Anda di halaman 1dari 13

BAB I

LAPORAN KASUS PEDIATRI


DISENTRI
IDENTITAS
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Alamat
Masuk RS
Tangal diperiksa
Nama ayah
Umur
Pekerjaan
Nama Ibu
Umur
Pekerjaan

: An. Z
: Laki-laki
: 4 tahun
: Jln. Toman
: 13 januari 2015
: 13 januari 2015
: Tn. A
: 35 tahun
: wiraswasta
: Ny. K
: 27 tahun
: Ibu rumah tangga

ANAMNESIS
Dilakuakan aloanamnesis terhadap Ny.K di ruang UGD RS. Zainab
RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama

: Buang air besar bercampur lendir


dan darah.
: An.Z masuk UGD dibawa
oleh kedua orang tuanya dengan
keluhan BAB bercampur lendir
dan darah sejak 1 hari dengan
frekuensi 4 kali sehari. An.Z juga
Mengeluhkan megeluhkan mual
dan muntah dengan bentuk
muntahan air sejak 1 minggu yang
lalu. Tiga hari yang lalu sudah
berobat ke rumah sakit tapi tidak
ada perubahan.

2. Riwayat penyakit sekarang

3. Riwayat penyakit dahulu : Anaknya tidak pernah penyakit seperti ini


sebelumnya, dan juga tidak ada riwayat alergi obat obatan dan juga
makanan tertentu.
4. Riwayat penyakit keluarga

: keluarga tidak ada yang


1

sedang sakit atau


mengalami sakit yang sama.
5. Riwayat pribadi
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Riwayat kehamilan
: tidak ada masalah selama kehamilan
Riwayat persalinan
: normal
Riwayat pasca lahir
: normal
Kesan
: riwayat kehamilan dan persalinan normal
6. Riwayat makanan
: Tidak teratur dan sering jajan makanan di
Luar.
7. Pertumbuhan dan perkembangannya
Pertumbuhan
: sesuai dengan usia
Perkembangan psikomotor
: sesuai dengan usia
Mental/intelegensi
: tidak ada kelainan mental
Emosi dan prilaku
: tidak ada gangguan emosional
Kesan
: tidak ada gangguan pada
pertumbuhan dan perkembangan
anak.
8. Imunisasi
a. BCG:Diberikan saat usia 0-3 bulan optimal saat usia 2
bulan bila lebih dari 3 bulan perlu dilakukan uji
tuberculin
b. DPT:Diberikan paling cepat saat usia 6 minggu
c. Polio:Diberikan saat usia bayi lahir, saat dipulangkan dan
bulan ke 2, 4, 6, 18/24 dan 5 tahun
d. Hep B :Diberikan saat usia 9 bulan
e. Booster:9. Sosial ekonomi dan lingkungan
Sosial ekonomi : cukup
Lingkungan
: kurang bersih
10. Anamnesis system
a. System serebrospinal
b. System kardiovaskular
c. System pernapasan
d. System gastrointestinal
e. System urogenital
f. System integumentum
g. Sysem musculoskeletal

: tidak dilakukan pemeriksan


: tidak dilakukan pemeriksaan
: tidak dilakukan pemeriksaan
: tidak dilakukan pemeriksaan
: tidak dilakukan pemeriksaan
: tidak dilakukan pemeriksaan
: tidak dilakukan pemeriksaan

PEMERIKSAAN JASMANI
A. Pemeriksaan umum (dilakukan pada tanggal: 16 januari 2015 pukul:
11.00 WIB)
1. Keadaan umum : composmentis (anak tampak sakit sedang)
2. Tanda utama
Nadi
: 128x/menit
Pernapasan: 30x/menit
Tekanan darah : tidak dilakuakan pemeriksaan
Suhu
: 37,3oC

3. Status gizi

Simpulan
4.
5.
6.
7.
8.

Berat badan : tidak dilakukan pemeriksaan


Panjang badan : tidak dilakukan pemeriksaan
Lingkar kepala: tidak dilakukan pemeriksaan
Lingkar lengan atas: tidak dilakukan
pemeriksaan

Kulit
: tidak ada kelainan kulit
Kelenjar limpa
: normal
Otot
: tidak ada kelemahan/ gangguan otot
Tulang
: tidak ada kelainan
Sendi
: tidak ada kelainan

B. Pemeriksaan khusus
1. Kepala
Bentuk
: bulat dan simetris
Ubun-ubun : normocephal (normal)
Rambut : hitam lurus
Mata
: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung
: bentuk normal, tidak ada ciran atau sekret
Telinga
: simetris, bentuk nnormal
Mulut
: sianosis (-)
2. Leher
: struktur dan funggsi leher normal, tidak ada

Pembesaran KGB dan tidak ada pembesaran


kelenjar thiroid.
3. Dada
Jantung : tidak dilakukan pemeriksaan
Paru-paru : tidak terdapat retraksi dinding dada, dan tidak ada
fremitus pada pernafasan.
4. Perut
Inspeksi : bentuk datar
Auskultasi : peristaltik usus meningkat
Palpasi
: tidak ada nyeri tekan, turgor kulit baik
Perkusi : timpani disemua kuadran abdomen, asites (-)
a. Hati : tidak dilakukan pemeriksaan
b. Limpa : tidak dilakukan pemeriksaan
5. Anogenital
Anus
: tidak dilakukan pemeriksaan
Genital
: tidak dilakukan pemeriksaan
6. Ekstremitas
Akral hangat CRT <2 detik
LABORATORIUM DASAR
a) Darah
Hemoglobin : 12,3 g/dl
Leukosit
: 6,7 mm3
Eosinofil
:1
Basofil
:0
Segmen
: 61
Limposit
: 27
Monosit
:7
Eritrosit
: 5,03%
Thrombosit : 259 mm
Hematokrit
: 35,4%
MCV
: 70
MCH
: 24,5
MCHC
: 34,8
RDW
: 14,2%
MPV
: 8,3
b) Feses
: feses rutin tunggu hasil
POINT DIAGNOSIS
An.Z umur 4 tahun masuk UGD dibawa oleh kedua orang tuanya dengan keluhan
BAB bercampur lendir dan darah sejak 1 hari dengan frekuensi 4 kali sehari. An.Z
4

juga mengeluhkan megeluhkan mual dan muntah dengan bentuk muntahan air
sejak 1 minggu yang lalu. Tiga hari yang lalu sudah berobat ke rumah sakit tapi
tidak ada perubahan. Pada riwayat makanan tidak teratur dan sering jajan
makanan di luar dan lingkungannya kurang bersih. Keadaan umum composmentis
(anak tampak sakit sedang, tanda vital sighn didapatkan nadi 128x/menit, nafas
30x/menit, suhu 37,3oC. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan auskultasi bising
usus meningkat. Pada pemeriksaan laboratoriun didapatkan Hemoglobin 12,3g/dl
leukosit 6,7 mm3, thrombosit 259 mm3.

DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING


Diagnosis Kerja :
Disentri ( 4A)
ICPC II No D70 Gastrointestinal infection
ICD X
No A03.0 Disentri basiler (shigelosis)
No A06.0 Disentri amuba akut
No A06.1 Disentri amuba kronis
Diagnosis Banding

: colitid ulseratif, chron

Penatalaksanaan

: RL fisiologis, Ditetapkan berdasarkan diagnosis


kerja dan keluhan penyerta
1. Trimetroprim 5-10mg/kg/hari
2. Sulfametoksasol 25mg/kg/hari dibagi2 dosis (5
hari)
3. Asam nalidiksat 55mg/kg/hari dibagi 4 (5hari)

I.

Prognosis
Quo ad vitam
Quo ad sanam
Quo ad funsionam

: Ad bonam
: Ad bonam
: Ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron
(usus), yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas dengan
gejala buang air besar dengan tinja berdarah, diare encer dengan volume
sedikit, buang air besar dengan tinja bercampur lendir dan tenesmus.1
2. Etiologi Berdasarkan Klasifikasinya
Bakteri
Shigella
Shigella dysenteriae
Shigella flexneri
Shigella boydii
Shigella sonnei
6

Escherichia coli
1. ETEC
2. EIEC
3. EHEC
4. EAggEC
Amoeba
Entamoeba hystolitica
5. PATOFISIOLOGI
Disentri bakteri
Menelan makanan dan air yang tercemar
Setelah tertelan Bakteri enteroinvasif
Masuk melalui lambung dan usus halus
Penetrasi di sel epitel mukosa ileum distal dan kolon
Kolonisasi dan multiplikasi
Menimbulkan kerusakan pada dinding usus
Nekrosis dan ulserasi
Diare sekretorik eksudatif
BAB berlendir dan berdarah

Disentri amoeba
Kista E. histolytica di tinja
termakan manusia
kista pecah di usus besar
bentuk histolitika (trofozoit)

invasi ke sel epitel mukosa usus besar


produksi enzim proteolitik
nekrosis jaringan mukosa usus
invasi ke jaringan submukosa
bersarang di submukosa dan membuat kerusakan yang lebih luas
ulkus dan abses amoeba
ulkus melebar dan saling berhubungan membentuk sinus-sinus di bawah mukosa
dengan peristaltik usus
tropozoid keluar bersama tinja
tinja bercampur lendir dan darah

6. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala disentri secara umum antara lain:
1. Buang air besar dengan tinja berdarah
2. Diare encer dengan volume sedikit
3. Buang air besar dengan tinja bercampur lender
4. Tenesmus
Bakteri
Shigella
Masa inkubasi sangat bervariasi antara beberapa jam sampai 8
hari. Mula mula gejalanya seperti gejala infeksi umumnya yaitu
kelemahan umum yang diikuti oleh demam, kemudian diare

yang

mengandung lendir dan darah, tenesmus. Bila penyakit menjadi berat


dapat disertai dengan tanda septisemia yaitu panas tinggi disertai

kesadaran yang menurun.Kadang kadang dalam masa akut disertai


dengan gejala perangsangan meningeal seperti kaku kuduk. Bila
penyakit menjadi kronis, maka suhu akan menurun menjadi subfebris
dengan disertai tinja yang selalu bercampur lendir dan darah.2
Escherichia coli
ETEC merupakan penyebab utama dehidrasi diare infantil di
negara yang sedang berkembang. Tanda tanda dan gejala khas adalah
diare cair yang mendadak, nyeri abdomen, nausea, muntah, dan sedikit
atau tidak ada demam. Penyembuhan biasanya akan ternyadi dalam
beberapa hari. Infeksi ini mempunyai pengaruh status tidak baik untuk
nutrisi bayi . EIEC menyebabkan demam, toksisitas sistemik, nyeri
kejang abdomen, tenesmus, dan terburu buru buang air besar dengan
diare cair atau darah adalah khas. EHEC dapat menyebabkan penyakit
diare tersendiri atau penyakit yang ditandai dengan nyeri abdomen
dengan diare yang pada mulanya cair tetapi dalam beberapa hari
menjadi berdarah yang nampak (colitis hemoragik). Walaupun
gambaran ini menyerupai gambaran shigellosis atau penyakit EIEC,
gambaran ini berbeda dalam hal demam yang merupakan manifestasi
yang tidak lazim. Resiko utama EHEC adalah bahwa sekitar 10%
infeksi bergejala dipersulit oleh perkembangan sindrom hemolitik
uremik. EAggEC menyebabkan kehilangan cairan yang cukup banyak
dengan dehidrasi, tetapi muntah dan tinja berdarah tampak relative
jarang.Organisme ini, seperti EPEC sering disertai diare yang lama.5
Entamoeba hystolitica
Gejala klinis yang sering ditemukan adalah nyeri perut dan diare
yang dapat berupa tinja cair, tinja berlendir atau tinja berdarah.
Frekuensi diare dapat mencapai 10 x / hari. Demam dapat ditemukan
pada 1/3 penderita. Pasien terkadang tidak nafsu makan sihingga berat
badannya dapat menurun . pada stadium akut ditinja dapat ditemukan
darah, dengan sedikit leukosit serta stadium trofozoid E. hystolitica4.

5. Diagnosis
Diagnosis klinis dapat ditegakkan dengan menemukan tinja bercampur
darah. Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan; pemeriksaan tinja,
pemeriksaan darah rutin, endoskopi, uji serologi, USG. Diagnosis etiologi
biasanya sukar ditegakkan jika hanya melihat gejala klinis semata sedangkan
pemeriksaan biakan tinja untuk mengetahui agen penyebab seringkali tidak
perlu dilakukan karena memakan waktu lama (minimal 2 hari) dan umumnya
gejala membaik dengan terapi antibiotika empiris.
6. Diagnosis Banding
Colitis ulseratif : terjadi akibat adanya inflamasi pada mukosa dan
submukosa rektum dan kolon yang disertai ulserasi. Karakteristik fesesnya
lunak, hingga cair dan mengandung darah. Diare ini dapat membangunkan
pasien di malam hari. Biasanya disertai nyeri yang bersifat kram pada
abdomen bagian bawah atau seluruh abdomen, anoreksia, kelemahan dan
demam.
Penyakit chron : terjadi akibat adanya inflamasi kronis pada dinding usus
yang secara tipikal melibatkan ilius terminal dan / kolon proksimal.
Karakteristik fesesnya kecil kecil, lunak hingga encer atau cair.
Perdarahan lebih sedikit dari kolitis ulseratif. Diare dapat membangunkan
pasien pada malam hari. Chron ditandai dengan adanya kram di daerah
periumbilikal atau koadran abdomen kanan bawah (enteritis) atau nyeri
yang difus (kolitis) disertai anoreksia, demam yang tidak terlalu tinggi ,
penurunan berat badan dan abses maupun fistula parianal atau perirektal.
7. Penatalaksanaan
Pencegahan non farmakologi
Kebersihan perorangan, dan kebersihan lingkungan. Kebersihan
perorangan antara lain mencuci tangan dengan bersih sesudah buang air
besar dan sebelum makan. Kebersihan lingkungan meliputi: masak air
minum sampai mendidih sebelum diminum, mencuci sayuran sampai
bersih atau memasaknya sebelum di makan, buang air besar di jamban,
tidak menggunakan tinja manusia untuk pupuk, menutup dengan baik

10

makanan yang dihidangkan untuk menghindari kontaminasi oleh lalat


dan lipas, membuang sampah di tempat sampah yang tertutup untuk
menghindari lalat.
Farmakologi
Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit
Diet lunak tinggi kalori dan protein untuk mencegah malnutrisi
Dosis tunggal tinggi vitamin A (200.000 IU) dapat diberikan untuk
menurunkan tingkat keparahan disentri, terutama pada anak yang
diduga mengalami defisiensi
Dapat digunakan antispasmodik untuk meringankan kolik
Bakteri
Pilihan utama untuk Shigelosis (WHO):
Kotrimoksazol (trimetoprim 10 mg/kgBB/hari dan sulfametoksazol
10 mg/kgBB/hari) IV/ PO tiap 12 jam DM: 320 mg/hari
Alternatif yang dapat diberikan:
Ampisilin 75 mg/kgbb/hari IV / PO tiap 12 jam DM: 2g/hari
Cefixime 8 mg/kgbb/hari PO dibagi dalam 2 dosis DM: 400mg/hari
Ceftriaxone 50 mg/kgbb/hari dosis tunggal IV atau IM DM: 1
-5g/hari
Asam nalidiksat 55 mg/kgbb/hari PO tiap 6 jam DM: 4g/hari
Amoeba
Pilihan utama Amebiasis invasif
Golongan nitroimidazol yaitu metronidazol 750 mg tiga kali sehari
7- 10 hari
Amebiasis hati
Emetin hidroklorida D: 65 mg sehari, A: 8 thn10 mg sehari selama

4 6 hari
Klorokuin 1 gram sehari selama 2 hari, kemudian 500 mg sehari

selama 2 -3 minggu
Membunuh stadium trofozoid dan kista di lumen usus
Golongan aminoglikosida yaitu paromomisin 25 -35 mg/kgbb/hari

terbagi 8 jam selama 7 hari


Diloksanid furoat(furamid,entamizol) pilihan untuk di lumen usus

500 mg tiga kali sehari selama 10 hari


Iodoguinolon (iodoksin): 650 mg sehari tiga kali sehari selama 20
hari

8. Komplikasi

11

Komplikasi utama adalah komplikasi akibat dehidrasi dan kehilangan


elektrolit.5
9. Prognosis
Biasanya dubia ad bonam, namun tergantung dari kondisi pasien saat
datang, ada atau tidak adanya komplikasi dan ketepatan pemilihan terapi

DAFTAR PUSTAKA
1. Syaroni A., Hoesadha Y., 2006. Disentri Basiler. Buku Ajar Penyakit Dalam.
FKUI: Jakarta
2. Hasan., Resepno.,1997. Ilmu Kesehatan Anak. FKUI : Jakarta. P. 557

12

3. Wahab. samik., 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph, Ed. 20, Vol. 1. EGC:
Jakarta. P 670
4. Susanto., Inge., 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. FKUI : Jakarta.P
110 -116
5. Nelson., Waldo., 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Ed. 15, Vol. 2. EGC: Jakarta. P
972 - 978

13