Anda di halaman 1dari 8

1.

Perekonomian Indonesia
Bidang perekonomian, perekonomian merupakan suatu bidang kegiatan manusia
dalam rangka mencukupi kebutuhannya disamping alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Hal
tersebut dalam ilmu ekonomi menyangkut berbagai bidang antara lain permintaan,
penawaran, produksi, distribusi barang dan jasa.
Bidang ekonomi tidak bisa dilepaskan dengan factor-faktor lainnya yang saling
berkaitan. Perekonomian selain berkaitan dengan wilayah geografi suatu Negara, juga sumber
kekayaan alam, sumber daya manusia, cita-cita masyarakat yang lazimnya disebut ideology,
akumulasi kekuatan, kekuasaan, serta kebijaksanaan yang akan diterapkan dalam kegiatan
produksi dan distribusi, nilai social budaya, serta pertahanan dan keamanan yang
memberikan jaminan lancarnya roda kegiatan ekonomi suatu bangsa. Proses tersebut akan
mempunyai dampak positif dalam arti meningkatkan kesejahteraan suatu banga manakala
kegiatan ekonomi itu terselenggara dalam posisi keseimbangan antara permintaan dan
penawaran, produksi, distribusi barang dan jasa.
Permasalah perekonomian saat ini adalah bukan hanya sekadar inflasi atau deflasi
melainkan adanya ketimpangan ketimpangan di berbagai daerah, seperti didaerah tertentu
ada yang mempunyai rumah mewah tapi di suatu daerah tertentu masih ada yang mempunyai
rumah yang kumuh.
Salah satu faktor yang mempengaruhi perekonomian adalah inflasi, dampaknya
adalah melemahnya daya beli masyrakat, lesunya investasi sehingga mengakibatkan
pertumbuhan perekonomian menjadi terhambat.
2. Inflasi
2.1 Pengetian Inflasi
Menurut Parkin dan Bade inflasi adalah pergerakan ke arah atas dari tingkatan harga.
Secara mendasar ini berhubungan dengan harga, hal ini bisa juga disebut dengan berapa
banyaknya uang (rupiah) untuk memperoleh barang tersebut.
Menurut Nopirin (1987:25) inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barangbarang secara terus menerus selama peride tertentu.
Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998: 578-603) inflasi dinyatakan sebagai kenaikan
harga secara umum. Jadi tingkat inflasi adalah tingkat perubahan harga secara umum yang
dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

Rate of inflation (yeart) = Price level (year t) price level


(year t-1) rice level (year t-1).
Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi,
menurut

Prathama

dan

Mandala

(2001:203)

adalah:

1. Kenaikan harga
Harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi darpada harga periode
sebelumnya.
2. Bersifat umum
Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut
tidak menyebabkan harga secara umum naik.
3. Berlangsung terus menerus
Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadi
sesaat, karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.
Menurut Rahardja (1997: 32) inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk
meningkat secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja
tidak disebut inflasi, tetapi jika kenaikan meluas kepada sebagian besar harga barang-barang
maka hal ini disebut inflasi.
Eachern (2000: 133) menyatakan bahwa inflasi adalah kenaikan terus-menerus dalam
rata-rata tingkat harga. Jika tingkat harga berfluktuasi, bulan ini naik dan bulan depan turun,
setiap adanya kenaikan kerja tidak berarti sebagai inflasi.
Sukirno (2004: 27) memberikan definisi bahwa inflasi adalah suatu proses kenaikan
harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian.
BPS (2000: 10) mendefinisikan inflasi sebagai salah satu indikator untuk melihat
stabilitas ekonomi suatu wilayah atau daerah yang menunjukkan perkembangan harga barang
dan jasa secara umum yang dihitung dari indeks harga konsumen. Dengan demikian angka
inflasi sangat mempengaruhi daya beli masyarakat yang berpenghasilan tetap, dan di sisi lain
juga mempengaruhi besarnya produksi barang.
Berdasarkan berbagai definisi yang telah dikemukakan di atas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa secara umum inflasi adalah suatu gejala naiknya harga secara terusmenerus (berkelanjutan) terhadap sejumlah barang. Kenaikan yang sifatnya sementara tidak
dikatakan inflasi dan kenaikan harga terhadap satu jenis komoditi juga tidak dikatakan inflasi.

2.2 Ukuran Inflasi


Ada beberapa cara untuk mengukur inflasi. Inflasi utama adalah angka inflasi baku
seperti yang dilaporkan melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) atau dalam bahasa luarnya
Consumer Price Index (CPI). Biro Statistik merilis angka IHK bulanan. Angka ini
menghitung biaya untuk membeli sejumlah barang sebagai cara untuk menentukan berapa
banyak inflasi yang terjadi dalam ekonomi secara luas sebagai persentase kenaikan tahunan.
Misalnya, angka inflasi 3% setara dengan tingkat bulanan, jika diulang selama 12 bulan, akan
menciptakan inflasi 3% untuk tahun ini.
Angka inflasi tidak disesuaikan dengan perubahan musiman dalam perekonomian
atau untuk yang lebih sering unsur harga pangan dan energi yang volatile. Inflasi utama
adalah ukuran yang memiliki arti terbesar bagi konsumen, karena kita harus makan dan
mengisi bahan bakar.
Inflasi inti, yang merupakan tolok ukur yang disukai bank sentral, adalah ukuran
inflasi yang tidak termasuk makanan dan energi. Inflasi inti menghilangkan barang-barang ini
karena mereka dapat memiliki guncangan harga sementara yang dapat menyimpang dari tren
inflasi secara keseluruhan dan memberikan apa yang pandangan bias pada bank sentral
sebagai ukuran inflasi. Inflasi inti paling sering dihitung dengan mengambil Indeks Harga
Konsumen dan tidak termasuk barang-barang tertentu (biasanya energi dan produk makanan).
Metode lain termasuk perhitungan metode outlier, yang menghilangkan produk yang telah
memiliki perubahan harga terbesar. Inflasi inti diperkirakan menjadi indikator yang
mendasari inflasi jangka panjang.
Beberapa variasi pada inflasi juga perlu diperhatikan. Hiperinflasi adalah inflasi
yang luar biasa cepat dan tinggi. Dalam kasus ekstrim, hal ini dapat menyebabkan kerusakan
sistem moneter suatu negara. Salah satu contoh yang paling menonjol dari hiperinflasi terjadi
di Jerman pada tahun 1923, ketika harga naik 2.500% dalam satu bulan, juga pada beberapa
Negara Afrika seperti Zimbabwe beberapa tahun yang lalu.
Stagflasi adalah kombinasi dari tingginya angka pengangguran dan stagnasi ekonomi
dengan inflasi. Hal ini terjadi di negara-negara industri pada 1970-an, ketika ekonomi yang
buruk dikombinasikan dengan kenaikan harga minyak OPEC. Di ujung lain dari spektrum
adalah deflasi, yang terjadi ketika tingkat harga umum jatuh. Ini adalah kebalikan dari inflasi.
2.3 Efek Inflasi

Efek inflasi sangat luas dan beraneka ragam serta menurunkan tingkat kesejahteraan
hidup masyarakat. Laju tingkat pertumbuhan inflasi yang tinggi akan merusak struktur
ekonomi dan melemahkan kinerja perekonomian suatu negara.
Menurut Nopirin (1987 : 32) inflasi mempunyai efek sebagai berikut :
a.

Efek terhadap pendapatan ( Equity Effects)


Efek inflasi terhadap pendapatan bersifat tidak merata, ada yang mengalami kerugian
terutama mereka yang berpenghasilan tetap dan ada pula kelompok yang mengalami
keuntungan dengan adanya inflasi. Inflasi menguntungkan masyarakat yang pendapatannya
ikut naik dengan adanya kenaikan harga, tetapi merugikan golongan masyarakat yang
mempunyai pendapatan tetap. Hal ini disebabkan pada masa inflasi harga barang-barang dan
jasa-jasa naik yang berarti turunnya nilai uang. Pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan
dengan adanya inflasi adalah mereka yang memperoleh kenaikan pendapatan dengan
persentase yang lebih besar dari laju inflasi, atau mereka yang mempunyai kekayaan bukan
uang dimana nilainya naik dengan persentase lebih besar dari laju inflasi.

b.

Efek terhadap efisiensi ( Efficiency Effects)


Inflasi dapat pula mengubah pola alokasi faktor-faktor produksi. Perubahan ini dapat
terjadi melalui kenaikan permintaan akan berbagai macam barang yang kemudian dapat
mendorong terjadinya perubahan dalam produksi beberapa barang tertentu. Dengan adanya
inflasi permintaan akan barang tertentu mengalami kenaikan yang lebih besar dari barang
lain, yang kemudian mendorong kenaikan produksi barang tersebut. Kenaikan produksi
barang ini pada gilirannya akan merubah pola alokasi faktor produksi yang sudah ada.

c.

Efek terhadap output ( Output Effects )


Apabila laju inflasi sangat tinggi (hyper inflation) dapat menyebabkan penurunan
output. Dalam keadaan inflasi yang tinggi, nilai uang riil turun dengan drastis, masyarakat
cenderung tidak menyukai uang kas, transaksi mengarah ke barter, yang biasanya diikuti
dengan turunnya produksi barang.

2.4 Teori Inflasi


Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang
kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Walaupun analisis ekonomi dan
kebijakan ekonomi terhadap inflasi sejak tahun 1970-an dapat dibedakan menjadi dua
kelompok aliran, yakni Keynesian dan Monetaris namun dalam beberapa literatur disebutkan

versi yang berbeda, dimana aliran inflasi dibagi menjadi, Klasik, Keynesian, Moneterisme,
dan Ekspektasi.
1. Teori Inflasi Klasik
Teori ini berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang
beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan jumlah uang, serta
nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka
nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, inflasi
berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume
transaksi maka obatnya adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit. Pendapat Klasik
tersebut lebih jauh dapat dirumuskan sebagai berikut :
Inflasi = f(jumlah uang beredar, kredit).
2. Teori Inflasi Keynes
Teori ini mengasumsikan bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full
employment. Menurut Keynes kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap tingkat permintaan
total, karena suatu perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas uang
tetap konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan naik. Kenaikan harga ini akan
menyebabkan bertambahnya permintaan uang untuk transaksi, dengan demikian akan
menaikkan suku bunga. Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk investasi dan
akan melunakkan tekanan inflasi.
Analisa Keynes mengenai inflasi permintaan dirumuskan berdasarkan konsep
inflationary gap. Menurut Keynes, inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang
ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan,
program investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial. Dengan demikian pemikiran
Keynes tentang inflasi dapat dirumuskan menjadi :
Inflasi = f (jumlah uang beredar, pengeluaran pemerintah, suku
bunga, investasi).
3. Teori Inflasi Moneterisme
Teori ini berpendapat bahwa, inflasi disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dan
fiskal yang ekspansif, sehingga jumlah uang beredar di masyarakat sangat berlebihan.

Kelebihan uang beredar di masyarakat akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan


barang dan jasa di sektor riil. Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan
cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal
yang bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan
terhadap subsidi atas nilai tukar valuta asing. Sehingga teori inflasi menurut Moneterisme
dapat dinotasikan sebagai berikut :
Inflasi = f (kebijakan moneter ekspansif, kebijakan fiskal
ekspansif).
4. Teori Ekspektasi
Menurut Dornbusch, bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi
berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan
optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian
rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang
ada. Artinya secara sederhana teori ekspektasi dapat dinotasikan menjadi :
Inflasi = f (ekspektasi adaftif,ekspektasi rasional)
5. Teori Strukturalis
Adalah teori mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di negara Amerika
Latin. Teori ini memberi tekanan pada ketegaran (rigidities) dari struktur perekonomian yang
sedang berkembang. Karena inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari
perekonomian (faktor-faktor ini hanya bisa berubah secara gradual dan dalam jangka
panjang) maka teori ini disebut juga teori inflasi jangka panjang.
2.5 Cara Mengatasi Inflasi
Dari berbagai teori diatas maka terdapat beberapa cara menanggulangi inflasi atau
kebijakan inflansi yaitu :
1. Kebijaksanaan Moneter.
Kebijakan ini dicapai melalui pengaturan jumlah uang yang beredar yang terdiri atas giro dan
kas.
2. Kebijakasanaan Fiskal

Kebijakan ini menyangkut mengenai pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serta


perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan dengan demikian
akan mempengaruhi harga.
3. Kebijaksanaan yang berkaitan dengan output
Kebijakan ini dapat memperkecil laju inflasi.
4. Kebijaksanaan Penentuan Harga
Kebijakan ini secara langsung terjun melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga.
5. Kebijakan Umum
Kebijakan ini dimaksudkan untuk memperbaiki struktur perekonomian yang tidak fleksibel
menghadapi perkembangan perekonomian yang ada . kebijakan ini dapat berakibat langsung
terhadap menurunya inflasi munkin juga dapat bersifat tidak langsung.
3. Dampak Inflasi terhadap Perekonomian
Dampak inflasi terhadap perekonomian yang pada akhirnya akan berpengaruh
kepada tingkat kemakmuran masyarakat, berikut ini dampak negatif dari inflasi:
1. Terhadap distribusi pendapatan ada pihak-pihak yang dirugikan, diantaranya
a.

Inflasi akan merugikan bagi mereka yang berpendapatan tetap, seperti; pegawai negeri.
Contoh, amir seorang pegawai negeri memperoleh gaji Rp. 60.000.000 setahun dan laju
inflasi

10%. Bila penghasilan Amir tidak mengalami perubahan, maka ia akan mengalami

penurunan

pendapatan riil sebesar 10% x Rp. 60.000.000 = Rp. 6.000.000.

b. Kerugian akan dialami bagi mereka yang menyimpan kekayaan dalam bentuk uang tunai.
c.

Kerugian akan dialami para kreditur, bila bunga pinjaman yang diberikan lebih rendah dari
inflasi.
Di
-

lain
Orang

pihak
yang

ada

persentase

yang

diuntungkan

pendapatannya

melebihi

dengan
persentase

adanya
kenaikan

inflasi:
inflasi

- mereka yang memiliki kekayaan bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi
dalam bentuk barang atau emas.
2. Dampak terhadap efisiensi, berpengaruh pada:
a.

Proses produksi dalam penggunaan faktor-faktor produksi menjadi tidak efesien ada saat
terjadi inflasi.

b. Perubahan daya beli masyarakat yang berdampak terhadap struktur permintaan masyarakat
terhadap beberapa jenis barang.

3. Dampak inflasi terhadap output (hasil produksi):


a.

Inflasi bisa menyebabkan kenaikan produksi. Biasanya dalam keadaan inflasi kenaikan harga
barang akan mendahului kenaikan gaji, hal ini yang menguntungkan produsen.

b.

Bila laju inflasi terlalu tinggi akan berakibat turunnya jumlah hasil produksi, dikarenakan
nilai riil uang akan turun dan masyarakat tidak senang memiliki uang tunai, akibatnya
pertukaran dilakukan antara barang dengan barang.

4. Dampak inflasi terhadap pengangguran


Suatu negara yang berusaha menghentikan laju inflasi yang tinggi, berarti pada saat
yang sama akan menciptakan pengangguran.

Anda mungkin juga menyukai