Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelahiran adalah saat yang indah, menakjubkan dan sangat spesial bagi semua yang
terlibat. Moment tersebut merupakan saat akrab dan emosional bagi ibu dan ayah, ketika
bayi mereka mulai menanggis dan melakukan kontak mata pertama dengan mereka.
Namun, kelahiran mungkin pula merupakan kejadian paling berbahaya yang pernah kita
alami dalam kehidupan.tubuh kita harus mengalami penyusuaian fisiologis yang radikal
segera setelah lahir , yang tidak akan pernah terulang lagi. Hal yang luar biasa adalah lebih
dari 90 % bayi menggalami transisi dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin dengan
sempurna, hanya dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan, dan sangat penting bahwa kita
sama sekali jangan menggangu moment kedekatan dan kenangan bagi 90% keluarga yang
menghadapi persalinan lancar tanpa komplikasi.
Masalah kesehatan ibu dan bayi terutama pada masa perinatal merupakan masalah nasional
yang perlu mendapat prioritas utama, karena sangat menentukan kualitas sumber daya manusia
pada generasi mendatang. 1 angka kematian perinatal pada tahun 1984 adalah 45 /1000 kelahiran ,
1994 adalah 36/1000 kelahiran sedangkan di rumah sakit besar dan rujukan dapat lebih tinggi
lagi .Penyebab utama kematian adalah aspiksia, komplikasi BBLR, tetanus neonatorum, dan
trauma kelahiran terutama di negara berkembang .Dengan pemeriksaan prenatal care yang baik
,hanya lebih kurang 5% bayi baru lahir memerlukan pertolongan resusitasi dan diantaranya
memerlukan intubasi.
Angka kematian perinatal di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 40 per 1000 kelahiran
hidup. Banyak faktor yang mempengaruhi angka tersebut, antara lain penyakit dan perkembangan
kesehatan ibu dan janin serta semua hal yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan baik langsung
maupun tidak langsung.Pemeriksaan antenatal memegang peranan yang amat penting untuk dapat
mengenal faktor risiko secepatnya sehingga dapat dihindari kematian atau penyakit yang tidak
perlu terjadi. Semua kendala di atas perlu ditangani melalui konsep pelayanan yang jelas sehingga
masyarakat dapat berperan aktif dalam usaha menurunkan kematian perinatal dan meningkatkan
mutu generasi yang akan datang.
Resusitasi diperlukan oleh neonatus yang dalam beberapa menit pertama kehidupannya tidak
dapat mengadakan ventilasi efektif dan perfusi adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi dan
eliminasi karbondioksida, atau bila sistem kardiovaskular tidak cukup dapat memberi perfusi
secara efektif kepada susunan saraf pusat, jantung dan organ vital lain. (Gregory, 1975)
Deteksi dini faktor resiko dan kelainan yang ditemukan pada bayi baru lahir bahkan janin
,sangat membantu agar tidak terjadi kerugian dikemudian hari. Antisipasi penangganan dini bayi
aspeksia dapat menghindarkan bayi tersebut dari kecacatan dan dampak yang merugikan.
Resusitasi yang memadai dapat mengurangi akibat yang merugikan pada BBL yang menderita
kegawatan napas, karena dampak jangka panjang aspeksia neonatorum ataupun hipoksia akibat
gawat napas tergantung selain lamanya terjadi aspeksia atau beratnya hipoksia ,lokalisasi
kerusakan gangguan metabolisme juga tergantung kecepatan penangganan .Yang paling penting
adalah mencegah terjadinya aspeksia dengan perinatal care yang baik .Sedangkan apabila sudah
terjadi aspeksia atau kegawatan napas yang lain .semakin cepat ,tepat dan akurat penangganan
,semakin baik . Oleh karena itu ,kita perlu mengetahui dan mempelajari cara-cara resusitasi yang
benar,untuk menolong bayi baru lahir dengan kegawatan napas.

Sebagian besar bayi baru lahir tidak memerlukan bantuan apapun agar dapat bernapas dengan
efektif setelah dilahirkan, dan apabila mereka memerlukannya, sebagian besar hanya
membutuhkan bantuan minimal. Beberapa memerlukan intubasi dan ventilasi sementara kebutuhan
untuk menggunakan obat dan kompresi dada jarang diperlukan. Kurang lebih 10% dari semua
neonatus memerlukan bantuan pada waktu dilahirkan, hanya 1% yang memerlukan resusitasi
lanjut. Diperkirakan asfiksia perinatal merupakan penyebab seperlima semua kematian neonatal di
seluruh dunia; tindakan resusitasi sederhana dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas yang
disebabkan asfiksia perinatal.
Terdapat beberapa faktor resiko antepartum dan intrapartum in utero, seperti hipertensi yang
disebabkan kehamilan (PIH), gangguan pertumbuhan intra uterin (IUGR), prematuritas,
perdarahan antepartum (APH), ruptur membran prematur (PROM), dan sumbatan mekonium
sehingga bayi memerlukan resusitasi. Pada benyak peristiwa, asfiksia terjadi tanpa diduga, jadi
penting untuk memiliki personel yang cukup terlatih dalam hal resusitasi neonatal dengan piranti
yang memadai pada waktu persalinan sedang berlangsung. Bayi lahir namun kesulitan bernapas
dan berat lahir rendah merupakan salah satu faktor penyebab AKB di Indonesia. bayi lahir
kesulitan bernapas menjadi penyebab utama kematian (AKB), namun saat ini telah menjadi urutan
kedua. Urutan pertama kini berat lahir bayi rendah, karena gizi ibu yang berkurang saat
mengandung,
Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai upaya
untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Resusitasi pada anak yang mengalami
gawat nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh perawat yang kompeten.
Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan
penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan yang unik pada situasi kritis dan mampu
menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997).
Angka Kematian Bayi (AKB) bisa ditekan melalui pembekalan dan pelatihan resusitasi
neonatus kepada paramedis di tanah air. AKB di Indonesia akan terus menurun dengan adanya
pembekalan melalui pelatihan resusitas neonatus . pembekalan resusitasi neonatus bagi paramedis
itu bertujuan untuk mencegah terjadinya kegagalan saat membantu proses persalinan, baik di
rumah sakit maupun klinik kebidanan. Data yang dikutip dari Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) menyebutkan AKB di Indonesia saat ini masih pada posisi 31/1.000 kelahiran
pada 2009. Tercatat sekitar 7.116 paramedis hingga saat ini telah memperoleh pelatihan dan
pembekalan resusitasi bayi gawat nafas secara nasional. Paramedis itu antara lain terdiri dari
dokter spesialis anak, anestesi, umum dan kebidanan. Dalam kasus persalinan, kesulitan bernapas
saat bayi lahir juga berdampak pada gagalnya proses persalinan, misalnya terkait dengan
perjalanan yang jauh dari praktik kebidanan ke rumah sakit. Oleh karena itu, AKB akibat faktor
kesulitan bernapas itu mencapai sekitar 24 persen.

B. Tujuan
1. Demonstrasi menyiapkan resusitasi BBL
2. Menilai dan memutuskan resusitasi BBL
3. Demonstrasi resusitasi BBL pada model
4. Menjelaskan asuhan bayi pasca resusitasi
5. Menjelaskan asuhan bayi pasca lahir
6. Menjelaskan langkah pencegahan infeksi pada resusitasi BBL
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan oksigen ke otak, jantung dan organorgan vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan jantung dan
menjamin ventilasi yang adekwat (Rilantono, 1999). Tindakan ini merupakan tindakan
kritis yang dilakukan pada saat terjadi kegawatdaruratan terutama pada sistem pernafasan
dan sistem kardiovaskuler. kegawatdaruratan pada kedua sistem tubuh ini dapat
menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat (sekitar 4 6 menit).
Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan segera sebagai
upaya untuk menyelamatkan hidup (Hudak dan Gallo, 1997). Resusitasi pada anak yang
mengalami gawat nafas merupakan tindakan kritis yang harus dilakukan oleh perawat
yang kompeten. Perawat harus dapat membuat keputusan yang tepat pada saat kritis.
Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan keterampilan keperawatan
yang unik pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk memenuhi kebutuhan
pasien kritis (Hudak dan Gallo, 1997)
Resusitasi ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang
adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2002).Resusitasi adalah pernafasan dengan menerapkan masase jantung dan
pernafasan buatan.(Kamus Kedokteran, Edisi 2000).
Resusitasi adalah tindakan untuk menghidupkan kembali atau memulihkan kembali
kesadaran seseorang yang tampaknya mati sebagai akibat berhentinya fungsi jantung dan
paru, yang berorientasi pada otak (Tjokronegoro, 1998).
B. Tujuan Resusitasi
1. Memberikan ventilasi adekuat
2. Membatasi kerusakan serebri
3. Pemberian oksigen dan curah jantung yang cukupuntuk menyalurkan oksigen kepada
otak, jantung dan alat-alat vital lainnya.
4. Untuk memulai dan mempertahankan kehidupan ekstra uteri.
C. Klasifikasi
1. Pernafasan
Apabila penilaian pernafasan menunjukkan bahwa bayi tidak bernafas atau bahwa
pernafasan tidak adekuat. Lihat gerakan dada naik turun, frekuensi dan dalamnya
pernafasan selama 1 menit. Nafas tersengal-sengal berarti nafas tidak efektif dan
perlu tindakan, misalnya apneu. Jika pernafasan telah efektif yaitu pada bayi normal
biasanya 30 50 x/menit dan menangis, kita melangkah ke penilaian selanjutnya.
2. Denyut jantung frekuensi
Apabila penilaian denyut jantung menunjukkan bahwa denyut jantung bayi tidak
teratur. Frekuensi denyut jantung harus > 100 per menit. Cara yang termudah dan
cepat adalah dengan menggunakan stetoskop atau meraba denyut tali pusat. Meraba
arteria mempunyai keuntungan karena dapat memantau frekuensi denyut jantung
secara terus menerus, dihitung selama 6 detik (hasilnya dikalikan 10 =frekuensi
denyut jantung selama 1 menit) Hasil penilaian:
a) Apabila frekuensi>100x / menit dan bayi bernafas spontan, dilanjutkan dengan
menilai warna kulit.

b) Apabila frekuensi < 100x / menit walaupun bayi bernafas spontan menjadi
indikasi untuk dilakukan VTP (Ventilasi Tekanan Positif.
3. Warna Kulit
Apabila penilaian warna kulit menunjukkan bahwa warna kulit bayi pucat atau
bisa sampai sianosis. Setelah pernafasan dan frekuensi jantung baik, seharusnya kulit
menjadi kemerahan. Jika masih ada sianosis central, oksigen tetap diberikan. Bila
terdapat sianosis purifier, oksigen tidak perlu diberikan, disebabkan karena peredaran
darah yang masih lamban, antara lain karena suhu ruang bersalin yang dingin.
D. ETIOLOGI
Penyebabnya karena terjadinya oksigenasi yang tidak efektif dan perfusi yang tidak
adekuat pada neonatus dapat berlangsung sejak saat sebelum persalinan hingga masa
persalinan.
E. FISIOLOGI
Waktu bayi lahir ,napas pertama terjadi karena rangsangan udara dingin, cahaya,perubahan
biokomia darah dsb. Cairan yang ada pada paru-paru sebagian besar akan dikeluarkan pada saat
bayi dilahirkan karena tekanan jalan lahir pada dinding thorak ( squeeze) dan sebagian kecil
diserap oleh pembuluh darah kecil.
Sirkulasi darah berubah dari sirkulasi janin ke
sirkulasi dewasa. Pada saat bayi dilahirkan dan terjadi pernapasan alveoli yang padea saat belum
lahir berisi air,akan berkembang dengan berisi udara. Aliran darah ke paru akan bertambah karena
oksigen yang didapat bayi akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah paru .aliran darah balik
paru ( venous return ) akan meningkat. Sehingga akibatnya akan terjadi aliran darah keluyar dari
ventrikel kiri. Pada bayi baru lahir yang normal penutupan duktus arteriosus dan penurunan
tahanan pembuluh darah paru akan berakibat penurunan tekanan arteri pulmonalis dan ventrikel
kanan. Penurunan terendah terjadi 2 atau 3 hari post natal Kadang-kadang sampai lebih dari 7 hari
post natal ( Behrman , 1992 ).
Ekspansi paru segera pada waktu lahir memerlukan tekanan ventilasi yang lebih tinggi
dibandingkan pada tahap lainnya masa bayi. Kegagalan ekspansi ruang alveolar yang adekuat
dapat terjadi pada hipoksemia dan asfiksia. Asfiksia menyebabkan hipoksia progresif, hiperkapnia,
hipoperfusi dan asidosis. Konsekuensi dari hipoksia dan asidosis adalah vasokonstriksi paru,
pembukaan duktus arteriosus, right-to-left shunting, disfungsi myokard, output jantung kurang,
asidosis metabolik dan kerusakan sistem organ. Pada hipoksia janin, setelah beberapa kali napas
dangkal pusat respirasi tidak dapat melanjutkan inisiasi pernapasan sehingga pernapasan berhenti.
Hal ini disebut apnu primer. Sebagian besar neonatus dengan apnu primer merespon stimulasi saja.
Jika hipoksia menetap, bayi mulai terengah. Periode antara engahan terakhir dan cardiac arrest
disebut apnu skunder. Secara klinis, tidak mungkin membedakan apnu primer dan sekunder.
Karenanya penting untuk menduga bayi apnu mengalami apnu sekunder. Penatalaksanaannya
berupa bag and mask ventilation, kompresi dada, intubasi dan obat-obatan.

F. PATOFISIOLOGI
1) MASALAH PELAYANAN PERINATAL
Sebagian besar kehamilan (65%) tidak mendapat pemeriksaan antenatal sedangkan
persalinan umumnya (90%) masih ditolong oleh dukun. Kualitas pelayanan antenatal
sesuai tingkat pelayanan masih belum memadai sehingga kehamilan risiko tinggi
mungkin tidak mendapat pelayanan yang tepat
2) PELAYANAN INTRANATAL

Kematian terbesar terjadi pada saat intranatal, dan saat ini memang sangat kritis
mengingat faktor yang berkaitan, yaitu penyakit ibu, plasenta dan janin. Penyakit ibu
dapat lebih mudah diketahui, tetapi keadaan dan fungsi plasenta serta keadaan janin
sulit diketahui. Gerakan janin mungkin dapat dipakai sebagai patokan kesejahteraan
janin, walaupun mungkin sangat kasar. Besar janin dapat disebagai pertanda nutrisi
janin masih adekuat tetapi suplai oksigen mungkin amat sukar untuk diketahui. Untuk
itu maka pada pusat rujukan diperlukan alat bantu pemantau elektronik. Pengenalan
dan kesadaran akan adanya faktor risiko merupakan awal dari proses rujukan.
Rujukan yang tepat akan dapat mengurangi kematian perinatal.
3) PELAYANAN POSTNATAL
Kehidupan dan kualitas bayi baru lahir amat ditentukan oleh pelayanan kebidanan.
Sejak saat lahir bayi dapat mengalami cedera seperti trauma lahir, trauma dingin,
renjatan, resusitasi yang tidak adekuat atau infeksi. Bayi dapat menderita renjatan,
bradikardia yang tidak segera diatasi dan baru disadari bahwa bayi tersebut sakit
dan timbul gangguan pernafasan. Bayi risiko tinggi memerlukan perawatan intensif,
untuk itu pengenalan faktor risiko dan proses rujukan merupakan kunci keberhasilan
usaha menurunkan kematian perinatal. Pemberian ASI telah terbukti dapat
mengurangi angka kesakitan akibat infeksi. Untuk itu perlu ditingkatkan terus usaha
promosi ASI dan byi baru lahir yang memerlukan resusitasi adalah program rawat
gabung.
G. Manifestasi klinik
Gejala umum yang terjadi pada bayi baru lahir yang memerlukan tindakan resusitasi
adalah bayi yang baru lahir namun tidak mampu untuk menghirup oksigen dengan adekuat
dengan tanda dan gejala : Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap, denyut jantung
kurang dari 100 x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon
terhadap refleks rangsangan
1) Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang jatuh
ke posterior.
2) Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnya
obat anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan sebagainya
3) Kerusakan neurologis.
4) Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat, dan /
atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan /
sirkulasi.
5) Syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan
Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika
terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya.
H. Penatalaksanaan
1) Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya
a) sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah yang
jatuh ke posterior.

b) kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu misalnya
obat anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium sulfat, dan
sebagainya
c) kerusakan neurologis
d) kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf pusat,
dan / atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan gangguan
pernapasan / sirkulasi.
e) syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan.
Resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan. Jika
terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu selanjutnya. Penting
untuk resusitasi yang efektif :
1) Tenaga yang terampil, tim kerja yang baik
2) Pemahaman tentang fisiologi dasar pernapasan, kardiovaskular, serta proses
asfiksia yang progresif
3) Kemampuan / alat pengaturan suhu, ventilasi, monitoring.
4) obat-obatan dan cairan yang diperlukan
Tindakan Resusitasi BBL Jika Air Ketuban Bercampur Mekonium
Apakah mekonium itu?
Mekonium adalah feses pertama dari BBL. Mekonium kental pekat dan berwarna hijau
kehitaman.
Kapan mekonium dikeluarkan?
Biasanya BBL mengeluarkan mekonium pertama kali sesudah persalinan (12-24 jam
pertama). Kira-kira 15% kasus mekonium dikeluarkan sebelum persalinan dan bercampur
dengan air ketuban sehingga cairan ketuban berwarna kehijauan. Mekonium jarang
dikeluarkan sebelum 34 minggu kehamilan. Bila mekonium telah terlihat sebelum persalinan
dan bayi pada posisi kepala, monitor bayi dengan seksama karena ini merupakan tanda
bahaya.
Apakah yang menyebabkan janin mengeluarkan mekonium sebelum persalinan?
Tidak selalu jelas kenapa mekonium dikeluarkan sebelum persalinan. Kadang-kadang terjadi
hipoksia/gawat janin yang dapat meningkatkan gerakan usus dan relaksasi otot anus sehingga
janin mengeluarkan mekonium. Bayi-bayi dengan risiko tinggi gawat janin seringkali
memiliki cairan ketuban dengan pewarnaan mekonium (warna kehijauan), misalnya bayi
kecil untuk masa kehamilan (kMK) atau bayi post matur.
Apakah bahaya air ketuban bercampur mekonium warna kehijauan?

Mekonium dapat masuk ke dalam paru bayi selama di dalam rahim atau bayi mulai bernapas
karena dilahirkan. Tersedak mekonium dapat menyebabkan pneumonia dan mungkin
kematian.
Apa yang dapat dilakukan untuk membantu seorang bayi bila terdapat air ketuban
bercampur mekonium (warna kehijauan)?
Siap untuk melakukan resusitasi bayi apabila cairan ketuban bercampur mekonium. Langkahlangkah tindakan resusitasi pada bayi baru lahir jika air ketuban bercampur mekonium sama
dengan pada bayi yang air ketubannya tidak bercampur mekonium hanya berbeda pada:

Setelah seluruh badan bayi lahir: penilaian apakah bayi menangis / bernapas normal /
megap-megap / tidak bernapas?

Jika menangis / bernapas normal, potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan
tidak dibubuhi apapun, dilanjutkan dengan Langkah Awal/

Jika megap-megap atau tidak bernapas, bua mulut lebar, usap mulut dan isap lender,
ptong tali pusat dengan cepat, tidak diikat & tidak dibubuhi apapun, dilanjutan dengan
langkah awal.

Keterangan: Pemotongan Tali Pusat dapat merangsang pernapasan bayi, apabila masih ada air
ketuban dan mekonium di jalan napas, bayi bias tersedak (aspirasi).
2.8 Asuhan Pascaresusitasi
Asuhan pasca resusitasi adalah pelayanan kesehatan pasca resusitasi yang diberikan baik
kepada BBL ataupun ibu dan keluarga. Pelayanan kesehatan yang diberikan berupa
pemantauan, asuhan BBL dan konseling.
Bicaralah dengan ibu dan keluarga bayi tentang resusitasi yang telah dilakukan. Jawab setiap
pertanyaan yang diajukan.
Asuhan pasca resusitasi diberikan sesuai dengan BBL setelah menerima tindakan resusitasi
dan dilakukan pada keadaan:

Resusitasi berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal atau
sesudah ventilasi.

Resusitasi belum / kurang berhasil: bayi perlu rujukan yaitu sesudah resusitasi 2 menit
belum bernapas atau megap-megap atau pada pemantauan didapatkan kondisinya
memburuk.

Resusitasi tidak berhasil: sesudah resusitasi 10 menit dihitung dari bayi tidak bernapas
dan detak jantung 0.

2.9 Asuhan Pasca Lahir (Usia 2-24 jam Setelah Lahir)

Sesudah pemantauan 2 jam pasca resusitasi, bayi masih perlu asuhan pasca lahir lebih lanjut.
Asuhan pasca lahir dapat dilakukan dengan cara kunjungan rumah (kunjungan
BBL/Neonatus). Tujuan dari asuhan pasca lahir adalah untuk mengetahui kondisi lebih lanjut
dalam 24 jam pertama kesehatan bayi setelah mengalami tindakan resusitasi.
Untuk asuhan PASCA LAHIR setelah 24 jam, gunakanlah algoritma Manajemen Terpadu
Bayi Muda (MTBM).
Algoritma MTBM untuk melakukan penilaian, membuat klasifikasi, menentukan tindakan
dan pengobatan serta tindak lanjut.catat seluruh langkah ke dalam formulir tata laksana bayi
muda.
o Bila pada penilaian menunjukkan klasifikasi merah, bayi harus segera dirujuk.
o Bila klasifikasi kuning, bayi harus dikunjungi kembali dalam 2 hari.
o Bila klasifikasi hijau, berikan nasihat untuk perawatan BBL di rumah.
Ajari ibu dan atau keluarga untuk menilai keadaan bayi. Jelaskan mengenai pemantauan BBL
dan bagaimana memperoleh pertolongan segera bila bayi mengalami masalah.
2.10

Pencegahan Infeksi

Pencegahan Infeksi menurut Jenis Alat Resusitasi:


Berikut ini adalah beberapa contoh alat dan bahan habis pakai yang digunakan dalam
resusitasi dan cara pencegahan infeksinya:

Meja resusitasi:

Basuh dengan larutan dekontaminasi dan kemudian cuci dengan sabun dan air, dikeringkan
dengan udara/angin.

Tabung resusitasi

Lakukan dekontaminasi, pencucian secara teratur misalnya setiap minggu, tiap 2 minggu,
atau setiap bulan tergantung frekuensi resusitasi. Selalu lakukan ke 3 langkah pencegahan
infeksi kalau alat digunakan pada bayi dengan infeksi. Pencegahan infeksi Tabung/Balon
Resusitasi dilakukan setiap habis digunakan. Pisahkan masing-masing bagian sebelum
melakukan pencegahan infeksi.

Sungkup silicon dan katup karet: dapat di rebus.

Alat penghisap yang dipakai ulang:

Lakukan ke 3 langkah pencegahan infeksi (dekontaminasi, pencucian dan DTT)

Kain dan selimut:

Lakukan dekontaminasi dan pencucian kemudian dikeringkan dengan angin/ udara atau sinar
matahari kemudian simpan di tempat yang bersih dan kering.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Resusitasi merupakan upaya untuk mengembalikan bayi baru lahir dengan asfiksia berat
menjadi keadaan yang lebih baik dapat bernafas atau menangis spontan dan denyut jantung
menjdi teratur
Penilaian awal terhadap bayi untuk dilakukan resusitasi adalah :

Bayi tidak cukup bulan

Bayi megap-megap/tidak bernapas

Tonus otot bayi tidak baik.

Air ketuban bercampur mekonium.

Langkah-langkah resusitasi, yaitu:


TAHAP 1: LANGKAH AWAL
1. Jaga bayi tetap hangat;
2. Atur posisi bayi
3. Isap lendir
4. Keringkan dan rangsang bayi
5. Atur kembali posisi kepalabayi dan selimuti bayi
TAHAP II: VENTILASI
1. Pemasangan sungkup
2. Ventilasi 2 kali
3. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
4. Ventilasi setiap 30 detik hentian dan lakukan penilaian ulang napas
5. Siapkan rujukan jika bayi belum bernapas spontan sesudah 2 menit resusitasi

6. Lanjutkan ventilasi sambil memeriksa denyut jantung bayi


TAHAP III: ASUHAN PASCARESUSITASI

Jika Resusitasi Tidak Berhasil

Jika Resusitasi berhasil

Jika Perlu Rujukan


DAFTAR PUSTAKA

Saifuddin Abdul Bari, Dkk, 2002, Buku panduan praktis pelayanan kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta: Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo.
Sarwono Prawirohardjo, 2008, Ilmu Kebidanan, Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
JNPK-KR, 2008, Asuhan persalinan Normal dan Inisiasi menyusu dini.