Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan dibidang kesehatan diarahkan untuk mencapai komitmen internasional,
yang dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) dengan tujuan terkait
langsung dengan bidang kesehatan yaitu menurunkan angka kematian anak, meningkatkan
kesehatan ibu, memerangi Human Immunodeficiency Virus-Acquired Immunodeficiency
Syndrome (HIV-AIDS), Tuberkulosis (TB) dan Malaria serta penyakit lainnya dan yang tidak
terkait langsung yaitu menanggulangi kemiskinan dan kelaparan serta mendorong diarahkan
kesetaraan gender dan pemberdayaan masyarakat (DIKES Prov. NTB, 2013). Salah satu
indikator kesehatan dinilai dari keberhasilan pencapaiannya dalam MDGs adalah status gizi
balita (Kemenkes RI, 2013 ).
Menurut hasil UNICEF-WHO-The World Bank joint child malnutrition estimates
2012, diperkirakan 165 juta anak usia di bawah lima tahun diseluruh dunia mengalami gizi
buruk, mengalami penurunan dibandingkan dengan sebanyak 253 juta tahun 1990. Tingkat
prevalensi tinggi dikalangan anak di bawah usia lima tahun terdapat di Afrika (36%) dan
Asia (27%), dan sering belum diakui sebagai masalah kesehatan masyarakat. Malnutrisi
pada anak balita yang terjadi di negara-negara berkembang seperti di Indonesia, merupakan
masalah utama dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2011).
Menurut hasil Riset Keperawatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 (Balitbangkes,
Depkes RI, 2010), masalah gizi bayi di indonesia sangat berarti, baik gizi buruk, gizi
kurang, dan gizi lebih. Secara nasional prevalensi balita gizi buruk kurang menurun

sebanyak 0,5 persen yaitu dari 18,4% pada tahun 2007 menjadi 17,9% pada tahun 2010.
Demikian pula halnya dengan prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1,2% yaitu
dari 36,8% pada tahun 2007 menjadi 35,6% pada tahun 2010, dan prevalensi balita kurus
menurun sebanyak 0,3% yaitu dari 13,6% pada tahun 2007 menjadi 13,3% pada tahun 2010.
Kelompok gizi kurang dan gizi buruk pada tahun 2010 berdasarkan kelompok umur 0-5
bulan yaitu sebanyak (12%), umur 6-11 bulan yaitu (13%), umur 12-23 bulan yaitu (17%),
umur 24-35 bulan yaitu (21%), umur 36-35 bulan yaitu (20%) dan umur 48 bulan yaitu
(18%).
Berdasarkan prevalensi menurut provinsi, prevalensi balita kekurangan gizi terendah
dicapai Sulawesi Utara (10,6%), Bali (10,9%) dan DKI Jakarta (11,3%). Sedangkan provinsi
dengan prevalensi balita kekurangan gizi tertinggi berada di Nusa Tenggara Barat (30,5%),
Nusa Tenggara Timur (29,4%) dan Kalimantan Barat (29,3%) (KemenKes RI, 2013). Status
gizi balita berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) di kabupaten/kota se-Nusa Tenggara
Barat ialah Mataram (11,59%), Lombok Barat (12,98%), KLU (19,61%), Lombok Tengah
(12,90%), Lombok Timur (14,36%), KSB (9,08%), Sumbawa (12,34%), Dompu (16,12%),
Bima (17,03%) dan Kota Bima (15,36%) (DIKES Prov. NTB, 2013).
Hasil penelusuran kasus gizi buruk di Kota Mataram pada tahun 2011 ditemukan 54
kasus gizi buruk di Kota Mataram. Distribusi kasus gizi buruk menurut puskesmas terdapat
di Puskesmas Ampenan sebanyak 4 balita, Puskesmas Tanjung Karang sebanyak 6 balita,
Puskesmas Karang Pule sebanyk 8 balita, Puskesmas Mataram sebanyak 1 balita, Puskesmas
Selaparang sebanyak 9 balita, Puskesmas Pagesangan sebanyak 7 balita, Puskesmas
Cakranegara sebanyak 8 balita, Puskesmas Karang Taliwang sebanyak 8 balita dan
Puskesmas Dasan Cermen sebanyak 3 balita. Dari 54 kasus gizi buruk yang ditemukan dan

ditangani di Kota Mataram sebesar 57,4% kasus terjadi pada anak balita laki-laki dan 42,6%
kasus terjadi pada anak balita perempuan (Dikes Kota Mataram, 2012).

ASI merupakan salah satu makan dan zat gizi terbaik dan paling sempurna,
kandungan gizinya yang tinggi dan adanya zat kebal didalam nya membuat ASI tidak
tergantikan oleh susu formula yang paling hebat dan mahal sekalipun. Manfaat ASI sangat
banyak baik bagi bayi maupun bagi si ibu, karena di dalam ASI terkandung antibody guna
untuk mencegah terhadap infeksi yang sangat baik untuk kesehatan bayi, ASI saja tanpa
tambahan makan lain merupakan cara terbaik untuk memberiakan makan bayi dalam waktu
4-6 bulan pertama. Sesudah 6 bulan, beberapa bahan makanan lain harus disaran kan pada
bayi, kemudian pemberian asi di lanjutkan sampai berumur 2 tahun. (Nurheti, 2010)
Meskipun pemberian ASI sangat menguntungkan tetapi pemberian ASI Ekslusif di
indonesia masih jauh dari yang diharapkan. dikarenakan tingkat kesadaran ibu dan keluarga
yang masih kurang, berpengaruh dalam pemberian ASI. (Nurheti, 2010)

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI dengan status gizi
balita usia 1-5 tahun.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengetahui karakteristik responden berdasarkan tingkat pengetahuan ibu
tentang ASI
1.3.2.2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu tentang ASI
1.3.2.3. Mengidentifikasi status gizi balita usia 1-5 tahun.
1.3.2.4. Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI dengan status gizi
balita usia 1-5 tahun.
1.3.2.5. Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang ASI dengan
status gizi balita usia 1-5 tahun.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat Dalam Bidang Pendidikan
Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan data dan informasi yang
dapat digunakan sebagai bahan pustaka guna pengembangan ilmu mengenai
hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI dengan status gizi balita.
1.4.2. Manfaat Bagi Puskesmas
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi bagi puskesmas untuk lebih
meningkatkan pengawasan dan evaluasi terhadap masalah status gizi pada balita.

1.4.3. Manfaat Dalam Bidang Kesehatan


Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi pelayanan kesehatan dalam
upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya terhadap masalah status
gizi pada balita.