Anda di halaman 1dari 3

Demo Besar-besarn 4 November dalam Presfektif Sejarah

Oleh: Asep Hendiana


( Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam)
Belum selesainya masalah tentang penistaan Agama oleh
Gubernur DKI Jakarta (Ahok), membuat geram sebagian massa,
mereka menuntut keadilan pemerintahan dalam menyelesaikan
kasus ini. Mereka merasa bahwa pemerintah tidak serius dan
tidak

tegas

untuk

menegakan

hukum

konstitusi.

Bahkan

Presidenpun dianggap diam dalam masalah ini, dan juga isu-isu


yang menyebar di masyarakat sangat beragam salah satunya
adalah isu agama penistaan agama yang membuat umat islam
menjadi semakin memanas. Permasalahan ini menjadi sorotan
media masa seakan-akan indonesia hanyalah tertuju kepada
Jakarta semata.
Masalah penistaan islam ini di tantang keras oleh Habib
Riziq dan anggota FPI karena sebelumnya Habib Riziq memang
berusaha menentang Ahok untuk turun dari jabatan, karena
islam tidak boleh di pimpin oleh orang non islam, namun usaha
ini selalu gagal karena mendapatkan pertentangan. untuk itu
masalah ini menjadi angin segar untuk bisa menurunkan Ahok
dari jabatan kepeminpimanya, dengan situasi seperti ini Habib
Riziq

segera

pemerintahan

meminta

tidak

cepat

ahok
dalam

diadili,

tapi

meyelesaikan

sayangnya
kasus

ini,

akhirnya habib riziq mencetuskan resolusi konstitusi untuk


mengdakan demo besar-besaran di Jakarta pada tanggal 4
November 2016 atas tuntutan bahwa Ahok telah menghina Alquran dan para Ulama atas dasar itu maka ahok harus
dipenjarakan,

Dengan di cetuskanya resolusi jihad ini mempunyai tiga


respon yang berbeda dalam masyarakat, sebagian masyarakat
ada yang meresponya dengan baik dan setuju untuk melakukan
domo besar-besaran. Dan juga sebagian ada yang lebih baik
diam tidak ikut-ikutan dalam tersebut , kebanyakn yang diam ini
adalah dikalangan mahasiswa. Dan juga ada yang meresponya
dengan pandangan buruk kepada umat islam terutama kepada
organisasi islam NU, karena sebagai ormas terbesar di indonesa
Yang di anggap sebagai propokator dalam masalah ini.
Persoalan ini tak luput dari tanggapan para ulama indonesa
baik dikalangan NU, Muhamadiyah dan Persis dan Ormas lainya,
ketua

yayasan

pesantren.

KH

lembaga
Adib

pendidikan

Rofiuddin,

islam

mengajak

(YLPI)

Buntet

seluruh

elemen

masyarakat, terutama alumni Buntet pesantren yang ada di


jakarta dan sekitarnya
Kalo kita melihat permasalahan ini dari presfektif sejarah,
untuk bisa manalar yang akan terjadi di 4 November nanti, maka
kita

harus

mellihat

kebelekang

sebelumnya

jauh

sesudah

datangnya 4 November , telah banyak kejadian-kejadian, demo


besar-besaran tapi setelah itu, apa yang kita lihat? Semuanya
biasa-biasa saja, seperti ombak yang naik kemudian turun dan
datar semuanya akan kembali kepada semula. Disin kita bisa
melihat bahwa nanti yang akan terjadi ya pasti biasa-biasa saja,
hanya sekedar mengumpulkan masa untuk bersorak-sorak dan
setelah itu akan bubar.
Dalam masalah pengamanan untuk membendung para
demonstran, persidan ir jokowi memanggil para jendral militer
untuk mengamankan para demonstran, dan

tidak melakukan

tindakan apapun tanpa perintah dari president. Dalam menyikapi

hal seperti ini bisa kemungkinan ada dua hal yang mungkin
dilakukan oleh president Jokowi, yang pertama mendiamkan para
demonstran dan membiarkannya, dan bisa saja president jokowi
memasukan orang dan membuat kerusuhan, sehingga bisa
mematahkan Habib Riziq.