Anda di halaman 1dari 28

SISTEM PERKEMIHAN

ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA GINJAL

Herman. M. Kep., Ners.


Disusun oleh Kelompok 3 :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Hany Luqianie
Suci Ramadhanty
Deska Kurnia S
Irenius Efren
Teguh Ayatullah
Agung Triputra
Destura

I1032141004
8. Yolanda Yuniati
I1032141005
9. Ananda Maharani P
I1032141018 10. Siti Annisa NH
I1032141019 11. Eka Putri F
I1032141024 12. Delima Ritonga
I1032141028 13. Eni Sartika
I1032141030
14. Riri Fitri Sari

I1032141035
I1032141037
I1032141041
I1032141042
I1032141044
I1032141047
I1032141048

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURAPONTIANAK
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
memberikan rahmat dan karunia Nya, sehingga kami dapat menyusun dan
menyelesaikan makalah ini tepat waktu.
Makalah Asuhan Keperawatan Trauma Ginjal Sistem Perkemihan ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Perkemihan kelompok 3 PSIK APK
mahasiswa keperawatan UNTAN. Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Herman M.Kep., Ners. selaku dosen mata kuliah sistem perkemihan yang
telah memberikan bimbingan dan pengarahan demi terselesaikannya makalah
ini.
2. Rekan rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan
makalah ini.
Namun, kami menyadari bahwa kekurangan dalam penyusunan makalah ini pasti
ada. Oleh karena itu, masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun
senantiasa kami harapan demi perbaikan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca baik itu mahasiswa maupun
masyarakat dan dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan yang berguna untuk kita
semua. Akhir kata penyusun ucapkan terimakasih.

Pontianak, 11 Oktober 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Trauma ginjal merupakan trauma pada sistem urologi yang paling
sering terjadi. Kejadian penyakit ini sekitar 8-10% dengan trauma tumpul atau
trauma abdominal. Pada banyak kasus, trauma ginjal selalu dibarengi dengan
trauma organ penting lainnya. Pada trauma ginjal akan menimbulkan ruptur
berupa perubahan organik pada jaringannya. Sekitar 85-90% trauma ginjal
terjadi akibat trauma tumpul yang biasanya diakibatkan oleh kecelakaan
lalulintas. Trauma ginjal biasanya terjadi akibat kecelakaan lalulintas atau
jatuh. Trauma ini biasanya juga disertai dengan fraktur pada vertebra thorakal
11-12. Jika terdapat hematuria kausa trauma harus dapat diketahui. Laserasi
ginjal dapat menyebabkan perdarahan dalam rongga peritoneum.
Frekuensi cedera ginjal tergantung pada populasi pasien yang
dipertimbangkan. Trauma ginjal menyumbang sekitar 3% dari seluruh
penerimaan trauma dan sebanyak 10 % dari pasien yang mempertahankan
trauma abdomen. Dengan menggunakan Nasional

Trauma Data Bank,

Grimsby et al. mengulas data cedera ginjal anak untuk menentukan


mekanisme cedera dan kelas, demografi, perawatan, dan pengaturan
perawatan. Sebagian besar trauma ginjal pada anak-anak ditemukan pada
kelas rendah (79%) dan ditemukan trauma tumpul (>90%). Cedera usia ratarata adalah 13.7 tahun, yaitu 94% dari pasien adalah berusia 5 sampai 18
tahun. Hanya 12% dari pasien dirawat di rumah sakit anak. Meskipun
sebagian besar anak-anak dirawat secara konservatif di rumah sakit
dewasa, tingkat nefrektomi tiga kali lebih tinggi dibandingkan pasien dirawat
di rumah sakit anak (Grimsby et al, 2014).
Tujuan dari penanganan trauma ginjal adalah untuk resusitasi pasien,
mendiagnosis trauma dan memutuskan penanganan terapi secepat mungkin.
Penanganan yang efi
sien dengan tehnik resusitasi dan pemeriksaan radiologi yang akurat
dibutuhkan untuk menjelaskan manajemen klinik yang tepat. Para radiologis
memainkan peranan yang sangat penting dalam mencapai hal tersebut,

memainkan bagian yang besar dalam diagnosis dan stadium trauma. Lebih
jauh, campur tangan dari radiologis menolong penanganan trauma arterial
dengan menggunakan angiografi dengan transkateter embolisasi. Sebagai
bagian yang penting dar trauma, radiologi harus menyediakan konsultasi
emergensi, keterampilan para ahli dalam penggunaan alat-alat radiologis
digunakan dalam evaluasi trauma, dan biasanya disertai trauma tumpul pada
daerah abdominal.
1.2.

Rumusan Masalah
Bagaimana konsep teori trauma ginjal serta asuhan keperawatan yang
komprehensif yang tepat pada klien trauma ginjal

1.3.

Tujuan
1. Untuk mengetahui serta memahami konsep teori trauma ginjal.
2. Untuk mengetahui serta memahami asuhan keperawatan yang komprehensif
pada trauma ginjal

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1.

Definisi
Trauma ginjal adalah trauma sistem perkemihan yang paling sering dan
terjadi antara 8-10% pasien dengan trauma tumpul maupun trauma tembus

abdomen. Pada kebanyakan kasus, trauma ginjal bersamaan dengan trauma


organ-organ yang lain (Baverstock, 2001).
Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai
macam trauma baik tumpul maupun tajam. Kecelakaan kendaraan bermotor dan
jatuh adalah penyebab utama yang jelas dari trauma ginjal (Summerton, 2014).
Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai
macam trauma baik tumpul maupun tajam dengan manifestasinya manifestasi
memar, laserasi, atau kerusakan padastruktur. Trauma ginjal merupakan trauma
yang terbanyak pada sistem urogenitalia. Kurang lebih 10% dari trauma pada
abdomen mencederai ginjal (Purnomo, 2011; Muttaqin, 2011).
2.2.

Klasifikasi
1. Cedera minor :
- kontusio ginjal: adalah Kontusio ginjal yang terdapat perdarahan di ginjal
tanpa adanya kerusakan jaringan,kematian jaringan maupun kerusakan
kaliks. Gambaran cederanya berupa Hematuria dapat mikroskopik atau
makroskopik.pencitraan normal.
laserasi parenkim superficial: robekan pada parenkim superficial
2. cedera mayor :
- laserasi korteks dan medulla tanpa ektravasasi urina: adalah robekan yang
-

terdapat di bagian terluar dari ginjal dan medulla tanpa adanya bocoran
cairan intravena atau obat ke dalam jaringan sekitar lokasi infus yang
-

dapat menyebabkan kerusakan jaringan.


laserasi korteks dan medulla dengan ekstravasasi urina: adalah robekan
yang terdapat di bagian terluar dari ginjal dan medulla dengan adanya
bocoran cairan intravena atau obat ke dalam jaringan sekitar lokasi infus

sehingga dapat menyebabkan kerusakan jaringan.


cedera vaskuler : cedera pembuluh darah
avulasi adalah pada ureteropelvis junction itu kondisi ketika otot terentang
kuat melampaui kebebasan kemampuan jangkauan gerak , atau ketika
bertemu dengan resistensi tiba-tiba mendadak ketika melakukan kontraksi
kuat

thrombosis adalah gumpalan darah di pembuluh yang membawa darah

dari ginjal. Kondisi ini dapat terjadi pada orang dengan sindrom nefrotik.
Trauma tumpul pada umumnya lebih sering dijumpai dari pada trauma
tajam (Soelarto,

2.3.

).

Etiologi
Mekanisme cidera yang dapat menyebabkan injuri pada ginjal adalah sebagai
berikut :
1. Trauma penetrasi (misalnya : luka tembak, luka tusuk)
2. Trauma tumpul (misalnya: kecelakaan kendaraan bermotor, olahraga,
jatuh)
3. Latrogenik (misalnya : prosedur endourologi, ESWL, biopsy ginjal,
prosedur perkutaneus pada ginjal)
4. Intraoperatif (misalnya: diagnostic peritoneal lavage)
5. Lainnya (misalnya : penolakan transplantasi ginjal, melahirkan [dapat
menyebabkan laserasi spontan ginjal) (Muttaqin, 2011)
Terdapat 3 penyebab utama dari trauma ginjal:
a. Trauma tumpul
Trauma tumpul biasanya terjadi karena kecelakaan kenderaan bermotor,
dan jatuh. Trauma tumpul dari tabrakan kendaraan bermotor, jatuh dan
tabrakan pribadi adalah penyebab utama trauma ginja.
b. Trauma iatrogenik
Trauma iatrogenik dapat hasil dari operasi, retrograde pyelography,
percutaneous nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Biopsi ginjal
juga dapat menyebabkan trauma ginjal.
c. Trauma tajam
Trauma tajam adalah seperti tikaman atau luka tembak pada daerah
abdomen bagian atas ataupun pinggang (Lusaya, 2015).

2.4.

Manifestasi Klinis
1. Nyeri kolik renal (akibat bekuan darah/fragmen dari system duktus
kolektikus yang terobstruksi). Nyeri mungkin terlokalisasi pada satu daerah
panggul atau di atas perut.
2. Hematuria: Hematuria merupakan manifestasi yang umum terjadi. Oleh
karena itu, adanya darah dalam urin setelah suatu cedera menunjukkan

kemungkinan cedera ginjal. Namun demikian, hematuria mungkin tidak


akan muncul atau terdeteksi hanya melalui pemeriksaan mikroskopik.
3. Massa di rongga panggul mungkin merupakan retroperitoneal besar
hematoma atau kemungkinan ekstravasasi kemih.
4. Tanda-tanda hipovolemia dan syok disertai hemoragi yang signifikan.
(Smeltzer & Bare, 2001; Summerton et al., 2014).
5. Ekimosis pada daerah panggul atau kuadran atas perut.
6. Laserasi (luka) di abdomen lateral dan rongga panggul (Summerton et al.,
2014).

2.5.

Patofisiologi
Secara anatomis ginjal dilindungi oleh susunan tulang iga, otot punggung
posterior, lapisan dinding abdomen serta visera anterior. Oleh karena itu, cidera
ginjal tidak jarang diikuti oleh cidera organ-organ yang mengitarinya. Adanya
cidera traumatic, menyebabkan ginjal dapat tertusuk oleh iga paling bawah
sehingga terjadi kontusi dan rupture. Fraktur iga atau fraktur procesus
transverses lumbal vertebra atas dapat dihubungkan dengan kontusi renal atau
laserasi. Cedera dapat tumpul (kecelakaan lalulintas, cidera atletik, akibat
pukulan) atau penetrasi (luka tembak, luka tikam).
Ketidakdisiplinan dalam menggunakan sabuk pengaman atau akan
memberikan reaksi guncangan ginjal didalam rongga retroperitonium dan
menyebabkan reganggan pedikel gingal sehingga menimbulkan robekan tunika
intima arteri renalis. Robekan ini akan memacu terbentuknya bekuan-bekuan
darah yang selanjutnya dapat menimbulkan trombisis arteri renalis beserta
cabang-cabangnya. Kondisi adanya penyakit pada ginjal seperti hidronefrosis,
kista ginjal atau tumor ginjal akan memperberat suatu trauma pada kerusakan
sturktur ginjal.
Cidera ginjal akan memberikan manifestasi kontusi, laserasi, rupture dan
cidera pedikel renal, atau laserasi interna kecil pada ginjal. Secara fisiologis
ginjal menerima setengah dari aliran darah aorta abdominal, oleh karena itu

meskipun hanya terdapat laserasi renal yang kecil, namun hal ini dapat
menyebabkan perdarahan yang banyak. Cidera ginjal akan memberikan
berbagai manifetasi masalah keperawatan (Muttaqin, 2011).
2.6. Penatalaksanaan
2.6.1. Penatalaksanaan Medis
Operasi dan Rekontruksi
Operasi ditujukan pada trauma ginjal mayor dengan tujuan untuk
segera menghentikan perdarahan. Selanjutnya mungkin perlu
dilakukan

debriment

reparasi

ginjal

(berupa

renorafi

atau

penyambungan vaskuler) atau tidak jarang harus dilakukan


nefrektomi parsial bahkan nefrektomi total karena kerusakan ginjal
yang sangat berat. Semakin banyak pihak menganut pendekatan
konservatif untuk pasien trauma ginjal (Hammer dan Santucci, 2003).
Secara keseluruhan, 13 % pasien trauma ginjal yang membutuhkan
nefrektomi pada saat eksplorasi, umumnya nefrektomi dilakukan
pada pasien dengan riwayat syok, hemodinamik tidak stabil, dan skor
trauma yang berat (Davis et al., 2006).
Pada luka tembak, rekonstruksi mungkin susah dilakukan sehingga
dibutuhkan nefrektomi. Secara keseluruhan, perbaikan berhasil
dicapai pada 89 % dari unit ginjal dieksplorasi. Prinsip-prinsip
manajemen operasi yang sukses termasuk control vaskular awal dan
berbagai teknik bedah.
Manajemen Non- Operatif / Konservatif
Perbedaan dalam pengelolaan trauma tumpul dan penetrasi adalah
hasil dari ketidakstabilan yang lebih besar dari pasien setelah trauma
tembus dan kemungkinan lebih tinggi dari cedera tumpul parah
setelah senjata api dan luka tusuk.
Manajemen non-operatif semakin banyak dipertimbangkan oleh
pasien trauma ginjal. Pada pasien yang stabil, melakukan perawatan
suportif yaitu dengan istirahat dan observasi. Semua kasus trauma

ginjal derajat 1 dan 2 dapat dirawat secara konservatif baik pada


trauma tumpul ataupun trauma tembus. Tetapi pada trauma ginjal
derajat 3 telah menjadi kontroversi selama bertahuntahun (Alsikafi
dan Rosenstein, 2006). Mayoritas pasien dengan trauma ginjal derajat
4 dan 5 datang dengantrauma penyerta dan akhirnya menjalani
eksplorasi dan tingginya angka untuk melakukan nefrektomi. Pada
pasien trauma ginjal derajat 4 dan 5 dapat dirawat secara konservatif
dengan syarat kondisi haemodinamik stabil. Pendekatan klinis yang
sistematis adalah berdasarkan pada temuan klinis,laboratorium, dan
pemeriksaan penunjang radiologis.
Penetrasi trauma ginjal
Selektif oleh manajemen non-operatif untuk luka tusuk perut
umumnya diterima untuk meningkatkan proporsi pusat trauma
Perdarahan terus-menerus merupakan indikasi utama untuk eksplorasi
dan rekonstruksi. Dalam semua kasus cedera parah, manajemen nonoperatif harus mengambil langkah hanya setelah pementasan ginjal
lengkap pada pasien hemodinamik stabil Jaringan kerusakan dari
cedera tembak kecepatan tinggi bisa lebih luas dan nefrektomi
diperlukan lebih sering. Pada pasien hemodinamik stabil tanpa
peritonitis mampu menjalani pemeriksaan klinis serial, cedera organ
padat bukan kontra - indikasi untuk manajemen non - operatif. Dalam
pengaturan yang sesuai, manajemen non - operatif cedera organ padat
setelah tembak melukai dikaitkan dengan tingkat keberhasilan yang
tinggi dan penyelamatan organ (DuBose et al., 2007).
2.6.2. Penatalaksanaan keperawatan
Tindakan konservatif ditujukan pada trauma minor. Pada keadaan
ini dilakukan observasi tanda-tanda vital (tensi, nadi, suhu tubuh),
kemungkinan adanya penambahan masa di pinggang, adanya pembesaran
lingkar perut, penurunan kadar hemoglombin dan perubahan warna urin
pada pemeriksaan urin serial (Purnomo, 2003). Trauma ginjal minor 85%

dengan hematuri akan berhenti dan sembuh secara spontan. Bed rest
dilakukan sampai hematuri berhenti (McAninch, 2000).

2.7.

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Urinalisa, darah rutin

dan

kreatinin

merupakan

pemeriksaan

laboratorium yang penting. Urinalisa merupakan pemeriksaan penting untuk


mengetahui adanya cedera pada ginjal. Hematuria mikroskopis atau gross,
sering terlihat tetapi tidak cukup sensitif dan spesifik untuk membedakan
apakah suatu trauma minor atau mayor Tambahan pula, untuk trauma ginjal
yang berat seperti robeknya ureteropelvic junction, trauma pedikel ginjal,
atau trombosis arteri dapat tampil tanpa disertai dengan hematuria
(Purnomo, 2011).
Hematokrit serial dan vital sign merupakan pemeriksaan yang
digunakan untuk mengevaluasi pasien trauma. Penurunan hematokrit dan
kebutuhan untuk transfusi darah merupakan tanda kehilangan darah dan
respon terhadap resusitasi akan menjadi pertimbangan dalam pengambilan
keputusan. Peningkatan kreatinin dapat dikatakan sebagai tanda patologis
pada ginjal (Purnomo, 2011).
b. Pemeriksaan Radiologi (Pencitraan)
Indikasi untuk melakukan pemeriksaan radiologi pada trauma ginjal
adalah gross hematuria, hematuria mikroskopik yang disertai syok, atau
cedera pada organ lain. Pada luka tembus, setiap kecurigaan adalah luka
yang mengarah pada ginjal maka perlu melakukan pemeriksaan radiologi
tanpa memperhatikan derajat hematuria.
Pemeriksaan Intravenous Urografi (IVU) atau disebut sebagai Pielografi
Intra Vena (PIV) atau Intravenous Pyelografi (IVP). Pemeriksaan IVP
adalah foto yang dapat mengambarkan keadaan sistem urinaria melalui
bahan kontras( dengan menyuntikkan bahan kontras dosis tinggi

2ml/kgBB) digunakan untuk menilai tingkat kerusakan ginjal dan


menilai keadaan ginjal kontralateral. Pemeriksaan IVU dilakukan
apabila diduga terdapat :
- Luka tusuk atau luka tembak yang mengenai ginjal.
- Cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria

makroskopik.
Cedera tumpul ginjal yang memberikan tanda-tanda hematuria

mikroskopik dan disertai syok (Purnomo, 2011).


Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) dilakukan sebagai pemeriksaan
penunjang apabila diduga cedera tumpul pada ginjal yang menunjukkan
tanda hematuria mikroskopik tanpa disertai syok. Pemeriksaan USG ini
dapat menemukan adanya kontusio parenkim ginjal atau hematoma
subkapsuler. Dengan pemeriksaanini dapat juga diperlihatkan ada atau
tidak

robekan

kapsul

ginjal.

Pemeriksaan

USG

pada

ginjal

dipergunakan:
- Untuk mendeteksi keberadaan dan keadaan ginjal (hidronefrosis,
kista, massa, atau pengkerutan ginjal) yang menunjukkan non

visualized pada pemeriksaan IVU.


Sebagai penuntun pada saat melakukan pungsi ginjal, atau

nefrostomi perkutan (Purnomo, 2011).


Pemeriksaan Computed Tomography (CT) adalah teknik pencitraan non
invasive, yang lebih superior daripada USG. Pemeriksaan CT scan ini
dilakukan untuk menerangkan kelainan pada ginjal, arteri dan vena
renalis, vena kava, dan massa di retroperitoneal. Pemeriksaan CT scan
dapat menunjukkan adanya robekan jaringan ginjal, ekstravasasi kontras
yang luas, dan adanya nekrosis jaringan ginjal. Selain itu, pemeriksaan
CT scan juga dapat mendeteksi adanya trauma pada organ yang lain. Alat
CT scan ini dapat mendeteksi kelainan dalam waktu cepat (< 30 detik),
sehingga dapat dipakai untuk menilai penyebab kolik ureter atau ginjal.
Pemeriksaan CT scan merupakan pemeriksaan radiologi yang utama bagi
pasien trauma ginjal dengan hemodinamik stabil (Purnomo, 2011).

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1.

Pengkajian
1. Anamnesa
Identitas klien
Identitas klien terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa,
agama, pendidikan, pekerjaan, status, alamat, tanggal masuk, no regeister,
dan diagnosis medis.
Riwayat Kesehatan
Keluhan utama: Klien mengeluh nyeri pada daerah abdomen.
Riwayat Kesehatan Sekarang: Klien mengeluh nyeri pada abdomen,

hematuria, dan mengalami pendarahan.


Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat penyakit sebelumnya harus digali, apakah adanya disfungsi
organ sebelum terjadinya trauma dan adanya riwayat penyakit ginjal
sebelumya yang dapat memperberat trauma, Hidronefrosis, batu ginjal,
kista, atau tumor telah dilaporkan dapat menimbulkan komplikasi yang

berat
Riwayat Kesehatn Keluarga: Dalam keluarga klien tidak ada yang
mempunyai riwayat penyakit seperti yang di alami klien, keluarga
klien juga tidak mengalami penyakit hipertensi, jantung, ginjal, DM

dan penyakit menular atau penyakit menurun lainnya.


2. Pola Pengkajian pola kesehatan
1) Pola persepsi kesehatan: Biasanya klien dengan trauma akan langsung
memeriksakan keadaannya ke dokter berhubungan dengan keadaan yang
di rasakan setelah trauma.
2) Pola Nutrisi Metabolik: Biasanya klien mengalami kurang napsu makan,
berat badan menurun.
3) Pola eliminasi: Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola
defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
4) Pola sensori dan kognitif: Pada pola sensori klien tidak mengalami
gangguan penglihatan dan pendengaran. Pada pola kognitif daya ingat
klien masih baik.
5) Pola aktivitas dan latihan: Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena
kelemahan, dan nyeri.

6) Pola tidur dan istirahat: Klien mengalami kesukaran untuk istirahat


karena kejang otot/ nyeri otot.
7) Pola persepsi dan konsep diri: Klien merasa tidak berdaya,dan merasa
bersalah pada keluarga karena merasa merepotkan keluarganya.
8) Pola hubungan dan peran: Adanya perubahan hubungan dan peran karena
klien mengalami kesukaran untuk beraktivitas.
9) Pola Intoleransi dan Stres: Klien merasa cemasa dan khawatir dengan
kondisi klien saat ini.
10) Pola kesehatan reproduksi: Adanya perubahan libido dalam melakukan
aktivitas seksual.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan: Klien biasanya jarang melakukan ibadah
karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/ kelumpuhan pada salah
satu sisi tubuh (Doenges, 2000).

3.2.

Analisa Data

No
1

Data
DS:

- Klien

Masalah

Hipovolemi

keperawatan
Resiko Syok
Hipovolemik

mengatakan
jika

kencing

nya

terdapat

darah

Etilogi

Klien
mengatakan
pada kulitnya
terlihat bercak
merah

DO:
-

Nadi : 110 X /

menit
RR : 24 x /

menit
Suhu : 38 oC
TD : 80 / 50

mmHg
Pada

klien

ditemukan
hemoragi
subkutan dan
hematoma
klien

- Pada

terlihat
perubahan
tingkat
kesadaran
-

2.

DS:
- Pasien

Cedera fisik
mengeluh

nyeri pada perut


- P = bila di tekan
dan bergerak
Q = Nyeri seperti
di tusuk

Nyeri akut

R = Abdomen
S = 8 dari 10
T = selalu nyeri
bila di tekan dan
apabila bergerak
DO :
-

TD

berubah

80/50 mmHg
Pasien tampak

meringis
3. DS: klien

Prosedur invasif

Resiko infeksi

Proses invasif

Ansietas

mengatakan gatal
dan panas pada
area insisi
DO :
- Leukosit >12.000
- Ditemukan tandatanda infeksi:
calor, lubor, dolor
dan tumor daerah
luka terdapt pus,
lamanya
pengeringan luka,
bau
4. DS:
-

Klien
mengatakan
takut akan
prosedur

yang akan
di lakukan
Klien

menanyaka
n tentang
penyakitnya
.
DO:
-

klien tampak
gelisah,

tegang
peningkatan

denyut nadi
Peningkatan
prekuensi

3.3.
1.
2.
3.
4.

pernafasan
Pupil melebar

Diagnosa Keperawatan
Risiko syok hipovolemik berdasarkan faktor resiko hipovilemi
Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera: fisik
Resiko infeksi berdasarkan faktor resiko prosedur invasif
Ansietas berhubungan dengan prognosis pembedahan, tindakan invasif
diagnostik.

3.4.
No
1

Intervensi
NOC
Diagnosa
Risiko
syok Tujuan: Setelah

NIC
Syok prevention
dilakukan tindakan kep. 1. Monitor status sirkulasi BP,
warna kulit, suhu kulit,
Selama 1x 30 menit

hipovolemik
berdasarkan
dengan

faktor

resiko hipovolemi

tidak terjadi syok

denyut jantung, HR, dan

hipovolemik pada klien

ritme, nadi perifer dan

dengan indikator :
Syok prevention
Syok management
Dengan Kriteria Hasil :
- Nadi dalam batas yang
diharapkan: 80 x/menit
dari 110 x/menit
- Frekuensi napas dalam
batas yang diharapkan:
RR= 18 dari 24 x/menit

kapillary reffil
2. Pantau nilai lab : Hb, Ht,
AGD, dan Elektrolit, fungsi
renal ( BUN dan Cr level)
3. Monitor tanda syok
4. Tempatkan klien pasien pada
posisi supine, kaki elevasi
untuk meningkatkan preload
dengan tepat
5. Ajarkan keluarga dan pasien
tentang tanda dan gejala
datangnya syok
6. Ajarkan keluarga dan pasien
tentang langkah mengatasi
gejala syok
7. Kolaborasikan pemberian
cairan IV maupun oral yang
tepat
8. Kolaborasikan pemberian
vasodilator yang tepat
Syok management
9. Monitor status cairan (input
dan output)
10. Menggambarkan gas darah
arteri dan monitor jaringan

oksigenasi
Nyeri
Akut Tujuan:
Setelah Pain Management
1. Lakukan pengkajian nyeri
berhubungan
dilakukan tindakan kep.
secara
komprehensif
dengan
agen Selama 1 x 15 menit
termasuk
lokasi,
cidera: fisik
nyeri
klien
teratasi
karakteristik,
durasi,
dengan indikator:
Pain level
frekuensi, kualitas dan faktor
Pain Control

Comfort Level
presipitasi.
2. Observasi reaksi nonverbal
Dengan Kriteria Hasil:
- nyeri klien berkurang
dari ketidaknyamanan.
atau hilang dengan 3. Kaji tipe dan sumber nyeri
skala 3 dari skala

untuk memberikan intervensi

yang tepat
sebelumnya 8.
Klien
mampu 4. Bantu Klien dan keluarga
mengontrol nyeri
Klien
menyatakan

untuk

rasa nyaman setelah

kenyamanan

nyeri berkurang

yang

mencari

menemukan
pernah

dan
tindakan

yang

efektif

dilakukan,

seperti distraksi, relaksasi,


atau kompres hangat/dingin.
5. Kurangi faktor presipitasi
nyeri
6. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dalam,
relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin
Analagesic Administration
7. Monitor vital sign sebelum
dan

sesudah

pemberian

analgesik pertama kali


8. Kolaborasikan dengan dokter
dalam pemberian analgetik
3

untuk mengurangi nyeri


Resiko
infeksi Tujuan:
Setelah Infection Control
1. Bersihkan lingkungan setelah
berdasarkan dengan dilakukan tindakan kep.
dipakai pasien lain
faktor
resiko Selama 3 x 24 jam klien
2. Berikan terapi antibiotik pada
prosedur invasif
terhindar dari infeksi,
klien
dengan indikator:
3. Pertahankan tehnik isolasi
4. Cuci tangan setiap sebelum

Immune Status
Knowledge : Infection
Control
Risk Control
Dengan Kriteria hasil:
- Jumlah leukosit < 12.000
- Menunjukkan
kemampuan

untuk

dan

sesudah

keperawatan
5. Pertahankan

tindakan
lingkungan

aseptik selama pemasangan


alat.
Infection Protection
6. Monitor tanda dan gejala

infeksi sistemik dan lokal


mencegah infeksi
7. Monitor hitung granulosit
- Klien bebas dari tanda
dan WBC
dan gejala infeksi: 8. Monitor kerentanan terhadap
tidak ada tanda panas,
infeksi kulit dan membran
gatal

mukosa terhadap kemerahan,


panas, dan drainase
9. Inspeksi kondisi luka/insisi
bedah
10. Dorong masukkan nutrisi dan
cairan yang cukup
11. Ajarkan cara menghindari
infeksi

Ansietas

Tujuan:

Setelah

di Anxiety reduction
1. gunakan pendekatan yang
berhubungan
berikan
tindakan
menenangkan
dengan prognosis keperawatan dalam 3 x
2. nyatakan
dengan
jelas
pembedahan,
24 jam klien tidak
harapan terhadap klien
tindakan
invasif mengalami anisetas , 3. identifikasi
tingkat
diagnostik.

dengan indikator :

kecemasan
4. temani
klien

untuk

anxiety self control


memberikan keamanan dan
anxiety level
mengurangi takut
coping
5. bantu klien mengenal situasi
Dengan kriteria hasil:
- klien
mampu
yang
menimbulkan
mengidentifikasi dan

mengungkapkan
gejala

cemas

serta

kecemasan
menunjukan tekhnik 6. instruksikan
menggunakan
untuk
mengotrol
-

relaksasi
cemas
vital sign dalam batas 7. kolaborasikan
obat
untuk
normal:
TD : 110/90
RR : 18x/menit
Nadi : 80x/ menit
Suhu : 37o c

3.5.
No
1.

klien
tehnik
pemberian
mengurangi

kecemasan

Evaluasi

Diagnosa
Hari/tgl
Risiko
syok Rabu,

Implementasi
Memonitor status

hipovolemik

12

sirkulasi BP, warna kulit, sudah tidak merasakan

berhubungan

Oktobe

suhu kulit, denyut

kedinginan.

dengan factor r 2016

jantung, HR, dan ritme,

O: Warna kulit pasien

resiko

nadi perifer dan

terlihat Normal ( Kuning

hipovolemi

kapillary revil
Memantaunilailab :Hb,

langsat),

Ht, AGD, danElektrolit,

revil <2 detik, output

fungsi renal ( BUN dan

urin 0,5 cc/BB/jam.

Cr level)
Menempatkan klien

A:

padaposisi supine, kaki


elevasi untuk
meningkatkan preload
dengan tepat

S:

Evaluasi
Pasien mengatakan

suhu

kulit

normal (350C), kapillary

Masalah

sudah

terarasi.
P: Intervensi dihentikan.

2.

Nyeri

akut Rabu,

berhubungan
dengan

Memberikancairan IV

maupun oral yang tepat


Memberikan vasodilator

yang tepat
Melakukan

12

Pasien

secara nyeri

nyeri

agen Oktobe

cidera: fisik

pengkajian S:

komprehensif termasuk skala

r 2016

kualitas

dan

menjadi

1,

wajah

pasien

tidak

lagi

faktor meringis.
O: TTV dalam batas

nonverbal

RR: 16x/menit, T: 360C,

normal ( TD: 120/80,

dariketidaknyamanan.
Nadi: 75x/menit).
Mengkaji
tipe
dan
A: Masalah Nyeri akut
sumber nyeri untuk
berhubungan
dengan
memberikan intervensi
agen cidera: fisik sudah
yang tepat.
teratasi.
Memonitor vital sign
P: Intervensi dihentikan.
sebelum dan sesudah
pertama kali
Mengajarkan

analgesik
tentang

teknik non farmakologi:


napas dalam, relaksasi,
distraksi,

dari

presipitasi.
mengobservasireaksi

pemberian

frekuensi, terlihat

durasi,

berkurang

karakteristik, ekspresi

lokasi,

mengatakan

kompres

hangat/ dingin.
Memberikan informasi
tentang

nyeri

seperti

penyebab nyeri, berapa

lama

nyeri

akan

berkurang dan antisipasi


ketidaknyamanan

dari

prosedur
Mengkolaborasi
kandengan
dalam

dokter
pemberian

analgetik

untuk

mengurangi nyeri
3.

Resiko

infeksi

berdasarkan

Kamis,

Memonitortandadangejalai

S: -

13

nfeksisistemikdanlokal
Memonitorkerentananterha

O: Kulit dan membran

dengan factor Oktobe


resiko
r 2016

dapinfeksikulitdanmembran
mukosaterhadapkemerahan,

prosedur
invasif

panas, dandrainase
Meninstruksikanpengunjug

mukosa

pasien

tidak

terdapat kemerahan dan


tidak terasa panas.
A: Masalah Resiko infeksi

mencucitangansaatdansetel

berdasarkan dengan factor

ahberkunjung
Mendorong

resiko prosedur invasive

masukkan

nutrisi dan cairan yang

cukup.
Mengajarkan

menghindari infeksi.
Memberikan
terapi

sudah terjadi.
P: Intervensi dihentikan.

cara

antibiotik pada klien

4.

Ansietas

Kamis,

berhubungan

13

pendekatan

dengan

Oktobe

prognosis

r 2016

menenangkan
Menyatakan

pembedahan,
tindakan
invasif

Menggunakan

S:

Pasien

mengatakan

yang sudah tidak cemas lagi.


O: Paasien terlihat relaks

dengan karena sudah meminum


jelas harapan terhadap obat untuk mengurangi
klien
kecemasan.
Mengidentifikasi tingkat
A: Masalah

Ansietas

diagnostik.

kecemasan
berhubungan
dengan
Menemani klien untuk prognosis pembedahan,
memberikan keamanan tindakan
invasif
dan mengurangi takut
diagnostik.
Membantu
klien
P: Intervensi dihentikan.
mengenal situasi yang
menimbulkankecemasan
Menginstruksikan klien
menggunakan

tehnik

relaksasi
Mengkolaborasikan
pemberian obat untuk
mengurangi kecemasan

BAB IV PENUTUP
4.1.

Kesimpulan
Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai
macam traumabaik tumpul maupun trauma tajam yang terbanyak pada sistem
urogenitalia. Penyebab utama trauma ginjal yaitu Trauma tumpul, Trauma
iatrogenik, Trauma tajam dan penyebab lainnya seperti penolakan transplantas
iginjal, melahirkan dapat menyebabkan laserasi spontan ginjal. Jika tidak
ditangani dengan cepat maka terjadi komplikasi cedera minor dan cedera mayor.
Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis paling utama ialah
Urinalisa, darah rutin dan kreatinin. Urinalisa merupakan pemeriksaan penting
untuk mengetahui adanya cedera pada ginjal. Hematuria mikroskopis atau gross,
sering terlihat tetapi tidak cukup sensitif dan spesifik untuk membedakan apakah
suatu trauma minor atau mayor Tambahan pula, untuk trauma ginjal yang berat
seperti robeknya ureteropelvic junction, trauma pedikel ginjal, atau trombosis
arteri dapat tampil tanpa disertai dengan hematuria dan Intravenous Urografi

(IVU) karena digunakan untuk menilai tingkat kerusakan ginjal dan menilai
keadaan ginjal kontralateral.
Pada pengkajian pasien dengan trauma ginjal klien mengeluh nyeri pada
abdomen, hematuria, dan mengalami pendarahan. Sedangkan, Dalam asuhan
kepererawatan maka ditegakkan beberapa diagnosa dimana diagnosa utama ialah
Risiko syok hipovolemik berdasarkandengan faktor resiko hipovolemi karena
berhubungan dengan trauma ginjal yang di dalam ginjal terdapat pembuluh darah
arteri maka jika tidak ditangani dengan cepat akan terjadi perdarahan dan bisa
terjadinya syok hipovolemi yang menyebabkan timbulnya berbagai komplikasi.

4.2.

Saran
Trauma pada system perkemihan sangat fatal akibatnya bagi kesehatan
tubuh. Hal ini tidak bisa ditindaklanjuti sembarangan. Diperlukan penanganan
khusus dan serius agar tidak terjadi komplikasi yang lebih parah lagi. Bahkan
sampai penanganannya memerlukan pembedahan. Untuk itu agar tidak terjadi
trauma system perkemihan dapat tertangani dengan baik maka sebaiknya kita
mempercayakan kepada tim medis yang sudah berpengalaman dan mengerti
mengenai penanganan masalah trauma system perkemihan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Alsikafi, N.F., Rosenstein, D.I., 2006. Stagging, Evaluation, and Nonoperative


Management of Renal injuries. Urologic Clinics of North America.
Baverstock, R. 2001. Severe Blunt Renal Trauma: A 7-year Retrospective Review
from a Provincial Trauma centre. CanJournal Urology, 8(5), pp. 1372-6
DuBose et al., 2007. Selective Non-Operative Management of Solid Organ Injury
Following Abdominal Gunshot Wounds. Injury 38(9).
Doengoes, Marylinn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Ed: 3. Jakarta: EGC
Grimsby et al. 2014. Demographics of Pediatric Renal Trauma. Journal Urology,
192(5), pp. 1498-502.
Hammer, C.C., Santucci, R.A., 2003. Effect of an Institutional Policy of
Nonoperative Treatment of Grades I to IV Renal Injuries. Journal Urology,
169.
Lusaya. 2015. Renal Trauma. Medscape.

Muttaqin, Arif. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta:


Salemba Medika.
Purnomo, B. 2011. Dasar-dasar Urologi. Jakarta: Sagung Seto.
Smeltzer & Bare. 2001. Buku

Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and

Suddart. Jakarta: EGC.


Summerton et al. 2014. Guidelines on Urological Trauma. European Association of
Urology.