Anda di halaman 1dari 28

MANAJEMEN PAJAK

STUDI KASUS PONDOK SARI BEACH RESORT

Disusun Oleh:
POLTAK
PARULIAN
RUMAHORBO
JARA HARDIYANTI JALIH
LINDA PRAMESWARI M

55515110062
55515110115
55515110117

Universitas Mercu Buana


Jakarta
2016
BAB I
A.

Latar Belakang Masalah


Saat ini banyak sekali pengusaha-pengusaha yang berbisnis dibidang jasa

penginapan, walaupun dengan modal yang tidak sedikit, karena memang bisnis
dibidang ini memerlukan dana yang cukup besar
Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Pengenaan pajak hotel tidak
mutlak ada pada seluruh daerah kabupaten atau kota yang ada di Indonesia. Hal
ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah kabupaten atau

kota

untuk

mengenakan

atau

tidak

mengenakan

suatu

jenis

pajak

kabupaten/kota.Oleh karena itu, untuk dapat dipungut pada suatu daerah atau kota,
pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan peraturan daerah tentang
Pajak Hotel.
Pajak hotel dilakukan dengan mendasarkan pada Undang-Undang Nomor
18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000; Peraturan Pemerintah
Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah, khususnya Pasal 38-42; dan
Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 2 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel.
Dari segi ekonomi, pajak merupakan pemindahan sumber daya dari sektor
privat(perusahaan) ke sektor publik. Pemindahan sumber daya tersebut akan
mempengaruhi daya beli atau kemampuan belanja dari sektor privat. Bagi negara,
pajak adalah satu sumber

penerimaan penting yang akan digunakan untuk

membiayai pengeluaran negara. Sebaliknya bagi perusahaan, pajak merupakan


beban yang akan mengurangi laba bersih. Setiap wajib pajak mempunyai
kecenderungan untuk membayar kewajiban pajak dengan jumlah yangseminimal
mungkin. Kalau saja pajak tidak bersifat transparan dan jelas tujuannya maka
tidak ada seorangpun yang dengan sukarela menyisihkan sebagian penghasilannya
untuk membayar pajak. Apalagi sangsi-sangsi yang diberlakukan benar-benar
mengancam wajib pajak yangtidak patuh.
Bagaimanapun juga membayar pajak adalah suatu kewajiban mulia.
Karena itu wajib pajak akan berupaya mengatur pajaknya dimana disatu sisi
mereka tetap sebagai pembayar pajak yang baik dan di sisi lain mereka tidak
mengorbankan kepentingan perusahaan hanyauntuk membayar pajak. Upaya
untuk menekan jumlah pajak yang terutang agar lebih kecildari yang seharusnya
dibayar membutuhkan suatu manajemen yang baik.
Untuk menekan pemborosan pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakan
tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan perusahaan adalah dengan
manajemen pajak, yaitu upaya pemenuhan kewajiban, pengkoordinasian dan
pengawasan mengenai perpajakan, sehingga beban yang harus ditanggung
perusahaan dapat diminimalkan guna memperoleh laba dan likuiditas yang
diharapkan, tanpa harus melanggar undang-undang yang berlaku. Upaya
meminimalisasi pajak tersebut sering disebut dengan teknik tax planning , yaitu

upaya pemenuhan kewajiban perpajakan secara lengkap dan tepat waktu sehingga
dapat menghindari pemborosan sumberdaya secara optimal.
Manajemen pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan
cara penggelapan pajak (tax evasion) dan penghindaran pajak (tax avoidance).
Penggelapan pajak (tax evasion) merupakan pengurangan pajak yang dilakukan
dengan jalan melanggar peraturan perpajakan, seperti memberikan data keuangan
palsu atau menyembunyikan data. Sedangkan penghindaran pajak (tax avoidance)
adalah pengurangan pajak, namun tetap mematuhi ketentuan-ketentuan peraturan
perpajakan,

seperti

memanfaatkan

pengecualian

dan

potongan

yang

diperkenankan maupun memanfaatkan hal-hal yang belum diatur dalam peraturan


perpajakan yang berlaku. Seorang perencana pajak hanya akan menggunakan dua
cara yaitu penghindaran pajak (tax avoidance) dan penghematan pajak (tax
saving), karena keduanya merupakan tindakan yang tidak melanggar hukum.
Perencanaan pajak adalah langkah awal dalam manajemen pajak. Pada
tahap inidilakukan pengumpulan dan penelitian terhadap peraturan perpajakan,
dengan maksud dapatdiseleksi jenis tindakan penghematan pajak yangakan
dilakukan. Pada umumnya perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk
meminimumkan kewajiban pajak, salah satunya denganmerekayasa agar beban
pajak (tax burden) serendah mungkin, misalnya dengan memperbesar biaya-biaya
yang boleh dikurangkan dari penghasilan (deduction) sehingga penghasilan kena
pajak menurun atau memanfaatkan hal-hal yang belum diatur dalam peraturan
perpajakan namun tidak melanggar peraturan perpajakan yang ada.
Para perencanaan pajak hendaknya bersikap lebih hati-hati agar
perbuatan penghindaran pajaknya tidak dianggap sebagai berpartisipasi, membanu
atau bekerjasama dalam perbuatan yang dapat dianggap sebagai penyelundupan
pajak (tindak pidana fiskal) .

A.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Manajemen Perpajakan
Manajemen perpajakan adalah suatu strategi

manajemen

untuk

mengendalikan, merencanakan, dan mengorganisasikan aspek-aspek perpajakan


dari sisi yang dapat menguntungkan nilai bisnis perusahaan dengan tetap
melaksanakan kewajiban perpajakan secara peraturan dan perundang-undangan.
Sehingga dengan adanya perencanaan pajak yang didukung suatu konsep
manajeman pajak yang jelas, diharapkan dapat mengoptimalkan tingkat likuiditas
perusahaan.
Manajemen Pajak adalah sarana untuk memenuhi kewajiban perpajakan
dengan benar tetapi jumlah pajak yang dibayar dapat ditekan serendah mungkin
untuk memperoleh laba dan likuiditas yang diharapkan. Manajemen pajak
merupakan upaya dalam melakukan penghematan pajak secara legal.
Manfaat manajemen perpajakan adalah untuk melakukan kewajiban
perpajakan dan usaha efisiensi untuk mencapai laba, mengefisiensikan
pembayaran pajak terhutang, melakukan pembayaran pajak dengan tepat
waktu dan membuat data-data terbaru untuk mengupdate peraturan perpajakan.
B.

Hal-hal yang diperlukan dalam Manajemen Perpajakan


Memahami ketentuan perpajakan. Pemahaman yang baik atas aturan

perpajakan dapat dimanfaatkan untuk menghemat beban pajak.

Pembukuan yang memenuhi syarat. Pembukuan itu merupakan hal yang


sangat penting, tidak hanya bagi perusahaan namun juga bagi laporan perpajakan.
Pembukuan yang baik sangatlah berguna bagi pelaksanaan manajemen pajak yang
baik.
C.

Manajemen Perpajakan yang Ekonomis, Efisien, dan Efektif


Untuk dapat meminimalisasi kewajiban pajak, dapat dilakukan berbagai

cara, baik yang masih memenuhi ketentuan perpajakan (lawful) maupun yang
melanggar peraturan perpajakan (unlawful), seperti tax avoidance dan tax evasion.
Perencanaan pajak umumnya selalu dimulai dengan meyakinkan apakah suatu
transaksi atau kejadian mempunyai dampak perpajakan. Apabila kejadian tersebut
mempunyai dampak pajak, apakah dampak tersebut dapat diupayakan untuk
dikecualikan atau dikurangi jumlah pajaknya.
D.

1.

Pencapaian Manajemen Pajak


1. Perencanaan Pajak (Tax Planning)
2. Pelaksanaan Kewajiban Perpajakan (Tax Implemetation)
3. Pengendalian Pajak (Tax Control)
Perencanaan Pajak (Tax Planning / Tax Management)
Cara-cara menghemat pembayaran pajak yang tidak bertentangan dengan

peraturan perpajakan. Utang pajak berada dalam jumlah yang minimal, tetapi
masih dalam bingkai peraturan perpajakan. Namun demikian, perencanaan pajak
juga dapat diartikan sebagai perencanaan pemenuhan kewajiban perpajakan secara
lengkap, benar, dan tepat waktu sehingga dapat secara optimal menghindari
pemborosan sumber daya
Pada dasarnya, perencanaan pajak harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1. tidak melanggar ketentuan perpajakan,
2. secara bisnis dapat diterima,
3. bukti-bukti pendukungnya memadai.
Perencanaan pajak merupakan langkah awal dalam manajemen pajak.
Manajemen pajak itu sendiri merupakan sarana untuk memenuhi kewajiban
perpajakan dengan benar, tetapi jumlah pajak yang dibayarkan dapat
ditekanseminimal mungkin untuk memperoleh laba dan likuiditas yang
diharapkan. Langkah selanjutnya adalah pelaksanaan kewajiban perpajakan (tax
implementation) dan pengendalian pajak (tax control).

Pada tahap perencanaan pajak ini, dilakukan pengumpulan dan penelitian


terhadap peraturan perpajakan. Tujuannya adalah agar dapat dipilih jenis tindakan
penghematan pajak yang akan dilakukan. Pada umumnya, perencanaan pajak (tax
planning) merujuk kepada proses merekayasa usaha dan transaksi Wajib Pajak
agar Pada umumnya, penekanan perencanaan pajak (tax planning) adalah untuk
meminimimalisasi kewajiban pajak.
Tahapan Tax Planning
1. Menganalisis informasi yang ada (analyzing the existing data base)
2. Membuat satu atau lebih model kemungkinan jumlah pajak (designing one
or more possible tax plans)
3. Mengevaluasi pelaksanaan perencanaan pajak (evaluating a tax plan)
4. Mencari kelemahan dan memperbaiki kembali rencana pajak (debugging
the tax plans)
5. Memutakhirkan rencana pajak (updating the tax plan)
Manfaat Tax Planning
Tax planning sebagai bagian dari kegiatan manajemen memiliki beberapa manfaat
yang berguna bagi perusahaan yang melaksanakan kegiatan usaha dalam
pencapaian laba maksimum. Ada 4 hal penting yang dapat diambil sebagai
keuntungan dari melaksanakan Tax Planning yaitu:
a. Penghematan kas keluar, pajak dianggap sebagai unsur biaya yang dapat
diefesienkan. Penghematan kas untuk pembayaran biaya-biaya yang ada di
perusahaan, termasuk biaya pajak harus dipertimbangkan sebagai faktor
yang akan mengurangi laba, dengan membayar pajak seefesien mungkin
perusahaan dapat bertindak sebagai wajib pajak yang taat sekaligus tidak
mengganggu cash flow dari perusahaan.
b. Mengatur aliran kas, karena dengan tax planning yang dikelola secara
cermat, perusahaan dapat menyusun anggaran kas secara lebih akurat,
mengestimasi kebutuhan kas terhadap pajak. Hal ini akan menolong
perusahaan

dalam

pelaksanaan

kegiatan

operasional

perusahaan

berdasarkan anggaran yang telah disusun pada periode sebelumnya


c. Menentukan waktu pembayarannya, sehingga tidak terlalu awal atau
terlambat yang mengakibatkan denda atau sanksi. Kewajiban perpajakan
dapat dilaksanakan dengan ontime, artinya perusahaan telah melakukan
penghematan atas sanksi atau denda yang terjadi bila terjadi keterlambatan
dan atau kesalahan atas kewajiban perpajakan perusahaan.

d. Membuat data-data terbaru untuk mengupdate peraturan perpajakan.


Tindakan ini berguna untuk menyikapi peraturan perpajakan yang berubah
setiap waktu, sehingga perusahaan tetap mengetahui kewajiban-kewajiban
dan hak hak perusahaan sebagai wajib pajak
2.

Pelaksanaan Kewajiban Perpajakan (Tax Implemetation)


Memastikan bahwa pelaksanaan kewajiban perpajakan telah memenuhi

peraturan perpajakan yang berlaku. Apabila pada tahap perencanaan pajak telah
faktor-faktor yang akan dimanfaatkan untuk melakukan penghematan pajak,
Maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikannya baik secara formal
maupun material. Harus dipastikan bahwa pelaksanaan kewajiban perpajakan
telah memenuhiperaturan perpajakan yang berlaku.Manajemen pajak tidak
dimaksud kan untuk melanggar peraturan dan jika dalam pelaksanaanya
menyimpang dari peraturan yang berlaku, maka praktik tsb telah menyimpang
dari tujuan manajemen pajak.
3.

Pengendalian Pajak (Tax Control)


Memastikan bahwa peraturan perpajakan telah dilaksanakan. Yang

terpenting adalah pengecekan pembayaran pajak. Pengendalian pajak bertujuan


untuk memastikan bahwa kewajiban pajak telah dilaksanakan sesuai dengan yang
telah direncanakan dan telah memenuhi persyaratan formal maupun material. Hal
terpenting dalam pengendalian pajak adalah pemeriksaanpembayaran pajak. Oleh
sebab itu, pengendalian dan pengaturan arus kas sangat penting dalam strategi
penghematan pajak, misalnya melakukan pembayaran pajak pada saat terakhir
tentu lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan membayar lebih awal.
Pengendalian pajak termasuk pemeriksaan jika perusahaan telah membayar pajak
lebih besar dari jumlah pajak terutang. Pengendalian Pajak (tax control)
memastikan bahwa peraturan perpajakan telah dilaksanakan. Yang terpenting
adalah pengecekan pembayaran pajak. Cara untuk mencapai tujuan manajemen
pajak, memahami ketentuan peraturan perpajakan. Dengan mempelajari undangundang,

keputusan

dan

edaran,

kita

dapat

melihat

menguntungkan untuk melakukan penghematan pajak


Strategi Umum Perencanaan Pajak
a)
Tax saving

celah-celah

yang

Tax saving merupakan upaya efisiensi beban pajak melalui pemilihan


alternatif pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah. Misalnya, perusahaan
yang memiliki penghasilan kena pajak lebih dari Rp. 100 juta dapat melakukan
perubahan pemberian natura kepada karyawan menjadi tunjangan dalam bentuk
uang.
b)
Tax avoidance
Tax avoidance merupakan upaya

efisiensi beban pajak dengan

menghindari pengenaan pajak melalui transaksi yang bukan merupakan objek


pajak. Misalnya, perusahaan yang masih mengalami kerugian, perlu mengubah
tunjangan karyawan dalam bentuk uang menjadi pemberian natura karena natura
bukan merupakan objek pajak PPh Pasal 21. Dengan demikian, terjadi
penghematan pajak
c)
Menghindari pelanggaran atas peraturan perpajakan
Dengan menguasai peraturan pajak yang berlaku, perusahaan dapat
menghindari timbulnya sanksi perpajakan antara lain:
a. Sanksi administrasi berupa denda, bunga, atau kenaikan
b. Sanksi pidana atau kurungan
d)
Menunda pembayaran kewajiban pajak
Menunda pembayaran kewajiban pajak tanpa melanggar peraturan yang
berlaku dapat dilakukan melalui penundaan pembayaran PPN. Penundaan ini
dilakukan dengan menunda penerbitan faktur pajak keluaran hingga batas waktu
yang diperkenankan, khususnya untuk penjualan kredit. Dalam hal ini, penjual
dapat menerbitkan faktur pajak pada akhir bulan berikutnya setelah bulan
penyerahan barang.
E.

Pengertian Pajak Hotel


Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Pengeritan hotel disini

termasuk juga rumah penginapan yang memungut bayaran. Pengenaan pajak hotel
tidak mutlak ada pada seluruh daerah kabupaten atau kota yang ada di Indonesia.
Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah kabupaten
atau kota untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis pajak
kabupaten/kota. Oleh karena itu, untuk dapat dipungut pada suatu daerah atau
kota, pemerntah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan peraturan daerah
tentang Pajak Hotel.
Dalam pemungutan Pajak Hotel terdapat beberapa terminologi yang perlu
diketahui. Terminologi tersebut dapat dilihat berikut ini :

Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat
menginap/istirahat, memperoleh pelayanan, dan atau fasilitas lainnya
dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu,
dikelola, dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali oleh pertokoan dan

perkantoran.
Rumah penginapan adalah penginapan dalam bentuk dan klasifikasi apa
pun beserta fasilitasnya yang digunakan untuk menginap dan disewakan

untuk umum.
Pengusaha hotel adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun
yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha di

bidang jasa penginapan.


Pembayaran adalah jumlah yang diterima atau seharusnya diterima sebagai
imbalan atas penyerahan barang atau pelayanan sebagai pembayaran

kepada pemilik hotel.


Bon penjualan (bill) adalah bukti pembayarn, yang sekaligus sebagai bukti
pungutan pajak, yang dibuat oleh wajib pajak pada saat mengajukan
pembayaran atau jasa pemakaian kamar atau tempat penginapan beserta

F.

fasilitas penunjang lainnya kepada subjek pajak.


Dasar Hukum Pemungutan Pajak Hotel
Dasar hukum pemungutan Pajak Hotel pada suatu kebupaten atau kota

adalah sebagaimana di bawah ini.


a.
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan perubahan atas
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan
b.
c.
d.

Retribusi Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
Peraturan daerah kabupaten/kota yang mengatur tentang Pajak Hotel.
Keputusan bupati/walikota yang mengatur tentang Pajak Hotel sebagai
aturan

pelaksanaan peraturan

daerah tentang

Pajak Hotel pada

kabupaten/kota dimaksud.
G.

Objek dan Subjek Pajak Hotel

1)

Objek Pajak Hotel


Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan

pembayaran, termasuk pelayanan sebagaimana di bawah ini.

1. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek, yang antara


lain:

gubuk

pariwisata

(cottage),

motel,

wisma

pariwisata,

pesanggrahan (hostel), losmen, dan rumah penginapan.


2. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau
tempat tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan
dan kenyaman, antara lain telepon faksimili, teleks, fotokopi,
pelayanan cuci, setrika, taksi dan pengangkutan lainnya, yang
disediakan atau dikelola hotel.
3. Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu
hotel, bukan untuk umum, antara lain pusat kebugaran (fitness center),
kolam renang, tennis, golf, karaoke, pub, diskotik, yang disediakan
atau dikelola hotel.
4. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel.
Bukan Objek Pajak Hotel
Pada Pajak Hotel, tidak semua pelayanan yang diberikan oleh penginapan
dikenakan pajak. Ada beberapa pengecualian yang tidak termasuk objek

pajak, yaitu:
Penyewaan rumah atau kamar, apartemen, dan atau fasilitas tempat tinggal

lainnya yang tidak menyatu dengan hotel;


Pelayanan tinggal di asrama dan pondok pesantren;
Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan di hotel yang digunakan

oleh bukan tamu dengan pembayaran;


Pertokoan, perkantoran, perbankan, dan salon yang digunakan oleh umum

di hotel; dan
Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel dan dapat
dimanfaatkan oleh umum.

2)

Subjek Pajak Hotel


Subjek pajak hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan

pembayaran kepada hotel. Sedangkan Wajib Pajak hotel adalah orang pribadi atau
badan yang mengusahakan hotel. Yang menjadi dasar pengenaan pajak adalah
jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayarkan kepada hotel dengan tarif
ditentukan paling tinggi sebesar 10%. Pengenaan tarif ini diatur dengan Peraturan
Daerah.

Jika dikaitkan dengan PPN, Pajak Hotel ini merupakan pajak atas
konsumsi yang sejenis dengan PPN. Dimana yang menjadi subjek pajak (yang
menanggung beban pajak) adalah konsumen/tamu yang memanfaatkan jasa hotel.
Contoh:
Tuan Addin menginap di Hotel ABC selama 2 malam bersama keluarga. Pada
saat check out dan harus membayar di kasir, biaya yang harus dibayar oleh Tuan
Addin adalah sebagai berikut:

No

Uraian

Room Charge type

Service Charge

Jumlah

(7%)

Total

Rp2.000.000,-

Rp140.000,-

Rp2.140.000,-

Rp875.000,-

Rp61.250,-

Rp936.250,-

Rp300.000,-

Rp21.000,-

Rp321.000,-

Rp400.000,-

Rp28.000,-

Rp428.000,-

Rp200.000,-

Rp14.000,-

Rp214.000,-

Rp3.775.000,-

Rp264.250,-

Rp4.039.250,-

Rp403.925,-

Delux
2 malam
@Rp1.000.000,2

Tagihan
restoran Nyunda

Tagihan pusat
kebugaran

Tagihan karaoke
keluarga

Tagihan laundry

Jumlah

Pajak Hotel 10%

Jumlah yang harus

Rp4.443.175,-

dibayar
Berdasarkan contoh di atas, maka:
1. yang menjadi objek pajak adalah seluruh jasa/produk yang diberikan oleh
hotel
2. yang menjadi subjek pajak adalah Tuan Addin selaku tamu hotel yang
memanfaatkan jasa hotel
3. yang menjadi Wajib Pajak adalah Hotel ABC. Hotel ABC harus
menyetorkan uang pajak hotel sejumlah Rp403.925,- ke Kas Daerah sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
H.

Aspek Akuntansi dan Aspek Manajemen

Aspek Akuntansi
Akuntansi perhotelan merupakan akuntansi departemental. Artinya setiap
departemen hotel menyiapkan laporan keuangan sesuai dengan ciri departemen
dan pekerjaan yang dilakukannya. Misalnya departemen kamar hanya melaporkan
pendapatan kamar dan biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan
pendapatan tersebut. Sistem akuntansi perhotelan mengutamakan pentingnya
sistem kontrol. Oleh karena itu biasanya hotel memiliki 5 jenis buku memorial
yaitu buku penerimaan kas, buku penarikan cek, buku utang/biaya, buku
pendapatan, dan buku diskon. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh hotel
meliputi laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas laporan
keuangan.
Jenis penghasilan dan beban yang biasanya terdapat pada laporan laba rugi hotel
meliputi:
Akun

Uraian

Sumber

Akun ini menjelaskan tentang


jumlah
Penjualan

dan/atau

penjualan
produk

atas

jasa
yang

ditawarkan oleh hotel selama


periode tertentu.

Jasa

kamar,

makanan

jasa
dan

penyediaan
minuman,

jasa laundry, jasa komunikasi, dll


yang sejenis.

Pendapatan

ini

sebenarnya

uang bukan pendapatan hotel, karena


Uang tip, service charge, dll yang
pendapatan atas uang servis
servis/service
sejenis.
akan
diberikan
kepada
charge
Pendapatan

karyawan
Akun ini menjelaskan mengenai
jumlah harga pokok dan biayaHarga Pokok dan
Biaya operasi
departemental

biaya operasional yang telah


dikeluarkan

untuk

menghasilkan pendapatan setiap

Biaya gaji, upah, bahan habis


pakai

pada

departemen

yang

bersangkutan

periodenya
Adalah selisih antara seluruh
Laba departemental

penjualan dengan harga pokok


dan

biaya-biaya

operasional

suatu departemen.
Akun
Biaya-biaya
operasional yang
tidak
terdistribusikan

khusus

ini

merupakan

untuk

akun

menampung

biaya-biaya yang tidak dapat


didistribusi

ke

departemen-

departemen di hotel.

Biaya operasional yang terdapat


pada departemen administrasi dan
umum, departemen pengolahan
data, dan departemen personalia

Biaya tetap merupakan biaya Biaya


Biaya tetap

yang

pengeluarannya

amortisasi

Menjelaskan

jumlah

pajak

penghasilan

yang

harus

dibayarkan oleh hotel

Laba bersih

Merupakan

laba

operasional

selama

periode tertentu.

sewa,

tidak asuransi, bunga, depresiasi, dan

dipengaruhi oleh aktivitas hotel

Pajak Penghasilan

manajemen,

bersih
suatu

Aspek Perpajakan
Berbicara mengenai aspek perpajakan pada industri perhotelan, mau tidak mau
kita harus membicarakan mengenai pajak daerah dan pajak pusat, mengingat baik
pajak daerah maupun pajak pusat berkepentingan dengan jenis usaha ini.
Pajak Daerah
Menurut undang-undang nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah, Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh
hotel.

Dimana

hotel

didefinisikan

sebagai

fasilitas

penyedia

jasa

penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran,


yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata,
pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan jumlah
kamar lebih dari 10 (sepuluh). Pajak hotel merupakan jenis pajak daerah yang
dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota. Dalam pengertian ini hotel memiliki
perluasan makna, tidak hanya dilihat dari izin usaha yang dimiliki, tetapi juga
dilihat dari jenis usaha yang dilakukan pada kenyataannya, misalnya Wajib Pajak
yang memiliki rumah kos lebih dari 10 (sepuluh) kamar adalah pengusaha hotel.
Pajak Pusat: PPN
Pasal 4A Undang-undang nomor 42 tahun 2009 diantaranya menyebutkan:
(2)

Jenis barang yang tidak dikenai PPN adalah barang tertentu


dalam kelompok barang sebagai berikut:
c. makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran,
rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan
minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak,
termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha
jasa boga atau catering

(3)

Jenis jasa yang tidak dikenai PPN adalah jasa tertentu dalam
kelompok jasa sebagai berikut:
l. jasa perhotelan

Makanan dan minuman yang disajikan di restoran, hotel, dst tidak dikenai PPN
dimaksudkan untuk menghindari pengenaan pajak berganda karena sudah dikenai
pajak daerah. Sedangkan jenis jasa perhotelan yang tidak dikenai PPN meliputi:
a) jasa penyewaan kamar, termasuk tambahannya di hotel, rumah
penginapan, motel, losmen, hotel, serta fasilitas yang terkait dengan
kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap dan
b) jasa penyewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel,
rumah penginapan, motel, losmen, dan hotel.
Belum

lama

ini

Menteri

Keuangan

menerbitkan

Peraturan

nomor

43/PMK.010/2015 tentang Kriteria dan/atau Rincian Jasa Perhotelan yang Tidak


Dikenai PPN. Lebih lanjut Peraturan Menteri tersebut mengatur:
1. yang dimaksud dengan tambahan jasa penyewaan kamar meliputi fasilitas
penunjang yang terkait secara langsung dengan jasa penyewaan kamar,
antara

lain

pelayanan

kamar (room

service), air

conditioning,

binatu (laundry and dry cleaning), kasur tambahan (extra bed), furniture
dan perlengkapan tetap (fixture), telepon, brankas (safety box), internet,
televisi satelit/kabel, dan minibar.
2. yang dimaksud dengan fasilitas yang terkait dengan dengan kegiatan
perhotelan untuk tamu menginap adalah fasilitas yang terkait secara
langsung dengan kegiatan jasa penyewaan kamar dan semata-mata
diperuntukkan bagi tamu yang menginap, antara lain fasilitas olah raga
dan hiburan, fotokopi, teleks, faksimil, dan transportasi hotel (kendaraan
antar-jemput) yang semata-mata untuk tamu yang menginap.
3. Tidak termasuk kelompok jasa perhotelan yang tidak dikenai PPN antara
lain:
a. jasa penyewaan ruangan untuk selain kegiatan acara atau pertemuan di
hotel, rumah penginapan, motel, losmen, dan hostel antara lain
penyewaan ruangan untuk ATM, kantor, perbankan, restoran, tempat
hiburan, karaoke, apotek, toko retail, dan klinik

b. jasa penyewaan unit dan/atau ruangan, termasuk tambahannya, di


apartemen, kondominium, dan sejenisnya, serta fasilitas penunjang
terkait lainnya
c. jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh
pengelola jasa perhotelan
4. Pengecualian

jasa

penyewaan

unit

dan/atau

ruangan

termasuk

tambahannya di apartemen, kondominium, dan sejenisnya serta fasilitas


penunjang terkait lainnya dari kelompok jasa perhotelan yang tidak
dikenai PPN didasarkan atas izin usahanya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa tidak semua jasa
perhotelan tidak dikenai PPN, artinya ada yang dikenai PPN dan ada yang tidak.
Berikut disajikan dalam matriks:
No

Produk/Jasa

Objek PPN/Bukan Objek PPN

Jasa penyewaan kamar

Bukan objek PPN

Tambahan jasa penyewaan kamar,

meliputi:
a. pelayanan kamar
b. air conditioning
c. binatu (laundry and dry cleaning)
d. kasur tambahan (extrabed)
e. furnitur dan perlengkapan tetap

Bukan Objek PPN

(fixture)
f.
telepon
g. brankas (safety box)
h. internet
i.
televisi satelit/kabel
j.
minibar

Fasilitas terkait kegiatan perhotelan

untuk tamu, meliputi:


a. fasilitas olah raga dan hiburan
b. fotokopi
c. teleks
Bukan Objek PPN
d. faksimil
e. transportasi hotel (kendaraan antarjemput) yang semata-mata untuk tamu
yang menginap

Makanan dan minuman yang disajikan


di hotel

Bukan Objek PPN

Penyewaan ruangan untuk ATM, kantor,


5

perbankan, restoran, tempat hiburan,

Objek PPN

karaoke, apotek, toko retail, dan klinik


Jasa penyewaan unit dan/atau ruangan
6

termasuk tambahannya di apartemen,


kondominium, dan sejenisnya, serta

Objek PPN

fasilitas penunjang terkait


Jasa biro perjalanan atau perjalanan
7

wisata yang diselenggarakan oleh

Objek PPN

pengelola jasa perhotelan


Dengan demikian, apakah pengusaha hotel harus dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak (PKP) atau tidak, harus ditentukan terlebih dahulu:
1. apakah menyerahkan jasa yang terutang PPN atau tidak;
2. apakah memenuhi syarat sebagai pengusaha kecil sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 197/PMK.03/2013atau tidak.

Dalam hal pengusaha hotel menyerahkan jasa yang terutang PPN (menjadi objek
PPN) dan peredaran usaha dari penyerahan jasa tersebut sudah melebihi Rp4,8
miliar maka pengusaha hotel tersebut harus meminta kepada KPP untuk
dikukuhkan sebagai PKP
Pajak Pusat: PPh
Pengenaan Pajak Penghasilan (PPh) tetap akan dikenakan kepada pengusaha
hotel, tanpa melihat pengusaha hotel sudah menjadi Wajib Pajak Daerah atau
belum. Hal ini dikarenakan yang menjadi objek PPh adalah Penghasilan, yaitu
setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
baik berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia, yang dapat dikonsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan dengan nama dan
dalam bentuk apapun. Penghasilan yang diterima oleh hotel yang menjadi objek
PPh diantaranya:

1.

Pendapatan Usaha
1. penghasilan dari penyewaan kamar
2. penghasilan dari tambahan jasa penyewaan kamar
3. penghasilan dari penyediaan makanan dan minuman
4. penghasilan dari fasilitas terkait kegiatan perhotelan untuk tamu.

2.

Pendapatan di luar usaha


1. penghasilan dari penyewaan ruangan untuk ATM, kantor, perbankan,
restoran, tempat hiburan, karaoke, apotek, toko retail, dan klinik
2. penghasilan dari penyewaan unit dan/atau ruangan termasuk tambahannya
di apartemen, kondominium, dan sejenisny, serta fasilitas penunjang
terkait
3. penghasilan dari biro perjalanan atau perjalanan wisata yang
diselenggarakan oleh pengelola jasa perhotelan
4. penghasilan dari jasa perbankan, misalnya penghasilan bunga
5. laba penjualan asset tetap
6. pendapatan jasa perparkiran
7. pendapatan service apartemen
8. pendapatan lainnya tidak termasuk penghasilan adalah sebagaimana diatur
dalam Pasal 4 ayat (3) UU PPh, sedangkan penghasilan berupa sewa tanah
dan/atau bangunan dikenai PPh bersifat final sebagaimana diatur dalam
Pasal 4 ayat (2) UU PPh.

Aspek perpajakan pada setiap tahapan kegiatan hotel digambarkan dalam matriks
berikut ini:
No

Tahapan Kegiatan

Uraian

Aspek Perpajakan
PPN KMS (kegiatan

Pembangunan hotel

Dibangun sendiri
Jasa konstruksi

Penyewaan kamar

pendapatan usaha
service charge

PPh Pasal 25/29


PPh Pasal 21

Penjualan makanan dan

Pendapatan usaha

PPh Pasal 25/29

membangun sendiri)
PPh Pasal 4 ayat (2)

Service charge

minuman

Persewaan ruangan bangunan Pendapatan di luar usaha


untuk ATM,dll

Pemakaian lapangan golf

milik sendiri

pihak ke-3

Persewaan mobil

(final)

12
13
14

PPh Pasal 25/29


PPh Pasal 25/29

Pendapatan di luar usaha

PPh Pasal 25/29

WP DN
WP LN

PPh Pasal 21/23


PPh Pasal 26
PPN Jasa Luar Negeri

SP DN (subjek pajak )
SPLN

PPh Pasal 21
PPh Pasal 26

SPDN
SPLN

PPh Pasal 23
PPN
PPh Pasal 26
PPN

Pemakaian jasa tenaga ahli


untuk konsultan
Tenaga kerja asing

Pembayaran royalti atas jasa


manajemen/pemakaian merk

Pembayaran kepada artis

PPh Pasal 21
PPh Pasal 23

Dilakukan sendiri

PPN

Penjualan melalui toko (toko


obat, minimarket)
Pemakaian pemandu wisata

parkir

PPh Pasal 21/26


PPh Pasal 23/26

Dilakukan sendiri
Pihak ke-3

untuk acara hotel

Jasa pengelolaan tempat

PPh Pasal 4 ayat (2)


PPN

Pendapatan luar usaha


Komisi

Dilakukan sendiri
10 Jasa perbaikan/renovasi hotel Pihak ke-3
11

PPh Pasal 21

PPh Pasal 21`


Dikelola sendiri
Pihak ke-3

PPh Pasal 25/29


PPh Pasal 23

Tarif Pajak Penghasilan


Lapisan Penghasilan Kena Pajak
Sampai dengan Rp. 50.000.000
Rp. 50.000.000 s/d Rp. 250.000.000
Rp. 250.000.000 s/d Rp. 500.000.000
Diatas Rp. 500.000.000

Tarif Pajak ber NPWP


5%
15 %
25 %
30 %

Tarif Pajak tidak ber NPWP


6%
18 %
30 %
36 %

Surat Pemberitahuan Pajak


Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan
untuk melaporkan perhitungan atau pembayaran pajak, objek pajak atau bukan
objek pajak, atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan. SPT merupakan dokumen yang menjadi data
kerjasama antara wajib pajak dan administrasi pajak, yang memuat data-data yang
diperlukan untuk menetapkan secara tepat jumlah pajak yang terutang.
Waktu penyetoran dan pelaporan SPT
Penyetoran SPT Masa
: Paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya
Pelaporan SPT Masa
: Paling lambat 20 hari setelah akhir masa pajak
Penyetoran SPT Tahunan
: Paling lambat tanggal 25 Maret tahun berikutnya
Pelaporan SPT Tahunan
: Paling lambat tanggal 31 Maret tahun berikutnya

A.

BAB III
KASUS
Gambaran Umum Perusahaan (Pondok Sari Beach Resort)
Pondok Sari Beach Resort yang berlokasi di Singaraja Bali. Adalah hotel

bintang 4 yang memiliki fasilitas spa dan diving. Pondok Sari Resort dibuka pada
tahun 1991 dan selama bertahun-tahun satu-satunya resort hotel di wilayah
tersebut. Dimana mereka selalu bekerja dengan baik dan meningkatkan kualitas
dengan tetap melakukan yang terbaik untuk melestarikan alam dan habitat sekitar.
Sebagai salah satu penyelenggara pariwisata manajemen resor mendukung
perlindungan dan pelestarian tradisi dan cara hidup asli di Bali. Selain itu,

bersama-sama dengan masyarakat Desa Pemuteran, banyak manfaat sosial telah


disepakati, kemudian mereka bergabung dengan beberapa resor lainnya di wilayah
itu. Misalnya, snorkeling di pantai lokal menjadi tanggung jawab oleh warga desa
dan pendapatan hasil snorkling tersebut diberikan seluruhnya kepada warga.
Sekitar 90 % dari total pegawai berasal dari desa yang bersangkutan.
Berbeda dengan pantai yang terletak di selatan bali dimana disana banyak
pemandangan

para penjual di pantai, disini anda tidak akan melihat

memandangan tersebut itulah sebagai salah satu keunggulan dari Pondok Sari
Beach Resort.
Kegiatan usaha Pondok Sari Beach Resort
Kegiatan utama dari Pondok Sari Beach Resort adalah menyewakan kamar
kepada tamu. Untuk bisa memberikan kepuasan kepada tamu,keadaan kamar yang
disewakan harus berada dalam keadaan bersih,nyaman,menarik, dan aman
(terbebas dari berbagai kemungkinan terjadinya kecelakaan,pencurian,dan
penyakit). Terkait dengan usaha bisnis pastinya akan ada pajak yang dibayarkan
adapun jenis jenis pajak yang di bayarkan oleh Pondok Sari Beach Resort sebagai
berikut
Pajak yang dibayarkan oleh hotel :

PPH Pasal 21
Pajak Daerah (Pajak Hotel)
PPH Pasal 23
PPH Pasal 25
PPH Pasal 29 atas Badan.
Perhitungan dan pengenaan pajak adalah sesuai dengan Undang-Undang

yang berlaku dan tarif pajak yang ditetapkan oleh Undang-Undang.


Pajak Penghasilan pada Undang-Undang No. 36 Tahun 2008, dapat dikatakan
bahwa pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan, baik
penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau perorangan maupun
badan yang berada dalam negeri atau di luar negeri, yang terhutang selama tahun
pajak.
Tahun pajak dimulai dari tanggal 1 Januari 31 Desember. Pajak
Penghasilan dipungut setelah tahun takwin dan paling lambat bulan Maret tahun
berikutnya. Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh wajib pajak adalah mengisi
dan menyampaikan SPT (Surat Pemberitahuan) Tahunan dengan benar dan jujur.

B.

Perencanaan Pajak (Pondok Sari Beach Resort)


Dalam menajalankan suatu usaha banyak para pengusaha yang

menjalankan perencanaan pajak. Dengan harapan perencanaan pajak yang di


lakukan dapat mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan.
Perencanaan pajak adalah pengumpulan dan penelitian jenis tindakan
penghematan pajak yang dilakukan untuk meminimalkan kewajiban pajak.
Tujuannya adalah bagaimana pengendalian tersebut dapat mengefisiensi jumlah
pajak yang akan ditransfer kepada pemerintah, melalui apa yang disebut sebagai
penghindaran pajak (Tax Avoidance) yang merupakan perbuatan legal yang masih
dalam ruang lingkup pemajakan dan tidak melanggar ketentuan peraturan
perundangan perpajakan, dan bukan penyelundupan pajak (Tax Evasion). Suandy
(2011:6)
Pengolahan Gaji Karyawan
Pengolahan gaji yang diterapkan pada karyawan Pondok Sari Beach
Resort, sebagai contoh pengolahan gaji yang diterapkan adalah sebagai berikut :
Staff GA atas nama Ny. A dengan status kawin dan mempunyai anak 3
(tiga) dan mempunyai gaji yang dibayarkan perusahaan sebesar Rp. 5.000.000
perbulan. Pengolahannya sebagai berikut :

Contoh Pengolahan Gaji Karyawan


Gaji Karyawan 1 bulan
Pengurangan :
Biaya jabatan (5% X 5.000.000)
Penghasilan Netto sebulan
Penghasilan Netto setahun adalah
12 X Rp. 4.750.000
PTKP Setahun
WP
Rp. 15.480.000
Kawin Rp. 2.025.000
K/1
Rp. 2.196.666
K/2
Rp. 2.353.333
K/3
Rp. 2.540.000
Penghasilan Kena Pajak Setahun
PPh Pasal 21 Terhutang
5% X Rp. 18.894.999 Rp. 944.749,95
PPh Pasal 21 sebulan

RP. 5.000.000
Rp. 250.000
Rp. 4.750.000
Rp. 57.000.000

Rp.

Rp. 24.594.999
18.894.999

Rp. 944.749,95 : 12

Rp. 78.729,16

Hutang pajak yang harus dibayarkan oleh karyawan hotel tersebut adalah Rp.
78.729,16/ bulan.
Perencanaan pajak dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21
terhutang
Dalam melakukan perhitungan PPh 21 dapat dilakukan dengan 3 (tiga) metode :
a. Net Method
Merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan menanggung pajak
karyawannya.
b. Gross Method
Merupakan metode pemotongan pajak dimana karyawan menanggung sendiri
jumlah pajak penghasilannya.
c. Gross-Up Method
Merupakan metode pemotongan pajak dimana perusahaan memberikan tunjangan
pajak yang jumlahnya sama besar dengan jumlah pajak yang akan dipotong dari
penghasilan karyawan
Contoh Kasus :
Tuan I Gede Putu Widarshana adalah wajib pajak dengan status kawin dengan
satu anak, bekerja sebagai karyawan Pondok Sari Beach Resort. Gaji yang
diperoleh setiap bulan Rp 5.000.000,00.

Tabel
Perhitungan PPh Pasal 21 Karyawan
PPh Pasal 21 Ditanggung Karyawan

PPh Pasal 21 Ditanggung Perusahaan

PPh Pasal 21 Ditunjang Perusahaan (Gross Up)

Gaji

Rp

5,000,000.00

Gaji

Rp

5,000,000.00

Gaji

Rp

5,000,000.00

Tunjangan Jabatan

Rp

1,000,000.00

Tunjangan Jabatan

Rp

1,000,000.00

Tunjangan Jabatan

Rp

1,000,000.00

Tunjangan Transportasi

Rp

500,000.00

Tunjangan Transportasi

Rp

500,000.00

Tunjangan Transportasi

Rp

500,000.00

Tunjangan Makan

Rp

300,000.00

Tunjangan Makan

Rp

300,000.00

Tunjangan Makan

Rp

300,000.00

Premi Asuransi Kec. Kerja

Rp

17,500.00

Premi Asuransi Kec. Kerja

Rp

17,500.00

Tunjangan Pajak

Rp

338,589.40

Premi Asuransi Kematian

Rp

12,500.00

Premi Asuransi Kematian

Rp

12,500.00

Premi Asuransi Kec. Kerja

Rp

17,500.00

Penghasilan Bruto

Rp

6,830,000.00

Penghasilan Bruto

Rp

6,830,000.00

Premi Asuransi Kematian

Rp

12,500.00

Penghasilan Bruto

Rp

7,168,589.40

Pengurangan:

Pengurangan:

Biaya Jabatan

Rp

341,500.00

Biaya Jabatan

Rp

341,500.00

Pengurangan:

Iuran Pensiun

Rp

40,000.00

Iuran Pensiun

Rp

40,000.00

Biaya Jabatan

Rp

358,429.47

Iuran THT

Rp

125,000.00

Iuran THT

Rp

125,000.00

Iuran Pensiun

Rp

40,000.00

Penghasilan Neto Sebulan

Rp

6,323,500.00

Penghasilan Neto Sebulan

Rp

6,323,500.00

Iuran THT

Rp

125,000.00

Penghasilan Neto Setahun

Rp

75,882,000.00

Penghasilan Neto Setahun

Rp

75,882,000.00

Penghasilan Neto Sebulan

Rp

6,645,159.93

PTKP

Rp

18,840,000.00

PTKP

Rp

18,840,000.00

Penghasilan Neto Setahun

Rp

79,741,919.16

PKP

Rp

57,042,000.00

PKP

Rp

57,042,000.00

PTKP

Rp

18,840,000.00

PKP

Rp

60,901,919.16

Hutang PPh (Pasal 21):

Hutang PPh (Pasal 21):

Hutang PPh (Pasal 21):

5% x Rp 50.000.000 =

Rp

2,500,000.00

5% x Rp 50.000.000 =

Rp

2,500,000.00

5% x Rp 50.000.000 =

Rp

2,500,000.00

15% x Rp 7.042.000 =

Rp

1,056,300.00

15% x Rp 7.042.000 =

Rp

1,056,300.00

15% x Rp 10,420,484.96 =

Rp

1,563,072.74

Jumlah PPh Ps. 21 Setahun

Rp

3,556,300.00

Jumlah PPh Ps. 21 Setahun

Rp

3,556,300.00

Jumlah PPh Ps. 21 Setahun

Rp

4,063,072.74

Jumlah PPh Ps. 21 Sebulan

Rp

296,358.33

Jumlah PPh Ps. 21 Sebulan

Rp

296,358.33

Jumlah PPh Ps. 21 Sebulan

Rp

338,589.40

PPh 21 ditanggung perusahaan

Rp

296,358.33

Tunjangan Pajak

Rp

338,589.40

Rp

0.00

PPh yang disetor/dipotong


dari penghasilan karyawan

PPh yang disetor/dipotong


Rp

296,358.33

dari penghasilan karyawan

PPh yang disetor/dipotong


dari penghasilan karyawan

Rp

(0.00)

Apabila perusahaan memberikan tunjangan pajak dalam bentuk uang dan


dimasukkan dalam daftar gaji, maka biaya gaji yang diperhitungkan oleh
perusahaan dapat dikurangkan dari penghasilan perusahaan. Selain bermanfaat
sebagai biaya pengurang dari penghasilan perusahaan dalam hal ini tax saving
dapat mencapai shift to lower bracket (dari PPh 21 karyawan = 15% ke PPh 21
perusahaan = 25%), dan pemberian tunjangan pajak tersebut tidak akan
mengurangi penghasilan bersih karyawan.
Tabel
Perbandingan Metode PPh 21 Karyawan
Biaya Pengurang Bagi
PPh Pasal 21
Perusahaan
(25%xPKP) (a)
(b)
PPh Ditanggung

Pajak yang
Dihemat
(a-b)

Karyawan
PPh Ditanggung

Rp 14,260,500.00

Rp 3,556,300.00

Rp 10,704,200.00

Perusahaan
PPh Ditunjang

Rp 14,260,500.00

Rp 3,556,300.00

Rp 10,704,200.00

Perusahaan

Rp 15,225,479.79

Rp 4,063,072.74

Rp 11,162,407.05

Tabel
Perbandingan Jumlah Gaji yang Dibawa Pulang Karyawan

Take Home Pay:


Penghasilan Bruto
Dikurangi:
Iuran Pensiun
Iuran THT
PPh Pasal 21
Jumlah

Ditanggung
Karyawan

Ditanggung
Perusahaan

Ditunjang
Perusahaan

Rp 6,830,000.00

Rp 6,830,000.00

Rp 7,168,589.40

Rp
40,000.00
Rp 125,000.00
Rp 296,358.33
Rp 6,368,641.67

Rp
40,000.00
Rp 125,000.00
Rp
0.00
Rp 6,665,000.00

Rp
40,000.00
Rp 125,000.00
Rp 338,589.40
Rp 6,665,000.00

Berdasarkan kebijakan-kebijakan diatas, maka kebijakan yang paling baik dipilih


oleh perusahaan adalah PPh pasal 21 ditunjang perusahaan (Gross Up). Dari
perhitungan diatas terlihat bahwa take home pay gross up sama dengan pemberian
tunjangan pajak. Namun, dengan menggunakan metode Gross Up maka
perusahaan dapat membebankan biaya tunjangan pajak sebagai deductible

expense sehingga dapat menggurangi PPh badan perusahaan. Dan selain itu juga
keuntungan yang diperoleh perusahaan apabila di gross up adalah pada saat terjadi
kenaikan gaji, perusahaan tidak harus menanggung tunjangan pajak yang ikut
meningkat, sehingga rencana penganggaran perusahaan tidak terganggu.
Perencanaan pajak dalam perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23
terhutang
Jasa Perbaikan dan Pemeliharaan
Jasa Perbaikan dan Pemeliharaan Pemakaian jasa perbaikan dan pemeliharaan alat
dapat dihitung melalui transaksi yang berhubungan dengan jasa tersebut sebesar
Rp 20.500.000
1) Perhitungan Pasal 23 Sebelum di Gross Up
2% x 20.500.000
Jadi PPh Pasal 23 yang harus di potong sebesar

= Rp 410.000
Rp 410.000

2) Perhitungan Pasal 23 Setelah di Gross Up


Gross Up = (100 x 20.500.000 ) = Rp 20.918.367
98
PPh Pasal 23: 2% x Rp 20.918.367 = Rp 418.367
Nilai Bersih

Rp 20.500.000

Berdasarkan perhitungan di atas, terlihat perbedaan biaya pemakaian jasa


perbaikan dan pemeliharaan alat, dimana sebelum dilakukan gross up biaya
pemakaian jasa perbaikan dan pemeliharaan alat sebesar Rp 20.500.000 kemudian
setelah dilakukan gross up biaya pemakaian jasa perbaikan dan pemeliharaan alat
meningkat menjadi Rp 20.918.367

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dalam makalah ini adalah :

1. Kewajiban perpajakan atas kegiatan yang dilakukan oleh Pondok Sari


Beach Resort terdiri dari PPh pasal 21, PPh pasal 23, PPh pasal 25,
PPh pasal 29 dan Pajak Hotel (Pajak Daerah)
2. Mekanisme pemungutan pajak yang dilakukan Pondok Sari Beach
Resort

didasarkan

pada

peraturan

perundang-undangan

yang

mendasarinya.
3. Dalam melakukan perhitungan PPH 21 dan PPH 23 Pondok Sari
Beach Resort menggunakan metode gross up sebagai salah satu bagian
dari perencanaan pajak

DAFTAR PUSTAKA
Suandy Early. 2011. Perencanaan Pajak. Salemba Empat, Jakarta Selatan. Waluyo. 2013.
Perpajakan Indonesia. Salemba Empat, Jakarta Selatan. ----------, 2012. Akuntansi Pajak.
Salemba Empat, Jakarta
Mardiasmo. 2013. Perpajakan. Andi, Yogyakarta
Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang No.36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Jakarta
http://pondoksari.com/
https://nasikhudinisme.com/2015/07/15/memahami-aspek-perpajakan-pada-industriperhotelan/