Anda di halaman 1dari 23

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendugaan erosi dari sebidang tanah adalah metode untuk memperkirakan laju erosi yang
akan terjadi dari tanah, dipergunakan dalam penggunaan lahan dan pengelolaan tertentu. Jika laju
erosi yang akan terjadi telah dapat diperkirakan dan laju erosi yang masih dapat dibiarkan atau
ditoleransikan sudah dapat ditetapkan, maka dapat ditentukan kebijakan penggunaan tanah dan
tindakan konservasi tanah yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah, sehingga tanah
dapat dipergunakan secara produktif dan lestari.
Tindakan konservasi tanah dan penggunaan lahan yang diterapkan adalah yang dapat
menekan laju erosi agar sama atau lebih kecil dari laju erosi yang masih dapat dibiarkan. Metode
prediksi juga merupakan alat untuk menilai apakah suatu program atau tindakan konservasi tanah
telah berhasil mengurangi erosi dari suatu bidang tanah atau suatu DAS. Pendugaan erosi adalah
alat bantu untuk mengambil keputusan dalam perencanaan konservasi tanah pada suatu areal
tanah (Arsyad, 2000). Salah satu metode prediksi yang sering digunakan saat ini adalah WEPP.
WEPP (Water Erosion Prediction Project) adalah suatu model penyesuaian proses,
berdasarkan pada ilmu erosi dan hidrologi modern, dirancang untuk menggantikan USLE
(Universal Soil Loss Equation) untuk pendugaan secara berkala erosi tanah dengan mengatur
konservasi tanah dan air serta perencanaan dan penilaian lingkungan (Morgan, 1995 dalam Yupi
2008).
B. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui konsep dasar dari model
pendugaan erosi WEPP dan bagaimana pengaplikasiannya di lapangan berdasarkan studi kasus.

II. MODEL PENDUGAAN EROSI WEPP


A. Sejarah dan Perkembangan WEPP
Program WEPP dimaksudkan untuk mengembangkan generasi baru dalam teknologi
memperkirakan erosi karena air untuk penggunaan dalam skala besar oleh pengguna melibatkan
konservasi tanah dan air dan kajian serta perencanaan lingkungan (Foster and Lane, 1987
dalam Troeh et al, 2004). Agricultural Research Service (ARS), Natural Resources Conservation
Service (NRCS), Forest Service, USDA, dan Bureau of Land Management di U.S. Department of
the Interior terlibat dalam proyek ini.
WEPP merupakan model buatan Amerika pertama yang dikembangkan untuk
memprediksi erosi pada skala luas yang tidak didasari oleh teknologi USLE. WEPP merupakan
model physical based, didasari oleh proses dan simulasi harian yang dikembangkan untuk
menggantikan Universal Soil Loss Equation (USLE) untuk prediksi erosi (Laflen et al., 1991;
Lane dan Nearing, 1989 dalam Troeh et al., 2004).
WEPP merupakan suatu model yang menghasilkan perhitungan harian dari keadaan tanah
dan biomassa pada suatu lahan. Apabila hujan turun, runoff dihitung. Apabila terjadi runoff,
maka sebaran, angkutan dan deposit sedimen dapat dihitung pada lereng. Perhitungan itu
termasuk generator iklim, komponen hidrologi, model pertumbuhan tanaman, dan iklim tanah
penutup lahan dan database tanaman untuk kondisi yang umum yang terjadi di Amerika. Versi
teknologi sebelumnya dirilis pada tahun 1989. Versi tersebut sudah diuji secara ekstensif pada
lahan pertanian di Amerika dan menghasilkan hasil yang baik. Verisi ini juga sudah diuji di
Eropa, Asia, dan Afrika. Program ini dirilis ke publik pada tahun 1993.
WEPP dapat menghitung tidak hanya jumlah tanah yang tererosi, tetapi juga kapasitas
angkut dari runoff, WEPP juga dapat memprediksi jumlah dan lokasi dari sedimen yang akan
dideposit ketika air mengalir perlahan dan lereng mulai rata (Favis-Mortlock dan Guerra, 2000
dalam Troeh et al., 2004). WEPP juga sudah dimodifikasi untuk memprediksi perubahan pola
erosi yang akan muncul sebagai suatu solusi dari pemanasan global.
Model WEPP memiliki berbagai keunggulan dibanding model USLE maupun RUSLE,
antara lain bahwa nisbah kehilangan tanah dapat ditaksir secara spasial sepanjang profil (lahan)
dan juga dapat menaksir besarnya sedimen yang terangkut. Selain itu limpasan permukaan dan
sedimen dapat diduga tiap terjadinya hujan, sehingga bisa menghasilkan analisa sementara yang
mendetail beserta penyebarannya.
2

WEPP dapat menghitung tidak hanya jumlah tanah yang terosi, tetapi juga kapasitas
angkut dari runoff, WEPP juga dapat memprediksi jumlah dan lokasi dari sedimen yang akan
dideposit ketika air mengalir perlahan dan lereng mulai rata (Favis-Mortlock dan Guerra, 2000
dalam Troeh et al, 2004). WEPP juga sudah dimodifikasi untuk memprediksi perubahan pola
erosi yang akan muncul sebagai suatu solusi dari pemanasan global.
Menurut Agus et al, (1997) WEPP dibentuk untuk mengembangkan sarana prediksi erosi
yang lebih mutakhir, untuk digunakan oleh lembaga yang berkecimpung di bidang konservasi
tanah dan air, perencanaan dan asesmen lingkungan. Teknologi prediksi erosi WEPP merupakan
teknologi yang berorientasi proses dan dikembangkan berdasarkan ilmu hidrologi dan erosi.
Praktisi yang dewasa ini menggunakan USLE atau RUSLE (Revised Universal Soil Loss
Equation) diperkirakan akan menggunakan WEPP. Di dalam pengantar RUSLE bahkan
dikatakan bahwa WEPP adalah pengganti dari RUSLE.
Saat ini model WEPP telah dikembangkan dalam tiga versi, yaitu:
1. Versi profil bentang lereng (hillslope profile version).
Menurut Agus et al. (1997) verisi ini memprediksi erosi dari suatu bentang lereng seperti
halnya USLE/RUSLE, akan tetapi berbeda dengan USLE/RUSLE, versi bentang lereng pada
WEPP dapat menghitung sebaran ruang dan waktu dari erosi dan deposisi. Dengan kata lain,
model ini memprediksi kapan dan di bagian mana pada suatu bentang lereng erosi terjadi.
Suripin (2002) menyatakan versi ini merupakan pengganti langsung dari USLE untuk
menghitung erosi permukaan dan erosi parit pada profil aliran permukaan tertentu.WEPPprofile juga menghitung pengendapan sedimen berkaitan dengan perubahan topografi lahan
atau meningkatkan kekasaran permukaan, atau juga akibat meningkatkan suplai sedimen
dari ujung lereng.
2.

Versi daerah tangkapan air (watershed version).


Menurut Agus et al, (1997) verisi ini memprediksi erosi dari suatu daerah tangkapan air.
Untuk itu suatu daerah tangkapan dibagi atas beberapa bagian dengan penggunaan lahan
yang relative sama dan setiap bagian dapat pula dibatasi oleh saluran, sungai dan lain-lain.
Sedangkan Suripin (2002) menyatakan erosi yang dihitung dengan WEPP-profile ditelusuri
melewati sistem saluran menuju ke keluaran (outlet) dari DAS. Keluaran dari versi ini
meliputi erosi dan pengendapan di dalam sistem saluran.

3. Versi grid (grid version)


3

Suripin (2002) menyatakan pengiriman sedimen dihitung dari luasan yang telah dibagibagi menjadi bagian kecil atau elemen grid persegi. Dalam tiap-tiap elemen, versi profile
bekerja, dengan versi grid mempresentasikan transportasi, erosi dan deposisi di dalam
system saluran dalam area yang ditinjau.
Model WEPP diukur berdasarkan pada erosi parit dan antar parit (rill dan inter riil),
pelepasan sedimen yang merupakan hasil dari penghancuran (detachment), pengangkutan
(transport) dan deposisi (deposision) sedimen pada area limpasan permukaan dan aliran sungai.
Erosi parit adalah pelepasan dan pengangkutan partikel tanah oleh butiran air hujan dan aliran
yang sangat tipis, sedangkan aliran antar parit adalah pelepasan dan pengangkutan sedimen oleh
aliran air.
GeoWEPP merupakan perangkat lunak berbentuk Geo-spasial untuk model WEPP yang
menggunakan Geographic Information System (GIS) ArcView dan ekstension analisis
spasialnya; yang keduanya dikembangkan oleh Environment Systems Research Institute (ESRI) ;
sebagai dasar untuk mengaplikasikan model prediksi erosi (WEPP) dan Windows interface
(WEPPWIN) dengan data geospasial topografi, penggunaan lahan dan jenis tanah. Versi
GeoWEPP yang telah ada memungkinkan untuk mendeliniasi DAS yang lebih besar
dibandingkan ukuran DAS yang direkomendasikan pada simulasi DAS WEPP (<500 ha)
(Renschler, 2004).
Simonato (2002, dalam Suhartanto, 2005) menyatakan bahwa sesuai fakta dalam skala
bulanan estimasi WEPP dan erosi terukur mempunyai perbedaan sekitar 100%, pada skala
musiman perbedaan sekitar 0-40%, dan pada skala tahunan perbedaan sekitar 13-80%.
Ketersediaan data sampai beberapa tahun yang akan datang, masih akan tetap merupakan
faktor penghambat penggunaan WEPP, terutama di luar pulau Jawa. Akan tetapi dengan makin
banyaknya tuntutan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan dan untuk perencanaan tindakan
konservasi, maka WEPP layak untuk diverifikasi dan secara bertahap digunakan (Agus et al,
1997 dalam Suhartanto, 2005).
B. Konsep Dasar WEPP/GeoWEPP
Dalam model WEPP, kehilangan tanah dihitung sepanjang lereng dan menghasilkan hasil
sedimen pada akhir lereng. Maksimum lahan yang bisa dihitung oleh WEPP adalah 259 ha
untuk lahan pertanian dan seluas 809 ha untuk lahan kosong. Pada GeoWEPP luasan area yang

bisa dihitung seluas 16000 ha, lebih besar daripada WEPP karena dapat menghitung untuk
beberapa lereng.
Proses physical based erosi dimodelkan didalam GeoWEPP sebagai suatu konsep
persamaan kontinuitas steady state sedimen untuk menjelaskan pergerakan dari sedimen dalam
rangka mempertahankan hukum kekalan energi. (NSERL, 1995).
WEPP membutuhkan input empat kelompok data untuk dapat dijalankan seperti berikut
ini (USDA, 1995) :
1. Data iklim seperti curah hujan harian, temperatur, radiasi matahari dan angin.
Suatu program tersendiri disebut CLIGEN digunakan untuk membangkitkan data
iklim yang baik secara kontinyu maupun kejadian tunggal.
2. Data topografi seperti panjang lereng, kemiringan lereng, dan arah lereng.
3. Data tanah seperti tekstur, albedo ( bagian dari radiasi matahari yang dipantulkan
kembali ke atmosfer), kejenuhan awal, erodibilitas tanah, tegangan geser kritis
tanah, konduktivitas hidraulik, presentase batuan.
Proses erosi physical based disimulasikan di dalam WEPP dengan konsep persamaan
kontinuitas steady-state untuk menjelaskan pergerakan sedimen pada alur mengacu kepada
hukum konservasi massa dan energi. Model WEPP menggunakan persamaan-persamaan tersebut
dibawah (NSERL., 1995 di dalam Endale, 2003).
Total tingkat erosi dihitung dengan persamaan :

Dimana :
= perubahan muatan sedimen (kg/s.m)
= perubahan panjang lereng (m)
2)

= tingkat erosi alur (kg/s.m , positif untuk detasemen, negatif untuk deposit
2

= angkutan sedimen antar alur ke alur (kg/s.m )


Pada dasarnya, partikel tanah dan aliran air bersih saling berhubungan dalam hal
detasemen tanah pada alur. Baik partikel tanah dan aliran air bersih memiliki tekanan potensial.
Langkah awal untuk memisahkan tanah tekanan pada aliran air bersih seharusnya lebih besar
daripada tekanan potensial tanah. Setelah tanah terpisahkan untuk disalurkan, muatan sedimen
5

seharusnya lebih kecil daripada kapasitas angkut dari aliran air bersih tersebut. Oleh karena itu,
penyebaran tanah bersih pada alur diperkirakan ketika tekanan geser hidrolik melebihi tekanan
geser kritis tanah dan ketika muatan sedimen lebih kecil daripada kapasitas angkut sedimen
(NSERL, 1995 didalam Endale, 2003).
(

Dimana :
2

= kapasitas detasemen dari aliran alur (kg/s.m )


G

= muatan sedimen (kg)

Tc

= kapasitas angkut sedimen pada alur (kg/s.m)

Tingkat Erosi Antar Alur


Tingkat erosi alur adalah ukuran sedimen yang dialirkan ke saluran terkonsentrasi. Nilai
ini diasumsikan secara proposional pada intensitas curah hujan, run off dan dampak dari
kekasaran tanah dengan parameter erodibilitas (Ki) yang secara proporsional konstan, yang pada
kenyataannya disesuaikan untuk beberapa faktor yang bervariasi (NSERL, 1995, di dalam
Endale 2003). Tingkat erosi antar alur dihitung dengan menggunakan persamaan :
(

Dimana :
4

Kiadj

= erodibilitas antar alur yang disesuaikan (kg.s/m )

Ic

= intensitas cuah hujan efektif (m/s)


= tingkat run off antar alur (m/s)

SDRRR = sediment delivery ratio (%)


Fnozzle = faktor yang disesuaikan untuk nozzle irigasi curah yang berdampak pada variasi
energi (%)
RS
= jarak alur (m)
W
= lebar alur (m)

III.

LOKASI CONTOH STUDI KASUS

Studi mengenai teknik pendugaan erosi dan sedimentasi berbasis model simulasi
GeoWEPP dan SIG menggunakan satuan Daerah Aliran Sungai (DAS). Penelitian ini
dilaksanakan di DAS Limboto. Secara astronomis, DAS Limboto terletak pada 122 42 0.24
123 03 1.17 BT dan 00 30 2.035 00 47 0.49 LU.
Dataran area dari DAS Limboto sangat sempit, hanya 20 % dari seluruh DAS. Ketinggian
daratan pada pegunungan Utara danau berkisar + 700 - + 1000 dan pegunungan Selatan berkisar
+ 1000 + 1500 serta pegunungan di bagian Barat perbukitan berkisar + 100 - + 500. Pada
bagian tengah DAS Limboto, ketinggian berkisar + 50 - + 100, sedangkan DAS yang berbatasan
dengan Danau Limboto berkisar + 20 - + 50.

Gambar 1. Peta Topografi DAS Limboto

A. Data Iklim
Data iklim yang dibutuhkan oleh GeoWEPP termasuk nilai harian dari curah hujan,
temperatur, radiasi matahari, dan kecepatan angin. Data iklim tersebut dibutuhkan untuk diolah
terlebih dahulu dengan menggunakan model CLIGEN. CLIGEN merupakan generator iklim
stokastik yang menghasilkan perkiraan harian time series dari curah hujan, temperatur, titik
embun, angin dan radiasi matahari untuk satu titik geografis, berdasarkan pengukuran rata-rata
bulanan untuk suatu periode iklim tertentu, seperti nilai rata-rata, standar deviasi dan
penyimpangan data. Perkiraan dari tiap parameter diolah secara independen terhadap satu dengan
lainnya. (NSERL, 2002).
Model GeoWEPP membutuhkan input data iklim yang dibangun oleh model CLIGEN.
Model CLIGEN membutuhkan data hujan bulanan statistik dan data iklim khusus sebagai contoh
dibutuhkan pencatatan curah hujan setiap 15 menit pada suatu stasiun cuaca. Data yang tersedia
di studi area adalah data curah hujan harian dan temperatur bulanan, penyinaran matahari
bulanan, dan kecepatan serta arah angin bulanan. Data yang dibutuhkan adalah data iklim harian.
Oleh karena itu digunakan data daerah yang dekat dengan studi area yakni Stasiun Watampone,
Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Daerah ini dipilih karena memiliki data iklim harian selama
10 tahun yang cukup lengkap dan memiliki kondisi geografis yang similar dengan lokasi stusi
area.
Kabupaten Bone sebagai salah satu daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan
memiliki posisi strategis dalam perdagangan barang dan jasa di Kawasan Timur Indonesia yang
o

berada antara 4 13 5 06 lintang selatan dan 119 42 120 30 bujur timur. Wilayah
Kabupaten Bone termasuk daerah beriklim sedang kelembaban udara berkisar antara 95 % - 99
o

% dengan temperatur berkisar 26 43 C. Pada periode April-September bertiup angin timur


yang membawa hujan, sebaliknya pada. bulan Oktober-Maret bertiup angin barat, dimana pada
waktu itu Kabupaten Bone mengalami musim kemarau.
B. Pengolahan Data Topografi
Untuk mendapatkan peta kontur DAS Limboto, digunakan data SRTM (Shuttle Radar
Topography Mission) dan software Global Mapper 6. SRTM merupakan proyek gabungan antara
NASA (National Aeronautics and Space Administration) dan NGA (National GeospatialIntelligence Agency) yang didistribusikan oleh USGS (U.S. Geological Survey) untuk
memetakan permukaan bumi dalam tiga dimensi pada suatu level detail yang unik untuk area
8

yang luas. SRTM telah berhasil mengumpulkan data 80 % dari seluruh permukaan bumi
terutama daerah yang terletak diantara 60 LU sampai 56 LS dari pesawat ulang alik NASA
Endeavour pada 11-22 Februari 2000.
Pada program Global Mapper 6, SRTM DAS Limboto berada pada 122 42 0.24 123
03 1.17 BT. Peta kontur dibuat dalam program Global Mapper dengan interval 10 m. Data
kontur yang akan diolah disimpan dalam bentuk data digital. Data digital ini adalah adalah data
vektor dalam format ArcView shape file ataupun format yang lain yang dapat dikonversi
menjadi ArcView shape file. Data kontur format vektor diolah terlebih dahulu menjadi Model
Elevasi Digital (Digital Elevation Model / DEM) dengan metode TIN (Triangulated Irregular
Network). Berdasarkan DEM kemudian dibuat data ketinggian dalam 25 format raster (GRID).
C. Data Tanah
Jenis tanah area studi meliputi Inceptisols, (tanah dengan pengembangan horizon
minimal), Entisols (tanah asli, diolah dengan material induk yang tidak terkonsolidasi), Alfisols
(tanah hutan yang mudah menyerap dengan tingkat kesuburan yang relatif tinggi), Vertisols,
Mollisols (tanah yang berada pada ekosistem padang rumput).
Berdasarkan peta tanah tinjau yang dibuat oleh Pusat Penelitian Tanah Agroklimat (1992)
yang menggunakan sistem Taxonomi Tanah Amerika Serikat (USDA) di wilayah DAS Limboto
terdapat beberapa ordo tanah yaitu :
D. Data Penggunaan Lahan
Berdasarkan hasil interpretasi foto udara dan citra satelit serta hasil pengecekan lapangan,
penggunaan lahan di wilayah DAS Limboto terbagi menjadi dua belas kelompok. Secara rinci
dapat dilihat pada tabel 2.
Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa sebagian besar penggunaan lahan di wilayah
DAS Limboto adalah tegalan dengan luas 32.117 ha (35.29 %). Dari luas DAS, urutan kedua
adalah hutan 14.893 ha (16.37 %), berikutnya perkebunan kelapa dengan luas 12.526 ha atau
(13.76 %) dari total luas DAS. Luasan yang paling kecil adalah rawa mencapai 143 ha (0.16 %)
dari total luas DAS Limboto.

Tabel 1. Klasifikasi Tanah pada DAS Limboto

No

Ordo

Luas
ha

Alfisol
Molisol
Vertisol
Entisol
Inceptisol
Danau

1
2
3
4
5
*)

43.849
6.027
5.022

1.965
27.400
3.415
84.263

Total

(%)
50.01
6.87
5.73
2.24
31.25
3.89
96.11

Sumber : Peta Tanah Tinjau Kabupaten Gorontalo Tahun 1992 Puslitan Bogor.
*) Luasan tidak termasuk Luas Danau
Tabel 2. Jenis Penggunaan Lahan DAS Limboto

No

Jenis Penggunaan
Lahan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Danau
Belukar
Hutan
Kebun
Kebun Campuran
Kelapa
Ladang
Permukiman
Rawa
Sawah
Sawah/Rawa
Tegalan
Total

Luas
ha

(%)

3.415
8.029
14.893
676
3.042
12.526
10.056
708
143
4.791
608
32.117

3.75
8.82
16.37
0.74
3.34
13.76
11.05
0.78
0.16
5.26
0.67
35.29

91.004

100.00

Sumber : Peta Citra Landsat Kabupaten Gorontalo di dalam RTL-RLKT, 2003

E. Data Jenis Saluran


Dalam program GeoWEPP, diperlukan input jenis saluran yang ada serta lebar saluran
secara umum. Untuk saluran/sungai yang terdapat didalam DAS Limboto diasumsikan seragam
seperti yang tertera pada Tabel 3.

10

Gambar 2. Peta Penggunaan Lahan DAS Limboto


Tabel 3. Asumsi jenis saluran yang berada di DAS Limboto
No

Jenis Saluran

Lebar Saluran
(m)

1
2
3
4
5

Saluran berbatu
Saluran berbatu
Saluran kerikil
Saluran kerikil
Saluran alam

1
2
2
3
3

F. Teknik Pendugaan Erosi dan Sedimen Berbasis Model GeoWEPP


Program GeoWEPP hanya dapat mensimulasikan erosi dan sedimen untuk luasan area
tertentu saja (< 16000 ha). Oleh karena itu DAS Limboto dibagi menjadi beberapa zone
berdasarkan outlet anak sungai yang paling luar dan mencukupi syarat minimal simulasi dengan
program GeoWEPP. Pembagian zone ini lebih baik berupa persegi panjang karena dalam
pembuatan TIN dari peta kontur membutuhkan bentuk peta trianggular. Pembagian zone
dilakukan pada program ArcView GIS diikuti dengan pembagian DEM, peta tanah dan peta
penggunaan lahan masing-masing zone. Pembagian zone yang dilakukan cukup banyak
mengingat agar sub DAS yag terbentuk nanti memiliki bentuk dan batas yang tepat.
11

Gambar 3. Peta Pembagian Batas Zone

Gambar 4. Tampilan Jaringan Sungai yang Terdeliniasi

Metode Simulasi yang digunakan terbagi menjadi :


1. Metode DAS (Watershed), yakni simulasi untuk merepresentasikan kelerengan
dan saluran-saluran sungai (metode DAS) yang mengkaji akibat off-site dari
lereng dan sungai yang terdapat di dalam sub DAS tersebut.

12

2. Metode Aliran (Flowpath), yakni simulasi untuk seluruh masing-masing aliran


dan menyatukan mereka menjadi suatu analisa spasial dengan mempertimbangkan
hasil simulasi untuk setiap sel raster dari luas area dan panjang aliran yang
tercakup didalamnya.
Pada legenda dari peta hasil running WEPP secara dinamis diset pada nilai kehilangan
tanah yang dapat ditoleransi atau nilai target T. Hal ini memungkinkan pengguna program
GeoWEPP memasukkan nilai batas yang dapat ditoleransi dan membuat peta tampilan area
dengan nilai T yang dapat ditoleransi (berwarna hijau), nilai T yang tidak dapat ditoleransi
(berwarna merah) dan area deposit (berwarna kuning). Dalam hal ini nilai T yang dipakai adalah
10 ton/ha/thn (Suripin, 2002).
Peta off-site menunjukkan hasil sedimen yang masuk ke sungai dari masing-masing
lereng berdasarkan nilai T. Peta on-site ditampilkan dengan mengaktifkan theme on-site sehinga
peta hasil sedimen akan hilang temporari dari tampilan layar dan menampilkan peta kehilangan
tanah (per pixel). Gambar 5. menampilkan hasil dari watershed method dan flowpath method.

(a)

(b)

Gambar 5. Hasil Running GeoWEPP dengan (a) Watershed Method dan (b) Flowpath Method

G. Hasil Running Model GeoWEPP


Untuk membuat model simulasi dengan GeoWEPP dibuat 14 zone untuk membantu
pembentukan masing-masing sub DAS dari outlet-outlet jaringan sungai yang ditentukan. Setiap

13

zone dimungkin kan terdapat beberapa outlet yang dapat dibentuk dan masing-masing otlet akan
mewakili sub das yang berbeda-beda.
Setelah melalui beberapa proses trial and error dalam hal penentuan letak dan besar zone
serta letak masing-masing outlet, didapat pembagian pembentukan sub DAS yang paling baik
yakni terbagi menjadi 14 zone, 42 outlet dan 42 sub DAS yang tersebar di DAS Limboto.
Maisng-masing sub DAS akan menghasilkan model simulasi prediksi erosi dan sedimen yang
berbeda-beda tergantung dari luas das, topografi das, penutup lahan yang ada, dan jenis tanah
yang terkandung didalamnya.
Setelah model terbentuk dari masing-masing sub DAS maka akan dihasilkan dua jenis peta
yakni peta off-site dan peta on-site. Masing-masing peta dari masing-masing sub DAS
dikumpulkan kembali dengan program ArcView dan dihasilkan peta off-site dan peta on-site
DAS Limboto seperti yang tertera pada Gambar 6 dan Gambar 7.

Gambar 6. Peta Hasil Sedimen Model GeoWEPP (Kajian Off-site)

14

Gambar 7. Peta Kehilangan Tanah Model GeoWEPP (Kajian On-site)

Pada Gambar 6. terdapat peta hasil sedimen yang merupakan peta kajian off-site dari model
GeoWEPP. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa kontribusi sedimen terbesar yakni dengan
dengan nilai sediment yield > 4T (T = 10 ton/ha/thn) berada pada Utara Danau Limboto atau
berada pada pertengahan DAS Limboto dan sejumlah besar dengan kadar yang lebih kecil
tersebar ditenggara DAS Limboto. Hal ini disebabkan karena pada daerah tersebut memiliki
dominan penutupan lahan berupa ladang, kebun dan belukar. Daerah tersebut juga berada pada
rata-rata ketinggian 350-500 m MSL. Daerah yang memberikan kontribusi sedimen yield yang
cukup rendah berada pada daerah utara dan selatan DAS yang kebanyakan terdiri dari hutan.
Pada Gambar 7. terdapat peta kehilangan jumlah tanah yang merupakan peta kajian on-site
dari mdoel GeoWEPP. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa kehilangan jumlah tanah
terbesar juga berada pada Utara Danau Limboto dan sedikit tersebar dibagian tenggara DAS
Limboto. Kehilangan jumlah tanah dengan jumlah yang kecil tersebar merata di bagian Utara,
Tengah dan Selatan DAS Limboto.
Pada hasil running model simulasi GeoWEPP terdapat beberapa perbedaan dengan studi
yang terdahulu pernah dilakukan. Perbedaan pertama terletak pada luas DAS yang tercakup dari
hasil running. Pada RTL-RLKT yang diterbitkan oleh BP DAS Bone Bolango tertera luas DAS
15

Limboto adalah 91004 ha. Pada hasil running GeoWEPP luas DAS Limboto menjadi 90357.951
ha. Rincian luas DAS Limboto hasil running GeoWEPP tertera pada Tabel 4.

Tabel 4. Rincian Luas DAS Limboto Hasil Running GeoWEPP

No
1
2
3

Keterangan
Luas DAS yang
tercakup GeoWEPP
Danau
Luas area yang tidak
tercakup GeoWEPP
Jumlah

Luas
Ha
76276,81

% Luas
%
84,42

3412,704
10667,447

3.78
11,81

90357,951

100,00

Program GeoWEPP memiliki keterbatasan dalam mensimulasikan daerah-daerah yang


relatif datar. Oleh karena itu 11.81% dari total luas DAS Limboto atau 10.667,477 ha tidak dapat
disimulasi mengingat keterbatasan tersebut. Daerah yang dapat disimulasikan adalah 76276,81
ha atau 84.42% dari keseluruhan total luas DAS Limboto. Danau Limboto yang memiliki luas
3412.704 ha tidak termasuk daerah yang disimulasikan oleh GeoWEPP.
Tabel 5. Hasil Running GeoWEPP

Keterangan
Luas Area
Total Erosi
Total Deposisi Sedimen
Total Sediment Yield
Rata-rata Erosi
Rata-rata Deposisi Sedimen
Rata-Rata Sediment Yield

Nilai
76276,81
3.409.067,36
224.356,54
3.184.710,41
44,69
2,94
41,75

ha
ton/thn
ton/thn
ton/thn
ton/ha/thn
ton/ha/thn
ton/ha/thn

Berdasarkan hasil running GeoWEPP didapat jumlah total erosi pada DAS Limboto
sebesar 3.409.067,36 ton/thn atau rata-rata erosi per hektar adalah 44,69 ton/ha/thn atau 3.72
mm/thn. Nilai erosi tersebut telah melewati ambang batas bahaya erosi yang diperkenankan
(dapat ditoleransikan) yaitu sebesar 10 ton/ha/thn (Suripin 2002). Sediment deposisi pada DAS
Limboto 224.356,54 ton/thn atau sedimen deposisi per hektar adalah sebesar 2,94 ton/ha atau
0.245 mm/thn. Sediment yield DAS Limboto adalah 3.184.710,41 ton/thn atau sedimen yield per
hektar adalah 41,75 ton/ha/thn atau 3.48 mm/thn. Dari data diatas adalah sesuai dengan keadaan
16

DAS Limboto yang sebagian besar tertutupi oleh ladang dan tegalan. Usaha penanganan semakin
terfokus kepada pengendalian pengelolaan lahan perladangan yang terjadi pada lahan miring dan
tidak menerapkan kaidah konservasi.
Total erosi dan sedimen hasil running GeoWEPP memiliki perbedaan dengan RTL-RLKT.
Pada RTL-RLKT didapat hasil total erosi DAS Limboto adalah 4.222.096 ton/thn atau nilai ratarata erosi per hektar adalah 108.81 ton/ha/thn. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok dengan
hasil running GeoWEPP yakni 23.85% lebih kecil dari total erosi RTL-RLKT. Hal ini
disebabkan karena RTL-RLKT menggunakan pendekatan USLE (Universal Soil Loss Equation).
Pendekatan USLE memiliki beberapa kekurangan salah satunya adalah memiliki skala prediksi
bentang lereng (hillslope profile) dengan erosi rata-rata tahunan dari suatu bentang lereng yang
tidak ada cekungan deposisinya sedangkan GeoWEPP memiliki skala prediksi DAS dan bentang
lereng (hillslope) yang dibagi menjadi grid dengan erosi dan deposisi menurut sebaran ruang dan
waktu dan dapat menampilkan jumlah tanah tererosi, deposisi, hasil sedimen dan hasil limpasan
permukaan.
Total erosi dan sedimen hasil running GeoWEPP juga memiliki perbedaan dengan hasil
studi PT. MAXITECH Utama Indonesia untuk pekerjaan Perencanaan Bangunan Erosi dan
Sedimentasi DAS Limboto. Hasil studi tersebut menyatakan bahwa laju erosi lahan berkisar
3

126.355,41 m /thn/ atau 1.76 mm/thn. Hal ini disebabkan karena studi tersebut menggunakan
pendekatan formula empiris Murano (1967). Studi ini menyatakan bahwa terdapat sumber
sedimen lain yang masuk ke Danau Limboto yakni dijumpai rreruntuhan tebing-tebing sungai
terutama pada tikungan (meander belt) dengan material lepas pasir kerikil yang terbawa aliran
sungai menjadi sumber endapan di Danau Limboto. Hasil studi ini juga menyatakan bahwa umur
guna Danau Limboto sebagai laguna tinggal 60-70 tahun dinilai sanagt cepat. Oleh karena itu,
upaya untuk mencegah sedimentasi dan mengurangi laju angkutan sedimen di sungai-sungai
DAS Limboto harus dilakukan secara nyata dan menerus (berkelanjutan).

17

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai
berikut :
1. Kekurangan data tanah dan iklim merupakan kendala terbesar penggunaan
GeoWEPP.
2. Program GeoWEPP hanya dapat mensimulasikan erosi dan sedimen untuk luasan
area tertentu saja (< 16000 ha). Oleh karena itu DAS Limboto dibagi menjadi
beberapa zone berdasarkan outlet anak sungai yang paling luar dan mencukupi
syarat minimal simulasi dengan program GeoWEPP.
3. Pada kajian off-site DAS Limboto, diketahui bahwa sebagian besar wilayah DAS
bagian Tengah, Utara dan sedikit dibagian Tenggara memberikan kontribusi
sediment yield > 40 ton/ha/thn. Pada kajian on-site DAS Limboto, diketahui
bahwa wilayah DAS Limboto bagian Tengah, Utara dan Tenggara memberikan
kontribusi kehilangan tanah >40 ton/ha/thn. Hal ini disebabkan karena pada
daerah tersebut memiliki dominan penutupan lahan berupa ladang, kebun dan
belukar. Daerah tersebut juga berada pada rata-rata ketinggian 350-500 m MSL.
4. Program GeoWEPP memiliki keterbatasan tidak dapat mensimulasikan daerah
yang relatif datar sehingga 11.81% dari total luas DAS Limboto atau 10.667,477
ha tidak dapat disimulasi mengingat keterbatasan tersebut. Daerah yang dapat
disimulasikan adalah 76276,81ha atau 84.42% dari keseluruhan total luas DAS
Limboto.
5. Berdasarkan hasil running GeoWEPP DAS Limboto berada pada kondisi kritis
yakni dengan total erosi pada DAS Limboto sebesar 3.409.067,36 ton/thn atau
rata-rata erosi per hektar adalah 44,69 ton/ha/thn atau 3.72 mm/thn.. Nilai erosi
tersebut telah melewati ambang batas bahaya erosi yang diperkenankan (dapat
ditoleransikan) yaitu sebesar 10 ton/ha/thn (Suripin 2002).
6. Sedimen deposisi pada DAS Limboto 224.356,54 ton/thn atau sedimen deposisi
per hektar adalah sebesar 2,94 ton/ha atau 0.245 mm/thn. Sediment yield DAS
18

Limboto adalah 3.184.710,41 ton/thn atau sedimen yield per hektar adalah 41,75
ton/ha/thn atau 3.48 mm/thn. Dari data diatas adalah sesuai dengan keadaan DAS
Limboto yang sebagian besar tertutupi oleh ladang dan tegalan. Usaha
penanganan

semakin

terfokus

kepada

pengendalian

pengelolaan

lahan

perladangan yang terjadi pada lahan miring dan tidak menerapkan kaidah
konservasi.
7. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok mengenai total erosi dan sedimen hasil
running GeoWEPP dengan RTL-RLKT (4.222.096 ton/thn atau 108.81
ton/ha/thn) yakni 23.85% lebih kecil dari total erosi RTL-RLKT. Hal ini
disebabkan karena RTL-RLKT menggunakan pendekatan USLE (Universal Soil
Loss Equation).
B. Saran
1. Perbaikan kualitas DAS Limboto perlu dilakukan secara menerus sedikit demi
sedikit (gradually) baik secara vegetaif (penanaman tumbuhan atau tanaman
yang menutupi tanah secara terus menerus, penanaman dalam strip (strip
cropping), pergiliran tanaman dengan pupuk hijau atau tanaman penutup tanah
(conservation

rotation),sistem

pertanian

hutan

(agroforestry),penanaman

saluran-saluran pembuangan dengan rumput), secara mekanik (pengolahan tanah


(tillage), pengolahan tanah menurut kontur (contour cultivation), guludan dan
guludan bersaluran menurut kontur, teras, dam penghambat (check dam), waduk
(balong) (form ponds), rorak, tanggul perbaikan drainase dan irigasi) dan
diprogramkan secara terpadu dari seluruh Dinas Teknis yang terkait (Kehutanan,
Pekerjaan Umum, Pertanian, Perkebunan dan lainnya).
2. Diperlukan pendekatan sosial, ekonomi dan budaya sehingga pemilik lahan atau
petani setempat mau melakukan usaha konservasi untuk meminimalisasi jumlah
erosi dan sedimen yang masuk ke Danau Limboto.
3. Untuk penelitian lebih lanjut, perlu dipersiapkan input data tanah dan iklim yang
lebih mendetail agar prediksi erosi dan sedimen dapat lebih mendetail dan lebih
sesuai dengan kondisi lapang.

19

4. Pemberian skenario simulasi pencegahan erosi dan sedimen akan memberikan


alternatif yang dapat dijadikan pedoman bagi pemerintah daerah setempat untuk
menjalankan program konservasi tanah dan air.

20

DAFTAR PUSTAKA
Ascough, J.C, et al. (1005), Watershed Model Channel Hydrology and Erosion Processes, dalam
Technical Documentation USDA - Water Erosion Prediction Project (WEPP),
NSERL Repot No. 10, USDA ARS - MWA,
WestLafayette,<http://topsoil.nserl.purdue.edu/nserlweb/weppmain/docs/chap13.
pdf>, diakses 9 Mei 2006.
Asdak, C. (1995), Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gadjah Mada University
Press.
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Bone-Bolango. (2003), Rencana Teknik Lapangan
Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS Limboto, Departemen Kehutanan
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.
Bazzoffi, P. (2002), Impact of Human Activities on Soil Loss, Direct and Indirect
Evaluation, dalam Sustainable Land Management Environmental Protection A Soil Physical
Approach, Chapter V, Pagliai, M., Jones, R., Editor, IUSS, 429-580.
Canadian International Development Agency (CIDA). (1999), Master Plan Pengelolaan Sumber
Daya Air Wilayah Sungai Limboto-Bolango-Bone, Dinas PU Prop. Sulawesi
Utara.
Cligen Weather Generator, expanded and improved by USDA Agricultural Research Service and
U. S. Forest Service <http://horizon.nserl.purdue.edu/Cligen>, diakses 27 April
2006.
Darsono, S. (1994), Pengendalin Erosi untuk Mengatasi Angkutan Sedimen yang Berlebihan
pada Suatu Sungai, Jurnal dan Pengenbangan Keairan, No. 1-Tahun 1-April 94,
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, 70-78.
Endale, M. (2003), Cropland Soil Erosion Prediction using WEPP Model (A Case Study on
Hillslope in Lom Kao District, Thailand), Thesis of International Institute for
Geo-Information Science and Earth Observation, Enschede, The Netherland,
www.itc.nl/library/Papers_2003/msc/ereg/melkam.pdf, diakses 30 Maret 2006.
Foster, G.R., et al. (1995), Hillslope Erosion Component, dalam Technical Documentation
USDA - Water Erosion prediction Project (WEPP), NSERL Repot No. 10,
USDA-ARS-MWA,West
Lafayette,<http://topsoil.nserl.purdue.edu/nserlweb/weppmain/docs/chap11.pdf>,
diakses 9 Mei 2006.
Garbrecht, J., Martz, L. Topographic Parameterization Software (TOPAZ), U.S. Department of
Agriculture, USA and the Department of Geography, University of Saskatchewan,

21

Canada, < http://grl.ars.usda.gov/topaz/TOPAZ1.HTM#generalinfo>, 15 Mei


2006.
Gardiner, D.T., Miller, R.W. (2004), Soils in Our Environtment, Tenth Edition, Prentice Hall,
204-429.
Ginting, S.H., Putuhena, W.M. (2005), Estimasi erosi Lahan si Daerah Aliran Danau Tondano
Menggunakan Geographic Information System (GIS), Jurnal Sumber Daya Air,
Volume 1, No. 1, November 2005, Pusat Litbang Sumber Daya Air, 67-77.
Larekeng, A.S. (2003), Prediksi Laju Erosi Berbasis Sistem Informasi Geografis pada DAS
Tangka, Sulawesi Selatan, Skripsi Program Sarjana, Universitas Hasanuddin.
Linsley, R.K.,Franzini, J.B. (1972), Water-Resources Engineering, McGraw-Hill Book
Company, 147-171.
Linsley, R.K., Kohler M.A., Paulhus, J.L.H. (1989), Hidrologi untuk Insinyur, Penerbit
Erlangga.
Japan Internasional Cooperation Agency dan The Government of Republic of Indonesia. (2002),
The Study on Flood Control and Water Management in Limboto-Bolango-Bone
Basin in The Republic of Indonesia, Nikken Consultants, Inc and Nippon Koei
CO,.LTD.
Minkowski, M. (2005), Advanced GeoWEPP Tools, University of Buffalo, Buffalo,
NewYork,http://www.geog.buffalo.edu/~rensch/geowepp/documents/Advance%2
0GeoWEPP%20Tools.pdf>, diakses 27 Maret 2006.
PT. Maxitech Utama Indonesia. (2004), Laporan Akhir Pekerjaan : Pekerjaan Bangunan
Pengendali Erosi dan Sedimentasi DAS Limboto, Dinas PU Propinsi Gorontalo.
Renard, K.G., Lane, L.J., Foster, G.R., Laflen, J.M. (1995), Soil Loss Estimation, dalam Soil
Erosion Conservation, and Rehabilitation, Bab 9, Agassi, M., Editor, Marcel
Dekker, Inc., 169-199.
Renschler, C.S. (2004), GeoWEPP ArcX 2004.3 Tutorial, University of Buffalo The State
UniversityofNewYork,http://www.geog.buffalo.edu/~rensch/geowepp/documents
/GeoWEPP%20Tutorial%20ArcX%202004.3.pdf, diakses 18 April 2006.
Simonato, Tommaso, Bischetti, G.B., Crosta, G.B. (2002), Evaluating Soil Erosion with RUSLE
and WEPP in an Alpine Environment (Dorena Valley Central Alps, Italy),
dalam Sustainable Land Management Environmental Protection A Soil Physical
Approach, Chapter V, Pagliai, M., Jones, R., Editor, IUSS, 481-494.

22

Shuttle Radar Topography Mission (SRTM), Fact Sheet 071-03 (June 2004). (2004),
USGS/EROS Data Center, http://mac.usgs.gov/isb/pubs/factsheets/fs07103.html,
diakses 27 Juni 2006.
Suhartanto, E. (2005), Pendugaan Erosi, Sedimen dan Limpasan Berbasis Model Hidrologi
WEPP dan SIG di Sub-DAS Ciriung, DAS Cidanau, Disertasi Program Doktor,
Institut Pertanian Bogor.
Suripin. (2001), Pengaruh Sedimentasi Waduk Terhadap Keberlanjutan Pembangunan, Jurnal
dan Pengembangan Keairan, No.1-Tahun 8-Juli 2001, Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, 1-6.
Troeh, F.R., Hobbs, J.A., Donahue, R.L. (2004), Soil and Water Conservation for Productivity
and Environmental Protection, Prentice Hall, 129-155.
Wild, A. (1993), Soils and the Environment : An Introduction, Cambridge University Press, 1719.
Yang, C.T. (1996), Sediment Transport Theory and Practice, The McGraw-Hill Companies,
Inc., 267-314.
Yoshino, K., Ishioka Y., (2005), Guidelines for Soil Conservation Towards Integrated Basin
Management for Sustainable Development : A new Approach based on The
Assessment of Soil Loss Risk Using Remote Sensing and GIS, Article of Paddy
Water Environ, 235-247.

23