Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PRAKTIKUM PARASITOLOGI

ENTAMOEBA HISTOLYTICA DAN TRICHOMONAS


VAGINALIS

Disusun oleh :
Fadhilah Eka Pratiwi
( 2015.043.0031)

PRODI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
1

Makalah Praktikum Parasitologi Entamoeba histolytica dan Trichomonas


vaginalis dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami
berterima kasih pada Liza Yudistira Yusan, S.Farm., M.Farm-Klin., Apt. selaku
dosen mata kuliah Praktikum Biokimia Universitas Hang Tuah Surabaya yang
telah memberikan tugas ini kepada saya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai Entamoeba histolytica dan
Trichomonas vaginalis. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu,
kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah
kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Surabaya,

Desember 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL 1

KATA PENGANTAR ..... 2


DAFTAR ISI .. 3
BAB I PENDAHULUAN .......... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Rumusan Masalah .. 4
1.3 Tujuan Makalah... 5
BAB II PEMBAHASAN 6
2.1 Definisi E.histolytica dan T.vaginalis............. 6
2.2 Morfologi E.histolytica dan T.vaginalis . 7
2.3 Siklus hidup E.histolytica dan T.vaginalis .. 10
2.4 Gejala klinis E.histolytica dan T.vaginalis .. 12
2.5 Cara Pencegahan Penularan E.histolytica dan T.vaginalis.. 13
2.6 Pengobatan pada E.histolytica dan T.vaginalis.... 14
2.7 Diagnosa E.histolytica dan T.vaginalis 16
BAB III PENUTUP 21
DAFTAR PUSTAKA..22

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Entamoeba histolytica adalah protozoa parasit, bagian dari genus Entamoeba.
Entamoeba histolityca merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat patogen dan
menyebabkan penyakit diare amoeba. Diarenya disertai dengan darah dan lendir.
Prevalensi akibat infeksi Entamoeba histolityca cukup tinggi. Protozoa ini dapat
menimbulkan diare bagi penderita, meskipun tidak tertutup kemungkinan
organisme

ini

hidup

secara

komensal

pada

manusia

sehingga

tidak

memperlihatkan gejala klinis yang khas.


Penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa usus amuba (amebiasis),
dikarenakan mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh
adanya protozoa. Kontaminasasi dapat terjadi dikarenakan sistem pembuangan air
kotor dan tinja tidak dikelola dengan baik sehingga dapat mencemari makanan
dan minuman. Selain itu perilaku tidak mencuci tangan dengan menggunakan
sabun setelah buang air besar dan penanganan makanan yang belum memenuhi
aspek sanitasi makanan menyebabkan mikroorganisme penyebab diare leluasa
menginfeksi host (manusia).
Banyak buku tua menyatakan bahwa 10% dari populasi dunia terinfeksi
protozoa ini. Namun sumber lain menyatakan: setidaknya 90% dari infeksi ini
adalah karena spesies Entamoeba kedua yaitu E. dispar. Mamalia seperti anjing
dan kucing bisa menjadi transit infeksi, tetapi tidak ada bukti mengenai kontribusi
nyata untuk terjadinya penularan dari kedua hewan ini.. Entamoeba histolytica
merupakan salah satu spesies dari Rhizopoda. Pertama kali ditemukan oleh Losch
pada tahun 1875 dari tinja seorang penderita disentri di Rusia. Schaudinn berhasil
membedakannya dengan Entamoeba coli yan merupakan parasit komersial di
dalam usus besar. Pada tahun 1913, Walker dan Sellards membuktikan bahwa
Entamoeba histolytica merupakan penyebab penyakit koletis amebic.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah itu Entamoeba histolytica dan Trihomonas vaginalis?
2. Bagaimanakah morfologi dari Entamoeba histolytica dan Trihomonas
vaginalis?
3. Apakah klasifikasi dari Entamoeba histolytica ?
4. Bagaimana cara penularan Entamoeba histolytica ?

5. Bagaimana gejala klinis dari Entamoeba histolytica dan Trihomonas vaginalis


?
6. Bagaimana cara diagnosis penyakit yang disebabkan Entamoeba histolytica
dan Trihomonas vaginalis ?
7. Bagaimana cara pengobatan penyakit penyakit yang disebabkan Entamoeba
histolytica dan Trihomonas vaginalis?
8. Bagaimana cara pencegahan penyakit yang disebabkan Entamoeba histolytica
dan Trihomonas vaginalis
1.3 Tujuan Makalah
Makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan belajar tambahan dan agar lebih
mengetahui tentang Entamoeba histolytica dan Trichomonas vaginalis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi E.histolytica dan T.vaginalis
Entamoeba histolytica adalah parasit yang dapat menyebabkan suatu
benjolan besar yang bisa menyumbat usus dan dapat juga menyebabkan
perlubangan pada dinding usus yang dikarenakan dari kontaminasinya tangan dari
makanan masuk kemulut dan beradaptasi di usus manusia,untuk itu perlunya
pencegahan dengan menjaga lingkungan yang sehat dan bersih agar tidak
terjangkit penyakit kista dari entamoeba histylica.
Klasifikasi Entamoeba histolytica adalah :
Domain

: Eukaryota
5

Filum

: Amoebozoa

Kelas

: Archamoebae

Ordo

: Amoebida

Genus

: Entamoeba

Spesies

: Entamoeba histolytica
Trichomonas vaginalis merupakan protozoa patogenik yang biasanya

dijumpai di traktus genitourinaria manusia yang terinfeksi. Ditularkan malalui


hubungan seksual, yang dapat menyebabkan vaginitis pada wanita dan uretritis
non-gonococcoal pada pria. Diperkirakan lebih dari 200 juta orang di seluruh
dunia terinfeksi parasit ini. Oleh karena itu Trichomonas vaginalis menjadi sangat
menarik untuk dipelajari, apalagi telah dilakukan studi yang mengindikasikan
bahwa infeksi Trichomonas vaginalis meningkatkan transmisi Human Immunode
ficiency Virus (HIV) atau dapat mengakibatkan keganasan pada servix.
Klasifikasi Trichomonas vaginalis adalah :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Protozoa

Kelas

: Zoomastigopho

Ordo

: Mastigophora

Genus

: Trichomonas

Species

: Trichomonas vaginalis

2.2 Mofologi E.histolytica dan T.vaginalis


Dalam siklusnya terdapat tiga bentuk dari Entamoeba histolytica yaitu:
Bentuk Histolitika :
Besarnya 20-40 mikron, inti Entamoeba ada satu dengan kariosom letak
sentral, endoplasma dengan vakuol-vakuol (berbutir halus) biasanya tidak
mengandung bakteri atau sisa makanan, tetapi mengandung sel darah merah, ada
eritrosit, ektoplasma bening homogen terdapat di bagian tepi sel membentuk
pseudopodium yang dapat dilihat dengan nyata. Pseudopodium yang dibentuk
dari ektoplasma, besar dan lebar seperti daun, dibentuk dengan mendadak,
pergerakannya cepat. Bentuk histolitika ini patogen dan dapat hidup dalam
jaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit dan vagina. Bentuk ini berkembangbiak

secara belah pasang di jaringan dan dapat merusak jaringan tersebut, sesuai
dengan nama spesiesnya Entamoeba histolytica (histo = jaringan, lysis = hancur).
Gambar Entamoeba Histolytica :

Bentuk Minuta :
Bentuk minuta adalah bentuk pokok (esensial); tanpa bentuk minuta daur
hidup tidak dapat berlangsung; Besarnya 10-20 mikron, mempunyai satu inti
Entamoeba dengan kariosom letak sentral, endoplasma dengan vakuol-vakuol
(berbutir-butir) yang tidak mengandung sel darah merah tetapi mengandung
bakteri dan sisa makanan, tanpa eritrosit, ektoplasma tidak nyata dan hanya
tampak jika membentuk pseudopodium. Pseudopodium dibentuk perlahanlahan sehingga pergerakannya lambat.
Gambar Entamoeba Minuta :

Bentuk Kista :

Bentuk kista dibentuk di rongga usus besar; Besarnya 10-20 mikron,


berbentuk bulat atau lonjong, mempunyai dinding kista, mempunyai satu atau
empat inti, terlihat benda kromatoid besar menyerupai lisong, terdapat vakuol
glikogen. Benda kromatoid dan vakuol glikogen dianggap sebagai makanan
cadangan, karena itu terdapat pada kista muda. Pada kista matang, benda
kromatoid dan vakuol glikogen biasanya tidak ada lagi. Bentuk kista ini tidak
patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif.
Jadi, E. Histolytica tidak selalu menyebabkan penyakit. Bila tidak menyebabkan
penyakit, ameba ini hidup sebagai bentuk minuta yang bersifat komensal di
rongga usus besar, berkembangbiak secara belah pasang. Kemudian bentuk
minuta dapat membentuk dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista
dikeluarkan bersama tinja.Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat
bertahan terhadap pengaruh buruk di luar badan manusia.Bila kista matang
tertelan, kista tersebut sampai di lambung masih dalam keadaan utuh karena
dinding kista tahan terhadap asam lambung. Di rongga usus halus dinding kista
dicernakan, terjadi ekskistasi dan keluarlah bentuk-bentuk minuta yang masuk ke
rongga usus besar. Bentuk minuta dapat berubah menjadi bentuk histolitika yang
patogen dan hidup di mukosa usus besar dan dapat menimbulkan gejala. Dengan
aliran darah, bentuk histolitika dapat tersebar ke jaringan hati, paru dan otak.
Infeksi terjadi dengan menelan kista matang.
Gambar Entamoeba Kista :

Sedangkan pada Trichomonas vaginalis tidak memiliki stadium kista tetapi


hanya ditemui dalam stadium Tropozoit dan ciri-cirinya adalah :
Bentuknya oval atau piriformis, memiliki 4 buah flagel anterior, flagel ke 5
menjadi axonema dari membran bergelombang (membrane undulant) , pada
ujung pasterior terdapat axonema yang keluar dari badan yang diduga untuk
melekatkan diri pada jaringan sehingga menimbulkan iritasi, memiliki 1 buah
inti, memiliki sitostoma pada bagian anterior untuk mengambil makanan,
perkembangbiakan dengan cara belah pasang.

2.3 Siklus Hidup E.histolytica dan T.vaginalis


Pada Entamoeba histolytica :

Kista matang dikeluarkan bersama tinja penderita (1). Infeksi Entamoeba


histolytica oleh kista matang berinti empat (2) tinja terkontaminasi pada makanan,
air, atau oleh tangan. Terjadi ekskistasi (kista berinti empat yang masuk ke dalam
tubuh membentuk delapan amubula kemudian menjadi bentuk trofozoit, proses ini
terjadi di sekum/ileum). (3) dan berbentuk tropozoit (4) selanjutnya, bermigrasi
ke usus besar. Tropozoit memperbanyak diri dengan cara membelah diri (binary
fission) dan menjadi kista (5), menumpang dalam tinja (1).

Karena untuk

mempertahankan dirinya, kista akan dapat bertahan beberapa hari sampai dengan
berminggu-minggu pada keadaan luar dan penyebab penularan. (bentuk tropozoit
selalu ada pada tinja diare, namun dengan cepat dapat dihancurkan oleh tubuh,
dan jika tertelan bentuk ini tidak dapat bertahan saat melewati lambung) dalam
banyak kasus, tropozoit akan kembali berkembang menuju lumen usus (A:
noninvasive infection) pada carier yang asimtomatik, kista ada dalam tinjanya.
Pasien yang diinfeksi oleh tropozoit di dalam mukosa ususnya (B: intestinal
disease), atau, menuju aliran darah, secara ekstra intestinal menuju hati, otak, dan
paru (C: extraintestinal disease), dengan berbagai kelainan patologik.
Pada Trichomonas vaginalis
10

Keterangan gambar : Trichomonas vaginalis terletak di bawah saluran


kelamin wanita dan di uretra dan prostate pria (1), mereflikasi dengan cara binary
fission (2). Parasit ini tidak memiliki bentuk kista dan tidak dapat bertahan
dilingkungan luar.

Trichomonas vaginalis ditularkan antar manusia, dengan

penularan utama melalui hubungan sex (3).


Pada wanita tempat hidup parasit ini di vagina dan pada pria di uretra dan
prostat.Parasit ini hidup di mukosa vagina dengan makan bakteri dan lekosit
Trichomonas vaginalis bergerak dengan cepat berputar-putar diantara sel-sel epitel
dan lekosit dengan menggerakkan flagel anterior dan membran
Trichomonas vaginalis berkembang biak secara belah pasang longitudinal,
diluar habitatnya parasit mati pada suhu 50 0 C, tetapi dapat hidup selama 5 hari
pada suhu 0 0 C. Dalam perkembang biakannya parasit ini mati pada PH kurang
dari 4,9 inilah sebabnya parasit ini tidak dapat hidup disekret vagina yang asam
(PH : 3,8-4,4), parasit ini tidak tahan pula terhadap desinfektan zat pulasan dan
antibiotik. Meskipun organisme ini dapat ditemukan dalam urine sekret
uretra/setelah masase prostat, PH yang disukai pada pria belum
Pada sebagian besar kasus Trichomonas vaginalis ditransmisikan saat
terjadi hubungan kelamin,pria sering berperan sebagai pembawa parasit. Parasit
ini berada pada saluran uretra pada pria, seorang pria yang membawa parasit akan

11

menularkan pada pasangannya saat terjadi hubungan seksual, selanjutnya wanita


pasangannya tersebut akan terinfeksi oleh parasit dan berkembang biak didaerah
genital. Apabila wanita tersebut kemudian berhubungan seksual dengan pria yang
sehat maka akan terjadi penularan kembali,mengamati proses penularan parasit ini
maka kelompok resiko tinggi untuk mengidap Trichomoniasis adalah para wanita
pekerja seks komersial dan pria yang suka berganti-ganti pasangan dalam
berhubungan seks serta semua orang yang memiliki kebiasaan seks bebas.
2.4 Gejala Klinis E.histolytica dan T.vaginalis
Pada Entamoeba histolytica
Bentuk klinis yang dikenal ada dua, yaitu amebiasis intestinal dan amebiasis
ekstra intestinal. Amebiasis kolon intestinal terdiri dari amebasis kolon akut dan
amebasis kolon menahun. Amebasis kolon akut gejalanya berlangsung kurang dari
satu bulan, biasa disebut disentri ameba memiliki gejala yang jelas berupa
sindrom disentri. Amebasis kolon menahun gejalanya berlangsung lebih dari satu
bulan, disebut juga koletis ulserosa amebic, gejalanya bersifat ringan dan tidak
begitu jelas. Amebasis ekstra intestinal terjadi jika amebasis kolon tidak diobati.
Dapat terjadi secara hematogen, melalui aliran darah atau secara langsung.
Hematogen terjadi bila amoeba telah masuk di submukosa porta ke hati dan
menimbulkan abses hati, berisi nanah warna coklat. Cara langsung terjadi bila
abses hati tidak diobati sehingga abses pecah, dan abses yang keluar mengandung
ameba yang dapat menyebar kemana-mana.
2

Pada Trichomonas vaginalis


Trichomonas vaginalis merupakan penyakit menular lewat hubungan seksual

(PMS), seseorang beresiko terkena PMS apabila melakukan hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal, bila tidak diobati
dengan benar penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti
terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian.
a. Pada Wanita
Trichomoniasis menyebabkan vaginitis(radang vagina) dengan fluor albus yang
berwarna putih seperti cream dan berbuih, bagian Vulva dan cervik bisa mengalami

12

peradangan. Banyaknya fluor tergantung dari beratnya infeksi dan stadium penyakit,
selain gejala fluor albus yang merupakan keluhan utama penderita pruritus vagina
atau vulva dan rasa pedih saat kencing merupakan keluhan tambahan perasaan gatal
pada vulva dan kadang-kadang sampai ke paha. Sering kali penderita mengeluh
keluar darah setelah berhubungan seks infeksi dapat menjalar dan menyebabkan
uretriris kadang infeksi terjadi tanpa gejala, jika ada gejala biasanya berupa antara
lain: Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau hubungan seksual, rasa nyeri pada
perut bagian bawah, pengeluaran lendir pada vagina atau alat kelamin, keputihan
berwarna putih susu bergumpal disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin
dan sekitarnya, keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk dan gatal, timbul
bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual, bintil-bintil berisi cairan, lecet atau
borok pada alat kelamin.
b. Pada Pria
Karena bentuk dan letak alat kelamin pria berada diluar tubuh, maka gejala PMS
lebih mudah dikenali, dilihat dan dirasakan tetapi dapat pula terjadi uretritis dan
prostatitis. Tanda tanda PMS pada pria antara lain adalah: Berupa bintil-bintil berisi
cairan, lecet atau borok pada penis atau alat kelamin, luka tidak sakit, keras dan
berwarna merah pada alat kelamin, rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin, rasa
sakit yang hebat pada saat kencing, bengkak, panas dan nyeri pada pangkal paha
yang kemudian berubah menjadi borok.

2.5 Cara pencegahan penularan E.histolytica dan T.vaginalis


Pada Entamoeba histolytica
1. Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan daging
ikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.
2. Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.
3. Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan
menjelang makan atau sesudah buang air besar.
4. Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja
segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak
mencemari sumber air.
5. Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan
pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit
dan mengobatinya dengan obat cacing.

13

6. Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke
rumah sakit.
Pada Trichomonas vaginalis
Kebiasaan melakukan seks bebas ternyata dapat memicu timbulnya
Trichomoniasis sehingga upaya pencegahan infeksi lebih dititik beratkan pada
perilaku manusia, hanya berhubungan seks dengan suami atau istri yang sah
merupakan salah satu alternatif pencegahan infeksi ini. Dengan hanya
berhubungan seks terhadap pasangan sah diharapkan dapat menekan penyebaran
penularan infeksi parasit ini. Pada ibu rumah tangga sebaiknya selalu
memeriksakan diri secara periodik guna mengetahui infeksi secara dini dan segera
melakukan pengobatan apabila ada gejala dan tanda infeksi. Dengan demikian
diharapkan dapat mengurangi penyebaran parasit pada pria yang berhubungan
dengannya, pada pria yang suka berhubungan dengan wanita pekerja seks
komersial hendaknya selalu menggunakan pelindung (kondom) saat berhubungan.
Namun demikian secara arif kita akan dapat mencegah penularan penyakit ini
pada diri kita masing-masing apabila kita memegang teguh ajaran agama karena
tidak ada satu agamapun yang mengajarkan umatnya untuk melakukan seks bebas.
2.6 Pengobatan pada E.histolytica dan T.vaginalis
Pada Entamoeba histolytica
1. Dengan obat pembasmi amuba per-oral ( Melalui mulut ), seperti
iodokuinol, paromomisin dan diloksanid, yang akan membunuh parasit di
dalam usus. Tinjau di periksa ulang dalam waktu 1,3 dan 6 bulan setelah
pengobatan, untuk memastikan bahwa penderita telah sembuh.
2. Obat untuk gangguan yang di sebabkan oleh Entamoeba Histolytica antara
lain Emetin Hidroklorida, klorokuin, antibiotik, dan Metro nidazol, atau
Nitroimidazol.
Pada Trichomonas vaginalis
Dasar pengobatan yaitu memperbaiki keadaan vagina dengan membersihkan
mukosa vagina dan memakai obat kimia peros dan lokal, pada saat ini
metronidazol (merupakan obat yang efektif untuk pengobatan baik untuk wanita
ataupun pria)
14

Berbagai obat baru juga telah banyak dan sangat efektif dalam mengobati
Trichomoniasis yaitu Tinidazol, Seknidazol, Nimorazol dan Ornidazol.
Cara pemberian takaran obat-obat tersebut adalah:
a. Metronidazol
Wanita

: diberikan 3 kali 250 mg selama 10 hari atau 2 gr dosis tunggal tanpa


diberikan malam hari peroral, untuk pengobatan lokal diberikan tablet
Vagina sebanyak 500 mg sehari selama 10 hari.

Pria

: pemberian peroral 2 kali 250 mg sehari selama 10 hari atau 2 gr dosis


Tunggal diberikan malam hari.

b. Tinidazol
Baik pada wanita maupun pria diberikan dengan takaran 2 gr dosis tunggal
peroral.
c. Seknidazol
Diberikan untuk Trichomoniasis pada wanita maupun pria dengan takaran 2 gr
dosis tunggal peroral.
d. Nimorazol
Diberikan pada wanita maupun pria dengan takaran 2 kali 250 mg selama 6 hari
atau diberikan 2 gr dosis tunggal.
e. Ornidazol
Diberikan dalam dosis tunggal 1500 mg atau 2 kali lipat 750 mg pengobatan lokal
dengan tablet vagina persarin ataupun krim vagina yang digunakan pada waktu
malam hari.
2.7 Diagnosa E.histolytica dan T.vaginalis
Pada Entamoeba histolytica
Ditemukan Entamoeba histolytica dalam tinja disentrik, biopsi dinding
abses. Pemeriksaan serologis dapat menunjang diagnosis. Diagnosis terutama
dilihat dari gejala klinis dan reaksi tes imunologi. Pemeriksaan dengan sinar x
dapat mendiagnosis adanya abses dalam hati. Pemeriksaan sampel feses cukup
baik dilakukan untuk mendiagnosis infeksi dalam usus. Pemeriksaan beberapa
kali terhadap feses pasien untuk menemukan trofozoit cukup baik dilakukan.
Diagnosis secara imunologik cukup baik hasilnya. Penggunaan teknik

15

fluoerscens antibodi cukup baik tetapi tidak dapat membedakan antara


E.histolytica dengan E.hartmanni.
Diagnosis yang akurat merupakan hal yang sangat penting, karena 90%
penderita asimtomatik E.histolytica dapat menjadi sumber infeksi bagi
sekitarnya.
Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik tidak dapat membedakan E.histolytica dengan
E.dispar. Selain itu pemeriksaan berdasarkan satu kali pemeriksaan tinja
sangat tidak sensitif. Sehingga pemeriksaan mikroskopik sebaiknya dilakukan
paling sedikit 3 kali dalam waktu 1 minggu baik untuk kasus akut maupun
kronik. Adanya sel darah merah dalam sitoplasma E.histolytica stadium
trofozoit merupakan indikasi terjadinya invasif amoebiasis yang hanya
disebabkan oleh E.histolytica.
Selain itu, motilitas stadium trofozoit akan menghilang dalam waktu 20
30 menit. Karena itu bila tidak segera diperiksa, sebaiknya tinja disimpan
dalam pengawet polyvinil alcohol (pva) atau pada suhu 4 C. Dalam hal yang
terakhir, stadium trofozoit dapat terlihat aktif sampai 4 jam. Selain itu pada
sediaan basah dapat ditemukan sel darah merah. Hal yang dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan mikroskopik adalah keterlambatan waktu
pemeriksaan, jumlah tinja yang tidak mencukupi, wadah tinja yang
terkontaminasi urin dan air, penggunaan antibiotik (tetrasiklin, sulfonamid),
laksatif, antasid, preoarat antidiare (kaolin, bismuth), frekuensi pemeriksaan
dan tinja diberi pengawet.
Pemeriksaan Serologi untuk Mendeteksi Antibodi
Sebagian besar orang yang tinggal di bagian endemis E.histolytica akan
terpapar parasit berulang kali. Kelompok tersebut sebagian besar akan
asimtomatik dan pemeriksaan antibodi sulit membedakan antara current atau
previous injections.
Pemeriksaan antibodi akan sangat membantu menegakkan diagnosis pada
kelompok yang tidak tinggal di daerah endemis. Sebanyak 75-80% penderita
dengan gejala yang disebabkan E.histolytica memperlihatkan hasil yang
positif pada uji serologi antibodi terhadap E.histolytica. Hal ini dapat
dilakukan dengan berbagai macam uji serologi seperti IHA, lateks aglutinasi,

16

counterimmunoelectrophoresis, gel diffusion test, uji komplemen, dan ELISA.


Biasanya merupakan uji standar adalah IHA, sedangkan ELISA merupakan
alternatif karena lebih cepat, sederhana dan juga lebih sensitif. Antibodi IgG
terhadap antigen lektin dapat dideteksi dalam waktu 1 minggu setelah timbul
gejala klinis baik pada penderita kolitis maupun abses hati amoeba. Bila
hasilnya meragukan, uji serologi tersebut dapat diulang. Walaupun demikian,
hasil pemeriksaan tidak dapat membedakan current infection dari previous
infection. IgM anti-lektin terutama dapat dideteksi pada minggu pertama
sampai minggu ketiga pada seorang penderita kolitis amoeba.
Titer antibodi tidak berhubungan dengan beratnya penyakit dan respons
terhadap pengobatan, sehingga walaupun pengobatan yang diberikan berhasil,
titer antibodi tetap tidak berubah. Antibodi yang terbentuk karena infeksi
E.histolytica dapat bertahan sampai 6 bulan, bahkan pernah dilaporkan sampai
4 tahun.
Deteksi Antigen
Antigen amoeba yaitu Gal/Gal-Nac lectin dapat diideteksi dalam tinja,
serum, cairan abses, dan air liur penderita. Hal ini dapat dilakukan terutama
menggunakan teknik ELISA, sedangkan dengan teknik CIEP ternyata
sensitivitasnya lebih rendah. Deteksi antigen pada tinja merupakan teknik
yang praktis, sensitif dan spesifik dalam mendiagnosis amoebiasis intestinalis.
Walaupun demikian, tinja yang tidak segar atau yang diberi pengawet akan
menyebabkan denaturasi antigen, sehingga hasil yang false negatif. Oleh
karena itu, syarat melakukan ELISA pada tinja seseorang yang diduga
menderita amoebiasis intestinal adalah tinja segar atau disimpan dalam lemari
pendingin. E.histolytica tes II dapat dibedakan infeksi yang disebabkan oleh
E.histolytica atau E.dispar. Pada penderita abses hati amoeba, deteksi antigen
dapat dilakukan pada pus abses atau serumnya.
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Metode PCR mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang sebanding
dengan

deteksi

antigen

pada

tinja

penderita

amoebiasis

intestinal.

Kekurangannya adalah waktu yang diperlukan lebih lama, tekniknya lebih


sulit dan juga mahal. Untuk penelitian polimorfisme E.histolytica, teknik PCR

17

merupakan

metode

unggulan.

Walaupun

demikian,

hasilnya

sangat

dipengaruhi oleh berbagai kontaminasi pada tinja. Selain itu kemungkinan


terjadi false negatif karena berbagai inhibitor pada tinja. Hal ini dapat
dilakukan pada pus penderita dengan abses hati amoeba. Ekstraksi DNA dapat
dilakukan pada tinja yang sudah diberi pengawet formalin. Dengan cara ini
dapat dibedakan infeksi E.histolytica dengan E.dispar.
Sampai saat ini diagnosis amoebiasis yang invasif biasanya ditetapkan
dengan kombinasi pemeriksaan mikroskopik tinja dan uji serologi. Bila ada
indikasi, dapat dilakukan kolonoskopik dan biopsi pada lesi intestinal atau
pada cairan abses. Parasit biasanya ditemukan pada dasar dinding abses.
Berbagai penelitian memperlihatkan rendahnya sensitivitas pemeriksaan
mikroskopik dalam mendiagnosis amoebiasis intestinal atau abses hati
amoeba. Metode deteksi anti gen atau PCR pada tinja merupakan pilihan yang
lebih tepat untuk menegakkan diagnosis. Walaupun demikian, syarat untuk
melakukan uji ini perlu diperhatikan. Selain itu pemeriksaan mikroskopik
tetap

dilakukan

untuk

menyingkirkan

infeksi

campuran

dengan

mikroorganisme lain baik parasit maupun non-parasit.


3. Pada Trichomonas vaginalis
Gejala Klinis :
Diagnosa ditegakkan melalui gejala klinis baik yang subjektif maupun
objektif.

Tetapi diagnosa sulit ditegakkan pada pe nderita pria dimana

trichomoniasis pada

pria hanya dijumpai sedikit organisme

Trichomonas

vaginalis dibandingkan dengan wanita penderita trichomoniasis.

Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopis secara langsung dilakukan dengan cara membuat


sediaan dari sekret dinding vagina dicampur dengan satu tetes garam fisiologis di
atas gelas objek dan langsung dapat dibaca di bawah mikroskop. Atau apabila
tidak dapat langsung dibaca, dapat mengirimkan gelas objek yang telah dioleskan
sekret vagina tersebut dalam tabung yang telah berisi garam fisiologis. Pemberian
beberapa tetes KOH 10-20% pada cairan vagina yang diperiksa, dapat

18

menimbulkan bau yang tajam dan amis pada 75% wanita yang positif
trichomoniasis dan infeksi bakterial vaginosis, tetapi tidak pada mereka yang
menderita vulvovaginal kandidiasis. Untuk menyingkirkan bakterial vaginosis
dari infeksi trichomoniasis dapat diketahui dengan memeriksa konsentrasi
laktobasillus yang jelas berkurang pada trichomonisis dan pH vagina yang lebih
basa. Dari pemeriksaan sekret secara mikroskopik pada mereka yang terinfeksi
trichomoniasis, dapat dijumpai sel-sel PMN yang sangat banyak, coccobacillus,
serta organisme Trichomonas vaginalis (pada sedian yang segar dapat kelihatan
motile).

Kultur
Selain pemeriksaan secara klinis dan mikroskopik langsung, cara lain yang

dapat dilakukan adalah dengan kultur, terutama pada mereka yang sedikit jumlah
organisme Trichomonas vaginalisnya, seperti pada pria atau pun wanita penderita
trichomoniasis kronik.

Serologi dan immunologi


Pemeriksaan dengan cara ini belum menjamin dan belum cukup sensitif untuk

diagnosis infeksi Trichomonas vaginalis. Walaupun sudah banyak penelitian yang


akhir-akhir ini menggunakan teknik serologi untuk mendiagnosa infeksi T.
vaginalis.

19

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Entamoeba histolytica adalah protozoa parasit, bagian dari genus Entamoeba.
Entamoeba histolityca merupakan kelompok rhizopoda yang bersifat patogen
dan menyebabkan penyakit diare amoeba.
2. Trichomonas vaginalis merupakan protozoa patogenik yang biasanya dijumpai
di traktus genitourinaria manusia yang terinfeksi. Ditularkan malalui
hubungan seksual, yang dapat menyebabkan vaginitis pada wanita dan
uretritis non-gonococcoal pada pria.
3. Pengobatan penyakit yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica adalah
Emetin

Hidroklorida,

klorokuin,

antibiotik,

dan

Metronidazol,

atau

Nitroimidazol.
4. Pengobatan penyakit yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis adalah
Tinidazol, Seknidazol, Nimorazol, Metronidazol dan Ornidazol.

DAFTAR PUSTAKA

20

Gandahusada, Srisasi, dkk. 2009. Parasitologi Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta :


Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hirt, R.P., Noel, C.J., Sicheritz-Ponten, T., Tachezy, J., and Fion, P-L. 2007.
Trichomonas vaginalis surface proteins: a view from the genome. Trends
in Parasitology.
Jawetz, E. dkk. 1986. Mirobiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jawetz, E. dkk. 2004. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC.
Staf Pengajar Departemen Parasitologi FKUI. 2008. Parasitologi Kedokteran.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

21