Anda di halaman 1dari 11

UJIAN COMPOUNDING & DISPENSING

DAN PELAYANAN KEFARMASIAN

Oleh:
Noviana Rahmi L . (1308515006)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2013

1.

RESEP
Resep yang diperoleh adalah sebagai berikut:

2.

PEMBACAAN RESEP
Berikut adalah hasil pembacaan resep yang dilakukan:
dr. Mitra Sp. THT
SIP : 129/DIKES/2009
Jl.Raya Sesetan no 98
0361 7787788
R/

Ery sanbe 200 mg


Disudrin 15 mg
Epexol 3 mg
Homoclamin 3 mg
Mf pulv dtd no XV
S 3 dd 1
R/

Sanmol Syr Fl 1
S 3 dd cth

Pro : An. Sika Ali


Umur : 4 th 2 bln (29 kg)
Alamat : Sesetan

3.

SKRINING FARMASETIK DAN FARMAKOLOGI

Tabel 2. Indikasi masing-masing obat dalam resep dan anamnesa kefarmasian.


Obat dalam
Resep

Kandungan

Ery Sanbe

Erytromicin

Disudrin HCl

Pseudoefedrin HCl

Epexol

Ambroxol

Homoclamin

Homoclorziclin
Hcl

Sanmol Syr

Parasetamol

4.
a.

ANALISIS SOAP
Subjektif

Indikasi
Erysanbe mengandung erythromycin 200 mg yang
merupakan antibiotik dengan indikasi untuk infeksi
sistemik yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pyogenes, beberapa S. pneumoniae, beberapa S. aureus,
dan M. pneumonia serta beberapa bakteri Gram positif
lain (Lacy et al., 2009).
Sebagai nasal decongestan untuk hidung tersumbat
(Sweetman, 2009).
Mukolitik untuk mengatasi sputum yang berlebihan di
saluran nafas (Sweetman, 2009).
Antihistamin sedatif untuk mengatasi gejala alergi
urtikaria, rhinitis alergi dan gatal pada kulit (Sweetman,
2009).
Pengobatan nyeri dan demam ringan hingga moderat
(Lacy et al, 2012).

Untuk meyakinkan anamnesa tersebut, maka apoteker dapat bertanya kepada pasien
terkait dengan kondisi yang dialami oleh pasien tersebut menggunakan metode Three Prime
Questions, yaitu:
Apoteker
: Bagaimana penjelasan Dokter tentang obat yang Ibu terima?
Pembawa resep : Begini mbak, sudah seminggu anak saya pilek dan demam. Kata dokter,
anak saya terkena infeksi saluran pernapasan yaitu sinusitis. Dokter mengatakan bahwa anak
saya diberikan 2 obat. Ada obat puyer sama syrup.
Selanjutnya digali informasi lagi dari pasien:
Apoteker
: Maaf sebelumnya Ibu, pilek anak Ibu bagaimana? Apakah lendirnya
jernih atau berwarna lain?
Pembawa resep :Biasanya kalau cuaca dingin pileknya muncul dengan lendir bening
kemudian hilang dengan sendirinya, tetapi kali ini sampai berhari-hari. Dahak dan lendirnya
sampai berwarna kuning kehijauan dan kental. Mungkin hidungnya tersumbat jadi dia nangis
terus.
Apoteker
: Apakah disertai demam bu?
Pembawa resep : Oh, iya Mbak. Setelah seminggu itu, kemarin tiba-tiba panas tinggi.
Jadi tadi saya bawa ke dokter
Apoteker
: Apakah anak ibu mempunyai alergi?
Pembawa resep : iya mbak.Anak saya memiliki alergi kalau cuaca dingin pasti pilek dan
bersin-bersin kadang batuk berdahak juga mbak.
(Selama proses komunikasi berlangsung, apoteker dapat mengamati kondisi pasien, dimana
pasien adalah bayi dan terlihat bahwa kedua mata pasien mengalami kemerahan dan
bengkak di sekitar area mata).
Apoteker
: Bagaimana penjelasan Dokter tentang cara penggunaan obat yang
Ibu terima?
Pembawa resep : Dokter tidak menjelaskan mengenai cara pakainya, Mbak. Hanya
dikatakan bahwa puyernya harus diminum sampai habis.
(Oleh karena itu, dalam hal ini apoteker berperan memberikan penjelasan yang lengkap
mengenai cara pemakaian obat tersebut).
Apoteker
: Apa kata Dokter mengenai harapan setelah anak Ibu
menggunakan obat ini?
Pembawa resep : Dokter mengatakan setelah antibiotiknya habis maka anak saya akan
membaik. Saya diminta kembali ke dokter jika masih belum sembuh.
b. Objektif
Data objektif yang diperoleh adalah pasien demam dengan suhu tubuh 38,50C.
Berdasarkan analisa indikasi dan efek farmakologi obat serta data subjektif dan objektif
yang telah diperoleh, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami sinusitis dan common cold.
Pengobatan common cold dilakukan dengan mengobati gejala yang ada, seperti
pseudoefedrin (dekongestan) untuk mengobati hidung tersumbat, paracetamol (analgesik dan
antipiretik) untuk menghilangkan nyeri dan demam, serta ambroxol (mukolitik) untuk
mengencerkan dahak. Homoclorziclin Hcl (antihistamin) digunakan untuk mengatasi alergi
yang memperparah common cold pada pasien. Dari penjelasan ibu pasien, dikatakan pula
bahwa pasien mengalami demam. Adanya demam ini umumnya dapat dijadikan penanda
adanya infeksi pada sinus. Pada ABR, antibitoik lini pertama adalah amoksisilin (klavulanat)
seperti aclam, namun pada pasien dengan alergi penisilin, dapat diberikan eritromisin.

c.

Assesment
Assesment dapat dilakukan dengan menggunakan analisa 4T1W ataupun dengan analisa
DRP. Pada resep ini akan dilakukan analisa DRP sebagai berikut:
DRP
Terapi obat yang tidak perlu
Obat yang tidak tepat
Dosis terlalu rendah

DRP pada Resep


1.Erytromisin
Dosis Lazim
Base: 30-50 mg / kg / hari dalam 2-4 dosis terbagi
(30-50 mg) x 29 kg = 870 mg-1450 mg per hari
290 mg 483 mg per hari
Dosis Maksimum
2000 mg per hari
Dosis dalam resep
200 1 kali dan 200 mg x 3 = 600 mg / hari (dibawah
dosis lazim)
Ambroxol
Dosis Lazim
60-120 mg/hari dalam 2 dosis terbagi (dewasa). Untuk
anak 2 tahun dengan berat badan 12,2 kg maka dosis
lazim sehari menjadi:
= ( 29 kg / 70 kg ) x 60-120 mg = 24,857 mg
49,714 mg
Dosis dalam resep
Epexol 3 mg diberikan 3 kali sehari (dibawah dosis
lazim)
Homoklorziklin HCl
Dosis Lazim
Dosis lazim dewasa yaitu 10-20 mg sekali pakai. Maka
untuk anak4 tahun 2 bulan dengan berat badan 29 kg
yaitu:
Sekali = (29 kg / 70 kg ) x 10 mg 20 mg = 4,14

Adverse drug reaction


Dosis terlalu tinggi
Kepatuhan pasien
Memerlukan terapi tambahan
Interaksi obat

mg -8,285 mg
Dosis maksimum
Sehari = (29 kg / 70 kg ) x 10 mg 20 mg =
12,4 mg -24,8 mg
Dosis dalam resep
3 mg sekali pakai
9 mg sehari ( 3 kali ) (Dosis dibawah dosis
lazim )
Paracetamol
Dosis dalam resep
cth (5 mL) = 2,5mL ( 60 mg )
2,5 ml x 3 kali sehari = 7,5 ml (180 mg ) => (dosis
dibawah dosis lazim )
Tiap 5 ml mengandung 120 mg
-

Perhitungan Dosis
Tabel 3. Dosis Lazim dan Maksimum Obat
Dosis Lazim

Eritromisin

Ambroxol
Homoclorziklin
HCl
Pseudoephedrine
HCl
Parasetamol

Dosis Maksimum
1 kali
1 hari
1 kali
1 hari
Dosis Anak: Rentang 2 g/hari (anak)
dosis pada bayi baru
lahir dan anak:
Oral
: Base: 30-50
mg / kg / hari dalam 24 dosis terbagi,
(Lacy et al., 2011).
60-120 mg/hari dalam 2
dosis
terbagi
(dewasa)
10-20 mg (dewasa) 30-60 mg
(dewasa)
60 mg diberikan 3- 240
mg/hari
4 kali (dewasa)
(dewasa)
Dewasa : 325 1000
mg 4000
mg
650 mg setiap 4
(dewasa)
(dewasa)
6 jam tidak boleh
melebihi 4 g/hari
(Lacy et al, 2012).

(DepKes RI, 1979; Sweetman et al., 2009; Lacy et al., 2011).


Pertihungan dosis untuk anak 2 tahun yaitu:
Perhitungan dosis menggunakan rumus Clark
Da =
Keterangan : Da = Dosis anak

x Dd

W anak = berat badan anak (kg)


W dewasa = berat badan dewasa 70 kg
Dd = Dosis dewasa
Berat badan anak umur 4 tahun 2 bulan yaitu 29 kg,
1.Erytromisin
Dosis Lazim
Base: 30-50 mg / kg / hari dalam 2-4 dosis terbagi
(30-50 mg) x 29 kg = 870 mg-1450 mg per hari
290 mg 483 mg per hari

Dosis Maksimum
2000 mg per hari

Dosis dalam resep


1 kali dan 200 mg x 3 = 600 mg / hari (dibawah dosis lazim)
2.Ambroxol
Dosis Lazim
60-120 mg/hari dalam 2 dosis terbagi (dewasa
= ( 29 kg / 70 kg ) x 60-120 mg = 24,857 mg 49,714 mg
Dosis dalam resep
Epexol 3 mg diberikan 3 kali sehari (dibawah dosis lazim)
3.Pseudoephedrine HCl
Dosis Lazim
Dosis lazim dewasa 60 mg untuk sekali pakai. Maka untuk anak 2 tahun dengan
berat badan 12,2 kg yaitu:
Sekali = (29 kg / 70 kg ) x 60 mg = 24 mg
Dosis maksimum
Dosis maksimum dewasa yaitu 240 mg/hari, maka dosis untuk anak 2 tahun
dengan berat badan 12,2 kg yaitu:
Sehari = (29 kg / 70 kg ) x 240 mg = 96 mg
Dosis dalam resep
Dosis sekali dalam resep yaitu 15 mg dan sehari 3 x 15 mg = 45 mg.
Kesimpulan:
Dosis dalam resep berada diatas dosis lazim sekali sehingga sudah efektif untuk
menimbulkan efek terapi.
4.Homoklorziklin HCl
Dosis Lazim
Dosis lazim dewasa yaitu 10-20 mg sekali pakai. Maka untuk anak4 tahun 2 bulan
dengan berat badan 29 kg yaitu:
Sekali = (29 kg / 70 kg ) x 10 mg 20 mg = 4,14 mg -8,285 mg
Dosis maksimum
Sehari = (29 kg / 70 kg ) x 10 mg 20 mg = 12,4 mg -24,8 mg
Dosis dalam resep
3 mg sekali pakai
10 mg sehari ( 3 kali ) (Dosis dibawah dosis lazim )
Paracetamol
Dosis Lazim
Dewasa : 325 650 mg setiap 4 6 jam atau 1000 mg 3 4 kali/hari, tidak boleh melebihi
4 g/hari (Lacy et al, 2012).

(29 kg / 70 kg ) x 325 650 mg = 134,64 mg 269 mg


Dosis Maksimum
Dosis maksimum dewasa sehari yaitu 4 g/ hari.
Sehari = (29 kg / 70 kg ) x 4000 mg = 1657,14 mg
Dosis dalam resep
cth (5 mL) = 2,5mL ( 60 mg )
2,5 ml x 3 kali sehari = 7,5 ml (180 mg ) => (dosis dibawah dosis lazim )
Tiap 5 ml mengandung 120 mg
Kesimpulan : Dosis erysanbe, epexol, homoclamin dan sanmol dibawah dosis lazim sehingga
perlu dikonsultasikan ke dokter untuk pengatasan peningkatan dosis pada resep
Plan
Beberapa permasalahan yang ada dalam resep harus dikonsultasikan terlebih dahulu
dengan dokter penulis resep. Setelah konsultasi, compounding dan dispensing serta
pencatatan medication record pasien.
Pertanyaan kepada dokter terkait permasalahan dalam resep
Apabila terjadi permasalahan dalam resep terkait obat yang diresepkan, apoteker wajib
berkonsultasi dengan dokter penulis resep. Dalam berkomunikasi, seorang apoteker harus
menyampaikan identitas pasien dan terapi yang diberikan.
Dialog antara apoteker dan dokter penulis resep terkait permasalahan dalam resep:
Apoteker
:Selamat sore Dok, saya Shinta apoteker di Apotek Mutiara Medika. Apakah
benar saya berbicara dengan dr Mitra ?
Dokter
: Selamat sore, iya benar. Saya dr. Mitra. Ada yang bisa saya bantu Shinta ?
Apoteker
: Iya dokter, saya ingin bertanya tentang obat yang dokter berikan kepada an.
Sika Ali 4 tahun 2 bulan dengan berat badan 29 kg yang beralamat di
Sesetan. Mohon maaf sebelumnya dokter, pada pasien tersebut, dokter
meresepkan Sanmol Syr (1 botol) dengan aturan pakai 3 kali sehari
sendok teh, serta resep racikan dari Dosis erysanbe, epexol, homoclamin dan
Disudril 3 kali sehari 1 bungkus serbuk. Setelah saya melakukan analisis
kefarmasian dan bertanya kepada Ibu pasien, saya mendeskripsikan jika
pasien mengalami sinusitis disertai common cold. Apakah benar analisis
saya tersebut dokter ?
Dokter
: Memang benar pasien tersebut mengalami sinusitis disertai commond cold.
Apakah terdapat masalah dengan resep tersebut ?
Apoteker
: Tidak Dok, resep tersebut tidak bermasalah. Saya hanya ingin bertanya
tentang pertimbangan dokter memberikan dosis tersebut. Berdasarkan
referensi yang saya miliki, pemberian Sanmol Syr sendok teh dimana
menurut perhitungan saya dosis tersebut di bawah dosis lazim sehingga
ditakutkan obat kurang berefek terhadap penyembuhan pasien. Selain itu
untuk Dosis erysanbe, epexol, homoclamin pada serbuk berdasarkan
perhitungan saya menggunakan Berat badan pasien dosis yang ada di resep
juga masih kurang Dok. Bagaimana pendapat dokter mengenai hal
tersebut ?
Dokter
: Terimakasih atas informasinya, baik akan saya cek ulang sebentar ya mbak
Setelah saya pertimbangkan, saran tersebut dapat digunakan. Saya akan
meresepkan ulang untuk aturan pakainya .
Apoteker
:
Dokter
:

Apoteker

:Terimakasih atas pertimbangan penerimaan saran saya tentang obat


tersebut. Terimakasih atas kerjasama dokter. Selamat sore dokter.
Dokter
: Terimakasih kembali atas saran yang diberikan. Saran tersebut sangat
bermanfaat untuk kepentingan kita bersama, terutama pelayanan kepada
pasien. Selamat sore.
Setelah Apoteker melakukan interaksi dengan dokter, diperoleh kesimpulan bahwa
dokter akan menulis ulang resep yang Beliau berikan. Berikut merupakan resep baru yang
dituliskan dokter untuk pasien yang bersangkutan disertai dengan tanda tangan dokter penulis
resep.

dr. Mitra Sp. THT


SIP : 129/DIKES/2009
Jl.Raya Sesetan no 98
0361 7787788
R/

Ery sanbe 300 mg


Disudrin 15 mg
Epexol 10 mg
Homoclamin 5 mg
Mf pulv dtd no XV
S 3 dd 1
R/

Sanmol Syr Fl 1
S 3 dd C 1

Pro : An. Sika Ali


Umur : 4 th 2 bln (29 kg)
Alamat : Sesetan

Compounding
Apabila resep telah dikonsultasikan dengan doketr penulis resep dan obat yang
diperlukan tersedia pada apotek tersebut maka selanjutnya dilakukan proses penyiapan obat,
yaitu:
Disiapkan:
Lap, Mortir, stamper, timbangan yang sudah terkalibrasi
Kertas perkamen, etiket, klip obat
Penimbangan :
1. Epexol 30 mg siapkan sebnayak 2,5 tab, sisihkan
2. Homoclamin 10 mg siapkan 7,5 tab , sisihkan
3. Disudrin 30 mg siapkan sebanyak 7,5 tab, sisihkan
4. Erysanbe 250 mg sebanyak 18 kapsul, sisihkan
Cara peracikan :
5. Ambil Epexol 30 mg siapkan sebnayak 2,5 tab, gerus ad homogen
6. Tambahkan Homoclamin 10 mg siapkan 7,5 tab gerus ad homogen
7. Tambahkan Disudrin 30 mg siapkan sebanyak 7,5 tab, gerus ad homogen
8. Erysanbe 250 mg sebanyak 18 kapsul gerus ad homogen, sisihkan
9. Bagi campuran no. 3 pada dua kertas perkamen sama banyak (A dan B)
10. Bagi masing-masing campuran A pada 15 kertas perkamen yang diatur berjajar secara
visual sama banyak. Begitu pula pada campuran B
11. Bungkus masing- masing perkamen dengan hati-hati
12. Masukkan dalam klip dan beri etiket putih dan keterangan diminum 3 kali sehari 1
bungkus
13. Siapkan 1 botol sanmol syr fl 1 kemudian diberi etiket dengan 3 kali pemberian
setelah makan 1 sendok makan.
Dispensing

Penyerahan obat yang diresepkan kepada pasien disertai dengan pemberian KIE
mengenai cara penggunaan obat, aturan pakai obat, waktu penggunaan obat dan efek samping
yang mungkin akan muncul. Penyerahan obat dan pemberian KIE kepada pasien meliputi:
1. Sediaan puyer diberikan 3 kali sehari setelah makan 1 puyer dan diinfokan kepada pasien
kalau harus diminum habis.
2. Sediaan Sanmol sirup diminum 3 kali sehari 1 sendok makan. Hentikan pemakaian jika
demam reda.
3. Obat-obatan yang diberikan disimpan di tempat yang kering pada suhu ruangan (15-30
C), dalam wadah tertutup rapat dan jauhkan dari sinar matahari.
4. Pasien disarankan untuk beristirahat yang cukup
5. Apabila keadaan pasien selama penggunaan obat tidak membaik, pasien disarankan
untuk segera ke dokter.
Monitoring dan Evaluasi
Setelah pasien menerima obat, maka terdapat satu tahapan lagi yang perlu dilakukan
oleh apoteker yaitu monitoring dan evaluasi dari penggunaan obat. Hal ini bertujuan untuk
memantau kepatuhan pasien dan ketepatan pasien dalam menggunakan obat secara baik,
benar, dan tepat serta untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien setelah penggunaan obat.
Monitoring dan evaluasi bisa dilakukan melalui telepon sehingga dapat dinilai hasil terapi
yang dijalani, apakah terapi memberikan efek yang signifikan, tidak memberikan efek, atau
malah menimbulkan efek yang merugikan (adverse drug reaction) sehingga dapat dilakukan
tindakan-tindakan penanganan yang sesuai.
Daftar Pustaka
Anderson, P.O., J.E. Knoben, and W.G. Troutman. 2002. Handbook of Clinical Drug Data.
10th Edition. New York: McGraw-Hill Companies.
Anief, M. 2008. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press. P. 1-11.
Anonim. 2001. Ambroxol. (Cited 2013, Desember 9). Available at: http://www.drugs.com/
ambroxol.html (HONConduct756274)
Chow et al. 2012. IDSA Clinical Practice Guideline for Acute Bacterial Rhinosinusitis in
Children and Adult. Clinical Infection Disease Vol. 54(8): 1041-1045.
Dipiro, J. T., B.G. Wells, T.L. Schwinghammer and C.V. Dipiro. 2008. Pharmacotherapy
Handbook. Seventh Edition. USA: The McGraw-Hill Companies.
IAFP. 2004. Treating the Common Cold. An Expert Panel Consensus Recommendation for
Primary Care Clinicians Vol 5(4): 1-16.
Lacy, C.F., Armstrong, L.L, Goldman, M.P. and Lance, L.L.. 2009. Drug Information
Handbook, 18th Edition. USA: Lexi-comp.
Lacy, C.F., Armstrong, L.L, Goldman, M.P. and Lance, L.L.. 2011. Drug Information
Handbook, 20th Edition. USA: Lexi-comp.
Liu, P.T., et al. Toll-Like Receptor Triggering of a Vitamin D Mediated Human Antimicrobial
Response. Science. 311(5768): 1770-1773
Maggini, S., Wintergerst, E.S., Beveridge, S., Hornig, D.H. 2007. Selected Vitamins And
Trace Elements Support Immune Function By Strengthening Epithelial Barriers and
Cellular and Humoral Immune Responses. Br J Nutr. 98(Suppl 1):29-35.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1027 tahun 2004 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/MENKES/PER/2007 tentang


Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran
Rahmawati, F. dan Oetari, R.A. 2002. Kajian Penulisan Resep: Tinjauan Aspek Legalitas dan
Kelengkapan Resep di Apotek-Apotek Kotamadya Yogyakarta. Majalah Farmasi
Indonesia, 13(2): 86-94.
Snellman, L., et al. 2013. Health Care Guideline Diagnosis and Treatment of Respiratory
Illness in Children and Adults. ICSI: Institute of Clinical System Improvement. Availabel
at: http://bit.ly/RespIll.
Sweetman, S. C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference. 36th Edition. London:
Pharmaceutical Press.
Villamor, E., and Fawzi, W.W. Effects of Vitamin A Supplementation on Immune Responses
and Correlation with Clinical Outcomes. Clinical Microbiology Reviews. 18(3): 446464
Walker, V. P., and Modlin, R.L. 2009. The Vitamin D Connection to Pediatric Infections and
Immune Function. Pediatr Res. 65(5): 106113