Anda di halaman 1dari 8

Bioetika dan Medikolegal HIV/AIDS

Theza Pellondo'u

Bioetika berasal dari bahasa Yunani, bios dan ethos, yang berarti hidup
dan perilaku. Isitlah ini pertama kali dicetuskan oleh Fritz Jahr pada tahun 1926
dalam artikelnya tentang penelitian yang menyangkut hewan dan tumbuhan
coba. Istilah ini muncul lagi pada 1970, dicetuskan oleh Van Rensselaer Potter
II, ahli biokimia, profesor onkologi di McArdle Laboratory for Cancer
Research, Universitas Wisconsin-Madison. Potter menjabarkan bioetika dalam
artian yang lebih luas, termasuk solidaritas terhadap biosfer, cabang ilmu yang
mewakili hubungan antara biologi, ekologi, kedokteran, dan nilai-nilai manusia
dalam rangka mencapai penyintasan manusia dan mahkluk hidup lainnya, yang
pada akhirnya mencetuskan istilah etika global.
Bioetika merupakan cabang dari etika, ilmu yang memelajari sistematika
dan membuat rekomendasi tentang perbuatan yang benar dan salah. Menurut
Paul dan Elder, etika adalah seperangkat konsep dan prinsip yang memandu
manusia dalam menentukan perilaku apa yang membantu atau merusak
makhluk yang memiliki kesadaran. Etika sendiri termasuk dalam filsafat, ilmu
yang memelajari masalah-masalah umum dan mendasar, yang berkaitan dengan
kenyataan, keberadaan, pengetahuan, nilai, alasan, pikiran, dan bahasa.
Bioetika memiliki tiga subdisiplin utama, yaitu etika kedokteran, etika
hewan, dan etika lingkungan. Untuk lebih dapat memahami bidang bioetika,
diperlukan pengetahuan dasar tentang ilmu pengetahuan yang berhubungan
dengan kehidupan, seperti biologi (termasuk genetika), biokimia, biofisika, dan
paling penting kedokteran.
Etika Kedokteran
Etika kedokteran adalah suatu perangkat prinsip-prinsip moral yang
memengaruhi pasien, praktisi kedokteran, dan institusi kedokteran dan
penerapan nilai-nilai tersebut pada praktik kedokteran. Etika kedokteran
berpusat pada moralitas, kemungkinan-kemungkinan masalah yang mungkin
timbul, dan pengambilan keputusan yang terbaik.
Sejarah
Cikal bakal kode etik kedokteran adalah Sumpah Hipokrates yang ditulis
pada abad 5 SM yang ditulis dalam bahasa Yunani Ionik. Penulis sumpah ini
sendiri masih diperdebatkan. Banyak ahli percaya bahwa Hipokrates sendiri
yang menyusun sumpah tersebut, namun tidak sedikit pula yang berpendapat
bahwa salah satu muridnyalah yang menulis sumpah kedokteran pertama ini dan
menambahkan nama gurunya tersebut sebagai tanda penghormatan. Sumpah
Hipokrates ini sudah mengalami beberapa kali perubahan demi menyesuaikan

dengan zaman. Di Indonesia, sumpah ini dikenal sebagai Sumpah Dokter, yang
diucapkan pada wisuda kelulusan dokter. Lafal Sumpah Dokter dibuat
berdasarkan Deklarasi Jenewa tahun 1948, yang merupakan salah satu
penyempurnaan dari lafal Sumpah Hipokrates. Sumpah ini pun sudah dua kali
mengalami perubahan, pada tahun 1983 dan 1993, sejak ditetapkan dalam
Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter.
Kode Etik Kedokteran Indonesia merupakan kumpulan peraturan etika
profesi yang akan digunakan sebagai tolok ukur perilaku ideal dan optimal
seorang dokter dalam menjalankan profesinya. Kodeki pertama kali disusun
pada tahun 2001 dan disahkan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
pada tahun 2002, lalu pada Muktamar IDI ke 28 di Makassar tahun 2012
disahkan edisi revisi dari Kodek. Tujuan lain penyusunan Kodeki adalah
sebagai acuan utama proses pengajaran, pelatihan, dan pencontohan etik di
seluruh fakultas kedokteran dan institusi pendidikan kesehatan lainnya.
Prinsip etika yang berkaitan dengan pasien HIV/AIDS
Dalam hal pasien dengan HIV/AIDS, prinsip etika yang harus dipegang
oleh seorang dokter terutama adalah menjaga rahasia pasien. Baik Sumpah
Dokter mau pun Kodeki sudah mengaturnya secara spesifik, hal ini dapat dilihat
pada poin nomor 5 Sumpah Dokter Indonesia yang berbunyi Saya akan
merahasiakan segala sesuatu yang akan ketahui kepada orang lain karena
pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai dokter dan pasal 16 Kodeki, Setiap
dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien,bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Dalam kuliah pakar ini kita akan lebih banyak membahas masalah
HIV/AIDS dari sisi bioetika, atau yang juga dikenal sebagai prinsip etika
kedokteran. Prinsip ini dicetuskan oleh Beauchamp dan Childress pada tahun
1979. Sampai sekarang prinsip etika kedokteran tersebut masih dipakai untuk
mengevaluasi keuntungan dan kesulitan dari suatu prosedur medis, dan prinsip
ini dapat digunakan di semua hal yang menyangkut permasalahan etis di bidang
kedokteran, bukan hanya dari sisi klinis. Idealnya, untuk suatu prosedur medis
dapat dikatakan etis, prosedur tersebut harus memenuhi keempat prinsip berikut
ini:
1. (Respect for) Autonomy
Pasien memiliki otonomi dalam mengambil keputusan mengenai prosedur
pelayanan kesehatan, dan dalam pengambilan keputusan ini pasien tidak
boleh berada dalam tekanan mau pun paksaan, terutama dari praktisi
kesehatan. Supaya pasien bisa mengambil keputusan yang terbaik
menurutnya, maka pasien harus memahami semua risiko dan keuntungan
dari suatu prosedur dan seberapa besar kemungkinan berhasilnya.

2. Justice
Prosedur kesehatan yang ada harus sesuai dengan peraturan dan undangundang yang berlaku di suatu masyarakat. Selain kesusuaian dengan
perangkat hukum, pelayana yang diterima tiap orang harus sesuai dengan
kebutuhannya. Dalam hal ini, ada empat hal yang harus dipertimbangkan
oleh penyedia layanan kesehatan, yaitu distribusi sumber daya yang merata
(terutama yang sulit didapat), kebutuhan tiap daerah yang tidak sama, hak
dan kewajiban, dan kemungkinan timbulnya konflik dengan peraturan yang
ada.
3. Beneficence
Suatu prosedur kesehatan harus dilakukan dengan tujuan utama kebaikan
pasien. Praktisi dan penyedia layanan kesehatan diwajibkan untuk selalu
mempertimbangkan keadaan khusus pasien, dan juga mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidangnya, mengikuti
pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya.
4. Nonmaleficence
Prosedur yang dilakukan tidak boleh membuat pasien malah makin parah.
Pada beberapa kasus, prinsip ini sulit untuk benar-benar diterapkan.
Selain dari prinsip etika kedokteran, seorang dokter juga harus
mempertimbangkan keempat etika profesional dalam berhubungan dengan
semua pasien, tidak hanya pasien HIV/AIDS:
1. Veracity
Prinsip ini berkaitan dengan prinsip autonomy, karena untuk pasien dapat
mengambil keputusan yang terbaik menurutnya maka pasien berhak dan
dokter wajib untuk memberi tahu selengkapnya keadaan pasien yang
sebenarnya. Supaya tidak timbul kesalahan dalam komunikasi maka dokter
harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh pasien, sebaiknya hindari
menggunakan istilah-istilah kedokteran yang umumnya akan terdengar
asing di telinga orang awam. Penjelasan lengkap yang harus diberikan di
antaranya adalah prognosis pasien, biaya yang akan dikeluarkan pasien,
kemungkinan yang akan dialami keluarga pasien, dan lain-lain.
2. Privacy
Pasien memiliki hak penuh atas informasi mengenai penyakitnya, termasuk
memutuskan kepada siapa informasi ini boleh dibagikan. Dalam cakupan
luas dokter yang merawat sebaiknya meminta izin kepada pasien sebelum
dia merujuk ke teman sejawatnya untuk perawatan lanjutan.

3. Confidentiality
Dokter harus menjaga kerahasiaan pasien, artinya seorang dokter tidak
boleh membagikan informasi yang diketahuinya tentang pasiennya kepada
pihak-pihak yang tidak berwenang. Prinsip confidentiality ini juga harus
dijaga bila pasien tidak ingin keluarganya tahu tentang kondisinya.
Ada kalanya di mana seorang dokter membutuhkan informasi tambahan dan
pendapat orang lain sehingga dia bertanya kepada teman sejawatnya. Bila
dokter tersebut tidak memberi tahu teman sejawatnya informasi yang dapat
mengarah kepada pasiennya maka tindakan ini tidak termasuk pelanggaran
prinsip confidentiality.
4. Fidelity
Inti dari prinsip fidelity adalah mendahulukan kepentingan pasien di atas
kepentingan pribadi dokter. Pada pelaksanaannya hal ini termasuk
memenuhi apa harapan pasien terhadap dokter, melakukan tugas sebaik
mungkin, dan membuktikan kepada pasien bahwa dokter tersebut memang
layak untuk dipercaya. Dalam dunia kedokteran, prinsip ini paling sering
menimbulkan konflik etis, terutama bila apa yang dianggap terbaik oleh
dokter yang merawat bertentangan dengan keinginan pasien.
Medikolegal
Selain panduan etika, dalam merawat pasien seorang dokter juga harus
berpegang pada hukum yang berlaku. Sama seperti dalam bidang etika,
kebanyakan hukum yang berperan adalah hukum yang menyangkut menjaga
menjaga rahasia pasien.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang diterima sebagai hukum
umum mengatur tentang kerahasiaan pasien yang harus dijaga oleh dokter pada
pasal 322 yang berbunyi Barang siapa dengan sengaja membuka rahasia yang
wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya, baik yang sekarang
maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara ... atau pidana denda ....
Dalam dunia kedokteran, hukum khusus yang berlaku di antaranya adalah
Undang-undang RI nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU RI
nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Peraturan Menteri Kesehatan
nomor 269 tahun 2008 tentang Rekam Medis. Secara detil, pasal-pasal yang
berkaitan adalah:
1. UUPK 2004 pasal 48 ayat 1:
Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran
wajib menyimpan rahasia kedokteran.
2. UUPK 2004 pasal 47 ayat 1:
Dokumen rekam medis ... merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana
pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis merupakan milik pasien.

3. UURS 2009 pasal 29 ayat 1 huruf h:


Setiap Rumah Sakit mempunyai kewajiban menyelenggarakan rekam
medis.
4. UURS 2009 pasal 32 huruf i:
Setiap pasien mempunya hak mendapatkan privasi dan kerahasiaan
penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya.
5. Permenkes 2008 pasal 10 ayat 1:
Informasi tentang identitas diagnosis, riwayat penyakit, riwayat
pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya
oleh dokter, dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan
pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
Masalah etika dan legal
Menjaga kerahasiaan medis pasien sudah dimulai sejak pasien memasuki
ruang praktik dokter, termasuk ruang VCT. Seperti sudah dijelaskan di atas,
pasien memiliki hak penuh dengan siapa dia bersedia berbagi kondisinya dan
dokter harus menghormati keputusan pasien. Bahkan bila pasien tidak ingin
pasangannya dan anggota keluarga lainnya tidak tahu bahwa dia mengidap
HIV/AIDS, idealnya dokter harus tetap merahasiakannya.
Pada kenyataannya dokter akan menemui beberapa konflik etika selama
berhubungan dengan pasien HIV/AIDS. Salah satu contoh adalah bila pasien
tidak ingin pasangannya tahu bahwa dia mengidap HIV/AIDS sementara
mereka secara rutin berhubungan seksual tanpa pengaman. Di satu sisi pasien
memang memiliki privacy dan dokter harus menjaga confidentiality pasiennya,
namun di sisi lain beneficence pasangannya menjadi terancam. Bila pasien tetap
menolak untuk memberi tahu pasangannya tentang keadaannya, meski pun
dokter sudah menganjurkan dan menawarkan menjadi mediator, maka secara
etis dokter dibenarkan untuk memberi tahu pasangan, anak, dan pengasuh
pasien (bila ada) tentang keadaannya. Pembenaran pelanggaran confidentiality
ini untuk mencapai kebaikan yang lebih besar (for the greater good).
Contoh keadaan lain yang memungkinkan timbulnya konflik etika
berkaitan dengan tempat kerja dan atasan pasien. Kementerian Tenaga Kerja
dan Transmigrasi RI sendiri sudah mengeluarkan keputusan yang intinya adalah
melarang tempat kerja melakukan diskriminasi terhadap karyawannya yang
mengidap HIV/AIDS. Hal ini dapat dilihat pada Kepmenakertrans nomor 68
tahun 2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HID/AIDS Di Tempat
Kerja, terutama pada pasal 5 yang mengatur bahwa pengusaha dilarang untuk
melakukan tes HIV sebagai prasyarat menerima karyawan dan tes HIV hanya
boleh dilakukan pada karyawan yang menyetujuinya secara sukarela. Hasil dari
tes HIV ini pun selanjutnya diperlakukan sama seperti rekam medis biasa,
seperti yang tertulis pada pasal 6, Informasi yang diperoleh dari kegiatan

konseling, tes HIV, pengobatan, perawatan dan kegiatan lainnya harus dijaga
kerahasiaannya seperti yang berlaku bagi data rekan medis.
Bila pengusaha tidak memiliki alasan kuat untuk mengetahui status HIV
karyawannya, misalnya karena karyawannya bekerja di belakang meja yang
minim risiko cedera maka dokter harus tetap merahasiakannya. Keadaannya
berbeda bila karyawannya adalah buruh pabrik yang memiliki risiko besar untuk
mengalami cedera dan pendarahan. Dalam hal ini, sama seperti pada kasus di
atas, demi kebaikan yang lebih besar maka dokter terpaksa harus membuka
rahasia medis pasien terkait status HIV-nya kepada pengusaha, karyawan lain
yang bekerja dalam lingkungan yang sama dengan pasien, dan personil yang
bertugas memberikan pertolongan pertama.
Penutup
Dalam menjalankan profesinya, seorang dokter harus selalu berpedoman
pada kode etik kedokteran dan peraturan yang berlaku serta mengingat Sumpah
Dokter yang diucapkan saat pelantikannya sebagai seorang dokter. Semua
prosedur medis yang direncanakan harus bertujuan demi kebaikan pasien, dan
meski pun pasien menggunakan haknya untuk menolak, dokter tidak boleh
memaksakan kehendaknya meski pun menurut pandangan dokter keinginan
pasien justru akan membuatnya menjadi lebih buruk.
Pasien HIV/AIDS merupakan kasus yang cukup unik, karena dokter tidak
hanya menangani penyakitnya tapi juga bersentuhan dengan wilayah sosial,
terutama pandangan masyarakat terhadap pasien bila diketahui dia mengidap
HIV/AIDS, sehingga dokter harus sangat berhati-hati dalam memutuskan
apakah dia akan membuka status HIV pasiennya atau tidak.
Pembukaan rahasia medis secara eits dibenarkan bila ada alasan yang
kuat untuk melakukannya. Namun demikian, tidak serta merta semua rahasia
medis pasien boleh dibuka. Kondisi pasien yang tidak menyangkut status HIV
dan AIDS-nya tetap harus dirahasiakan dan tidak dibuka secara sembarangan.

The first step in the evolution of ethics is a sense of solidarity with other
human beings
- Albert Schweitzer -

Bacaan Tambahan
1.

Ethics, Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Ethics, diakses pada 8 April


2015.

2.

Kode Etik Kedokteran Indonesia, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia,


2012.

3.

Medical ethics, http://en.wikipedia.org/wiki/Medical_ethics, diakses pada


13 April 2015.
4.
medical ethics, Medical Dictionary, The Free Dictionary, http://medicaldictionary.thefreedictionary.com/medical+ethics, diakses pada 24 April 2015.
5.
Sumpah
Dokter
Indonesia,
Wikipedia,
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Dokter_Indonesia, diakses pada 24 April 2015.
6.
The
four
principles
of
biomedical
ethics,
http://www.ukcen.net/index.php/ethical_issues/ethical_frameworks/the_four_principles_
of_biomedical_ethics, diakses pada 8 April 2015.
7.
Van
Renssaeler
Potter,
Wikipedia,
http://en.wikipedia.org/wiki/Van_Rensselaer_Potter, diakses pada 9 April 2015.
8.
What
are
the
Basic
Principles
of Medical
Ethics?,
https://web.stanford.edu/class/siw198q/websites/reprotech/New%20Ways%20of
%20Making%20Babies/EthicVoc.htm, diakses pada 14 April 2015.
9.
Beauchamp, T. L. and Childress, J. F., Principles of Biomedical Ethics 7th
ed, Oxford University Press, Oxford, 2012.
10.
Edelstein, L., The Hippocratic Oath: Text, Translation and Interpretation,
1943, p 56.
11.
Farnell, L, R., Greek Hero Cults and Ideas of Immortality: The Gifford
Lecture : Delivered in the University of St. Andrews in the Year 1920, Kessinger
Publishing, Whitefish, Montana, p 269.
12.
Frideres, J., Ludwin, S. K., , Privacy and Confidentiality, Tri-Council Policy
Statement:
Ethical
Conduct
for
Research
Involving
Human,
http://www.pre.ethics.gc.ca/eng/policy-politique/initiatives/tcps2-eptc2/chapter5chapitre5/, diakses pada 1 Februari 2016.
13.
Goldim, J. R., Revisiting the beginning of bioethics: The contributions of
Fritz Jahr (1927), 2009, Perspect Biol Med, Sum, pp 377-380.
14.
Grayling, A. C., Philosophy 1: A Guide through the Subject vol. 1, Oxford
University Press, 1999, p 1.
15.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia nomor
Kep.68/Men/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS Di Tempat
Kerja.
16.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana
17.
Paul, R., Elder, L., The Miniature Guide to Understanding the Foundations of
Ethical Reasoning. Foundation for Critical Thinking Free Press, USA, 2006.
18.
Peraturan Menteri Kesehatan nomor 269/MENKES/PER/III/2008 tentang
Rekam Medis.
19.
Regis
University,
Ethics
at
a
Glance,
http://rhchp.regis.edu/hce/ethicsataglance/, diakses pada 1 Februari 2016.
20.
Rini, I., Muzur, A., Fritz Jahr and the Birth of European Bioethics,
Zagreb, Pergamena, 2012, p 141
21.
Teichmann, J. and Evans, K. C., Philosophy: A Beginner's Guide, Blackwell
Publishing, 1999, p 1.
22.
Undang-undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran.

23.

Undang-undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah


Sakit.