Anda di halaman 1dari 12

SANITASI AIR

BONA VENTURA FEBRIA VALENTIN CORUA (201351004)


HARTANTO ANGGO (201151008)
DIII KEPERAWATAN/SEMESTER 4

SEKOLAH TINGGI ILMU KESAHATAN


SINT CAROLUS
JAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Makhluk hidup membutuhkan air dan udara untuk kelangsungan hidup. Tentu air dan
udara yang bersih yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Selain air dan udara juga
terdapat makanan untuk melangsungkan hidup manusia. Namun disamping itu lambat laun di
era globalisasi air bersih sudah sulit ditemukan, udara yang diihirup sehari-hari saja lebih
banyak polusi yang mengadung zat-zat kotor yang tentunya tidak baik bagi tubuh manusia.
Air sangatlah berguna bagi kebutuhan hidup manusia, karena tanpa air manusia tidak bisa
melakukan aktifitas mencuci, minum, masak, dan lain lain. Sulitnya air dijaman sekarang
membuat penyakit merajalela terutama penyakit diare yang banyak didominasi oleh anak
kecil. Selain sulitnya akses yang buruk terhadap air bersih, kegagalan untuk mendorong
perubahan perilakukhususnya di kalangan keluarga berpenghasilan rendah dan penduduk
di daerah kumuhtelah memperburuk situasi air bersih dan sanitasi di Indonesia.
Sanitasi yang buruk juga menjadi penyumbang signifikan dari polusi airyang menambah
biaya air yang aman bagi rumah tangga, dan menurunkan produksi perikanan di sungai dan
danau Tahun 2006, Indonesia kehilangan 2,3 persen produk domestik bruto yang disebabkan
oleh sanitasi dan kebersihan yang buruk.
Pemerintah sekarang sudah mengusahakan air bersih untuk lingkungan yang banyak
mengandung air kotor. Tetapi terkadang usaha-usaha yang dilakukan pemerintah tidak
berjalan dengan lancar diakibatkan banyaknya halangan baik dari pemerintah sendiri maupun
dari masayarakat. Oleh sebab itu perlu adanya sanitasi air agar semua warga bisa
menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk menghindari dari
penyakit.

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1

Definisi
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud

mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya
dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Definisi sanitasi
menurut beberapa ahli, yaitu:
1)

Menurut Dr.Azrul Azwar. MPH, sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat

yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang


mungkin mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
2)

Menurut Hopkins, sanitasi adalah cara pengawasan terhadap factor-faktor

lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.


3)

Menurut Ehler dan Steel (1958) sanitasi adalah usaha pencegahan Penyakit, dengan

pemindahan penyakit.
4)

Sedangkan batasan WHO, yang dimaksud dengan sanitasi lingkungan adalah usaha

pengawasan terhadap lingkungan fisik manusia yang dapat atau mungkin dapat
memberikan akibat yang merugikan kesehatan jasmani, dan kelangsungan hidupya.

2.2

Jenis jenis Air Bersih

1. Air hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum, tetapi air hujan ini tidak
mengandung kalsium. Oleh karena itu, agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu
ditambahkan kalsium didalamnya.
2. Air sungai dan danau
Air sungai dan danau berdasarkan asalnya juga berasal dari air hujan yang mengalir
melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau. Kedua sumber air ini sering juga disebut air
permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh
berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
3. Mata air

Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena
itu, air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum
langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya
air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air sumur
Air sumur dangkal adalah air yang keluar dari dalam tanah, sehingga disebut sebagai air tanah.
Air berasal dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari
permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5
sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat
karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus
dahulu sebelum diminum.
Air sumur dalam yaitu air yang berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari
permukaan tanah biasanya lebih dari 15 meter. Oleh karena itu, sebagaian besar air sumur dalam
ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses
pengolahan).
Pengolahan air minum. Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :
1. Pengolahan Secara Alamiah
Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan dari air yang diperoleh dari berbagai
macam sumber, seperti air danau, air sungai, air sumur dan sebagainya. Di dalam penyimpanan
ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat
yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena
partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.
2. Pengolahan Air dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Penyaringan
pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat
dikonsumsi umum.
3. Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi
dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah
berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya
klor (Cl).

4. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara


Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan
gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini
lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari
konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni :
a. Pengolahan Air Minum untuk Umum
b. Penampungan Air Hujan. Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau
buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan
dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut
dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung
dengan bak-bak ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan
air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air
untuk umum. Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan
tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluargakeluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.
6. Pengolahan Air Sungai
Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat
memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang
terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II.
Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk
sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan
direbus terlebih dahulu.
7. Pengolahan Mata Air
Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata
air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumahrumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri
ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.
8. Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga
Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan
kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi

masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah
sumur gali.
Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syaratsyarat sebagai berikut :
a. Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke dalamnya.
b. Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar air dari atas
tidak dapat mengotori air sumur.
c. Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi kekeruhan.
d. Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat dimasukkan suatu zat yang dapat
membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas).
e. Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan
saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.
9. Air Hujan
Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiaptiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masingmasing melalui
aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau
mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air
hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon untuk musim kemarau.

3.1

Cara Pengelolaan
Pengolahan air untuk diminum dapat dikerjakan dengan 2 cara, berikut :
1. Menggodok atau mendidihkan air, sehingga semua kumankuman mati. Cara ini
membutuhkan waktu yang lama dan tidak dapat dilakukan secara besar-besaran.
2. Dengan menggunakan zat-zat kimia seperti gas chloor, kaporit, dan lain-lain. Cara ini
dapat dilakukan secara besarbesaran, cepat dan murah.
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut hendaknya diusahakan

memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan, setidaknya diusahakan mendekati persyaratan


tersebut. Air yang sehat harus mempunyai persyaratan sebagai berikut :
1. Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu
dibawah suhu udara diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang
memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
2. Syarat bakteriologis

Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen.
Cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan
memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang
dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.
3. Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula.
Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan
fisiologis pada manusia. Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di pedesaan maka air minum
yang berasal dari mata air dan sumur dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan
memenuhi ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran
terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang ada di
pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh penduduk
yang menggunakan air tersebut.

4.1 Peran Perawat Dalam Sanitasi Air


1. Cara sederhana
1.

Secara Alamiah

Penyimpanan ( Storage ) dari air yang diperoleh dari berbagai sumber seperti air danau, air kali,
air sumur dan sebagainya. Caranya : Air disimpan dan dibiarkan beberapa jam ditempatnya.
Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat di dalam air, dan akhirnya terbentuk
endapan. Air akan jernih.
2.

Dengan Menyaring
1.

Secara Alamiah
Penyimpanan ( Storage ) dari air yang diperoleh dari berbagai sumber seperti air danau,
air kali, air sumur dan sebagainya.
Caranya : Air disimpan dan dibiarkan beberapa jam ditempatnya. Kemudian akan terjadi
koagulasi dari zat-zat yang terdapat di dalam air, dan akhirnya terbentuk endapan. Air

2.

akan jernih.
Dengan Menyaring

Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk, dan pasir.

2. Cara Modern
Jika mempunyai lebih pendapatan dapat menggunakan dispenser merek pure it.
Dispenser tersebut dapat mengubah air yang kumuh atau air yang tidak bersih menjadi bersih
dengan 4 tahapan. air yang disimpan di dalam Pureit aman untuk dikonsumsi, namun Anda harus
melakukan perawatan yang tepat. Air yang disimpan dalam wadah Pureit dapat digunakan dalam
jangka waktu 2-3 hari. Jika tidak digunakan dalam kurun waktu tersebut, Anda harus membuang
air yang tersimpan di dalam Pureit. Wadah Transparan memiliki kapasitas 9 liter air. Bagian ini
didesain sesuai dengan kebutuhan keluarga, dan cukup menuangkan air ke Wadah Bagian Atas
sampai penuh 1 kali setiap harinya. Jika Anda memerlukan lebih dari 9 liter setiap harinya, Anda
bisa terus menambahkan berapapun banyaknya air ke Wadah Bagian Atas sesuai kebutuhan dan
mengambil air yang siap diminum dari Wadah Transparan.
Anda dapat dengan yakin menuangkan air yang biasa Anda gunakan ke dalam wadah
Pureit, baik air tanah/PAM yang belum dimasak, dan kemudian mendapatkan air yang siap
diminum. Pureit memiliki 4 tahap teknologi pemurnian yang unik. Pertama, air yang dituang
akan melewati Saringan Serat Mikro yang akan menghilangkan kotoran yang terlihat. Kemudian
air akan melewati Filter Karbon aktif yang akan menghilangkan semua parasit dan pestisida
berbahaya. Kemudian, melewati Prosesor Pembunuh Kuman yang akan menghilangkan semua
virus dan bakteri berbahaya. Terakhir, air akan melewati Penjernih yang akan menghasilkan air
yang jernih, tidak berbau dengan rasa yang alami.
Bukti bahwa Pureit memberikan perlindungan menyeluruh terhadap kuman:
1.

Teknologi canggih pembunuh kuman Pureit memiliki 4 tahap proses pemurnian air yang

membunuh bakteri dan virus berbahaya dalam air minum.


2.

Kinerja Pureit memenuhi kriteria pembunuh kuman terketat dari Environmental Protection

Agency, Amerika Serikat.

DAFTAR PUSTAKA
PERPAMSI (2010): Pemetaan Masalah PDAM di Indonesia (Mapping of PDAM Problem in
Indonesia). Jakarta: Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Indonesian Water
Supply Association).
Unger, A. and Riley, L.W. (2007) Slum health: From understanding to action. PLoS Med 4(10):
e295. doi:10.1371/journal.pmed.0040295.

University of Indonesia Center for Health Research (2006): Survei rumah tangga pelayanan
kesehatan dasar di 30 kabupaten di 6 provinsi di Indonesia 2005 . Final report. Jakarta: USAID Indonesia Health Services Program.
BPPSPAM (2010): Performance Evaluation of PDAMs in Indonesia. Jakarta: Ministry of Public
Works, Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyedia Air Minum (Support Agency for the
Development of Drinking Water Supply Systems).
Depkes RI dan WHO. 2003. Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Higiene Sanitasi Depot Air
Minum. Jakarta: Ditjen PPM dan PLP Depkes.
http://health.liputan6.com/read/829294/sanitasi-air-bersih-masih-jadi-pr-bersama

LAMPIRAN

Sanitasi Air Bersih Masih Jadi `PR ` Bersama


By Fitri Syarifah
on Peb 17, 2014 at 15:30 WIB
Liputan 6

Meski target MDGs (Millennium Development Goals) akan berakhir pada 2015, ternyata masih
banyak persoalan yang masih belum bisa dituntaskan oleh pemerintah. Salah satunya adalah
masalah sanitasi air bersih.
Seperti disampaikan Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs, Prof.Dr.dr.Nila Moeloek, SpM
(K) bahwa masalah akses air bersih dan sanitasi dasar termasuk dalam tiga target tujuan
pembangunan millenium yang masih memerlukan kerja keras untuk dicapai pada 2015.
"Persoalan air bersih menghadapi sejumlah tantangan seperti pesatnya pertumbuhan populasi,
adanya kesenjangan antara desa, kota dan antar propinsi, ditambah pola perilaku manusia yang
merusak lingkungan," kata Nila saat diskusi pembangunan MDGs di kampus Unika Atma Jaya,
Jakarta, Senin (17/2/2014).
Nila menilai, buruknya sanitasi akan menimbulkan permasalahan kesehatan mendasar yang pada
akhirnya akan memengaruhi kesejahteraan masyarakat.
"Meski demikian, kami tetap optimis untuk mengupayakan kemitraan yang sinergis, strategis dan
out of the box untuk mengedukasi masyarakat, merehabilitasi atau membangun infrastruktur dan
mewujudkan ketersediaan air bersih melalui teknologi tepat guna," jelasnya.
Untuk itu, Nila menyampaikan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam dinamika
pembangunan Indonesia. Salah satu hal yang dibutuhkan dari para pemuda pemudi ialah

eksplorasi gagasan kreatif dalam membantu memecahkan persoalan air bersih dan sanitasi.
"Pemuda harus menjadi partisipan pembangunan bukan hanya sekedar objek pembangunan.
Berdasarkan sensus penduduk 2010, terdapat lebih dari 63 juta pemuda di Indonesia atau
sebanyak 26 persen dari total populasi sejumlah 238 juta yang berada di kelompok usia produktif
dan selalu terpapar teknologi masa kini," ungkapnya.