Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC

(Mycobacterium tuberculosis).Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2002).
Tuberkulosis adalah suatu infeksi menular dan bisa berakibat fatal, yang disebabkan oleh
Mycobacterium

tuberculosis,

Mycobacterium

bovis

atau

Mycobacterium

africanum.

Tuberkulosis menunjukkan penyakit yang paling sering disebabkan oleh Mycobacterium


tuberculosis, tetapi kadang disebabkan oleh M.bovis atau M.africanum. Bakteri lainnya
menyebabkan penyakit yang menyerupai tuberkulosis, tetapi tidak menular dan sebagian besar
memberikan

respon

yang

buruk

terhadap

obat-obatan

yang

sangat

efektif mengobati tuberkulosis (Medicastore, 2011 diakses tanggal 19 April 2012).


Mycobacterium tuberculosis telah meng-infeksi sepertiga penduduk dunia. Pada tahun 1993,
WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TBC, karena pada sebagian besar negara di
dunia, penyakit TBC tak terkendali.Ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil
disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif) (Departemen Kesesehatan RI, 2002).
Tuberkulosis masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang tersering di Indonesia.
Keterlambatan dalam menegakkan diagnosa dan ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan
mempunyai dampak yang besar karena pasien Tuberkulosis akan menularkan penyakitnya pada
lingkungan,sehingga

jumlah

penderita

semakin

bertambah.

Pengobatan

Tuberkulosis

berlangsung cukup lama yaitu setidaknya 6 bulan pengobatan dan selanjutnya dievaluasi oleh
dokter apakah perlu dilanjutkan atau berhenti, karena pengobatan yang cukup lama seringkali
membuat pasien putus berobat atau menjalankan pengobatan secara tidak teratur, kedua hal ini
ini fatal akibatnya yaitu pengobatan tidak berhasil dan kuman menjadi kebal disebut MDR
(Multi Drugs Resistance), kasus ini memerlukan biaya berlipat dan lebih sulit dalam
pengobatannya sehingga diharapkan pasien disiplin dalam berobat setiap waktu demi
pengentasan tuberkulosis di Indonesia (Wikipedia, 2010 diakses tanggal 19 April 2009).
Pada tahun 1995, diperkirakan setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru TBC dengan
kematian 3 juta orang (WHO, Treatment of Tuberculosis, Guidelines for National Programmes,

1997). Di Negara-negara berkembang kematian TBC merupakan 25% dari seluruh kematian,
yang sebenarnya dapat dicegah. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang,
75% penderita TBC adalah kelompok usia produktif (15-50 tahun). Menurut data Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, TBC merupakan penyebab kematian ketiga
terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan merupakan nomor
satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi.Menurut laporan WHO (1999), Indonesia
merupakan penyumbang penyakit TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina.Tahun
1999, WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TBC dengan kematian
karena TBC sekitar 140.000.Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia
terdapat 130 penderita baru TBC paru BTA positif (Departemen Kesesehatan RI, 2002). Tahun
2009, di Indonesia ditemukan 566.000 pasien TB (224 per 100.000 penduduk, WHO, 2009).
Setiap tahunnya diperkirakan ditemukan suspek TB sebanyak 528.000 orang (228 per 100.000
penduduk), dan pada setiap tahunnya diperkirakan ditemukan 102 per 100.000 penduduk kasus
BTA positif (+), sedangkan kematian TB sebanyak 90.000 orang per tahunnya. Tahun 2010,
ditemukan 1.718.193 suspek TB, 181.125 kasus TB BTA positif (+), dan 3250 pasien meninggal
akibat TB
Pada akhir tahun 2013 ini diketahui dan diakui oleh Menteri Kesehatan bahwa selama 12
tahun terakhir ada peningkatan pelaporan kasus baru TB. Tercatat hingga triwulan pertama di
tahun 2013 angka notifikasi kasus semua kasus baru mencapai 132 per 100 ribu penduduk dan
BTA positif sebesar 82 per 100 ribu penduduk serta angka keberhasilan pengobatan sebesar 91
persen. Ini artinya keberhasilan pengobatan telah melebihi target global yaitu sebesar 85 persen
Dalam penyebaran penyakit TB salah satu komponen terbesarnya yaitu rumah beserta
lingkungannya dimana penularan yang utama dapat terjadi di dalam rumah dari orang ke orang
yang terdapat didalamnya.
Rumah merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana
pembinaan keluarga. Kriteria rumah sehat menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia
antara lain harus memenuhi kebutuhan antara lain lokasi, kulaitas udara, kebisingan dan getaran,
sarana dan prasarana lingkungan, vector penyakit dan penghijauan. Penilaian terhadap rumah
sehat menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia juga, harus memenuhi tiga criteria
yaitu komponen rumah, komponen sanitasi dan perilaku penghuni rumah.

Dalam kenyataannya, komponen penilaian tersebut sukar dipenuhi dan sebagian besar
penyebab bagi penduduk karena faktor ekonomi, karena keadaan tersebut biasanya terjadi pada
kelompok miskin di pedesaan. Tempat tinggal mereka biasanya tidak adekuat berfungsi sebagai
pelindung diri dari bahaya kesehatan. Strategi yang dapar dilakukan uniuk perlindungan atau
pencegahan terhadap penularan penyakit tuberkulosis paru, dilakukan dengan peningkatan
kualitas rumah serta fasilitas pendukungnya.
1.2 TUJUAN MAKALAH
1. Memenuhi mata kuliah Public Health Oriented Program (PHOP) 3
2. Mengetahui mengenai penyakit TB dan penularannya.
3. Mengetahui syarat rumah sehat dan cara penilaiannya.
4. Mengetahui rumah yang berisiko terjadinya penularan TB.
1.3 MANFAAT MAKALAH
Dapat mengetahui mengenai syarat rumah sehat, cara menilai rumah sehat serta rumah
yang berisiko menjadi tempat penularan penyakit TB.