Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
Karena hanya dengan rahmatnya dan bimbingannya sehingga penyusun dapat
menyelesaikan Laporan Akhir geologi minyak bumi ini tepat pada waktunya.
Adapun maksud dan tujuan penyusunan laporan ini adalah sebagai bentuk
menuangkan pemahaman mengenai geokimia hidrokarbon, wireline log,
elektrofacies yang di pelajari dari data yang di ambil pada cekungan sumatra
tengah.
Penyusun menyadari bahwa laporan hasil praktikum ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran agar dalam
penyusunan selanjutnya lebih baik. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak.

Yogyakarta, 14/12/2016

Penyusun

BAB 1
DASAR TEORI

1.1 GEOKIMIA HIDROKARBON


Geokimia Minyak & Gas Bumi merupakan aplikasi dari ilmu kimia yang
mempelajari tentang asal, migrasi, akumulasi serta alterasi minyak bumi (John M.
Hunt,1979). Petroleum biasanya jug diartikan minyak dan gas bumi yang memiliki
komposisi kimia berupa Carbon dan Hidrogen. Komposisi kimia ini dihasilkan
dari proses pembusukan (dekomposisi) serta kematangan termal material organik.
Material organik tersebut berasal dari tumbuh2an dan algae. Material organik ini
ketika mati segera diendapkan. Akibat adanya suhu, tekanan serta waktu yang
cukup, komponen2 tumbuhan dan algae teralterasi menjadi minyak, gas dan
kerogen. Kerogen dapat dianggap sebagai material padat sisa tumbuhan. Shale dan
Limestone yang mengandung material organik disebut sebagai source rock karena
batuan tersebut merupakan batuan sumber untuk menghasilkan minyak & gas bumi.
Analisis Geokimia dalam dunia perminyakan tersebut bertujuan untuk :

a. Untuk mengidentifikasi source rock dan menentukan jumlah, tipe,


dan tingkat kematangan material organik
b. Mengevaluasi perkiraan kapan migrasi minyak & gas bumi dari source rock
c. Memprediksi jalur migrasi
d. Korelasi komposisi minyak & gas bumi yang berada di dalam
reservoar, rembesan (seeps) untuk mengetahui keberadaannya.

Kebanyakan analisis geokimia menggunakan isotop stabil ; analisis


hidrokarbon untuk material organik yaitu dengan Gas Chromatography (GC) dan
Gas Chromatography - Mass Spectrometry (GC-MS) ; indikator kematangan
menggunakan Vitrinite Reflectance (%Ro) ; pirolisis dan analisis ; tipe kerogen.

1.1.1 ROCK-EVAL PYROLISIS


Rock-Eval Pyrolisis (REP) adalah analisa komponen hidrokarbon pada
batuan induk dengan cara melakukan pemanasan bertahap pada sampel batuan
induk dalam keadaan tanpa oksigen pada kondisi atmosfer inert dengan
temperatur yang terprogram. Pemanasan ini memisahkan komponen organik
bebas (bitumen) dan komponen organik yang masih terikat dalam batuan induk
(kerogen) (Espitalie et al., 1977).
Analisis Rock-Eval Pyrolisis menghasilkan beberapa parameter-parameter :
a. S1 (free hydrocarbon)
S1 menunjukkan jumlah hidrokarbon bebas yang dapat diuapkan tanpa
melalui proses pemecahan kerogen. nilai S1 mencerminkan jumlah hidrokarbon
bebas yang terbentuk insitu (indigeneous hydrocarbon) karena kematangan termal
maupun karena adanya akumulasi hidrokarbon dari tempat lain (migrated
hydrocarbon)
b. S2 (pyrolisable hydrocarbon)
S2 menunjukkan jumlah hidrokarbon yang dihasil melalui proses
pemecahan kerogen yang mewakili jumlah hidrokarbon yang dapat dihasilkan
batuan selama proses pematangan secara alamiah. Nilai S 2 menyatakan potensi
material organik dalam batuan yang dapat berubah menjadi petroleum. Harga
S1 dan S2 diukur dalam satuan mg hidrokarbon/gram batuan (mg HC/g Rock).
c.

S3
S3 menunjukkan jumlah kandungan CO2 yang hadir di dalam batuan.

Jumlah CO2 ini dapat dikorelasikan dengan jumlah oksigen di dalam kerogen
karena menunjukkan tingkat oksidasi selama diagenesis.

d. Tmax
Nilai Tmax ini merupakan salah satu parameter geokimia yang dapat
digunakan untuk menentukan tingkat kematangan batuan induk (Tabel 3.4). Harga
Tmax yang terekam sangat dipengaruhi oleh jenis material organik. Kerogen Tipe
I akan membentuk hidrokarbon lebih akhir dibanding Tipe III pada kondisi
temperatur yang sama. Harga Tmax sebagai indikator kematangan juga memiliki
beberapa keterbatasan lain misalnya tidak dapat digunakan untuk batuan memiliki
TOC rendah (<0,5) dan HI < 50. Harga Tmax juga dapat menunjukkan tingkat
kematangan yang lebih rendah dari tingkat kematangan sebenarnya pada batuan
induk yang mengandung resinit yang umum terdapat dalam batuan induk dengan
kerogen tipe II (Peters, 1986).

Pembacaan hasil rock- eval pyrolisis (dimodifikasi dari Peters, 1986)


Kombinasi parameter parameter yang dihasilkan oleh Rock-Eval
Pyrolisis dapat dipergunakan sebagai indikator jenis serta kualitas batuan induk,
antara lain :

a. Potential Yield (S1 + S2)


Potential Yield (PY) menunjukkan jumlah hidrokarbon dalam batuan baik
yang berupa komponen volatil (bebas) maupun yang berupa kerogen. Satuan ini
dipakai sebagai penunjuk jumlah total hidrokarbon maksimum yang dapat
dilepaskan

selama

proses

pematangan

batuan

induk

dan

jumlah

ini

mewakili generation potential batuan induk.


b. Production Index (PI)
Nilai PI menunjukkan jumlah hidrokarbon bebas relatif (S 1) terhadap
jumlah total hidrokarbon yang hadir (S1 + S2). PI dapat digunakan sebagai
indikator tingkat kematangan batuan induk. PI meningkat karena pemecahan
kerogen sehingga S2 berubah menjadi S1.
c.

Hydrogen Index (HI) dan Oxygen Index (OI)


HI merupakan hasil dari S2 x 100/TOC dan OI adalah S3 x 100/TOC.

Kedua parameter ini harganya akan berkurang dengan naiknya tingkat


kematangan. Harga HI yang tinggi menunjukkan batuan induk didominasi oleh
material

organik

yang

bersifat oil

prone,

sedangkan

nilai

OI

tinggi

mengindikasikan dominasi material organik gas prone. Waples (1985) menyatakan


nilai HI dapat digunakan untuk menentukan jenis hidrokarbon utama dan
kuantitas relatif hidrokarbon yang dihasilkan

Potensi batuan induk berdasarkan HI (Waples 1985)

HI

Produk utama

Kuantitas relatif

<150

Gas

Kecil

150 300

Minyak dan gas

Kecil

300 450

Minyak

Sedang

450 600

Minyak

Banyak

> 600

Minyak

Sangat banyak

Penentuan tipe kerogen berdasarkan analisis rock-eval pyrolisis dapat


dilakukan dengan mengeplotkan nilai nilai HI dan OI pada diagram "pseudo"
van Krevelen, atau dengan menggunakan plot HI Tmax.
1.1.2 SOURCE ROCK
Source rock HC merupakan sedimen berukuran butir halus (fine grain)yang
secara alami sudah menghasilkan, sedang menghasilkan, atau akan menghasilkan
cukup HC membentuk suatu akumulasi minyak dan gas bumi (Brooks et al. 1987).
Shale dan Coal memiliki kandungan organik yang tinggi dan menjadi hal
yang menarik secara ekonomi. Sebaliknya, source rock HC mengeluarkan hanya
sedikit minyak dan gas bumi per unit volume batuan yang terakumulasi dalam
batuan reservoar. Pengawetan material organik tersebut merupakan suatu fungsi
kandungan oksigen, tingkat sedimentasi, dan intensitas kehidupan bentonik.
Menurunnya

tingkat

oksigenasi

dan

aktifitas

bentonik

menyebabkan

meningkatnya tingkat fermentasi metana oleh bakteri. Akibatnya ada banyak

atau sedikit material organik yang tersimpan di dalam sedimen.

1.1.3 TIPE KEROGEN


Ketika terkubur dan dengan bertambahnya temperatur,
material organik mengalami beberapa reaksi geokimia mulai dari
biopolymer hingga geopolymer (Fig.14.4)

Komposisi kerogen pada beberapa source rock dikontrol oleh beberapa


proses berikut (Fig.14.1)

Berdasarkan komposisi unsur-unsur kimia yaitu karbon (C), hidrogen (H) dan
oksigen (O), pada awalnya kerogen dibedakan menjadi 3 tipe utama yaitu kerogen tipe I, tipe
II, dan tipe III (Tissot dan Welte, 1984 dalam Killops dan Killops, 2005), yang kemudian
dalam penyelidikan selanjutnya ditemukan kerogen tipe IV (Waples, 1985). Masing-masing
tipe dicirikan oleh jalur evolusinya dalam diagram van Krevelen
Kerogen Tipe I (highly oil prone - oil prone)
Kerogen Tipe I memiliki perbandingan atom H/C tinggi( l,5), dan O/C rendah (<
0,1). Tipe kerogen ini sebagian berasal dari bahan organik yang kaya akan lipid (misal
akumulasi material alga) khususnya senyawa alifatik rantai panjang. Kandungan hidrogen
yang dimiliki oleh tipe kerogen I sangat tinggi, karena memiliki sedikit gugus lingkar atau
struktur aromatik. Kandungan oksigennya jauh lebih rendah karena terbentuk dari material
lemak yang miskin oksigen. Kerogen tipe ini menunjukkan kecenderungan besar untuk
menghasilkan hidrokarbon cair atau minyak.
Kerogen tipe I berwarna gelap, suram dan baik berstruktur laminasi maupun tidak berstruktur.
Kerogen ini biasanya terbentuk oleh butiran yang relatif halus, kaya material organik, lumpur
anoksik yang terendapkan dengan perlahan-lahan (tenang), sedikit oksigen, dan terbentuk
pada lingkungan air yang dangkal seperti lagoondan danau.
Kerogen Tipe II (oil and gas prone)
Kerogen Tipe II memiliki perbandingan atom H/C relatif tinggi (1,2 1,5),
sedangkan perbandingan atom O/C relatif rendah (0,1 0,2). kerogen tipe ini dapat
menghasilkan minyak dan gas, tergantung pada tingkat kematangan termalnya. Kerogen tipe
II dapat terbentuk dari beberapa sumber yang berbeda beda yaitu alga laut, polen dan spora,
lapisan lilin tanaman, fosil resin, dan selain itu juga bisa berasal dari lemak tanaman. Hal ini

terjadi

akibat

adanya

percampuran

antara

material

organik autochton berupa phytoplankton (dan kemungkinan juga zooplankton dan bakteri)
bersama-sama dengan material allochton yang didominasi oleh material dari tumbuhtumbuhan seperti polen dan spora. Percampuran ini menunjukkan adanya gabungan
karakteristik antara kerogen tipe I dan tipe III.
Kandungan hidrogen yang dimiliki kerogen tipe II ini sangat tinggi, sedangkan kandungan
oksigennya jauh lebih rendah karena kerogen tipe ini terbentuk dari material lemak yang
miskin oksigen. Kerogen tipe II tersusun oleh senyawa alifatik rantai sedang (lebih dari C 25)
dalam jumlah yang cukup besar dan sebagian besar naftena (rantai siklik). Pada kerogen tipe
ini juga sering ditemukan unsur belerang dalam jumlah yang besar dalam rantai siklik dan
kemungkinan juga dalam ikatan sulfida. Kerogen tipe II yang banyak mengandung belerang
secara lebih lanjut dapat dikelompokkan lagi menjadi kerogen tipe IIS dengan persen berat
belerang (S) organik 8 14% dan rasio S/C > 0,04 (Orr, 1986 dalam Killops dan Killops,
2005).
Kerogen Tipe III (gas prone)
Kerogen Tipe III memiliki perbandingan atom H/C yang relatif rendah (< 1,0) dan
perbandingan O/C yang tinggi (> 0,3). Kandungan hidrogen yang dimiliki relatif rendah,
karena terdiri dari sistem aromatik yang intensif, sedangkan kandungan oksigennya tinggi
karena terbentuk dari lignin, selulosa, fenol dan karbohidrat. Kerogen Tipe III terutama
berasal dari tumbuhan darat yang hanya sedikit mengandung lemak dan zat lilin. Kerogen tipe
ini menunjukkan kecenderungan besar untuk membentuk gas (gas prone).
Kerogen Tipe IV (inert)
Kerogen tipe IV terutama tersusun atas material rombakan berwarna hitam dan opak.
Sebagian besar kerogen tipe IV tersusun atas kelompok maseral inertinit dengan sedikit
vitrinit. Kerogen tipe ini tidak memiliki kecenderungan menghasilkan hidrokarbon sehingga
terkadang kerogen tipe ini dianggap bukan kerogen yang sebenarnya. Kerogen ini
kemungkinan terbentuk dari material tumbuhan yang telah teroksidasi seluruhnya di
permukaan dan kemudian terbawa ke lingkungan pengendapannya. Kerogen tipe IV hanya
tersusun oleh senyawa aromatik.

1.1.3 VAN KREVELEN DIAGRAM


Diagram van Krevelen dibuat berdasarkan pada perbandingan beberapa tipe komponen
kerogen yaitu C, H, dan O. Diagram ini lebih berguna pada material organik yang belum
matang (immature). Kematangan meningkat dengan meningkatnya temperatur dan
burial depth. Tipe kerogen yang kaya akan C, dan miskin akan H dan O dikarenakan
adanya proses pelepasan H2O, CH4 dan beberapa hidrokarbon lainnya.

1.1.4 GENERATION OF HYDROCARBONS


Proses evolusi material organik dari proses biopolymer menuju geopolymer
dengan pertambahan burial depth seperti terlihat dibawah ini :

Proses evolusi dimulai dengan diagenesis, proses ini diakhiri dengan ekstrak asam
humic dengan segera. Pada proses katagenesis, kerogen dikonversikan menjadi
hidrokarbon. Proses ini merupakan zona oil dan wet gas generation (oil kitchen).
Proses evolusi batubara (coal) hingga bituminous coal akan melepaskan gas dan

oil. Pada proses selanjutnya yaitu metagenesis, source rock dan hard coal sebagian
besar melepaskan gas. Pada source rock yang mengandung oil, residu yang kaya akan C
disebarluaskan pada shale, sedangkan deposit karbon akan membentuk Antracit dan
kemudian akibat proses metamorfisme menbentuk grafit.

Hubungan antara kematangan kerogen dengan temperatur dan kedalaman serta


pelepasan material organik dan generasi hidrokarbon :

1. Pada shallow depth, material organik yang tidak matang melepaskan hanya
biogenic gas (gas methane) yang dihasilkan dari fermentasi bakteri serta sebagian
kecil hidrokarbon berat.
2. Kemudian pada tahap mid-mature (setengah matang-matang), sejumlah besar
oil dihasilkan dalam temperatur antara 60 degC to 80 degC dan 120 degC to 150 degC.

1.2 WIRE LINE LOG


Log merupakan suatu gambaran terhadap kedalaman dari suatu perangkat kurva
yang mewakili parameter parameter yang diukur secara menerus didalam suatu
sumur. Adapun parameter parameter yang bisa diukur adalah sifat kelistrikan
(spontaneous potensial), tahanan jenis batuan , daya hantar listrik , sifat
keradioaktifan, dan sifat meneruskan gelombang suara . Metode perekamannya
dengan menggunakan cara menurunkan suatu sonde atau peralatan ke dasar
lubang pemboran.
Jenis jenis log yang sering digunakan :
A.

Log spontaneous potensial (SP)

Pada formasi yang permeable kurva SP menjauh dari garis lempung. Pada zona
permeabel yang tebal , kurva SP mencapai suatu garis konstan.
Dalam evaluasi formasi log SP digunakan untuk :
Menentukan jenis litologi
Menentukan kandungan lempung
Menentukan harga tahanan jenis air formasi.
B.

Log Gamma Ray (GR)

Log GR merupakan suatu catatan terhadap kedalaman dari radioaktivitas alamiah


suatu formasi. Log Gamma Ray digunakan untuk :
Menentukan volume lempung

Identifikasi litologi
C.

Log Resistivitas

Merupakan log elektrik yang digunakan untuk :


Mendeterminasi kandungan fluida dalam batuan reservoir .
Mengidentifikasi zona permeable
Menentukan porositas
Ada dua tipe log yang digunakan untuk mengukur resistiviti formasi yaitu log
induksi dan log elektroda.
D.

Log Densitas

Log Densitas merupakan suatu tipe log porositas yang mengukur densitas elektron
suatu formasi. Dalam evaluasi sumur log densitas berguna untuk :
Menentukan porositas
Identifikasi litologi
Identifikasi adanya kandungan gas
Mederteminasi densitas hidrokarbon
E.

Log Netron

Merupakan tipe log porositas yang mengukur konsentrasi ion hydrogen dalam
suatu formasi.
Dalam penentuan pekerjaan evaluasi formasi log netron berguna untuk :
Menentukan porositas
Identifikasi litologi
Indentifikasi adanya gas
F.

Log Sonik

Merupakan suatu log porositas yang mengukur interval waktu lewat dari suatu
gelombang suatu suara kompresional untuk melalui satu feet formasi.
Dalam evaluasi formasi log sonic berguna untuk :
Menentukan porositas

Identifikasi litologi

1.3 ELEKTROFASIES

Gambar 1.7. Jenis-jenis umum karakteristik respon log GR


Cylindrical
Bentuk log ini merupakan bentuk dengan karakter GR yang relatif stabil. Fase air
laut yang terjadi stabil dan parasikuen set yang dibentuk adalah aggradasi. Bentuk
seperti ini diasosiasikan dengan endapan sedimen fluvial channel, braided
channel, estuarine.

Funnel
Menunjukan dominasi yang berubah misalnya dari shale ke arah sand (mengkasar
keatas). Fase air laut yang terjadi berupa regresi dan parasikuen set yang dibentuk
adalah progradasi. Lingkungan pengendapannya meliputi estuarine shelf, delta
front.
Bell
Menunjukkan perubahan dominasi besar butiran misalnya dari batupasir ke shale
atau merupakan aspek penghalusan keatas. Fase air laut yang terjadi berupa
transgresi dan parasikuen set yang dibentuk adalah retrogradasi Daerah dengan
dominasi meandering, tidal channel, fluvial point bar.
Symmetrical
Bentuk karakteristik dari kurva GR ini menunjukkan adanya penurunan kadar
shale dilanjutkan kenaikan kembali. Karakter ini juga mengindikasikan adanya
perubahan yang cepat dalam lapisan itu. Perubahan yang terjadi yang terekam
dalam karakter ini adalah adanya progradasi serta retrogradasi yang sinergis dan
cepat.
Serrated
Bentuk kurva pada jenis ini memperlihatkan adanya agradasi dari shale dan lanau.
Fase air laut yang terjadi berupa konstan dan parasikuen set yang dibentuk adalah
aggradasi. Bentuk kurva ini merepresentasikan area pengendapan yang beragam
seperti fluvial floodplain, alluvial plain, shelf .

1.4 METODE PERHITUNGAN CADANGAN HIDROKARBON


Metode Volumetris
Metode volumetris digunakan untuk memperkirakan besarnya cadangan reservoir
pada suatu lapangan minyak atau gas yang baru, dimana data-data yang tersedia
belum lengkap. Data-data yang diperlukan untuk perhitungan perkiraan cadangan
secara volumetris, yaitu bulk volume reservoir (Vb), porositas batuan (f), saturasi
fluida (Sf), dan faktor volume formasi fluida. Perhitungan perkiraan cadangan
secara volumetris dapat digunakan untuk mengetahui besarnya initial hidrocarbon
in place, ultimate recovery, dan recovery factor.
Penentuan Initial Oil In Place (IOIP)
Pada batuan reservoir yang mengandung satu acre-feet pada kondisi awal, maka
volume minyak dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Sedangkan untuk sejumlah gas mula-mula (initial gas in place) dapat ditentukan
dengan persamaan:

Pada persamaan diatas, besaran yang perlu ditentukan terlebih dahulu adalah
volume bulk batuan (Vb). Penentuan volume bulk batuan (Vb) ini dapat dilakukan
secara analitis dan grafis.
Penentuan Volume Bulk Batuan Secara Analitis

Langkah pertama yang dilakukan dalam menentukan volume bulk batuan


adalah membuat peta kontur bawah permukaan dan peta isopach. Peta kontur
bawah permukaan merupakan peta yang menggambarkan garis-garis yang
menghubungkan titik-titik dengan kedalaman yang sama pada setiap puncak
formasi. Sedangkan peta isopach merupakan peta yang menggambarkan garisgaris yang menghubungkan titik-titik dengan ketebalan yang sama dari formasi
produktif. (Gambar 3.1).

Peta Isopach
(a). Total Net Sand, (b). Net Oil Sand,
(c). Completed Isopach Map of Oil Reservoir
(Amyx, J. W., D. M. Bass, Jr. and R. L. Whiting, 1960,Petroleum Reservoir Engineering-Physical Properties)

Setelah peta isopach dibuat, maka luas daerah setiap garis isopach dapat
dihitung dengan menggunakan planimeter dan diplot pada kertas, yaitu luas
lapisan produktif versus kedalaman.

Jika peta isopach telah dibuat, maka perhitungan volume bulk batuan
dapat dilakukan dengan menggunakan metode:
Metode Pyramidal
Metode ini digunakan apabila perbandingan antara luas garis isopach yang
berurutan 0,5 yang secara matematis dituliskan:

Metode Trapezoidal
Metode ini digunakan apabila perbandingan antara luas garis isopach yang
berurutan > 0,5 yang secara matematis dituliskan:

Metode Simpson
Metode ini digunakan jika interval kontur dan isopach tidak sama (tidak teratur)
dan hasilnya akan lebih teliti jika dibandingkan dengan metode trapezoidal yang
secara matematis dituliskan:

Penentuan Volume Bulk Batuan Secara Grafis


Penentuan volume bulk batuan secara grafis dilakukan dengan cara membuat plot
antara ketebalan yang ditunjukkan oleh tiap-tiap garis kontur terhadap luas daerah
masing-masing, seperti terlihat pada Gambar 3.2. Dari gambar tersebut terlihat
bahwa volume bulk batuan merupakan luas daerah yang ditunjukkan dibawah
kurva.

Gambar 4.2.Contoh Grafik Penentuan Volume Bulk Batuan


(Amyx, J. W., D. M. Bass, Jr. and R. L. Whiting, 1960,Petroleum Reservoir Engineering-Physical Properties)

Ultimate Recovery (UR)


Ultimate recovery merupakan jumlah maksimum hidrokarbon yang diperoleh dari
reservoir dengan mekanisme pendorong alamiahnya. Ultimate recovery ini
biasanya dinyatakan dengan parameter unit recovery (UR), yang merupakan hasil
bagi antara ultimate recovery terhadap volume bulk batuan yang dapat
diproduksikan oleh beberapa pengaruh mekanisme pendorong sampai saat
abandonment. Untuk mengetahui besarnya ultimate recovery harus diketahui datadata seperti mekanisme pendorong yang dominan, saturasi fluida mula-mula, dan
akhir dari masa produksi (tekanan abandonment), serta faktor volume formasi
minyak dan gas sebagai fungsi tekanan. Ultimate recovery ini dapat dinyatakan
dalam persamaan sebagai berikut:
UR

= N x RF....(4-7)

Keterangan :
N

: initial oil or gas in place, satuan volume

RF

: recovery factor, fraksi

Secara volumetris, ultimate recovery ini ditentukan dengan persamaan sebagai


berikut:

Unit recovery pada reservoir gas dengan mekanisme pendorong water drive yaitu:

Recovery Factor (RF)

Untuk jumlah cadangan yang dapat diperoleh dipermukaan, maka terlebih dahulu
perlu diketahui harga recovery factor (RF) yaitu perbandingan antara recoverable
reserve dengan initial oil in place (fraksi), atau dapat ditulis dengan persamaan
sebagai berikut: