Anda di halaman 1dari 3

C.

Karakteristik Desa

Desa merupakan gambaran dari masyarakat yang masih bersahaja, dan kota
sebagai wakil dari masyarakat yang sudah maju atau kompleks, sehingga
karakteristik yang terlekat pada dua gejala tersebut menjadi bersifat polair, kontras
satu sama lain. (Rahardjo, 1999)
Pitirim A.Sorokin dan Carle C. Zimmerman (dalam T.L. Smith dan P.E.Zop, 1970)
mengemukakan sejumlah faktor yang menjadi dasar dalam menentukan desa dan
kota. Ia membedakan desa dan kota berdasarkan atas: mata pencaharian, ukuran
komunitas, tingkat kepadatan penduduk, lingkungan, diferensiasi sosial, stratifikasi
sosial, interaksi sosial, dan solidaritas sosial. (Rahardjo, 1999)
Diantara faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, jenis mata pencaharian
merupakan faktor pembeda yang pokok dan penting. Pertanian dan usaha-usaha
kolektif merupakan ciri kehidupan ekonomi pedesaan. Bidang pertanian cukup
mengandung variasi dan kompleksitas yang memiliki pengaruh bervariasi pula
terhadap kehidupan masyarakatnya. Perbedaan dalam besar-kecilnya skala usaha
pertanian, jenis-jenis tanaman atau pertanian, sistem pertanian yang diterapkan,
dan lainnya, juga akan mengakibatkan pula terjadinya perbedaan-perbedaan
terhadap kehidupan masyarakatnya. (Rahardjo, 1999)
Ukuran komunitas dan tingkat kepadatan penduduk sebagai dasar pembeda antara
desa dan kota sangat erat kaitannya satu dengan yang lain. Ukuran komunitas lebih
mengacu kepada suatu unit teritorial tertentu dalam suatu komunitas desa yang
berbeda. Hal ini secara ringkas dapat dirumuskan bahwa ukuran komunitas desa
yang menjadi pembeda antara desa dan kota, dibandingkan dengan komunitas kota.
(Rahardjo, 1999)
Mengenai lingkungan yang juga merupakan faktor penentu karakteristik desa dan
kota, Smith dan Zopf telah memberikan catatan bahwa dengan mengingat luasnya
pengertian yang terkandung dalam konsep lingkungan, maka mereka membedakan
adanya tiga jenis lingkungan, yakni:
1. Lingkungan phisik atau unorganic, masyarakat desa lebih langsung

berhadapan dengan dan banyak dipengaruhi oleh lingkungan phisik


dibandingkan dengan masyarakat kota.
2. Lingkunga biologik atau organik, masyarakat desa lebih banyak dipengaruhi

oleh keadaan lingkungan daripada orang kota.

3. Lingkungan sosio-kultural, perbedaaan antara kehidupan masyarakat desa

dan kota juga terlihat jelas dalam pada ke tiga kategori lingkungan sosiokultural ini. Dalam lingkungan physiosocial, kota lebih memperlihatkan
bangunan-bangunan phisik yang lebih banyak dan bervariasi. Dalam
lingkungan biosocial, kota lebih memperlihatkan komposisi ras atau
kebangsaan yang beragam dibanding dengan desa. Dan dalam lingkungan
psychosocial, lingkungan perkotaan jauh lebih kompleks dibanding dengan
pedesaan. (Rahardjo, 1999)
Diferensiasi sosial sebagai faktor penentu terhadap karakteristik desa dan kota,
secara ringkas dapat dirumuskan bahwa kota memiliki tingkat diferensiasi yang
tinggi dibanding dengan desa. Yang dimaksud dengan diferensiasi sosial disini
adalah pengelompokan-pengelompokan (groupings) yang ada dalam suatu
masyarakat baik dalam hal jumlah, variasi, maupun kompleksitasnya, tanpa
menempatkannya dalam suatu susunan yang bersifat hierarkis. (Rahardjo, 1999)
Stratifikasi sosial (pelapisan sosial) yang juga sebagai faktor penentu terhadap
perbedaan karakteristik antara desa dan kota, secara ringkas dapat dilihat melalui
empat perbedaan pokok.
1. Pelapisan sosial pada masyarakat desa lebih sedikit (sederhana) dibanding

dengan yang ada pada masyarakat kota.


2. Perbedaan (jarak sosial) antar lapisan sosial pada masyarakat desa tidak

begitu besar (jauh) dibanding dengan masyarakat kota.


3. Lapisan masyarakat desa tidak sekedar lebih sederhana dibanding dengan

kota, tetapi disamping itu juga terdapat kecenderungan pada masyarakat


desa untuk mengelompok pada lapisan menengahnya.
4. Dasar-dasar pembeda antar lapisan pada masyarakat kota tidak begitu kaku

seperti hal pada masyarakat kota. (Rahardjo, 1999)


Mobilitas sosial sebagai faktor penentu, secara umum dirumuskan bahwa mobilitas
sosial masyarakat pedesaan lebih rendah dibanding dengan masyarakat perkotaan.
Mobilitas sosial yang dimaksudkan disini adalah baik yang bersifat horisontal,
yakni perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya, maupun yang
bersifat vertikal, yakni pergeseran status dari lapisan sosial yang satu ke yang
lainnya. (Rahardjo, 1999)

Interaksi sosial juga sebagai faktor penentu, secara umum dirumuskan bahwa
jumlah kontak sosial pada masyarakat kota jauh lebih banyak dan bervariasi
dibanding dengan masyarakat pedesaan. Jenis jenis mata pencaharian masyarakat
kota yang sangat bervariasi memungkinkan terjadinya banyak kontak sosial
diantara mereka.
Solidarita sosial juga merukan faktor pembeda dan penentu perbedaan karakteristik
desa dan kota, secara umum dirumuskan bahwa solidarita sosial masyarakat
pedesaan lebih didasarkan pada kesamaan-kesamaan, sedangkan pada masyarakat
perkotaan justru didasarkan atas perbedaan-perbedaan. Sebagai konsekuensi dari
adanya kesamaan-kesamaan sebagai dasar solidarita, masyarakat desa cenderung
menciptkan hubungan-hubungan yang bersifat informal dan non-kontraktual.
Pendapat lain yang juga merumuskan karakteristik desa adalah Paul H.Landis,
menurutnya desa adalah masyarakat yang penduduknya kurang dari 2.500 jiwa
dengan karakteristik berikut:
1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
2. Ada pertalianperasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.
3. Cara berusaha (perekonomian) adalah agraris yang paling umum yang

sangat
dipengaruhi alam seperti; iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan
pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
Adapun yang menjadi karakteristik lainnya dari masyarakat pedesaan adalah:
1. Di dalam masyarakat pedesaaan diantara warganya mempunyai hubungan

yang lebih mendalam bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan


lainnya yang diluar batas-batas wilayahnya.
2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan

(Gemeinschaft atau paguyuban).


3. Masyarakat tersebut sifatnya homogen, seperti dalam hal mata pencaharian,

agama, adat istiadat dan sebagainya.