Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Data pengukuran tanah merupakan data yang sangat penting artinya dan dibutuhkan sebagai
salah satu dasar dalam pengambilan keputusan dalam usaha merencanakan,membangun dan
pemeliharaan hasil pembangunan,serta pengembangan pada proyek-proyek teknik sipil, militer,
dan teknik rancang bangun yang berhubugnan dengan permukaan maupun bawah permukaan
tanah, peranan pengukuran tanah sangat penting dan mutlak diperlukan.
Dengan tersedianya data pengukuran dengan ketelitinan yang memadai akan memperoleh
hasi pembangunan sesuai dengan yang diharapkan dan dapat terhindar dari pembiayaan yang
boros. Untuk memperoleh data pengukuran yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan secara
ilmiah membutuhkan tenaga yang trampil, cerdas siap pakai, perlu pengetahuan tentang teori
teori ilmu ukur tanah yang berkualitas dan terpakai.
Melihat pentingnya hal-hal tersebut poltekes kemenkes jurusan kesehatan lingkungan
kepada mahasiwa jurusan kesehatan lingkungan diwajibkan mengambil mata kuliah ilmu ukur
tanah I dan II (dua semester) secara teori dan dipraktekan di lapangan selain mengerti teori
dalam pengukuran mahasiswa juga bisa melaksanakan pekerjaan pengukuran tanah pada proyek
perencanaan pelaksanaan pembangunan bangunan , pemasangan perpipaan ,secara mandiri
setelah meninggalkan bangku kuliah kelak apabila diperlukan.
1.2 MAKSUD
Maksud dari kegiatan praktikum ilmu ukur tanah adalah agar mahasiswa dapat memahami
klasifikasi

peralatan

ukur

tanah

sehingga

dalam

pelaksaan

pengukurannya

dapat

cepat,tepat,akurat dan terp[akai data yang dihasilkan. Sehingga hal-hal yang tidak diperlukan
dapat dihindarkan dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut.

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT


Tujuan dari praktikum ini adalah:
a. Mahasiswa dapat mempraktekan centering pada alat ukur waterpas

b. Mahasiswa dapat mempraktekan metode yang digunakan untuk penentuan beda


c.
d.
e.
f.

tinggi antar dua titik sesuai dengan kondisi di lapangan


Mahasiswa dapat mempraktekan pembacaan benang silang diafragma pada rambu
ukur dengan alat ukur waterpas
Mahasiswa dapat mempraktekan mengukur beda tinggi pada alat ukur waterpas
Mahasiswa dapat mempraktekan pengukuran jarak langsung dan tidak langsung
Mahasiswa dapat mempraktekan cara penulisan data lapangan ke formulir data
ukur waterpas

1.4 RUANG LINGKUP

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ruang lingkup praktikum meliputi beberapa macam metode pengukuran levelling, yaitu :
pengertian kontur tanah
prinsip dan fungsi
Pengukuran tinggi dan luas tanah cara polar
Sipat datar teliti (Reciprocal Levelling)
Sipat datar memanjang sempurna
Sipat datar tertutup / kring (double stand)
Sipat datar profil melintang
Sipat datar luas (system grid)

BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN KONTUR TANAH
Kountur disebut juga garis tinggi.
Garis Kontur adalah tempat kedudukan titik-titik dipermukaan bumi yang mempunyai ketinggian
yang sama.
Interval kontur adalah selisih tinggi antara suatu garis kontur dengan garis kontur didekatnya.
Interval kontur pada aturan katografi adalah sbb :
ik = 1/20000 x skala
Indeks kontur adalah angka dalam garis kontur / yang tertera pada suatu garis kontur.
Misal : Skala peta = 1 : 50000
Interval kontur = 1/20000 x 500000
Interval kontur = 25 m
1. Prinsip dan Fungsi Pengukuran Beda Tinggi
Pengukuran beda tinggi dilakukan dengan menggunakan alat Pesawat Penyipat Datar
(waterpass). Alat didirikan pada suatu titik yang diarahkan pada dua buah rambu yang berdiri
vertical. Maka beda tinggi dapat dicari atau dihitung dengan menggunakan rumus pengurangan
antara bacaan benang tengah rambu muka ( BTA ) dan bacaan benang tengah rambubelakang(BTB).
Rumus beda tinggi antara dua titik :
BT = BTB BTA
Keterangan :
BT = beda tinggi
BTA = bacaan benang tengah rambu Muka
BTB = bacaan benang tengah rambu Belakang
Dalam setiap pengukuran tidaklah lepas dari adanya kesalahan pembacaan angka, sehingga
diperlukan adanya koreksi antara hasil yang didapat di lapangan dengan hasil dari perhitungan.

2.2

FUNGSI DARI PENGUKURAN BEDA TINGGI

a. Merancang jalan raya,Jalan KA dan saluran-saluran.


b. Merencanakan proyek-proyek konsruksi menurut evaluasi terencana.
c. Menghitung volume pekerjaan tanah.
d. Menyelidiki ciri-ciri aliran di suatu wilayah.
e. Mengembangkan peta-peta yang menunjukkan bentuk tanah secara umum.
2.3
SYARAT SYARAT PESAWAT PENYIPAT DATAR
Syarat syarat alat sipat datar adalah :
Pertama : Garis bidik teropong harus sejajar dengan garis arah nivo.
Kedua : Garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu.
Ketiga : Garis mendatar diafragma harus tegak lurus pada sumbu kesatu.

2.4

CARA MENGKALIBRASI PESAWAT PENYIPAT DATAR

a. Bukalah penutup lensa okuler pada teropong pesawat penyipat datar,pada posisi II arahkan
teropong ke rambu P1.
b. Putarlah pengatur koreksi benang tengah dengan tuas yg tersedia di kotak pesawat , sehingga
bacaan rambu P1 berkurang setengah kesalahan ( 2 mm ) sehingga bacaan benang tengah
menjadi 1. 686.
c. Pindahkan pesawat penyipat datar ditengah-tengan antara rambu P1 dan rambu P2 ( posisi
I ),kemudian stel gelembung nivo berada ditengah,siap untuk melakukan pembacaan.
d. Arahkan teropong pesawat ke rambu P1,lakukan pembacaan benang tengah (misal 1.544 ).
e. Putar teropong pesawat dan arahkan ke rambu P2, lalu lakukan pembacaan benang tengah
( misal 1.221 ).
f. Pindahkan pesawat penyipat datar didepan rambu P2 ( posisi II) 5 meter,kemudian stel
gelembung nivo berada ditengah,siap untuk melakukan pembacaan.
g. Arahkan teropong pesawat ke rambu P1,lakukan pembacaan benang tengah (misal 1.665).
h. Putar teropong pesawat dan arahkan ke rambu P2, lalu lakukan pembacaan benang tengah
( misal 1.330).
i. Pindahkan pesawat penyipat datar didepan rambu P2 5 meter,kemudian stel hingga
gelembung nivo berada ditengah,arahkan teropong ke rambu P2 ,kemudian baca benang tengah
(misal 1.441 ),kemudian arahkan teropong ke rambu A,lalu baca benang tengah (misal 1.765 ).
j. Beda tinggi kedua posisi pengukuran tersebut adalah :
Beda tinggi posisi I = 1.655-1.330 = 0.325 dan
Beda tinggi posisi II = 1.765-1.441= 0.324 ada beda sebesar 0.001 atau 1 mm.
4

Kalau pesawat penyipat datar memiliki acurasi 1-2 mm, maka kesalahan ini masih dalam batas
toleransi atau dengan kata lain pesawat sudah laik pakai.
2.5 PENGERTIAN WATERPASS

Waterpass (penyipat datar) adalah suatu alat ukur tanah yang dipergunakan untuk
mengukur beda tinggi antara titik-titik saling berdekatan. Beda tinggi tersebut ditentukan dengan
garis-garis visir (sumbu teropong) horizontal yang ditunjukan ke rambu-rambu ukur yang
vertical.
Sedangkan
pengukuran
yang
menggunakan
alat
ini
disebut
dengan Levelling atauWaterpassing. Pekerjaan ini dilakukan dalam rangka penentuan tiggi suatu
titik yang akan ditentukan ketiggiannya berdasarkan suatu system referensi atau bidang acuan.
Sistem referensi atau acaun yang digunakan adalah tinggi muka air air laut rata-rata
atauMean sea Level (MSL) atau system referensi lain yang dipilih.Sistem referensi ini
mempunyai arti sangat penting, terutama dalam bidang keairan, misalnya: Irigasi, Hidrologi, dan
sebagainya. Namun demikian masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan system
referinsi.
Untuk menentukan ketinggian suatu titik di permukaan bumi tidak selalu tidak selalu
harus selalu mengukur beda tinggi dari muka laut (MSL), namun dapat dilakukan dengan titiktitik tetap yang sudah ada disekitar lokasi oengukuran. Titik-titik tersebut umumnya telah
diketahui ketinggiannya maupun kordinatnya (X,Y,Z) yang disebut Banch Mark (BM). Banch
mark merupakan suatu tanda yang jelas (mudah ditemukan) dan kokoh dipermukaan bumi yang
berbentuk tugu atau patok beton sehingga terlindung dari faktor-faktor pengrusakan.
Manfaat penting lainnya dari pengukuran Levelling ini adalah untuk kepentingan proyekproyek yang berhubungan dengan pekerjaan tanah (Earth Work) misalnya untuk menghitung
volume galian dan timbunan. Untuk itu dikenal adanya pengukuran sipat datar profil memanjang
(Long section) dan sipat datar profil melintang (Cross section).
Dalam melakukan pengukuran sipat datar dikenal adanya tingkat-tingkat ketelitian sesuai
dengan tujuan proyek yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan pada setiap pengukuran akan
selalu terdapat kesalah-kesalahan. Fungsi tingkat-tingkat ketelitan tersebut adalah batas toleransi
kesalahan pengukuran yang diperbolehkakan.Untuk itu perlu diantisipasi kesalah tersebut agar di
dapat suatu hasil pengukuran untuk memenuhi batasan toleransi yang telah ditetapkan.

2.6 GAMBAR WATERPASS

2.7

MACAM-MACAM PENGUKURAN TINGGI

a. Pengukuran tinggi secara langsung dengan menggunakan pita ukur dan nivo sederhana
b. Pengukuran tinggi menggunakan alat barometer (barometer leveling)
Pada dasarnya ada hubungan antara ketinggian suatu tempat dengan tekanan udara di tempat
itu, dimana makin tinggi tempatnya, makin kecil tekanan udaranya. Dengan alat barometer
ini ketinggiaan dapat di uukur altnya disebut dengan altimeter
c. Pengukuran tinggi menggunakan cara trigonometri (trigonometri leveling)
Beda tinggi antara dua tempat dapat di tentukan / dihitung bila data yang diukur dengan alat yang
dilengkapi skala lingkaran sudut vertikal misalnya theodolit dan clinometer.
Dm = (Ba-Bb) x 100
L = Dm x cos
h = Ti Dm Sin Bt
Keteranagan : h = Beda Tinggi antara dua titik
Dm = Jarak miring
L= Jarak Datar
= Pembacaan Sudut vertikal
Ti = Tinggi alat
Ba, Bt, Bb = Bacaan rambu ukur
d. Pengukuran tinggi dengan alat penyipat datar
Pada cara ini didasarkan atas kedudukan garis bidik teropong yang dibuat horizontal
dengan menggunakan gelembung nivo.
Penentuan Beda Tinggi Antar Dua Titik
Penentuan beda tinggi antara dua titik dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu ditinjau
dari kedudukan atau penempatan alat ukur penyipat datar. Tiga cara ini dapat dipergunakan
sesuai dengan kondisi di lapangan dan hasil pengukuran yang ingin diperoleh.
Cara pertama, alat ukur berada di antara kedua titik.
Pada cara ini alat ukur ditempatkan antara titik A dan B, sedangkan masing-masing titik tersebut
ditempatkan rambu ukur yang vertikal. Jarak dari alat ukur terhadap masing-masing rambu
diusahakan berimbang atau sama. Sedangkan letak alat ukur tidaklah harus pada garis lurus
yang menghubungkan titik A dan B. Cara ini merupakan dasar dalam pengukuran sipat datar
memanjang

Gambar 2.6. Pengukuran beda tinggi di antara titik dengan alat penyipat datar
Dengan cara ini aturlah kedudukan alat agar memenuhi syarat melakukan pengukuran, kemudian
arahkan garis ke rambu A sebagai bacaan belakang (b) dan ke rambu B sebagai bacaan muka
(m). Dalam hal ini selalu diingat, bahwa angka pembacaan pada rambu merupakan jarak yang
dibatasi antara alas rambu terhadap garis bidik maka dapat dimengerti bahwa beda tinggi antara
titik A dan B yaitu sebesar t = b m.
.

Cara kedua, alat ukur berada di luar kedua titik


Cara yang kedua ini merupakan cara yang dapat dilakukan bilamana pengukuran beda tinggi
antara kedua titik tidak memungkinkan dilakukan dengan cara yang pertama, disebabkan oleh
kondisi di lapangan atau hasil pengukuran yang hendak dicapai. Pada cara ini alat ukur
ditempatkan disebelah kiri atau kanan pada salah satu titik. Jadi alat tidak berada diantara kedua
titik A dan B melainkan di luar garis A dan B melainkan di luar garis A dan B. Sedangkan
pembacaan kedua rambu sama dengan cara yang pertama, hingga diperoleh beda tinggi antara
kedua titik A dan B. Penentuan tinggi dengan cara ini umum dilakukan pada pengukuran sipat
datar profil.

Gambar 2.7. Pengukuran Beda Tinggi di luar Titik dengan Alat Penyipat Datar
8

Cara ketiga, alat ukur berada di atas salah satu dari kedua titik.
Pada cara ini, alat ukur ditempatkan di atas salah satu titik dari kedua titik yang diukur. Harus
dipahami bahwa, penempatan alat di atas titik terlebih dahulu diketahui titik tersebut, sehingga
kedudukan sumbu ke satu alat ukur segaris dengan titik tengah patok (Center). Dalam hal ini
untuk menempatkan alat tepat di atas patok menggunakan alat tambahan yaitu untingunting.Penggunaan cara yang ketiga ini umum dilakukan pada penyipat datar luas dan Stake out.

Gambar 2.8. Pengukuran Beda Tinggi di atas Titik dengan Alat Penyipat Datar
Seperti terlihat pada Gambar 2.8 tinggi a adalah Tinggi Garis Bidik yang diukur dengan rambu
dari atas patok B terhadap titik tengah teropong. Untuk memperoleh beda tinggi antara titik A
dan B maka, arahkan teropong ke rambu lainnya yaitu rambu A dengan angka bacaan rambu
sebesar b. Dengan demikian, beda tinggi titik A terhadap titik B adalah t = b a.
Dari ketiga cara pengukuran beda tinggi di antara dua titik tersebut, sesuai dengan
urutannya cara yang pertama merupakan cara yang paling teliti. Hal ini disebabkan alat berada
diantara kedua rambu sehingga dapat saling memperkecil kesalahan yang disebabkan oleh tidak
sejajarnya garis bidik dan garis nivo pada saat pengaturan kedudukan alat.
Cara kedua dan cara ketiga sering kali dipahami sebagai cara Tinggi Garis Bidik dan
selanjutnya disingkat TGB. Dengan TGB sebagai garis acuan, maka dengan cepat dapat
ditentukan ketinggian atau elevasi titik-titik di lapangan. Bila dicermati lebih mendalam cara
kedua lebih teliti dibandingkan dengan cara ketiga, karena kasarnya prediksi terhadap titik
tengah teropong menggunakan rambu.
Yang harus dipahami pada pengukuran beda tinggi antara dua titik ini ialah, beda tinggi
selalu diperoleh dari bacaan rambu belakan dan bacaan rambu muka.Ditentukannya nama
belakang dan muka pada rambu terkait dengan nama patok serta arah jalur pengukuran yang
9

direncanakan. Bila t bernilai positif (+), maka titik muka lebih tinggidari pada titik belakang,
sedangkan sebaliknya bila t bernilai negatif (-), maka titik muka lebih rendah dari pada titik
belakang.
Pengukuran Sipat Datar Profil
Dengan data ukuran jarak dan perbedaan tinggi titik-titik diatas permukaan tanah dapat
ditentukan
irisan
tegak
dilapangan
yang
dinamakan profil atau
biasa
pula
disebutpenampang. Pada pekerjaan-pekerjaan rekayasa seperti perencanaan jalan raya, jalan
kereta api, saluran irigasi, lapangan udara dll, sangat dibutuhkan bentuk profil atau tampang pada
arah tertentu untuk perencanaan kemiringan sumbu proyek, maupun hitungan volume galian atau
timbunan tanah dan lain-lain.
Pengukuran profil umumnya dibedakan atas profil memanjang searah dengan sumbu proyek dan
profil melintang dengan arah memotong tegak lurus sumbu proyek pada interval jarak yang
tertentu. (Basuki, S. 2006)
Prinsip pengukuran profil dilapangan adalah menggunakan cara TGB untuk mengukur
ketinggian titik-titik pada jalur pengukuran dilapangan.

Profil Melintang
Pelaksanaan pengukuran sipat datar profil melintang dilakukan setelah pengukuran sipat datar
profil memanjang, jarak antar potongan melintang dibuat sama, sedangkan pengukuran kearah
samping kiri dan kanan as jalur memanjang lebarnya dapat ditentukan sesuai perencanaan
dengan pita ukur misalnya pada jalan raya, potongan melintang dibuat dari tepi yang satu ke tepi
yang lain. Arah potongan melintang tegak lurus dengan as, kecuali pada titik tikungan (contoh
pada titik B) maka potongan diusahakan membagi sudut terseut sama besar atau bila perlu
dibuatkan 2 buah potongan melintang yang masing-masing tegak lurus pada arah datang dan
arah belokan selanjutnya.

Gambar 2.4 Arah Potongan Melintang

10

Cara Pengukuran :
Alat di Atas Titik

1. Tempatkan alat di atas titik A.


2. Lakukan centering.
3. Gelembung nivo ketengahkan dengan 3 skrup klap.
4. Ukur tinggi alat diatas patok.
5. Bidik rambu diatas titik 1. Baca BA, BT dan BB.
6. Hitung jarak optis dari alat ke rambu 1, d =(BA-BB).100
7. Lakukan hal yang sama (v,vi,vii) pada titik-titik 2, 3, 4 dan seterusnya sebagai titik-titik relief.
8. Demikian juga point 1 s/d 8 dilakukan pada setiap potongan melintang.

11

BAB III
PEMBAHASAN
1.1 Lokasi

: Kampus poltekkes kemenkes jambi jurusan kesehatan lingkungan , Jl. H


Agus Salim no. 8 kota baru jambi, ruang tingkat 1

1.2 Waktu

: 9 Oktober 2015

1.3 Alat

:
1. Waterpass
2. Rambu
3. Meteran

1.4 Bahan

:
1. Cat (untuk menandai titik)
2. Jalan

1.5 Prosedur :
1. Mencari lokasi yang akan dijadikan lokasi pengukuran,dan tentukan waktunya.
2. Kemudian setelah selesai mulai melakukan pengukuran dengan menyiapkan
bahan dan alat.
3. Mengukur jarak dari titik satu sampai titik kesepuluh lalu tandai dengan cat.
4. Letakkan rambu ukur dititik A (belakang ) dan B (muka/depan).
5. Letakkan pesawat diantara titik A dan B (usahakan jarak sama dan ditandai).
6. Baca rambu A , yaitu membaca BA (benang atas), BB(benang bawah),
BT( benang tengah) lalu setelah diketahui koreksi kembali dengan rumus
BT=(BA+BB) / BTx2= (BA+BB).
7. Baca rambu B ,yaitu membaca BA (benang atas), BB(benang bawah), BT( benang
tengah) lalu setelah diketahui koreksi kembali dengan rumus BT=(BA+BB) /
BTx2= (BA+BB).
8. Kemudian hitung jarak pesawat dengan titik A dengan menggunakan rumus
J(jarak)= (BA-BB)x100.
9. Kemudian hitung jarak pesawat dengan titik B dengan menggunakan rumus
J(jarak)= (BA-BB)x100.
10. Kemudian hitung jarak deban dan belakang dengan rumus AB=JA+JB.
11. Pada selang berikutnya ,rambu A menjadi bacaan muka dan sebaliknya, B
menjadi bacaan belakang dan seterusnya sampai 10 titik.
12. Yang perlu diperhatikan dalam pengukuran yakni jarak pesawat dengan titik harus
sama.
13. Membacanya rambu belakang lalu rambu muka.
14. Jarak 25 m atau maksimal 75 m.
BAB IV
12

HASIL KEGIATAN
4.1

HASIL

A. BUKA 1
B.
BT
: 1,510
C.
BA
: 1,560
D.
BB
:1,460
E.
BA+BB = 1,560 + 1,460
F.
= 3,020
G.

H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.

BT x 2 = 1,510 x 2
= 3,020
Jarak = BA-BB x 100
=1,560-1,460 x 100
=10,0 meter

O. Sudut 250

W. BT x 2 = 1,640 x 2

P. Buka 2

X.

Q. BT : 1,640

Y.

R. BA : 1,720

Z. Jarak

S. BB : 1,560

= BA-

BB x 100

T. BA+BB = 1,720 +
1,560
U.

= 3,280

AA.
=1,720-1,560 x 100

=3,280

V.

AB.

= 16,0

meter

AC.
AD.

Muka

AK.

Belakang 1
AE.

BT

2,000
: 1,000

AF.BA :1,050

AL.

Jarak= BA-BB

x 100

AG.

BB

AH.

BA+BB =

: 0,950

1,050+0,950
AI.

= 2,000

AM.

1,050-0,950 x100
AN.

= 10,0

meter

AJ. BT x 2 = 1,000 x 2
AO.
AP.

AS.

AQ.

AT.

AR.

AU.
13

AV.

BF.

AW.

BG.

AX.

BH.

AY.

= 1,560
BT x 2 =

0,780 x 2

AZ.

Sudut 300

BI.

BA.

Muka

BJ.

Belakang 2

BK.

BB.

BT

: 0,780

BC.

BA

: 0,860

BD.

BB

: 0,700

BE.

BA+ BB =

0,860+0,700

= 1,560
Jarak = BA-

BB x 100
BL.

0,860-0,700 x 100
BM.

= 16,0

meter

BN.
BO.
BP.
BQ.
BR.
BS.
BT.

Buka 1
BT
: 1,400
BA
: 1,450
BB
: 1,350
BA+BB = 1,450 + 1,350
= 2,800

BU. BT x 2 = 1,400x 2
BV.
= 2,800
BW.
BX. Jarak =BA-BB x 100
BY.
= 1,450-1,350 x 100
BZ.
=10,0 meter

CA.
CB.
CC.
CD.
CE.
CF.
CG.
CH.
CI.

Sudut 500
Buka 2
BT
: 1,190
BA
: 1,290
BB
: 1,090
BA+BB=1,290+1,090
= 2,380

CJ. BT x 2= 1,190 x 2
CK.
= 2,380
CL.
CM. Jarak = BA-BB x 100
CN.
= 1,290-1,090 x 100
CO.
=20,0 meter

Muka Belakang 1
BT
: 0,700
BA
: 0,750
BB
: 0,650
BA+BB= 0,750+0.650
= 1,400

CW. BT x 2 = 0,700 x 2
CX.
= 1,400
CY.
CZ. Jarak =BA-BB x 100
DA.
=0,750-0,650 x 100
DB.
= 10,0 meter

CP.
CQ.
CR.
CS.
CT.
CU.
CV.

DC.
14

DD. Sudut 270


DE. Muka Belakang 2
DF.
DG.
DH.
DI.
DJ.

BT
: 0,380
BA
: 0,460
BB
: 0,300
BA+BB=0,460 +0,300
= 0,760

DK. BT x 2 = 0,380 x 2
DL.
= 0,760
DM. Jarak =BA-BB x 100
DN.
= 0,460-0,300 x 100
DO.
= 16,0 meter

DP.
DW.
DX. BT x 2 = 0,340 x 2
DY.
= 0,680
DZ. Jarak =BA-BB x 100
EA.
=1,120-1,020 x 100
EB.
=10, 0 meter

DQ. C,Buka 1
DR.
DS.
DT.
DU.
DV.

BT
: 1,070
BA
:1,120
BB
: 1,020
BA+BB= 1,120 + 1,020
= 2,140

EC.
ED.
EE.
EF.
EG.
EH.
EI.
EJ.
EK.
EL.
EM.

Sudut 310
Buka 2
BT
: 0,340
BA
: 0,440
BB
: 0,240
BA+BB=0,440+0,240
=0,680

EN.

Jarak = BA-

BB x 10
EO.

0,440-0,240 x 100
EP.

= 20,0 meter

EQ.

BT x 2 = 0,340 x 2
= 0,680
ER.
ES.Muka Belakang 1

EY.BT x 2 = 1,460 x 2

ET.BT : 1,460

EZ.

EU.

BA

: 1,510

FA.Jarak

EV.BB : 1,410
EW.

: BA-

BB x 100

BA+BB=

FB.

1,510+1,410
EX.

= 2,920

=1,510-1,410
x 100

FC.

= 10,0 meter

2,920
FD.
FE.
FF.Sudut 200
15

FG.

Muka

FN.

Belakang 2
FH.

BT

x2
: 1,670

FO.

FI. BA : 1,760

FP. Jarak = BA-BB x

BA+BB=

1,760 + 1,580
FL.

3,340

FJ. BB : 1,580
FK.

BT x 2= 1,670

100
FQ.

= 3,340

1,760-1,580 x 100

FM.

FR.

= 18,0 meter

FS.

FT.

D.Buka 1

FU.

BT

: 1,420

FV.BA : 1,470
FW.

BB

: 1,370

FX.

BA+BB=

1,420 x 2
GA.

=2,840

GB.

Jarak = BA-

BB x 100
GC.

1,470+ 1,370
FY.

FZ.BT x 2

1,470-1,370 x 100

= 2,840

GD.

=10,0

meter
GE.
GF.

Sudut 130

GG.

Buka 2

GH.

BT

GM.

1,550 x 2

: 1,550

GN.

GI. BA : 1,650

GO.

GJ. BB : 1,450

GP.Jarak

GK.

BA+BB =

1,650+1,450
GL.
3,100

BT x 2 =
=3,100
= BA-

BB x 100
GQ.

=1,650-1,450 x 100
GR.

= 20,0

meter
GS.
16

GT.
GU.

Muka

HA.

Belakang 1

1,120 x 2

GV.

BT

: 1,120

GW.

BA

: 1,170

GX.

BB

: 1,070

GY.

BA+BB =

HB.

2,240
HC.

Jarak = BA-

BB x 100

1,170+1,070
GZ.

BT x 2 =

HD.
=

=1,170-1,070 x 100

2,240

HE.

= 10,0

meter
HF.
HG.

Sudut 350

HH.

Muka

HO.
2,560

Belakang 2

HP.Jarak = BA-BB x

HI. BT : 1,280

100

HJ. BA : 1,380

HQ.

HK.

BB

HL.

BA+BB =

: 1,180

1,380-1,180 x 100
HR.

1,380+1,180

= 20,0

meter

HM.

HS.

=2,560
HN.

HT.

BTx 2 =

1,280 x 2

17

HU.
HV.
HW.
HY.
B

HZ.
B

IA.
B

IB.

IC.
1

ID.
1

IE.
1

IF.

IG.
1

IH.
1

II.
1

IJ.

IK.
1

IL.
1

IM.
0

IN.

IO.
0

IP.
0

IQ.
0

IS.

IT.
1

IU.
1

IV.
1

IW.

IX.
1

IY.
1

IZ.
1

JA.

JB.
0

JC.
0

JD.
0

JE.

JF.
0

JG.
0

JH.
0

IR.

JI.
JJ.

JK.
1

JL.
1

JM.
1

JN.

JO.
0

JP.
0

JQ.
0

JR.

JS.
1

JT.
1

JU.
1

JV.

JW.
1

JX.
1

JY.
1

JZ.

KA.

KB.
1

KC.
1

KD.
1

KE.

KF.
1

KG.
1

KH.
1

KI.

KJ.
1

KK.
1

KL.
1

KM.

KN.
1

KO.
1

KP.
1

KU.

KQ.
KR.
KS.
KT.
KV.

KW.

KX.

LA.
Tin

LB.
LD.
LK.
LR.
LY.
MF.
MM.

LE.

LF.

LL.

LM.

LS.

LT.

LZ.

MA.

MG.

MH.
MN.
5,4 4
,
4
4
MO.

LC.
10
LG.

LJ.
10

LH.

LN.

LQ.
10

LU.

LW.

LX.
10

MD.

ME.
10

MB.

MI.
MP.

MC.
MJ.

MK.
MQ.
1
MR.

ML.
10
MS.

,
9
6

MT.

MU.

MV.

NA.
TI

MW.
MX.
SUDUT

NB.

ND.
NL.
NT.
OB.
OJ.
OR.
OZ.
PH.
PP.
PX.

NC.
10

NE.

NF.

NM.

NN.

NU.

NV.

OC.

OD.

OK.

OL.

OS.

OT.

PA.

PB.

PI.
PQ.

PJ.

NG.
NO.
NW.
OE.
OM.

OU.
PC.
PK.

PR.
PY.
9,6
PZ.

QA.

NK.
99

NI.

QB.

NR.

NS.
10

NZ.

OA.
10

OH.

OI.
10

OP.

OQ.
10

OW.

OY.
10

PE.

PG.
10

PM.

PO.
10

PU.

PV.

PW.
10

QC.
1

QE.
0

QD.

QF.
QG.
QH.
QI.
QJ.
QK.
QL.
QM.
QN.
QO.
QP.
QQ.
QR.
QS.
QT.
QU.
QV.
QW.
QX.
QY.
QZ.
RA.
RB.
RC.
RD.
RE.
RF. BAB V
RG. PENUTUP
RH.
RI.

5.1

KESIMPULAN

RJ.
RK.

Untuk mengetahui tinggi rendahnya permukaan tanah pada suatu poligon yang

diukur dari permukaan laut. Pembuatan profil-profil sangat diperlukan dalam pekerjaan Teknik
Sipil. Semua proyek sipil yang vital diperlukan data yang akurat untuk mengetahui keadaan
tanah dari lokasi-lokasi tersebut, oleh karena itu perlu didakan pengukuran keadaan tanah untuk
mengetahui dan mendapatkan data-data tersebut digunakan sebagai Instrumen untuk keadaan

lapangan. Instrumen terlebih dahulu harus diperikasa kelengkapannya sehingga data yang
diperoleh tidak menimpang.
RL.
Dengan mempelajari dan melakukan peraktek pengukuran tanah (surveying), kita
dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang tersebut. Pengukuran tanah merupakan
hal yang penting dalam menentukan posisi tanah, pada pengukuran tentunya banyak masalah
baru yang harus dipelajari dan juga diperhatikan, kesalahan-kesalahan dalam pengukuran jarak
adalah cara dasar yang paling banyak dilakukan dlam pengukuran yang pada dasarnya
menitikberatkan pada pengukuran panjang dan alat-alat yang digunakan menurut ketelitian
dalam menggunakannya sehingga memberi hasil yang pasti dan jelas, karena pengukuran yang
baik adalah pengukuran yang nilai kesalahannya kecil.
RM.
Setelah melakukan praktek, mahasiswa dapat mengenal alat-alat yang digunakan
dalam ilmu ukur tanah dan sudah dapat mempergunakan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya
masing-masing dan dapat :
RN.

1. Membuat garis lurus di lapangan

RO.

2. Mengukur beda tinggi

RP.

3. Pengukuran titik-titik poligon

RQ.

4. Pengukuran titik profil

RR.

5. Pengukuran site plant


RS.Harapan kami dengan adanya praktikum pengukuran tanah ini para
mahasiswa

untuk

dapat

mempergunakan

alat-alat

pada

waktu

mempraktekkannya dilapangan sesuai dengan kondisi dan situasi


lapangan.
RT.
RU.

5.2

Saran
RV.1.

Kami harap kepada dosen pembimbing I dan II agar tidak

meninggalkan mahasiswa sewaktu pelaksanaan praktek.


RW.

2.

Memberi pengarahan dan petunjuk-petunjuk yang mendetail

agar mahasiswa tidak kebingungan dalam menjalankan praktek.


RX.

3. Menyediakan buku paduan (jub sheet) bagi setiap mahasiswa

agar mempunyai pedoman dalam menjalankan praktek.


RY.

RZ.

SA.
SB.