Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Ke-2

Hari, tanggal : Selasa, 25 Februari 2014

M.K. Analisis Meteorologi

Asisten

1. Edyanto

(G24100019)

2. Deti Triani

(G24100026)

PEMBUATAN PETA ISOPLETH MENGGUNAKAN SURFER


KELOMPOK 4
Jauharotul Khasanah
G24110022

DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

DAFTAR ISI
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
Latar Belakang .................................................................................................... 1
Tujuan .................................................................................................................. 1
METODOLOGI ...................................................................................................... 1
Waktu dan Tempat Praktikum ............................................................................. 1
Alat dan Bahan .................................................................................................... 1
Langkah Kerja ..................................................................................................... 2
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................... 3
KESIMPULAN ....................................................................................................... 6

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Isobar pada Beberapa Stasiun........................................................ 3
Gambar 2. Peta Isoterm pada Beberapa Stasiun .................................................... 3
Gambar 3. Peta Isodrosoterm pada Beberapa Stasiun ............................................ 4
Gambar 4. Peta Isotach dan Isogon pada Beberapa Stasiun ................................... 5

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Peta adalah gambaran seluruh atau sebagian permukaan bumi dalam
bidang datar dengan menggunakan skala dan sistem proyeksi tertentu. Peta
memberikan informasi mengenai unsur-unsur alam dan buatan di permukaan
bumi. penggunaan peta bergantung pada jenis petanya sehingga informasi yang
didapat berbeda-beda. Salah satu jenis peta adalah peta isoplet, yaitu jenis peta
dengan garis-garis yang menghubungkan tempat dengan nilai distribusi yang
sama. Peta jenis ini digunakan untuk mengamati pola unsur-unsur cuaca dan
iklim pada suatu wilayah sehingga dapat dikaji fenomena cuaca yang terjadi pada
wilayah tersebut. Peta isoplet memiliki banyak kategori yang dinamakan sesuai
dengan komponen cuaca atau iklim yang membentuknya. Pada praktikum ini peta
isoplet yang akan dibuat adalah peta isobar, isoterm, isodrosoterm, isogon, dan
isotach.
Peta isoplet dapat dibuat dengan cara manual maupun digital. Pada
praktikum ini akan dilakukan pembuatan peta isoplet secara digital, yaitu
menggunakan perangkat lunak Surfer.

Tujuan
1. Membuat peta isoplet secara digital dengan menggunakan Surfer.
2. Membandingkan hasil pembuatan peta isoplet dengan cara manual dan dengan
metode digital.

METODELOGI
1. Alat dan Bahan
Laptop, Base map, dan perangkat lunak Surfer.
2. Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan pada hari selasa 25 Februari 2014 di RK.X 202.

3. Langkah Kerja
Membuat peta isobar, isoterm, dan isodrosoterm
Buka file
gambar
(peta)

Lakukan digitasi
darat, mengikuti
garis tepi daratan

Nilai pada
sumbu X
tambah
dengan 1

Salin koordinat digitasi


baris pertama pada
baris baru di posisi
paling bawah

Simpan hasil
tetap dengan
nama Digit
darat.bln

Buat post
map baru
dengan
membuka
Digit
stasiun.bln

Buka Digit
darat.bln pada
lembar kerja
(worksheet) baru

Kembali ke tab plot.


Buat base map baru
dengan membuka
Digit darat.bln

Simpan
hasil
digitasi
dengan
nama Digit
stasiun.bln

Ganti kolom z, yang terdapat nomor


stasiun tertentu, dengan nilai tekanan
pada stasiun tersebut untuk membuat
peta isobar. Lakukan langkah yang
sama untuk isoterm dan isodrosoterm

Simpan hasil digitasi


dengan ekstensi .bln :
Digit darat.bln

Tarik (drag) base


map yang baru
keatas base map
peta rujukan

Lakukan digitasi stasiun, dengan


cara memasukkan nomor stasiun
setelah koordinat stasiun tersebut
didigitasi. Lalu simpan hasil
digitasi tersebut.

Buat base map baru dengan


membuka Digit stasiun.bln.
dan buka Digit stasiun.bln
pada worksheet baru

Membuat peta Isogon dan Isotach


Buka Digit stasiun.bln worksheet baru. Ganti kolom z, yang terdapat
nomor stasiun tertentu, dengan nilai kecepatan angin dan arah angin.

Buka peta kontur isobar. Buat 2-grid vector map baru, lalu
buka hasil grid Isogon pada X grid dan Isotach pada Y grid

Ubah sistem koordinat menjadi polar, scalling


method : by magnitude, dan show scale legend

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1. Peta isobar pada beberapa stasiun


Peta isobar adalah peta dengan garis yang menghubungkan tempat-tempat
dengan tekanan yang sama. Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan udara
pada suatu titik daerah di permukaan bumi. Tekanan udara sangat dipengaruhi
oleh suhu. Pemanasan matahari menyebabkan suhu udara menjadi tinggi. Udara
dengan suhu tinggi akan mengembang dan naik sehingga tekanannya menjadi
rendah (Hartono 2007). Pada peta isobar di atas, pusat tekanan rendah berada pada
stasiun 421 dan 424 yaitu sebesar 999 mb dan 999.5 mb dan semakin menjauh
dari stasiun tersebut, tekanannya semakin tinggi.

Gambar 2. Peta isoterm pada beberapa stasiun


Peta isoterm yaitu peta dengan garis yang menghubungkan tempat-tempat
dengan nilai suhu rata-rata yang sama. Gambar di atas menunjukkan suhu udara
yang terus meningkat ke arah tenggara. Hal ini dimungkinkan terjadi karena

Adanya pemanasan matahari yang lebih intensif di wilayah tenggara. Garis kontur
isoterm yang rapat menandakan perubahan suhu terhadap perubahan jarak
(gradien temperatur) yang relatif tinggi. Pada peta di atas, perubahan suhu yang
tinggi terjadi di stasiun 414 hingga 415. Wilayah tersebut merupakan daerah
pertemuan antara udara dingin dan hangat (front) yang memungkinkan terjadinya
hujan front. Hujan front ini terjadi pada pertemuan kedua massa udara yang
berbeda temperatur.

Gambar 3. Peta isodrosoterm pada beberapa stasiun


Peta isodrosoterm adalah peta dengan garis yang menghubungkan tempattempat dengan nilai suhu titik embun yang sama. Suhu titik embun adalah suhu
pada saat uap air dalam kotak udara mengembun apabila udara tersebut
diturunkan suhunya dengan tekanan tetap. Pada udara yang mengandung uap air,
jika semakin kecil perbedaan suhu udara dan suhu titik embun, maka semakin
besar kemungkinan terjadi pengembunan. Menurut Manurung (2012) dalam
kondisi atmosfer yang stabil, dengan bertambahnya ketinggian suhu titik embun
menjadi semakin rendah dibanding suhu udara, sehingga perbedaan antara
keduanya semakin besar. Pada peta isodrosoterm di atas, perubahan suhu titik
embun yang tinggi terjadi pada stasiun 414 hingga 415. Kejadian ini sama seperti
yang terjadi pada isoterm.

Gambar 4. Peta isotach dan isogon pada beberapa stasiun


Angin merupakan salah satu unsur cuaca yang sering menyebabkan
terjadinya fenomena cuaca, seperti badai, siklon dan sejenisnya. Angin terjadi
karena adanya perbedaan tekanan antara suatu wilayah dengan wilayah
sekitarnya. Angin tersebut akan bergerak dari wilayah dengan tekanan tinggi ke
wilayah dengan tekanan rendah. Angin mempunyai kecepatan dan arah. Pada
gambar di atas, arah angin menuju ke pusat tekanan rendah, yaitu pada stasiun
421 dan 424.
Pembuatan peta Isoplet pada praktikum ini menggunakan metode kriging.
Kriging adalah suatu metode geostatistika yang memanfaatkan nilai spasial pada
lokasi tersampel dan variogram untuk memprediksi nilai pada lokasi lain yang
tidak tersampel dimana nilai prediksi tersebut tergantung pada kedekatannya
terhadap lokasi tersampel. Metode ini digunakan untuk estimasi nilai yang tidak
diketahui berdasarkan nilai yang diketahui. Syarat metode kriging adalah variabel
tersebut memiliki nilai yang lebih mirip untuk jarak yang lebih dekat daripada
jarak yang lebih jauh (Alfiana 2010).
Pembuatan peta dengan secara digital atau dengan menggunakan perangkat
lunak akan menghasilkan peta yang lebih akurat dan teliti dibanding dengan cara
manual. Selain itu warna yang ditampilkan dan pemberian skala pada peta digital
akan memudahkan pengguna dalam membaca peta tersebut. Sedangkan resiko
terjadinya kesalahan dalam pembuatan peta secara manual akan lebih besar bila
dibanding dengan cara digital. Misalnya pada proses interpolasi, interpolasi
dengan cara manual memungkinkan terjadinya banyak kesalahan karena kurang

teliti dalam perhitungan dan pengukuran yang dilakukan dengan mistar atau
penggaris.

KESIMPULAN
Pembuatan peta secara digital akan memperoleh hasil yang lebih akurat,
teliti, dan lebih lengkap dibanding peta manual. Interpolasi pada pembuatan peta
secara digital menggunakan metode kriging, sehingga hasil interpolasinya akan
lebih akurat bila dibanding interpolasi secara manual.

DAFTAR PUSTAKA
Alfiana, AN. 2010. Metode Ordinary Kriging pada Geostatistika. [Skripsi]
Program Studi Matematika UNY. Yogyakarta.
Hartono. 2007. Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Bandung: CV. Citra
Praya.
Manurung, MR. 2012. Prediktabilitas Cuaca Jangka Pendek Ditinjau dari Indeks
Stabilitas di Jakarta. Jurnal JTM. Vol 19 (3): 138-149.