Anda di halaman 1dari 6

RESUME KEPERAWATAN ANAK

RUANGAN PERAWATAN PERISTI RSPAD GATOT SUBROTO

Kamis, 23 November 2016 pukul 15.00 WIB


Format Pengkajian Terlampir
A. Identitas Pasien
By. AKW masuk RSPAD pada tanggal 22 Nopember 2016, No RM 74 49
62, lahir pada tanggal 11 Nopember 2016, jenis kelamin perempuan, masuk
RSPAD dari poli Kartika dengan diagnosa hiperbilirubin. By AKW dibawa oleh
kedua orang tuanya Ny. SN dan Tn. A, pendidikan ortu D3 Keperawatan, agama
Islam, alamat Cililitan Besar RT 007/03 No. 29 Kec. Kebon Pala.
B. Analisa Data
1.

Data Subjektive

a.

Ny. SN mengatakan bayinya kuning sejak 3 hari SMRS, muntah > 10 kali, riwayat
SC.

2.

Data Objektif

a.

By. AKW tampak kuning, derajat kramer 3-4, turgor kulit elastis

b.

Status hemodinamik N: 130 x/mnt, S: 36,50C, RR: 40x/mnt

c.

Hasil pemeriksaan penunjang Tgl 23 Nopember jam 08.00 WIB, Bilirubin total:
15,79 mg/dL (<1,5 mg/dL), Bilirubin direk: 0,90 mg/dL (<0,3 mg/dL), Bilirubin
indirek: 14,89 mg/dL (<1,1 mg/dL), Hb: 37% (39 - 63%).

d.

Pasien di dalam inkubator dengan suhu inkubator 350C.

C. Diagnosa Keperawatan
Ikterik Neonatus b.d bayi mengalami kesulitan transisi kehidupan ekstra uterin

D. Intervensi Keperawatan
Tgl/

Dx. Kep

Tujuan

Intervensi

Ja

ar

m
23/1 Ikterik Neonatus b.d
1/2

bayi

af

transisi

Seteleh dilakukan tindakan 1.


2.
keperawatan selama 3x24
3.
jam, diharapkan ikterik

ekstra

neonatorum dapat diatasi 4.

mengalami

016 kesulitan
15.0
kehidupan
0
uterin
WI
B

1.
2.
3.

KH:
TTV dalam batas normal
Kadar bilirubin normal
Bayi tidak ikterik

Ukur TTV setiap 4 jam


Monitor kondisi klinis
Berikan minum ekstra

sesuai

kebutuhan
Monitor jika ada muntah, kaku otot,

5.

dan tremor
Periksa kadar bilirubin serum sesuai

6.
7.

program
Kolaborasi terapi dengan dokter
Kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian fototerapi

E. Implementasi Keperawatan
Tgl/
Ja

Dx. Kep

Implementasi

Respon

P
a

r
a
f

23/1 Ikterik Neonatus b.d 1.


2.
1/2 bayi
mengalami
016 kesulitan
15.1
kehidupan
0
uterin
WI

transisi

Mengukur TTV setiap 4 jam


1.
Memberikan minum ASI dan 2.

RR: 44 x/mnt, S: 36,5 C, N: 140 x/mnt


Bayi minum habis 50 cc habis

3.

PASI 50 cc
Mengobservasi

Bayi tidak muntah, otot tidak kaku, dan

4.

muntah, kaku otot, dan tremor


4.
Periksa kadar bilirubin serum

ekstra

adanya

3.

tidak tremor
Hasil Bilirubin total: 15,79 mg/dL
(<1,5 mg/dL), Bilirubin direk: 0,90

sesuai program

mg/dL (<0,3 mg/dL), Bilirubin indirek:


5.

Kolaborasi

dengan

dokter

untuk pemberian fototerapi

5.

14,89 mg/dL (<1,1 mg/dL)


Bayi diberikan dan terpapar sinar
fototerapi 2 lampu

F. Evaluasi
Tgl/

Dx. Kep

Evaluasi

Ja

ar

m
23/1 Ikterik Neonatus b.d
1/2

bayi

af
S : Tidak ada
O : Bayi menangis kuat,

mengalami

016 kesulitan
19.0
kehidupan
0
uterin
WI

akral hangat, gerak aktif, N:

transisi

150 x/mnt, RR: 48 x/mnt,

ekstra

S:

370C,

bayi

minum

ASI/PASI ad libitum, bayi

tidak muntah, BAK (+),


BAB (-), bayi terpapar sinar
fototerapi 2 lampu dengan
jarak 40-60 cm.
A : Masalah

ikterus

1.
2.
3.

neonatus masih terjadi


P : Lanjutkan intervensi:
Ukur TTV setiap 4 jam
Monitor kondisi klinis
Berikan minum ekstra sesuai

4.

kebutuhan
Monitor jika ada muntah, kaku

5.

otot, dan tremor


Periksa kadar bilirubin serum

6.

sesuai program
Kolaborasi terapi

7.

dokter
Kolaborasi

dengan

dengan
dokter

untuk pemberian fototerapi

G. Analisis

Ikterus neonatus merupakan kulit dan membran membran mukosa neonatus


berwarna kuning yang terjadi setelah 24 jam kehidupan sebagai akibat bilirubin tak
terkonjugasi ada di dalam sirkulasi (Herdman, 2015).
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin
yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam
hati. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan
kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site). Pada
bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan, hatinya sudah matang dan
menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum
Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis.
Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah
apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami
gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Untuk menurunkan kadar
bilirbin dapat dilakukan fototerapi pada bayi, Fototerapi mempunyai peranan dalam
pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab
Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia.
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5
mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di
Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan
untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko
Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.

H. Daftar Pustaka
Boden, V R., & Greenberg, C. S (2010). Chaildren and their families: The
continuum of care. Philadelphia: W. B. Saunders Company.
Gloria, dkk (2013). Nursing Interventions Classification (NIC) Ed.6. Saunders
Elsevier.
Huda Amin & Kususma., (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANAD NIC-NOC Jilid 3. Media Action.
Yogyakarta.

Hockenberry-Eaton, M., D., Winkalstein, M. L., & Schartz, P. (2009), Wongs


essentials of pediatric nursing (7th ed). St. Louis: Mosby, inc.
James, S. R., & Ashwill, J. W. (2013). Nursing care of children: Principles &
Practise (4rd ed). St. Louis: Saunders.
Karen. J. Marcadante., dkk., (2014). Nelson: ilmu kesehatan anak esensial edisi
keenam. Saunders Elsevier.
Pudiastuti, Ratna D., (2011). Waspada Penyakit Pada Anak. Permata Putri Media :
Jakarta.
Riyadi S & Sukarmin., (2013). Nelson Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 2.
Graha Ilmu : Yogyakarta.
Roshiha, Anindya Rino (2015), Asuhan Keperawatan pada Bayi dengan Ikterus
Neonatorum,
http://bidanvaganza.blogspot.co.id/2016/03/asuhankeperawatan-pada-bayi-dengan_12.html. Diakses Tgl 20 Nopember
2016.
Wong dkk, 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 1. Jakarta : EGC.