Anda di halaman 1dari 18

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi TB
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis
complex.
2.2 Klasifikasi TB
1) Kasus Baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan.
2) Kasus Kambuh (Relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan
positif.
3) Kasus Defaulted Atau Drop Out
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil
obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
4) Kasus Gagal Pengobatan
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali positif pada
akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir pengobatan.
5) Kasus Kronik
Adalah pasien dengan hasil pemerksaan BTA positif setelah selesai pengobatan
ulang dengan kategori 2 dengan pengawasan yang baik
2.3 Gejala TB
2.3.1 Gejala Sistemik Tuberkulosis
1. Secara sistemik pada umumnya penderita akan mengalami demam. Demam
berlangsung pada sore dan malam hari, disertai keringat dingin meskipun tanpa
aktifitas, kemudian kadang hilang. Gejala ini akan timbul lagi beberapa bulan
kemudian seperti demam, influenza biasa, dan kemudian seolah-olah sembuh tidak
ada demam.

2. Gejala lain adalah malaise (perasaan lesu) bersifat berkepanjangan kronis, disertai
rasa tidak fit, tidak enak badan, lemah, lesu, pegal-pegal, nafsu makan berkurang,
badan semakin kurus, pusing, serta mudah lelah. Gejala sistemik ini terdapat baik
pada TB Paru maupun TB yang menyerang organ lain.
2.3.2

Gejala Respiratorik Tuberkulosis


1. Adapun gejala repiratorik atau gejala saluran pernafasan adalah batuk. Batuk bisa
berlangsung secara terus-menerus selama 3 mingggu atau lebih. Hal ini terjadi apabila
sudah melibatkan brochus. Gejala respiratorik lainnya adalah batuk produktif sebagai
upaya untuk membuang ekskresi peradangan berupa dahak atau sputum. Dahak ini
kadang bersifat purulent.
2. Kadang gejala respiratorik ini ditandai dengan batuk berdarah. Hal ini disebabkan
karena pembuluh darah pecah, akibat luka dalam alveoli yang sudah lanjut. Batuk
darah inilah yang sering membawa penderita berobat ke dokter. Apabila kerusakan
sudah meluas, timbul sesak nafas dan apabila pleura sudah terkena, maka disertai pula
dengan rasa nyeri pada dada.

2.4 Transmisi TB
M. tuberculosis ditularkan dari orang ke orang melalui jalan udara. Infeksi dapat terjadi
setelah orang yang tidak terinfeksi menghirup droplet pernapasan yang mengandung bakteri M.
tuberculosis. Umumnya ditularkan dari seorang pasien yang menderita TB paru dengan batuk.
Contoh lain seperti menguap, membuang ludah sembarangan, bersin, berbicara, bernyanyi, atau
tertawa.
Ketika dihirup, partikel-partikel ini cukup kecil (1 sampai 5 pM dalam ukuran) untuk
menghindari pertahanan saluran nafas atas dan menetap di alveoli paru-paru, yang menyebabkan
infeksi pada host sangat rentan. Beberapa faktor yang menentukan kemungkinan transmisi
tuberkulosis :
1. Penularan dari pasien dengan dahak positif basil asam atau rongga di dada
dengan hasil radiografi yang sangat terkait dengan penularan.
2. Kerentanan kontak dengan host.
3. Durasi paparan yang lama dan sering kontak kepada pasien.

4. Lingkungan, di mana paparan berlangsung kecil, ventilasi ruangan yang buruk pun
memberikan risiko tertinggi. Lingkungan yang sesuai berarti ruang kecil tertutup dan
sempit dengan ventilasi yang buruk dan tekanan udara positif.
5. Panjang paparan dari orang rentan terhadap orang transmisi infeksi. Semakin lama durasi
paparan, kedekatan atau kedekatan dengan orang yang terinfeksi, dan frekuensi paparan,
semakin tinggi risiko terkena infeksi.
2.5 Syarat Rumah Sehat
Persyaratan kesehatan perumahan adalah ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi
dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim di perumahan dan
masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan. Persyaratan kesehatan perumahan yang
meliputi persyaratan lingkungan perumahan dan pemukiman serta persyaratan rumah itu sendiri,
sangat diperlukan karena pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar terhadap
peningkatan derajat kesehatan individu, keluarga dan masyrakat.
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut keputusan
Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi parameter sebagai
berikut:
1. Lokasi
a.

Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran lahar,

b.

tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa dan sebagainya.


Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah atau bekas

c.

tambang.
Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti jalur
pendaratan penerbangan.
2. Kualitas Udara
Kualitas udara di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas beradun dan
memenuhi syarat baik mutu lingkungan sebagai berikut:
a. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi.
b. Debu dengan diameter kurang dari 10 g maksimum 150 g/m3.
c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm.
d. Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari
3. Kebisingan dan Getaran
a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik.

c.

Kualitas Tanah di Daerah Perumahan dan Pemukiman.


- Kandungan timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg.
- Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
- Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
- Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1mg/kg
4. Prasarana dan Sarana Lingkungan
a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan konstruksi yang
aman dari kecelakaan.
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor penyakit.
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak mengganggu
kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki dan penyandang cacat,
jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu penerangan jalan tidak menyilaukan
mata.
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas yang memenuhi persyaratan
kesehatan.
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi syarat
kesehatan.
f. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat kerja, tempat
hiburan, tempat pendidikan, kesenian dan lain sebagainya.
g. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya.
h. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi kontaminasi makanan
yang dapat menimbulkan keracunan.
5. Vektor Penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat.
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%
6. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan pelindung dan juga
berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.

Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut (PPM &
PL, 2011) :
1.

Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan ruang


gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.

2.

Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi yang
sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.

3.

Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah


dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas
vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar
matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping
pencahayaan dan penghawaan yang cukup.

4.

Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena


keadaan luar maupun dalam rumah, antara lain persyaratan garis sempadan jalan,
konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung
membuat penghuninya jatuh tergelincir.

2.5.1 Parameter Penilaian Rumah Sehat


Lingkup penilaian rumah sehat dilakukan terhadap kelompok komponen rumah, sarana
sanitasi dan perilaku penghuni, sebagai berikut :
2.5.1.1 Kelompok Komponen Rumah
a. Langit-langit
Adapun persyaratan untuk langit-langit yang baik adalah :
- langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain yang jatuh dari atap.
- langit-langit harus menutup rata kerangka atap kuda-kuda penyangga dengan
-

konstruksi bebas tikus.


tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan lantai kecuali
dalam

hal

langit-langit/kasau-kasaunya

miring

sekurang-kurangnya

mempunyai tinggi rumah 2,40 m dan tinggi ruang selebihnya pada titik
-

terendah titik kurang dari 1,75 m, dan


ruang cuci dan ruang kamar mandi diperbolehkan sekurang-kurangnya sampai

2,40 m.
b. Dinding
Adapun syarat-syarat untuk dinding antara lain :
a.
Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri, beban tekanan
angin dan bila sebagai dinding pemikul harus pula dapat memikul beban diatasnya,
b.
Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air rapat air sekurangkurangnya 15 cm dibawah permukaan tanah sampai 20 cm di atas lantai bangunan,
agar air tanah tidak dapat meresap naik keatas, sehingga dinding tembok terhindar
dari basah dan lembab dan tampak bersih tidak berlumut, dan

c.

Lubang jendela dan pintu pada dinding, bila lebarnya kurang dari 1 m dapat

diberi susunan batu tersusun tegak di atas batu, batu tersusun tegak di atas lubang
harus di pasang balok lantai dari beton bertulang atau kayu awet.
d. Untuk memperkuat berdirinya tembok bata digunakan rangka pengkaku yang
terdiri dari plester-plester atau balok beton bertulang setiap luas 12 meter.
c. Lantai
Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban diatasnya. Bahan untuk lantai
biasanya digunakan ubin, kayu plesteran, atau bambu dengan syarat-syarat tidak licin,
stabil tidak lentur waktu diinjak, tidak mudah aus, permukaan lantai harus rata dan
mudah dibersihkan. Macam-macam lantai :
- Lantai tanah stabilitas.
Lantai tanah stabilitas terdiri dari tanah, pasir, semen, dan kapur. Contoh : tanah
tercampur kapur dan semen. Untuk mencegah masuknya air kedalam rumah
sebaiknya lantai dinaikkan 20 cm dari permukaan tanah
- Lantai papan
Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah basah/rawa. Yang perlu
diperhatikan dalam pemasangan lantai adalah :
1. Sekurang-kurangnya 60 cm di atas tanah dan ruang bawah tanah harus ada aliran
tanah yang baik.
2. Lantai harus disusun dengan rapid an rapat satu sama lain, sehingga tidak ada
lubang-lubang ataupun lekukan dimana debu bisa bertepuk. Lebih baik jika lantai
seperti ini dilapisi dengan perlak atau kampal plastik ini juga berfungsi sebagai
penahan kelembaban yang naik dari di kolong rumah.
3. Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan air dan rayap serta
untuk konstruksi di atasnya agar lantai kayu yang telah dikeringkan dan
diawetkan.
- Lantai ubin
Lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan pada bangunan
perumahan karena lantai ubin murah/tahan lama, dapat mudah dibersihkan dan
tidak dapat mudah dirusak rayap.
d. Jendela kamar tidur
Jendela dibuka pada siang hari agar cahaya matahari dapat masuk dan udara dapat
berputar sehingga akan memperkecil resiko penularan penyakit infeksi. Untuk
memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara optimal sebaiknya jendela
kamar tidur menghadap ke timur. Luas jendela yang baik paling sedikit mempunyai

luas 10-20% dari luas lantai. Apabila luas jendela melebihi 20% dapat menimbulkan
kesilauan dan panas, sedangkan sebaliknya kalau terlalu kecil dapat menimbulkan
suasana gelap dan pengap.
Dalam ruang kediaman, sekurang-kurangnya terdapat satu atau lebih banyak
jendela/lubang yang langsung berhubungan dengan udara dan bebas dari rintanganrintangan, jumlah luas bersih jendela/lubang itu harus sekurang-kurangya sama 1/10
dari luas lantai ruangan, dan setengah dari jumlah luas jendela/lubang itu harus dapat
dibuka. Jendela/lubang angin itu harus meluas kearah atas sampai setinggi minimal
1,95 di atas permukaan lantai. Diberi lubang hawa atau saluran angin pada ban atau
dekat permukaan langit-langit ( ceiling ) yang luas bersihnya sekurang-kurangnya 5%
dari luas lantai yang bersangkutan. Pemberian lubang hawa/saluran angin dekat
dengan langit-langit beguna sekali untuk mengeluarkan udara panas dibagian atas
dalam ruangan.
Ketentuan luas jendela/lubang angin tersebut hanya sebagai pedoman yang umum
dan untuk daerah tertentu hanya sebagai pedoman yang umum dan untuk daerah
tertentu, harus disesuaikan dengan keadaan iklim daerah tersebut. Untuk daerah
pegunungan yang berhawa dingin dan banyak angin, maka luas jendela/lubang angin
dapat dikurangi sampai dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk daerah
pantai laut dan daerah rendah yang berhawa panas dan basah, maka jumlah luas
bersih jendela, lubang angin harus diperbesar dan dapat mencapai 1/5 dari luas lantai
ruangan.
e.
f.

Jendela ruang keluarga dan ruang tamu


Ventilasi
Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam suatu ruangan dan

pengeluaran udara kotoran suatu ruangan tertutup baik alamiah maupun secara buatan.
Ventilasi harus lancar diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat
merugikan kesehatan manusia pada suatu ruangan kediaman yang tertutup atau kurang
ventilasi. Pengaruh-pengaruh buruk itu adalah ( Sanropie, 1989 ) :
1.
2.
3.
4.

Berkurangnya kadar oksigen diudara dalam ruangan kediaman


Bertambahnya kadar asam karbon ( CO2 ) dari pernafasan manusia
Bau pengap yang dikeluarkan oleh kulit, pakaian dan mulut manusia
Suhu udara dalam ruang ketajaman naik karena panas yang dikeluarkan oleh
badan manusia dan

5. Kelembaban udara dalam ruang kediaman bertambah karena penguapan air


dan kulit pernafasan manusia.
Dengan adanya ventilasi silang ( cross ventilation ) akan terjamin adanya gerak
udara yang lancar dalam ruang kediaman. Caranya ialah dengan memasukkan kedalam
ruangan udara yang bersih dan segar melalui jendela atau lubang angin di dinding,
sedangkan udara kotor dikeluarkan melalui jendela/lubang angin di dinding yang
berhadapan. Tetapi gerak udara ini harus dijaga jangan sampai terlalu besar dan keras
karena gerak angina atau udara angin yang berlebihan meniup badan seseorang, akan
mengakibatkan penurunan suhu badan secara mendadak dan menyebabkan jaringan
selaput lendir kan berkurang sehingga mengurangi daya tahan pada jaringan dan
memberikan kesempatan kepada bakteri-bakteri penyakit berkembang biak, dan
selanjutnya menyebabkan gangguan kesehatan, yang antara lain : masuk angin, pilek atau
kompilasi radang saluran pernafasan. Gejala ini terutama terjadi pada orang yang peka
terhadap udara dingin. Untuk menghindari akibat buruk ini, maka jendela atau lubang
ventilasi jangan terlalu besar/banyak, tetapi jangan pula terlalu sedikit.
Jika ventilasi alamiah untuk pertukaran udara dalam ruangan kurang memenuhi
syarat, sehingga udara dalam ruangankyrang memenuhi syarat, sehingga udara dalam
ruangan akan berbau pengap, maka diperlukan suatu sistem pembaharuan mekanis.
Untuk memperbaiki keadaan ruang dalam ruangan, system mekanis ini harus bekerja
terus menerus selama ruangan yang dimaksud digunakan. Alat mekanis yang biasa
digunakan/dipakai untuk sistem pembaharuan udara mekanis adalah kipas angin
( ventilating, fan atau exhauster ), atau air conditioning.
g.
Sarana pembuangan asap dapur
Harus memiliki tempat pembuangan asap dapur seperti cerobong asap atau
terdapat ventilasi yang sesuai untuk penyaluran asap pada saat memasak di dapur.
h.
Pencahayaan
Sanropie ( 1989 ) menyatakan bahwa cahaya yang cukup kuat untuk penerangan
di dalam rumah merupakan kebutuhan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan
pengaturan cahay buatan dan cahaya alam.
1. Pencahayaan alamiah
Pencahayaan alamiah diperoleh dengan masuknya sinar matahari ke dalam
ruanagn melalui jendela celah-celah atau bagian ruangan yang terbuka. Sinar
sebaiknya tidak terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok pagar

yang tinggi. Kebutuhan standar cahaya lami yang memenuhi syarat kesehatan
untuk kamar keluarga dan kamar tidur menurut WHO 60-120 Lux. Suatu cara
untuk menilai baik tau tidaknya penerangan alam yang terdapat dalam rumah,
adalah sebagai berikut :
- baik, bila jelas membaca koran dengan huruf kecil;
- cukup, bila samar-samar bila membac huruf kecil ;
- kurang, bila hanya huruf besar yang terbaca dan
- buruk, bila sukar membaca huruf besar.
Pemenuhan kebutuhan cahaya untuk penerangan alamiah sangat
ditentukan oleh letak dan lebar jendela.
2. Pencahayaan buatan
Untuk penerangan pada rumah tinggal dapat diatur dengan memilih sistem
penerangan dengan suatu pertimbangan hendaknya penerangan tersebut dapat
menumbuhkan suasana rumah yang lebih menyenangkan. Lampu Flouresen
( neon ) sebagai sumber cahaya dapat memenuhi kebutuhan penerangan karena
pada kuat penerangan yang relative rendah mampu menghasilkan cahaya yang
bila dibandingkan dengan penggunaan lampu pijar. Bila ingin menggunakan
lampu pijar sebaiknya dipilih yang warna putih dengan dikombinasikan beberapa
lampu neon.
Untuk penerangan malam hari dala ruangan terutama untuk ruang baca
dan ruang kerja, penerangan minimum adalah 150 Lux sama dengan 10 watt
lampu TL, atau 40 watt dengan lampu pijar.
2.5.1.2 Kelompok Sarana Sanitasi
a. Sarana Air Bersih
Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
a.
Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
b.
Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l,
Kesadahan (maks 500 mg/l)
c.
Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)
b. Sarana Pembuangan Kotoran
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat antara lain
sebagai berikut :
a.
Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi

b.

Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata

air atau sumur, jarak jamban > 10 m dari sumur dan bila membuat lubang jamban
jangan sampai dalam lubang tersebut mencapai sumber air.
c.
Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
d.
Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain. Kotoran manusia yang
dibuang harus tertutup rapat.
e.
Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar atau bila memang benar benar
diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin.
f.
Jamban harus bebas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
g.
Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
Ada 4 cara pembuangan tinja yaitu:
- Pembuangan tinja di atas tanah, pada cara ini tinja dibuang begitu saja di atas
permuakaan tanah, halaman rumah, di kebun, di tepi sungai dan sebagainya. Cara
demikian tentu sama sekali tidak dianjurkan, karena dapat mengganggu
kesehatan.
- Kakus lubang gali (pit pravy), cara ini merupakan salah satu yang paling
mendekati persyaratan yang harus dipenuhi. Tinja dikumpulkan di dalam tanah
dan lubang di bawah tanah, umumnya langsung terletak di bawah 90 cm =
kedalaman sekitar 2,5 m. Dinidngnya diperkuat dengan batu, dapat ditembok
ataupun tidak, macam kakus ini hanya baik digunakan di tempat di mana air tanah
letaknya dalam.
- Kakus air (aqua privy), cara ini hampir mirip dengan kakus lubang gali, hanya
lubang kakus dibuat dari tangki yang kedap air yang berisi air, terletak langsung
di bawah tempat jongkok. Cara kerjanya merupakan peralihan antara lubang
kakus dengan septic tank. Fungsi dari tank adalah untuk menerima, menyimpan,
mencernakan tinja serta melindunginya dari lalat dan serangga lainnya. Bentuk
bulat, bujur sangkar atau empat persegi panjang diletakkan vertikal dengan
diameter antara 90 120 cm.
- Septic Tank, merupakan cara yang paling memuaskan dan dianjurkan diantara
pembuangan tinja dan dari buangan rumah tangga. Terdiri dari tangki sedimentasi
yang kedap air dimana tinja dan air ruangan masuk dan mengalami proses
dekomposisi. Di dalam tangki, tinja akan berada selama 1-3 minggu tergantung
kapasitas tangki.

Pembuangan tinja yang buruk sekali berhubungan dengan kurangnya


penyediaan air bersih dan fasilitas kesehatan lainnya. Kondisi-kondisi demikian ini
akan berakibat terhadap serta mempersukar penilaian peranan masing-masing
komponen dalam transmisi penyakit namun sudah diketahui bahwa terhadap
hubungan antara tinja dengan status kesehatan. Hubungan keduanya dapat bersifat
langsung ataupun tak langsung. Efek langsung misalnya dapat mengurangi insiden
penyakit tertentu yang dapat ditularkan karena kontaminasi dengan tinja, misalnya
thypus abdominalis, kolera dan lain-lain, sedanngkan hubungan tak langsung dari
pembuangan tinja ini bermacam-macam, tetapi umumnya berkaitan dengan
komponen-komponen lain dalam sanitasi lingkungan.
c. Sarana Pembuangan Air Limbah
Pegolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap
pencemaran air limbah tersebut. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai
daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaraan
air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang
terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu dibuang.
Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain sebagai berikut:
- Pengenceran
Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah,
kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi, dengan makin bertambahnya
penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air
limbah yang harus dibuang terlalu banyak, dan diperluka air pengenceran terlalu
banyak pula, maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. Disamping itu, cara ini
menimbulkan kerugian lain, diantaranya : bahaya kontaminasi terhadap badan-badan
air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap
badan-badan air, seperti selokan, sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnnya dapat
menimbulkan banjir.
- Kolam Oksidasi
Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari,
ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah
dialirkan kedalam kolam berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter.
Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh

dari daerah pemukiman, dan didaerah yang terbuka, sehingga memungkinkan


memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.
- Irigasi
Air limbah dialirkan ke parit-parit terbuka yang digali, dan air akan merembes
masuk kedalam tanah melalui dasar dan dindindg parit tersebut. Dalam keadaan
tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau
perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini terutama dapat
dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong
hewan, dan lain-lainya dimana kandungan zat-zat organik dan protein cukup tinggi
yang diperlukan oleh tanam-tanaman.
d. Sarana Pembuangan Sampah
Adapun syarat tempat sampah adalah sebagai berikut :
- Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak mudah bocor,
kedap air.
- Tempat sampah harus mempunyai tutup, tetapi tutup ini dibuat sedemikian rupa
sehingga mudah dibuka, dikosongkan isinya serta mudah dibersihkan. Sangat
dianjurkan agar tutup sampah ini dapat dibuka atau ditutup tanpa mengotori tangan.
- Ukuran tempat sampah sedemikian rupa sehingga mudah diangkat oleh satu orang
atau ditutup.
- Harus ditutup rapat sehingga tidak menarik serangga atau binatang-binatang lainnya
seperti tikus, ayam, kucing dan sebagainya.
2.5.1.3 Kelompok Perilaku Penghuni
a. Membuka jendela kamar tidur
b. Membuka jendela ruang keluarga
c.
d.
e.

Membersihkan rumah dan halaman


Membuang tinja bayi dan balita ke jamban
Membuang sampah pada tempat sampah

2.5.2 Cara Penilaian Rumah Sehat


2.5.2.1 Penilaian rumah
Penilaian rumah perlu ditentukan nilai minimum yang memenuhi kriteria sehat dan bobot
pada kelompok komponen rumah, sarana sanitasi dan perilaku penghuni.
Nilai minimum yang memenuhi kriteria sehat pada masing-masing parameter adalah sebagai
berikut :

a. Nilai minimum dari kelompok komponen rumah adalah :


- Langit-langit
= 2
- Dinding
= 2
- Lantai
= 2
- Jendela kamar tidur
= 1
- Jendela ruang keluarga
= 1
- Ventilasi
= 1
- Sarana pembuangan asap dapur = 2
- Pencahayaan
= 2
b. Nilai minimum dari kelompok sarana sanitasi adalah :
- Sarana air bersih ( SGL/SPT/PP/KU/PAH) = 3
- Jamban ( sarana pembuangan kotoran )
= 2
- Sarana pembuangan air limbah ( SPAL )
= 2
- Sarana pembuangan sampah
= 2
c. Perilaku
Untuk perilaku tetap dikenakan nilai maksimum karena perilaku sangat berperan untuk
mencapai rumah sehat.
2.5.2.2 Pemberian Nilai
2.5.2.2.1 Komponen rumah
- Langit-langit
0
= Tidak ada
1
= Ada, kotor dan rawan kecelakaan
2
= Ada, bersih dan tidak rawan kecelakaan
- Dinding
1
2
3

= Bukan tembok ( terbuat dari anyaman bambu atau ilalang )


= Semi permanen/setengah tembok/pasangan bata atau batu yang tidak kedap air
= Permanen ( tembok, pasangan batu bata atau batu yang diplester), papan kedap air.

- Lantai
0
1
2

= Tanah
= Papan/anyaman bambu yang dekat dengan tanah/plesteran yang retak/ berdebu
= Diplester/ubin/keramik/papan/rumah panggung

- Jendela kamar tidur


0
1

= Tidak ada
= Ada

- Jendela ruang keluarga


0
1

= Tidak ada
= Ada

- Ventilasi
0

= Tidak ada

1
2

= Ada, tetapi luasnya < 10% luas lantai


= Ada, luas ventilasi 10% luas lantai

- Sarana pembuangan asap dapur


0
1
2

= Tidak ada
= Ada, luas tabung ventilasi/asap dapur 10% dari luas lantai dapur
= Ada, dengan lubang ventilasi 10% luas lantai dapur ( asap keluar dengan sempurna

atau ada exhaust fan atau ada peralatan lain yang sejenis )
- Pencahayaan
0
1
2

= Tidak terang, tidak bisa dipergunakan untuk membaca


= Kurang terang, sehingga kurang jelas untuk membaca normal
= Terang dan tidak silau sehingga dapa dipergunakan untuk membaca dengan normal

2.5.2.2.2 Sarana Sanitasi


- Sarana Air Bersih
0 = Tidak ada
1 = Ada, bukan milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan
2 = Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi syarat kesehatan
3 = Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan
4 = Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan
- Jamban ( Sarana Pembuangan Kotoran )
0
1
2
3

=
=
=
=

Tidak ada
Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup, disalurkan ke sungai/kolam
Ada, bukan leher angsa ada tutup ( leher angsa ), disalurkan ke sungai/kolam
Ada, bukan leher angsa ada tutup, septic tank

= Ada, leher angsa, septic tank

- Sarana Pembuangan Air Limbah ( SPAL )


0 = Tidak ada, sehingga tergenang tidak teratur di halaman rumah
1 = Ada, diresapkan mencemati sumber air ( jarak dengan sumber air < 10 m)
2 = Ada, dialirkan ke selokan terbuka
3 = Ada, diresapkan dan tidak mencemari sumber air ( jarak dengan sumber air 10 m)
4 = Ada, dialirkan ke selokan tertutup ( saluran kota ) untuk diolah lebih lanjut
- Sarana Pembuangan Sampah ( Tempat Sampah)
0 = Tidak ada
1 = Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak ada tutup
2 = Ada, kedap air dan tidak tertutup
3 = Ada, kedap air dan bertutup
2.5.2.2.3 Perilaku Penghuni
- Membuka jendela kamar tidur
0 = Tidak pernah dibuka
1 = Kadang-kadang

2 = Setiap hari dibuka


- Membuka jendela ruang keluarga
0 = Tidak pernah dibuka
1 = Kadang-kadang
2 = Setiap hari dibuka
- Membersihkan rumah dan halaman
0

= Tidak pernah

1 = Kadang-kadang
2

= Setiap hari

- Membuang tinja bayi dan balita ke jamban


0 = Dibuang ke sungai / kebun / kolam sembarangan
1 = Kadang-kadang dibuang ke jamban
2 = Setiap hari di buang ke jamban
- Membuang sampah pada tempat sampah
0 = Dibuang ke sungai / kebun / kolam sembarangan
1 = Kadang-kadang dibuang ke jamban
2 = Setiap hari di buang ke jamban
Untuk penjelasan selanjutnya dapat kami uraikan sebagai berikut:
Hasil Penilaian Rumah = Nilai x Bobot
Hasil penilaian rumah didapat :
1. Rumah Sehat
2. Rumah Tidak Sehat

= 1068 1200
= < 1068

2.4 Pembobotan
Pembobotan terhadap kelompok rumah, kelompok sarana sanitasi dan kelompok perilaku
penghuni berdasarkan teori Bloom, dimana diinterpretasikan terhadap :
a. Lingkungan
= 45%
b. Perilaku
= 35%
c. Pelayanan Kesehatan
= 15%
d. Keturunan
= 5%
Dalam hal rumah sehat prosentase Pelayanan Kesehatan dan Keturunan diabaikan, sedangkan
untuk penilaian Lingkungan dan Perilaku dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pemberian bobot penilaian rumah diberikan pada masing-masing indikator :
a. Bobot komponen rumah
b. Bobot Sarana Sanitasi
c. Bobot Perilaku Penghuni

= 31 (25/80 x 100% = 31,25)


= 25 (20/80 x 100% = 25)
= 44 (35/80 x 100% = 43,75)

2.5 Rumah yang Berisiko terhadap Penularan TB


Parameter faktor lingkungan yang mendukung terjadinya penularan penyakit TBC,
meliputi tingkat kepadatan penghuni rumah, lantai, pencahayaan, ventilasi, serta faktor
kelembaban. Pada faktor kepadatan penghuni dapat dijelaskan, bahwa semakin padat maka
perpindahan penyakit, khususnya penyakit melalui udara akan semakin mudah dan cepat.
Sesuai standard Depkes, tingkat kepadatan rumah minimal 10 m2 per orang, jarak antar
tempat tidur satu dengan lainnya 90 cm. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa risiko
terjadinya TB Paru jauh lebih tinggi pada penduduk yang tinggal pada rumah yang tidak
memenuhi standar kepadatan hunian.
2.5.1

Faktor Lantai
Terkait dengan dengan tingkat kelembaban ruangan, sehingga pada kondisi lantai

tumah terbuat dari tanah, cenderung mempengaruhi viabilitas kuman TBC di lingkungan
yang pada akhirnya dapat memicu daya tahan kuman TBC di udara semakin lama.
2.5.2

Faktor Ventilasi
Terkait dengan sirkulasi pergantian udara dalam rumah serta proses pengurangan
tingkat

kelembaban.

Standar

luas

ventilasi

sesuai

Kepmenkes

Nomor

829/Menkes/SK/VII/1999 adalah 10% dari luas lantai. Ventilasi selain berperan


sebagai tempat masuk sinar matahari, juga mempengaruhi dilusi udara, yang dapat
mengencerkan konsentrasi kuman TBC atau kuman lain, yang dapat terbawa keluar
ruangan, yang pada akhirnya dapat mati oleh sinar ultra violet matahari.
Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa luas lubang ventilasi rumah dan
pencahayaan rumah mempengaruhi kehidupan bakteri dan jamur dalam rumah.
Sementara penelian lain menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan
dengan penularan penyakit TB Paru adalah kepadatan hunian kamar tidur,
pencahayaan sinar matahari, ventilasi, jenis lantai, jenis dinding, dan bahan bakar
yang digunakan dalam rumah tangga, status gizi, dan perilaku merokok.
2.5.3

Faktor Pencahayaan
Menurut penelitian semua cahaya pada dasarnya dapat membunuh kuman TBC,
tergantung jenis dan intensitasnya. Pencahayaan yang tidak memenuhi syarat berisiko

2,5 kali terkena TBC dibanding yang memenuhi syarat Rumah memerlukan cahaya
cukup, khususnya sinar matahari dengan ultra violet nya. Pemenuhan pencahayaan
rumah selain dipenuhi dari sumber buatan seperti lampu, juga oleh keberadaan
ventilasi dan genteng kaca di rumah kita. Sebagaimana kita ketahui, penyakit TB Paru
disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menular melalui udara. Proses
penularan tidak sederhana, misalnya dengan menghirup udara bercampur bakteri TBC
lalu terinfeksi kemudian menderita penyakit TB Paru. Masih banyak faktor atau
variabel yang berperan dalam timbulnya TB Paru pada seseorang. Daya penularan
ditentukan banyaknya kuman dan patogenitas kuman, serta lamanya seseorang
menghirup udara yang mengandung bakteri TBC.
2.5.4

Faktor Kelembaban
Tingkat kelembaban masih terkait erat dengan tingkat kepadatan dan ventilasi
rumah.

Kelembaban

merupakan

mikroorganisme, termasuk TBC.

sarana

yang

baik

untuk

pertumbuhan

Namun kelembaban juga dipengaruhi oleh

topografi sehingga wilayah lebih tinggi cenderung memiliki kelembaban yang lebih
rendah. Menurut penelitian, penghuni rumah menempati rumah dengan tingkat
kelembaban ruang lebih besar dari 60% berisiko terkena TB Paru 10,7 kali dibanding
yang tinggal pada rumah dengan kelembaban lebih kecil atau sama dengan 60%.
Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa TBC akan meningkat pada penduduk
dengan keadaan gizi yang jelek, tingkat kepadatan hunian yang tinggi, serta faktor
lingkungan terutama sirkulasi udara yang buruk. Hal lain yang dapat menjadi faktor
risiko adalah paparan asap rokok dimana anak yang terpapar asap rokok (perokok
pasif) terbukti lebih sering mendapat TB. Tuberkulosis pada perokok lebih menular
daripada TB pada penderita yang tidak merokok. Selain asap rokok, asap pembakaran
di dapur juga dapat menjadi faktor risiko TB.

Sumber
1. http://www.nhs.uk/Conditions/Tuberculosis/Pages/Causes.aspx
2. http://www.bbc.co.uk/health/physical_health/conditions/tuberculosis1.shtml
3. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001141/
4. http://www.who.int/tb/publications/tb_global_facts_sep05_en.pdf
5. http://www.cdc.gov/tb/education/corecurr/pdf/chapter2.pdf
6. Fishmans pulmonary diseases and disorders edisi ke-4
7. www.depkes.go.id
8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/ SK/VII/1999
tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, Jakarta.
9. http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/STRANAS_TB.pdf
10. Pengendalian penyakit menular dan penyehatan lingkungan tahun 2011. Kementrian
Kesehatan.