Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi merupakan ilmu yang mempelajari tentang obat obatan.
Namun, ilmu farmasi juga sangat didukung oleh ilmu ilmu lainnya,
seperti ilmu kimia untuk mendukung pembelajaran tentang ilmu farmasi.
Salah

satu

materi

penting

dalam

ilmu

kimia

adalah

tentang

kesetimbangan kimia.
Di SMA, telah dipelajari berbagai macam reaksi kimia. Reaksi kimia
yang berlangsung untuk mendapatkan produk (hasil reaksi) dan tidak
dapat menghasilkan reaktan (pereaksi) kembali disebut jenis reaksi
irreversible. Namun dalam reaksi kesetimbangan dapat terjadi reaksi dua
arah (bolak-balik) sehingga produk dapat membentuk reaktan kembali.
Jenis reaksi seperti itu merupakan jenis reaksi reversible. Seperti reaksi
kesetimbangan berikut :
N2 (g) + 3 H2 (g)

2 NH3 (g)

N2 dan H2 bertindak sebagai reaktan, sedangkan NH 3 bertindak sebagai


produk saat reaksi kimia berlangsung, jumlah N 2 dan H2 semakin lama
semakin berkurang, sedangkan jumlah NH 3 semakin lama semakin
bertambah. Kemudian, NH3 berlebih akan bereaksi balik membentuk N2
dan H2. Reaksi kesetimbangan terjadi jika laju pembentukan produk sama
dengan laju terbentuknya reaktan kembali.

(1)

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan


I.2.1 Maksud Percobaan
Menentukan tetapan kesetimbangan asam lemah.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan kesetimbangan ini adalah:
1. Menentukan pH larutan asam lemah dengan menggunakan
indikator kertas pH universal.
2. Menentukan pengaruh pengenceran terhadap nilai pH larutan
asam lemah.
3. Menentukan tetapan kesetimbangan ionisasi asam lemah.
4. Menentukan pengaruh pengenceran terhadap nilai tetapan
kesetimbangan ionisasi asam lemah.
5. Menentukan derajat asam lemah berdasarkan nilai pH-nya.
6. Menentukan pengaruh pengenceran terhadap nilai derajat
ionisasi asam lemah.
I.3 Prinsip Percobaan
Mengencerkan larutan asam asetat (CH3COOH) 2 M menjadi
CH3COOH dengan konsentrasi 0,1 M, 0,01 M, 0,001 M, 0,0001 M dan
0,00001 M, kemudian mengukur suhu dan pH-nya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Kesetimbangan adalah keadaan dimana tidak ada perubahan yang
teramati selama bertambahnya waktu reaksi. Jika suatu reaksi telah
mencapai keadaan setimbang maka konsentrasi reaktan dan produk
menjadi konstan sehingga tidak ada perubahan yang dapat diamati
dengan jelas, namun aktifitas molekul masih berjalan. (2)
Jika gas H2 dan gas I2 dimasukan dalam wadah tertutup, maka kedua
gas tersebut akan bereaksi membentuk asam iodida, seperti persamaan
reaksi berikut :
H2 + I2

2HI

Jika gas HI dimasukan dalam wadah tertutup, maka gas HI akan


terurai membentuk gas H2 dan gas I2 seperti persamaan berikut:
2HI

H2 (g) + I2 (g)

Jika kedua pengandaian di atas disatukan, maka akan tampak bahwa


jika ada reaksi antara gas H2 dan I2 membentuk gas HI, dan gas HI yang
terbentuk sebagian ada yang terurai kembali menjadi gas H 2 dan gas I2.
Laju reaksi pembentukan gas H2 lebih cepat dibandingkan dengan laju
penguraian gas HI sehingga ada hasil reaksinya. Ada beberapa jenis
reaksi dimana reaksi penguraian dan reaksi pembentukan laju reaksinya
sama persis. Keadaan ini disebut sebagai keadaan kesetimbangan yang
ditulis dengan dua anak panah yang arahnya berlawanan. (3)

Secara umum reaksi kesetimbangan dapat ditulis sebagai berikut:


Reaksi pembentukan:
aA + bB

cC + dD

laju reaksi pembentukan r1 = k1 (C)c (D)d


dimana: r1 = laju reaksi pembentukan
k1 = tetapan laju reaksi pembentukan
Reaksi penguraian:
cC + dD

aA + bB

laju reaksi penguraian r2 = k2 (C)c + (D)d


Reaksi kesetimbangan:
aA + bB

cC + dD

Reaksi dikatakan seimbang bila, laju reaksi pembentukan = laju reaksi


penguraian. Jadi :
K1 (A)a (B)b = k2 (C)c (D)d

K=

k1
k2

Dengan demikian apabila:


1. A adalah asam, dan B itu pelarutnya (H 2O), maka pada proses tersebut
akan di peroleh kesetimbangan asam. A adalah basa dan B adalah

pelarutnya ( H2O), maka pada proses tersebut akan diperoleh


kesetimbangan basa.
2. A adalah kation/anion yang berfungsi sebagai asam basa konjugasi dari
suatu ragam dan B itu pelarutnya (H 2O) maka proses itu akan di peroleh
kesetimbangan hidrolisis.
3. A bersifat apa saja dan B pelarutnya, maka proses itu mempunyai
ketetapan kesetimbangan sesuai dengan prosesnya.
Jika secara umum asam lemah itu dinyatakan dengan HX dan di
larutkan dalam H2O maka HX akan terdisosiasi seperti reaksi berikut:
HX + H2O

H3O+ + X

Dengan demikian: r1 = K1 (HX) (H2O) dan r2 = K2 (H3O)+ (X)


Reaksi kesetimbangan bila r1 = r2 sehingga
K1 (HX) (H2O) = k2 (H3O)+ (X)

K=

k1
k2

+
H 3 O (X )
=

+
H

=
( X)
( H 2 O)

+
H
=
(X )

Oleh karena (H3O)+ dalam larutan tersebut sangat kecil maka dicari
bentuk lain untuk menyatakan ( H3O +), yaitu istilah pH, dimana p = - log. Jadi
pH = - log ( H3O+) = - log ( H+), dengan demikian tetapan kesetimbangan
asam tersebut dapat dihitung / ditentukan.(3)

Percobaan penentuan Ka asam asetat ini menggunakan petunjuk


(indikator universal ) untuk menentukan pH suatu asam asetat. (3)

II.2 Uraian Bahan


1. Air suling (4)
Nama resmi

: AQUA DESTILIATA

Sinonim

: aquades

Pemerian

:cairan

jernih,

tidak

berbau

dan

tidak

mempunyai rasa.
Penyimpanan

: dalam wadah tertutup baik

Kegunaan

: sebagai pelarut

2. CH3COOH (4)
Nama Resmi

:ACIDUM ACETICUM

Sinonim

: asam asetat, asam cuka

Pemerian

: cairan jernih, tidak berwarna, bau menusuk, rasa


asam, tajam

Kelarutan

: dapat campur dengan air, dengan etanol ( 95 % )


P dan dengan gliserol.

Penyimpanan

: dalam wadah tetutup rapat.

Kegunaan

: sebagai sampel

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah Erlenmeyer 100ml,
labu ukur 100ml, Pipet volum 10 ml, dan 5 ml, pipet tetes, karet hisap,
rak tabung, tabung reaksi, termometer.
III.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air suling
(aquades), asam asetat ( CH 3COOH ) 2 M, Kertas indikator universal/pH
universal.
III.2 cara kerja
1. Untuk membuat asam asetat 0,1 M
Diambil 5 ml larutan asam asetat 2 M, dimasukkan ke dalam labu
takar 100 ml, kemudian ditambahkan air suling (aquades) sampai
batas tanda miniskus atas. Diambil 10 ml dan dimasukkan ke dalam
tabung reaksi, diukur suhu dan pH-nya.
2. Untuk membuat asam asetat 0,01 M

Diambil 10 ml larutan asam asetat 0,1 M, dimasukkan ke dalam labu


takar 100 ml, kemudian ditambahkan air suling sampai batas tanda
miniskus atas. Diambil 10 ml dan dimasukkan ke dalam

tabung

reaksi, diukur suhu dan pH-nya.


3. Untuk membuat asam asetat 0,001 M
Diambil 10 ml larutan asam asetat 0,01 M, dimasukkan ke dalam labu
takar 100 ml, kemudian ditambahkan air suling (aquades) sampai
batas tanda miniskus atas. Diambil 10 ml dan dimasukkan ke dalam
tabung reaksi, diukur suhu dan pH-nya.
4. Untuk membuat asam asetat 0,0001 M
Diambil 10 ml larutan asam asetat 0,001 M, dimasukkan ke dalam
labu takar 100 ml, kemudian ditambahkan air suling (aquades)
sampai batas tanda miniskus atas. Diambil 10 ml dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi, diukur suhu dan pH-nya.
5. Untuk membuat asam asetat 0,00001 M
Diambil 10 ml larutan asam asetat 0,0001 M, dimasukkan ke dalam
labu takar 100 ml, kemudian ditambahkan air suling (aquades)
sampai batas tanda miniskus atas. Diambil 10 ml dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi, diukur suhu dan pH-nya.
6. Dihitung tetapan kesetimbangan dan derajat ionisasi terhadap data
yang telah diperoleh dari percobaan diatas.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

pH pada tabung

Suhu pada tabung

reaksi

reaksi (0C)

31

31

31

31

31

Sampel

CH3COOH
0,1 M
CH3COOH
0,01 M
CH3COOH
0,001 M
CH3COOH
0,0001 M
CH3COOH
0,00001 M

IV.2 Perhitungan
Pembuatan larutan CH3COOH 2 M sebanyak 100 mL dari
CH3COOH pekat :
Diket

% = 25, BJ = 1,7 g/mL, BM = 60 g/mol, V = 100 mL

M =

% BJ1000
BM
25 %

M =
60

1,7g
1000
mL

g
mol

= 7,08 M
V 1 M1 = V 2 M2
V1 =

2 M100 mL
7,08 M

= 28,25 mL
Pengenceran :
a.

b.

Pengenceran I (CH3COOH) 2 M
V1 M 1

= V 2 M2

V1 2

= 100 0,1

V1

V1

= 5 ml

10
2

1
0,1

Pengenceran II (CH3COOH) 0,1M


V 1 . M1

0.1M

= V2. M2

0,01M

V1 . 0,1

= 0,01 . 100
1
0,1

V1

V1

= 10 ml

c.

Pengenceran III (CH3COOH) 0,01M


V 1 . M1

0,001M

= V 2 . M2

V1 . 0,01 = 0,001 . 100


0,1
0,01

V1

V1

= 10 ml

d. Pengenceran IV (CH3COOH) 0,001M


V1 . M 1

0,0001M

= V 2 . M2

V1. 0,001 = 0,0001 . 100


0,01
0,001

V1

V1

= 10 ml

e. Pengenceran V (CH3COOH) 0,0001M


V1 . M 1

= V 2 . M2

V1 .0,0001 = 0,00001 . 100


0,001
0,0001

V1

V1

= 10 ml

Perhitungan tetapan kesetimbangan (ka)

untuk CH3COOH 0,1 M


pH = 3

0,00001 M

Ka =

(10 pH )2
=
M

(103 )2
0,1

= 10-5

untuk CH3COOH 0,01 M


pH = 4
Ka =

(10 pH )2
=
M

(104 )2
0,01

= 10-6

untuk CH3COOH 0.001 M


pH = 5
pH 2

Ka =

(10 )
M

5 2

(10 )
0,001

= 10-7

untuk CH3COOH 0.0001 M


pH = 6
pH 2

Ka =

(10 )
M

6 2

(10 )
0,0001

untuk CH3COOH 0.00001 M


pH = 7
pH 2

Ka =

(10 )
M

7 2

(10 )
0,00001

= 10-9
Perhitungan derajat ionisasi

untuk CH3COOH 0,1 M


pH 2
= (10 )

x 100 %

= 10-8

(103 )2
0,1

x 100 % = 10-3 %

untuk CH3COOH 0,01 M


pH 2
= (10 )

x 100 %

4 2

(10 )
0,01

x 100 %

= 10 -4 %

untuk CH3COOH 0.001 M


pH 2
= (10 )

x 100 %

5 2

(10 )
0,001

x 100 %

= 10 -5 %

untuk CH3COOH 0.0001 M


pH 2
= (10 )

(106 )2
0,0001

x 100 %

x 100 %

= 10 -6 %

untuk CH3COOH 0.00001 M


pH 2
= (10 )

x 100 %

(107 )2
0,00001

x 100 %

= 10 -7 %
BAB V
PEMBAHASAN
v.1 Pembahasan.
Pada percobaan kesetimbangan ini, suhu CH 3COOH pada setiap
tabung sama, yaitu 31 0C.
Setelah dilakukan pengukuran pH, ternyata pH CH 3COOH 0,1 M
adalah 3, pH CH3COOH 0,01 M adalah 4, pH CH 3COOH 0,001 M adalah
5, pH CH3COOH 0,0001 M adalah

6 dan pH CH 3COOH 0,00001 M

adalah 7.
Berdasarkan percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan,
ditemukan bahwa semakin rendah konsentrasi suatu larutan maka
tingkat keasamannya mendekati netral. Namun dalam percobaan ini
ternyata suhu CH3COOH dengan konsentrasi yang berbeda adalah
sama.
Hal

ini

kemungkinan

disebabkan

karena

beberapa

kesalahan

diantaranya :
1. Alat-alat yang digunakan dalam keadaan tidak bersih.
2. Bahan-bahan yang digunakan sudah lama tersimpan sehingga dapat
mempengaruhi konsentrasi larutan.

3. Adanya kesalahan dalam pengamatan misalnya dalam menentukan


suhu larutan.
4. Adanya kesalahan

dalam penggunaan termometer, dimana

seharusnya termometer tidak boleh bersentuhan langsung dengan


tangan karena suhu tubuh akan mempengaruhi suhu pada
termometer.
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi reaksi kesetimbangan, yaitu ;
a. Suhu.(5)
Jika suhu dinaikkan maka reaksi kesetimbangan bergeser ke arah
endoterm.

Sedangan,

jika

suhu

diturunkan

maka

reaksi

kesetimbangan bergeser ke arah eksoterm.


T dinaikkan

geser ke endoterm / menyerap kalor (+)

T diturunkan

geser ke eksoterm / melepas kalor (-)

b. Volume.(5)
Jika volume diperbesar maka kesetimbangan bergeser ke jumlah
koefisien yang besar. Jika volume diperkecil maka kesetimbangan
bergeser ke jumlah koefisien yang kecil. Perubahan volume tidak
berpengaruh terhadap pergeseran reaksi kesetimbangan jika jumlah
koefisien reaktan dan produk sama
V diperbesar

geser ke X koefisien besar

V diperkecil

geser ke X koefisien kecil

c. Tekanan.(5)

Jika tekanan diperbesar maka kesetimbangan bergeser ke jumlah


koefisien yang kecil. Jika tekanan diperkecil maka kesetimbangan
bergeser ke jumlah koefisien yang besar. Tetapi, perubahan tekanan
tidak berpengaruh terhadap pergeseran reaksi kesetimbangan jika
jumlah koefisien antara reaktan dan produk sama.
d. Konsentrasi.(5)
Jika konsentrasi reaktan diperbesar, reaksi kesetimbangan akan
bergeser ke produk dan jika konsentrasi reaktan diperkecil, reaksi
kesetimbangan bergeser ke reaktan. Hal yang sama juga terjadi jika
konsentrasi produk diperbesar maka reaksi kesetimbangan bergeser
ke

reaktan

dan

jika

konsentrasi

produk

diperkecil,

reaksi

kesetimbangan bergeser ke produk.


Cara pengerjaannya sangat mudah, pertama kita pipet CH 3COOH 2
M lalu masukkan kedalam labu ukur dan tambahkan dengan aqua
destilata ad 100ml. Larutan tersebut dipipet lagi dan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi lalu diukur suhu dan pH-nya. Cara ini dilakukan
sebanyak 5x percobaan.
Adapun Macam - macam indikator yang mempengaruhi kesetimbangan
yaitu ;
1. Indikator bahan alam
Sebenarnya berbagai bahan tetumbuhan yang berwarna dapat
digunakan sebagai indikator asam basa, misalnya, daun mahkota

bunga (kembang sepatu, bougenvil, mawar, dan lain-lain), kunyit dan


bit. Ekstrak bahwa bahan tersebut memberi warna yang berbeda dalam
larutan asam dan basa. Contoh daun mahkota bunga mawar, untuk
larutan asam berwarna merah dan larutan basa berwarna biru.
2. Indikator kertas lakmus
Kertas lakmus adalah kertas yang diberi suatu senyawa kimia
sehingga akan menunjukkan warna yang berbeda setelah dimasukkan
pada larutan asam maupun basa. Warna kertas lakmus akan berubah
sesuai dengan larutannya. Untuk larutan asam, jika diuji dengan kertas
lakmus merah maka warnanya akan tetap, sedangkan diuji dengan
kertas lakmus biru maka warnanya akan berubah jadi warna merah.
Untuk larutan basa, jika diuji dengan kertas lakmus merah maka
warnanya akan berubah jadi warna biru, sedangkan diuji dengan kertas
lakmus biru maka warnanya akan tetap.
3. Indikator pH meter
Selain menggunakan indikator universal untuk mengetahui nilai pH
suatu zat juga bisa digunakan alat yang disebut pH meter, pH meter
mempunyai elektrode yang dicelupkan ke dalam larutan yang akan
diukur pH-nya. Nilai pH dapat langsung diketahui melalui tampilan layar
digital pada alat tersebut.
4. Indikator universal.

Indikator universal adalah indikator yang terdiri atas berbagai macam


indikator yang memiliki warna berbeda untuk setiap nilai pH 1-14.
Indikator universal ada yang berupa larutan dan ada juga yang berupa
kertas. Paket indikator universal tersebut selalu dilengkapi dengan
warna standar untuk pH 1-14.

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR
KESETIMBANGAN

Oleh:
Nama

: Nober Sandi Layuk

Nim

: 11.01.037

Kelompok

: X ( Sepuluh )

Asisten

: Theodorus Siara Pandiri

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

MAKASSAR
2011

LAMPIRAN SKEMA KERJA


CH3COOH 2 M
5 ml
CH3COOH 0.1 M
10 ml
CH3COOH 0.01 M
10 ml
CH3COOH 0.001 M
10 ml
CH3COOH 0.0001M
10 ml
CH3COOH 0.00001M

100 ml
100 ml
100 ml
100 ml
100 ml
100 ml

3 tabung reaksi masing-masing


10 ml (ukur Suhu dan pH-nya)
3 tabung reaksi masing-masing
10 ml (ukur suhu dan pH-nya)
3 tabung reaksi masing-masing
10 ml (ukur suhu dan pH-nya)
3 tabung reaksi masing-masing
10 ml (ukur suhu dan pH-nya)
3 tabung reaksi masingmasing 10 ml (ukur suhu dan
pH-nya)

BAB VI
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa:
1 semakin rendah konsentrasinya , tingkat keasaamannya mendekati
netral ( pH 3 ; 4 ; 5 ; 6 ; 7).
2 Pengenceran menyebabkan pH-nya semakin mendekati netral
karena kandungan H2O.
3

Tetapan kesetimbangan dari masing konsentrasi larutan ialah 10 -5,


10-6,10-7, 10-8, 10-9

4 Pengaruh pengenceran terhadap nilai tetapan kesetimbangan ialah


semakin encer suatu larutan maka semakin kecil pula nilai tetapan
kesetimbangannya.
5 Derajat ionisasi asam lemah berdasarkan nilai pH-nya dari masing
masing 10-3%, 10-4%, 10-5%,10-6%,10-7%, 10-8%, 10-9%
6 Pengaruh pengenceran terhadap nilai Derajat ionisasi ialah semakin
encer suatu larutan maka semakin kecil pula nilai tetapan
kesetimbangannya.
V.2 Saran

sebaiknya asisten dosen selalu mendampingi dan mengawasi jalannya


praktikum agar tidak terjadi kesalahan dalam praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
1. Suharsini, Maria. 2007 . Kimia dan Kecakapan Hidup. Jakarta :
Ganeca Exact.
2. Syukri, S. 1999 . Kimia Dasar 1. Bandung : Penerbit ITB.
3. Tim Asisten
Makassar.

Laboraturium Kimia Farmasi. 2011. Kimia Dasar .

4. Dirjen POM.Farmakope Indonesia, Edisi Ke-III. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI.1979.Halm 96 dan 45.
5. Sutresna, Nana. 2003. Pintar Kimia 3 Edisi kedua. Cetakan pertama.
Jakarta : Ganeca Exact.
6. Jaya, Fadel M. 2005. Kimia Analisis 2. Surabaya. : Penerbit Cahaya
Mulia.

Anda mungkin juga menyukai