Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN BENGKEL LISTRIK III

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Bengkel Listrik
Yang dibina oleh Heri Sungkowo. SST., MMT
Dan Dhimas Desha

Oleh:
Hilman Alfanorasis
Januar Aji
Lutfi Puji Kurnia
Retno Selistiyoningsih
Ryan Febriano
Rizaldi Ahmad

: 1531120071
: 1531120087
: 1531120024
: 1531120028
: 1531120050
: 1531120082

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
TAHUN 2015/2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan Laporan Bengkel Listrik 3
dengan judul Instalasi ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa kendala. Laporan
ini membahas tentang pengertian, fungsi, klasifikasi, wiring, serta aplikasi dari
instalasi IN PLASTER Maksud dan tujuan penyusunan Makalah ini adalah
untuk melengkapi persyaratan mendapatkan nilai pada mata kuliah Bengkel
Listrik. Adapun penyusunan laporan ini berdasarkan data-data yang diperoleh dari
literatur - literatur. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini tidak
lepas dari dukungan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini kami
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Bapak Heri Sungkowo. SST., MMT selaku dosen mata kuliah Bengkel
Listrik 3
2. Bapak Dhimas Desha
3. Kedua orang tua dan saudara - saudara kami yang telah mendukung dan
memberikan doa restu.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Instalasi pada skala rumah tangga idealnya harus mengikuti standar
PUIL 2000 ( SNI ). Hal ini bertujuan agar dalam pelaksanaannya terhindar
dari kerugian dan memudahkan dalam bekerja.
Instalasi penerangan dalam skala rumah tangga maupun industri
dapat dibagi menjadi dua, yaitu instalasi in plaster dan instalasi on plaster.
Dalam pelaksanaannya bukan hanya keterampilan dan kemampuan dalam
pemasangannya, akan tetapi juga dibutuhkan pengetahuan.
Selain itu dalam penguasaan materi baik teori maupun prakteknya,
maupun dalam melaksanakan pemasangan instalasinya
juga harus
memenuhi prinsip prinsip dasar suatu instalasi yaitu : Keamanan,
ketersediaan, keindahan, keekonomisan.
Keselamatan kerja juga harus diperhatikan demi keamanan
petugas, begitupun dengan instalasi yang dipasang juga harus sesuai
dengan aturan yang telah tersedia di standar PUIL 2000 (SNI). Untuk
menghidari adanya kecelakaan karena kelalaian dalam melakukan
pemasangan instalasi.
Instalasi In plaster juga harus dapat digunakan dengan baik dan
dapat diandalkan keamanannya. Dalam melakukan pekerjaan instalasi kita
perlu melakukan beberapa pengukuran yang akan menjadikan instalasi
yang kita pasang aman.

A. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah ada maka dapat disimpulkan
rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apa saja hal hal an harus diperhatikan sebelum melakukan
pemasangan instalasi In plaster
2. Apa saja komponen yang digunakan dalam instalasi In Plaster?
3. Bagaimana cara memasang Instalasi In Plaster?
4. Bagaimana Prinsip kerja dari instalasi In plaster?
5. Bagaimana cara melakukan pengukuran pada instalasi In Plaster?

B. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka tujuan penulisan makalah ini
sebagai berikut.
1. Menjelaskan tentang hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan
instalasi In Plaster.
2. Menjelaskan tentan komponen yang digunakan dan fungsinya masingmasing.
3. Menjelaskan cara merencanakan, memasang serta mengoperasikan
instalasi In Plaster.
4. Menjelaskan tentang prisip kerja dari instalasi In Plaster.
5. Menjelaskan tentang cara melakukan pengukuran pada instalasi In
Plaster.

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1. Waktu dan Tempat


Waktu praktikum : Semester 3 tahun ajaran 2015-2016
Alokasi waktu
: 6 jam pelajaran / minggu
Tempat
: Bengkel listrik 3, Gedung AK Politeknik Negeri Malang
2.2. Alat Pelindung Diri ( APD )
1. Pakaian kerja
2. Sepatu

2.3 Jobsheet semester 3


1.
2.
3.
4.
5.

Instalasi In Plaster
Instalasi di dalam panel
Pengukuran Insullation Tester ( Megger )
Tes Kesambungan Instalasi dengan multimeter
Tes urutan fasa dengan fasa meter

BAB III

A. Praktek Bengkel Listrik ( K 3 )


Praktek bengkel listrik ini adalah merupakan suatu teknik dasar sebelum
mahasiswa melaksanakan praktek di bengkel sesuai dengan jurusannya yang
nantinya dibengkel ini setiap mahasiswa dibina sesuai dengan tujuan dari praktek
bengkel Listrik. Pada teori dasar ini akan kita bahas mengenai keselamatan umum
(accident precautions) serta pengenalan terhadap peralatan yang akan digunakan.
K3 digunakan untuk keamanan manusia serta alat yang nanti akan digunakan
dalam intalasi In Plaster.
1. Keselamatan Umum(Accident precautions)
Keselamatan dalam kerja adalah modal utama, yang kita jaga yang
merupakan tanggung jawab kita semua baik para instruktur maupun mahasiswa
sebagai pekerja. Setiap pekerja atau mahasiswa yang bekerja di bengkel mekanik
dituntut untuk lebih berhati-hati, waspada dan siap. Setiap mahasiswa tidak
dibenarkan mengantuk atau kurang siap disaat sedang bekerja. Hal ini
dilaksanakan semata-mata untuk menghindari terjadinya kecelakaan, baik itu
kecelakaan kecil maupun kecelakaan besar.
2. Penanggung Jawab Alat Kerja pada Bengkel
Didalam keselamatan umum telah dijelaskan bahwa penanggung jawab
keselamatan tidak hanya dibebankan oleh instruktur saja, tetapi semuanya ikut
aktif dalam kegiatan bengkel mekanik ini. Penanggung jawab di dalam bengkel
listrik ini adalah sebagai berikut :
a. Instruktur
Dosen pembimbing yang bertugas memberikan instruksi dengan
benar,tepat dan aman untuk tiap-tiap bagian yang akan dikerjakan, pada
setiap kerja bengkel yang akan dilaksanakan. Selan itu juga bertugas
menyelidiki sebab-sebab kerusakan pada alat atau mesin dan
kecelekaan kerja dan mencatat serta memberi penilaian pada
mahasiswa dan hasil kerjaanya.
b. Storeman
orang yang bertanggung jawab penuh pada alat-alat yang dipinjamkan
(dibonkan) kepada praktikan dan mencatat segala kerusakan pada alatalat yang dibonkan serta melaporkan hal itu kepada instruktur. Jadi,
tugas storeman adalah vital dalam membantu pelaksanaan kerja
c. Pekerja (Praktikan)
mahasiswa yang melaksanakan praktek atau kerja bengkel, dimana
setiap mahasiswa dituntut untuk harus dapat bekerja sesuai dengan

ketentuan yang ada dan menjaga semua peralatan, mesin mesin dari
segala kemungkinan yang menyebabkan kerusakan.
3. Mengutamakan Keselamatan Kerja
Sebelum melakukan praktek bengkel mekanik kita harus berdoa kepada
Allah SWT agar dihindari dari segala bahaya yang dapat merugikan kita. Kita
juga harus terlebih dahulu selalu menggunakan alat pengaman seperti pelindung
diri dan pelindung alat-alat yang kita gunakan. Dan ini bisa terjadi karena
beberapa sebab seperti :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Terkena ujung sisi alat yang tajam


Terkena benda yang panas
Terkena benda-benda yang berputar seperti bor, mesin bubut dll
Terkena aliran listrik
Terkena jatuhan benda-benda berat
Kecelakaan tidak sengaja seperti jatuh dan luka
Penggunaan alat yang tidak sesuai dengan petunjuk
Tidak memiliki alat pengaman
Tidak memakai peralatan bengkel yang sudah ditentukan, misalnya sering
terkena larutan kimia
Selain kecelakaan yang akan berakibat langsung terhadap diri kita, apalagi
kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya peralatan, seperti :
a) Penggunaan alat yang digunakan yang tidak sesuai dengan fungsi alat
tersebut
b) Peralatan yang tidak dibersihkan setelah praktek sehingga alat berkarat
dan tidak baik dipakai bekerja lagi
c) Penggunaan alat pada beban yang lebih dari kemampuannya seperti alat
pemotong (cutter) yang kemampuan maksimumnya dapat memotong plat
yang mempunyai ketebalan tidak lebih dari 2 milimeter, bila alat itu masih
tetap digunakan maka tindakan ini dapat merusak peralatan yang
digunakan
d) Meletakkan peralatan pada tempat yang tidak tepat, misalnya meletakkan
peralatan ditepi meja, yang dapat mengakibatkan benda jatuh dan rusak.
Untuk menjaga agar hal-hal diatas tidak terjadi maka kita harus
melaksanakan tata tertib yang telah diberikan oleh instruktur sehingga kita
menjaga keselamatan, misalnya :
A. Pakaian kerja harus sesuai, terkancing dan rapi
B. Tidak menyimpan benda tajam dalam pakaian
C. Menggunakan alat pengaman sesuai dengan kegiatan yang akan
dilaksanakan, serta memakai alat pengaman

D. Menghindari dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan diri kita,


teman sesama kerja serta orang lain disekitar kita
E. Selalu mengadakan konsultasi dengan instruktur bila menghadapi masalah
tentang kegiatan bengkel mekanik
4. Keselamatan Kerja di Bangku Kerja
Keselamatan kerja meliputi berbagai aspek, antara lain meliputi:
1.
2.
3.
4.

Keselamatan pada diri sendiri


Keselamatan peralatan kerja dan alat-alat yang sering digunakan
Keselamatan pada benda kerja
Keselamatan orang lain dan lingkungan disekitar tempat kerja

5. Kebersihan Dalam Bekerja


Kebersihan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan
diutamakan dalam setiap melakukan pekerjaan karena kebersihan juga merupakan
salah satu langkah mengutamakan keselamatan kerja, pada alat kerja yang tidak
bersih akan dapat merusak alat tersebut sendiri dan dapat membahayakan pekerja
atau bagi pemakainya. Ruangan yang dipakai untuk bekerja harus senantiasa
bersih agar tidak mengganggu kelancaran bekerja, misalnya ruangan harus
dibersikan dari debu debu dan sebelum memasuki ruangan bengkel kita harus
membuka ventilasi udara atau kaca jendela dengan tujuan agar pergantian udara
dalam ruangan dapat berjalan lancar.
Selain itu piket wajib membersihkan ruangan kerja setelah melakukan
praktek di ruangan bengkel disamping itu, masing masing mahasiswa wajib
membersihkan tempat kerja masing masing.
6. Standar Keselamatan Kerja
Pengamanan sebagai tindakan keselamatan kerja ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan digolongkan sebagai berikut:
a. Pelindung badan, meliputi pelindung mata, tangan, hidung, kaki,
kepala, dan telinga.
b. Alat pengaman listrik, yang setiap saat dapat membahayakan.
c. Pengaman ruang, meliputi pemadam kebakaran, sistem alarm, air
hidrant, penerangan yang cukup, ventilasi udara yang baik, dan
sebagainya.
Di samping penggolongan pengamanan tersebut di atas, standar
keselamatan kerja terutama di bengkel mekanik listrik, ada urutan penanggung
jawab keselamatan kerja. Seorang pengawas mempunyai tugas dan kewajiban
antara lain: memberikan instruksi dengan benar kepada anak buahnya secara tepat
dan aman untuk tiap-tiap bagian yang akan dikerjakan. Jika terjadi kecelakaan,
seorang instrutur berkewajiban menyelidiki sebab-sebab terjadinya kecelakaan

dan kerusakan yang terjadi. Pengawas wajib melaporkan kepada atasannya atas
kejadian kecelakaan tersebut, melaporkan tentang kerusakan mesin maupun alatalat yang digunakan , mencatat peristiwa tersebut secara akurat dan tertib.
Seorang praktikan, mempunyai tugas dan kewajiban antara lain: mentaati
segala peraturan dan instruksi yang ada. Ia berkewajiban melakukan pekerjaan
dengan hati-hati dan aman, menjaga keutuhan alat dan kebersihan ruangan kerja,
bertindak secara tepat jika terjadi kecelakaan dan melaporkan kepada guru.
7. Sistem pengaman (Fuse)
Fuse adalah jenis pengaman alat alat pemakai listrik terhadap arus yang
melebihi kapasitas bats, yaitu arus yang masuk melebihi arus nominal yang dapat
menyebabkan kerusakkan terhadap peralatan listrik, bagian dari fuse ialah Rumah
fuse. Pengepas patron dengan kawat lebur didalamnya. Tutupan fuse. Dan
Dudukan fuse.
Untuk instalasi instalasi penerangan umumnya menggunakan fuse ini,
yang bagian penghubung arusnya dinamakan patron dimana didalamnya berisi
kawat lebur, apabila dialiri listrik yang lebih besar dari pada yang telah ditentukan
maka akan terjadi lebur, dan hubungan listrik terputus. Bentuk fuse harus
sedemikian rupa sehingga fuse patron dalam keadaan tertutup dan tidak tersentuh
dan bila mana kawat lebur telah terputus maka dengan mudah mengganti fuse
patronnya tanpa menyentuh bagian rumahan fuse yang bertegangan.
Fuse selalu dihubungkan dengan penghantar fasa secara seri karena fungsi
dari fuse ialah mengamankan alat pemakai dari arus yang lebih yang mungkin
mengalir masuk, dengan menghubungkan fuse ke penghantar fasa kerusakan
terhadap peralatan listrik dapat dihindarkan karena sebelum arus lebih masuk
kedalam peralatan maka kawat lebur dari fuse akan terputus labih dahulu.
Jika kawat lebur putus harus diganti dengan ukuran dan kemampuan sama
seperti yang semula sehingga tidak menghilangkan fungsi fuse, untuk melakukan
pencabangan penghantar fasa jaringan harus melalui fuse, dari percabangan
sampai ke instalasi dipergunakan tiga buah fuse, yaitu : Fuse tiang (pal fuse),
Fuse utama, Fuse kelompok instalasi.

B. Daftar Perlengkapan yang Digunakan


No.
Nama
Gambar
1.
Tang
Cucut

2.

Tang
Kupas

3.

Tang
Kombin
asi

Jumlah
1

Fungsi
Tang model ini digunakan untuk
pembengkokkan
kabel
solid.
Pembengkokan yang dimaksud
adalah
pembengkokkan
dalam
pembuatan mata itik, selain itu juga
dapat menyikukan kabel supaya
tampak terlihat rapi. Kerapian ini
sangat penting, terutama saat
pemasangan kabel panel yang sekian
banyaknya. Jika kabel rapi, tentunya
panel yang dipasang sangatlah
mudah untuk dipahami dan sangat
mudah terselesaikan jika terjadi
suatu perbaikan.
Tang kupas adalah alat untuk
mempermudah pengupasan suatu
kabel. Terutama kabel solid, jika
pengupasan menggunakan alat ini,
keefisienan waktu akan lebih baik,
jika
dibandingkan
dengan
menggunakan pisau pengupas. Akan
tetapi perlu diperhatikan bahwa jika
tang ini terlalu keras penekanannya,
mengakibatkan kecacatan kabel. Ada
bagian yang hampir terputus dan
luas penampang dibagian itu akan
kecil, sehingga kabel tidak bisa
terpenuhi
kriteria
yang
kita
harapkan.
Tang kombinasi ini digunakan
secara umum, bisa digunakan untuk
pembengkokan
sesuatu
yang
membutuhkan kekuatan yang lebih.
Selain itu, tang ini juga dilengkapi
dengan pemotong. Pemotong ini
digunakan untuk memotong kabel
yang ukurannya lebih besar yang
membutuhkan
kekuatan
lebih
dibanding dengan menggunakan
tang potong biasa.

4.

Tang
Potong

Tang potong dengan merek Wipro


ini secara khusus digunakan untuk
pemotongan kabel. Tang ini
mempunyai ujung seperti pisau yang
digunakan untuk pemotongan. Akan
tetapi, tang potong ini mempunyai
kekuatan terbatas, jika dipaksakan
untuk pemotongan yang lebih besar
tang ini dapat patah. Untuk
pemotongan yang lebih besar dapat
menggunakan tang kombinasi.

5.

Obeng
Ukuran
0

Obeng
ini
digunakan
saat
pemasangan kabel pada panel dan
beberapa
komponen
yang
diameternya sangatlah kecil. Seperti
saat membuka dan mengencangkan
terminal blok dan beberapa terminal
yang ada di dalam panel.

6.

Obeng
Ukuran
1

Obeng ukuran 1 ini mempunyai


mata obeng yang lebih besar
daripada
obeng
ukuran
0,
diharapkan obeng ini dapat masuk
ke sela-sela suatu komponen untuk
pemasangan ke papan kerja dengan
kekuatan yang lebih daripada obeng
ukuran 0.

7.

Obeng
Ukuran
2

Obeng ukuran 2 ini lebih sering


digunakan
untuk
pemasangan
komponen yang biasa. Pertengahan
antara beberapa ukuran dari 5
macam ukuran obeng. Digunakan
untuk sekrup ataupun baut yang
ukuranya sedang. Tidak terlalu kecil
ataupun tidak terlalu besar.

8.

Obeng
Ukuran
3

Obeng dengan ukuran 3 digunakan


saat obeng ukuran sedang kurang
pas dengan komponen yang akan
dipasang. Penggunaakan obeng dan
ukuran
tergantung
dengan
komponen apa yang akan kita
pasang dan di tempat apa komponen
yang akan kita pasang. Sehingga kita
dapat menentukan seberapa besar
kekuatan dan seberapa besar ukuran
yang kita inginkan.

9.

Obeng
Ukura 4

Obeng ukuran 4 ini biasa digunakan


untuk pemasangan suatu komponen
yang membutuhkan kekuatan yang
lebih. Maka pada obeng ini
mempunyai ukuran yang lebih besar
daripada yang lain. Dan mempunyai
mata minus yang lebar, sehingga
diharapkan tidak terjadi kemlesetan
dan sebagaina.

10.

Pasring

Untuk measang Mor yang akan


digunakan
untuk
melakukan
pemasangan KWH meter.

a. Bahan yang Diperlukan


1. Kabel NYA 1,5 mm2
Pengahantar yang digunakan adalah NYA 1,5 mm 2. Kabel
NYA berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk
instalasi luar/kabel udara. Kode warna isolasi ada warna merah,
kuning, biru dan hitam. Kabel tipe ini umum dipergunakan di
perumahan karena harganya yang relatif murah.
Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat,
tidak tahan air (NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah
digigit tikus. Agar aman memakai kabel tipe ini, kabel harus
dipasang dalam pipa/conduit jenis PVC atau saluran tertutup.
Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus, dan apabila ada isolasi
yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang.

b. Komponen Yang digunakan


Komponen instalasi listrik yang akan dipasang pada instalasi listrik , harus
memenuhi persyaratan seperti: Keandalan, menjamin kelangsungan kerja instalasi
listrik pada kondisi normal. Keamanan, komponen instalasi yang dipasang dapat
menjamin keamanan system
instalasi listrik.Kontinuitas, komponren dapat
bekerja secara terus menerus pada kondisi normal.

NO.

NAMA

1.

2.

GAMBAR

JUMLAH

FUNGSI

Fitting
lampu
Tender

Lampu
Pijar

Fitting tender ini terbuat


dari bahan keramik.
Memiliki 2 terminal, satu
terminal untuk kabel
phasa dan satu lagi untuk
kabel netral. Fitting jenis
ini memiliki keunggulan
yaitu dapat digunakan
untuk penerangan di luar
ruangan
dan
tidak
memerlukan
roset
sebagai dudukannya, dan
secara fisiknya jauh lebih
kuat dari fitting lokal.
Lampu pijar merupakan
komponen
pelengkap
dalam praktek ini sebagai
uji
pengecekan
dan

jumlah
daya
yang
dipakai. Cos phi dari
lampu pijar adalah 1.
3.

Kotak
Konta
k

Kotak kontak ini terbuat


dari bahan keramik.
Memiliki 3 buah terminal
(phasa, netral, PE) dan
kotak
kontak
ini
mempunyai kemampuan
500 VA. Letak dari
terminal phasa pada
posisi kiri dan netral
pada sebelah kanan, PE
pada atas atau bawah.

4.

Saklar
Tukar

Saklar
tukar
adalah
saklar yang yang dapat
digunakan
untuk
menghidupkan
dan
mematikan lampu dari
tempat yang berbeda.
Instalasi saklar tukar
adalah penggunaan dua
buah
saklar
untuk
meyalakan
dan
menghidupkan satu buah
lampu
dengan
cara
bergantian.
Rangkaian
instalasi
penerangan
yang
menggunakan
saklar tukar banyak
dijumpai di hotel-hotel
atau
di
rumah
penginapan maupun di
lorong-lorong
yang
panjang. Sehingga saklar
tukar ini dikenal juga
sebagai saklar hotel
maupun saklar lorong.
Tujuan dari penggunaan
ini ialah untuk efisiensi

5.

Saklar
Seri

6.

Lasdop

waktu dan tenaga karena


penggunaan saklar ini
sangat praktis.
Saklar seri ini dapat
digunakan
untuk
megoperasikan 2 buah
lampu sekaligus ataupun
salah satu saja. Saklar ini
terbuat
dari
bahan
keramik. Memiliki 4
terminal , 2 untuk phasa
lampu dan 2 untuk netral.
Dan dapat bekerja pada
tegangan 250 Volt.
Junction Box adalah
tempat
pengaman
sambungan kabel, terbuat
dari
bahan
plastic
tujuannya adalah agar
tidak
menghantarkan
arus
sehingga
tidak
membahayakan. Dengan
menggunakan ini kita
dapat membagi dan
menyambung
kabel
sesuai dengan kebutuhan.
Setelah
sambungansambungan yang terdapat
pada kotak sambung
dipilin dengan baik dan
kuat dengan benang
kasur.
Sebaiknya
sambungan itu ditutup
dengan las dop. Ini
dimaksudkan agar antara
masing-masing
sambungan
tidak
bersinggungan sehingga
tidak
membahayakan
kita. Las dop dibuat dari
bahan isolasi porselen
atau plastik.

7.

Fuse

Merupakan
komponen
pengaman listrik yang
sifat
kerjanya
meleburkan kawat yang
dipasang
didalam
komponen
tersebut
apabila kawat tersebut
dilewati dengan arus
hubung singkat tertentu.
Jenis kawatnya berbedabeda untuk tiap hantar
kawat
dengan
arus
nominal tertentu, misal
2A (Ampere), 4A, 6A
dst. Sesuai dengan kode
warnanya, jika warna
merah
seperti
pada
gambar
yaitu
menandakan bahwa arus
nominalnya 10 Ampere.
Komponen
pengaman
tipe lebur ini mulai
jarang digunakan karena
ada kerepotan tersendiri
bila putus karena terjadi
masalah. Apalagi bila
persediaan sekering di
rumah tidak ada. Tetapi
secara jujur perlu diakui
bahwa komponen ini
akan bekerja sempurna
memutus listrik bila
terjadi masalah, asal saja
komponen ini original
kawatnya tanpa kita
rubah sendiri. Berbeda
dengan tipe berikut yaitu
MCB yang mempunyai
fungsi sebagai pemutus
arus lsitrik bila kelebihan
beban
atau
terjadi
hubung
singkat,

8.

Panel

9.

Termin
al

pengaman lebur hanya


berfungsi bila terjadi
hubung singkat saja.
Kotak panel ini berfungsi
sebagai tempat utama
dalam penyaluran di
jaringan.
Semua
komponen akan terpiusat
di panel ini. Panel yang
saya gunakan adalah
nomor 147. Pada panel
ini terdapat beberapa
terminal secara terpisah
dan profil G dan C
masing masing ada 2
buah. Fungsi profil ini
untuk
penempatan
komponen dalam panel,
seperti saklar impuls,
fuse, line up terminal dan
beberapa kabel yang
tertata rapi.
Line up terminal adalah
sebagai
tempat
penyambungan
kabel
dari
sumber
di
hubungkan pada titik
titik control dan daya
yang diperlukan.
Sesuai dari ketentuan
dari name plate. Pada
name plate terminal ini
menunjukkan beberapa
ketentuan dari berbagai
Negara yang memiliki
lembaga
kelistrikan
internasional.
Dimana
penghantar
yang
di
ijinkan untuk masuk pada
terminal
ini
adalah
maksimum 2.5 mm2.

10.

MCB

Sebagai alat pengaman


saat
terjadi
hubung
singkat ( konsleting)
maupun beban lebih
(Overload). MCB akan
memutus arus apabila
arus yang melewati MCB
melebihi arus nominal.

11.

SOX

12.

Kwh

Merupakan
lampu
tekanan rendah terdiri
dari pelindung hampa
luar dari gelas yang
dilapisi dengan lapisan
pemantul inframerah dari
indium
timah,oksida
sebuah
bahan
semikonduktor
yang
memungkinkan cahaya
tampak untk lewat dan
memantul
kembali
inframerah menjaganya
agar tidak lolos.
Untuk
menghitung
energy
listik
para
konsumen
PLN.KWH
yang dipasang pada In
plaster adalah Kwh 3
fasa.

c. Alat Ukur yang Digunakan


Adapun Alat yang digunakan dalam praktikum instalasi luar kali
ini. Dan berikut adalah tabel tipe dan kegunaan alat uji.

No
1.

Tipe
Multimeter

Contoh
Multimeter
analog,
multimeter
digital

2.

Tang
ampere
Insulation
tester

4.

Pengukur
khusus

GPAS/ ELCB

5.

Phase
Sequence
Tester
(Drvel)

3.

Kegunaan
- Mengukur
tegangan
AC/DC
- Mengukur arus
AC/ DC
- Mengukur
tahanan
- Mengetahui
kontinuitas
(buzzer)

Mengukur arus
AC pada tanah
Megger
Mengukur
analog, megger resistansi isolasi
digital
instalasi

Melindungi
seseorang dari
arus sisa dengan
cara
membandingkan
arus pada semua
penghantar
bertegangan dari
sirkit yang
diamankan.
Untuk
mengetahui uutan
fasa sesuai
dengan arah
jarum jam

Gambar

Amperemeter dan Voltmeter

Gambar II.9 pemasangan Amperemeter dan Voltmeter


Tabel 2.2 Perbedaan Amperemeter dan Voltmeter

JENIS PERBEDAAN
Letak terhadap beban
Kegunaan

AMPEREMETER
Seri
Mengukur arus AC/ DC

Tipe
Faktor yang
menentukan kualitas

Analog/ digital
Lebih rendah resistansinya
maka lebih tinggikualitasnya

VOLTMETER
Parallel
Mengukur tegangan AC/
DC
Analog/ digital
Lebih tinggi resistansinya
maka lebih baik kualitasnya

Ohmmeter Analog
Ohmmeter digunakan pada saat tegangan dalam kondisi tidak aktif
atau off. JANGAN SEKALI-SEKALI MENGGUNAKAN
OHM METER PADA SAAT SIRKIT BERTEGANGAN
KARENA BISA MERUSAK OHM METER ITU SENDIRI.
Sebelum digunakan sebaiknya diuji terlebih dahulu.
Dengan ohmmeter kita dapat mengetahui apakah kabel sudah
tersambung atau masih terputus dan mengetahui keadaan
sakelar apakah masih baik atau sudah rusak, dll dengan cara
mengubah settingan ke suara, jika dihubungkan timbul
suara/bunyi maka kabel tersebut tersambung.
Testpen
Tespen digunakan untuk menguji apakah suatu titik
bertegangan terhadap tanah. Cara pemakaian tespen yaitu: Pegang tespen,
sentuhkan uung jari pada again belakang tespen kemudian sentuhkan
ujung tespen lainnya pad titik yang akan di uji. Pastikan salah atu anggota

tubuh menyentuh tembok atau lantai. Jika lampu tespen menyala maka
titik yang diuji bertegangan terhadap tanah.
Insulation tester
Alat ini biasa disebut dengan megger.
Ketika mengukur kebocoran tegangan , hasil
pembacaan yang ideal pada papan skala ohm
adalah tak terhingga, ini berarti tidak terdapat
kebocoran pada pemanfaatan tegangan listrik.
Sebelum menggunakannya harus di cek terlebih
dahulu keadaan batrei dan dikalibrasi agar hasil
pembacaannya tepat.

Kontrol

dan

Indikator :
1. Output Jacks, M. Berguna untuk memeriksa isolasi, apakah ada kebocoran
tegangan listrik. kabel penyidik (probes) warna merah dimasukkan ke jacks
warna merah, kabel penyidik (probes) warna hitam dimasukkan ke jacks
warna hitam.
2. Input Jacks, ACV digunakan untuk pengukuran tegangan AC dan nilai
tahanan/resistan (resistance)
3. papan Skala
4. Indikator ON
5. ON M, saklar pilih untuk pengukuran tahanan/resistan tinggi (high
resistance). OFF (ACV), saklar pilih untuk tegangan AC, dan Battery (B)
Chek untuk memeriksa tegangan baterai.
6. Saklar M/ACV. Saklar M untuk pilihan mode uji isolasi (insulation
test). Saklar jangkauan ukur ACV untuk mode pengukuran tegangan AC.

7. Pengatur posisi jarum pada angka nol secara mekanik (Mechanical Zero
Adjust).
Persiapan awal :
1. Sebelum melakukan pengukuran tegangan AC periksalah
penunjukan meter pada papan skala. Jarum penunjuk harus berada
pada posisi 0 atau .
2. Jika dibutuhkan dengan menggunakan obeng minus (-), setel
pengatur posisi jarum pada posisi angka 0 sehingga jarum pada
papan skala benar-benar menunjuk angka 0.
3. Sebelum melakukan pengukuran periksalah kondisi baterai, setel
saklar kiri pada posisi B.CHEK, setel saklar kanan pada posisi
M.
4. Jika diperlukan baterai dapat diganti.
5. Ketika mengukur tegangan AC jangan sekali-kali menyentuh ujung
kabel penyidik (probes)!
6. Ketika mengukur tegangan AC, baterai tidak dibutuhkan.
Mengukur Isolasi :
Pastikan rangkaian yang akan diukur berada dalam kondisi Off dan
tidak terhubung dengan sumber tegangan AC.
1. Setel saklar kiri pada posisi ON M saklar kanan pada posisi
M POWER ON Indicator akan bekerja.
2. Masukkan kabel penyidik (probes) tegangan tinggi (kabel merah)
ke lubang yang bertanda M, kabel penyidik warna hitam ke
lubang yang berwarna hitam (disebelah kanan lubang yang
bertanda M).
3. Hubungkan kabel penyidik warna hitam (menggunakan alligator
clip) ke commom atau ground dari rangkaian yang akan diukur.
4. Sentuhkan kabel penyidik tegangan tinggi ke titik yang akan diukur
(kawat tembaga dari kabel listrik misalnya). Agar terhindar dari
sengatan listrik, jaga posisi jari tangan tetap dibelakang pengaman.
5. Bacalah hasil pengukuran pada papan skala. Terkadang hasil
pengukuran kurang memuaskan. Ini terjadi kerena kontak antar
ujung kabel penyidik dengan titik yang akan diukur tidak
sempurna.
6. Jika tidak terjadi kebocoran pada isolasi yang membungkus kabel
listrik (atau rangkaian elektronik lainnya), jarum akan tetap
menunjuk posisi tak terhingga ().
7. Jika terjadi kebocoran pada isolasi yang membungkus kabel listrik
(atau rangkaian elektronik lainnya), jarum akan bergerak kekanan.
Langkah Pengukuran :

1. Sebelum dilaksanakan pengukuran tahanan isolasi, panjang kabel


harus diketahui
2. Lepaskan semua hubungan ke beban, ke jaringan dank e bumi
(kecuali penghantar pengaman) dan hubungan antar terminal/rel
netral dan rel pengaman.
3. Pengukuran bagian instalasi tersebut ayat 322.A.5 dilakukan antara
penghantar fasa ke bumi, penghantar netral ke bumi dan penghantar
fasa ke fasa.
4. Pisahkan satu pasang urat kabel yang akan diukur, missal p-1 dan
seluruh kabel lainnya disatukan dengan screen cable dan
dihubungkan dengan grounding.
5. Hubungkan ujung urat kabel yang akan diukur, missal p-1 dengan
alat ukur, lalu aktifkan alat ukur sedang ujung lainnya harus
terbuka (open). Lama pengukuran sekitar 1 menit sampai
penunjukan suatu nilai tahanan isolasi konstan.
6. Langkah selanjutnya ujung urat a tetap terhubung dengan alat ukur
sedang urat b dilepas. Kemudian cord alat ujur yang sebelumnya
dihubungkan dengan urat b disambungkan dengan ground. Aktifkan
alat ukur selama sekitar 1 menit, sehingga akan tertera suatu
tahanan isolasi antara urat a dengan grounding.
7. Pengukuran tahanan isolasi urat-b dengan ground prosesnya sama
dengan di atas.
8. Selanjutnya untuk pemasangan urat kabel lainnya dilakukan proses
berulang.
Pemasangan Instalasi In Plaster
Berikut adalah cara cara pemasangan instalasi in plaster
2.1.1 Penanaman pipa besi dalam tembok:
1. Tahap awal tentukan letakdari stop kontak yang akan dipasang dalam
tembok yaitu dengancara mengukur ketinggian stop kontak dari lantai
sekitar minimal 30 cm atau lebih disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing
2. Mal dinding yang akan kita pahat menyesuaikan ukuran pipa yang
kitagunakan.
3. Pahatlah dindings esuaiapa yang kita inginkan
4. Masukkanlah atau pasangkanlah pipa pada dinding, masukkan ujung pipa
bagian bawah ke lubang T dos sedangkan ujung pipa bagiana tas sejajar
dengan ujung dinding.
5. Klamlah pipa agar pipabenar-benar kuat maka gunakan klam khusus untuk
pipa atau bisa juga dengan memasang paku disisi kiri
dankananpipadenganjarakantaraklam 50 Cm untuk mencegah plasteran

masuk ke T dos tutuplah ataus umbatlah T dos dengan plastic atau kertas
yang diremas-remas
6. Pasang jarring-jaringditempat yang kitapahattadi yang letaknyadiataspipa
agar memudahkan dalam proses pemplasteranitu .
7. Pastikan pemasangan semua tadi dengan baik dan kuat agar setelansetelah
di plester tidak terjadi kesalahan.
2.1.2 Proses dalampemahatan
1. Pertama-tama cara memahat dilakukan sesuai dengan garis sketsa yang
telah kita buat, lalu pahatlah kearah luar tembok agar serpihan pahatan
tidak mencederai kita dan membuat hasil pahatan lebih rapi karena sesuai
dengan sketsa yang di buat.Setelahitu barulah kita dapat memahat dari
segala sisi sesuai kebutuhan kita.
2. Sudut yang kitagunakan 45 derajat dan arah pahatannya harus keluar
tembok.
3. Pahat yang pertama digunakan pahat runcing untuk membuatj alurl ubang
pipa.
4. Pemahatannya dilakukan dengan posisi yang tegak dan badan lurus
dengan jalur pipa yang kitabuat.
5. Pahat tumpul yang kita gunakan untuk meratakan dari pahatan awalr
uncing tadi.
6. Barulah setelah rapi kita dapat memasukan pipa.
Setelah proses pemahatan selesai, tanam T-DOS dan pipa pada pahatanpahatan yang telah di tentukan, kemudian pasang kawat jaring-jaring agar
adonan semen dapat melekat dengan baik pada tembok. Kemudian pasang
klembesi agar pipa yang telah di tanam dalam tembok tidak goyah.

Gambar 2.Penanamanpipadalamtembok
2.1.3 PelapisanPahatandengan semen
Setelah pipa dan dos di pasang dalam tembok, langkah selanjutnya
adalah pelapisan dengan semen agar hasil pekerjaan pemasangan instalasi in
plaster terlihat rapi.Adonan semen yang di gunakansebaiknya halus dan saat
proses pelapisan harus rata, sehingga bekas pahatan tidak terlihat.

Gambar 3.Pelapisan semen

BAB IV
PELAKSANAAN PRAKTEK

4.1. Keselamatan Kerja


Hal-hal yang harus kita perhatikan sebelum melakukan pekerjaan
adalah sbb:

1. Mengetahui terlebih dahulu apakah pekerjaan yang dilakukannya adalah


pekerjaan berbahaya (dapat memahami semua pekerjaan atau
kemungkinan yang membahayakan jiwanya juga jiwa orang lain),
2.

Mengurangi atau memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.


Tugas-tugas atau kemungkinan berbahaya dalam bekerja pada
instalasi dapat Saudara lihat pada tabel berikut.
Tabel 14. Tabel Jenis Kecelakaan
No
1

JENIS KECELAKAAN
KERJA
Kejut listrik

CARA PENANGGULANGANNYA
a. Jangan bergurau pada saat memasang instalasi.
b. Tidak boleh menekan tombol sembarangan.
c. Memakai sepatu yang tertutup dan berisolasi
baik.
d. Memperbaiki instalasi pada saat aliran listrik
padam.

Kebakaran

a. Jangan merokok di dalam dan di sekitar


bengkel.
b.

Sediakan pemadam
extinguisher).

api

(dry

powder

c. Letakkan bahan-bahan yang mudah terbakar


pada tempat yang aman.
3

Terpeleset

a. Perhatikan selalu lantai atau tempat berpijak.


b. Pijaklah tempat yang rata.
c. Bersihkan lantai yang licin dengan cepat dan
bersih.
d. Pakailah helm untuk melindungi kepala.

Kepala terbentur

a. Pakailah helm untuk melindungi kepala.

atau tertimpa benda keras

b. Perhatikan atap atau peralatan yang letaknya


sama tinggi dengan kita.
c. Perhatikan rekan yang bekerja di atas kita
jangan sampai menjatuhkan obeng, tang, dll

ke kepala kita.
5

Ada bagian tubuh yang


terluka karena peralatan
mekanik

a. Berhati-hatilah saat menggunakan setiap


peralatan saat praktikum atau do lapangan.
b. Jangan bergurau saat bertugas.
c. Memakai standar pengamanan yang cukup.

4.2. Langkah Kerja Praktikum


1. Cek alat dan ketersediaan alat akan digunakan.
2. Lapor ke petugas bengkel jika terjadi kekurangan alat. Jaga baik-baik dan
pastikan alat yang tersedia tidak ada yang kurang.
3. Memahami desain instalasi yang akan dibuat.
4. Membuat single line diagram. Berikut ini adalah single line diagram
instalasi penerangan dan diagram pengawatan MCB.

5. Membuat wiring diagram sedetail mungkin dan selengkap mungkin


sehingga memudahkan pelaksanaan praktek.

6. Menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, yaitu:


a. Meminjam alat dan bahan sesuai yang dibutuhkan. Jangan lupa dicek
dan pastikan jika ada yang kurang baik kondisinya bisa dilaporkan ke
petugas bengkel bagian gudang.
b. Catat dan beri keterangan kerusakan atau kondisi dari komponen jika
komponen tersebut kondisinya kurang baik.

c. Hitung kelengkapan komponen agar tidak ada kekurangan. Karena jika


kurang / hilang, maka kita wajib mengganti yang baru.
d. Jaga sebaik mungkin dan berhati-hatilah saat pemasangan karena tiap
tiap komponen dapat rusak.
7. Memasukkan kabel ke dalam pipa sesuai dengan yang telah di desain dan
jangan lupa untuk menandai kabel tersebut agar suatu saat tidak bingung
memasang komponen yang telah dipersiapkan yaitu: Saklar Seri, saklar
tukar, Fitting tender, Junction box,kontak kontak, Pipa PVC

8. Membuat pengawatan pada panel.

9. Memasang fitting tender dan lampu

10. Memasang saklar seri, saklar tukar , dan kotak kontak

11. Mengecek sambungan menggunakan multimeter dengan menyeting pada


pilihan sound/bunyi sehingga jika tersambung dengan benar akan keluar
bunyi dan sebaliknya.

Tabel Kondisi Penyambungan tiap titik

Pengetesan

Multimete
r

Kondisi

Yang Diuji

Tersambung
Pipa 1

Nkotak tender Nsumber


Lkotak tender Lsumber
Lkotak tender Lsaklar
Nlampu A Nkotak tender
Llampu A Lsaklar
Nlampu B Nkotak tender
Llampu B Lsaklar
Lstop kontak Lkotak tender
Nstop kontak Nkotak tender
PEstop kontak PEsumber
Nlampu C Npanel

Tidak
-

12. Mengecek tahanan bocoran/isolasi pada rangkaian dengan menggunakan


merger. Berhati-hatilah dalam menggunakan alat tersebut. Dan perlu
diperhatikan bahwa ketika menggunakan megger alat elektronik pada
rangkaian harus dilepas. Seperti selkom (LDR).
Tabel. Hasil pengukuran dengan megger
Uraian simak
(Hubungan)
R-S
T-R
S-T
R-N
S-N
T-N
R-PE
S-PE
T-PE
N-PE

Kondisi tahanan
5 M
5M

Keterangan

13. setelah semua terpasang dengan baik dan diuji dengan alat ukur, maka
setelah itu menghubungkan dengan sumber tegangan dengan kabel NYY.
Memberi beban lampu pijar pada tiap tiap fitting.

Tabel Kebenaran Kerja saklar seri


Tabel Kebenaran Kerja saklar seri
Saklar
A
1
0
1
0

Lampu
XA
1
0
1
0

B
0
1
1
0

Keterangan
XB
0
1
1
0

Saklar Seri Bekerja


dengan baik.

Tabel pengukuran Bertengangan


NO
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Keterangan

Tegangan (volt)

R-S
T-R
S-T
R-N
S-N
T-N
R-PE
S-PE
T-PE
N-PE

351
345
352
199
203
202
200
202
202
0