Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MATA KULIAH

ILMU BEDAH KHUSUS VETERINER


TEKNIK OPERASI THORACOCENTESIS

Oleh :
KELOMPOK II
Kelas A
I Gede Putu Alit Anggara Putra

1309005022

Ayu Putu Sri Agustin Swandewi

1309005043

Amelia Yovita Susanto

1309005078

Tessa Saputri Marmanto

1309005082

I Wayan Widya Adigunawan

1309005119

I Wayan Syartama Hadi Nugraha

1309005140

LABORATORIUM BEDAH VETERINER


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2016

RINGKASAN
Thoracocentesis merupakan teknik pengeluaran cairan ataupun udara dari
rongga thorax. Indikasi penyakit seperti pyothorax, pneumothorax, chylothorax,
hidrothorax, bilothorax dll. Operasi menggunakan jarum, spuit dan kateter.
Anastesi menggunakan anastesi lokal atau tidak. Operasi dilakukan dengan
penetrasi jarum operasi dan mengeluarkan cairan pada rongga thorax. Perawatan
pasca operasi tidak diperlukan. Komplikasi umumnya rasa nyeri.
Kata kunci : Thoracocentesis, pyothorax, pneumothorax, chylothorax, bilothorax,
hidrothorax

SUMMARY

Thoracocentesis is a technique to remove fluid or air from teh thorac cavity.


Indication disesae like pyothorax, chylothorax, hidrothorax, bilothorax,dll.
Operation use surgical needle, sput, and catheter. Anesthesia with local anesthasea
or never. Operation perform with penetration the needle fto remove fluid from
thorax cavity. There is no maintenancee after operation. Generally complication jut
for pain.
Keywords : Thoracocentesis, pyothorax, pneumothorax, chylothorax, bilothorax,
hydrothorax

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
berkat

dan

karunianya,

sehingga

tugas

paper

yang

berjudul

THORACOCENTESIS ini dapat diselesaikan tepat waktu.


Makalah ini dibuat dalam rangka menyelesaikan tugas yang akan dijadikan
landasan dalam penilaian pada proses pembelajaran Mata Kuliah Bedah Khusus
Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami
sampaikan kepada dosen pengajar yang telah memberikan banyak bimbingan dan
arahan kepada kami dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan
memberikan dukungan pada kami.
Kami menyadari bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan baik dari segi
materi, ilustrasi, contoh, maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu, saran dan
kritik dari para pembaca yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Besar
harapan kami karya tulis ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca pada umumnya
terutama bagi dunia kedokteran hewan di Indonesia.

Denpasar, 05 November 2016

Penulis

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


RINGKASAN .................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
BAB II TUJUAN DAN MANFAAT TULISAN ............................................. 3
2.1 Tujuan Tulisan .......................................................................................... 3
2.2 Manfaat Tulisan ........................................................................................ 3
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 4
3.1 Anatomy Kucing ...................................................................................... 4
3.2 Pneumothorax ........................................................................................... 5
3.3 Chylothorax .............................................................................................. 5
3.4 Pyothorax ................................................................................................. 6
BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................. 8
4.1 Definisi ..................................................................................................... 8
4.2 Indikasi ..................................................................................................... 8
4.3 Pre-Operasi ............................................................................................... 9
4.4 Operasi...................................................................................................... 11
4.5 Pasca Operasi ........................................................................................... 13
4.6 Komplikasi ............................................................................................... 13
BAB V PENUTUP ............................................................................................. 15
5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 15
5.2 Saran ......................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 16
LAMPIRAN

iv

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Muscular Anatomi kucing ..................................................................... 4
Gambar 2 Pneumothorax......................................................................................... 5
Gambar 3 Chylothorax ............................................................................................ 6
Gambar 4 Pyothorax ............................................................................................... 7
Gambar 5 alat alat ................................................................................................... 9
Gambar 6 Diagnostik Thoracocentesis ................................................................. 11
Gambar 7 Therapeutic Thoracocentesis ................................................................ 12
Gambar 8 Therapeutic Thoracocentesis ................................................................ 13

DAFTAR LAMPIRAN

Chris Wong. 2008. Diagnostic of Thoracocentesis. Sacramento Veterinary Referral


Center. NAVC clinicians brief . june. 2008
King, Lesley., Clarke, Dana. 2010. Emergency care of the patient with acute
respiratory distress. Veterinary Focus. Veterinary Focus / / Vol 20 No 2 / /
2010
Valtolina, C. dan S. Adamantos. 2009. Evaluation of small-bore wire-guided ches
drains for management of pleural space disease. Journal of Small Animal
Practice, 50: 290-297

vi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Thoraks merupakan rongga tubuh yang didalamnya terdapat beberapa
organ vital bagi makhluk hidup. Beberapa organ diantaranya adalah jantung
dan paru-paru, baik jantung maupun paru-paru dilapisi dengan lapisan yang
disebut dengan pleura pada paru-paru dan pericardium pada organ jantung.
Rongga thoraks merupakan cavum dimana pada keadaan normal tidak terdapat
udara maupun cairan pada rongga tersebut. Apabila rongga ini terdapat udara
maupun cairan maka dapat mengganggu fungsi organ pada rongga tersebut.
Terdapat banyak kelainan atau penyakit yang terkait dengan cavum
thoraks diantaranya adalah adanya athelektasis pada rongga pleura,
pneumothorak dan pneumonia. Beberpa penyakit ini dapat mengganggu
aktifitas pada organ thoraks. Athelektasis pada pleura merupakan kelainan
pada pleura dimana pleura melekat pada dinding thorak sehingga dapat
mengganggu proses pernafasan. Penumothiraks meruapakan keadaan diman
rongga thoraks mengalami cedera sehingga terdapat luka yang dapat
memungkinkan terjadinya pemasukan benda asing baik udara maupun benda
lain. Sedangkan Pneumonia adalah kelainan dimana rongga dada terisi cairan
yang disebabkan berbagai hal. Untuk penangananan kelainan ini perlu
dilakukan pengeluaran cairan pada rongga dada yang disebut dengan
thoracentesis.
Thoracosentis merupakan tindakan pengeluran cairan dari rongga
thoraks, biasanya dilakuakn pada kasus pneumonia amupun digunakan untuk
biopsy jaraingan atau diagnose dari sutu penyakit. Pada hewan dapat dilukan
dengan posisi sternal recumbency dengan penusukkan jarum pada stringe pada
rongga thoraks. Proseduk ini cukup mudah dilukan namun perlu diperhatikan
agar tidak menyebabkan cedera pada pembuluh darah dan pemasukan udara
pada rongga thoraks.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun beberapa rumusan masalah yang dapat kami angkat dalam
makalah ini antara lain :
1.2.1 Apa itu Thoracocentesis dan apa saja indikasinya ?
1.2.2 Bagaimana prosedur dari Thoracocentesis ?
1.2.3 Apa saja komplikasi yang dapat terjadi dalam operasi thoracocentesis ?

BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT TULISAN

2.1 Tujuan Tulisan


1. Untuk mengetahui apa itu teknik Thoracocentesis.
2. Untuk mengetahui indikasi penyakit untuk Thoracocentesis.
3. Untuk mengetahui tahap persiapan operasi untuk Thoracocentesis.
4. Untuk mengetahui teknik dan prosedur Thoracocentesis.
5. Untuk

mengetahui

komplikasi

yang

dapat

ditimbulkan

dari

Thoracocentesis.

2.2 Manfaat Tulisan


Penulis berharap akalah yang ditulis dapat memberikan pengetahuan dan
informasi kepada pembaca. Sehingga pembaca disini mahasiswa kedokteran
hewan

dapat

mengetahui

bagaimana

teknik

dan

prosedur

teknik

Thoracocentesis.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Thorac Kucing


Regio thorak merupakan bagian tubuh dari hewan yang pada bagian dorsal
berbatasan dengan median tubuh, pada bagian cranial berbatasan dengan
Apertura Thoracalis Cranialis, bagian caudal berbatasan dengan Archus Costae
terakhir dan diafragma, dan pada bagian ventral berbatasan dengan garis median
tubuh. Titik titik orientasi regio thorac antara lain : Os. Scapula, Os. Costae,
Spatium intercostalis, dan Os. Sternum. Berdasarkan lapisannya dari luar
kedalam, dapat diurut kulit/ fascia, subkutan, otot, tulang, dan organ.
Ada beberapa otot yang menyusun regio thorax pada bagian seperti : M.
Latissimus Dorsi, M. Rectus Thoracis, M. Rectus Abdominis, M.Scalenus
Anterior, M. Scalenus Medius, M. Scalenus Posterior, M. Serratus Ventralis, M.
Subscapularis, M. Teres Major, M. Coracobrachialis, M. Pectoantebrachialis, M.
Pectorals Major, M. Pectobrachialis Minor, M. Xiphihumeralis, M.
Epitrochlearis, M. Intercostalis, dll. Sedangkan tulang yang menyusun seperti :
Os. Costae, Os. Sternum, dan Os. Thoracis. Didalamnya terdapat beberapa
organ antara lain seperti : Jantung, Paru - paru, saluran pernafasan (Trakea),
Saluran Pencernaan (esofagus), dan diafragma.

Gambar 1 Muscular Anatomi kucing

3.2 Pneumothorax
Pneumotoraks adalah akumulasi udara atau gas di dalam rongga pleura.
Akumulasi gas ini pada umumnya bilateral. Hal ini dapat disebabkan oleh
traumatik, dan nontraumatik seperti pneumonia, parasit, neoplasia, ruptur
kavitasi, abses atau bull paru, dll. Hal ini menyebabkkan paru kehilangan
kemampuannya dalam intake udara.
Pada pemeriksaan fisik kucing terlihat mengalami kesulitan bernafas
dengan menggunakan pernafasan perut. Tidak ada murmur atau aritmia pada
saat auscultasi. Pemeriksaan radiologi dapat digunakan sebagai penetapan
dianosa. (Heidi, 2003)

Gambar 2 Pneumothorax

3.3 Chylothorax
Chylothorax adalah penyakit kelemahan yang disebabkan saat terjadi
gangguan pada duktus thoracis yang mengakibatkan chyle tumpah ke rongga
pleural. Pada kucing penyebabnya ialah idiopatik karena predisposisinya
tidak dapat diidentifikasi. (Ameet, 2012)
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan seperti perubahan membran
mukosa menjadi biru. Pada auscultasi mengurangi suara jantung dan paru,
terasa adanya akumulasi cairan pleural. Gejala yang teramati seperti
hypoproteinemia, kelainan elektrolit (hyponatremia dan hypokaemia),

turunnya berat badan, dan immunocompromise. Penegakan diagnosa dapat


dilakukan denga pemeriksaan radiologi.

Gambar 3 Chylothorax

3.4 Pyothorax
Pyothorax didefinisikan sebagai akumulasi material purulen pada ruang
pleura. Infeksi dapat terjadi melalui dinding dada, diafragma, parenkim paru,
esopagus, atau udara. Kasus yang paling sering terjadi ialah karena luka gigitan
kucing lain pada dada, tapi baru baru ini diketahui penyebabb terbesar ialah
penularan infeksi paru paru. Beberapa kasus yang dilaporkan juga terdapat
migrasi menyimpang dari cuterebra, penetrasi benda asing, hematonegnous
atau limfatik difusi dari infeksi kronis, esophagus atau trakea perforasi, abses
paru, parasit paru, discospondylitis, neoplasia dengan abses, dan infeksi
iatrogenik. (Valerie, 2011)

Gambar 4 Pyothorax

Kucing dengan pyothorax sering hadir dengan tanda-tanda umum


malaise seperti kelesuan dan nafsu makan berkurang. Takipnea, batuk, dan
penurunan berat badan dapat dilaporkan dan beberapa hewan akan dyspneic.
Gejala seperti hipersalivasi dan bradikardia telah terkait dengan kondisi yang
buruk. (Valerie, 2011)
Diagnosa dapat dilakukan dengan auskultasi pada daerah thorak. Selain
itu untuk menegakan diagnosa perlu dilakukan uji radiologi atau ultrasonografi
untuk menentukan letak pyothorax. Thoracocentesis dapat dilakukan baik
untuk pengobatan ataupun identifikasi gejala. Pada kasus pyothorax akaan
memiliki eksudatif efusi menampilkan baik jumlah WBC yang tinggi dan total
padatan (> 3,0 g / dL). Uji darah dapat dilakukan untuk mengetahui penyebabb
dari pyothorax ini.

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 DEFINISI
Thoracocentesis adalah teknik digunakan untuk mengeluarkan cairan
atau udara dari rongga pleura dan biasanya digunakan sebagai diagnosa
penyakit. Hal ini digunakan untuk diagnosa ataupun terapi intervnsi. (Christ,
2008)
Merupakan prosedur invasif untuk mengeluarkan cairan atau udara dari
rongga pleura untuk tujuan diagnostik atau terapeutik. Sebuah kanula, atau
jarum, hati-hati diperkenalkan ke dada, umumnya setelah pemberian anestesi
lokal.

4.2 INDIKASI
Thoracocentesis dapat membantu dalam diagnosis seperti berikut
a) Pyothorax
b) Hemotoraks
c) Pneumotoraks
d) Chylothorax
e) Bilothorax (komplikasi yang terjadi akibat trauma atau operasi liver)
f) Malignant effusions
g) Efusi sekunder untuk jantung primer penyakit
h) Tujuan diagnosis (bakteriologis, maupun cytologis)
Prosedur yang dilakukan berbeda tergantung pada apakah pasien
mengalami perubahan baik besar atau kecil pada volume rongga pleura.
Thoracosintesis harus dilakukan secepatnya pada penderita yang sulit bernafas
dengan anggapan bahwa penderita mengalami penyakit rongga pleura.
Diagnosis ini berdasarkan auskultasi dan tes fisik, terdengarnya suara jantung

yang meredam dan suara paru-paru yang tumpul meningkatkan kecurigaan


terhadap penyakit rongga pleura

4.3 PRE-OPERASI
4.3.1 Alat dan Bahan
Untuk mendapatkan sampel diagnostik :
1.

Kucing dan anjing kecil : 19-23-gauge butterfly catheter, 3-way


stopcock, Spuit 3 ml, dan spuit 12-20 ml

2.

Medium atau anjing yang lebih besar : 20-22-gauge 1.5- to 2.5-inch


needle attached to an extension set 3-way stopcock, Spuit 3 ml, dan Spuit
12-20 ml

Untuk melakukan terapi :


1.

Kucing dan anjing kecil : 20 sampai 22-gauge overthe-needle catheter


attached to an extension set, 3-way stopcock, dan Spuit 20-60 ml

2.

Medium atau anjing yang lebih besar : 14 sampai 16-gauge over-theneedle catheter attached to an extension set, 3-way stopcock, dan Spuit
20-60 ml

Untuk pengumpulan sampel


1.

tabung gelas EDTA mengandung

2.

Culturette

3.

kaca steril koleksi tabung

Gambar 5 alat alat

3.3.2 Persiapan Hewan


1. Hewan diposisikan dalam sternal recumbency, yang memungkinkan
cairan untuk diposisikan bagian perut dan udara terperangkap bagian
punggung.
2. Proses pembersihan dengan mencukur rambut di atas situs yang diusulkan
tusukan, menjaga daerah persegi 3-inch sekitar lokasi.
3. Mensterilkan daerah dengan iodophor- atau chlorhexidine antiseptik.
Untuk pneumotoraks, aspirasi antara ruang 7 dan 9 intercostal. Untuk
cairan, aspirasi antara 7 dan 8 interkostal atau 1/3 bagian dorsal dengan
hewan dalam posisi ventral recumbency.
4.3.3 Anastesi
Pertimbangan menggunakan anastesi lokal, pada operasi therapeutic
anastsi mungkin tidak disarankan. Untuk mengurangi gangguan pernafasan.
Anastesi lokal dapat dilakukan pada musculus intercostae. Obat anastesi yang
dapat digunakan sepert lidokain (2-8 mg/kg dosis total infiltratif maksimum,
0.2 ml dari 2% lidocaine lebih efisien digunakan pada kucing, dosis pada
kucing tidak boleh lebih dari 2 mg/kg). Jika hewan tidak bisa dihandel
(berontak) dapat digunakan anastesi umum, tapi sangat tidak efisien.

4.4 OPERASI
4.4.1 Thoracocentesis untuk Diagnosa
1) Salah satu tangan menggengam alat yang akan digunakan sedangkan
tangan yang lain memegang dinding thorak agar tidak terjadi gangguan
saat pasien bergerak secara tiba-tiba dan mengurangi kejadian latrogenic
treuma pada paru-paru.
2) Masukan jarum prependicular ke dalam kulit dan mencari kedalaman
yang tepat seperti saat memasukan anestesi lokal (A).

10

3) Saat posisi jarum sudah tepat, gunakan sedikit tekanan negatif pada spuit
3ml. Setelah cairan didapat, pindahkan arah jarum secara ventral dan
lateral sehingga posisi jarum menjadi paralel dengan dinding thorak.
Cara ini akan mencegah terjadinya laceration pada paru-paru.
Kumpulkan cairan dalam tabung EDTA untuk dianalisis.
4) Setelah sample cairan telah didapat, sambungkan dengan extension on
tubing, 3-way stopcock dan spuit besar (12 sampai 20 ml) untuk
mengumpulkan cairan sebanyak-banyaknya dari thorak (B).
5) Terkadang beberapa jaringan fibrin, jaringan pleura dan blood clots dapat
merusak prosedur. Jika terjadi hal ini, gunakan sedikit tekanan positif
pada spuit untuk membersihkan ujung jarum. Atau dengan cara, gunakan
spuit yang lebih kecil saat prosedur dilaksanakan untuk mengurangi
excessive suction pada ujung akteter. Idealnya, tekanan negatif tidak
diberikan lebih dari 5 cm pada spuit untuk menghindari komplikasi ini.
6) Setelah mendapatkan sample yang tepat, lepaskan jarum dengan posisi
paralel daridinding thorak. Catat total volume yang terkumpul. Dan
lakukan radiograph sebagai akhir prosedur.

Gambar 6 Diagnostik Thoracocentesis

4.4.2 Therapeutic thoracocentesis


1) Pasien yang membutuhkan prosedur ini adalah pasien yang mengalami
dyspneic, saat perkusi dinding thorak terdengar suara yang tumpul
(cairan) atau timpani (udara), respirasi yang cepat dan pendekk, dan
pasien tidak ingin merebahkan diri secara sternal recumbency.
2) Menggunakan radiography pada thorak adalah cara terbaik untuk
mengetahui adanya penyakit pleura yang meluas, tetapi memakan waktu

11

yang banyak. Memulai prosedur dengan memegang jarum dan tangan


yang bebas menyentuh dinding thorak lateral. Ambil kateter, pegang
dekat ujungnya dengan ibu jari dan index finger pada tangan yang tidak
dominan.
3) Biarkan asisten yang menyambungkan extension set dengan 3-way
stopcock dan spuit pada ujung jarum. Masukan jarum/kateter ke dalam
kulit melewati otot intercostae (A). Atur kedalam jarum atau sampai
terasa Pop, menandai sudah memasuki pleura (B).

Gambar 7 Therapeutic Thoracocentesis

4) Gunakan asisten untuk memasangkan tekanan negatif sebanyak 1-4 mm


pada spuit 20-60 ml saat sudah memasuki daerah pleura.
5) Setelah cariran atau udara telah didapatkan, advance jarum 3- 5 mm
memasuki lebih dalam ke daerah pleura lalu langsung ubah posisi jarum
sehingga paralel dengan dinding thorak untuk menghindari laserasi pada
paru- paru.
6) Dorong kateter pada arah yang diinginkan untuk mendapatkan cairan
atau udara (C).
7) Singkirkan jarumnya dan sambungkan kembali dengan extension set of
system pada ujung akhir kateter. Ujung jarum atau kateter dapat
digerakan ke arah dorsal untuk mendapatkan udara dan ke arah ventral
untuk mendapatkan cairan (D).
8) Seperti yang telah dijelaskan pada prosedur diatas. Kumpulkan sample,
keringkan bagian thorak, dan keluarkan katether secara hati-hati. Catat

12

total volume yang teekumpul. Dan radiograph pada thorak sebagai


prosedur setelah thoracosentesis.

Gambar 8 Therapeutic Thoracocentesis

4.5 PASCA-OPERASI
Karena tidak mengunakan incise tidak perlu dilakuakn penjahitan
naumun perlu diperhatikan adanya abses akibat tertusuknya pembuluh darah
pada proseduk ini serta pemberian antibiotic untuk mencegah terjadinya
infeksi.

4.6 KOMPLIKASI
Komplikasi dari thoracentesis umumnya jarang terjadi. Divalidasi
dengan analisis grafik dan meninjau darah thorak dengan radiografi atau
laporan radiologi. Komplikasi subjektif yang dialami oleh pasien 48 jam
setelah thoracocentesis adalah nyeri pada situs thoracocentesis, kecemasan dan
dada umumnya nyeri. Ingat-harus ada sejumlah besar efusi atau udara
mengakibatkan tanda-tanda klinis takipnea (perkiraan kotor sekitar 20 mL / kg
dalam rongga dada).
Masalah peralatan seperti oklusi kateter, kerusakan stopcock, atau jarum
gauge. Masalah teknis diantaranya sebagai berikut:
a) thoracocentesis kering, tidak ada cairan yang diperoleh.
b) thoracocentesis traumatis, cairan berdarah yang bergumpal atau memiliki
hematokrit mirip dengan darah perifer

13

c) cairan yang terkontaminasi darah, cairan pleura terkontaminasi oleh darah


selama penghapusan (cairan serosadiikuti oleh cairan berdarah atau
sebaliknya)
d) insufisiensi cairan, memperoleh jumlah cairan yang tidak mencukupi
untuk tes diagnostik yang direncanakan
e) sisi yang salah, thoracocentesis dilakukan di sisi berlawanan efusi.

14

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Throacocentesis merupakan suatu teknik untuk mengeluarkan cairan
yang bersifat patologis dari rongga thorax umumnya pleura. Thoracocentesis
sendiri digunakan untuk mengobati pasien dengan diagnoa pneumothorax,
hidrothorax, pyothorax, chylothorax, bilothorax dsb.
Persiapan operasi thoracocentesis pada kucing memerlukan beberapa alat
dan bahan, alat alat seperti gauge butterfly catheter, 3-way stopcock, Spuit, dan
spuit. Ukuran disesuaikan dengan tujuan sebagai terapi atau diagnosa.
Persiapan anastesi menggunakan anstesi lokal, untuk terapi usahakan tidak
menggunakan anastesi. Persiapan hewan dibaringkan vetro dorsal. Dalam
melaukakan operasi kita terlebih dahulu harus menentukan tempat kateterisasi.
Setelah itu kateter dimasukan daan disedot. Pasca operasi tidak diberikan
perawatan khusus karena tidak melakukan incisi. Komplikasi umumnya tidak
ada, rasa nyeri dapat terjadi pada daerah thoracocentesis.

5.2 SARAN
Adapun saran yang dapat kami berikan ialah agar penggunaan
thoracocentesis ini dapat ditepakan pada daerah yang tepat. Untuk menghidari
terjadinya luka dalam pada organ, jika terkena organ. Diagnosa radologi ataupu
menggunakan USG pada saat operasi sangat dianjurkan, untuk meminimaliisir
resiko.

15

DAFTAR PUSTAKA

Chris Wong. 2008. Diagnostic of Thoracocentesis. Sacramento Veterinary Referral


Center. NAVC clinicians brief . june. 2008
King, Lesley., Clarke, Dana. 2010. Emergency care of the patient with acute
respiratory distress. Veterinary Focus. Veterinary Focus / / Vol 20 No 2 / /
2010
Sauve Valerie. 2011. Pyothorax in Cats: A Review. Full Circle Forum. Volume 1,
Issue 4
Singh Ameet, Bisson Brigitte, Nykamp Stephanie. 2012. Idiopathic Chylothorax:
Pathophysiology, Diagnosis, and Thoracic duct imaging. Vetstreet. August
2012
Strauss James A. Muscular system.
https://homes.bio.psu.edu/faculty/strauss/anatomy/musc/chestdeep2.htm.
Diakses pada tanggal 04 Nov 2016
Sudisma, IGN. 2006. Ilmu Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Denpasar: UNUD
Press
Tobias, K.M., dan SA. Johnston. 2010. Veterinary Surgery: Small Animal.
Saunders. Canada
Valtolina, C. dan S. Adamantos. 2009. Evaluation of small-bore wire-guided ches
drains for management of pleural space disease. Journal of Small Animal
Practice, 50: 290-297
White Heidi L., etc. 2003. Spontaneous pneumothorax in two cats with small
airway disease. Journal of the American Veterinary Medical Association.
Vol. 222, No. 11, Pages 1573-1575

16