Anda di halaman 1dari 26

Laporan Kasus

VESIKOLITIASIS

Penyusun: dr. Rahman Wahyudin


Pendamping : dr. Nunik Yuniati
Pembimbing: dr. Sopan Setiawan, Sp. B

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TALANG UBI


KABUPATEN PENUKAL ABAB LEMATANG ILIR
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus yang berjudul

Vesikolitiasis

Oleh :
dr. Rahman Wahyudin
Pendamping :
dr. Nunik Yuniati
Pembimbing:
dr. Sopan Setiawan, Sp. B

Telah diterima sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Program Intrensip
Di RSUD Talang Ubi, PALI 2016/2017

Talang Ubi, 6 Oktober 2016


Pendamping

Pembimbing

dr. Nunik Yuniati

dr. Sopan Setiawan, Sp . B

BAB I
STATUS PASIEN

Pemeriksa

: dr. Rahman Wahyudin

Masuk RSUD Talang Ubi

: 14 Juli 2016

Pukul

: 14:30

A. IDENTIFIKASI
Nama pasien
Jenis Kelamin
Umur
Agama
Pekerjaan
Suku
Alamat
Status
No MR
Dirawat yang ke

: Tn. J
: Laki-laki
: 57 tahun
: Islam
: Petani
: Sumatera selatan
: Panta Dewa
: Menikah
: 064392
: Pertama

B. ANAMNESIS (Autoanamnesis)
Keluhan Utama :
Nyeri saat BAK
Riwayat Penyakit Sekerang :
Os datang dengan keluhan nyeri saat BAK yang semakin memburuk sejak 2
minggu SMRS. Nyeri dirasakan terus menerus dan semakin hebat saat diakhir BAK.
Pasien mengaku perlu mengedan saat buang air kecil, sehingga ada waktu antara proses
mengedan dengan keluarnya air kencing. Pada saat buang air kecil awalnya lancar
kemudian pancaran menjadi lemah dan terputus-putus. Pada akhir buang air kecil pasien
merasa tidak puas, masih ada yang tersisa. Selain itu os mengeluh terkadang keluar
darah saat BAK. Darah bewarna merah segar terkadang menetes diakhir BAK.
Keluhan nyeri saat BAK sudah dirasakan Os sejak 1 tahun yang lalu. nyeri
hilang timbul. BAK berdarah (-). Pasien tidak pernah mengeluh nyeri pinggang
yang menjalar sampai ke lipat paha. Tidak pernah merasa rasa panas atau terbakar
pada alat kelamin saat buang air kecil. Menyangkal pernah buang air kecil berpasir.
Menyangkal pancaran kemihnya bercabang. Menyangkal sulit untuk menahan

berkemih. Menyangkal riwayat trauma di perut bagian bawah, penggul ataupun


alat kelamin. Menyangkal pernah operasi di di daerah perut.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat darah tinggi
Riwayat DM
Riwayat asma
Riwayat penyakit jantung
Riwayat batu saluran kemih

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Dikeluarga tidak ada yang pernah mengalami sakit seperti ini.
Riwayat Pengobatan :
Pasien sudah berobat ke bidan dan diberikan obat penghilang nyeri. (As.
Mefenamat) Keluhan tidak berkurang.
Riwayat Kebiasaan :
Pasien jarang sekali minum air putih, dalam satu hari pasien mengaku hanya
minum kurang lebih 3 gelas kecil. Pasien lebih menyukai minum dengan air teh atau
kopi yang dilakukan pada waktu makan, istirahat, dan duduk-duduk santai, selain itu
juga sering menahan buang air kecil. Merokok (+) sehari 1 bungkus.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum :
KU
: tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital :
Tekanan Darah
Nadi
Nafas
Suhu

: 140/100 mmHg
: 80 kali/menit
: 20 kali/menit
: 36,9 oC

Status Generalisata:
Kepala

: Normocephal rambut hitam, uban (+), rontok (-)

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Tidak tampak adanya deformitas, tidak tampak adanya secret, tidak

tampak adanya perdarahan/epistaksis.

Leher

: Pembesaran KGB, pembesaran tiroid (-), pembesaran KGB

supraklavikula (-).
Thorax
Paru-paru
Inspeksi

: normochest, pergerakan dada simetris, tidak ada luka bekas operasi

Palpasi

: tidak ada pergerakan dada yang tertinggal, nyeri tekan (-), vokal

fremitus sama simetris dekstra sinistra.


Perkusi

: sonor di seluruh lapangan paru

Auskultasi

: vesikular (+/+) normal, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)

Jantung
BJ I dan II murni regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : distensi abdomen (-), luka bekas operasi (-)
Palpasi

: lemas , Nyeri tekan (+) suprapubik , hepar dan lien tidak teraba.

Perkusi

: timpani di seluruh kuadran abdomen. NKCV -/-

Auskultasi: Bising usus (+) normal.

Ekstremitas atas : akral hangat, edema (-/-), sianosis (-/-)


Ekstremitas bawah : akral hangat, edema (-/-), sianosis (-/-)

Satus Lokalis :
1. Abdomen
Inspeksi
Auskultasi

: datar, jejas (-), bekas operasi (-)


: peristaltik (+)N
3

Perkusi
Palpasi

: timpani (+), nyeri ketok costo vertebra (-/-),


Shifting dullness : lemas, nyeri tekan (+) suprasimpisis, massa (-), ballottement

ginjal (-/-), hepar dan lien tidak teraba.


2. Regio suprasimpisis :
inspeksi : datar, massa (-),bekas operasi(-)
Palpasi : tegang(-), nyeri tekan (+)
3. Regio lumbalis
Dekstra
Inspeksi

: datar

Palpasi

: nyeri tekan (-), ballotement tidak ada, nyeri ketok sudut

costovertebrae tidak ada


Sinistra
Inspeksi

: datar

Palpasi

: nyeri tekan (-), ballotement tidak ada, nyeri ketok sudut

costovertebrae tidak ada

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hasil Laboratorium Pasien
Pemeriksaan
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Diff Count :
Eosinofil
Basofil
Band
Segmen
Limfosit
Monosit
Trombosit
Urin
Protein

Hasil
12,1
13.300
39

Nilai Rujukan
12-14
4000-10.000
37-47

Satuan
g/dl
mm3
%

1
0
1
80
16
2
184000

1-3
0-1
2-6
50-70
20-40
2-8
150-400

%
%
%
%
%
%
mm2

Glukosa
Sedimen
Eritrosit
Leukosit
Epitel
Silinder
Kristal

1-2/lpg
3-4/lpg
0-1/lpg
-

`2. Foto rontgen BNO abdomen

Udara dalam usus tampak normal


Gambaran opak di vesika urinaria ukuran 6,5cm x 4cm
Kesan: Vesikolitiasis

E. DIAGNOSIS
Vesikolitiasis
F. PENATALAKSANAAN
IVFD RL
Inj Cefoperazon 2x 1gr
Inj Ketorolac 2x10mg
Inj Ranitidin 2x50 mg
Amlodpin tab 2x5mg
Rencana Vesikolitotomi
G. PROGNOSIS
Quo ad Vitam
Quo ad functionam
Quo ad Sanationam

: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Vesikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada
vesika urinaria atau kandung kemih oleh batu. Batu yang menghalangi
aliran air kemih mengakibatkan penutupan leher kandung kemih, maka
aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes
disertai dengan rasa nyeri.
Batu yang terjebak di vesika urinaria menyebabkan gelombang
nyeri yang luar biasa sakitnya yang menyebar ke paha, abdomen dan
daerah genetalia.

2.2 Anatomi
Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terdapat
sepasang (masing-masing satu di sebelah kanan dan kiri vertebra)
danposisinya retroperitoneal. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah
(kuranglebih 1 cm) dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan adanya hati
yangmendesak ginjal sebelah kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga
11(vertebra T12), sedangkan kutub atas ginjal kanan adalah tepi bawah iga
11atau iga 12. Adapun kutub bawah ginjal kiri adalah processus
transversusvertebra L2 (kira-kira 5 cm dari krista iliaka) sedangkan kutub
bawah ginjalkanan adalah pertengahan vertebra L3. Dari batas-batas tersebut
dapat terlihatbahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah dibandingkan ginjal
kiri.Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:
Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari
korpusrenalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus
kontortusproksimal dan tubulus kontortus distalis.

Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari


tubulusrektus, lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus

colligent).
Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal
Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke

arahkorteks
Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut

saraf atau duktus memasuki/meninggalkan ginjal.


Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus

pengumpuldan calix minor.


Calix minor, yaitu percabangan dari calix major.
Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis.
Pelvis renalis, disebut juga piala ginjal, yaitu

menghubungkan antara calix major dan ureter.


Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria

bagian

yang

Gambar 1: Sistem Urinari.


Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa
hasil penyaringan ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis
menujuvesica

urinaria.

Terdapat

sepasang

ureter

yang

terletak

retroperitoneal,masing-masing satu untuk setiap ginjal.Ureter setelah keluar


8

dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan m.psoasmajor, lalu menyilangi
pintu atas panggul dengan a.iliaca communis. Ureterberjalan secara posteroinferior di dinding lateral pelvis, lalu melengkungsecara ventro-medial untuk
mencapai vesica urinaria. Adanya katup uretero-vesical mencegah aliran balik
urine setelah memasuki kandung kemih.Terdapat beberapa tempat di mana
ureter mengalami penyempitan yaituperalihan pelvis renalis-ureter, fleksura
marginalis serta muara ureter kedalam vesica urinaria. Tempat-tempat seperti
ini sering terbentuk batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis,
a.iliacacommunis, a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan
persarafan ureter melalui segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis,
pleksus aorticus, serta pleksus hipogastricus superior dan inferior.
Vesika Urinaria
Vesika urinaria atau kandung kemih merupakan reservoir. Terdapat
variasi dalam ukuran, bentuk, posisi dan hubungan, tergantung kandungan isi
dan organ sekitarnya. Ketika kosong, terletak lebih rendah dari pelvis tetapi
jika distensi akan mengembang anterosuperior ke dalam rongga perut. Ketika
kosong, bentuknya agak tetrahedral dan memiliki basis (fundus), leher, puncak,
unggul dan dua permukaan inferolateral.
Dasar (fundus) dari kandung kemih berbentuk segitiga dan terletak
posteroinferior. Pada wanita berkaitan erat dengan dinding vagina anterior,
pada laki-laki berhubungan dengan rektum meskipun dipisahkan dari rektum
oleh kantong rectovesical dan batas bawah dibatasi oleh vesikel seminalis dan
vas deferens di setiap sisi. Di daerah segitiga antara vas deferens, kandung
kemih dan rektum dipisahkan hanya oleh fasia rectovesical, umumnya dikenal
sebagai fasia Denonvillier.
Leher buli-buli adalah wilayah terendah dan juga yang paling tak
berubah. Tempatnya sekitar 3-4 cm di belakang simphisis pubis bagian bawah.
Leher buli-buli adalah orifisium uretra interna dan dapat berubah posisinya
dengan berbagai kondisi kandung kemih dan rektum. Pada laki-laki leher

bersandar dan dalam kontinuitas langsung dengan dasar prostat, pada wanita
berhubungan dengan fasia pelvis, yang mengelilingi uretra bagian atas.

Gambar 2: Anatomi Vesika Urinaria


Apex buli-buli pada kedua jenis kelamin berhadapan langsung dengan simfisis
pubis. Ligamentum umbilikalis median naik ke arah dinding perut anterior dari
apex buli-buli ke umbilikus, tertutup oleh peritoneum untuk membentuk lipatan
umbilikalis median .
Permukaan superior segitiga dibatasi oleh batas lateral dari apex buli-buli
ke pintu masuk ureter dan dengan batas posterior, yang bergabung menjadi
satu. Pada laki-laki permukaan superior benar-benar tertutup oleh peritoneum,
jika terjadi ekstensi akan sedikit ke pangkalan dan terus ke arah posterior ke
dalam kantong rectovesical dan anterior ke dalam lipatan umbilical median.
Hal ini berhubungan dengan kolon sigmoid dan gulungan ileum terminal. Pada
wanita permukaan superior sebagian besar tertutup oleh peritoneum, yang
tercermin posterior ke uterus pada tingkatan os interna ( yaitu persimpangan
badan rahim dan leher rahim ), untuk membentuk kantong vesikouterina.

10

Bagian posterior dari permukaan superior, tanpa peritoneum, dipisahkan dari


serviks supravaginal oleh jaringan fibroareolar.
Pada laki-laki, masing-masing permukaan inferolateral dipisahkan
anterior dari pubis dan ligamen puboprostatic oleh ruang retropubik. Pada
wanita hubungan mirip, kecuali bahwa ligamen pubovesical menggantikan
ligamen

puboprostatic.

Permukaan

inferolateral

tidak

tercakup

oleh

peritoneum.

Buli-buli berfungsi menampung urine dari ureter dan kemudian


mengeluarkannya melalui uretradalam mekanisme berkemih (miksi). Dalam
menampung urine, buli-buli mempunyai kapasitas maksimal, yang volumenya
untuk orang dewasa sekitar 300 450 ml, sedangkan kapasitas buli-buli pada
anak menurut formula Koff adalah:
Kapasitas buli-buli = [ Umur (tahun) + 2 ] x 30 ml
Buli-buli mendapatkan vaskularisasi dari cabang arteria iliaka interna, yakni
arteria vesikalis superior, yang menyilang di depan ureter. Sistem vena dari
buli-buli bermuara ke vena iliaka interna.
11

Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica
urinaria menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria
dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga
berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat),
sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria
memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan dari
m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra pars
membranosa,bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya memiliki
m.sphincter externa(distal inferior dari kandung kemih dan bersifat volunter).
Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars
membranosa dan pars spongiosa.

Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae


danaspek superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot
m.sphincter urethrae internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar

prostat. Bagian ini disuplai oleh persarafan simpatis.


Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus
kelenjar prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar

dibandingbagian lainnya.
Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan
tersempit. Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus
penismelintasi diafragma urogenital. Diliputi otot polos dan di luarnya
olehm.sphincter urethrae eksternal yang berada di bawah kendali

volunter(somatis).
Pars spongiosa (15

cm),

merupakan

bagian

uretra

paling

panjang,membentang dari pars membranosa sampai orifisium di ujung


kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh korpus spongiosum di bagian
luarnya.

12

Gambar 3: Uretra pada laki-laki


Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih pendek (3.5 cm) dibanding
uretra pada pria. Setelah melewati diafragma urogenital, uretra akan
bermuarapada orifisiumnya di antara klitoris dan vagina (vagina opening).
Terdapat m.spchinter urethrae yang bersifat volunter di bawah kendali
somatis, namun tidak seperti uretra pria, uretra pada wanita tidak memiliki
fungsi reproduktif.

2.3 Epidemiologi
Batu saluran kemih merupakan penyakit ketiga terbanyak di bidang
urologi setelah infeksi saluran kemih dan BPH. Batu bisa terdapat di
ginjal, ureter, buli-buli maupun uretra.
Kasus batu buli-buli pada orang dewasa di Negara barat sekitar
5%. dengan angka kejadian laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan,
terutama usia di atas 50 tahun. Hal ini berhubungan dengan bladder outlet
obstruction yang mengakibatkan retensi urin pada keadaan-keadaan seperti
striktur uretra, BPH, divertikel buli dan buli-buli neurogenik.. Di
13

Indonesia diperkirakan insidensinya lebih tinggi dikarenakan adanya


beberapa daerah yang termasuk daerah stone belt dan masih banyaknya
kasus batu endemik yang disebabkan diet rendah protein, tinggi
karbohidrat dan dehidrasi kronik.
2.4 Etiologi
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan
gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan
keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).
Ada beberapa beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih.
Faktor-faktor tersebut adalah :
Faktor intrinsik meliputi:

Herediter (keturunan)
Usia: paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
Jenis kelamin yaitu jumlah laki-laki dan perempuan 3 : 1.
Faktor ekstrinsik meliputi:

Geografi
Iklim dan temperatur
Asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium
pada air yang dikonsumsi dapat meningkatkan insiden batu saluran

kemih.
Diet: diet banyak purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya

penyakit batu saluran kemih.


Pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaanya
banyak duduk atau kurang aktivitas.\
Batu buli-buli sering terjadi pada pasien yang menderita gangguan
miksi atau terdapat benda asing di buli-buli. Gangguan miksi terjadi pada
pasien-pasien hiperplasia prostat, striktura uretra, divertikel buli-buli, atau
buli-buli neurogenik. Kateter yang terpasang pada buli-buli dalam waktu
yang lama, adanya benda asing lain yang secara tidak sengaja dimasukkan
ke dalam buli-buli seringkali menjadi inti untuk terbentuknya batu buli14

buli. Selain itu batu buli-buli dapat berasal dari batu ginjal atau batu ureter
yang turun ke buli-buli.

2.5 Patofisiologi
Kelainan bawaan atau cidera, keadan patologis yang disebabkan
karena infeksi, pembentukan batu di saluran kemih dan tumor, keadan
tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan yang menyebabkan
sumbatan aliran kemih baik itu yang disebabkan karena infeksi, trauma
dan tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan
atau striktur uretra sehingga terjadi bendungan dan statis urin. Jika sudah
terjadi bendungan dan statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap
menjadi besar sehingga membentuk batu.
Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori :
A. Teori inti (nukleus)
Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik
maupun anorganik yang terlarut dalam urine. Kristal-kristal tersebut
tetap berada dalam keadaan metastable (tetap larut) dalam urin jika tidak
ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi
kristal. Kristal-kristal yang saling mengadakan presipitasi membentuk
inti batu (nukleasi) yang kemudian akan mengadakan agregasi, dan
menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar
untuk menyumbat saluran kemih. Kondisi metastable dipengaruhi oleh
suhu, pH larutan, adanya koloid di dalam urin, konsentrasi solut di
dalam urin, laju aliran urin dalam saluran kemih.
B. Teori matrix
Matrix organik yang berasal dari serum atau protein-protein urin
memberikan kemungkinan pengendapan kristal.
C. Teori inhibitor kristalisasi

15

Beberapa substansi dalam urin menghambat terjadi kristalisasi,


konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini memungkinkan
terjadinya kristalisasi. Ion magnesium (Mg2+) dapat menghambat
pembentukan batu karena jika berikatan dengan oksalat akan
membentuk garam magnesiun oksalat sehingga jumlah oksalat yang
akan berikatan dengan kalsium (Ca2+) membentuk kalsium oksalat
menurun
D. Teori Epistaxy
Merupakan pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersamasama. Salah satu jenis batu merupakan inti dari batu yang lain yang
merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contoh ekskresi asam urat
yang berlebih dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium
dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium.
E. Teori Kombinasi
Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacam-macam teori
diatas.
Komposisi Batu:
Batu saluran kemih pada umumnya mengandung unsur kalsium
oksalat dan kalsium fosfat (75%), magnesium-amonium-fosfat (MAP)
15%, asam urat (7%), sistin (2%) dan lainnya (silikat, xanthin) 1%.
A. Batu Kalsium
Kandungan batu jenis ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat
atau campuran kedua unsur tersebut. Faktor terjadinya batu kalsium
adalah:
Hiperkalsiuri
Kadar kalsium dalam urin >250-300 mg/24 jam. Penyebab
terjadinya hiperkalsiuri antara lain:
Hiperkalsiuri absorbtif terjadi karena adanya peningkatan
absorbsi kalsium melalui usus.
Hiperkalsiuri renal terjadi

karena

adanya

gangguan

kemampuan reabsorbsi kalsium melalui tubulus ginjal.

16

Hiperkalsiuri resorptif terjadi karena adanya peningkatan

resorpsi tulang.
Hiperoksaluri
Ekskresi oksalat urin melebihi 45 gram per hari. Keadaan ini
banyak dijumpai pada pasien yang mengalami gangguan pada usus
setelah menjalani pembedahan usus dan pasien yang banyak
mengkonsumsi makanan yang kaya akan oksalat, seperti: teh, kopi,

soft drink, kokoa, arbei, sayuran berwarna hijau terutama bayam


Hipositraturia
Di dalam urin, sitrat bereaksi dengan kalsium membentuk kalsium
sitrat sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau

fosfat.
Hipomagnesuria
Di dalam urin, magnesium bereaksi dengan oksalat atau fosfat
sehingga menghalangi ikatan kalsium dengan oksalat atau fosfat.

B. Batu Struvit (batu infeksi)


Terbentuknya batu ini karena ada infeksi saluran kemih. Kuman
penyebab infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea (Proteus,
Klebsiellla, Pseudomonas, Stafilokokus) yang dapat menghasilkan
enzim urease dan merubah urin menjadi suasana basa melalui
hidrolisis urea menjadi amoniak, sehingga memudahkan membentuk
batu MAP.
C. Batu Asam Urat
Penyakit batu asam urat banyak diderita oleh pasien-pasien penyakit
gout, mieloproliferatif, terapi antikanker, dll. Sumber asam urat berasal
dari diet yang mengandung purin. Faktor yang menyebabkan
terbentuknya batu asam urat adalah urin yang terlalu asam, dehidrasi
dan hiperurikosuri.
D. Batu Sistin, Xanthin dan Silikat

Kebanyakan terjadinya batu buli pada laki-laki usia tua didahului oleh
BPH. BPH menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan
menghambat aliran urin. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan
17

intravesika. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi


lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus
menyebabkan perubahan anatomi buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan divertikel buli-buli. Pada saat
buli-buli berkontraksi untuk miksi, divertikel tidak ikut berkontraksi,
sehingga akan ada stasis urin di dalam divertikel yang lama kelamaan
mengalami supersaturasi dan dapat membentuk batu. Perubahan struktur
pada buli-buli tersebut dirasakan pasien sebagai keluhan pada saluran
kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang
terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritasi.
Gejala obstruksi

Gejala iritasi

Hesitansi
Pancaran miksi
Intermitensi
Miksi tidak puas
Menetes setelah miksi

Frekuensi
Nokturi
Urgensi
Disuri

2.6 Manifestasi Klinis dan Diagnosis


Pasien yang mempunyai batu buli sering asimtomatik, tetapi pada
anamnesis biasanya dilaporkan bahwa penderita mengeluh nyeri
suprapubik, disuria, gross hematuri terminal, perasaan ingin kencing,
sering kencing di malam hari, perasaan tidak enak saat kencing, dan
kencing tiba-tiba terhenti kemudian menjadi lancar kembali dengan
perubahan posisi tubuh. Gejala lain yang umumnya terjadi dalam
menyertai nyeri yaitu nyeri menjalar dari ujung penis, scrotum, perineum,
punggung dan panggul, perasaan tidak nyaman tersebut biasa bersifat
tumpul atau tajam. Rasa sakit diperberat saat pasien sedang beraktivitas,
karena akan timbul nyeri yang tersensitisasi akibat batu memasuki leher
vesika. Sering disertai dengan ISK yang ditandai disuria dan demam.

18

Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan


iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria,
jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan retensi urin
atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat
mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda seperti mual
muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung.
Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka
gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, dan lamanya
penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat (Hidronefrosis akut)
biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri yang luar biasa di daerah
antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi ginjal yang terkena. Jika
penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis),
biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara
tulang rusuk dan tulang punggung.
Pada

pemeriksaan

fisik

didapatkan

adanya

nyeri

tekan

suprasimpisis karena infeksi atau teraba adanya urin yang banyak


(bulging), hanya pada batu yang besar dapat diraba secara bimanual.

Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi pemeriksaan:


1. Urine
a. pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme
dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH yang rendah
menyebabkan pengendapan batu asam urat.
b. Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita
dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
c. Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang berkontribusi
dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
d. Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk melihat
apakah terjadi hiperekskresi.
2. Darah
a. Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
19

b. Lekosit terjadi karena infeksi.


c. Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
3. Radiologis
Melihat adanya batu radio-opak di saluran kemih. Urutan radio-opasitas
beberapa jenis batu saluran kemih:
Jenis batu

Radioopasitas

Kalsium

Opak

MAP

Semiopak

Urat/Sistin

Non opak

4. USG
Menilai adanya batu di ginjal atau buli-buli (echoic shadow),
hidronefrosis, pembesaran prostat.
5. Sistoskopi
Pada pemeriksaan ini dokter akan memasukkan semacam alat endoskopi
melalui uretra yang ada pada penis, kemudian masuk kedalam blader.

Gambar 4:
Cystoscopy
2.7 Penatalaksanaan
Batu buli-buli dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, litotripsi
maupun pembedahan terbuka.

20

Medikamentosa
Ditujukan untuk batu yang berukuran < 5mm, karena diharapkan batu
dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi nyeri,
memperlancar aliran urin dengan pemberian diuretikum dan minum banyak
supaya dapat mendorong batu keluar dari saluran kemih.
Litotripsi
Pemecahan batu telah mulai dilakukan sejak lama dengan cara buta,
tetapi dengan kemajuan tehnik endoskopi dapat dilakukan dengan cara lihat
langsung. Untuk batu kandung kemih, batu dipecahkan dengan litotriptor
secara mekanis melalui sistoskop atau dengan memakai gelombang ultrasonic
atau elektrohidrolik. Makin sering dipakainya gelombang kejut (ESWL =
Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang dapat memecahkan batu tanpa
perlukaan ditubuh sama sekali. Gelombang kejut dialirkan melalui air dan
dipusatkan di batu yang akan dipecahkan. Batu akan hancur berkeping-keping
dan keluar bersama kemih.
Terapi pembedahan
Terapi bedah digunakan jika tidak tersedia alat litotriptor, alat
gelombang kejut atau bila cara non bedah tidak berhasil. Walaupun demikian
kita harus memerlukan suatu indikasi. Misalnya apabila batu kandung kemih
selalu menyebabkan gangguan miksi yang hebat sehingga perlu diadakan
tindakan pengeluarannya.
1. Transurethral Cystolitholapaxy: tehnik ini dilakukan setelah adanya batu
ditunjukkan dengan sistoskopi, kemudian diberikan energi untuk membuat
nya menjadi fragmen yang akan dipindahkan dari dalam buli dengan alat
sistoskopi. Energi yang digunakan dapat berupa energi mekanik
(pneumatic jack hummer), ultrasonic dan elektrohidraulik dan laser.
2. Percutaneus Suprapubic cystolithopaxy: tehnik ini selain digunakan untuk
dewasa

juga

digunakan

untuk

21

anak-

anak,

tehnik

percutaneus

menggunakan endoskopi untuk membuat fragmen batu lebih cepat hancur


lalu dievakuasi.sering tehnik ini digunalan bersama tehnik yang pertama
denagn tujuan stabilisasi batu dan mencegah irigasi yang ditimbulkan oleh
debris pada batu.
3. Suprapubic Cystostomy/ Vesikolititomi: tehnik ini digunakan untuk
memindah batu dengan ukuran besar, juga di indikasikan untuk membuang
prostate, dan diverculotomy. Pengambilkan prostate secara terbuka
diindikasikan jika beratnya kira- kira 80-100gr. Keuntungan tehnik ini
adalah cepat, lebih mudah untuk memindahkan batu dalam jumlah banyak,
memindah batu yang melekat pada mukosa buli dan kemampuannya untuk
memindah batu yang besar dengan sisi kasar. Tetapi kerugian penggunaan
tehnik ini adalah pasien merasa nyeri post operasi, lebih lama dirawat di
rumah sakit, lebih lama menggunakan kateter.

Gambar 5: Suprapubic Cystostomy


Preventif dan Promotif
1. Diuresis yang adekuat
Untuk mencegah timbulnya kembali batu maka pasien harus
minum banyak sehingga urin yang terbentuk tidak kurang dari 1500 ml.
pada pasien dengan batu asam urat dapat digunakan alkalinisasi urin
sehingga pH dipertahankan dalam kisaran 6,5-7, mencegah terjadinya
22

hiperkalsemia yang akan menimbulkan hiperkalsiuria pasien dianjurkan


untuk mengecek pH urin dengan kertas nitrasin setiap pag
2. Hindari kebiasaan menahan buang air kecil, buang air kecil normalnya
setiap 4 jam atau 6 kali per hari.
3. Diet untuk mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu
4. Aktivitas yang cukup dan olahraga teratur.

2.8 Komplikasi
Dapat menyebabkan kerusakan pada buli-buli (erosi pada mukosa) yang
mengakibatkan :

Perdarahan
Divertikel buli
Radang kronis
Obstruksi : Hidronefrosis, Hidroureter
Infeksi : sistitis, pionefrosis, urosepsis &Gagal ginjal akut dan kronis

23

DAFTAR PUSTAKA

Purnomo, B.B. 2011. Dasar-dasar Urologi; Edisi Ketiga, Jakarta: Sagung


Seto.
SjamsuHidajat R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi revisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Charles, F, et al . Schwartz Manual of Surgery. Eight Edition. USA. Medical
Publishing Division. Mc Graw-Hill, 2006.
Reksoprodjo, Soelarto, dkk. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa
Aksara, 1995.
Al-Ansari A, Shamsodini A, Younis N, et al: Extracorporeal shock wave
lithotripsy monotherapy for treatment of patients with urethral and bladder
stone presenting with acute urinary retention. Urology 2005.
McLatchie, Greg; Borley, Neil; Chikwe, Joanna. Oxford Handbook of
Clinical Surgery, 3rd edition. Oxford University Press. 2007.
Standring, S. 2004. Grays Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical
Practice. London: Elsevier.
Rasad Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Jakarta: FKUI, 2005.

24