Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Sejarah dan Perkembangan PT Pertamina (Persero)
Minyak bumi pertama kali digunakan di Indonesia sekitar abad ke-8,
dimana pada saat terjadinya peperangan antara pasukan armada Adjeh (Aceh)
yang melawan tentara Portugis, menggunakan bola-bola api yang terbuat dari batu
berlapis kain yang dilumuri dengan minyak tanah (minyak bumi) yang merembes
keluar dari tanah yang mereka peroleh dibeberapa tempat didaerah Aceh pada saat
itu.
Pencarian minyak bumi secara komersil dilakukan pertama kali di
Indonesia pada tahun 1871 di lereng Gunung Ciremai, Majalengka, Jawa Barat,
dilakukan oleh seorang pengusaha Belanda bernama Jan Reerink, tetapi usaha ini
mengalami kegagalan. Pengusaha lain yaitu seorang inspektur perkebunan
Belanda bernama A.J. Zijlker menemukan kandungan minyak bumi di Telaga
Tunggal/Telaga Said, Pangkalan Brandan Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni
1885 dan merupakan sumur minyak komersial pertama di Indonesia dengan
kedalaman sumur 121 meter. Kemudian berturut-turut ditemukan sumur minyak
bumi di Indonesia yang dikelolah oleh perusahaan Asing, seperti Koninklijke
Nederlandsche Petroleum Company di Telaga Said, Shell Transport and Trading
Co. di Kalimantan Timur, Dortsche Petroleum di Jawa Timur, Stanvac, Caltex, dll.
Tetapi setelah kemerdekaan, dilakukan usaha-usaha untuk mengambil alih
kekuasaan di bidang industri minyak dan gas bumi. Hingga akhirnya terdapat 3
buah perusahaan minyak dan gas bumi yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia
saat itu, yaitu PN Permina, PN Pertamin, dan PN Permigan, yang kemudian
digabung dan disatukan menjadi sebuah perusahaan minyak dan gas bumi
gabungan bernama Pertamina, pada tanggal 10 Desember 1957 yang kemudian
tanggal tersebut dijadikan sebagai hari jadi Pertamina.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri, PT.
Pertamina hingga saat ini telah mengoperasikan 6 Refinery Unit (RU) yang
tersebar di Indonesia, yaitu:
1. RU I (Idle/Off)
: Pangkalan Brandan, Sumatera Utara
2. RU II
: Dumai, Riau
3. RU III
: Plaju dan Sungai Gerong, Sumatera Selatan

4.
5.
6.
7.

RU IV
RU V
RU VI
RU VII

: Cilacap, Jawa Tengah


: Balikpapan, Kalimantan Timur
: Balongan, Jawa Barat
: Kasim, Papua

Adapun peta ke 6 Refinery Unit (RU) saat ini dari PT. Pertamina (Persero)
dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini :

Gambar 1. Peta Refinery Unit PT Pertamina (Persero) di Indonesia


PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju merupakan satu dari tujuh unit
pengolahan yang dimiliki oleh PT. Pertamina (Persero). Daerah operasi PT.
Pertamina (Persero) RU III ini meliputi Kilang Plaju dan Kilang Sungai Gerong
serta Terminal Pulau Sambu dan Tanjung Uban.
Kilang minyak Plaju didirikan oleh Shell sebuah perusahaan asing milik
Belanda pada tahun 1903, yang mengolah minyak mentah dari Prabumulih dan
juga mengolah minyak mentah dari Jambi di tahun 1923. Pada tahun 1965
pemerintah Indonesia mengambil alih kilang Plaju dari PT. Shell Indonesia.
Kilang Plaju mempunyai kapasitas produksi 110 MBCD (Million Barrel Calender
Day). Kilang Sungai Gerong didirikan oleh Stanvac sebuah perusahaan minyak
asing milik Amerika Serikat pada tahun 1922. Kilang yang berkapasitas produk 70
MBCD ini kemudian dibeli PT. Pertamina (Persero) pada tahun 1970, sekarang
kapasitasnya tinggal 25 MBCD sesuai dengan unit yang masih ada.
2

Pada tahun 1973, kedua kilang ini mengalami proses integrasi, kedua
kilang ini disebut dengan Kilang Musi. Kilang ini di bawah pengawasan PT.
Pertamina (Persero) RU III dan bertanggung jawab dalam pengadaan BBM untuk
wilayah Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung.
Sebagian besar peralatan di Kilang Plaju menggunakan teknologi lama
sehingga sudah tidak begitu efisien lagi. Normalnya umur pabrik ini adalah 20
tahun dan sampai sekarang ini pabrik tersebut sudah beroperasi melebihi
umurnya. Berdasarkan pertimbangan tersebut direncanakanlah pembuatan kilang
minyak baru yang disebut Proyek Kilang Musi (PKM). Sesuai dengan kebijakan
pemerintah yang tertuang dalam Inpres Nomor 12 dan 13 tahun 1983 tentang
penjadwalan kembali PKM, maka pelaksanaan PKM dilakukan secara bertahap.
PKM tahap 1 dijalankan tahun 1982 dengan menitikberatkan pada konservasi
energi dengan tujuan untuk meningkat efisiensi unit-unit proses.
Hal ini diwujudkan dengan melakukan revamping (penambahan alat) dan
pembangunan unit baru. Upaya yang telah dilakukan pada PKM tahan I adalah
sebagai berikut:
1. Revamping dapur dan beberapa peralatan CD Plaju untuk menurunkan
pemakaian bahan bakar.
2. Revamping FCCU dan Unit Light End Sungai Gerong.
3. Pembangunan destilasi bertekanan hampa bernama New Vacuum
Distilation Unit (NVDU) di Sungai Gerong dengan kapasitas produksi 48
MBCD Long Residue.
4. Mengganti koil pemanas tangki.
5. Melengkapi fasilitas transfer produk antara kilang Plaju dan Sungai
Gerong.
6. Memanfaatkan feed semaksimal mungkin.
Dengan upaya tersebut, pemakaian refinery fuel menurun menjadi lebih
efisien. Proyek kilang Musi Tahap I telah selesai bulan September 1986.
Tahap II dari PKM dijalankan pada tahun 1991 dengan melakukan
pembaruan diantaranya:
1. Peningkatan kapasitas produksi-produksi Kilang Polypropylene menjadi
45.000 ton/tahun.
2. Revamping RFCCU dan Unit Alkilasi.
3. Redesign siklon FCCU Sungai Gerong.
3

4. Modifikasi unit redistiller I/II Plaju.


5. Pemanasan Gas Turbin Generator Complex (GTCC) dan perubahan
frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz.
6. Pembangunan Water Treatment Unit (WTU) dan Sulphur Acid Recovery
Unit (SAU).
Secara umum, sejarah PT. Pertamina (Persero) RU III dan perubahanperubahan yang terjadi dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah ini:
Tabel 1. Sejarah PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju Sungai Gerong
Tahun Sejarah
1903
1922
1957
1965
1970
1971
1973

Pembangunan Kilang Minyak di Plaju oleh Shell (Belanda)


Kilang Sungai Gerong dibangun oleh STANVAC (AS)
Kilang Plaju diambil alih oleh PT. Shell Indonesia
Kilang Plaju/Shell dengan kapasitas 100 MBCD dibeli oleh
negara/PERTAMINA
Kilang Sungai Gerong/STANVAC dibeli oleh negara/PERTAMINA
Pendirian kilang polypropylene untuk memproduksi pellet polytam
dengan kapasitas 20.000 ton/th
Integrasi operasi kilang Plaju Sungai Gerong

1982

Pendirian Plaju Aromatic Center (PAC) dan Proyek Kilang Musi


(PKM I) yang berkapasitas 98 MBSD

1982

Pembangunan High Vacuum Unit (HVU) Sungai Gerong dan


revamping CDU (konservasi energi)

Tahun Sejarah
1984

Proyek pembangunan kilang TA/PTA dengan kapasitas produksi


150.000 ton/th

1986

Kilang PTA (Purified Terephtalic Acid) mulai berproduksi dengan


kapasitas 150.000 ton/th

1987
1988
1990

Proyek pengembangan konservasi energi/Energy Conservation


Improvemant (ECI)
Proyek Usaha Peningkatan Efisiensi dan Produksi Kilang (UPEK)
Debottlenecking kapasitas kilang PTA menjadi 225.000 ton/th

1994

2002
2003
2007

PKM II: Pembangunan unit polypropylene baru dengan kapasitas


45.200 ton/th, revamping RFCCU Sungai Gerong dan unit alkilasi,
redesign siklon RFCCU Sungai Gerong, modifikasi unit Redistilling
I/II Plaju, pemasangan Gas Turbine Generator Complex (GTGC) dan
perubahan frekuensi listrik dari 60 Hz ke 50 Hz, dan pembangunan
Water Treatment Unit (WTU) dan Sulphuric Acid Recovery Unit
(SARU)
Pembangunan jembatan integrasi Kilang Musi
Jembatan integrasi Kilang Musi yang menghubungkan Kilang Plaju
dengan Sungai Gerong diresmikan
Kilang TA/PTA berhenti beroperasi

Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV Pertamina. 1999. Palembang.

1.2 Tata Letak Pabrik


PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju merupakan salah satu unit proses
produksi dalam jajaran direktorat pengolahan yang terletak di Sumatera Selatan
dan merupakan RU terluas diantara 6 RU lainnya RU III Plaju ini mempunyai dua
buah kilang yaitu:
1. Kilang Plaju.
2. Kilang Sungai Gerong.
Kilang Plaju terletak di sebelah selatan Sungai Musi dan sebelah barat
Sungai Komering, sedangkan kilang Sungai Gerong terletak di persimpangan
Sungai Musi dan Sungai Komering.
Untuk lebih jelasnya lokasi PT. Pertamina (Persero) RU III dapat dilihat
pada Gambar 2 berikut:

Gambar 2. Tata Letak PT. Pertamina RU III Plaju-Sungai Gerong


Tampak Atas
Luas wilayah kerja PT. Pertamina (Persero) RU III 1812,6 Ha, sedangkan
luas wilayah efektif yang dipergunakan oleh PT. Petamina (Persero) RU III dapat
dilihat pada Tabel 1.2 berikut ini:
Tabel 2. Wilayah Penjabaran PT Pertamina (Persero) RU III
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tempat
Area Perkantoran Kilang Plaju
Area Kilang Sungai Gerong
Diklat - SDM Sungai Gerong
RDP dan Lap. Golf Bagus Kuning
RDP Kenten
Lapangan Golf Kenten
RDP Plaju, Sungai Gerong dan Ilir

Luas (Ha)
229,60
153,90
34,95
51,40
21,20
80,60
349,37

Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV Pertamina, 1999. Palembang.

1.3

Jenis Produk yang dihasilkan


Produk yang dihasilkan oleh PT. Pertamina (Persero) RU III Plaju dibagi

menjadi 5 jenis, yaitu produk bahan bakar minyak (BBM), produk non bahan
bakar minyak, produk petrokimia, produk bahan baku khusus, dan produk lainnya.
1.3.1

Produk Bahan Bakar Minyak (BBM)


Kilang Pertamina RU III Plaju menghasilkan berbagai macam produk

yang dapat digolongkan ke dalam kelompok produk BBM (Bahan Bakar Minyak),
non-BBM, produk petrokimia, dan produk khusus.
Kilang Pertamina RU III Plaju menghasilkan berbagai macam produk
BBM, yaitu:
-

Mogas (motor gasoline)


Bahan bakar motor yang dihasilkan adalah bahan bakar dengan angka
oktan 88 (premium) yang didapat dari hasil pencampuran antara bahan
bakar beroktan tinggi dari unit RFCCU dan bahan bakar beroktan rendah
dari unit CD.

Avtur
Avtur adalah bahan bakar untuk pesawat turbin. Avtur dihasilkan dari unit
gas plant.

Avgas
Avgas adalah bahan bakar untuk pesawat baling baling. Kilang
Pertamina RU III adalah satu satunya di Asia yang memproduksi avgas.
Di seluruh dunia, hanya 3 negara yang memproduksi avgas, yaitu Italia,
Indonesia dan Australia. Hal tersebut karena sedikitnya permintaan avgas
seiring dengan penggunaan pesawat baling baling yang semakin tidak
populer. Contoh penggunaan avgas di Indonesia adalah sebagai bahan
bakar pesawat Hercules. Avgas dihasilkan dari unit gas plant.

Kerosene
Kerosene atau minyak tanah adalah salah satu bahan bakar yang biasanya
digunakan untuk keperluan rumah tangga. Saat ini, produksi minyak tanah
sudah tidak terlalu banyak lagi, mengingat adanya program pemerintah

yaitu konversi minyak tanah menjadi gas. Kerosene dihasilkan dari unit
crude distiller.
-

Solar
Solar adalah bahan bakar untuk mesin diesel. Pada unit CD, solar berada
pada tingkatan yang sama dengan kerosene. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, karena menurunnya produksi kerosene, sehingga produksi
solar meningkat jika dibandingkan sebelumnya. Solar dihasilkan dari unit
crude distiller.

Industrial Diesel Oil


Industrial diesel oil (IDO) adalah bahan bakar untuk mesin diesel. Hal
yang membedakan IDO dan solar adalah dari segi kualitas dan harganya.
Kualitas dari IDO ini berada di bawah solar, sehingga harga jual dari IDO
ini pun lebih murah ketimbang solar. IDO biasanya digunakan untuk
pabrik pabrik yang menggunakan solar sebagai bahan bakarnya.

Industrial Fuel Oil (Minyak Bakar Industri)


Industrial fuel oil (IFO) adalah bahan bakar untuk mesin bensin. Hal yang
membedakan IDO dan bensin adalah dari segi kualitas dan harganya.
Kualitas dari IDO ini berada di bawah bensin, sehingga harga jual dari
IDO ini pun lebih murah ketimbang bensin. IDO biasanya digunakan
untuk pabrik pabrik yang menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya.
1.3.2

Produk Non Bahan Bakar Minyak (BBM)


Produk produk non-BBM yang dihasilkan oleh kilang Pertamina RU III

Plaju adalah :
-

LPG (Liquified Petroleum Gas)


LPG adalah bahan bakar gas yang biasanya digunakan untuk skala rumah
tangga. LPG menjadi semakin popular semenjak adanya program konversi
minyak tanah ke LPG. LPG dihasilkan dari campuran antara propana dari
unit polypropylene dan buthane dari unit RFCCU.

LSWR

LSWR merupakan singkatan dari Low Sulfur Waxy Residue. LSWR adalah
bahan bakur yang biasa digunakan untuk industri kimia. LSWR adalah
produk dari unit RFCCU.
1.3.3

Produk Petrokimia
Pertamina RU III Plaju juga memiliki kilang polypropylene, sehingga juga

menghasilkan produk petrokimia. Produk polypropylene milik Pertamina RU III


Plaju ini diberi nama polytam. Polytam adalah polypropylene yang berbentuk
bulat.
1.3.4 Produk Bahan Baku Khusus
Kilang Pertamina RU III Plaju juga menghasilkan produk produk
khusus, seperti :
-

Musicool
Musicool adalah refrigeran ramah lingkungan yang dihasilkan oleh Kilang
Pertamina RU-III Plaju. Musicool memiliki kandungan prophane
mencapai 98%. Musicool dipakai sebagai pengganti chlorofluorocarbon
(CFC) yang penggunaannya sudah dilarang karena dapat merusak
lingkungan. Selain ramah lingkungan, penggunaan musicool lebih irit
karena hanya memerlukan 30% untuk kebutuhan pendingin yang sama.

Musicool dihasilkan dari unit alkylasi pada unit gas plant.


SBPX dan LAWS
SBPX dan LAWS adalah produk solvent yang banyak digunakan sebagai
pelarut industri kimia, seperti industri cat. SBPX adalah produk dari unit
stabilizer C/A/B, sedangkan LAWS adalah produk dari unit gas plant.

Racing fuel
Racing fuel adalah bahan bakar yang masih dikembangkan oleh Pertamina.
Racing fuel akan digunakan sebagai bahan bakar mobil balap. Harga jual
dari produk ini sangat tinggi, dapat mencapai Rp. 75.000/liter. Racing fuel
adalah hasil blending antara produk polimer beroktan tinggi dari unit
polimerisasi di gas plant dan catalytic naphta dari unit RFCCU. Angka
oktan racing fuel ini dapat mencapai 100.

1.3.5 Produk Lain-Lain


Medium Naphta
9

Naptha adalah pemurnian yang berasal dari minyak mentah atau gas alam
dengan titik didih kira-kira berada di antara 27oC dan 221oC. Bila
dicampur dengan bahan lain akan menjadi motor gasoline atau jet fuel
dengan mutu yang lebih tinggi. Juga digunakan sebagai bahan baku untuk
gas kota, atau membuat berbagai jenis produk kimia atau digunakan
sebagai bahan pelarut, tergantung pada sifat dari turunan naptha
-

dan permintaan berjenis-jenis industri.


Low Sulphuric Waxes Residue (LSWR)
Low Sulphuric Waxes Residue digunakan sebagai bahan setengah jadi
untuk keperluan ekspor.

Vacuum Residue
Vacuum Residue adalah minyak mentah dengan kandugan karbon yang
masih tinggi yang tidak terkonversi dalam proses pemvakuman dan akan
dijadikan umpan di RFCCU.

1.4

Sistem Pemasaran
PT. Pertamina RU III Plaju bergerak di sektor hilir yang mengoperasikan

kilang BBM dan petrokimia. Bahan baku crude oil dari Prabumulih, Pendopo, dan
Jambi disalurkan melalui pipa-pipa. Sedangkan hasil produksi berupa BBM, non
BBM, Bahan bakar khusus, dan petrokimia didistribusikan untuk memenuhi
kebutuhan minyak dan gas di wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu,
Lampung, Pangkal Pinang, Medan, Pontianak, Jakarta dan ekspor.
Produk-produk yang dihasilkan oleh Pertamina RU III Plaju

akan

didistribusikan ke beberapa propinsi di Indonesia, antara lain Sumatera Selatan,


Jambi, Bengkulu, Bandar Lampung, Bangka Belitung, dan sebagian Kalimantan
Barat. Pendistribusian produk-produk ini dilakukan dengan berbagai macam cara
antara lain :
1. Melalui pipa-pipa untuk keperluan penyaluran ke PT. PUSRI.
2. Melalui kapal-kapal tanker dan tongkang digunakan untuk keperluan
transport melalui sungai dan laut untuk Bangka dan Belitung.
3. Mobil-mobil pendistribusi digunakan untuk transportasi ke depot-depot di
Kertapati, Lampung, Bengkulu, Lahat, dan Lubuk Linggau.
1.5

Sistem Manajemen

10

1.5.1 Struktur Organisasi PT. Pertamina RU III Plaju


General Manager PT. Pertamina RU III Plaju langsung membawahi
beberapa manager yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing sesuai dengan
bidangnya,dimana masih terdapat keterikatan diantara tugas-tugas manager
tersebut.
Struktur Organisasi PT. Pertamina (Persero) RU-III Plaju ini adalah jenis
struktur lini dan staff dengan bentuk bagan piramida dapat dilihat pada gambar 3 :

Gambar 3. Struktur Organisasi PT. Pertamina RU III Plaju


Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit Pertamina, Palembang, 2016

Adapun bidang-bidang yang ada di PT. Pertamina RU III Plaju :


1. Engineering and Development

11

Bidang ini bertugas untuk melakukan pengembangan kilang demi


menghasilkan produk yang bernilai jual dengan modifikasi pada proses.
2. Reliability
Bidang ini bertugas untuk melihat kehandalan instrumen kilang, sebelum
direncanakan untuk maintenance dan setelah maintenance.
3. Refinery Planning and Optimization
Bidang ini bertugas merencanakan pengolahan untuk mencari groosmargin sebesar-besarnya, menyiapkan atau menyajikan perspektif
keekonomian kilang.
4. Production
Bidang ini bertugas untuk menyelenggarakan (operator) pengolahan
minyak mentah (crude) menjadi produk BBM.
5. Maintenance Planning and Support
Bidang ini bertugas menjaga peralatan kilang yang tersedia dalam jangka
waktu tertentu agar proses pengolahan berjalan denlancar dan target
pengolahan dapat tercapai dengan cara memperbaiki secepat mungkin
peralatan operasi.
6. General Affairs and Legal
Bidang ini bertujuan untuk pengamanan aset-aset yang dimiliki oleh
kilang,

perijinan,

pengkajian

Undang-Undang,

serta

menganalisa

peraturan.
7. Health, Safety, and Environmental
PT. Pertamina RU IIII Plaju melindungi keselamatan, kesehatan, dan
lingkungan kerja karyawankaryawannya melalui unit HSE. Selain itu
HSE juga berfungsi sebagai pengelola lingkungan hidup.
8. Procurement
Kegiatan utama dari bidang Procurement adalah inventory controlling
(pengendalian persediaan), purchasing (pengadaan material), contract
officer (kontrak jasa), dan terakhir service and warehousing.
9. Turn Arround

12

Turn Arround (TA) adalah kegiatan pemeliharaan yang berskala besar


(extraordinary maintenance activites) yang dilakukan secara berkala (3-4
tahun) yang hanya dapat dilaksanakan pada saat unit dalam keadaan
berhenti operasi.
10. OPI (Operational Performance Improvement)
OPI diadakan untuk memberi pelatihan untuk meningkatkan performance
pekerja serta untuk merubah budaya kerja yang tidak baik, dan menjaga
sustainability dari improvement yang sudah terlaksana.
11. Maintenance Execution
Maintenance execution berperan melaksanakan program pemeliharaan
yang telah direncanakan oleh MPS, Reliability, dan Turn/Around serta
mengeksekusi maintenance harian.
1.5.2 Process Engineering (PE)
Struktur organisasi di PE dapat dilihat pada gambar 4 :

MANAGER, ENGINEERING
& DEVELOPMENT

13

Gambar 4. Struktur Organisasi di Proses Engineering (PE)


Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit Pertamina, Palembang, 2016

Tugas Process Engineering adalah sebagai berikut :


1. Melakukan studi-studi untuk pengembangan kilang RU III.
2. Melakukan sourcing bahan-bahan kimia dan katalis baru.
3. Bekerja sama dengan bagian operasi dalam menyelesaikan masalah teknis,
masalah harian yang bersifat kontinu (bukan sekedar masalah harian).
4. Memberikan pengarahan serta saran kepada bagian operasi untuk
melakukan perbaikan atau perubahan agar dapat mencapai kondisi proses
yang optimum.
5. Melakukan modifikasi pada proses sehingga dihasilkan kondisi operasi
yang lebih efisien dan ekonomis.
1.5.3 Energy Conservation and Loss Control (EC&LC)
SECTION HEAD
PROCESS ENGINEERING

14

SENIOR SUPERVISOR
PRIMARY PROCESS

SENIOR SUPERVISOR

PROCESS ENGINEER CDU

PROCESS ENGINEER
POLYPROPYLENE

SECONDARY PROCESS

SENIOR SUPERVISOR
PROCESS CONTROL

ENGINEERING PROCESS
CONTROL & LMI3 DC3

PROCESS ENGINEER
PLANTPROCESS
ENGINEER
ECLCGAS
dikepalai
oleh Energy
Conservation
FCC

EXPERT ENVIRONMENT

EXPERT
SAFETY

EXPERT
and Loss Control
Head, yang
CDU, OFFSITE, UTL

betanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap proses konservasi

energi serta
kehilangan
dalam ENGINEER
proses.
PROCESS ENGINEER
OFFSITE
& PRODUCT
PROCESS
DISTRIBUTION
UTILITIES

Adapun fungsi dari bagian-bagian struktur ECLC adalah :

EXPERT
FCC, GAS PLANT, PP

1. Senior Manager Encon, yang bertanggung jawab dalam hal melakukan


JUNIOR ENGINEER
konservasi
PRIMARY PROCESS

JUNIOR ENGINEER

ASSISTANT ENGINEERING

energi
baik diPROCESS
primary process maupun di secondary
process.
SECONDARY
DATA & LIBRARY

SME dibantu oleh :


a. Energy and Combustion Primary UTL yang melakukan pengawasan
dan tindakan dalam mengkonservasi energi di primary process.
b. Energy and Combustion Secondary yang melakuakn pengawasan dan
tindakan dalam mengkonservasi energi di secondary process sehingga
dapat menguntungkan karena produk sisa dapat dikonversi menjadi
sumber energi dan meningkatkan hasil produksi perusahaan.

2. Energy and Loss Control Analyst, yang bertugas melakukan analisa


terhadap konservasi energi dan pengontrolan kehilangan pada setiap proses
yang terjadi di perusahaan.
3. Senior Manager Loss Control, yang bertanggung jawab dalam melakukan
pengawasan dan melakukan tindakan terhadap pengontrolan kehilangan
pada proses yang terjadi.
SMLC dibantu oleh :
a. Optimation Loss Control Primary yang bertugas melakukan tindakan
optimasi di primary process.
b. Optimation Loss Control Secondary yang bertugas melakukan
tindakan optimasi di secondary process sehingga dapat menghasilkan
produk yang menguntungkan tanpa merugikan perusahaan akibat
kehilangan yang terjadi pada proses.

Engineering & Development


Manager
15

Energy Conservation & Loss


Control Section Head

Energy & Loss Control Analyst


Senior Manager Loss Control

Senior Manager Encon

Energy &
Combustion
Engineer
Primary-UTL

Energy &
Combustion
Engineer
Secondary

Optimation
Loss Engineer
Primary-UTL

Optimation
Loss Engineer
Secondary

Gambar 5. Struktur Organisasi ECLC PT. Pertamina RU III Plaju


Sumber : Pedoman BPST Angkatan XIV. Penerbit Pertamina, Palembang, 2016

1.5.4

Health, Safety, and Environment (HSE)


PT. Pertamina RU III Plaju melindungi keselamatan, kesehatan, dan

lingkungan kerja karyawankaryawannya melalui unit HSE. Unit tersebut


melaksanakan tugasnya berdasarkan UU No.1/1970 tentang keselamatan
karyawan yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja. Selain itu, HSE juga
berfungsi sebagai pengelola lingkungan hidup.

16