [9 Maret 2008]