Anda di halaman 1dari 26

SISTEM SENSORI PERSEPSI

ASUHAN KEPERAWATAN KATARAK

Ns.Sukarni, M.Kep
DISUSUN OLEH
1. SUCI RAMADHANTY
2. AVELINTINA B.C
3. AULIA SAFITRI
4. YOSSY CLAUDIA EVAN
5. DESKA KURNIASARI
6. SYAHRONI
7. DEVILIANI
8. INDRI TRI HANDAYANI
9. NURLAILA RAHMAWATI
10. SYARIFAH RIA RIVANIA

I1032141005
I1032141008
I1032141010
I1032141011
I1032141018
I1032141023
I1032141026
I1031141057
I32112003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat
waktu.
Makalah ini tentang Asuhan Keperawatan Katarak yang disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Sistem Sensori Persepsi
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ns. Sukarni, M.Kep selaku dosen mata kuliah Sistem Sensori Persepsi yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan demi terselesaikannya makalah ini.
2. Rekan-rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Namun, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah
ini. Oleh karena itu, masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami
harapkan demi perbaikan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca baik itu mahasiswa maupun
masyarakat dan dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan yang berguna untuk kita semua. Akhir
kata kami ucapkan terima kasih.

Pontianak, 25 September 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................................ii
BAB I...............................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...........................................................................................................................1
1.

Latar Belakang......................................................................................................................1

2.

Rumusan Masalah.................................................................................................................1

3.

Tujuan...................................................................................................................................2

BAB II.............................................................................................................................................3
TINJAUAN TEORI.........................................................................................................................3
1.

Definisi.................................................................................................................................3

2.

Etiologi.................................................................................................................................3

3.

Klasifikasi.............................................................................................................................4

4.

Patofisiologi..........................................................................................................................7

5.

Pathway.................................................................................................................................9

6.

Manifestasi Klinis...............................................................................................................10

7.

Pemeriksaan penunjang......................................................................................................10

8.

Penatalaksanaan..................................................................................................................11

BAB III..........................................................................................................................................13
ASUHAN KEPERAWATAN.........................................................................................................13
1.

Pengkajian...........................................................................................................................13

2.

Pemeriksaan Fisik...............................................................................................................13

3.

Pemeriksaan Penunjang......................................................................................................14

4.

Analisa Data........................................................................................................................14

5.

Diagnosa Keperawatan.......................................................................................................15

6.

Intervensi Keperawatan......................................................................................................15

BAB IV..........................................................................................................................................19
PENUTUP.....................................................................................................................................19

1.

Kesimpulan.........................................................................................................................19

2.

Saran...................................................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................22

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kebutaan karena katarak atau kekeruhan lensa mata merupakan masalah
kesehatan global yang harus segera diatasi, karena kebutaan dapat menyebabkan
berkurangnya kualitas sumber daya manusia dan kehilangan produktifitas serta
membutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya (Arimbi, A.T, 2014).
Katarak yang merupakan penyebab utama berkurangnya penglihatan di dunia
diperkirakan jumlah penderita kebutaan katarak di dunia saat ini sebesar 17 juta orang
dan akan meningkat menjadi 40 juta pada tahun 2020. Katarak terjadi 10% orang
Amerika Serikat dan prevalensi ini meningkat sampai sekitar 50% untuk mereka yang
berusia antara 65-74 tahun dan sampai sekitar 70% untuk mereka yang berusia lebih dari
75 tahun (Soehardjo, 2004). Katarak merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia seiring dengan adanya transisi epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit
tidak menular. Menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga Survei Kesehatan Nasional
(SKRT - SURKESNAS), prevalensi katarak di Indonesia sebesar 4,99%.
Katarak tidak dapat dicegah kecuali pada kebutaanya yaitu dengan operasi.
Selama ini katarak dijumpai pada orang yang berusia diatas 55 tahun sehingga sering
diremehkan oleh kaum muda, namun saat ini katarak telah ditemukan pada usia muda
(35-40 tahun). Hal ini disebabkan kurangnya asupan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan
tubuh (Ady Novery, 2011). Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya
jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat kelahiran
(katarak kongenital). Dapat juga berhubungan dengan trauma mata tajam maupun tumpul,
penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemik, pemajanan radiasi,
pemajanan yang lama sinar ultraviolet, atau kelainan mata lain seperti uveitis anterior
(Smeltzer, Suzzane C, 2002).
2. Rumusan Masalah
1.1.
Apa definisi katarak?
1.2.
Bagaimana etiologi terjadinya katarak?

1.3.
1.4.
1.5.
1.6.
1.7.
1.8.

Bagaimana klasifikasi katarak?


Bagaimana patofisiologi katarak?
Bagaimana manifestasi klinis katarak?
Bagaimana pemeriksaan penunjang pada katarak?
Bagaimana penatalaksanaan katarak?
Apa komplikasi katarak?

3. Tujuan
1.1.
Mengetahui definisi katarak
1.2.
Mengetahui etiologi terjadinya katarak
1.3.
Mengetahui klasifikasi katarak
1.4.
Mengetahui patofisiologi katarak
1.5.
Mengetahui manifestasi klinis katarak
1.6.
Mengetahui pemeriksaan penunjang pada katarak
1.7.
Mengetahui penatalaksanaan katarak
1.8.
Mengetahui komplikasi katarak

BAB II
TINJAUAN TEORI
1. Definisi
Menurut Mitcheel (2008) katarak merupakan opasitas atau kekeruhan pada lensa
yang bisa bersifat congenital atau didapat (aqusita). Menurut Vaughan (2009) katarak
merupakan kekeruhan lensa yang memiliki derajt kepadatan yang sangat berfariasi dan
dapat di sebabkan oleh berbagai hal, tetapi biasanya berkaitan dengan penuaan. Menurut
Guyton (1990) katarak merupakan abnormalitas lensa yang lazim timbul terutama pada
orang tua, dimana terdapat area keruh atau suram di dalam lensa. Pada stadium dini
pembentukan katarak, protein di dalam serat lensa tepat di bawah kapsula
terdenaturasi.kemudian protein yang sama berkoagulasi untuk membentuk area keruh di
tempat serat protein lensa yang normalnya transparan. Akhirnya dalam stadium lebih
lanjut, sering kalsiu di endapkan di dalam protein yang terkoagulasi, jadi meningkatkan
kekeruhan yang lebih lanjut.
Menurut corwin (2009) katarak merupakan penurunan progresif kejernihan lensa.
Lensa menjadi keruh atau berwarna putih abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang.
Katarak terjadi apabila protein pada lensa yang secara normal transparan terurai dan
mengalami koagulasi pada lensa. Menurut ilyas (2001) katarak merupakan keadaan
dimana terjadi kekeruhan pada serabut lensa atau bahan lensa di dalam kapsul lensa.
Katark adalah suatu keadaan patologik lensa, di mana lensa menjadi keruh akibat hidrasi
cairan lensa, atau denaturasi protein lensa kekeruhan ini terjadi akibat gangguan
metabolism noral lensa yang dapat timbu pada berbagai usia tetentu.
2. Etiologi
Menurut kowalak (2011) penyebab katarak adalah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Penuaan (katarak semilis)


Gangguan kongegital
Abnormalitas kinetic
Rubelamateral selama kehamilan trimester pertama
Katarak traumatic
Cidera benda asing
Uveitis
Glaucoma
Retinitis pigmentosa
Ablasio retina

k.
l.
m.
n.
o.
p.

Diabetes mellitus
Hipoparatiriodisme
Distrofi niotonik
Dermatitis atopic
Pajanan radiasi yang menimbulkan ionisasi atau pajanan sinar infra merah
Obat-obat toksik bagi lensa (prednisone, alkaloid ergod, fenotiazin)
Menurut agoes (2010) katarak terjadi karna berbagai penyebab yang mencakup
paparan sinar ultra violet dan radiasi dalam jangka lama seperti yang terjadi pada orangorang yang terpapar dengan radiasi sinar infra merah misalnya pada pekerja las,
glassblower atau radiasi gelombang mikro, penyakit digeneratif seperti diabetes,
hipertensi, trauma fisik, dan factor usia yang menimbulkan genaturasi protein lensa.
Katarak juga dapat timbul secara congenital. Factor keturunan juga beperan dan di
pikirkan pada mereka yang bersangkutan. Beberapa obat dapat menimbulkan katarak
seperti : kortikosteroid, ezetinibe, dan serokuel.

3. Klasifikasi
Menurut Ilyas (2009), berdasarkan usia katarak diklasifikasikan dalam:
a. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun.
b. Katarak juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun.
c. Katarak senilis, katarak setelah usia 50 tahun.
Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai macam kriteria. Berdasarkan waktu
terjadinya, katarak dibagi menjadi katarak yang didapat dan katarak kongenital (Lang, 2000).
Jenis- jenis katarak terbagi atas :
a. Katarak terkait usia (katarak senilis)
Menurut Khurana (2007), katarak senilis yang disebut juga katarak terkait usia
merupakan katarak didapat yang paling sering terjadi pada orang yang berusia lebih dari
50 tahun. Saat berusia 70 tahun, lebih dari 90% individu menderita katarak senilis.
Keadaan ini biasanya bilateral, namun mata yang satu biasanya dipengaruhi lebih awal
daripada mata yang lainnya.
b. Katarak anak- anak
Katarak anak- anak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
Katarak Kongenital dan Katarak Juvenil
Menurut Ilyas (2009), katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum
atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital
merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat
penanganan yang kurang tepat. Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang

dilahirkan

oleh

ibu-ibu

yang

menderita

penyakit

rubela,

galaktosemia,

homosisteinuri, diabetes melitus, hipoparatiroidisme, toksoplasmosis, inklusi


sitomegalik, dan histoplasmosis. Penyakit lain yang menyertai katarak kongenital
biasanya merupakan penyakit-penyakit herediter seperti mikroftalmus, aniridia,
koloboma iris, keratokonus, iris, heterokromia, lensa ektopik, displasia, retina, dan
megalo kornea. Kekeruhan pada katarak kongenital dapat dijumpai dalam berbagai
bentuk dan gambaran morfologik. Katarak juvenil merupakan katarak yang lembek
dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuk pada usia kurang dari 9 tahun
dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak
kongenital (Ilyas, 2009).
Katarak didapat (Acquired Cataract)
Pada katarak yang didapat, kekeruhan akibat degenerasi terjadi pada serat lensa
normal yang sudah terbentuk. Mekanisme dan penyebab pasti terjadinya degenerasi
lensa pada katarak ini masih belum jelas. Meskipun demikian, faktor-faktor secara
umum seperti faktor fisik, kimia, atau biologi yang mempengaruhi keseimbangan air
dan elektrolit dalam intra dan ekstraselular atau yang dapat mengganggu sistem
koloid dalam serat lensa dapat menyebabkan kekeruhan (Vaughan, Dale, 2000).
c. Katarak Traumatik
Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing dilensa atau
trauma tumpul terhadap bola mata. Lensa menjadi putih segerasetelah masuknya benda
asing karena lubang pada kapsul lensamenyebabkan humor aqueus dan kadang- kadang
korpus vitreum masuk kedalam struktur lensa (Vaughan, Dale, 2000).
d. Katarak Komplikata
Katarak komplikata adalah katarak sekunder akibat penyakit intraokularpada fisiologi
lensa. Katarak biasanya berawal didaerah sub kapsulposterior dan akhirnya mengenai
seluruh struktur lensa. Penyakit- penyakitintraokular yang sering berkaitan dengan
pembentukan katarak adalahuveitis kronik atau rekuren, glaukoma, retinitis pigmentosa
dan pelepasan retina (Vaughan, Dale, 2000).
e. Katarak Toksik
Menurut Rosenfeld (2007), penggunaan jangka panjang kortikosteroid dapat
menyebabkan katarak subkapsular posterior. Insiden ini berhubungan dengan dosis dan
lama pengobatan, serta ada variasi kerentanan individu terhadap terjadinya katarak yang
diinduksi kortikosteroid.

Phenothiazine, golongan utama obat psikotropik, dapat menyebabkan penumpukan


pigmen pada epitelium lensa anterior. Penumpukan pigmen tersebut bergantung pada
dosis dan lama pengobatan.
Penggunaan miotik, antikolinesterase, dapat menyebabkan katarak. Pembentukan
katarak mungkin terjadi pada pasien yang menerima terapi antikolinesterase dalam
jangka waktu yang lama dan yang sering menerima dosis.
Amiodaron, obat antiaritmia, pernah dilaporkan menyebabkan penumpukan pigmen
stellate anterior axial. Pada keadaan ini, kondisi signifikan jarang terjadi (Rosenfeld,
2007).
Penggunaan statin pada manusia menunjukkan tidak adanya hubungan dengan
peningkatan risiko terjadinya katarak. Meskipun demikian, penggunaan bersama
simvastatin dan eritromisin mungkin berhubungan dengan dua sampai tiga kali
peningkatan resiko terjadinya katarak (Rosenfeld, 2007).
f. Katarak Ikutan
Katarak ikutan menunjukkan kekeruhan kapsul posterior akibat kataraktraumatik
yang terserap sebagian atau setelah terjadinya ekstraksi katarakekstrakapsular.(Vaughan,
Dale, 2000).
g. Katarak Metabolik
Diabetes melitus merupakan salah satu etiologi katarak metabolik. Katarak terkait
umur terjadi lebih awal pada penderita diabetes. Katarak nuklear lebih ering terjadi dan
mempunyai kemungkinan untuk berkembang dengan cepat (Khurana,2007). Diabetes
melitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksi lensa, dan amplitudo
akomodasi lensa. Jika kadar glukosa di dalam darah meningkat, kadar glukosa di dalam
aqueous humor juga meningkat. Karena glukosa yang berasal dari aqueous humor masuk
ke dalam lensa secara difusi, kadar glukosa di dalam lensa pun akan meningkat. Beberapa
dari glukosa tersebut akan dimetabolisme oleh enzim aldose reduktase menjadi sorbitol
yang tidak dapat dimetabolisme lagi, tetapi menetap di dalam lensa. Hal ini akan
menyebabkan peningkatan tekanan osmotik di dalam lensa yang mengakibatkan serat
lensa membengkak. Hidrasi lentikular tersebut dapat mengganggu kekuatan refraksi lensa
(Rosenfeld, 2007)
h. Katarak Akibat Radiasi
Menurut Khurana (2007), paparan terhadap berbagai jenis energi radiasi dapat
menyebabkan terjadinya katarak akibat kerusakan pada epitelium lensa. Paparan berlebih

(bertahun-tahun) terhadap sinar inframerah dapat menyebabkan kekeruhan lensa


subkapsular posterior dan pengelupasan kapsul anterior lensa.
Hal ini sering terjadi pada orang-orang yang bekerja pada industri kaca, sehingga
sering disebut sebagai glass-blowers atau glass-workers cataract. Paparan terhadap
sinar X, sinar , atau neutron mungkin berhubungan dengan katarak iradiasi. Dalam
berbagai penelitian, radiasi ultraviolet berhubungan dengan terjadinya katarak senilis.
i. Katarak Elektrik
Katarak elektrik diketahui terjadi setelah lewatnya listrik yang kuat di dalam tubuh
(Khurana, 2007). Syok elektrik dapat menyebabkan koagulasi protein dan pembentukan
katarak. Awalnya vakuol lensa muncul pada bagian pertengahan perifer anterior lensa,
diikuti dengan kekeruhan linier korteks subkapsular anterior (Rosenfeld, 2007).
4. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk
seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refleksi yang besar. Lensa mengandung
tiga komponen anatomis. Pada zona sebtral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan
yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior.dengan bertambahnya
usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar opatius
terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus. Opatis pada kapsul
posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna, nampak seperti kristal salju
pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier ke
sekitar daerah di luar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan mengalami
distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga
mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori
menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa.
Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori
lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari
generasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang berbeda. Dapat di
sebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik, seperti diabetes. Namun kebanyakan
merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal. Kebanyakan katarak

berkembang secara kronik ketika seseorang memasuki dekade ketujuh. katarak dapat
bersifat kongenital dan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat
menyebabkan ambliopia dankehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering
berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultravioletB, obat-obatan,
alkohol, merikok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka
waktu tang lama (Smeltzer,2002).

5. Pathway
Perub.
Fisik Lensa
Perub. Serabut
halus multiple
(Zunula)

Proses: degenerasi
Penyakit : DM,
Hipertensi
Faktor Lain : Radiasi,
sinar UV

Koagulasi
Protein
Mengabutkan
pandangan

Hilangnya
transparansi
lensa

Penglihatan m

Kekeruhan
Lensa

Tindakan Bedah

Pupil menjadi
kekuningan, abuabu atau putih
Mk: Gangguan
Citra Tubuh

Perub. Kimia
Lensa

Mk: Resiko
Infeksi
Mk: Ansietas

Mk: Resiko
Cidera

6. Manifestasi Klinis
Menurut Ilyas (2001), akibat kekeruhan lensa maka penglihatan berangsur-angsur
berkurang mula dengan kabur yang pada katarak matur retina hanya dapat mengenal
adanya sinar yang datang. Bila tidak diobati maka maa akan buta sama sekali.
Pada pupil akan terlihat gambaran kekeruhan lensa yang biasanya berwarna putih.
Warna pupil dapat berwarna kuning atau coklat. Benda yang dilihat dapat berwarna
sedikit kekuning-kuningan. Penglihatan malam atau pada penerangan kurang sangat
menurun. Pada penerangan yang keras atau matahari yang kuat akan sangat sukar akibat
adanya rasa silau. Malam disaat melihat cahaya terang dapat terlihat adanya halo atau
warna pelangi.
7. Pemeriksaan penunjang
- Kartu mata snellen /mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan): mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus atau vitreus
humor, kesalahn refraksi, atau penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina atau jalan
-

optik.
Lapang penglihatan: penurunan mungkin di sebabkan oleh CSV, massa tumor pada

hipofisis /otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.


Pengukuran tonografi : mengkaji intraokular (TIO) (normal 12-25 mmHg)
Pengukuran ganioskopi : membantu membedakan sudut terbuka dari tertutup glaukoma.
Tes provokatif: digunakan dalam menentukan adanya /tipe glaukoma bila TIO normal

atau hanya meningkat ringan.


Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur interrnal okuler, mencacat atrofi lempeng
optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroanurisme. Dilatasi dan pemeriksaan

belahan lampu memastikan diagnosa katarak.


Darah lengkap, laju sedimentasi (LED): menunjukan anemia sistemik/infeksi.
EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: dilakukan untuk memastikan

ateroksklerosis, PAK.
Tes toleransi glukosa/FBS : Menentukan adanya/kontrol diabetes.

10

8. Penatalaksanaan
Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun sedemikian rupa
sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah menimbulkan penyulit seperti
glaukoma dan uveitis (Mansjoer,2000). Dalam bedah katarak, lensa diangkat dari mata
(ekstraksi lensa) dengan prosedur intrakapsular atau ekstrapsular. Ekstraksi intrakapsular
yang jarang lagi dilakukan saat ini adalah mengangkat lensa in toto, yakni didalam
kapsulnya melalui insisi limbus superior 140-160o. Pada ekstraksi ektrakapsular juga di
lakukan insisi limbus superior, bagian anterior kapsul di potong dan diangkat, nukleus
diekstrasikan dan korteks lensadibuang dari mata dengan irigasi dan aspirasi atau tanspa
aspirasi sehingga menyisakan kapsul posterior.
Fakorfragmentasi dan fakoemulsifikasi dengan irigasi atau aspirasi (atau keduanya)
adalah tekhnik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran ultrasonik untuk
mengangkat nukleus dan korteks melalui insisi lumbus yang kecil (2-5 mm), sehingga
mempermudah luka pasca operasi. Tekhnik ini kurang bermanfaat pada katarak senilis
yang padat dan keuntungan insisi lumbus yangf kecil agak berkurang jika dimasukkan
lensa intraokular. Pada beberapa tahun silam, operasi katarak ektrakapsular telah
menggantikan prosedur intrakapsular sebagai jenis bedak katarak yang paling sering.
Alasan utamanya adalah bahwa apabila kapsul posterior utuh, ahli bedah dapat
memasukan lensa intra okuler ke dalam kamera posterior insiden komplikasi pasca
operasi seperti abasio retina dan edema makula lebih kecil bilakapsul posteriornya utuh.
Jika dugunakan tekhnik insisi kecil, maka penyembuhan pasca operasi biasanya leboh
pendek. Pasien dapat bebas rawat jalan pada hari operasi tiu juga, tetapi di anjurkan untuk
bergerak dengan hati-hati dan menghindari peregangan atau mengangkat benda berat
selama sekitar satu bulan. Matanya dapat di balut selama beberapa hari, tetapi kalau
matanya terasa nyaman, balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan
matanya di lindungi oleh kacamata. Perlindungan pada malam hari dengan pelindung
logam di perlukan selama beberapa minggu.kacamata sementara dapat digunakan
beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien melihat dengan cukup baik melalui
lensa intraokuler sambilmenantikan kacamata permanen (Vaughan,2000).
9. Komplikasi
Bila katarak di biarkan maka akan terjadi koplikasi berupa glaukoma dan uveitis .
glaukoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler yang menyebabkan atrofo saraf

11

optik dan kebutaan bila tidak teratasi (Doengoes,2000). Uveitis adalah inflamasi salah satu
struktur traktur uvea (Smeltzer,2002).

12

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1.1.
Anamnesis
Identitas penderita Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,
pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk
rumah sakit dan diagnosa medis.
Keluhan Utama
- Penurunan ketajaman penglihatan secara progresif
- Pengembunan, berkabut, dan penglihatan terasa seperti tertutup
- Pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi

1.2.

bayangan dan susah melihat di malam hari


Pupil, yang normalnya hitam, akan tampak kekuningan, abu-abu atau putih.
1.3.
Riwayat Penyakit Sekarang
Ditemukan tanda dan gejala dari katarak seperti penurunan ketajaman penglihatan
-

yang progresif, penglihatan terasa tertutup, pandangan kabur dan menyilaukan


dengan penerangan, sulit melihat pada malam hari serta perubahan warna pupil
menjadi tampak kekuningan, putih atau abu-abu
Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat masalah penglihatan sebelumnya, riwayat penyakit diabetes mellitus,

1.4.

hipertensi dan penyakit metabolic lain yang merupakan faktor predisposisi terjadinya
katarak.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat masalah penglihatan dalam keluarga, diabetes militus, hipertensi, dan lain-

1.5.

lain
2. Pemeriksaan Fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada
pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer, 2002). Katarak
terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa dengan oftalmoskop
direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan katarak secara rinci dan
identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait usia biasanya terletak didaerah
nukleus, korteks, atau subkapsular. Katarak terinduksi steroid umumnya terletak di
subkapsular posterior. Tampilan lain yang menandakan penyebab okular katarak dapat

13

ditemukan, antara lain deposisi pigmen pada lensa menunjukkan inflamasi sebelumnya
atau kerusakan iris menandakan trauma mata sebelumnya (James, 2005)
3. Pemeriksaan Penunjang
- Kartu mata snellen /mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan): mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, akueus atau
vitreus humor, kesalahn refraksi, atau penyakit sistem saraf atau penglihatan ke retina
-

atau jalan optik.


Lapang penglihatan: penurunan mungkin di sebabkan oleh CSV, massa tumor pada

hipofisis /otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.


Pengukuran tonografi : mengkaji intraokular (TIO) (normal 12-25 mmHg)
Pengukuran ganioskopi : membantu membedakan sudut terbuka dari tertutup

glaukoma.
Tes provokatif:

normal atau hanya meningkat ringan.


Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur interrnal okuler, mencacat atrofi

digunakan dalam menentukan adanya /tipe glaukoma bila TIO

lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroanurisme. Dilatasi dan


-

pemeriksaan belahan lampu memastikan diagnosa katarak.


Darah lengkap, laju sedimentasi (LED): menunjukan anemia sistemik/infeksi.
EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: dilakukan untuk memastikan

ateroksklerosis, PAK.
Tes toleransi glukosa/FBS : Menentukan adanya/kontrol diabetes.

4. Analisa Data
DATA
1. P Penglihatan
2. Pandangan
seperti berkabut

kabur

1. Penglihatan
semakin
menurun
2. Pupil
berubah
warna
(kekuningan,
abu-abu,
putih)

ETIOLOGI
Proses degenerasi

Perub. Kimia lensa

Koagulasi protein

Mengabutkan pandangan

Penglihatan menurun
Proses degenerasi

Perub. Fisik lensa

Perub serabut halus

MASALAH
1. Resiko Cidera
2. Ansietas

Resiko Infeksi

14

multiple(Zunula)

Hilangnya transparansi lensa

Pupil berubah warna

Penglihatan menurun

Tindakan bedah
Pupil
berubah
warna
(Kekuningan, abu-abu, putih)

Proses degenerasi

Perub. Fisik lensa

Perub serabut halus


multiple(Zunula)

Hilangnya transparansi lensa

Pupil berubah warna

Gangguan Citra Tubuh

5. Diagnosa Keperawatan
5.1.
Resiko cidera b.d keterbatasan penglihatan
5.2.
Ansietas b.d perubahan status kesehatan
5.3.
Resiko infeksi b.d prosedur invasif
5.4.
Gangguan citra tubuh b.d penyakit, pembedahan, perseptual
6. Intervensi Keperawatan
N Diagnosa NOC
o.

NIC

Rasional

15

1.

Resiko
cidera b.d
keterbatas
an
penglihata
n

Tujuan: Klien dapat


terbebas dari resiko
cidera
Kriteria Hasil:
Klien terbebas
dari cidera
Klien
mampu
menjelaskan
cara/metode
untuk mencegah
cidera
Klien
mampu
memodifikasi
gaya
hidup
untuk mencegah
cidera

1. Sediakan
lingkungan
yang
aman untuk pasien
2. Menghindarkan
lingkungan
yang
berbahaya
3. Menganjurkan
keluarga
untuk
menemani klien

2.

Ansietas
b.d
perubahan
status
kesehatan

Tujuan: Klien tidak


merasa cemas dengan
perubahan
status
kesehatannya
Kriteria Hasil:
Klien
mampu
mengidentifikasi
dan
mengungkapkan
gejala cemas
Mengidentifikas
i,
mengungkapkan
dan
menunjukkan
teknik
untuk
mengontrol
cemas
TTV normal

1. Gunakan
pendekatan yang
menenangkan
2. Jelaskan
tentang
penyakit
dan
prosedur yang akan
dijalani klien
3. Identifikasi tingkat
kecemasan klien
4. Dorong klien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan
dan persepsi
5. Instruksikan klien
menggunakan
teknik relaksasi

1. Klien dengan
gangguan
penglihatan
harus
beradaptasi
dengan
lingkungan
sekitarnya
2. Lingkungan
yang
berbahaya
dapat
menyebabka
n klien cidera
3. Keluarga
dapat
membantu
klien dengan
masalah
penglihatann
ya
1. Pendekatan
dengan
tenang dapat
membuat
klien tenang
pula
dan
menjalin
hubungan
saling
percaya
2. Kurangnya
pengetahuan
tentang
penyakit dan
prosedur
penatalaksan
aan
dapat
memicu
terjadinya
cemas

16

3. Dengan
mengetahui
tingkat
kecemasan
klien,
perawat
dapat
memberikan
asuhan yang
tepat
4. Dengan
mengungkap
kan perasaan
klien
diharapkan
dapat
menurunkan
tingkat
kecemasanny
a
5. Teknik
relaksasi
dapat
membantu
klien
mengatasi
kecemasanny
a.
3.

Resiko
Tujuan: Klien terhindar
infeksi b.d dari infeksi
Kriteria Hasil:
prosedur
Klien bebas dari
invasif
tanda dan gejala
infeksi
Menunjukkan
kemampuan
untuk mencegah
timbulnya
infeksi
Jumlah leukosit

1. Diskusikan
pentingnya
mencuci
tangan
sebelum
menyentuh/mengob
ati mata
2. Tekankan
pentingnya
tidak
menyentuh/mengga
ruk mata yang
dioperasi
3. Observasi/diskusik

1. Menurunkan
jumlah
bakteri pada
tangan,
mencegah
kontaminasi
area operasi
2. Mencegah
kontaminasi
dan
kerusakan
sisi operasi

17

dalam
normal

4.

Gangguan
citra tubuh
b.d
penyakit,
pembedah
an,
perseptual

batas

an tanda terjadinya
infeksi (kemerahan,
kelopak bengkak,
drainase purulen)
4. Kolaborasi
pemberian
antibiotic
jika
terjadi infeksi

3. Infeksi mata
dapat terjadi
2-3
hari
setelah
prosedur
operasi dan
memerlukan
upaya
intervensi
4. Terapi jika
terjadi
infeksi

Tujuan: Klien memiliki


pandangan
positif
tentang
perubahan
fisiknya
akibat
perubahan
status
kesehatan
Kriteria Hasil:
Klien memiliki
body
image
positif
Mampu
mengidentifikasi
kekuatan
personal
Mendeskripsika
n secara faktual
perubahan
fungsi tubuh
Mempertahanka
n interaksi sosial

1. Kaji secara verbal


dan
non-verbal
respon
klien
terhadap tubuhnya
2. Monitor frekuensi
mengkritik dirinya
3. Jelaskan
pengobatan,
kemajuan
dan
prognosis penyakit
4. Dorong
klien
mengungkapkan
perasaannya
5. Fasilitasi
kontak
dengan
individu
lain
dalam
kelompok kecil

1. Mengetahui
persepsi
klien tentang
perubahan
fisiknya
2. Mengkritik
dirinya
menunjukkan
bahwa klien
tidak
menerima
apa
yang
terjadi pada
tubuhnya
3. Pengetahuan
dan
informasi
yang cukup
dapat
membantu
klien berpikir
positif
4. Menunjukka
n pada klien
bukan hanya
klien
yang
mengalami
perubahan

18

fisik tersebut.

BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya
menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena
dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan
yang kabur pada retina. Katarak ada beberapa jenis menurut etiologinya yaitu katarak
senile, kongenital, traumatic, toksik, asosiasi, dan komplikata. Manifestasi dari katarak
adalah Pada pupil akan terlihat gambaran kekeruhan lensa yang biasanya berwarna putih.
Warna pupil dapat berwarna kuning atau coklat. Benda yang dilihat dapat berwarna
sedikit kekuning-kuningan. Penglihatan malam atau pada penerangan kurang sangat
menurun. Pemeriksaan penunjang katarak, kartu mata snellen /mesin telebinokular (tes
ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan), lapang penglihatan,

pengukuran

tonografi, pengukuran ganioskopi, tes provokatif, pemeriksaan oftalmoskopi, darah


lengkap, laju sedimentasi (LED ). Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan sudah
menurun sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah
menimbulkan penyulit seperti glaukoma dan uveitis
2.

Saran
Karena kekeruhan (opasitas) lensa sering terjadi akibat bertambahnya usia sehingga
tidak diketahui pencegahan yang efektif untuk katarak yang paling sering terjadi.
Penggunaan pelindung mata ketika memotong rumput, membersihkan semak dan
kandang, bekerja dengan logam atau berpartisipasi dalam olah raga dapat menurunkan

19

insiden terjadinya katarak traumatic dengan pencegahan terhadap cedera, perawatan


secara teratur pada DM, hipoparatiroid, dan edermatitis atopik dapat mengurangi insiden
terjadinya katarak yang berhubungan dengan penyakit sistemik ini. Disarankan agar
banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit.C ,vit.A dan vit E.

20

21

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Azwar, et.al.2010. Penyakit di Usia Tua. Jakarta:EGC.


Doenges, M.E,. Moorhouse dan M.F, Geissler A.C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3.
Jakarta: EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Fausto, Mitchell Kumar Abbas. 2008. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit, Edisi 3. Jakarta:
EGC.
Guyton. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Edisi 3. Jakarta: EGC.
Ilyas, Sidarta.2001. Atlas Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Sagung Seto.
Kowalah, Jennifer P. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Khurana, A.K., 2007. Comprehensive Ophthalmology . 4th ed. New Delhi: New Age
International (P) Limited.
M, Dina Octafarida. 2011. Hubungan Merokok dengan Katarak di Poliklinik Mata Rumah Sakit
Umum

Pusat

Haji

Adam

Malik

Medan.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/25418. Di akses tanggal 21 September


2016.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Rofiudin, Adib. 2011. Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Post Operasi Katarak Di Ruang
Kenanga

Rsud

H.Soewondo

Kendal.

http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?

mod=browse&op=read&id=jtptunimus-gdl-adibrofiud-6318. Di akses tanggal 23


September 2016.
Smeltzer, C Suzanne. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner & Suddarth).
Jakarta: EGC.
Thomson, A.D. I997. Catatan Kuliah Patologi, Edisi 3.Jakarta: EGC.
Vaughan, Daniel . 2000. Oftalmologi Umum, Edisi 14. Jakarta: Widya Medika.

22