Anda di halaman 1dari 14

KataPengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang karena anugerah dari-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah dengan Tema Kematian Dan Kebangkitan Kristus" Bekerja dan
berusaha melakukan Tugas dengan baik. Kami sangat bersyukur karena telah menyelesaikan
makalah yang menjadi tugas pendidikan agama dengan judul "Kematian Dan Kebangkitan
Kristus". Disamping itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terealisasikanlah
makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat dan jangan
lupa ajukan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya bisa diperbaiki.
Rumusan Masalah

a. Apa tujuan dan kematian Tuhan Yesus Kristus untuk umat manusia
b. Mengetahui manfaat kematian Yesus kristus bagi Gereja
c. Kebangkitan Yesus kristus menebus Dosa Manusia

1.PENDAHULUAN
Matius menekankan bahwa segenap kehidupan Yesus harus dilihat sebagai
pemenuhan nubuat kenabian Perjanjian Lama. Dalam kaitan dengan ini, penekanan akan
pentingnya pemberlakuan Taurat dalam pemaknaan yang terbaru sangat kentara (Mat 5:17,
20). Sejalan dengan Markus, penginjil Matius melihat kematian Yesus sebagai kematian
hamba Allah yang menderita dengan tambahan penekanan yang dilakukan untuk orang lain
(Mat 20:28; 26:26-29) tanpa menafikan peringatan-Nya akan penghakiman Allah yang adil
pada saat-Nya. Kematian Yesus menjadi kejadian dramatis yang berkarakterkan
keteladanan. Siapa yang memilih untuk mengikuti jalan Yesus akan menghadapi siksa dan
penderitaan. Yesus membawa keluar seseorang dari ikatan dosa dengan menunjukkan kepada
mereka jalan yang diwarnai oleh pemberlakuan kebenaran yang mengandung resiko (Mat
5:20) dan kasih kepada sesama yang beda dari biasanya (Mat 5:48).
Lukas mengungkapkan pemaknaan kematian Kristus dalam kisah perjamuan malam
terakhir (Luk 22:14-23). Maknanya dapat disejajarkan dengan yang ada pada Maitus dan
Lukas, yaitu bahwa kematian-Nya merupakan penderitaan yang dilakukan untuk yang lain.
Penyelamatan Yesus dalam terang berita Injil Lukas terlihat pada saat Yesus tampil sebagai
pelayan, yang memberikan kepada yang miskin perspektif baru dan kepada yang kaya
bagaimana mereka harus hidup (Luk 22:26). Saat ini diberlakukan dengan ketulusan, tatanan
sosial kemasyarakatan akan tampil beda (Luk 17:7-10).
Teologi penginjil Yohanes dikenal dengan Kristologi dari atas, di mana
penekanannya bukan kepada manusia Yesus dari Nazaret tetapi pada Anak Allah yang praeksisten, datang dari Sorga turun ke Bumi. Dalam keutuhan kekaryaan Allah dan Yesus, Bapa
dan Anak, terkandung maksud penyelamatan-Nya bagi dunia (Yoh 3:16-21). Bagi Yohanes
salib Yesus menjadi maha karya Allah yang menyelamatkan yang telah dimulai semenjak
inkarnasi-Nya di dunia (Yoh 12:23, 19:30).
Surat Kolose, mengangkat pemaknaan kematian Yesus melalui sebuah himne dalam
Kolose 1:18-20. Mengingat konteksnya, penulis surat ini hidup dalam kekristenan yang
kental dengan tradisi Yahudi Helenis dalam bayang-bayang teologi yang sudah digagas
Paulus. Ia menghayati Kristus tampil sebagai kolabolator antara pencipta dan ciptaan yang
hadir menwujudkan pendamaian melalui salib. Bagian yang serupa juga muncul dalam
Efesus 1:7, 2:13). Darah salib Kristus mewujudkan pendamaian bukan saja antara Allah dan
2

manusia tetapi juga antara sesama manusia, khususnya orang Yahudi dan bukan Yahudi,
antara yang bersunat dan tak bersunat (Ef 2:14-16 perhatikan juga 1 Tim 2:3-5).
Penulis Surat Ibrani mengungkapkan pemaknaan terhadap kematian Yesus dalam
beberapa bagian suratnya. Solidaritas adalah kata kunci di dalam pemkanaannya akan
kematian Yesus (Ibr 2:14-18, 4:15, 5:7-8). Penggunaan metafora Perjanjian Lama yang
dikembangkan dalam terang iman kepada pendamaian yang dilakukan oleh karena kematian
Yesus juga menjadi ciri khas pemaparannya. Sebagai Imam besar, Yesus bukan saja menjadi
pengantara umat, tetapi terlibat langsung untuk memberikan yang baik kepada umat dalam
penyerahan diri-Nya sebagai korban (Ibr 7:27).
Dari paparan singkat ini setidaknya kita dapat melihat bahwa para penulis PB
merancangbangun refleksi dan teologi yang sangat beragam dan bahkan kadang terlihat
terpecah-pecah, jauh dari sistemasi yang rapi dalam memaknakan kematian dan kebangkitan
Yesus. Tetapi dalam keberagaman itu mereka sepertinya sepakat, bahwa kematian Yesus
memberikan dampak bagi kehidupan manusia yang berdosa, sehingga pada akhirnya mereka
memiliki cara pandang yang baru dalam menjalani hidup karena kasih setia Allah yang
berlimpah melalui karya Kristus yang utuh meliputi kelahiran, karya penginjilan nilai-nilai
Kerajaan Allah, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya.
A.

TUJUAN KEMATIAN TUHAN YESUS


Pertama, terdapat ayat-ayat Alkitab yang menunjukkan apa yang Allah ingin kerjakan
melalui kematian Kristus. Saya telah memilih delapan ayat untuk kita amati walaupun masih
banyak ayat lain yang dapat kita lihat. Hasil wawancara dengan mejelis Gereja Injili Di
Indonesia GIDI, Yotinus Kobak.
Lukas 19:10. "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang
hilang." Jelaslah bahwa Allah sungguh-sungguh bermaksud menyelamatkan yang terhilang
melalui kematian Kristus.
Matius 1:21. "... engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan
menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Segala hal yang perlu dilakukan untuk secara
aktual menyelamatkan orang-orang berdosa akan dilakukan oleh Yesus Kristus.
1 Timotius 1:15. "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa."
Ayat ini tidak mengijinkan kita untuk beranggapan bahwa Kristus datang semata-mata untuk

membuat keselamatan orang-orang berdosa dimungkinkan; ayat tersebut menegaskan bahwa


Ia datang untuk secara aktual menyelamatkan mereka.
Ibrani 2:14, 15. "... supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang
berkuasa atas maut; dan supaya dengan jelan demikian Ia membebaskan mereka ... yang ...
berada dalam perhambaan ..." Apa lagi yang dapat lebih jelas dari ayat ini? Kristus datang
untuk secara aktual membebaskan orang-orang berdosa.
Efesus 5:25-27. "Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya
baginya [jemaat] untuk menguduskannya ... supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat
di hadapan diri-Nya dengan cemerlang ... kudus dan tidak bercela." Saya tidak dapat
mengatakan yang lebih jelas daripada yang telah dikerjakan Roh Kudus dalam ayat ayat
tersebut; Kristus mati untuk menyucikan, menguduskan dan memuliakan gereja.
Yohanes 17:19. " ... Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun
dikuduskan dalam kebenaran." Tentu saja kita harus mendengar sang Penebus sendiri
menyatakan maksud kematian-Nya? Ia mati agar sebagian manusia (bukan seluruh manusia,
karena Ia tidak berdoa bagi seluruh manusia - ayat 9) benar-benar dikuduskan.
Galatia 1:4. " ... yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk
melepaskan kita ..." Sekali lagi, ayat ini menyatakan maksud kematian Kristus, yaitu untuk
secara aktual membebaskan kita.
2Korintus 5:21. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena
kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." Demikianlah kita menjadi tahu bahwa
Kristus datang supaya orang- orang berdosa menjadi orang benar.
Dari semua ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa kematian Kristus dimaksudkan untuk
menyelamatkan, membebaskan, menguduskan dan membenarkan semua yang untuknya Ia
mati. Saya bertanya, apakah dengan demikian semua manusia akan diselamatkan,
dibebaskan, dikuduskan dan dibenarkan? Ataukan Kristus telah gagal mencapai maksudNya? Karena itu, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, apakah Kristus mati untuk
semua manusia, atau hanya untuk mereka yang secara aktual diselamatkan dan dibenarkan!
Kedua, terdapat ayat-ayat Alkitab yang berbicara bukan hanya mengenai apa maksud
kematian Kristus, tetapi juga mengenai apa yang secara aktual telah dicapai oleh kematian
tersebut. Saya telah memilih enam perikop:
v Ibrani 9:12, 14. "dengan membawa darah-Nya sendiri ... Ia telah mendapat kelepasan yang
kekal ... dan ... menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia." Di sini disebutkan
4

dua akibat langsung dari kematian Kristus - kelepasan yang kekal dan hati nurani yang
disucikan. Barangsiapa memiliki hal-hal yang tersebut adalah salah seorang dari mereka yang
untuknya Kristus mati.
v Ibrani 1:3. "Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan
Yang Maha-besar, di tempat yang tinggi." Jadi ada penyucian rohani bagi mereka yang
untuknya Kristus mati.
v 1Petrus 2:24. "Ia sendiri telah memikul dosa kita." Di sini kita mendapatkan pernyataan
mengenai apa yang dilakukan Kristus - Ia memikul dosa kita di atas kayu salib.
v Kolose 1:21,22. "Juga kamu ... sekarang diperdamaikan-Nya ..." Suatu keadaan damai secara
aktual telah tercapai antara mereka yang untuknya Ia telah mati dengan Allah Bapa.
v Wahyu 5:9-10. "Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka
bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat
mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam ..." Jelas ayat-ayat ini berbicara
mengenai apa yang terjadi kepada mereka yang untuknya Kristus mati, bukan mengenai
semua manusia.
v Yohanes 10:28. "Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka ..." Kristus sendiri
menjelaskan bahwa hidup diberikan kepada domba- domba-Nya (ayat 27). Kehidupan rohani
yang dinikmati orang-orang percaya didapati mereka melalui kematian Kristus.
Dari keenam ayat-ayat ini (dan masih banyak lagi yang digunakan), kita dapat mengatakan
bahwa jika kematian Kristus secara aktual membawa pembebasan, pembersihan, penyucian,
penghapusan dosa, perdamaian, hidup kekal dan kewarganegaraan surgawi, maka Ia pasti
telah mati hanya untuk mereka yang benar-benar mendapatkan hal-hal tersebut. Jelas, bahwa
tidak semua orang memperoleh semua anugerah tersebut! Oleh karena itu tidak mungkin
kematian Kristus bertujuan untuk keselamatan seluruh manusia.
Ketiga, ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan mengenai orang-orang yang untuknya Kristus
mati, dimana mereka sering disebut "banyak" - contohnya:Yesaya 53:11; Markus
10:45; Ibrani 2:10. Tetapi kata-kata "banyak" ini di banyak ayat Alkitab juga disebut sebagai:
Domba-domba Kristus

Yohanes 10:15

Anak-anak Allah

Yohanes 11:52

Anak-anak yang telah diberikan Allah

Yohanes 17:9; Ibrani 2:13

kepada Kristus

Roma 8:33

Umat pilihan

Roma 11:2

Umat yang dipilih Allah

Kisah 20:28
5

Jemaat Allah

Ibrani 9:28

Mereka yang dosanya ditanggung-Nya

Sebutan-sebutan semacam itu tentu saja tidak ditujukan pada semua manusia. Jadi anda lihat
bahwa tujuan kematian Kristus seperti yang tertuang dalam Alkitab, tidak dimaksudkan bagi
keselamatan setiap manusia. Ungkap Yotinus Kobak.
Ada 7 kata kasih sebelum Tuhan Yesus Mati, yaitu :
1. (Luk 23:34) Yesus Berkata :Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa
yang mereka perbuat. dan mereka membuang undi untuk membagi pakaiannya.
2. (Luk 23:43) Kata Yesus Kepadanya :Aku berkata kepada mu, sesungguhnya hari ini juga
engkau akan bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus.
3. ( Mks 15:34) Dan pada Jam 3 berseruhlah Yesus dengan suara nyaring : Eloi, Eloi, Lama
Sabakhtani ? , yang berarti Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?.
4.(Yoh 19:26) ketika Yesus melihat ibunya dan murid yang dikasihnya di sampingnya,
berkatalah ia kepada ibu nya , ibu, inilah, anakmu !
5. (Yoh 19:28) sesudah itu,karna Yesus tau, bahwa segala sesuwatu telah selesai berkatalah
ia :supaya genaplah yang ada tertulis dalam kitab suci: Aku Haus!.
6. (Yoh 19:30) sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah ia : Sudah Selesai.
Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan Menyerahkan nyawa-Nya.
7. (Luk 23:46) lalu Yesus berseru dengan suara nyaring :Ya Bapa, Kedalam tangan-Mu
Kuserahkan nyawa-Ku. Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

B.

MANFAAT KEMATIAN YESUS BAGI GEREJA


Bagaimana caranya agar kita dibebaskan dari kematian rohani? Bagi yang bukan
Kristen, saya akan menguraikan dengan singkat tentang bagaimana Kitab Suci mengajarkan
bahwa kita dibebaskan dari kuasa kematian rohani. Caranya adalah dengan membuat
keputusan untuk mati bersama dengan Kristus. Jadi bukan hanya Kristus yang mati bagi kita,
tetapi kita juga harus mati bagi dia. Dan ini berarti bahwa orang Kristen sudah mengalami
dengan sesungguhnya seperti apa mati di dalam hidup ini. Jika Anda masih belum mengalami
kematian itu, saya ragu apakah Anda tahu apa artinya menjadi orang Kristen. Mungkin
6

penjelasan mengapa begitu banyak orang Kristen yang kalah dalam peperangan melawan
dosa di dalam hidup ini adalah karena mereka belum benar-benar melewati pengalaman mati
yang mendalam, atau, yang disebut oleh beberapa orang dengan istilah 'mati sepenuhnya ';
yaitu benar-benar mati terhadap cara hidup yang lama di dalam diri kita. Kita masih
membawa cara hidup lama kita yang penuh dengan dosa, dan kita melangkah masuk ke
dalam kehidupan Kristen yang baru tanpa menanggalkan manusia lama kita.
Hidup ini kita baptiskan bersama dan kita hanya mengalami perubahan di luarnya
saja. Jika Anda pelajari Matius pasal 23, Anda akan melihat bahayanya melakukan hal ini.
Tidak ada perubahan yang terjadi di dalam, tapi hanya bagian luar yang dibersihkan oleh
baptisan. Kita harus memahami apa makna mati bagi dosa. Kita perlu mengalami apa artinya
sudah mati dan telah putus hubungan dengan dosa.
Namun kekristenan kita sekarang ini sangatlah dangkal. Tahukah Anda bagaimana
rasanya mati secara batiniah? Mengalami perasaan hancur lebur karena dosa? Merasa hina
dan sakit karena dosa, sehingga pada tingkatan tertentu, Anda memahami seperti apa rasanya
sekarat? Seringkali hal-hal ini tidak diajarkan sekarang. Kita mengira bahwa menjadi orang
Kristen itu hanya sekadar datang, tersenyum di saat baptisan, dan berkata, "Aku mengakui
dosa-dosaku". Lalu, Anda dibenamkan ke air, dan saat keluar Anda telah menjadi Kristen.
Namun Anda tidak mengalami suatu kematian di dalam batin Anda yang membuat Anda
mampu berkata, "Aku telah berpisah dari dosa, sekali untuk selamanya. Aku sudah muak
dengan cara hidupku yang lama - dengan kenikmatan dosa, dengan tipu dayanya, dengan
belenggunya pada kecintaan akan uang, dengan segala hasratnya pada segala perkara duniawi
- aku telah berhenti dari semua itu."
Bukan berarti bahwa sekali Anda mengalami kematian itu maka itu sudah selesai. Kita
akan terus menjalani peperangan melawan dosa di sepanjang kehidupan Kristen kita. Dan
kekuatan kehidupan Kristen Anda akan bergantung kepada kedalaman pengalaman kematian
di dalam diri Anda. Apakah artinya kebangkitan tanpa adanya kematian? Bagaimana mungkin
Anda bisa bangkit menuju hidup yang baru jika sama sekali tidak mempunyai pengalaman
akan kematian itu? Kematian Kristus harus menjadi realitas di dalam diri kita saat kita
bergabung dengan dia di dalam kematian terhadap dosa, supaya kita bisa bangkit bersamasama dengan dia. Itulah arti dari baptisan. Kematian ini adalah pengalaman rohani atau
peristiwa di dalam batin, dan saya tidak takut berbicara tentang pengalaman rohani.
Tentu saja, ada sebagian orang yang ingin menyingkirkan pengalaman rohani sebagai
suatu kenyataan. Mereka tampaknya begitu takut dengan kata 'pengalaman', saya sendiri
sama sekali tidak takut. Karena memang sangatlah penting bagi kita untuk memiliki
7

pengalaman rohani agar bisa memiliki landasan kokoh yang bisa diandalkan dalam hidup
kita, karena pengalaman itu menegaskan kepada kita tentang realitas dari Firman Allah.
Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Firman Allah itu nyata sebelum Anda mengalami sendiri
realitasnya?
C. KEBANGKITAN YESUS KRISTUS
Kebangkitan dan kenaikan yesus ke surga Kebangkitan Yesus pada pokoknya berarti
bahwa Yesus yang di dunia ini benar-benar mati, dan dari keadaan mati itu beralih masuk ke
dalam keadaan lain sama sekali. Ia kini hidup dengan cara yang lain sekaligus tetap
berpengaruh dan aktif menyelamatkan manusia. Maka untuk masuk ke dalam kebangkitan
abadi ini, Yesus harus melewati kematianNya. Hal ini ditandainya dengan makam yang
kosong. Berbicara tentang makam kosong, tidak membuktikan kebangkitan Yesus. Menurut
Markus 16:8, makam yang kosong tidak menimbulkan kepercayaan wanita-wanita yang
menemukannya. Sebaliknya mereka ketakutan dan melarikan diri. Makam kosong
mempunyai arti Ambivalen. Makam kosong sama sekali tidak berkata apa-apa tentang
bagaimana dan karena apa menjadi kosong. Jadi kita harus berkesimpulan bahwa makam
kosong bukanlah menjadi bukti pokok kebangkitan Yesus, melainkan sebuah perandaian.
Makam kosong berarti jangan mencari Dia (Kristus yang hidup, diantara orang mati (lih Luk
24 : 5).
Makam itu terbuka artinya duka cita dan kegelapan maut sudah diganti oleh suka cita
dan terang kebangkitan. Bagi orang yang percaya makam kosong merupakan tanda yang
membutuhkan keterangan lebih lanjut supaya bermakna.apa yang diwartakan oleh makam
kosong adalah kebangkitan Kristus sebagai misteri penyelamatan, juga berarti bahwa jenazah
Yesus tidak diambil atau di curi oleh manusia dan bahwa Yesus tidak kembali lagi kepada
suatu kehidupan duniawi seperti Lazarus, tetapi kehidupan yang mulia. Bukti Kebangkitan
Yesus Kisah sengsara dan wafat Yesus hanya memiliki arti bagi keselamatan kita. Karena
dilihat dalam terang kebangkitan. Kebangkitan Kristus merupakan inti iman kita. St. Paulus
menegaskan, Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan
sia-sialah juga kepercayaan kamu (1Kor 15:14:15)
. Dalam Kitab Suci, khususnya Injil, kebangkitan Yesus diwartakan melalui dua cara,
yang pertama melalui kisah kubur kosong dan kedua melalui penampakan-penampakan.
I. Kubur Kosong Kalau anda ke Israel dan melihat tempat dimana dahulu Yesus dikuburkan
ada tertulis; Jangan cari orang hidup di tengah-tengah orang mati, Ia sudah bangkit lihatlah
kuburNya kosong. Ketika kita masuk ke kuburan itu, memang kosong. Saya bersyukur
8

Tuhan Yesus tidak ada kuburanNya. Kalau kita melihat, ada tokoh-tokoh agama tertentu yang
mati dan tidak bangkit kembali, kemudian beberapa waktu kemudian ditemukan giginya. Di
tempat penemuan itu kemudian dibuat kuil sebagai bukti bahwa sang tokoh pernah hidup.
Saya bersyukur Tuhan Yesus sudah bangkit. Jadi tidak perlu ada kuburan untuk
mengenangNya. Pertama, memang benar tidak ada saksi mata yang melihat proses
kebangkitan Yesus. Kisah kubur kosong juga bukanlah bukti akan kebangkitan Yesus, tetapi
merupakan tanda dari kebangkitan. Bila Yesus orang Nazaret yang disalibkan itu telah
bangkit (bdk Mrk 16:6b), maka pastilah kubur-Nya akan kosong. Jadi, kubur kosong itu
sendiri tidak membawa pada iman akan kebangkitan Yesus. Injil Lukas dan Yohanes
mengindikasikan bahwa Rasul Petrus yang menyaksikan kubur kosong, tidak dibawa pada
iman akan kebangkitan Yesus (Luk 24:12; bdk. Yoh 20: 6-7).
Kubur kosong bukan bukti bahwa Yesus telah bangkit, tetapi hanyalah tanda dari
kebangkitan. Iman Rasul Petrus akan kebangkitan ditumbuhkan karena penampakan dan
pertemuan dengan Yesus yang bangkit (Luk 24:34; 1 Kor 15:5). Kedua, ada empat kisah
kubur kosong, yaitu Mat 28:1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12 dan Yoh 20:1-10. Keempat kisah
kubur kosong itu sepakat bahwa wanita-wanita tertentu dalam rombongan Yesus menemukan
kubur Yesus kosong pada hari ketiga setelah penyaliban. Meskipun ada perbedaan tentang
rincian dalam setiap kisah, tetapi ketiga Injil sinoptik sepakat menampilkan malaikat sebagai
pewarta kebangkitan (Mat 28:5-6; Mrk 16:6; Luk 24:5-7). Inilah kerygma kebangkitan Yesus
yang disampaikan oleh pribadi ilahi, yaitu perwakilan Allah. Malaikat itulah yang
menugaskan para wanita untuk menyampaikan pesannya kepada para murid (Mat 28:7; Mrk
16:7). Kesaksian malaikat ini tentu merupakan tandingan dari kesaksian bohong para penjaga
kubur Yesus bahwa murid-murid Yesus datang mencuri jenasah-Nya (Mat 28: 13). Kehadiran
malaikat itu merupakan jaminan kebenaran pewartaan tentang kebangkitan Yesus.
Ketiga, dalam kisah kubur kosong dalam Injil Yohanes, tidak dikatakan adanya
malaikat Tuhan sebagai jaminan kebenaran pewartaan kebangkitan. Sebagai gantinya, Injil
Yohanes menampilkan murid yang dikasihi (Yoh 20:2). Kesaksian murid yang dikasihi
dikontraskan dengan apa yang dialami oleh Rasul Petrus, yaitu yang melihat kain kafan, kain
peluh, tetapi tidak sampai percaya (Yoh 20:6b-7). Penginjil Yohanes menjelaskan bahwa
sikap Petrus ini terjadi karena belum mengerti isi Kitab Suci (ay 9). Hal ini hendak
mengatakan bahwa kubur kosong itu tidak mendatangkan kepercayaan akan kebangkitan
Yesus. Kubur kosong bukan bukti bahwa Yesus telah bangkit. Di lain pihak, ketika murid
yang lain itu masuk ke kubur, ia melihatnya dan percaya (ay 8). Apa yang dilihatnya di
dalam kubur memberikan kepadanya pencerahan untuk mengerti isi Kitab Suci sehingga
9

membuatnya percaya. Jadi, murid yang lain itu percaya akan kebangkitan Yesus bukan karena
melihat kubur kosong, tetapi karena mendapat pencerahan untuk mengerti Kitab Suci secara
lebih mendalam (bdk. Luk 24:25-27).
Keempat, dusta mahkamah agama bahwa para murid Yesus mencuri jenasah-Nya sulit
diterima karena dusta ini tidak bisa menjelaskan apa motivasi yang mungkin bisa mendorong
para murid untuk menyebarkan sebuah kebohongan, padahal kebohongan itu menyebabkan
mereka dikejar-kejar, dipenjara dan bahkan dibunuh. Keberanian para murid untuk menjadi
martir mencerminkan keyakinan mereka akan kebangkitan Yesus. Siapa yang secara sukarela
mau mati untuk sesuatu yang diketahui sebagai kebohongan?
Kelima, iman kita pada kebangkitan Yesus memang tidak didasarkan pada kubur
kosong, tetapi didasarkan pada kesaksian para murid yang melihat Yesus hidup sesudah
kematiannya. Rasul Paulus membuat semacam daftar dari para saksi mata ini, yaitu Petrus
(Kefas), keduabelas murid-Nya, lebih dari lima ratus saudara, Yakobus dan terakhir Paulus
sendiri (1 Kor 15:3-8). Untuk meyakinkan para muridnya, Paulus bahkan menegaskan bahwa
kebanyakan para saksi mata itu masih hidup, sehingga bisa ditanyai tentang kebenaran
kebangkitan Yesus itu.
II. Kain Kafan Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Yesus benar-benar bangkit?
Mudah saja, Anda dapat melihat kain kafanNya. Bila orang Israel mati, maka mayatnya akan
ditutup dengan dua potong kain kafan, satu kainmenutupi kaki sampai leher dan satu kain lagi
menutupi leher sampai kepala, kemudian orang itu akan ditidurkan di sebuah gua. Ketika
mendapat laporan dari Maria, bahwa Yesus bangkit, murid-murid nerlari kekuburanNya.
Mereka berlari sampai ke dalam dan bertemu dengan malaikat. Kata malaikat kepada mereka,
Lihatlah ! Inilah tempat mereka membaringkan Dia (Mark 16:6b) Lalu dalam Yohanes
20:6-7, Petrus melihat bahwa kain kafan Yesus masih utuh. Jika ada yang mencuri mayat
Yesus, pastilah kain kafanNya tidak akan utuh lagi. Tetapi anehnya, kain kafan Yesus masih
utuh. Gulungannya tetap seperti kepompong, masih utuh dan tidak berantakan sama sekali.
Hanya di dalamnya sudah tidak ada tubuh Yesus. Dia sudah bangkit. Posisi kain kafanNya
juga tetap seperti semula tidak berubah sedikitpun. Ini membuktikan bahwa bukan manusia
yang membuka kain kafan itu tapi Yesus sendiri yang keluar dari kain. Itulah tubuh
kebangkitan. Makna Kebangkitan Yesus Bagi Kita
1. Kebangkitan Yesus mensahkan dan melegitimasi apa yang telah dilakukan atau
diajarkanNya.
2. Dalam kebangkitan Yesus, terpenuhilah janji-janji Perjanjian lama dan janji Yesus
sendiri selama hidupNya di dunia
10

3. Kebangkitan menegaskan ke Allah an Yesus


4. Rahasia Paskah mempunyai dua sisi, yakni dengan kematianNya Yesus
membebaskan kita dari dosa dan dengan kebangkitanNya pula Yesus membuka pintu masuk
menuju kehidupan baru.
5. Kebangkitan Yesus adalah dasar utama kebangkitan kita yang akan datang
Penampakan Yesus Dalam cerita makam kosong, Yesus sendiri tidak ditampakkan. Lain
halnya dengan penampakan Yesus yang telah bangkit. Cerita penampakan itu menyatakan
kegembiraan Paskah. Yesus memperlihatkan diriNya selama 40 hari 40 malam (Kis 1:3)
kepada murid-muridNya. Mulai dari Maria Magdalena (Yoh 20:15-16), kepada para wanita
(Mat 28:9), kepada dua orang murid yang dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:15), di
Yerusalem, Ia berdiri ditengah murid-muridnya (Yoh 20:19,22), makan bersama (Luk 24:36,
41-43), dan ketika di Galilea, Ia menampakkan diri di atas bukit dan mengutus para murid
(Mat 28:16-29), dan masih banyak kisah yang lain. Kalau kita perhatikan selbih seksama,
berbagai cerita penampakan Yesus yang bangkit selalu meliputi tiga unsur pokok yang
penting bagi kita, yaitu prakarsa, pengakuan, dan kesaksisn.
1. Unsur Prakarsa Inisiatif selalu datang dari Yesus. Ia sendiri yang memprakarsaai
penampakan itu. Penampakan itu sendiri digunakan untuk ini menunjukkan dua hal :
Pertama sesuatu yang biasanya tidak kelihatan, kini kelihatan. Setelah bangkit Yesus tidak
termasuk lagi pada dunia yang kelihatan, agar dapat dilihat oleh murid-muridNya, Yesus
harus menjadikan diriNya kelihatan. Kedua penglihatan para murid yang melihat Tuhan
setelah kebangkitanNya bukanlah penglihatan biasa.
2. Unsur Pengakuan Yesus dikenal dan diakui sebagai Kristus dan Tuhan. Dia yang
menampakkan diri-Nya itu diakui sebagai tak lain dan tak bukan adalah Yesus dari Nasaret.
Dia hidup melampaui wafat-Nya. Pengakuan iman ini dinyatalan dengan ungkapan, Yesus
bangkit dari antara orang mati pada hari ke tiga
3. Unsur Kesaksian Unsur yang cukup mencolok adalah Pertama, membuktikan
bahwa penglihatan mengenai Yesus yang bangkit tidaklah diciptakan oleh daya khayal para
murid sendiri, tetapi mendatangi mereka dari luar. Kedua menunjukkan betapa Yesus
diperbaharui oleh kebangkitanNya. Ia tidak lagi persis sama seperti sebelum wafat dan
bangkit. Apabila Yesus selama 40 hari masih menampakkan diri, maka hal ini tidak berarti
bahwa Ia selama beberapa hari masih meneruskan hidup-Nya yang lama. Sebab, hidup yang
lama sudah berakhir dan diubah menjadi hidup yang serba baru. Arti penampakan Yesus
selama 40 hari sebagai berikut : Pertama, Yesus memperkenalkan para murid dan seluruh
Gereja-Nya dengan suatu cara kehadiran yang baru. Untuk tujuan itu, penampakan selama 40
11

hari merupakan masa peralihan. Kedua, dengan menampakkan diri kepada para murid, Yesus
yang telah bangkit itu selalu hadir, juga kalau mereka tidak melihatnya. Yesus yang telah
bangkit itu merupakan alam ciptaan baru di tengah-tengah kita. Penampakan-Nya
mernunjukkan kehadiran-Nya yang permanen. Beberapa contoh tentang bentuk-bentuk
kehadiran Yesus yang permanen itu disajikan oleh cerita-cerita Paksah. Sejak bangkit dari
alam maut, Yesus hadir di tengah-tengah kita.
a. Melalui sabda-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam cerita kedua murid dalam
perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35). Waktu berjalan mereka belum tersentuh oleh rupa
Yesus. Tetapi hati mereka berkobar-kobar ketika Ia mulai berbicara dan menerangkan Kitab
Suci kepada mereka. Dalam sabda, mereka berjumpa dengan Yesus.
b. Melalui tanda, Yesus membuat para murid mengenal-Nya melalui tanda
memecah-mecahkan roti tanda ini oleh Gereja diwujudkan dalam Sakremen Ekaristi.
Untuk seterusnya, Yesus akan memberikan diri-Nya dalam perayaan Ekaristi.
c. Melalui Roh Kudus-Nya, Sebagai tanda kehadiran Roh Yesus telah menghembusi
mereka dan memberikan Roh kepada mereka. Peristiwa ini disebut dengan Pentakosta. d.
Jabatan kegembalaan Petrus dan melalui kuasa Apostolik untuk mengampuni dosa, Tuhan
yang telah bangkit itu tetap hadir di tengah-tengah umatNya.
C. Makna Kenaikkan Yesus ke Surga.
1. Kenaikkan Kristus ke surga menggambarkan langkah masuk yang definitif dari
kodrat manusiawi Yesus ke dalam kemukiaan Allah di surga.
2. Yesus Kristus, kepala Gereja mendahului kita masuk ke dalam Kerajaan
Kemuliaan Bapa, supaya kita semua anggota-anggota tubuhNya dapat hidup dalam harapan
karena Yesus Kristus sudah masuk ke dalam tempat kudus di surga selamanya, makaia tanpa
henti-hentinya bertindak sebagai pengantara yang senantiasa mencurahkan roh Kudus ke atas
kita.

Kesimpulan

Bahwa Bapa menyerahkan anaknya yang tunggal, rela mati di kayu salib daan bangkit
pada hari ke tiga mengalahkan maut, kutuk, saki, penyakit, untuk menebus dosa-dosa
manusia, oleh karna Kasih-Nya yang begitu besar akan dunia ini.

12

MAKALAH
AGAMA KRISTEN

KELOMPOK

: 5 (LIMA)

TEMA

: KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS

Nama Kelompok

: Sri Indah Septiana Silitonga (2015.161.058) FKIP SENDRATASIK


Dewi Martha Pinayungan

(2016.161.082) FKIP SENDRATASIK

Selvi Octaria Parapat

(2016.211.054) F. EKONOMI

Rena Hotmasari

(2016.121.052) FKIP MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2016/2017

13

Daftar Isi

I. Kata pengantar .................................................................................................. 1


II. Rumusan masalah............................................................................................. 2
III. Pendahuluan .................................................................................................... 3
A. Tujuan kematian Tuhan Yesus ...................................................................... 3
B. Manfaat Kematian Yesus bagi Gereja ............................................................. 6
C. Kebangkitan Yesus Kristus .............................................................................. 8

14